BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP KOMIK, SETTING KOMIK
2.4 Klan-Klan Pada Zaman Heian
2.4.3 Klan Heike (Taira)
Taira
Taira (平氏 Heishi) atau Heike (平家, keluarga Taira) adalah sebutan untuk
anggota keluarga kaisar di menjadi warga biasa dan mendapat nama keluarga Taira no Ason (Ason adalah salah satu gelar dalam sistem
Aksara kanji untuk "Taira" bisa dibaca sebagai Hei, sedangkan shi berarti klan, dan ké berarti keluarga. Klan Taira terkenal dengan sebutan Heike (keluarga Taira), karena merupakan nama keluarga pemberian kaisar untuk para puteri dan pangeran bukan putra mahkota yang sudah diturunkan statusnya sebagai warga biasa. Selain itu, nama keluarga Taira sering diberikan untuk cucu kaisar dan keturunan selanjutnya, sehingga di zaman Heian status nama keluarga Taira dianggap lebih rendah dari Minamoto (http://id.wikipedia.org/wiki/Heike).
Heike (keluarga Taira no Kiyomori) dan percabangan klan Taira yang menjadi samurai, dan disebut Buke Heishi (Taira samurai). Keduanya berasal dari percabangan klan Taira Kammu (Kammu Heishi), sehingga bila disebut klan Taira (Heishi) maka yang dimaksudkan adalah klan Taira Kammu. Klan ini terdiri dari Heike (keturunan Ise Heishi) yang mendirikan
Bandō) yang menjabat
Secara garis besar, klan Minamoto (Genji) menguasai Jepang bagian timur dan klan Taira menguasai Jepang bagian barat. Walaupun demikian, klan Taira juga berusaha memiliki pijakan di Jepang bagian timur di sebelah timur namun gagal.
Pada zaman Heian, pemimpin klan Taira, Taira no Kiyomori berjasa
dalam
menghabisi Karena keberhasilannya mengalahkan klan Genji, Kiyomori memiliki karir yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun Oho (1161) menjadi pejabat menengah, tahun Eiman (1165) menjadi pejabat tinggi, tahun Nin’an (1166) menjadi menteri dalam negeri (Nai Daijin), dan pada tahun Nin’an (1167) berhasil menjadi perdana menteri/menteri kerajaan (Daijō Daijin). (Yoshikawa, 2012:155)
Setelah menjabat Daijō Daijin, klan Taira yang dipimpinnya berhasil menjadi klan paling berkuasa di Jepang. Kekuasaan pemerintahan seluruhnya berada di tangan klan Taira.
Yoshikawa (2013:6) dalam bukunya Minamoto no Yoritomo 2 mengungkapkan kekuasan kiyomori dengan ungkapan, “di dunia ini tiada satupun yang tidak tunduk kepada keinginan Nyuudou Kiyomori.”
Yoshikawa (2013:10) juga mengungkapkan sikap Kiyomori dalam berkuasa dengan kata- kata berikut, “Kiyomori memang tidak pandai bicara. Dia selalu kalah dalam publisitas. Jika kebenarannya tak diterima pihak lain secara logis, dia selalu menggunakan kekuasaan dan berseru, Habisi Dia!”
Sejak mengalahkan klan Minamoto, banyak sekali yang berusaha menjilat Kiyomori. Banyak bangsawan yang bertamu ke rumahnya. Sebuah fenomena yang mengherankan. Dia pergi ke pemerintahan setiap saat, maka seharusnya mereka bias menemuinya disana. Namun banyak yang memilih datang ke Istananya (Yoshikawa, 2012:97).
Menurut adat kebiasaan masyarakat yang berlaku, walaupun ada hubungan dengan klan Minamoto sedapat mungkin menuruti pihak klan Taira adalah hal yang lebih sesuai dengan situasi zaman (Yoshikawa, 2012:151).
Pada masa itu banyak bangsawan yang mendekatkan diri dan memberikan kesan baik kepada Kiyomori untuk naik pangkat atau mempertahankan jabatan yang sudah ada. Para samurai pun banyak yang berkhianat terhadap klannya, karena memihak klan Heike milik Kiyomori tersebut.
Dengan jabatan dan kekuasan yang dimilikinya, Kiyomori bertidak secara diktator dan semena-mena. Pada saat wilayah kekuasaan putra sulungnya, Shigehira dirampas oleh Houou Go Shirakawa, Kiyomori murka melepas jabatan lebih dari 30 orang pejabat dekat mantan kaisar, mengasingkan mantan wakil kaisar Motofusa, To Dainagon Sanekuni, Azechu Dainagon dan anaknya, serta
yang lainnya diusir dari Ibukota (Yoshikawa, 2013:24). Selain itu Kiyomori juga merasa tidak senang dengan gerak-gerik para Biksu di kuil-kuil yang terdapat di Nara karena tidak mendukungnya dan diduga akan memberontak, karea kesalahpahaman antara Shigehira dan pasukannya, terjadi kebakaran besar di Nara.
“The Nara Monks had been teasing him (Kiyomori) for a long time, and he entrusted his fifth son, Shigehira, another operetta general, with the task of teaching them a lasting lesson. Attacking in the midst of the temptest during a dark winter night, Shigehira asked for the torches so that he might at least know where he was, but his men mistook this for an order to burn down everything standing on the ground. (Jean Rene Cholley dalam Great Historical Figures of Japan, 1978:77)”
“Biksu-biksu di Nara telah meresahkannya (Kiyomori) dalam waktu yang lama, dan dia mempercayai anak ke5 nya, Shigehira, salah satu jenderal, dengan perintah untuk memberi peringatan terakhir kepada mereka. Menyerang di tengah gelapnya malam musim dingin, Shigehira meminta dibawakan obor agar dia tahu dimana dia berada, tetapi prajuritnya menyalahartikan sebagai perintah untuk membakar habis segala sesuatu yang berdiri di tanah.”
Selama berkuasa Kiyomori bercita-cita untuk membangun perniagaan dengan luar negeri yang harus dikembangkan agar budaya baru masuk sehingga kemakmuran tidak hanya dinikmati keluarganya, tetapi juga untuk rakyat (Yoshikawa, 2013:19).
Padahal pada awal zaman Heian, kerjasama dengan bangsa luar (terutama Cina) mulai dikurangi, tetapi saat Kiyomori berkuasa Kebudayaan Dinasti Sung di Cina mulai masuk lagi ke Jepang. Bukan hanya barang dagangan, tapi juga buku sejarah atau ekonomi diimpor untuk dipersembahkan ke Istana Kekaisaran. Rute baru Laut Dalam Seto dibuka, Pelabuhan Hyogo dibangun serta diperbaiki hingga menjadi ramai dengan kapal Jepang maupun Sung (Yoshikawa, 2013:13).
Pada masa itu, anggota klan Taira menyombongkan diri dengan istilah, "Kalau bukan anggota klan Taira, berarti bukan manusia" (Heishi ni arazumba
hito ni arazu). Kesombongan klan Taira menyebabkan ketidakpuasan di kalangan samurai.
Setelah Kiyomori wafat akibat demam dan panas tinggi, putra pertama yang merupakan pewarisnya (Taira no Shigemori) dan putra keduanya putra ketiga yang bernama Munemori tidak mampu mengatasi pemberontakan. Kekuasaan Kaisar Go- Shirakawa kembali bertambah kuat, sedangkan klan Taira semakin melemah.
Setelah peristiwa kelaparan di zaman
dalam yang dipimpin Minamoto no Yoshinaka. Pada ta dihancurkan klan Minamoto dalam