4. Usulan dan Program Kegiatan
7.3. Sistem Penyediaan Air Minum
7.3.3. Kinerja PDAM
Secara kelembagaan saat ini PDAM yang ada di kabupaten Buton Tengah masih menjadi pengelolaan dan di bawah manajemen PDAM Kabupaten Buton, selain itu belum dilaksanakan pula penyerahan asset-aset PDAM pasca pemekaran wilayah. Untuk itu secara garis besar kinerja PDAM Kabupaten Buton Tengah belum bias terukur baik dari sisi keuangan, sumber pendanaan, perencanaan dan pemabngunan ke depan.
Saat ini, sumber air baku yang dimanfaatkan oleh PDAM Kabupaten Buton Tengah berasal dari sumber air, yaitu:
a. PDAM Unit Kecamatan Lakudo
Prasarana IPA Matawine dengan kapasitas produksi 10 liter/detik meliputi bak penampung, pipa transmisi dari Mata Air Matawine, dan jaringan pipa distribusi
b. PDAM Unit Kecamatan Gu
Prasarana IPA Walondo dengan kapasitas produksi 20 liter/detik meliputi bak penampung, pipa transmisi dari Mata Air Walondo, dan jaringan pipa distribusi
c. PDAM Unit Kecamatan Sangia Wambulu
Prasarana IPA Wadiabero meliputi bak penampung, pipa transmisi dari sumber mata air dan jaringan pipa distribusi bersumber dari Mata Air Cio di Desa Wadiabero Kecamatan Sangia Wambulu
d. PDAM Unit Kecamatan Mawasangka
Prasarana IPA Kamundo-Mundo dengan kapasitas produksi 10 liter/detik bersumber dari Mata Air Kamundo-Mundo di Desa Waburense Kecamatan Mawasangka meliputi bak penampung, pipa transmisi dari sumber mata air dan jaringan pipa distribusi dan Prasarana IPA Waburense dengan kapasitas produksi 5 liter/detik bersumber dari Mata Air Wataeo meliputi bak
e. PDAM Unit Kecamatan Mawasangka Tengah
Prasarana IPA Lantongau meliputi bak penampung, pipa transmisi dari Mata Air Koo, dan jaringan pipa distribusi
2. Jaringan Pipa
Jumlah panjang jaringan pipa PDAM yang sudah terpasang sampai dengan tahun 2011 adalah pipa transmisi 26.450 m’ dan pipa
distribusi 312.886 m’.
3. Sistem Pengolahan Air PDAM
Peningkatan dan optimalisasi kinerja PDAM sangat dipengaruhi oleh salah satu faktor antara lain adalah kondisi sarana dan prasarana yang ada saat ini, baik kualitas maupun kuantitasnya
a. Bangunan Pengambilan (Intake)
b. Instalasi Pengolahan Air Baku (Raw Water Treatment Plant)
c. Bak Penampung Air (Reservoir)
d. Pompa, Rumah Pompa dan Pompa Booster
Dalam memenuhi kebutuhan pelayanan pada pelanggan, PDAM. mengoperasikan beberapa pompa terutama untuk melayani pelanggan yang mempunyai jarak maupun ketinggian tidak mungkin lagi dijangkau dengan sistem gravitasi.
Struktur organisasi harus dapat menggambarkan aktivitas utama dalam sistem pengelolaan, pola kerja yang jelas dan mempunyai fungsi perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, serta pengawasan dengan menguraikan tugas, wewenang dan tanggung jawabnya. Untuk organisasi SPAM di Kabupaten/Kota, penyelenggara harus bertanggung jawab kepada Bupati atau Wali Kota seperti yang diperlihatkan pada Gambar 7.16.
Gambar 7.16. Struktur organisasi penyelenggaraan SPAM di Kabupaten
Struktur organisasi pengelolan SPAM menurut UPTD dapat dilihat pada gambar 9.2 sebagai berikut:
Gambar 7.17 Struktur Organisasi Pengelolaan SPAM menurut UPTD
7.3.4. Potensi dan tantangan Pengembangan SPAM
A. Potensi
1. Air permukaan
Ketersediaan air dalam pengertian sumber daya air pada dasarnya terdiri atas tiga jenis, yaitu air hujan, air permukaan, dan air tanah. Air hujan pada umumnya hanya berkontribusi untuk mengurangi kebutuhan air irigasi yaitu dalam bentuk hujan efektif,
rumah tangga. Sumber air yang berpotensi besar untuk dimanfaatkan adalah sumber air permukaan dalam bentuk air di sungai, saluran, danau, dan tampungan lainnya.
Penggunaan air tanah yang kenyataannya sangat membantu pemenuhan air baku maupun irigasi pada daerah yang sulit mendapatkan air permukaan seperti Kabupaten Buton Tengah harus dijaga agar pengambilannya tetap berada dibawah debit aman (Safe yield) (Irfan dan Waluyo, 2005). Ketersediaan air dapat didefinisikan dalam berbagai cara. Dalam hal lokasi, ketersediaan air dapat berlaku pada suatu titik misalnya pada suatu lokasi pos duga air, bendung tempat pengambilan air irigasi dan sebagainya (satuan: m3/dt atau l/dt), banyaknya air yang tersedia dapat juga dinyatakan berlaku dalam suatu areal tertentu, misalnya pada suatu wilayah sungai, daerah pengaliran sungai, daerah irigasi, dan sebagainya (satuan : juta meter kubik per tahun atau milimeter per hari). Analisis ketersediaan air menghasilkan perkiraan ketersediaan air di suatu wilayah sungai atau sistem tata air, secara spasial maupun dalam waktu.
Berdasarkan data RTRW Kabupaten Buton Tengah, diperoleh bahwa beberapa potensi air baku permukaan di Kabupaten Buton Tengah yaitu sungai dan danau. Di Kabupaten Buton Tengah tidak terdapat banyak sungai, karena geologinya yang berasal dari Formasi Wapulaka. Namun diperkirakan banyak sungai-sungai bawah tanah yang dibuktikan sangat banyaknya gua yang berisi air pada daerah karts. Sungai terbesar di wilayah ini adalah Sungai Mawasangka yang terdapat pada perbatasan dengan wilayah Kab. Muna Barat. Sungai- sungai sedang dan kecil tersebar di setiap kecamatan. Sedangkan danau yang terdapat di Kabupaten Buton Tengah satu-satunya hanya di wilayah Kecamatan Mawasangka Timur yaitu Danau Pasibungi, dengan luas sekitar 73,6 ha. Danau tersebut terbentuk di wilayah
asin, sehingga air di Danau pasibungi tidak bisa secara langsung di manfaatkan sebagai sumber air baku untuk keperluan air minum bagi
masyarakat yang ada di Kecamatan Mawasangka Timur.
2. Air Tanah
Hasil survey memperlihatkan bahwa terdapat beberapa kecamatan yang sumber air minumnya diperoleh dari air sumur dengan kedalaman 3-10 meter yang dibangun oleh masyarakat setempat. Sumur-sumur ini tersebar di beberapa kecamatan.
B. Tantangan/Permasalahan pengembangan SPAM
3. Jaringan perpipaan
Saat ini, Pengelola sumber air baku di Kabupaten Buton Tengah PDAM Kabupaten Buton Tengah yang sebagian asetnya adalah milik PDAM Kabupaten Buton sehingga dalam pemeliharaan aset jaringan perpipaan di Kabupaten Buton Tengah perlu adanya koordinasi antara pengelola sumber air baku. Berikut ini adalah berbagai permasalahan baik dalam hal teknis maupun operasional. Di antara permasalahan tersebut yaitu sebagai berikut:
a) Tingkat pelayanan untuk kawasan Kabupaten Buton Tengah
masih terbilang rendah yaitu sekitar 21,73% atau sekitar 6187 sambungan rumah. Daerah pelayanan saat ini yang kurang dalam hal pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan air minum adalah Kecamatan Talaga Raya yang berada pada rencana daereah pelayanan SPAM Kalimbungu. Permasalahan pada SPAM kalimbungu adalah jarak antara sumber air baku dengan daerah pelayanan selain itu diperlukan jaringan pipa yang berada di bawah permukaan laut karena kondisi wilayah pelayanan dan sumber air baku yang dipisahkan oleh laut atau berbeda pulau.
dan bak penampung serta masih minimnya pelayanan pengelola sumber air baku dalam hal ini PDAM.
c) Tidak dioperasikan sarana yang telah dibangun seperti sumber air
baku IKK.
d) Diperlukan penyehatan dan bantuan teknis untuk pengelolaan air
minum di Kabupaten Buton Tengah.
e) Perlunya Regulasi yang mengatur tentang sempadan mata air
serta perlunya koordinasi dengan instansi Dinas Pariwisata dalam hal penentuan objek-objek wisata yang dekat dengan sumber air baku.
f) Keterampilan karyawan baik secara teknis maupun administrasi
keuangan yang masih memerlukan peningkatan yang intensif.
g) Pelayanan saat ini sangat kecil dan jumlah sambungan yang
dilayani pun sangat kecil.
4. Jaringan Non Perpipaan
Saat ini, pelayanan air bersih dilayani oleh PDAM Kabupaten Buton Tengah belum melayani seluruh desa/kelurahan di masing- masing kecamatan yang ada di Kabupaten Buton Tengahi. Sehingga untuk daerah-daerah yang tidak dilayani dengan perpipaan, maka dilayani dengan sistem non perpipaan yang umumnya dikelola sendiri oleh masyarakat. Adapun permasalahan yang ada pada sistem non perpipaan ini adalah:
a) Kualitas air tanah yang belum teruji sesuai dengan standar
Departemen Kesehatan Republik Indonesia tentang kualitas dan mutu air minum;
b) Banyak masyarakat yang belum melindungi sumur-sumur dengan
baik;
c) Belum ada pengolahan tersendiri untuk kualitas air tanah dangkal
yang kualitas kurang bagus;