• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP KOMIK, SETTING KOMIK

2.4 Klan-Klan Pada Zaman Heian

2.4.2 Klan Genji (Minamoto)

Minamoto (源) adalah

Jepang, klan Minamoto (源 氏 Genji) adalah sebutan untuk anggota keluarga

kaisar di dan mendapat nama keluarga Minamoto no Ason (Ason adalah gelar dalam sistem Yakusa no Kabane).

Genji merupakan sebutan lain untuk klan Minamoto, karena aksara kanji untuk "Minamoto" juga dibaca sebagai Gen, sedangkan ji (shi) berarti klan. Kanji

untuk nama keluarga Minamoto diambil dari nama keluarga Yua源)

yang diberika Poqia "sumber" atau "asal-usul" untuk melambangkan klan Tufa dan keluarga kekaisaran berasal dari leluhur yang sama (http://id.wikipedia.org/wiki/genji).

keturunannya yang menjadi warga biasa dengan aksara kanji yang sama dengan nama keluarga Yuan di Tiongkok, namun dibaca di Jepang sebagai "Minamoto" atau "Gen". Pemberian nama keluarga Minamoto dimaksudkan sebagai penghormatan bagi klan Minamoto yang memiliki asal-usul leluhur yang sama dengan keluarga kekaisaran.

Sesudah masa Kaisar Saga, nama keluarga Minamoto juga diberikan kepada keturunan kaisar-kaisar selanjutnya yang menjadi warga biasa. Klan Minamoto kemudian ditambah dengan nama kaisar yang menjadi asal keturunan,

misalnya: Nimmyo Genji (klan Minamoto keturuna

Genji, Montoku Genji, Uda Genji, dan seterusnya. Klan Minamoto terdiri dari 21 percabangan klan yang secara garis besar dapat dibagi menjadi dua golongan: klan Minamoto yang menjadi samurai dan klan Minamoto yang menjadi (aristokrat istana).

Pada zaman Heian, klan Minamoto merupakan salah satu bangsawan yang mempunyai pengaruh di wilayah Kanto. Di Kyoto sendiri pada masa itu, klan Minamoto di pimpin oleh Minamoto no Yoshitomo.

Pada pemberotakanHeiji pada

tahun mengalahkan klan Minamoto yang dipimpin oleh Yoshitomo. Kedua putra Yoshitomo tewas dalam perang tersebut. Yoshitomo berhasil melarikan diri dan sampai di Provinsi Owari, namun tewas setelah dikhianati oleh pengikutnya. Anak laki-lakinya yang tersisa, pengasingan setelah nyawa mereka diampuni oleh Kiyomori.

Minoku Shinoda dalam Great Hitorical Figures of Japan (1978:62-63) menjelaskan tentang pengasingan Yoritomo dan Yoshitsune:

“He sent Yoritomo to Izu in eastern Japan as a ward of one of trusted members of Heike, the Hojo family. Yoshitsune was permitted to remain with his mother until he was six or seven when he was transferred to a Buddhist temple in Kurama, a few miles north of Kyoto.”

“Dia (Kiyomori) mengirim Yoritomo ke Izu di sebelah timur Jepang sebagai wilayah salah satu anggota Heike yang terpercaya, keluarga Hojo. Yoshitsune diizinkan untuk tetap tinngal bersama Ibunya sampai ia berumur 6 atau 7 tahun sampai saat ia harus dikirim ke sebuah kuil Buddha di Kurama, beberapa kilometer dari sebelah utara Kyoto.”

Yoritomo diasingkan ke Izu, Yoshitsune dititipkan di Selanjutnya Yoshitsune keluar dari Kurama ke

kepada

penguasa Mutsu.

Setelah mendapat perintah resmi Yoshitsune yang berhasil menyatukan kekuatan klan Minamoto dari berbagai wilayah bertempur untuk menyingkirka

Yoritomo diangkat sebagai

militer yang dirintisnya disebut Kamakura Bakufu.

Yoritomo menganggap Kamakura sebagai tempat strategis karena dilindungi oleh 3 gunung di setiap sisinya, dan terdapat laut di depannya. Yoshikawa (2013:166-167) menjelaskan bahwa Kamakura adalah tanah asal klan Minamoto, kampung halaman bagi samurai Bandou, tanah yang dilindungi benteng alami. Banyak prajurit rendahan yang menjadikan Kamakura sebagai tempat tujuan. Bahkan tujuan hidup rakyat jelatapun diarahkan kesana secara alami.

Disaat Yoritomo sibuk mengurusi kekuasaannya di Kamakura mengusir Heike.

“Minamoto no Yoshinaka, a cousin who had become a power in north central Japan between 1180 and 1183, had defeated a Taira army which had been sent against him, and on the momentum of that victory he had emerged from his mountainous homeland and had raced into Kyoto.” (Minoku Shinoda dalam Great Hitorical Figures of Japan,1978:86)

“Minamoto no Yoshinaka, seorang sepupu yang telah berkuasa di wilayah pusat Jepang bagian utara antara tahun 1180-1183, telah menaklukkan pasukan Taira yang dikirim untuk melawannya, dengan semangat kemenangannya itu dia muncul dari kampungnya yang bergunung-gunung dan bergerak ke Kyoto.”

Para kesatria Kiso yang berasal dari wilayah utara, Bushido atau jalan kesatria belum dijunjung. Dibandingkan kaum kesatria muda di Kamakura yang menjunjung tinggi harga diri, kesatria dari Kiso hanya membanggakan kekuatan fisik, dan lemah terhadap kemewahan seperti makanan lezat, bermain perempuan, dan sebagainya (Yoshikawa, 2013:302). Hal ini membuat ketertiban di Ibukota menjadi kacau.

Yoshinaka cenderung mengabaikan pendapat Mantan Kaisar Go Shirakawa. Dalam hal urusan kebijakan Negara, dia mulai bertindak sewenang- wenang, yaitu dengan merampas jabatan anggota klan Taira yang sudah mlarikan diri ke negeri barat.

Sering terjadi perselisihan diantara rakyat dan pejabat yang berasal dari kaum kesatria Kiso yang mementingkan kegagahan dan tak mengerti isi hati rakyat maupun inti kebudayaan (Yoshikawa, 2013:267). Padahal rakyat mengaharapkan perubahan yang lebih baik. Walaupun begitu, mereka hanya

membisu dengan berwajah muram di bawah kekuasaan serta pengaruh besar Yoshinaka, sang Jenderal Asahi.

Houou Go Shirakawa merasa resah dengan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Yoshinaka dan pasukannya, dia bahkan ingin menobatkan Pangeran Hokuroku, putra Pangeran Michihito sebagai Kaisar selanjutnya, tetapi permintaan tersebut diabaikan dengan mengangkat Kaisar Toba sebagai Kaisar yang baru.

Yoshinaka juga bertindak gila. Dia membakar Kuil Houjuu, merampas jabatan bangsawan, mengaku sebagai kepala Istana Mantan Kaisar. Singkat kata, dia menjadi raja kecil yang lalim, seolah hanya meniru sisi buruk Kiyomori (Yoshikawa, 013:269). Oleh karena itu, Houou Go Shirakawa mengirim sebuat mandate ke Yoritomo untuk menghabisi pasukan Kiso Yoshinaka.

Tidak tinggal diam, Yoritomo mengirim kedua adiknya sebagai Jendral Perang melawan Yoshinaka. Noriyori sebagai panglima besar pasukan bayangan dan Yoshitsune sebagai panglima pasukan bayangan.

“On orders of Yoritomo, Yoshitsune and another brother Noriyori were given joint command of an army in order to try and dislodge Yoshinaka from Kyoto.” (Minoku Shinoda dalam Great Hitorical Figures of Japan,1978:86)

“Atas perintah Yoritomo, Yoshitsune dan saudaranya yang lain, Noriyori diberi peritah untuk bersama-sama memimpin pasukan untuk mencabut kekuasaan Yoshinaka di Kyoto.”

Noriyori memimpin pasukan utama yang akan menyerbu Setaguchi, sedangkan Yoshitsune memimpin pasukan bayangan yang akan menyerbu melalui Sungai Uji. Kekalahan telak dialami oleh Yoshinaka, bersama dengan Imai Kanehira, Yoshinaka dibunuh secara malang di Awazugahara.

Peperangan tidak berhenti begitu saja, pada tahun 1185 di bawah pimpinan Yoritomo, klan Minamoto berhasil membalas kekalahan mereka atas klan Taira di perang Dannoura. Setelah mengalahkan Taira dan merebut kekuasaan, Yoritomo tidak menempatkan kekuasaan di Kyoto, melainkan tetap bermarkas di Kamakura (Suryahadiprojo, 1987:15). Masa inilah yang mengawali masa pemerintahan feodalisme militer Jepang yang lebih dikenal dengan Bakufu Kamakura. Masa Kamakura juga menjadi masa keemasan bagi para samurai yang memang bekerja sesuai fungsi mereka sebagai prajurit militer Jepang.

Dokumen terkait