• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. Usulan dan Program Kegiatan

7.2. Sektor Penataan Bangunan Dan Lingkungan

Agenda Nasional di bidang penataan bangunan dan lingkungan, salah satunya adalah program membangun melalui pinggiran, yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, sebagai wujud

kerangka kebijakan yang menjadi dasar acuan pelaksanaan program –

program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan

masyarakat. Agenda Nasional lainnya adalah Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, khususnya untuk sektor PBL yang mengamanatkan terlayaninya masyarakat dalam pengurusan IMB di Kab/Kota dan tersedianya pedoman harga Standar Bangunan Gedung Negara (HSBGN) di Kab/Kota.

Berdasarkan agenda – agenda tersebut maka isu strategis

tingkat nasional bidang PBL dapat dirumuskan sebagai berikut:

a) Pengendalian pemanfaatan ruang melalui RTBL;

b) PBL mengatasi tingginya frekuensi kejadian kebakaran di

perkotaan;

c) Pemenuhan kebutuhan ruang terbuka publik dan ruang terbuka

hijau (RTH) di perkotaan;

d) Revitalisasi dan pelestarian lingkungan permukiman tradisional

dan bangunan bersejarah berpotensi wisata untuk menunjang tumbuh kembangnya ekonomi lokal;

e) Peningkatan kualitas lingkungan dalam rangka pemenuhan

standar pelayanan minimal;

f) Pelibatan Pemerintah daerah dan swasta serta masyarakat dalam

penataan bangunan dan lingkungan.

Arahan penataan bangunan dan lingkungan berdasarkan Permen PU No. 6 Tahun 2007 tentang pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan didefinisikan sebagai panduan rancang

lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana

investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman

pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan. Materi pokok dalam Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan meliputi:

a) Program bangunan dan lingkungan;

b) Rencana Umum dan Panduan Rancangan;

c) Rencana Investasi;

d) Ketentuan pengendalian Rencana;

e) Pedoman pengendalian pelaksanaan.

7.2.1. Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung dan NSPK di

Bidang Penataan Bangunan Dan Lingkungan

Dalam rancangan peraturan daerah tentang bangunan gedung di Kabupateh Buton tengah, beberapa persyaratan menyangkut penataan bangunan dan lingkungan, yaitu:

a) Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan

peruntukan lokasi yang telah ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Buton dan/atau RDTR dan/atau RTBL dari lokasi yang bersangkutan.

b) Pemerintah Daerah memberikan informasi mengenai rencana tata

ruang dan tata bangunan dan lingkungan kepada masyarakat secara cuma-cuma.

c) Informasi berisi keterangan mengenai peruntukan lokasi, intensitas

bangunan yang terdiri dari kepadatan bangunan, ketinggian bangunan, dan garis sempadan bangunan.

d) Bangunan gedung yang dibangun di atas prasarana dan sarana

umum, di bawah prasarana dan sarana umum, di bawah atau diatas air, di daerah jaringan transmisi listrik tegangan tinggi, di daerah yang berpotensi bencana alam, dan di kawasan keselamatan operasional penerbangan (KKOP), harus sesuai

dengan peraturan perundang-undangan dan memperoleh pertimbangan serta persetujuan dari pemerintah daerahdan/atau instansi terkait lainnya.

e) Dalam hal terjadi perubahan RTRW Kabupaten Buton Tengah

dan/atau RDTR dan/atau RTBL yang mengakibatkan perubahan peruntukan lokasi, maka fungsi bangunan gedung yang tidak sesuai dengan peruntukan yang baru harus disesuaikan.

Dalam pemanfaatan lahan dalam pendirian bangunan gedung didasarkan pada ketentuan penetapan koefisien dasar bangunan (KDB), koefisien dasar hijau (KDH) dan ketinggian bangunan.

Penetapan KDB didasarkan pada luas kapling/persil,

peruntukan atau fungsi lahan, dan daya dukung lingkungan, dengan ketentuan sebagai berikut:

1) bangunan gedung fungsi hunian, KDB sebesar 70% (tujuh puluh

persen);

2) bangunan gedung fungsi keagamaan, KDB sebesar 70% (tujuh

puluh persen);

3) bangunan gedung fungsi usaha, KDB sebesar 60% (enam puluh

persen);

4) bangunan gedung fungsi sosial dan budaya, KDB sebesar 60%

(enam puluh persen);

5) bangunan gedung fungsi khusus, KDB sebesar 60% (enam puluh

persen);

6) bangunan gedung lebih dari satu fungsi, KDB sebesar 60% (enam

puluh persen).

Sedangkan penetapan Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditentukan atas dasar kepentingan pelestarian lingkungan/resapan air permukaan yang disesuaikan dengan RTRW Kabupaten Buton Tengah atau sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dimana setiap bangunan umum apabila ditentukan, ditentukan KDH

tidak ditentukan, maka besarnya KDH minimum adalah 30% (tiga puluh persen).

Ketinggian bangunan gedung meliputi ketentuan mengenai JLB dan KLB yang dibedakan dalam KLB tinggi, sedang dan rendah. Dengan persyaratan teknis, yaitu:

a) Ketinggian bangunan gedung tidak boleh mengganggu lalu lintas

penerbangan.

b) Ketinggian bangunan disesuaikan dengan RTRW Kabupaten Buton

atau RDTR atau yang diatur dalam RTBL atau sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c) Untuk masing-masing lokasi yang belum dibuat tata ruangnya,

ketinggian maksimum bangunan gedung ditetapkan oleh instansi terkait dengan mempertimbangkan lebar jalan, fungsi bangunan, keselamatan bangunan, serta keserasian dengan lingkungannya.

d) Bangunan gedung dapat dibuat bertingkat ke bawah tanah

sepanjang memungkinkan untuk itu dan tidak bertentangan dengan ketentuan perundang undangan.

e) Ketinggian bangunan deret maksimum 4 (empat) lantai dan

selebihnya harus berjarak dengan persil tetangga.

Selanjutnya, arahan garis sempadan dalam pengaturan mendirikan bangunan gedung, pengaturan garis sempadan bangunan gedung mengacu pada RTRW Kabupaten Buton atau RDTR atau yang diatur dalam RTBL, atau sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penetapan garis sempadan bangunan didasarkan pada pertimbangan keamanan, kesehatan, kenyamanan dan keserasian dengan lingkungan dan ketinggian bangunan, dengan persyaratan teknis, yaitu:

a) GSB terluar yang sejajar dengan as jalan (rencana jalan)/tepi

sungai/tepi pantai ditentukan berdasarkan lebar jalan/rencana jalan/lebar sungai/kondisi pantai, fungsi jalan dan peruntukan kapling/kawasan. Letak GSB terluar bilamana tidak ditentukan

lain adalah separuh dari Daerah Milik Jalan (Damija) dihitung dari tepi jalan/pagar.

b) Letak GSB terluar untuk daerah pantai, bilamana tidak ditentukan

lain adalah 100 (seratus) meter dari garis pasang tertinggi ke arah darat pantai yang bersangkutan.

c) Untuk lebar sungai yang kurang dari 5 (lima) meter, letak garis

sempadan adalah sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) meter dihitung dari tepi jalan/pagar.

d) Letak GSB terluar pada bagian samping yang berbatasan dengan

tetangga bilamana tidak ditentukan lain adalah minimal 2,5 (dua koma lima) meter dari batas kapling atau atas dasar kesepakatan dengan tetangga yang saling berbatasan.

e) Letak GSB terluar pada bagian belakang yang berbatasan dengan

tetangga bilamana tidak ditentukan lain adalah minimal 2,5 (dua koma lima) meter dari batas kapling atau atas dasar kesepakatan dengan tetangga yang saling berbatasan.

f) Garis sempadan pagar terluar yang berbatasan dengan jalan

ditentukan berhimpit dengan batas terluar Ruang Milik Jalan (RUMIJA).

g) Garis pagar di sudut persimpangan jalan ditentukan dengan

serongan/lengkungan atas dasar fungsi dan perempatan jalan.

h) Tinggi pagar yang berbatasan dengan jalan ditentukan paling tinggi

1,5 (satu koma lima) meter dari permukaan halaman/trotoar dengan bentuk transparan atau tembus pandang.

i) Garis sempadan jalan masuk ke kapling bilamana tidak ditentukan

lain adalah berhimpit dengan batas terluar garis pagar.

j) Apabila GSB ditetapkan berhimpit dengan garis sempadan pagar,

cucuran atap suatu tritis/overstek harus diberi talang dan pipa talang harus disalurkan sampai ke tanah.

sementara dengan berpedoman pada peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi setelah mendengar pertimbangan Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG).

Sedangkan pengaturan jarak bebas bangunan, dengan persyaratan teknis, yaitu:

a) Jarak bebas bangunan gedung yang ditetapkan untuk setiap lokasi

harus sesuai dengan peruntukannya.

b) Setiap bangunan gedung yang dibangun tidak boleh melanggar

ketentuan minimal jarak bebas bangunan gedung yang ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Buton Tengah atau RDTR atau yang diatur dalam RTBL.

c) Ketentuan jarak bebas bangunan gedung ditetapkan dalam bentuk:

 garis sempadan bangunan gedung dengan as jalan, tepi sungai,

tepi pantai, dan/atau jaringan listrik tegangan tinggi, dengan mempertimbangkan aspek keselamatan dan kesehatan;

 jarak antara bangunan gedung dengan batas persil, jarak antar

bangunan, dan jarak antara as jalan dengan pagar halaman yang diberlakukan per kapling/per persil dan/atau per kawasan pada lokasi bersangkutan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan.

 Setiap bangunan hunian jarak antar massa/blok bangunan

satu lantai yang satu dengan yang lainnya dalam satu kapling atau antara kapling minimum adalah 4 (empat) meter.

 Setiap bangunan umum harus mempunyai jarak massa/blok

bangunan dengan bangunan sekitarnya sekurang-kurangnya 6 (enam) meter dan 3 (tiga) meter dengan batas kapling.

 Penetapan jarak bebas bangunan gedung atau bagian

bangunan gedung yang dibangun di bawah permukaan tanah didasarkan pada pertimbangan keberadaan atau rencana jaringan pembangunan utilitas umum.

NSPK lainnya berkenaan adalah dengan izin mendirikan bangunan. Setiap orang atau badan wajib mengajukan permohonan IMB kepada Bupati untuk melakukan kegiatan:

a) pembangunan dan/atau prasarana bangunan gedung;

b) rehabilitasi/renovasi bangunan gedung dan/atau prasarana

gedung meliputi perbaikan/perawatan, perubahan,

perluasan/pengurangan; dan

c) pemugaran/pelestarian dengan berdasarkan pada surat

keterangan rencana kota (advis planning) untuk lokasi yang bersangkutan.

Penyelenggaraan Bangunan Gedung di lokasi tertentu, terdiri atas :

a) Bangunan Gedung di Lokasi Pantai, dengan persyaratan teknis,

yaitu

 Penyelenggaraan bangunan gedung di lokasi pantai perlu

memperhatikan tata air, budaya lokal serta kepentingan umum.

 Penyelenggaraan bangunan gedung di wilayah yang memiliki

potensi budidaya perikanan harus memperhatikan

keberlangsungan dan kepentingan kegiatan budidaya

perikanan yang ada di wilayah tersebut.

 Penyelenggaraan bangunan gedung di lokasi pantai harus

memenuhi standar persyaratan kesehatan, kenyamanan, keamanan, ketertiban, keindahan dan berwawasan lingkungan.

 Bangunan gedung di lokasi pantai harus memperhitungkan

pengaruh angin, tsunami, dan gempa.

 Penyelenggaraan bangunan gedung di lokasi pantai harus

memperhatikan potensi bencana yang mungkin terjadi.

 Pada bangunan gedung di lokasi pantai yang sudah berdiri

 Penempatan perumahan nelayan baru disesuaikan dengan potensi sumber daya sekitar dan tempat pemasaran hasil budidaya perikanan.

b) Penyelenggaraan Bangunan Gedung dilokasi pegunungan,

mengikuti persyaratan, sebagai berikut:

 Penyelenggaraan bangunan gedung di lokasi pegunungan harus

memenuhi standar persyaratan kesehatan, kenyamanan, keamanan, ketertiban, keindahan dan berwawasan lingkungan.

 Penyelenggaraan bangunan gedung di lokasi pegunungan harus

memperhitungkan pengaruh gempa

 Perlu pengaturan perencanaan, pelaksanaan, juga pengawasan

dan pemeliharaan bangunan di lokasi pegunungan.

 Penyelenggaraan bangunan gedung di lokasi pegunungan harus

memperhatikan potensi bencana yang mungkin terjadi seperti tanah longsor.

 Penyelenggaraan bangunan gedung di lokasi pegunungan harus

memperhatikan tingkat kemiringan lereng yang aman untuk pengembangan permukiman.

c) bangunan gedung di lokasi yang berpotensi bencana alam, dengan

persyaratan teknis, yaitu

 Penyelenggaraan bangunan gedung di lokasi yang berpotensi

bencana yang berasal dari laut harus sesuai dengan peraturan zonasi untuk kawasan rawan gelombang pasang.

 Penyelenggaraan bangunan gedung di lokasi yang berpotensi

bencana gempa bumi harus sesuai dengan peraturan zonasi untuk kawasan bencana alam geologi sebagaimana diatur dalam Rencana Tata Fuang Wilayah Kabupaten Buton Tengah.

 Pemerintah Daerah dapat menetapkan suatu lokasi sebagai

daerah bencana khususnya daerah yang secara periodik dan menetapkan larangan membangun pada batas tertentu atau tak

terbatas dengan pertimbangan keselamatan dan keamanan demi kepentingan umum.

 Pemerintah Daerah dapat menetapkan persyaratan khusus tata

cara pembangunan bangunan gedung di lokasi yang berpotensi bencana yang berasal dari laut apabila daerah tersebut dinilai membahayakan.

7.2.2. Kondisi Bangunan dan Lingkungan Pada Kawasan

Perlindungan Setempat dan Kawasan Strategis Lainnya Dalam rancangan peraturan daerah Kabupaten Buton Tengah tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW) Tahun 2016-2036, terdiri atas:

a) sempadan pantai;

b) sempadan sungai;

c) kawasan sekitar danau;

d) kawasan sekitar mata air; dan

e) Ruang terbuka hijau (RTH.)

Sempadan pantai dengan penetapan batas sempadan pantai dilakukan berdasarkan penghitungan batas sempadan pantai yang mengikuti ketentuan:

a) perlindungan terhadap gempa dan/atau tsunami;

b) perlindungan pantai dari erosi atau abrasi;

c) perlindungan sumberdaya buatan di pesisir dari badai, banjir dan

bencana alam lainnya;

d) perlindungan terhadap ekosistem pesisir seperti lahan basah,

mangrove, terumbu karang, padang lamun, gumuk pasir, estuaria dan delta;

e) pengaturan akses publik; dan

f) pengaturan untuk saluran air dan limbah.

a) Kecamatan Lakudo meliputi Pantai Katembe di Desa Madongka, Pantai One Montete di Desa Onewaara, Pantai Bungi Moko di Desa Moko, Pantai Gadis di Desa Lolibu dan Pantai Boneoge di Kelurahan Boneoge;

b) Kecamatan Mawasangka Timur meliputi Pantai Watotohu di Desa

Inulu, Pantai Kaumeumele di Desa Lasori, Pantai Batubanawa di Desa Batubanawa, Pantai Gu Bhahi di Desa Lasori dan Pantai Bungi Wantopi di Desa Wantopi;

c) Kecamatan Mawasangka Tengah meliputi Pantai Maaobu di Desa

Lalibo, Pantai Sampuano Wewi di Desa Watorumbe Bata, Pantai Wakomba di Desa Watorumbe Bata dan Pantai Bungi Lamunde di Desa Gundu-gundu;

d) Kecamatan Mawasangka meliputi Pantai Lasaidewa di Desa

Gumanano, Pantai Labobo di Desa Balobone, Pantai Lagili di Desa Wakambangura I, Pantai Maliaboro di Desa Balobone, Pantai Kakobuta di Desa Gumanano dan Pantai Maanajiri di Desa Oengkolaki;

e) Kecamatan Talaga Raya meliputi Pantai Bonemarambe di Desa

Talaga Besar, Pantai Bone Bontubontu di Desa Talaga Besar, Pantai Bungi Talaga di Desa Panggilia, Pantai One Rua Tandano di Kelurahan Talaga I, Pantai Tolando Di Desa Talaga Besar, Pantai Kahona di Desa Kokoe, Pantai Buku Mabana di Desa Kokoe dan Pantai Wamorapa di Desa Wuluh; dan

f) Kecamatan Gu meliputi Pantai Bintang di Kelurahan Watulea,

Pantai Kaliwuliwuto di Kelurahan Watulea, Pantai Tanjung Gadis di Kelurahan Watulea dan Pantai Labutolo di Desa Lowulowu.

Sempadan sungai terdapat pada sepanjang sungai dan anak sungai dalam DAS Mawasangka/Bula-bula, DAS Kalimbunga, DAS Walaende, DAS Songalo, DAS Maliga, DAS Tawo, DAS Kokoe, DAS Wali Kecil, DAS Wali Besar, DAS Talaga Besar dan DAS Talaga Kecil,

tersebar pada kawasan perkotaan dan perdesaan di daerah dengan ketentuan:

a) garis sempadan pada sungai tidak bertanggul di dalam kawasan

perkotaan ditentukan:

b) paling sedikit berjarak 10 (sepuluh) meter dari tepi kiri dan kanan

palung sungai sepanjang alur sungai, dalam hal kedalaman sungai kurang dari atau sama dengan 3 (tiga) meter;

c) paling sedikit berjarak 15 (lima belas) meter dari tepi kiri dan kanan

palung sungai sepanjang alur sungai, dalam hal kedalaman sungai lebih dari 3 (tiga) meter sampai dengan 20 (dua puluh) meter; dan

d) paling sedikit berjarak 30 (tiga puluh) meter dari tepi kiri dan kanan

palung sungai sepanjang alur sungai, dalam hal kedalaman sungai lebih dari 20 (dua puluh) meter.

e) garis sempadan pada sungai tidak bertanggul di luar kawasan

perkotaan terdiri atas:

 sungai besar dengan luas DAS lebih besar dari 500 (lima ratus)

kilometer persegi, ditentukan paling sedikit berjarak 100 (seratus) meter dari tepi kiri dan kanan palung sungai sepanjang alur sungai; dan

 sungai kecil dengan luas DAS kurang dari atau sama dengan

500 (lima ratus) kilometer persegi, itentukan paling sedikit berjarak 50 (lima puluh) meter dari tepi kiri dan kanan palung sungai sepanjang alur sungai.

f) garis sempadan pada sungai bertanggul di dalam kawasan

perkotaan, ditentukan paling sedikit berjarak 3 (tiga) meter dari tepi luar kaki tanggul sepanjang alur sungai;

g) garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan

ditentukan paling sedikit berjarak 5 (lima) meter dari tepi luar kaki tanggul sepanjang alur sungai; dan

huruf a sampai dengan huruf d, diukur dari tepi muka air pasang rata-rata.

Selanjutnya pada kawasan sekitar danau dengan ketentuan bahwa:

a) daratan dengan jarak 50 (lima puluh) meter sampai dengan 100

(seratus) meter dari titik pasang air danau tertinggi; atau

b) daratan sepanjang tepian danau atau waduk yang lebarnya

proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik danau atau waduk. Arahan kawasan sekitar danau diarahkan pula untuk pengembangan wisata danau/telaga, yaitu:

a) Kecamatan Mawasangka Timur meliputi Danau Pasi Bungi di Desa

Inulu, Danau Wampihompiho di Desa Lagili, Danau Oe Maamba dan Oe Maamba II di Desa Bungi;

b) Kecamatan Mawasangka meliputi Telaga Fotu di Desa Kanapa-

napa, Telaga Anano Tei I, Telaga Anano Tei II dan Telaga Gumanano di Desa Gumanano;

c) Kecamatan Talaga Raya meliputi Telaga Dhingi Bontobonto di Desa

Talaga Besar, Telaga Oe Lalo Labuea dan Telaga One Rua Tandono di Kelurahan Talaga I;

d) Telaga Lakakoloto di Desa Rahia Kacamatan Gu; dan

e) Telaga Kauwe-uwe di Kelurahan Tolandona Kacamatan Sangia

Wambulu.

Kabupaten Buton Tengah yang terbentuk dengan struktur geologi Karst, sehingga banyak dijumpai sumber-sumber mata air bawah tanah pada daerah-daerah gua karst. Guna perlindungan maka arahan kawasan sekitar mata air diatur dengan garis sempadan mata berdiameter paling sedikit berjarak 200 (dua ratus) meter dari pusat mata air.

Ruang terbuka hijau (RTH) untuk memenuhi amanat Undang- undang, maka arahan yang ditetapkan adalah”

a) luasan yang harus dipenuhi ditetapkan paling sedikit sebesar 30% (tiga puluh persen) dari luas kawasan perkotaan dengan proporsi RTH terdiri atas:

 paling sedikit sebesar 20% (dua puluh persen) ruang terbuka

hijau publik; dan

 paling sedikit sebesar 10% (sepuluh persen) ruang terbuka

hijau privat.

b) penetapan jenis dan lokasi RTH terdiri atas:

1) RTH eksisting berupa Taman di Kelurahan Boneoge Kecamatan

Lakudo; dan

2) rencana RTH terdiri atas:

 rencana RTH jalur hijau jalan;

 rencana RTH taman dan hutan kota terdiri atas:

 rencana taman desa/kelurahan di setiap kecamatan;

 rencana taman kota di Kecamatan Lakudo dan Gu;

 rencana hutan kota di Kecamatan Lakudo; dan

 rencana Bumi Perkemahan di Kecamatan Lakudo.

3) rencana RTH fungsi tertentu terdiri atas:

 rencana jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi di

Kecamatan Gu dan Sangia Wambulu;

 rencana RTH sempadan sungai;

 rencana RTH sempadan pantai di Teluk Lasongko dan Teluk

Liana Banggai;

 rencana RTH pengaman sumber air baku berupa mata air,

danau dan telaga; dan

 rencana RTH pemakaman di setiap kecamatan

Selanjutnya kawasan lainnya yaitu berkaitan dengan

penyelenggaraan bangunan gedung negara pada kawasan perkantoran Labungkari di Kecamatan Lakudio, meliputi:

a) arahan perencanaan penataan bangunan dan lingkungan perkantoran Labungkari sebagai pusat pemerintahan baru Kabupaten Buton Tengah

b) pembangunan bangunan gedung negara secara terpadu

c) pengelolaan limbah, persampahan dan ruang terbuka hijau dan

non hijau.

Disamping itu arahan ainnya berdasarkan RTRW di atas, yaitu perencanaan penataan bangunan dan lingkungan pada kawasan pengembangan permukiman baru perkotaan, kawasan pariwisata daerah dan kawasan jasa dan perdagangan skala Kabupaten. Ketiga kawasan ini merupakan potensi pertumbuhan ekonomi baru yang diprediksi memberikan dampak social dan ekonomi serta dampak lainnya yang berkaitan dengan pembangunan sarana dan prasarana pendukung kegiatan didalamnya. Untuk itu perencanaan kawasan- kawasan ini sangat diperlukan agar pengendalian pemanfaatan ruang serta proses kegiatan yang berkembang dapat dikendalikan dengan baik serta keberlanjutan lingkungan hidup dapat terjaga.

7.2.3. Potensi dan Tantangan Penataan Bangunan dan Lingkungan

Berdasarkan arahan-arahan kawasan budidaya dalam RTRW Kabupaten Buton Tengah, diantaranya meliputi kawasan permukiman, pemerintahan, kawasan pariwisata, kawasan jasa dan perdangan dan kawasan lainnya, memiliki sejumlah potensi potensi dan tantangan baik secara positif maupun negatif, beberapa hal yang terkait dengan kedua hal ini, sebagai berikut:

1) Potensi Penataan Bangunan dan Lingkungan

Beberapa poin yang menjadi potensi sektor PBL di Kabupaten Buton Tengah berdasarkan RTRW maupun isu-isu pengembangan wilayah strategis (WPS), diantaranya, yaitu:

a) Potensi pariwisata daerah, dimana Kabupaten Buton Tengah merupakan wilayah kepulauan, dimana wilayahnya terdiri atas wilayah laut dan daratan.

b) Potensi geologi, dimana Kabupaten Buton Tengah tersusun

atas struktur geologi karst, sehingga menghasilkan gua-gua karst dan potensi sumber mata air bawah tanah, yang mendukung pengembangan ekowisata dan geowisata.

c) Potensi wilayah secara geografis, dimana Kabupaten Buton

Tengah diapit dua wilayah pengembangan strategis yakni Kota Baubau dan Kabupaten Muna.

d) Potensi pertambagan, dimana Kabupaten Buton Tengah

memiliki potensi bahan batuan dalam hal ini batu kapur dan bahan mineral dalam hal ini nikel.

e) Potensi perikanan dan kelautan, dimana Kabupaten Buton

tengah sebagian besar masyarakatnya bermata pencahariaan nelayan dan memiliki potensi perikanan hasil laut relatif cukup besar sebagai komoditi ekspor.

2) Tantangan Penataan Bangunan dan Lingkungan

Beberapa poin yang menjadi tantangan sektor PBL di Kabupaten Buton Tengah berdasarkan kondisi eksisting kawasan budidaya maupun kawasan lindung dalam RTRW Kabupaten Buton Tengah, diantaranya, yaitu:

a) Potensi-potensi di atas belum memiiliki data dan informasi

yang akurat sebagai potensi unggulan daerah serta kecenderungan berkembang secara alami;

b) Prasarana dan sarana umum kawasan perkotaan dan

perdesaan masih sangat terbatas;

c) Jaringan prasarana wilayah, yaitu transportasi laut dan darat

belum memberikan ekses yang siginifikan bagi pertumbuhan kawasan baru.

7.2.4. Usulan Program Penataan Bangunan Dan Lingkungan

Dalam rangka pengelolaan potensi kawasan agar berhasilguna dan berdayaguna serta tantangan yang ada diharapkan menjadi peluang pengembangan ekonomi baru secara optimal serta dalam dalam rangka pengawasan dan pengaturan bangunan gedung dalam mengendalikan pemanfaatan ruang, maka beberapa usulan program dan kegiatan Penataan Bangunan dan Lingkungan di Kabupaten Buton Tengah, sebagaimana pada tabel di bawah ini:

Tabel 7.13

Matriks Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan Kabupaten Buton Tengah Tahun 2016

Sumber: Dokumen RTRW Kabupaten Buton Tengah dan Data IMB Kabupaten Buton Tahun 2016

NO URAIAN SASARAN PROGRAM SASARAN PENANGA NAN SASARAN PROGRAM TAHUN I TAHUN II TAHUN III TAHUN IV TAHUN V (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) I Penyelenggara an Bangunan Gedung 144 Ha 29 29 29 29 29 II Penataan Bangunan dan Lingkungan Strategis

Dokumen terkait