• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUDAYA LAMPUNG

4.3. Pi-il pasenggiri dan Liyom: Konsep Harga Diri dan Rasa Malu

4.4.1. Kitab Kuntara

Kuntara berasal dari kata keterem, atau ketaro yaitu suatu

bentuk persetujuan adat baik tertulis maupun tidak, sebagai hasil da ri kesepakatan yang nantinya akan dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan adat (Soebing, 1980 dalam Sempurnadjaja, 1991). Musyawarah atau diskusi dalam usaha menciptakan bentuk-bentuk hukum adat terutama yang berkenaan dengan ketentuan yang baru disebut mecak wirang. Kampto Utomo (1958) menuliskan, setelah marga-marga di Lampung diakui Belanda pada tahun 1928, maka diusahakan sumber-sumber nafkah bagi kepala marga yang didapatkan dari pemasukan-pemasukan ‘uang adat’ berdasarkan hak ulayat yang ada pada marga, dari urusan-urusan pangkat-pangkat adat, urusan perkawinan, upah penarikan pajak, dan uang tebusan

heerendiensten dan wajib kerja marga. Ketentuan-ketentuan itu

ter dapat dalam keputusan-keputusan dewan marga (musyawarah

purwatin). Bila telaj tercapai kesepakatan, diadakan perayaan

se-bagai wujud kegembiraan. Kitab Kuntara Raja Niti mengatur ke-dudukan seorang penyimbang berkait dengan keke-dudukan mereka di dalam lembaga adat (pepadun). Dikisahkan pada tahun 1001 (pada abad ke-X) pada hari Senin, Ratu Majapahit memukul gong untuk mengundang seluruh ratu guna menghadap ke Majapahit. Pada saat itu Ratu Majapahit menetapkan undang-undang yang harus dipatuhi

oleh seluruh rakyat dan aturan-aturan denda adat yang mempengaruhi kedudukan seorang penyimbang serta merusakkan pepadun, yaitu

pepadun cureng (tercoreng), pepadun gincing (miring), ataupun pepadun lungkep (terbalik).

Pepadun cureng, yaitu pepadun seorang penyimbang menjadi

tercoreng atau tercemar. Hukumannya adalah denda adat, yang besar nilainya sesuai dengan keputusan sidang purwatin (musyawarah para penyimbang). Hal-hal yang menyebabkan kedudukan seorang

penyimbang menjadi cureng ada tiga perkara yaitu, (1) barang milik

anak gadisnya diambil oleh orang lain tanpa sepengetahuan si gadis. Misalnya, pada masyarakat Lampung, gadis-gadis suka meletakkan sisir di sanggul rambut mereka. Bila ada seorang pemuda secara sengaja mengambil sisir tersebut (walaupun tanpa sepengetahuan si gadis), maka kedudukan kepenyimbangan ayah si gadis menjadi

cureng; (2) anak gadisnya bercampur mandi di pangkalan mandi

laki-laki; (3) mengambil istri atau menantu dari suku lain, atau anak gadisnya diambil oleh laki-laki bukan dari suku mereka. Hal ini sering disebut sebagai melunso bangsa atau menurunkan derajat. Di dalam kitab Kuntara Raja Niti pasal 86 ayat 3, Kasim gelar Sutan Penyimbang asal (1934) juga menginterpretasikan penyebab

pepadun seorang penyimbang menjadi curing (tercoreng), dengan

7 perkara yaitu (1) kena tinjuk (dipukul), (2) kena andok (senjata tajam), (3) menjadi taban (kuli), (4) ngiring, (5) ngelunsa bangsa (menikahi gadis dari suku lain), (6) ngimpah bangsa, dan (7) ngambil perempuan (menyimpan perempuan atau memiliki gundik).

Pepadun gincing berarti pepadun menjadi miring bagaikan

pe rahu yang oleng karena dihantam gelombang besar. Bila hal ini terjadi maka hukumannya adalah denda adat yang berfungsi untuk membersihkan pepadun, karena laki-laki atau perempuan yang me-langgar hukum yang menyebabkan pepadunnya menjadi gincing harus dibersihkan. Denda yang harus dibayar sesuai dengan kepu-tusan purwatin atau musyawarah para penyimbang. Bila orang yang bersalah telah membayar denda adat (daw atau dau), maka ia

ber-hak kembali untuk menjadi warga adat. Bila ia seorang penyimbang, maka ia berhak kembali melaksanakan gawi adat, dan gawi yang dilakukannya dianggap sah oleh masyarakat. Denda adat umumnya berwujud sejumlah kerbau yang harus dipotong guna membersihkan semua kesalahan. Hal-hal yang menyebabkan pepadun gincing ada 7 perkara yaitu, (1) anak gadisnya diganggu orang, (2) istrinya per gi untuk ikut laki-laki lain, (3) anak gadisnya berzina, (4) ratu atau

pe-nyimbang tersebut mati dipukul orang, (5) berkelahi yang

menyebab-kan luka ditusuk senjata tajam, (6) ratu atau penyimbang tersebut dimarahi adiknya atau orang yang lebih muda darinya di hadapan orang lain, (7) ratu memarahi ratu lain. Sementara itu di dalam Kitab

Kuntara Raja Niti pasal 86 ayat 2 Kasim gelar Sutan Penyimbang

asal mengemukakan penyebab pepadun gincing ada 3 perkara, yaitu (1) mati dibesi, (2) kena timbak (ditembak), kena tikam, atau kena pukul hingga luka, (3) perempuan (istri) diambil orang lain.

Pepadun lungkep artinya pepadun atau kedudukan seorang penyimbang terbalik sehingga ia tidak lagi mempunyai kekuasaan.

Hukumannya adalah ia dikucilkan oleh seluruh masyarakat dan bila ia ingin kembali menjadi warga adat maka ia harus membangun kembali pepadunnya, ibarat membangun barang yang telah hancur lebur menjadi debu, sehingga akan sangat sulit untuk dilakukan. Kebanyakan yang terjadi adalah orang tersebut ke luar dari adat dan kampung tersebut dan tidak pernah kembali lagi. Dalam anggapan seluruh masyarakat, ia dianggap telah mati, dan apabila ia terlihat di kampung tersebut maka yang mereka lihat hanyalah roh dari orang tersebut. Hal-hal yang menyebabkan pepadun menjadi lungkep (terbalik) ada 5 perkara, yaitu (1) salah oulat yaitu berbuat tidak se nonoh dengan adik kandung sendiri, (2) salah kebelat yaitu per-buatan tidak senonoh dengan mengganggu istri adik, atau istri paman (bibik) sendiri, (3) salah purih yaitu perbuatan tidak senonoh dengan ibu tiri atau ibu mertua, (4) salah merika yaitu perbuatan tidak senonoh dengan mengganggu adik perempuan dari istri. Hal ini disebut dengan nyurung tumbang (mendorong jatuh), (5) muak

tumbang adalah hal yang paling dikutuk dan tidak pernah terampuni

yaitu kawin dengan ibu kandung sendiri.

Pada translasi Kitab Kuntara Raja Niti pasal 86 ayat 1 butir ke 5 yang dibuat oleh Kasim gelar Sutan Penyimbang asal pada Negeri Kepayungan (1934) juga menyebut 5 perkara yang menyebabkan

pepadun seseorang menjadi lungkep. Keempat pasal pertama

memiliki kesamaan dengan yang telah dijabarkan di atas, hanya pada pasal ke-5 Kasim menyebutnya adalah ngampang. Ngampang penulis interpretasikan dengan perbuatan melacur atau menjual diri. Sebagaimana seorang laki-laki Lampung secara adat dilarang untuk menjadi taban (kuli), maka seorang wanita Lampung sangat dilaknat jika melacurkan diri (ngampang). Perbuatan melacur disetarakan dengan perbuatan menikahi ibu kandung sendiri, yang merupakan dosa yang tidak mungkin terampunkan. Bila ada seorang anak yang lahir di luar pernikahan maka anak tersebut disebut sebagai ‘anak

kampang’ atau ada juga yang menyebutnya sebagai ‘anak haram

jadah’. Ia akan dijauhi anak-anak lain, dan anak tersebut seolah akan terhukum seumur hidup menanggungkan beban yang diakibatkan dosa kedua orang tuanya.