C. Kritik Internal Dalam Tubuh Qur'an Sendiri
C.2. c. Kisah Raja Sulaeman dan Ratu Sheba
C.2.c. Kisah Raja Sulaeman dan Ratu Sheba
Dalam Surah 27:17-44 kita membaca kisah tentang Sulaeman atau Salomo, burung hud-hud dan Ratu Sheba. Setelah membaca kisah Al Qur'an tentang Salomo dalam Surat 27, akan membantu untuk membandingkannya dengan cerita yang diambil dari cerita rakyat Yahudi, Targum II Ester, yang ditulis dalam abad 2 M, hampir lima ratus tahun sebelum penciptaan Al-Qur'an (Tisdall 1904:80-88; Shorrosh 1988:146-150):
Qur'an- Surah 27:17-44
(17) Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).
(20) Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.
(21) Sungguh aku benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar-benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang".
(22) Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.
(23) Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.
(27) Berkata Sulaiman: "Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.
(28) Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan"
(29) Berkata ia (Balqis): "Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.
(30) Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(31) Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri".
(32) Berkata dia (Balqis): "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)".
(33) Mereka menjawab: "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan".
(35) Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu".
(42) Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: "Serupa inikah singgasanamu?" Dia menjawab: "Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri".
Targum 2 Esther
Salomo memberikan perintah ...Aku akan mengirim raja dan bala tentara melawan engkau ...yang terdiri dari jenis binatang-binatang darat dan burung-burung di udara. Kemudian sesudah itu, seekor ayam jantan merah (seekor burung) pergi dengan sesuka hatinya dan entah kemana. Raja Salomo memberi perintah untuk menangkapnya, membawanya dengan paksa dan dia memang bermaksud membunuhnya.
Tetapi kemudian ayam jantan itu muncul dihadapan raja dan berkata : "Aku telah melihat-lihat seluruh bumi dan menyaksikan sebuah kota dan kerajaan (Sheba) yang belum tunduk kepadamu, tuanku raja. Mereka diperintah oleh seorang ratu bernama Sheba. Kemudian aku menemukan kota yang dibentengi di Tanah Timur dan sekelilingnya dihiasi batu-batu emas dan perak, yang mengalasi jalan-jalan."
Secara kebetulan, ratu Sheba keluar pagi-pagi untuk menyembah laut. Juru tulis Salomo mempersiapkan sepucuk surat, dimasukkannya di bawah sayap seekor burung yang membawanya terbang dan tiba di benteng Sheba. Melihat surat di bawah sayapnya, Sheba membuka dan membacanya: "Raja Salomo mengirim salam. Bila berkenan, datanglah engkau untuk menanyakan kesehatanku, dan aku akan menempatkan engkau tinggi di atas segala-galanya. Jika tidak berkenan, aku akan mengirim raja-raja dan bala tentara melawan engkau."
Membaca demikian, ratu Sheba merobek pakaiannya serta memanggil kaum bangsawan untuk meminta nasehat. Mereka belum pernah mengenal Salomo, tetapi menasehatkan dia untuk mengirim kapal-kapal melalui laut, penuh dengan perhiasan-perhiasan dan batu-batu yang indah...dan juga sepucuk surat kepadanya.
Sheba akhirnya datang. Salomo mengirim utusan untuk menjemput dia, dan ketika ia tiba, Salomo bangkit dan duduk di dalam istana gelas. Ketika ratu Sheba melihat itu, dia berfikir lantai gelas itu ialah air, dan ketika menyebranginya, dia mengangkat pakaiannya. Salomo melihat bulu kakinya dan (dia) berseru kepadanya...
Sekali anda membaca dua kisah di atas, maka jelas dari mana pengumpul kisah Sulaeman dan Ratu Sheba dalam Al-Quran memperoleh data-nya. Dalam isi dan gaya kisah Al-Quran hampir identik dengan kisah yang diambil dari Targum Yahud yang ditulis di abad 2 M tadi, hampir lima ratus tahun sebelum penciptaan Qur'an. Kedua cerita luar biasa mirip, jin, burung, dan khususnya burung pembawa pesan, yang awalnya Sulaeman tidak bisa temukan, tetapi kemudian digunakan sebagai penghubung antara dirinya dan Ratu Sheba, bersama dengan surat dan lantai kaca, itulah keunikan yang sama dalam dua kisah di atas. Kita sama sekali tidak akan temukan paralelisme kisah ini dalam Alkitab. Sekali lagi kita harus bertanya bagaimana sebuah cerita rakyat Yahudi dari abad kedua Masehi masuk menjadi bagian dari Al-Qur'an?
Ada contoh-contoh lain dimana kita bisa temukan baik literatur Yahudi maupun literature apokrif Kristen apokrif dalam teks-teks Al-Quran. Kisah Gunung Sinai yang diangkat sampai ke atas kepala orang Yahudi sebagai ancaman untuk menolak hukum (Surah 7:171) berasal dari Sarah Abodah, kitab apokrif Yahudi abad kedua. Kisah-kisah aneh mengenai masa kanak-kanak Yesus dalam Al-Qur’an dapat ditelusuri dari sejumlah tulisan apokrif Kristen: pohon kurma yang menyediakan untuk penderitaan Maria setelah kelahiran Yesus (Surah 19:22-26) berasal dari Kitab-Kitab Terhilang, sedangkan kisah Yesus yang menciptakan seekor burung dari tanah liat (Surah 03:49) berasal dari Injil Thomas Tentang Masa Kanak-kanak Yesus. Kisah tentang bayi Yesus berbicara (Surah 19:29-33) dapat ditelusuri ke fabel aprokif Arab dari Mesir bernama Injil pertama Tentang Bayi Yesus Kristus.
Dalam Surah 17:01 kita memiliki kisah perjalanan Muhammad pada malam hari dari masjid suci (Mekkah) ke mesjid terjauh (Yerusalem). Dari tradisi terkemudian kita tahu tahu bahwa ayat ini merujuk kepada Muhammad naik ke langit ketujuh, setelah perjalanan malam ajaib (Mi'raj) dari Mekah ke Yerusalem, dengan menungga "kuda" yang disebut Buraq. Detil kisah ini lebih jauh ditulis dalam kitab Mishkat Al Masabih. Kita bisa melacak kisah ini ke buku fiksi yang disebut Perjanjian Abraham, ditulis sekitar 200 SM di Mesir, dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan Arab.
Kemudian kita juga bisa melacak kisah itu di kitab Rahasia Henokh (pasal 1:4-10 dan 2:1), yang ditulis 400 tahun sebelum penulisan Al-Qur'an. Namun kisah serupa sebagian besar mengambil modelkan dari kisah yang terkandung dalam kitab Persia kuno berjudul Arta-i Viraf Namak yang menceritakan bagaimana Zoroaster Muda yang saleh naik ke langit, dan kembali, kemudian menuliskan apa yang ia lihat selama perjalanannya itu (Pfander 1835:295-296).
Uraian Al-Quran tentang neraka menyerupai deskripsi neraka dalam Homilies Efraim, seorang pengkhotbah Nestorian abad keenam (Glubb 1971:36)
Penulis Al-Qur'an dalam Surah 42:17 dan 101:6-9 mungkin memanfaatkan Kitab Perjanjian Abraham untuk mengajarkan bahwa ada timbangan yang akan digunakan pada hari penghakiman untuk menimbang perbuatan baik dan buruk dalam rangka menentukan apakah seseorang masuk ke surga atau ke neraka.
Gambaran surga di Surah 55:56-58 dan 56:22-24,35-37, yang berbicara tentang orang yang saleh akan diberi upah bidadari bermata bulat seperti mutiara, memiliki kesejajaran yang menarik dalam agama Zoroaster Persia, di mana nama untuk gadis tidak ‘houris atau bidadari’, tapi Paaris.
Penting untuk diingat bahwa kisah-kisah dalam Talmud tidak dianggap oleh orang Yahudi Ortodoks jaman itu sebagai kitab yang otentik untuk satu alasan yang sangat baik: kitab-kitab belum ada pada Konsili Jamnia pada tahun 80 SM ketika Perjanjian Lama dikanonisasi. Begitu pula bahan apokrif Kristen tidak dimasukan kedalam kanon karena mereka tidak terbukti otoritatif baik sebelum dan sesudah Konsili Nicea tahun 325 M. Jadi kitab-kitab itu selalu dipahami sebagai sesat oleh orang-orang Yahudi dan Kristen Ortodoks dan terpelajar. Untuk alasan ini kita merasa sangat mencurigai bagaimana kisah-kisah apokrif itu kemudian dimasukan menjadi sebuah kitab yang diaku-aku sebagai wahyu terakhir dari Allah yang disembah Abraham, Ishak dan Yakub.