TINJAUAN PUSTAKA 2.1Pneumonia
2.1.3. Klasifikasi Pneumonia
2.1.3.2. Klasifikasi Pneumonia Berdasarkan Etiologinya
Tabel 2.1. Klasifikasi Pneumonia Berdasarkan Etiologinya
Grup Penyebab Tipe Pneumonnia
Bakteri Streptokokus pneumonia Streptokokus piogenesis Stafilokokus aureus Klebsiela pneumonia Eserikia koli Yersinia pestis Legionnaires bacillus Pneumoni bakterial Legionnaires disease Aktinomisetes Aktinomisetes Israeli
Nokardia asteroides
Aktinomisetes pulmonal Nokardia pulmonal Fungi Kokidioides imitis
Histoplasma kapsulatum Blastomises dermatitidis Aspergilus Fikomisetes Kokidioidomikosis Histoplasmosis Blastomikosis Aspergilosis Mukormikosis
Riketsia Koksiela burneti Q fever
Klamidia Chlamydia trachomatis Chlamydial Pneumonia Mikoplasma Mikoplasma pneumonia Pneumonia mikoplasmal Virus Influenza virus, adeno
Virus respiratory Syncytial
Pneumonia virus
Protozoa Pneumositis karini Pneumonia pneumosistis (pneumonia plasma sel) Sumber : Alsagaff, 2005.
Pneumonia timbul sesering bronkitis akut pada anak-anak, dan hampir selalu mengikuti suatu infeksi saluran nafas bagian atas yang menyebar ke bawah dan dapat menyebabkan timbulnya pus pada bronki, kadang-kadang terlalu kental untuk dapat dikeluarkan dengan batuk yang biasa, dan membentuk gumpalan yang menyumbat satu atau lebih bronki besar. Bila ini terjadi, bagian paru yang dialiri oleh bronkus yang tersumbat itu akan kuncup, udara tidak akan dapat lagi memasukinya, kemudian akan terinfeksi dengan bakteri seperti Pneumokok, Hemofilis influensa, dan
kadang-kadang Streptokok. Dengan jalan ini, pneumonia dapat terjadi pada anak yang sebelumnya sehat atau pada perjalanan penyakit batuk rejan(Jelliffe, 1994).
Tanda dan Gejala Klinis Pneumonia
Secara umum penyakit pneumonia ditandai dengan adanya serangan mendadak dengan demam menggigil, nyeri pleural, dyspnea, tachypnea, eosinophilia, cyanosis (kulit kebiru-biruan), adanya peningkatan IgM dan IgG, batuk produktif dengan dahak kemerahan serta lekositosis. Pada bayi dan anak kecil, demam, muntah dan kejang dapat merupakan gejala awal penyakit. Gejala lainnya adalah sakit kepala, malaise, batuk biasanya paroxysmal, sakit tenggorokan, kadang-kadang sakit didada kemungkinan pleuritis dan pada awalnya sputum sedikit lama-lama bertambah banyak (Chin, 2000).
Sebagian dari penderita didahului dengan keradangan saluran pernafasan bagian atas, kemudian timbul keradangan saluran pernafasan bagian bawah. Serangan biasanya mendadak dengan perasaan menggigil disusul dengan panas badan (100-106°F), yang tertinggi pada pagi dan sore, batuk-batuk terdapat pada 75% dari penderita, batuk dengan berwarna merah dan kadang-kadang berwarna hijau dan purulen, nyeri dada waktu tarik napas dalam (pleuritic pain), mialgia terutama pada daerah lengan dan tungkai (Alsagaff, 2005).
Faktor-faktor yang Memengaruhi Penyakit Pneumonia Faktor Agent (Bibit Penyakit)
Menurut Yusuf yang dikutip oleh Putri (2006), Hasil penelitian fungsi paru di negara berkembang menunjukkan bahwa kasus pneumonia berat pada anak disebabkan oleh bakteri yang biasanya adalah Streptococcus pneumonia atau Haemophillus influenza. Penyebab lain adalah Staphylococcus aureus, Bordetella pertusis, Mycoplasma pneumonia.
Menurut Direktorat Jenderal Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (Dirjen P2M dan PLP) tahun 1992, sebelumnya jenis bakteri yang sering dilaporkan sebagai penyebab ISPA bawah terbatas pada Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenza, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Mycoplasma pneumoniae. Tetapi sejak 15 tahun belakangan ini telah terjadi perubahan besar bakteri penyebabnya, diantaranya adalah Moraxella, Legionella pneumophilia, dan Chlamydia pneumonia (Sibarani, 1996)
Faktor Host (Pejamu)
1. Umur
Menurut Direktorat Jenderal Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (Dirjen PPM dan PLP) tahun 2005, didapatkan 600.720 kasus pneumonia pada balita, dengan jumlah kematian 204 balita yang terdiri dari 155 balita berumur dibawah 1 tahun dan 49 balita berumur 1-4 tahun (Putri, 2006).
2. Jenis Kelamin
Berdasarkan data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 melaporkan prevalensi Balita dengan batuk dan nafas cepat pada anak laki-laki lebih tinggi dari pada anak perempuan yaitu sebesar 9,4% dan 8,5%.
3. Status Gizi
Menurut penelitian Sihadi (2000), pasien gizi yang menderita infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) pada awal kunjungan senilai 24,0%, dan pada kunjungan ke 12 menjadi 28,6%. Dan untuk penyakit infeksi saluran pernafasan bawah (ISPB) terjadi penurunan. Jika diawal kunjungan jumlah anak balita gizi buruk yang menderita ISPB sebesar 75,8%, maka pada kunjungan ke 12 menjadi 33,8%.
4. Status ASI
Bayi usia 0-11 bulan yang tidak diberi ASI mempunyai risiko 5 kali lebih besar meninggal karena ISPA dibandingkan dengan bayi yang memperoleh ASI ekslusif. Bayi yang tidak diberi ASI menyebabkan terjadinya defisiensi zat besi. Ini yang menjadikan risiko kematian karena ISPA sangat besar dibandingkan bayi yang secara eksklusif memperoleh ASI dari si ibu (Kartasasmita, 2004).
5. Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Menurut Alisjahbana yang dikutip oleh Putri (2006), BBLR yang berhasil melewati masa kritis dalam periode neonatal menunjukkan resiko untuk kejadian cacat termasuk gangguan perkembangan neurologist, cacat bawaan, gangguan pernafasan, atau komplikasi yang didapat karena perawatan intensif. Bayi dengan BBLR menunjukkan kecendrungan untuk lebih rentan menderita penyakit infeksi
dibandingkan bayi dengan berat badan lahir normal, hal tersebut merupakan penyebab tingginya angka kematian bayi (Elizawarda, 2004).
Faktor Environment (Lingkungan)
1. Status Ekonomi
Menurut penelitian yang dilakukan Kamagi tahun 2009, balita yang memiliki keluarga dengan kategori keluarga sejahtera III memiliki risiko 0,051 dan 0,136 kali lebih kecil untuk terkena pneumonia daripada balita yang memiliki keluarga dengan kategori keluarga sejahtera I dan II.
2. Kepadatan Hunian Rumah
Menurut penelitian yang dilakukan Kamagi tahun 2009, kepadatan hunian dalam rumah memiliki pengaruh terhadap kejadian pneumonia pada balita dengan besar risiko 5,95 kali lebih besar.
3. Musim
Menurut Cissy B. Kartasasmita yang dikutip oleh Sibarani (1996) diketahui bahwa insiden ISPA lebih tinggi secara bermakna dalam musim hujan (masing-masing musim hujan 56% dan musim kemarau 45%). Pengaruh musim juga dikemukakan oleh Denoy, yang menyatakan bahwa di daerah tropis lebih banyak ISPA waktu musim hujan.
Cara Penularan Penyakit Pneumonia
Pada umumnya penyakit pneumonia ditularkan melalui percikan ludah, kontak langsung lewat mulut atau kontak tidak langsung melalui peralatan yang
terkontaminasi oleh discharge saluran pernafasan (Chin, 2000). Menurut Himawan yang dikutip oleh Putri (2006), cara penyebaran infeksi penyakit pneumonia ada dua , yaitu :
a. Melalui Aerosol (mikroorganisme yang melayang di udara) yang keluar pada saat batuk dan bersin.
b. Melalui kontak langsung dari benda yang telah tercemar mikroorganisme penyebab (hand to hand transmission).
Dari beberapa penelitian klinik, laboratorium dan penelitian lapangan, diperoleh kesimpulan bahwa sebenarnya kontak hand to hand merupakan modus terbesar bila dibandingkan dengan cara penularan aerosol.
Pencegahan dan Penanganan Penyakit Pneumonia Pencegahan Penyakit Pneumonia
Pencegahan Pneumonia bertujuan untuk menghindari terjadinya penyakit Pneumonia pada balita. Berikut adalah upaya untuk mencegah terjadinya penyakit pneumonia :
1. Jauhkan anak dari penderita batuk 2. Mintakan imunisasi lengkap
3. Berilah makanan bergizi setiap hari
4. Jagalah kebersihan tubuh, makanan dan lingkungan(Depkes 1991).
Karena bentuk penyakit ini menyebar dengan droplet, infeksi akan menyebar dengan mudah. Perbaikan rumah akan menyebabkan berkurangnya penyakit saluran nafas yang berat. Semua anak yang sehat sesekali akan menderita salesma, tetapi
sebagian besar mereka jadi pneumonia karena malnutrisi. Perbaikan mutu gizi akan diikuti dengan penurunan angka infeksi saluran nafas yang berat (Jelliffe, 1994).