• Tidak ada hasil yang ditemukan

KINERJA PERUSAHAAN

Dalam dokumen G.B.Namgoy, 2017). Yayasan Barcode (Halaman 65-75)

(FIRM PERFORMANCE)

Perusahaan dalam operasionalnya membutuhkan investasi dari investor. Salah satu penilaian investor untuk berinvestasi yaitu dengan cara melihat keuntungan yang di dapatkan dari operasional perusahaan. Salah satu faktor penting untuk menilai keuntungan suatu perusahaan yaitu dengan cara melihat kinerja keuangannya.

Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar (Tanor, 2015). Penilaian Kinerja Keuangan dapat dinilai dengan perhitungan rasio keuangan. Nilai rasio keuangan tersebut yang nantinya dibandingkan dengan tolak ukur yang telah ada. Membandingkan nilai rasio keuangan yang diperoleh dari tahun ke tahun merupakan langkah guna mengetahui kondisi hasil perhitungan tersebut apakah baik atau kurang baik (Tanor, 2015).

59 Menurut penulis kinerja keuangan adalah suatu alat ukur yang digunakan untuk melihat kondisi sebuah perusahaan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku.

A. Analisis Rasio Keuangan

Laporan keuangan melaporkan aktivitas yang sudah dilakukan perusahaan dalam suatu periode tertentu untuk melihat kinerja keuangannya. Salah satu cara untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan yaitu dengan menggunakan beberapa rasio keuangan.

Kasmir (2012: 104) menyatakan rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya. Menurut Erica (2018) menyataan bahwa Rasio Keuangan merupakan suatu gambaran dari hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa

60

tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan.

Menurut Tanor (2015) secara umum rasio keuangan yang sering dipakai dalam melakukan analisis rasio keuangan bank dibagi beberapa golongan:

1. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)

Kita sering mendengar banyak perusahaan yang bangkrut karena tidak sanggup untuk membayar seluruh atau sebagian hutang yang sudah jatuh tempo. Hal tersebut terkait dengan permodalan yang biasa kita sebut dengan likuiditas. Kasmir (2012: 130) menyebutkan bahwa Rasio likuiditas atau biasa disebut dengan nama rasio modal kerja merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan. Caranya adalah dengan membandingkan komponen yang ada di neraca, yaitu total aktiva lancar dengan total passiva lancar (utang jangka pendek). Salah satu rasio likuiditas adalah Financing to

61 Deposit Ratio (FDR, selanjutnya disebut FDR) adalah rasio antara jumlah pembiayaan yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. FDR dihitung dari perbandingan antara total pembiayaan yang diberikan bank dengan dana pihak ketiga (DPK, selanjutnya disebut DPK). DPK yang dimaksud yaitu antara lain giro, tabungan, dana deposito (Masrurroh & Mulazid, 2015).

Menurut Wahyu (2018) FDR merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas suatu bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan pembiayaan yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Dengan cara membagi jumlah pembiayaan yang diberikan oleh bank terhadap DPK. Semakin tinggi FDR maka semakin tinggi dana yang disalurkan ke DPK.

Dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 16/12/PBI/2014 tentang Operasi Moneter Syariah, FDR dapat diukur dari

62

perbandingan antara seluruh pembiayaan yang diberikan terhadap dana pihak ketiga. Besarnya pembiayaan yang diberikan akan menentukan keuntungan bank. Batas minimal nilai FDR yang baik adalah 80%. Menurut Fakhruddin & Purwanti (2015) jika niali FDR dibawah 80% maka perusahaan tersebut tidak sehat.

2. Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio) Perusahaan dalam operasionalnya memiliki berbagai kebutuhan, terutama yang berkaitan dengan dana agar perusahaan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Dalam praktiknya untuk menutupi kekurangan kebutuhan dana, perusahaan memiliki beberapa pilihan sumber dana. Pengunakaan dana yang bersumber dari pinjaman harus di batasi. Penggunaan dana pinjaman atau utang ini disebut dengan rasio solvabilitas. Kasmir (2012: 151) menyampaikan bahwa Rasio solvabilitas atau leverage ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur

63 seberapa besar beban hutang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Dalam arti lain rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar seluruh kewajibannya jika perusahaan tersebut dibubarkan atau di likuidasi.

Salah satu rasionya adalah dengan menggunakan Capital Adequacy Ratio (CAR, selanjutnya disebut CAR). CAR digunakan untuk mengukur kemampuan permodalan yang ada untuk menutup kemungkinan kerugian didalam kegiatan pembiayaan dan perdagangan surat-surat berharga. Bank yang memiliki kecukupan modal yang tinggi maka akan meningkatkan kepercayaan diri dalam menyalurkan pembiayaan atau pendanaan (Fakhruddin & Purwanti, 2015). Sesuai dengan peraturan Bank Indonesia PBI No. 9/24/ DPBS, tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan

64

Prinsip Syariah, berikut kriteria peringkat CAR: - Peringkat 1 KPMM ≥ 12% - Peringkat 2 9% ≤ KPMM < 12% - Peringkat 3 8% ≤ KPMM < 9% - Peringkat 4 6% < KPMM < 8% - Peringkat 5 KPMM ≤ 6%

Bank syariah yang memiliki CAR di bawah 8% maka dianggap tidak sehat. 3. Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)

Tujuan akhir yang ingin dicapai perusahaan adalah memperoleh laba atau keuntungan yang maksimal. Untuk mengukur tingkat keuntungan suatu perusahaan yaitu menggunakan rasio profitabilitas. Kasmir (2012: 196) menyampaikan rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Rasio ini menunjukkan laba

65 perusahaan untuk melihat efisiensi perusahaan.

Menurut (Tanor, 2015), yang digunakan dalam mengukur rasio profitabilitas biasanya yaitu :

1. Return on Assets (ROA)

Return on Assets (ROA, selanjutnya disebut ROA) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur

kemampuan manajemen dalam

memperoleh keuntungan secara keseluruhan (Kasmir, 2008: 237).

ROA merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh laba secara keseluruhan Sesuai dengan peraturan Bank Indonesia PBI No. 9/24/ DPBS tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah, berikut kriteria peringkat ROA:

66 - Peringkat 1 ROA > 1,5% - Peringkat 2 1,25% < ROA ≤ 1,5% - Peringkat 3 0,5% < ROA ≤ 1,25% - Peringkat 4 0% < ROA ≤ 0,5% - Peringkat 5 ROA ≤ 0

Semakin tinggi nilai rasio maka semakin baik perolehan laba yang dimiliki (Fakhruddin & Purwti, 2015).

2. Return on Equity (ROE)

Return On Equity (ROE, selanjutnya disebut ROE) menurut Kasmir (2012: 204) merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ROE maka semakin baik karena posisi pemilik perusahaan semakin kuat, dan sebaliknya.

3. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)

Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO, selanjutnya disebut BOPO) menurut Tanor

67 (2015) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan pendapatan operasional dalam menutup biaya operasionalnya.

Sesuai dengan peraturan Bank Indonesia PBI No. 9/24/ DPBS tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah, berikut kriteria peringkat BOPO:

- Peringkat 1 BOPO ≤ 83%

- Peringkat 2 83% < BOPO ≤ 85% - Peringkat 3 85% < BOPO ≤ 87% - Peringkat 4 87% < BOPO ≤ 89% - Peringkat 5 BOPO > 89%

Semakin rendah BOPO maka bank syariah akan semakin sehat.

68

BAB VI

HUBUNGAN CSR DENGAN KINERJA

Dalam dokumen G.B.Namgoy, 2017). Yayasan Barcode (Halaman 65-75)

Dokumen terkait