STRUKTUR ORGANISASI PT. TAMSAN DHARMA
STAFF KONTROL
4.2. Kinerja Keuangan
4.2.1. Perkembangan Laba Rugi dan Neraca
Laporan keuangan utama yang didapatkan dari PT. Tamsan Dharma adalah Laporan Rugi Laba dan Neraca (Lampiran 2). Pos rekening yang dimiliki dalam laporan rugi laba perusahaan secara detail terdapat dalam lampiran 2 mengenai laporan neraca dan rugi laba.
Dalam rugi laba, pos-pos rekening pendapatan dan biaya yang paling aktif adalah yang berhubungan langsung dengan jasa pembiayaan yang dilakukan yaitu pendapatan sewa beli yang merupakan pendapatan utama PT. Tamsan Dharma dan Fee penyaluran kredit yang diberikan oleh pihak bank yang melakukan kerjasama penyaluran kredit kepada PT. Tamsan Dharma. Pada posisi biaya, pos yang paling aktif adalah biaya dana karena pos ini merupakan pos penempatan biaya bunga yang harus dibayarkan kepada pihak bank setiap bulannya menyusul biaya personalia yang merupakan biaya gaji karyawan setiap bulan. Untuk gambaran bentuk neraca dapat dilihat pada bagian lampiran.
Secara umum kinerja laporan keuangan perusahaan menurun dan secara jelas terlihat dari posisi rugi laba yang selalu berada dalam posisi merugi yaitu sebesar Rp. 41.599.967,- (Tahun 2006), Rp 19.088.029,- (Tahun 2007), Rp 38.513.666,- (Tahun 2008). Namun demikian aktivitas perputaran hutang dan piutang masih bergerak, namun piutang yang dibayarkan oleh nasabah belum dapat menutupi hutang kepada pihak ketiga sementara disisi lain biaya-biaya operasional harus tetap di tutupi.
4.2.2. Kualitas Piutang PT. Tamsan Dharma
Dari data konsumen per Desember 2006 kualitas piutang PT. Tamsan Dharma berdasarkan umur tunggakan terlihat dalam tabel berikut :
Tabel 6. Kategori kualitas piutang PT. Tamsan Dharma
No. Kategori Kualitas Piutang Jumlah Nasabah
1. Lancar 18
2. Dalam Perhatian Khusus 11
3. Kurang Lancar 2
4. Diragukan 0
5. Macet 3
Dari data diatas terlihat bahwa kategori lancar memiliki persentase yang paling tinggi diantara kategori yang lain sebesar 52,9% dengan total pembiayaan sebesar Rp.2.104.420.369,-. Dari total pembiayaan yang lancar tersebut, sebanyak Rp. 1,4 Milyard merupakan pembiayaan bus bagi salah satu perusahaan otomotif besar di pulau Jawa.
Untuk kategori dalam perhatian khusus menempati posisi persentase terbesar kedua yaitu 32,3% dengan umur piutang yang tertunggak kebanyakan berumur satu bulan dan hanya 3 berumur diatas 2 bulan. Beberapa faktor yang menyebabkan nasabah mengalami kemunduran dalam pembayaran angsurannya, yaitu kendaraan rusak sehingga memerlukan biaya perbaikan, kendaraan mengalami kecelakaan dan khusus bagi kendaraan niaga setoran harian yang diperoleh dari pengoperasian kendaraan tersebut semakin menurun karena jumlah penumpang yang menurun akibat banyaknya kendaraan roda dua.
Dalam kualitas piutang kurang lancar terdapat 2 orang nasabah namun salah satu nasabah memiliki 2 kontrak perjanjian. Penyelesaian piutang kedua nasabah ini berjalan agak lambat dikarenakan salah satu nasabah sulit dihubungi karena berada diluar daerah, namun dalam kontrak perjanjian terdapat jaminan tambahan
aset berupa tanah yang pada akhirnya digunakan oleh nasabah untuk melunasi hutangnya. Sedangkan nasabah yang lain sebenarnya berusaha untuk menolong keluarganya dengan menjadi personal guarantee, namun orang yang ditolongnya ini ternyata mengalami kesulitan dalam menjalankan usaha angkotnya, sehingga yang bersangkutan pasrah dan menyerahkan tanggung jawab kepada nasabah. Pada akhirnya nasabah mau membayar lunas dengan bernegosiasi hanya membayar hutang pokok dan bunganya saja tanpa membayar denda.
Tidak terdapat nasabah yang berada pada posisi kualitas piutangnya diragukan, namun dalam posisi macet terdapat 3 nasabah dimana salah satu nasabah macet memiliki hutang pokok dan bunga sebesar Rp.2.745.089.124,-. Kendaraan nasabah sudah ditarik dan diusahakan untuk dioperasikan sendiri oleh PT. Tamsan Dharma sendiri untuk menutupi semua hutang yang ada. Hal ini dilakukan karena apabila kendaraan tersebut dijual (3 unit bus Hino RG tahun 2002 dan 3 unit bus Mercedes Benz OF 8000 tahun 2004) belum dapat menutupi piutang yang ada. Estimasi harga total 6 unit bus tersebut pada tahun 2006 adalah sebesar Rp.990.000.000,- sehingga keputusan untuk mengoperasikan kendaraan tersebut diambil oleh manajemen. Nasabah kedua memiliki piutang sebesar Rp. 180.000.000,- dengan jaminan kendaraan bus Hino RKT tahun 1996. Bus ini kemudian menjadi armada tambahan yang dioperasikan bersama dengan 6 unit bus sebelumnya. Pengoperasian kendaraan ini hanya berlangsung selama 2,5 tahun karena pendapatan yang diperoleh dari pengoperasian bus tersebut tidak seimbang dengan besarnya pengeluaran untuk perawatan bus. Nasabah terakhir adalah kerabat dekat pemilik perusahaan. Pembiayaan yang diberikan sebesar Rp. 11.000.000,- dengan jaminan kendaraan roda dua dan pada akhirnya kendaraan tersebut ditarik dan dijual. Namun hasil penjualan tersebut hanya mampu menutupi hutang pokok dari nasabah tersebut.
Bila dilihat dari kualitas piutang PT. Tamsan Dharma secara jumlah nasabah, sebenarnya PT. Tamsan Dharma memiliki sejumlah nasabah yang mampu melakukan pembayarannya dengan baik. Hal ini dikarenakan PT. Tamsan Dharma melakukan seleksi yang ketat dalam mencari nasabah, seperti meminta collateral guarantee berupa ijin trayek bagi kendaraan niaga dan aset tetap atau tambahan unit kendaraan untuk pembiayaan kendaraan tua. Banyak nasabah yang datang merupakan rekomendasi dari nasabah yang sudah dibiayai oleh PT. Tamsan Dharma. Namun karena secara nominal (volume) piutang dengan kualitas macet sangat besar maka secara langsung mempengaruhi pendapatan yang diperoleh PT. Tamsan Dharma yang membuat kondisi laporan keuangan merugi.
4.2.3. Perhitungan Rasio-rasio keuangan
Kinerja manajemen piutang PT. Tamsan Dharma secara keseluruhan akan diketahui dengan menggunakan analisis rasio dengan hasil perhitungan sebagai berikut :
Tabel 7. Hasil Perhitungan Analisa Rasio likuiditas, rasio aktivitas dan rasio solvabilitas
Tahun Kondisi
No Aspek dan Formulasi
2006 2007 2008
Ideal
Perusahaan
1 Rasio likuiditas ‘
Rasio posisi kas 0.007 0.583 0.470 >1 Kurang Ideal
Rasio Lancar 0.106 0.680 0.470 >0,4
Kurang Ideal pada tahun 2006
2 Rasio Aktivitas
Rasio Perputaran
Piutang 0.002 0.009 0.000 12 Tidak ideal
Rasio pengumpulan
Piutang 5303.511 926.760 523.372 30 Tidak ideal