• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Kinerja Keuangan Perusahaan

Keberhasilan perusahaan dalam mencapai laba perusahaan tergantung pada bagaimana kinerja perusahaan . Kinerja perusahaan merupakan salah satu indikator dari baik tidaknya keputusan pihak manajemen dalam pengambilan keputusan. Menurut Helfert (1996 dalam Ceacilia Srimindarti, Fokus Ekonomi , 2004 : 53) bahwa

“Kinerja perusahaan adalah suatu tampilan keadaan secara utuh atas

perusahaan selama periode waktu tertentu, merupakan hasil atau prestasi yang dipengaruhi oleh kegiatan operasional perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya-sumber daya yang dimiliki.”

Dari pengertian menurut Helfert tersebut menunjukkan bahwa kinerja perusahaan yang baik tergantung bagaimana pihak manajemen perusahaan dapat memanfaatkan sumber daya-sumber daya yang mereka miliki dengan baik. Salah satu faktor menentukan bagaimana efektifitas dan efisiensi perusahaan dalam mencapai tujuannya adalah dengan melihat kinerja perusahaan tersebut. Informasi-informasi mengenai perusahaan kemudian dituangkan dalam laporan keuangan.

2.1.1.2 Kegunaan Penilaian Kinerja Perusahaan

Kegunaan penilaian kinerja menurut Rivai (2005: 58-60) adalah: a. Performance Improvement

Untuk memperbaiki kinerja pegawai, menajer, dan supervisor dimasa yang akan datang.

b. Compensation Adjustment

Untuk membantu dalam pengambilan keputusan penentuan siapa yang seharusnya menerima kenaikan pembayaran dalam bentuk upah, bonus, ataupun bentuk lainnya yang didasarkan pada sistem merit.

c. Placement Decisions

Untuk promosi, transfer ataupun penurunan jabatan atau pangkat biasanya didasarkan pada kinerja masa lalu dan bersifat antisipatif. d. Training and Development Need

Untuk melakukan pelatihan, sehingga setiap karyawan selalu memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri.

e. Career Planning and Development

Untuk proses pengambilan keputusan utamanya tentang karier spesifik dari karyawan, sebagai tahapan untuk pengembangan diri pegawai.

f. Staffing Process Deficiencies

Untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan dalam prosedur penempatan staf di departemen SDM.

g. Informational Inaccuracies

Untuk mengetahui adanya kesalahan dalam informasi analisis pekerjaan, perencanaan SDM, atau hal lain dari sistem SDM. Hal demikian akan mengarah pada ketidaktepatan dalam keputusan memperkerjakan karyawan, pelatihan dan keputusan konseling. h. Job Design Errors

Untuk mengetahui kesalahan dalam rancangan pekerjaan atau kurang tepat.

i. Equal Employment Opportunity

Untuk menjamin bahwa keputusan penempatan internal bukanlah merupakan sesuatu yang diskriminatif.

j. External Challenges

Untuk mengetahui pengaruh faktor ekternal seperti keluarga, finansial, kesehatan ataupun masalah-masalah lainnya, terhadap kinerjanya.

k. Feedback to Human Resources

2.1.1.3 Tujuan Penilaian Kinerja

Menurut S. Munawir (2002:31) menyatakan bahwa tujuan dari penilaian kinerja keuangan adalah :

a. Mengetahui tingkat likuiditas

Likuiditas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera diselesaikan pada saat ditagih. Perusahaan yang mampu memenuhi kewajibannya pada saat ditagih berarti perusahaan tersebut berada dalam keadaan likuid. Sebaliknya apabila perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban keuangan tepat pada waktunya apabila perusahaan mempunyai aktiva lancar lebih besar dari pada hutang lancarnya. b. Mengetahui tingkat solvabilitas

Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi, baik keuangan jangka pendek maupun jangka panajang.

c. Mengetahui tingkat rentabilitas

Rentabilitas atau disebut dengan profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Rentabilitas suatu perusahaan dan kemampuan menggunakan aktivanya secara produktif.

d. Mengetahui tingkat stabilitas

Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutangnya serta membayar beban bunga atas hutang-hutangnya tepat pada waktunya.

Menurut Henry (1995), tujuan penilaian kinerja adalah : a. Tujuan Evaluasi

Seorang manajer menilai kinerja dari masa lalu seorang karyawan dengan menggunakan ratings deskriptif untuk menilai kinerja dan dengan data tersebut berguna dalam keputusan-keputusan promosi, demosi, terminasi dan kompensasi.

b. Tujuan Pengembangan

Seorang manajer mencoba untuk meningkatkan kinerja seorang karyawan dimasa yang akan datang.

Sedangkan tujuan pokok dari sistem penilaian kinerja karyawan dalah sesuatu yang menghasilkan informasi yang akurat dan valid berkenaan dengan prilaku dan kinerja anggota organisasi atau perusahaan.

2.1.2 Persediaan

Ciri khas dari perusahaan dagang dan perusahaan industri (manufaktur) yang membuat mereka berbeda dengan perusahaan jasa adalah persediaan barang. Persediaan barang diperlukan untuk memenuhi permintaan konsumen atau pelanggan, tanpa adanya persediaan barang maka perusahaan berhadapan dengan kondisi dimana perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan dan kebutuhan konsumen atau pelanggan. Ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi permintaan dan kebutuhan konsumen atau pelanggan inilah yang akan mengakibatkan menurunnya laba perusahaan dan berdampak pada ketidakefektifan dan efisienan operasi perusahaan. Oleh karena itu, persediaan barang merupakan hal yang penting bagi perusahaan yang bergerak di bidang dagang dan industri.

2.1.2.1 Definisi Persediaan

Pendapat Warren, reeve, Fess (2005:440) mendefinisikan

persediaan adalah “barang dagang yang disimpan untuk dijual dalam

operasi bisnis perusahaan , dan bahan yang digunakan dalam proses

produksi atau disimpan untuk tujuan itu”

Ikatan Akuntansi Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK, 2007 : 14) menyatakan sebagai berikut “Persediaan adalah aktiva

: Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal ; Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; Dalam bentuk bahan atau

perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau

pemberian jasa”.

Menurut Kasmir (2010 : 264) menyatakan bahwa “Persediaan

adalah sejumlah barang yang harus disediakan oleh perusahaan pada suatu tempat tertentu. Artinya sejumlah barang yang disediakan perusahaan guna memenuhi kebutuhan produksi atau penjualan barang

dagangan.”

Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa persediaan merupakan sejumlah barang baik itu yang disimpan untuk dijual , barang yang dalam proses produksi , atau bahan yang digunakan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan produksinya. Fungsi persediaan barang dagang pada perusahaan dagang berbeda dengan persediaan barang pada perusahaan industri (manufaktur).

Sugiyarso dan Winarni (2005:38) menyatakan bahwa :

“Untuk perusahaan dagang persediaan barang dagangan dimasudkan

untuk memenuhi permintaan pembeli. Untuk perusahaan industri, persediaan bahan baku dan barang dalam proses bertujuan untuk memperlancar kegiatan produksi. Sementara itu persediaan barang jadi

dimaksudkan untuk memenuhi permintaan pasar”

Perbedaan persediaan barang dalam perusahaan dagang dengan persediaan barang dalam perusahaan industri (manufaktur) adalah adanya proses produksi lebih lanjut terhadap persediaan tersebut. Pada perusahaan dagang persediaan barang dagangan tanpa perlu adanya

proses produksi tersedia untuk memenuhi permintaan pelanggan, perusahaan menyimpan persediaan sebelum dijual ke dalam gudang. Sedangkan pada perusahaan industri (manufaktur) persediaan barang dagangan melewati proses produksi untuk diolah lalu ditawarkan pada pasar.

2.1.2.2 Persediaan Barang Jadi

Persediaan pada perusahaan dagang adalah barang yang disimpan dalam gudang oleh perusahaan untuk dijual dan dibeli. Persediaan pada perusahaan dagang tidak melalui proses produksi sehingga tidak ada transformasi bentuk persediaan barang dagang.

Berbeda dengan perusahaan industri (manufaktur), persediaan barang pada perusahaan industri (manufaktur) mengalami transformasi bentuk akibat adanya proses produksi. Perusahaan industri (manufaktur) kegiatannya mengolah bahan baku atau mentah menjadi barang jadi, pada umumnya ada tiga jenis persediaan , yaitu :

1. Persediaan bahan mentah 2. Persediaan barang dalam proses 3. Persediaan barang jadi.

Menurut Zaki Baridwan (2004:150) menyatakan bahwa : “Jenis

persediaan yang ada dalam perusahaan manufaktur yaitu persediaan bahan baku, bahan penolong, supplies pabrik, barang setengah jadi dan

Fokus dalam penelitian ini adalah persediaan barang jadi , definisi persediaan barang jadi menurut Sofjan Assauti (2008:240-242):

“ Persediaan barang jadi (finished goods stock), yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual kepada pelanggan atau perusahaan lain.”

Sedangkan menurut Donald E. Kieso, Jerry J. Weygandt dan Terry D. Warfield (2002:445) mendefinisikan : “Persediaan barang jadi

adalah produk yamg telah selesai tetapi belum dijual pada akhir periode fiskal, dilaporkan sebagai persediaan barang jadi”

C. Rollin Niswonger, Carl S. Warren, James M. Reeve dan Philip E. Fees (2004:149) mendefinisikan persediaan barang jadi sebagai berikut: “Persediaan barang jadi adalah persediaan produk akhir yang siap untuk dijual , didistribusikan atau disimpan.”

Dari ketiga definisi persediaan barang jadi di atas dapat disimpulkan bahwa persediaan barang jadi adalah persediaan produk akhir yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual kepada pelanggan atau konsumen, didistribusikan kepada distributor atau disimpan dalam gudang.

2.1.2.3 Metode Pencatatan Persediaan

Persediaan merupakan bagian yang berpengaruh dalam perusahaan , terutama bagi perusahaan industri (manufaktur) karena

perusahaan tidak bisa berjalan tanpa adanya persediaan. Mengingat penting dan fatalnya masalah persediaan, sangat diperlukan bagi setiap perusahaan untuk menentukan metode pencatatan persediaan yang cocok bagi persediaan perusahaan, karena dengan adanya metode pencatatan persediaan , pihak manajemen perusahaan dapat lebih mudah mengetahui jumlah persediaan maupun dalam nilai mata uangnya.

Menurut Mas’ud Machfoed (1995:223) metode penilaian fisik

persediaan adalah

1. Metode Periodik (physical method)

2. Metode Kartu (perpetual method)

Sama halnya dengan Soemarso S.R. (2005:405) menyatakan bahwa

“Dalam membantu penyajian persediaan agar menjadi lebih teliti dan

relevan maka dikembangkan beberapa metode pencatatan persediaan dalam membantu manajemen dalam mengelola perusahaan yaitu dua metode pencatatan persediaan yang terdiri dari :

1. Metode pencatatan periodik (periodic method)

2. Metode pencatatan perpetual (perpetual method)”.

Penjelasan dari metode pencatatan persediaan di atas adalah : a. Metode Pencatatan Periodik (periodic method)

Metode pencatatan ini disebut sistem periodik karena perhitungan jumlah dan nilai persediaan hanya akan diketahui pada akhir periode saja dalam penyiapan laporan keuangan. Setiap ada

transaksi pembelian maupun penjualann barang, akun persediaan tidak dicatat baik itu didebit jika ada pembelian ataupun dikredit jika ada penjualan. Persediaan merupakan salah satu komponen untuk menghitung cost of good sold maka perhitungan jumlah persediaan dengan menggunakan stock opname disesuaikan dengan kelengkapan data atau catatan dan perhitungan barang. Dengan menggunakan cara ini perhitungan persediaan yang dibebankan pada cost of good sold

memiliki kemungkinan overstatement¸ karena hanya membandingkan dan menghitung barang yang ada dikurangi dengan persediaan akhir. Sehingga jika ada barang-barang yang rusak atau hilang,barang yang kualitasnya berkurang dan hal ini tidak terungkap akan berdampak pada laporan laba rugi sehingga kurang objektif dan informatif.

Perlakuan akuntansi untuk sistem pencatatan persediaan periodik adalah :

a. Pembelian barang dagang dicatat sebagai akun pembelian diletakkan disebelah debit.

b. Tidak ada pencatatan pada akun persediaan

c. Beban angkut pembeliaan dicatat sebagai akun beban angkut pembelian dan ditempatkan disebelah debit.

d. Retur dan potongan pembelian dicatat pada sebelah kredit ke akun retur dan potongan pembelian.

e. Potongan tunai pembelian dicatat disebelah kredit ke akun potongan tunai pembelian, dan akan mengurangi pembelian saat mencatat rupiahnya di laporan laba-rugi komprehensif.

f. Beban pokok penjualan atau harga pokok penjualan (cost of good sold) dihitung pada akhir periode setelah dilakukannya perhitungan fisik dan penilaian persediaan akhir.

Jurnal umum untuk mencatat pembelian dan penjualan persediaan menggunakan metode pencatatan kartu (perpetual method) adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1

Metode Pencatatan Kartu

Date Description Ref Debet Credit

1/1/2001 Pada saat pembelian :

Merchandise inventory Cash/ Account Payable

XX

XX 5/1/2001 Pada saat penjualan :

Cash / Account Receivable Sales

Cost of good sold

Merchandise inventory XX XX XX XX Amount XX XX Sumber : Soemarso S.R. (2002 : 407) b. Metode Pencatatan Kartu (Perpetual Methode)

Pada metode pencatatan perpetual ini, setiap jenis persediaan yang dimiliki perusahaan dicatat dalam kartu persediaan. Keluar masuknya persediaan baik itu dalam jumlah maupun rupiah dicatat dalam kartu persediaan ini , sehingga perusahaan bisa mengetahui nilai persediaan setiap saat tanpa perlu menghitung jumlah barangnya terlebih dahulu.

Metode pencatatan perpetual ini juga memiliki kelemahan, kelemahannya adalah saat menentukan nilai dan jumlah barang, karena pihak manajemen perusahaan bisa setiap saat mengetahui saldo persediaan tanpa perlu menghitung fisik barang secara langsung, namun dengan hanya menghitung jumlah dan nilai barang berdasarkan kartu persediaan atau catatan yang ada menimbulkan adanya perbedaan antara jumlah persediaan yang tercatat di kartu dengan jumlah persediaan yang terseimpan di gudang, karena menimbang kemungkinan persediaan yang rusak tanpa diketahui perusahaan. Lebih tepat bagi perusahaan jika menggunakan metode periodik dan metode perpetual, mencatat jumlah dan nilai dalam kartu persediaan tetapi tetap menghitung jumlah persediaan barang yang ada agar lebih mengetahui kualitas barang tersebut.

Perlakuan akuntansi dalam metode pencatatan perpetual ini tidak disediakan akun pembelian dan akun lain yang berhubungan dengan pembelian barang. Pembelian barang langsung dicatat dengan nama akun persediaan barang dagang. Akun persediaan barang dagangan digunakan untuk mencatat persediaan pada saat pembelian di awal periode , penjualan yang dilakukan selama periode berjalan dan persediaan yang ada di akhir periode. Harga pokok penjualan dicatat setiap kali terjadi transaksi baik itu pembelian barang dagang ataupun keluarnya barang dagang untuk dijual maupun diproses. Sehingga,

dibuat akun tersendiri dalam pencatatan pada metode perpetual ini, yaitu harga pokok penjualan.

Jurnal umum untuk mencatat pembelian dan penjualan persediaan menggunakan metode pencatatan periodik adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2

Metode Pencatatan Periodik

Date Description Ref Debet Credit

1/1/2001 Pada saat pembelian :

Purchases

Cash/ Account Payable

XX

XX 5/1/2001 Pada saat penjualan :

Cash / Account Receivable Sales

XX

XX

Amount XX XX

Sumber : Soemarso S.R. (2002 : 407)

2.1.2.4 Metode Penilaian Persediaan

Menurut Zaki Baridwan (2004:158) menyatakan “untuk menilai

persediaan dapat digunakan berbagai cara yaitu : 1. Identifikasi khusus

2. Masuk pertama keluar pertama (MPKP/FIFO) 3. Rata-rata tertimbang

4. Masuk terakhir keluar pertama (MTKP/LIFO) 5. Persediaan besi/minimum

6. Biaya standar

7. Biaya rata-rata sederhana 8. Harga beli terakhir

9. Metode nilai penjualan relative

10. Metode biaya variabel”.

Penjelasan mengenai metode penilaian persediaan adalah sebagai berikut :

1. Identifikasi Khusus

Metode identifikasi khusus ini didasarkan pada anggapan bahwa arus barang sama dengan arus biaya. Karena itu perlunya pemisahan tiap-tiap jenis barang berdasarkan harga pokoknya dan untuk masing-masing kelompok dibuatkan kartu persediaan sendiri sehingga masing-masing harga pokok barang-barang yang dijual dan sisa barang yang ada merupakan persediaan akhir. Metode ini dapat digunakan dalam perusahaan-perusahaan yang menggunakan prosedur pencatatan fisik

(Periodic Methode) maupun pencatatan kartu (Perpetual Methode). 2. LIFO (Last in first out)

Metode ini disebut Last in First out (LIFO) karena persediaan barang yang pertama kali keluarkan adalah persediaan barang yang terakhir dibeli atau disimpan. Harga pokok persediaan pada metode LIFO (Last In First Out) ini akan dibebankan sesuai dengan urutan terjadinya. Apabila ada transaksi penjualan atau pemakaian barang-barang maka harga pokok dibebankan adalah harga pokok yang paling terdahulu, disusul yang masuk berikutnya. Persediaan akhir dikurangi harga pokok terakhir.

Dalam metode ini barang-barang yang dipakai untuk produksi atau dijual akan dibebani dengan harga pokok rata-rata. Perhitungan harga pokok rata-rata dilakukan dengan cara membagi jumlah harga perolehannya dengan kuantitinya.

4. FIFO (first in first out)

Dalam metode penilaian persediaan First In First Out (FIFO) ini , persediaan pertama yang dikeluarkan adalah persediaan barang yang pertama kali dibeli atau masuk. Barang-barang yang dikeluarkan dari gudang akan dibebani dengan harga pokok pembelian yang terakhir disusul dengan masuk sebelumnya. Persediaan akhir dihargai dengan harga pokok pembelian yang pertama dan berikutnya.

5. Persediaan Besi/Minimum

Dalam metode ini perusahaan memerlukan suatu jumlah persediaan minimum untuk menjaga kelangsungan hidup usahanya. Persediaan minimum ini dianggap sebagai elemen yang harus tetap, sehingga dinilai dengan harga pokok yang tetap. Harga pokok untuk persediaan minimum biasanya diambil dari pengalaman masa lalu yang nilai harga pokoknya rendah. Pada akhir periode jumlah barang yang ada di gudang dihitung. Jumlah persediaan ini kemudian dinilai dengan harga pokok yang tetap, sedangkan selisih antara jumlah barang yang ada dengan jumlah persediaan minimum dinilai dengan harga pada saat tersebut.

Perusahaan manufaktur yang memakai sistem biaya standar, persediaan barang perusahaan tersebut dinilai dengan biaya standar, yaitu biaya-biaya yang sebenarnya terjadi. Biaya standar ini ditentukan diawal sebelum proses produksi dimulai untuk bahan baku, upah langsung, dan biaya produksi tidak langsung. Apabila terdapat perbedaan biaya-biaya yang sesungguhnya terjadi dengan biaya standarnya, perbedaan-perbedaan itu akan dicatat sebagai selisih. Karena persediaan ini dinilai dengan biaya standar maka pemborosan-pemborosan dan hal-hal yang tidak biasa tidak termasuk dalam perhitungan harga pokok penjualan. Biaya standar yang telah ditetapkan akan terus digunakan apabila tidak ada perubahan harga maupun metode produksi. Jika ada perubahan yang terjadi baik itu perubahan harga maupun metode produksi maka biaya standar harus dirubah dan disesuaikan dengan kondisi yang baru. 7. Biaya Sederhana

Harga pokok persediaan dalam metode biaya sederhana ini ditentukan dengan menghitung rata-rata tanpa memperhatikan jumlahnya. Apabila terjadi perbedaan jumlah barang metode ini tidak menghasilkan harga pokok yang dapat mewakili seluruh persediaan.

8. Harga Beli Terakhir

Dalam metode harga beli terakhir ini persediaan barang yang ada pada akhir periode dinilai dengan harga pokok pembelian terakhir tanpa mempertimbangkan apakah jumlah persediaan yang ada melebihi jumlah yang dibeli terakhir.

9. Metode nilai penjualan relatif

Metode ini dipakai jika perusahaan ingin mengalokasikan biaya-biaya bersama kepada masing-masing produk yang dihasilkan atau dibeli. Masalah alokasi ini biasanya dialami oleh perusahaan yang bergerak dibidang usaha dagang maupun manufaktur. Dalam perusahaan dagang apabila dibeli beberapa barang yang harganya menjadi satu, timbul masalah berapakah harga pokok masing-masing barang tersebut.

10. Metode Biaya Variabel

Dalam metode ini harga pokok produksi dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan hanya dibebani dengan biaya variabel produksi yaitu, bahan baku, upah langsung, dan biaya produksi tidak langsung. Metode biaya variabel berguna bagi pimpinan perusahaan dalam merencanakan dan kegiatan mengawasi biaya-biayanya. Agar metode ini dapat digunakan, rekening-rekening biaya harus dipisahkan menjadi variabel biaya atau tetap. Karena biaya-biaya yang masuk dalam perhitungan harga pokok produksi hanya biaya-biaya yang bersifat variabel, metode ini tidak diterima sebagai prinsip akuntansi yang lazim. Oleh karena itu jika perusahaan menggunakan metode biaya variabel maka pada akhir periode harus diadakan penyesuaian terhadap persediaan dan harga pokok penjualan.

Sebelum tahun 2005 IAS 2 (International Accounting Standard)

memperbolehkan menggunakan tiga alternatif metode penilaian persediaan , yaitu metode FIFO (First In First Out), LIFO (Last In First

Out) dan rata-rata tertimbang. Namun mulai 1 Januari 2005 IFRS

(International Financial Reporting Standard) tidak memperbolehkan metode LIFO (Last In First Out) digunakan untuk menilai persediaan.

2.1.2.5 Perputaran Persediaan Barang Jadi

Munawir (2004 : 77) menyatakan bahwa “Tingkat perputaran

persediaan (Inventory Turnover) adalah merupakan ratio antara jumlah harga pokok barang yang dijual dengan nilai rata-rata persediaan yang

dimiliki oleh perusahaan”.

Perusahaan seperti perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang industri (manufaktur) yang kegiatannya tidak hanya membeli dan menjual barang dagangan melainkan juga memproduksi barang maka perusahaan ini pada akhir tahun akan mempunyai persediaan bahan baku (mentah), barang dalam proses dan barang jadi. Untuk barang jadi maka perputarannya dapat dihitung dengan cara yang sama dengan perhitungan perputaran persediaan barang dagangan yaitu membagi harga pokok penjualan dengan rata-rata persediaan. Persediaan merupakan investasi aktiva lancar yang biasanya jumlahnya paling besar diantara aktiva lancar lainnya, sehingga penting bagi pihak manajemen perusahaan untuk mengontrol persediaan dengan cermat, karena itu dalam banyak hal persediaan lebih sensitif terhadap fluktuasi bisnis umum dibanding dengan harta lainnya yang dimiliki perusahaan. Dalam kondisi bisnis perusahaan yang baik persediaan digunakan perusahaan dengan jumlah besar, sedangkan pada saat kondisi bisnis

perusahaan atau permintaan konsumen yang sedikit persediaan barang dapat menumpuk di gudang.

Pihak manajemen secara khusus perlu merumuskan dan menetapkan cara perencanaan yang efektif. Salah satu cara pengendalian adalah dengan menggunakan rasio perputaran persediaan barang.

1. Rasio Perputaran Persediaan

Menurut Kasmir (2010:114) menyatakan bahwa “perputaran persediaan adalah rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam persediaan ini berputar dalam satu periode.”

Tingkat perputaran persediaan menunjukan berapa kali jumlah persediaan barang dagangan yang diganti dalam satu tahun. Untuk mengetahui rata-rata persediaan tersimpan dalam gudang dapat dihitung dengan membagi jumlah hari-hari dalam satu tahun dengan perputaran dari persediaan tersebut. Tingkat perputaran persediaan mengukur perusahaan dalam memutar barang dagangannya, dan menunjukan hubungan antara yang diperlukan untuk menunjang dan mengimbangi tingkat penjualan yang ditentukan.

Rasio perputaran persediaan dan jumlah hari persediaan adalah alat untuk menguji persediaan.

Sugiyarso dan Winarni (2005 : 39) menyatakan bahwa :

“Harga pokok barang yang tersedia untuk dijual dibagi menjadi rata

-rata persediaan barang jadi. Rata--rata persediaan dihitung dengan cara menambahkan saldo persediaan awal dan saldo persediaan akhir kemudian dibagi dua. Jumlah hari per tahun untuk perhitungan yang

teliti sering digunakan 365 hari; apabila hanya digunakan hari kerja maka 1 tahun = 300 hari; akan tetapi banyak juga yang mempergunakan

perhitungan 1 tahun = 360 hari.”

Rasio perputaran persediaan barang jadi adalah ukuran yang menunjukan berapa kali jumlah persediaan barang jadi diganti dalam satu tahun. Semakin besar rasio ini semakin baik karena hal ini menunjukkan bahwa kegiatan penjualan perusahaan berjalan cepat dan lancar.

Menghitung perputaran persediaan barang jadi : Harga Pokok Penjualan . Rata-rata Persediaan Persediaan Barang Jadi Untuk menghitung rata-rata persediaan :

Persediaan Barang Jadi Awal + Persediaan Barang Jadi Akhir

Dokumen terkait