• Tidak ada hasil yang ditemukan

Salah satu industri yang banyak berkembang adalah industri pengolahan makanan ringan. Ragam makanan ringan yang diproduksi sangat beragam mulai makanan khas Banyuwangi sampai makanan ringan khas Jawa Timur. Beberapa makanan ringan khas Banyuwangi seperti Kue Bagiak, Sale Pisang, dan Kelemben (bolu). Makanan ringan lainnya yang juga banyak diproduksi adalah rengginang, marning jagung, manisan dan beberapa pangan olahan lainnya.

25

Industri makanan ringan berdasarkan analisa klaster terdapat wilayah potensial klaster yaitu di Kecamatan Banyuwangi dan Kecamatan Rogojampi. Kondisi pengusaha makanan ringan ini pada umumnya bersifat menyebar dan menggerombol dalam satu wilayah desa. Beberapa wilayah yang potensial pengembangan industri makanan ringan adalah sebagai berikut:

Gambar 4.8 Peta Klaster Industri Makanan Ringan di Kabupaten Banyuwangi

Klaster industri makanan ringan untuk wilayah Kecamatan Rogojampi terdapat di wilayah Desa Lemahbang dengna produk yang dihasilkan berupa makanan khas Banyuwangi seperti Sale Pisang, Bagiak, serta makanan ringan lainnya seperti masning, opak gulung. Wilayah Kecamatan Banyuwangi yang merupakan wilayah penghasil makanan ringan terdapat di wilayah Kelurahan Lateng dengan produk yang dihasilkan berupa bagiak, sale pisang serta beberapa makanan ringan lainnya

26

Tabel 4.8 Desa Lokasi Klaster Industri Makanan Ringan di Kabupaten Banyuwangi

Kecamatan Wilayah Produk

Kalipuro

Banyuwangi

Desa Pesucen

Kelurahan Lateng

Kelurahan Panderejo

Manisan Pala, Cerme,

Tomat, Asem dan

manisan lainya.

Krupuk, Bagiak, Sale Pisang makanan ringan lainnya

Bagiak, Sale pisang, dan makanan ringan lainnya

Rogojampi Desa Pengatigan

Desa Lemahbang

Marning jagung

Bagiak, Sale pisang,

makanan ringan lainnya Sumber : Survey lapang, 2015

Produksi makanan ringan di Kabupaten Banyuwangi terutama di Kecamatan Banyuwangi dan Kecamatan Rogojampi sangat banyak ragamnya daripada produksi dari Kecamatan lainnya, yang sifat usahanya menyebar dan individual.

Adapun permasalahan yang menjadi kendala dalam pengembangan klaster industri makanan ringan di Kabupaten Banyuwangi adalah sebagai berikut:

a. Harga bahan baku yang terus meningkat sehingga mengurangi tingkat

keuntungan pengusaha.

b. Beberapa produk tergantung kepada beberapa moment seperti moment perayaan hari besar/hari raya.

c. Masih lemahnya akses informasi pasar terutama guna memasarkan produk dengan merk sendiri.

27 9. Klaster Industri Batik

Kabupaten Banyuwangi menyimpan potensi industri batik yang potensial.

Dalam perkembangan industri batik telah membentuk beberapa wilayah klaster diantaranya:

Gambar 4.9 Peta Klaster Industri Kerajinan Batik di Kabupaten Banyuwangi

Wilayah yang merupakan klaster industri batik diantaranya yaitu wilayah

Kecamatan Kabat, Cluring, Banyuwangi, Sempu dan kalipuro. Bebrapa wilayah yang menjadi obyek penelitian adalah di Kecamatan Kabat yaitu desa Pakistaji,

Kecamatan cluring desa Tampo dan Kecamatan Banyuwangi di Kelurahan Temenggungan.

28

Tabel 4.9 Desa Lokasi Klaster Industri Kerajinan batik di Kabupaten Banyuwangi

Kecamatan Desa/Kelurahan

Kabat Pakistaji

Cluring Tampo

Banyuwangi Temenggungan

Batik Banyuwangi merupakan sebuah perwujudan nilai estetika ragam hias

khas Banyuwangi. Motif-motif Batik Banyuwangi tidak hanya sebuah perwujudan estetika dari ragam hias namun juga memiliki nilai–nilai yang dianut oleh masyarakat Banyuwangi. Semua nama motif dari batik asli Bumi Blambangan

ternyata banyak dipengaruhi oleh kondisi alam.

Banyak motif khas dari batik khas Bumi Blambangan, sampai saat ini, sekitar 21 jenis motif batik asli Banyuwangi yang telah diakui secara nasional. Beberapa

motif Batik Banyuwangi yaitu Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Alas Kobong, Paras Gempal, Kopi Pecah, Sembruk Cacing, Gedegan, Ukel, Blarak Semplah, Moto

Pitik, dan lain sebagainya.

Batik motif Gajah Oling atau Gajah Uling, motifnya berupa hewan seperti belut yang ukurannya cukup besar. Motif Gajah Oling yang diyakini sebagai motif

asli dari Batik Banyuwangi melambangkan sesuatu kekuatan yang tumbuh dari dalam jati diri masyarakat Banyuwangi. Pemaknaan motif Gajah Oling berkaitan dengan karakter masyarakat Banyuwangi yang bersifat religius dengan penyebutan “Gajah Eling” yang memilki pengertian yaitu gajah yang merupakan hewan bertubuh besar, berarti maha besar, sedangkan uling berarti eling (ingat), secara utuh dapat diartikan bahwa Batik Gajah Oling mengajak untuk selalu ingat kepada

29

kemahabesaran Sang Pencipta adalah dasar dari perjalanan hidup masyarakat Banyuwangi. Ada juga yang menyebutkan gajah uling berbentuk melengkung

layaknya belalai gajah. Ciri batik ini berbentuk seperti tanda tanya, yang secara filosofis merupakan bentuk belalai gajah dan sekaligus bentuk uling. Di samping unsur utama, karakter batik tersebut juga dikelilingi sejumlah atribut lain. Di

antaranya, kupu-kupu, suluran (semacam tumbuhan laut), dan manggar (bunga pinang atau bunga kelapa). Saat ini motif Gajah Oling dikembangkan konsepnya dengan sedemikian rupa mengikuti selera pasar.

Motif Sembruk Cacing juga motifnya seperti cacing dan motif Gedegan juga seperti gedeg (anyaman bambu). Motif-motif batik yang ada merupakan cerminan

kekayaan alam yang ada di Banyuwangi. Motif batik seperti di Banyuwangi ini tidak akan ditemui di daerah lain dan merupakan khas Banyuwangi.

Kota Banyuwangi memiliki beberapa sentra pembatikan, yaitu Sayu Wiwit,

Tirta Wangi, Sritanjung, dan Srikandi yang terletak di kecamatan Banyuwangi, Virdes Batik di Kecamatan Cluring. Masing – masing sentra pembatikan memiliki ciri khas, yang mencolok adalah Sanggar batik Sayuwiwit dan Virdes. Sayuwiwit

tetap mempertahankan motif batik Banyuwangi secara konvensional, berdasarkan pakem lama hanya memainkan warna dan memadukan corak, sedangkan Virdes

mengembangkan Batik Banyuwangi, memadukan pakem dan permintaan konsumen. Upaya pelestarian batik di Kabupaten Banyuwangi dilakukan oleh Pemkab setempat, mulai 2009 setiap hari Kamis, Jumat dan Sabtu semua pegawai

Pemerintahan Daerah dan Pegawai Negeri Sipil di Banyuwangi wajib memakai seragam batik dengan motif Gajah Oling. Upaya lain yang dilakukan yaitu

30

pemakaian busana kesenian khas Banyuwangi yaitu tari Gandrung dan upacara adat Seblang, serta untuk busana khas daerah Banyuwangi yaitu Jebeng dan Thulik (Pada

Thulik motif batik Gajah Oling dipakai pada udeng tongkosan dan sembong sedang pada Jebeng motif batik Gajah Oling dipakai untuk kain panjang). Motif batik ini juga digunakan untuk seragam batik sekolah mulai dari tingkat TK sampai pada

tingkat SMA. Pengeksplorasian terhadap motif-motif baru juga dilakukan untuk menambah keanekaragaman motif Batik Banyuwangi. Upaya pengenalan Batik Banyuwangi selain melalui pameran dan rangkaian pelatihan juga dilakukan upaya

pengenalan lebih jauh melalui buku.

Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan klaster industri kerajinan

batik di Kabupaten Banyuwangi adalah sebagai berikut:

a. Regenerasi pembatik, dan ketersediaan tenaga pembatik yang terampil

b. Biaya tenaga kerja yang masih relative mahal sehingga harga jual masih

relatif lebih tinggi

c. Ketergantungan pasokan bahan baku dari wilayah Jawa Tengah dan Bali d. Ketergantungan terhadap beberapa pasar terutama pasar di Wilayah Bali

Dokumen terkait