BAB 3. KINERJA LINGKUNGAN
3.5 Kinerja Lingkungan dan Kinerja Keuangan Perusahaan
Pada saat ini, masalah utama yang dihadapi oleh manajer di sebuah perusahaan dalam hal pengambilan keputusan adalah masalah lingkungan. Dalam hal ini yang dipertimbangkan tidak hanya etika dan nilai-nilai sosial yang harus dipromosikan oleh perusahaan, tetapi seorang manajer harus memastikan keputusan yang diam-bilnya dapat memberikan kesuksesan yang berkelanjutan bagi perusahaan. Komitmen perusahaan terhadap lingkungan alam saat ini merupakan salah satu isu strategis dalam bersaing dengan perusahaan lain. Beberapa penulis menyarankan bahwa manajemen lingkungan mungkin menjadi alat, yang membantu organisasi untuk meningkatkan daya saing mereka (Ambec & Lanoie, 2008; Porter & Van der Linde, 1995; Trung & Kumar, 2005).
kinerja yang dimiliki oleh perusahaan. Hasil dari penelitian-penelitian tersebut memiliki hasil yang berbeda-beda. Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan positif (King &Lenox, 2002; Melnyk et al., 2003) tetapi peneliti lainnya tidak mengidentifikasi adanya dampak positif dari kinerja lingkungan terhadap kinerja keuangan (Cordeiro & Sarkis, 1997; Gilley et al., 2000; Link & Naveh, 2006). Friedman (1962) berpendapat bahwa tanggung jawab sosial perusahaan merupakan salah satu cara untuk menghasilkan uang bagi para pemegang sahamnya. Selain itu, dalam teori stakeholder (Clarkson, 1995, Jones, 1995), perbedaan antara tujuan sosial dan ekonomi dari sebuah perusahaan tidak lagi relevan, karena masalah utamanya adalah kelangsungan hidup dari sebuah perusahaan. Kelangsungan hidup ini tidak hanya dipengaruhi oleh pemegang saham, tetapi juga berbagai pemangku kepentingan lainnya seperti karyawan, pemerintah dan pelanggan (Lee, 2008). Selain itu ada anggapan bahwa penerapan strategi sosial dan lingkungan akan disukai ketika para manajer menyadari bahwa inisiatif ini dapat membantu perusahaan untuk mencapai situasi dimana kinerja keuangan perusahaan dan masyarakat serta lingkungan akan diuntungkan (Molina-Azorin et al., 2009).
Tindakan perusahaan untuk mencegah adanya polusi yang dikeluarkan dari kegiatan operasional perusahaan dapat memberikan pengaruh positif bagi perusahaan seperti menghemat biaya pengawasan, input, dan konsumsi energi serta untuk menggunakan kembali bahan melalui daur ulang (Hart, 1997; Taylor, 1992). Dengan demikian, eco-eficiencyyang diterapkan pada proses produksi perusahaan dapat memberikan pengaruh pada lingkungan yaitu mengurangi dampak ekologis dan penggunaan sumber daya (Schmidheiny, 1992; Starik & Marcus, 2000). Jika perusahaan memberikan dampak polusi kepada lingkungan atau generasi polusi dianggap sebagai tanda ketidakefisiensian dari perusahaan (Porter dan Van der Linde, 1995). Dengan demikian perusahaan memerlukan pembelajaran dalam rangka perbaikan lingkungan dalam hal produktivitas sumber daya. Bagi manajer yang memiliki fokus pada biaya dan menghilangkan perhatiannya terhadap dampak lingkungan maka harus mempertimbangkan kembali pendekatan tersebut. Manajer harus melihat pengaruh positif yang didapatkan dengan adanya strategi lingkungan tersebut karena banyak hal yang terbuang dari pendekatan biaya yaitu sumber daya yang terbuang, tenaga yang terbuang, dan nilai produk yang diberikan kepada pelanggan juga berkurang.
Dengan menggunakan strategi lingkungan proaktif, perusahaan dapat menghilangkan proses produksi yang berbahaya bagi lingkungan, mendesain ulang sistem produk yang ada untuk mengurangi dampak siklus hidup produk, dan mengembangkan produk baru dengan biaya yang lebih rendah (Hart, 1997). Strategi lingkungan yang lebih maju dapat membantu seluruh organisasi dalam mencapai efisiensi organisasi yang lebih besar. Bahkan, perusahaan dapat menghemat biaya
dengan menanggapi tekanan pasar dalam rangka efisiensi produksi yang lebih besar (Hart dan Ahuja, 1996).
Tindakan perusahaan dalam mengurangi polusi juga dapat mengakibatkan peningkatan permintaan atas produk perusahaan dari konsumen yang peka terhadap lingkungan, karena karakteristik produk yang diproduksi dengan ramah lingkungan cenderung akan lebih dihargai oleh tipe pelanggan yang peka terhadap lingkungan (Elkington, 1994). Selain itu, perusahaan yang menunjukkan inisiatif lingkungan yang baik kemungkinan besar akan memperoleh reputasi ekologis yang lebih tinggi (Miles dan Covin, 2000). Perusahaan yang mengadopsi strategi lingkungan proaktif ini juga dapat memperoleh manfaat dalam hal strategi seperti penetapan harga premium dan peningkatan penjualan karena meningkatkan legitimasi pasar dan persetujuan sosial yang lebih besar. Persetujuan seperti itu dapat memungkinkan organisasi yang sadar lingkungan untuk memasarkan prosedur manajemen lingkungan mereka sebagai nilai jual untuk produk mereka dan menciptakan sarana untuk membedakan produk perusahaan dengan produk yang dimiliki pesaing (Rivera, 2002).
Peneliti yang menunjukkan hubungan negatif antara manajemen lingkungan dan kinerja keuangan berpendapat bahwa perusahaan yang berusaha meningkatkan kinerja lingkungan menarik sumber daya dan upaya manajemen dari area inti bisnis, sehingga menghasilkan laba yang lebih rendah. Dalam pandangan ini, para manajer tidak dapat membuat perbaikan lingkungan dan persaingan (Hull & Rothenberg, 2008; Klassen & Whybark, 1999). Dalam hal ini pada saat melaksanakan inisiatif pada kinerja sosial dan lingkungan perusahaan, tidak adanya kontrol yang kuat dari pemegang saham sehingga manajer dapat menggunakan sumber daya perusahaan untuk mengejar tujuan yang meningkatkan utilitas mereka sendiri dengan cara yang tidak mungkin memberikan pengembalian yang signifikan kepada perusahaan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Molina-Azorin, et al. (2009) ditemukan bahwa seebanyak 32 penelitian yang menganalisa dampak lingkungan terhadap kinerja keuangan. Tabel 3.2 menjelaskan hasil dari beberapa penelitian mengenai pengaruh dari kinerja lingkungan dan kinerja keuangan. Hasil penelitian yang disajikan pada Tabel 3.2 berasal dari karya yang menggunakan beberapa ukuran kinerja keuangan, bersama dengan variabel manajemen lingkungan dan/atau variabel kinerja lingkungan. Menjelaskan posisi perusahaan, industri, dan negara yang bervariasi dimana sektor industri manufaktur dan perusahaan dari Amerika Serikatmerupakan perusahaan yang paling banyak diteliti. Selain itu beberapa penelitian hanya menganalisis satu industri.
Tabel 3.2. Pengaruh Kinerja Lingkungan dan Kinerja Keuangan Perusahaan
Peneliti Hasil Penelitian
Hamilton (1995) Terdapat pengembalian yang signifikan negatif pada saat dimana data emisi Toxics Release Inventory (TRI) pertama kali diumumkan.
Cohen et al. (1995) Pada kelompok perusahaan yang menghasilkan polusi yang rendah memiliki kinerja ekonomi yang lebih baik (tidak selalu pada level yang tidak signifikan)
Hart & Ahuja (1996) Kegiatan pencegahan polusi memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan dalam satu hingga dua tahun. ROE membutuhkan waktu lebih lama dalam perubahan atau dipengaruhi dengan adanya tindakan lingkungan perusahaan.
Klassen & McLaughlin (1996)
Kepedulian terhadap lingkungan menyebabkan perubahan yang signifikan, positif dalam penilaian pasar dan begitu pula sebaliknya, jika perusahaan tidak peduli dengan lingkungan maka akan menyebabkan pengaruh yang signifikan negatif terhadap kinerja perusahaan.
Russo & Fouts (1997) Terdapat dampak positif dan signifikan dari kinerja lingkungan terhadap ROA.
Cordeiroand Sarkis (1997)
Kinerja lingkungan yang tinggi secara signifikan negatif dalam kaitannya dengan perkiraan pertumbuhan laba-per-saham
Judge & Douglas
(1998) Terdapat dampak positif dan signifikan dari integrasi masalah lingkungan pada kinerja keuangan. Edwards (1998) Dalam beberapa perbandingan, perusahaan yang memiliki kinerja keuangan yang baikjuga secara kinerja lingkungan juga baik (tidak selalu pada tingkat yang signifikan)
Khanna & Damon
(1999) Program peduli lingkungan memiliki dampak negatif yang signifikan secara statistik pada ROI saat ini, tetapi dampaknya terhadap profitabilitas jangka panjang yang diharapkan adalah positif dan signifikan secara statistik.
Gilley et al. (2000) Tidak terdapat efek yang signifikan dari penghijauan pada kinerja perusahaan. Tetapi, berbagai jenis prakarsa lingkungan memiliki implikasi unik.
Karagozoglu& Lindell
(2000) Terdapat hubungan positif antara keunggulan kompetitif lingkungan dan kinerja keuangan. Alvarez-Gil et al. (2001) Kelompok perusahaan yang menjalankan kegiatannya dengan strategi lingkungan proaktif yang lebih terkonsolidasi memiliki berpengaruh terhdap keuntungan yang lebih tinggi
De Burgos & Cespedes
(2001) Terdapat dampak positif tetapi tidak signifikan dari integrasi masalah lingkungan pada kinerja keuangan. Dampak positif dan signifikan dari kinerja lingkungan terhadap kinerja keuangan.
Peneliti Hasil Penelitian
King & Lenox (2002) Terdapat hubungan yang signifikan dan positif dari pencegahan limbah dengan ROA dan Tobin’s q.
Al-Tuwaijri et al. (2004) Terdapat hubungan positif yang signifikan antara kinerja lingkungan dan kinerja ekonomi. Perusahaan yang memiliki kepedulian lingkungan yang baik mengungkapkan informasi lingkungan yang lebih terkait dengan polusi daripada yang berkinerja buruk.
Carmona-Moreno et al.
(2004) Hotel dengan manajemen lingkungan yang rendah memperoleh kinerja yang secara signifikan lebih rendah. Wagner (2005) Hubungan yang sangat negatif ditemukan antara indeks kinerja lingkungan dan kinerja keuangan, untuk indeks berbasis input, hubungan umumnya tidak signifikan
Ann et al. (2006) Terdapat dampak yang positif antara kinerja lingkungan dan ekonomi Nakao et al. (2007) Kinerja lingkungan perusahaan memiliki dampak positif terhadap
kinerja keuangannya dan sebaliknya
Wahba (2008) ISO 14001 memberikan dampak positif dan signifikan pada nilai pasar perusahaan yang diukur dengan rasio Tobin’s q.
Sumber: Molina-Azorin, et al. (2009).
Berkenaan dengan variabel lingkungan, telah dibedakan antara variabel manajemen lingkungan dan variabel kinerja lingkungan. Manajemen lingkungan meliputi kegiatan teknis dan organisasi yang dilakukan oleh perusahaan untuk tujuan mengurangi dampak lingkungan dan meminimalkan pengaruhnya terhadap lingkungan alam (Cramer, 1998). Output dari manajemen lingkungan adalah kinerja lingkungan yang mengacu pada efek kegiatan dan produk perusahaan pada lingkungan alam (misalnya, konsumsi sumber daya atau generasi limbah dan emisi) (Klassen dan Whybark, 1999). Hanya enam studi (18,8 persen) yang menggunakan kedua variabel manajemen lingkungan dan variabel kinerja lingkungan, 14 studi (43,7 persen) menggunakan variabel manajemen lingkungan, dan 12 artikel sisanya (37,5 persen) menggunakan variabel kinerja lingkungan. Oleh karena itu, 20 penelitian (62,5 persen) menggunakan variabel manajemen lingkungan dan 18 artikel menggunakan variabel kinerja lingkungan (56,2 persen).