Pendahuluan
Sel surya hibrid merupakan suatu bentuk sel surya yang memadukan antara semikonduktor anorganik dan organik. Dimana dalam bentuk ini material organiknya digunakan sebagai pemanen cahaya atau komponen fotoaktif. Pada sel surya hybrid, lapisan aktif memiliki beberapa bentuk yaitu bilayer, bulk heterojunction, dan interdigital. Dalam penelitian ini dibuat jenis sel surya hibrid
dengan struktur lapisan aktif bulk heterojunction, yang mana pada bentuk ini
material semikonduktor anorganik (ZnO) dicampur dengan bahan organik (dye),
dalam penelitian ini yang digunakan klorofil. Dipilihnya bentuk ini dikarenakan proses pembuatannya lebih mudah dibandingkan dengan bilayer dan interdigital.
Regenerasi dari molekul organik yang akan menginjeksikan hole ke dalam
elektrolit atau material transpor hole yang kemudian ditransferkan ke elektrodanya
untuk menerima elektronnya sehingga membentuk pasangan muatan bebas. Sehingga dalam proses ini dibutuhkan bentuk elektrolit yang lebih stabil, yang mampu meningkatkan peforma dari sel surya.
Beberapa kombinasi elektrolit pada sel surya hibrid yang telah dilakukan untuk meningkatkan peforma dari sel surya adalah ZnO/N3/CuSCN (O’Regan et al. 2002), TiO2/N3/CuI (Meng et al.2003), TiO2/C60/CuSCN (Senadeera dan Perera. 2005) dan ZnO/N719/CuSCN (Desai et al. 2012). Melihat kombinasi yang
akan dilakukan dalam penelitian ini yaitu ZnO/klorofil dalam bentuk bulk heterojunktion, maka elektrolit yang mungkin untuk digunakan adalah CuSCN
sebagai konduktor hole.
Tujuan
Memodifikasi dan mengkarakterisasi semikonduktor nanopartikel ZnO dan klorofil dalam bentuk sel surya hibrid bulk heterojunction
Metode Fabrikasi film hibrid
Fabrikasi film hibrid ZnO/klorofildilakukan dengan melarutkan 0,005 gram ZnO ke dalam 5 ml etanol kemudian di stirrer 300 rpm sambil ditetesi 10 µl aethylen glycol kemudian memasukkan 0,005 gram dye klorofil. Reaksi dilakukan
selama 10 menit sampai semua komposisi terlihat tercampur sempurna. Pelapisan film ZnO/klorofil dilakukan dengan menggunakan metode spin coating (Ibrahem
22
Fabrikasi sel surya hibrid
Pembuatan sel surya hibrid bulk heterojunction dilakukan dengan cara
mencampurkan bahan semikonduktor bubuk ZnO dan bubuk klorofil dengan perbandingan 1:1 kemudian campuran ini digerus dengan menggunakan mortar dan ditambahkan etanol secukupnya sampai halus sempurna, setelah itu ditambahkan larutan asam asetat 1% 0,5 ml untuk campuran 0,1 gram ZnO dan 0,1 gram klorofil, setelah tercampur sempurna kemudian adonan diteteskan diatas kaca TCO yang telah diabuat pola terlebih dahulu dengan ukuran 1x1 cm. Pelapisan dilakukan dengan menerapkan metode Docter bladge. Sel yang telah
terbentuk dibiarkan pada temperatur ruang sampai mengering, kemudian sel ditetesi dengan larutan CuSCN secukupnya sampai merata. Larutan CuSCN dibuat dengan cara melarutkan 0,1 gram bubuk CuSCN ke dalam 12 ml acetonitril dan selanjutnya ditutup kembali dengan kaca TCO yang mana bagian konduktifnya menghadap kearah bagian dalam sel dan kemudian dijepit dan biarkan selama beberapa saat.
Sel surya yang tersusun atas lapisan TCO/CuSCN/ZnO-Klorofil/TCO dikarakterisasi dengan menggunakan rangkaian sebagaimana yang terlihat pada Gambar 15. Pengukuran dilakukan secara langsung menggunakan sinar matahari dengan intensiatas yang terukur adalah 117,401W/m2, dari pengukuran ini didapatkan kurva yang memperlihatkan hubungan antara tegangan (V) dan rapat arus (J) atau yang dikenal sebagai kurva I-V.
Gambar 15. Rangkaian pengukuran karakterisasi arus tegangan sel surya
Hasil dan Pembahasan
Hasil eksperimen didapatkan bahwa spektrum ZnO menyerap kuat pada daerah UV pada panjang gelombang 367 nm. Setelah dilakukan kombinasi antara ZnO dengan klorofil, Zn-feofitin dan Cu-feofitin, telah menyebabkan perubahan pada daerah serapan ZnO menjadi lebih lebar, dari spektrum UV ke visibel yaitu pada panjang gelombang 300 nm sampai 500 nm, sebagaimana yang terlihat pada Gambar 16.
Pada Gambar 16 tampak bahwa spektrum ZnO melebar dari 330 nm sampai 500 nm untuk penambahan klorofil, pada penambahan Zn-foefitin terjadi dua pelebaran puncak yaitu dari 330 nm sampai 388 nm dan dari 400 nm sampai 511 nm, akan tetapi pelebaran ini tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan
23 penambahan klorofil. Untuk kombinasi antara ZnO dengan Cu-feofitin, terjadi pelebaran puncak yang sangat signifikan yaitu dari 300 nm sampai 600 nm.
Pelebaran spektrum setelah penambahan klorofil dan klorofil kompleks ini mengindikasikan banyakya jumlah spektrum yang terserap oleh kombinasi material ZnO dengan dye, sehingga sangat mendukung bila diaplikasikan sebagai
sel surya. Panjang gelombang (nm) 300 400 500 600 700 800 900 A bs orba ns i dye (a .u) 0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 A bs orba ns i Z nO (a .u) 0,0 0,2 0,4 0,6 0,8 1,0 1,2 Klorofil Zn-feofitin Cu-feofitin ZnO 367
Gambar 16. Sifat optik film hibrid nanopartikel ZnO/klorofil
Karakteristik I-V
Karakteristik I-V menjelaskan bagaimana sel surya tersebut mampu bekerja di bawah cahaya langsung. Hal tersebut dapat terlihat pada kurva yang terdiri atas beberapa parameter seperti arus hubungan singkat Isc (short circuit) yaitu arus ketika potensial sama dengan nol, tegangan rangkaian terbuka Voc (open circuit voltage) yaitu tegangan ketika beban luar diberikan sangat besar, Vmax yaitu tegangan yang memberikan nilai daya maksimum, dan Imax arus yang memberikan nilai daya maksimum.
Saat tanpa cahaya sel surya memiliki karakteristik sebagaimana pada dioda ideal, sehigga hubungan antara arus dan tegangannya dapat dituliskan sebagaimana pada persamaan (6).
(
⁄
)
Saat sel surya disinari akan dihasilkan arus yang terjadi karena pembangkitan elektron oleh cahaya dengan energi tertentu (foton), sehingga rapat arus total yang mengalir pada rangkaian terbuka dapat dituliskan seperti pada persamaan (7), yaitu:
24
( ⁄ ) dimana kB adalah konstanta Bolztaman, T adalah J0 adalah rapat arus saturasi, Jsc
adalah rapat arus pada rangkaian terhubung singkat saat disinari ketika V= 0. Tegangan yang diukur pada rangkaian terbuka (open circuit) ketika J(V)= 0,
disebut tegangan rangkaian terbuka (Voc), yang dapat dituliskan seperti pada persamaan (8)
Efisiensi konversi merupakan kemampuan sebuah piranti sel surya untuk mengubah energi cahaya menjadi energi listrik dalam bentuk arus tegangan. Efisiensi konversi energi sebuah energi sebuah sel surya dapat dinyatakan melalui persamaan (9)
dengan Pmax adalah daya maksimum yang dihasilkan yaitu:
dari persamaan ini diperoleh nilai fill factor (FF) melalui persamaan (11)
Subtitusi persamaan (11) ke dalam persamaan (10), maka persamaan (9) dapat dituliskan sebagaimana dalam persamaan (13), yaitu:
Pinadalah daya energi cahaya yang tiba pada permukaan sel surya. Pin ditentukan
melalui persamaan (13)
dengan Iinadalah intensitas sumber cahaya dan A adalah luas permukaan sel surya
yang disinari. Bila persamaan (10) disubtitusikan kedalam persamaan (9), maka besar efisiensi dapat dituliskan sebagaimana dalam persamaan (14).
Gambar 17 menunjukkan tiga bentuk kurva karakteristik I-V yang merupakan hasil kombinasi antara (A) ZnO/klorofil, (B) ZnO/Zn-feofitin dan (C)
25 ZnO/Cu-feofitin. Pada kurva tersebut tampak bahwa adanya perbedaan pada nilai tegangan dan rapat arus yang berbeda-beda. Besar dan kecilnya tegangan yang dihasilkan pada masing-masing sel tergantung pada kombinasi antara semikonduktor (ZnO), dye dan elektrolit (CuSCN). Semakin banyak dye yang
terjerap atau menempel pada permukaan partikel ZnO akan semakin memicu untuk terjadinya beda potensial sebagai pembangkit tegangan, sehingga dengan penambahan elektrolit padat CuSCN yang merupakan sumber hole akan
meningkatkan tegangan yang ada. Dari beberapa studi literatur diketahui bahwa penambahan elektrolit CuSCN dapat meningkatkan peforma sel surya pada tegangan terbuka (Voc) (Desai et al. 2012; O’Regan et al. 2002).
Karakteristik I-V yang diperoleh dari masing-masing sel tampak adanya perbedaan bentuk kelengkungan kurva. Ini menggambarkan bagaimana mobilisasi elektron pada masing-masing sel yang berbeda. Gambar 17 (A) kombinasi ZnO/klorofil dan (B) kombinasi ZnO/Zn-feofitin memiliki bentuk kurva yang kurang ideal. Kurang idealnya kurva ini ditandai oleh kelengkungannya yang curam, disebabkan oleh kebocoran yang terjadi pada masing-masing sel kemungkinan disebabkan adanya rekombinasi prematur atau jatunya elektron sebelum sampai pada elektrodanya. Jatuhnya elektron ini kemungkinan disebabkan oleh stabilitas dari masing-masing dye. Sedangkan untuk sel
kombinasi ZnO/Cu-feofitin pada Gaambar 17(C) memperlihatkan bentuk karakteristik kurva I-V yang lebih ideal meskipun memiliki nilai tegangan Voc dan rapat arus (Jsc) yang lebih rendah. Idealnya bentuk kurva yang dihasilkan ini
kemungkinan disebabkan oleh stabilitas dari dye. Sebagaimana yang diperlihatkan
pada Gambar 15, tampak bahwa Cu-feofitin lebih stabil dari klorofil dan Zn- feofitin.
Perbedaan nilai tegangan Voc pada Gambar 17, kemungkinan disebabkan oleh jumlah muatan pada masing-masing dye yang berbeda. Perbedaan ini
ditandai dengan penurunan nilai absorbansi dari masing-masing dye seperti yang
ditujukkan pada Gambar 15. Jumlah muatan yang banyak memungkinkan untuk terjadinya pasangan muatan bebas (eksiton) yang lebih banyak ketika mendapat energi foton yang cukup, sehingga memicu timbulnya nilai tegangan yang lebih besar. Sedangkan untuk rapat arus Isc yaitu arus yang mengalir saat terjadi
hubungan singkat pada rangkaian uji, untuk analisis sel biasanya digunakan rapat arus (J) yaitu arus yang mengalir untuk setiap satuan luas. Disini didapatkan nilai
rapat arus (J) untuk masing-masing sel tampak bervariasi dan tergolong masih
sangat rendah. Rendahnya rapat arus ini disebabkan oleh berbagai faktor, semua komponen dalam sel sangat berpengaruh. Bila ditinjau secara khusus yaitu yang sangat berpengaruh dalam proses mobilitas elektron dari satu elektroda ke elektroda lainnya adalah ukuran partikel, dimana telah dilaporkan bahwa ukuran ideal diameter partikel dalam aplikasi sel surya adalah kurang dari 10 nm, semakin kecil ukuran suatu partikel akan memudahkan elektron menuju elektroda lainnya sehingga dapat mencegah terjadinya rekombinasi prematur elektron (Lee
26 Tegangan(V) (mV) 0 100 200 300 400 500 600 Ra pa t a ru s( J ) (m A .c m -2) x10 -4 0 2 4 6 8 10 A Tegangan(V) (mV) 100 200 300 400 500 Ra pa t a ru s( J ) (m A .c m -2 ) x10 -4 4 6 8 10 12 14 B Tegangan(V) (mV) 0 50 100 150 200 250 300 Ra pa t a rus ( J ) (m A .c m -2) x 10 -4 1,0 1,2 1,4 1,6 1,8 2,0 2,2 C
Gambar 17 Karakteristik I-V sel surya hibrid ZnO/Klorofil kompleks (Zn- feofitin, Cu-feofitin) (A) Klorofil (B) Zn-feofitin (C) Cu-feofitin
27 Hasil karakteristik I-V pada Gambar 17, dapat dihitung beberapa nilai parameter dalam sel surya yang meliputi Tegangan terbuka (Voc), rapat Arus pendek (Jsc), tegangan maksimum (Vmax), rapat arus maksimum (Jmax), daya maksimum (Pmax), fill factor (FF) dan efisiensi (η) yang dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Nilai parameter dalam sel surya
Sel Voc Isc Vmax Imax Pmax FF η
(mV) (mA) (mV) (mA) (mWcm-2) (%) A 542 9,9x10-4 364 5,4x10-4 0,196 0,37 2,5 B 427 1,2x10-3 330 7,2x10-4 0.238 0,45 1,3 C 286,8 2,2x10-4 218,5 1,6x10-4 0,035 0,55 0,3 A : ZnO/Klorofil/CuSCN B : ZnO/Zn-feofitin/CuSCN C : ZnO/Cu-feofitin/CuSCN
Pada Tabel 2 tampak bahwa nilai parameter sel surya yang dihasilkan bervariasi. Bervariasinya hasil ini tergantung pada karakteristik I-V yang dibentuk dari masing-masing sel. Pada Tabel 2 tampak juga perbedaan antara nilai tegangan maksimum (Vmaks) dan arus maksimum (Imaks). Perbedaan nilai tegangan maksimum (Vmaks) kemungkinan disebabkan oleh penurunan jumlah muatan bebas (eksiton) yang dihasilkan ketika dye berinteraksi dengan foton secara terus
menerus. Dye yang baik akan menghasilkan muatan bebas yang besar, selanjutnya
dikonversi menjadi arus ketika sampai pada elektroda. Arus maksimum yang dihasilkan merupakan gambaran jumlah elektron yang sampai pada elektrodanya. Bila dilihat dari nilai Voc dan Vmaks untuk semua sampel tampak adanya penurunan yang signifikan yang tunjukkan oleh sel A dan sel B, ini menggambarkan adanya penurunan kualitas dye ketika berinteraksi dengan foton,
sehingga muatan yang dikonversi menjadi arus pun semakin berkurang. Peristiwa ini sebagaimana ditunjukkan oleh bentuk kurva I-V. Sedangkan untuk sampel C terlihat hanya sedikit perubahan yang terjadi dari Voc ke Vmaks, ini menggambarkan bahwa dye ketika berinteraksi dengan foton hanya sedikit
kehilangan muatan yang akan dikonversi menjadi arus. Sehingga tampak bahwa kelengkungan kurava I-V yang dihasilkan lebih ideal dari sel A dan B.
Kestabilan kurva I-V yang dihasilkan oleh masing-masing sampel juga ditunjukkan oleh hasil perhitungan fill factor (FF). Hasil perhitungan fiil factor
menunjukkan bahwa sel C yaitu kombinasi ZnO/Zn-feofitin/CuSCN menghasilkan nilai sebesar 55% atau 0,55 dari nilai ideal. Akan tetapi nilai efisiensi yang dihasilkan lebih rendah dari sel A dan B. Rendahnya nilai efisiensi ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya jumlah muatan yang dikonversi menjadi arus maksimum yang diakibatkan oleh rendahnya kosentrasi Cu-feofitin. Konversi yang baik dari Voc ke Vmaks akan menghsilkan daya maksimum (Pmaks) yang lebih besar. Hasil ini diperlihatkan oleh kombinasi ZnO/Zn-feofitin/CuSCN (sel B).
28
Simpulan
Hasil modifikasi dye yang menggantikan unsur logam inti klorofil (Mg)
dengan unsur ion logam Zn2+ dan Cu2+ yang kemudian dikombinasikan dengan nanopartikel ZnO mengubah daerah serapan ZnO menjadi lebih lebar dari daerah UV ke visibel. Untuk aplikasi sel surya yang dikombinasikan dengan elektrolit padat CuSCN ke dalam bentuk sel surya hibrid, didapatkan bahwa dye Cu-feofitin
menghasilkan nilai fill factor 55% lebih besar dari jenis dye klorofil dan Zn-
feofitin. Besarnya nilai Vmaks sangat dipengaruhi oleh kualitas dye yang digunakan yang terkait dengan stabilitas. Rendahnya nilai Voc sangat dipengaruhi oleh kosentrasi dari dye, mengakibatkan rendahnya daya maksimum yang dihasilkan
akibat penurunan rendahnya tegangan maksimum sehingga arus maksimumnyapun akan rendah.
5
PEMBAHASAN UMUM
Subtitusi ion logam Zn2+dan Cu2+ ke dalam pusat klorofil telah memberikan pengaruh terhadap posisi dan pola serapan serta memberikan tingkat stabilitas yang baik pada klorofil. Klorofil yang telah tersubtitusi dengan ion logam mengalami pergeseran ke daerah biru dengan daerah serapan yang lebih luas. Pergeseran pada daerah serapan ini tentu saja mengakibatkan terjadinya perbedaan dalam transfer muatan pada keadaan HOMO dan LUMO. Sesuai teori bahwa transfer elektron pada HOMO dan LUMO tergantung pada tingkat energi ionisasinya (Xu et al. 2010), Ini dikarenakan oleh muatan inti dalam klorofil yang
berbeda setelah subtitusi. Sedangkan pelebaran serapan yang dihasilkan setelah subtitusi mengindikasikan jumlah spektrum yang terserap masing-masing dye.
Banyaknya jumlah spektrum yang terserap ini akan mempercepat elektron untuk tereksitasi dari keadaan dasar ke keadaan yang lebih tinggi. Hasil subtitusi ion logam pada klorofil juga telah menyebabkan penurunan absorbansi yang mengindikasikan pada jumlah kosentrasi. Kosentrasi yang rendah mengakibatkan jumlah muatan yang terkandung di dalam dye telah berkurang.
Kombinasi antara ZnO/klorofil dalam bentuk film hibrid, telah menyebabkan perubahan pola serapan pada ZnO yang menjadi lebih lebar, sehingga lebih banyak spektrum yang terserap. Dalam kombinasi antara ZnO/klorofil-CuSCN pada bentuk sel surya hibrid telah membangkitkan tegangan terbuka (Voc) yang berbeda untuk setiap dye yang digunakan. Perbedaan nilai tegangan yang dihasilkan ini kemungkinan besar disebabkan oleh kosentrasi untuk masing-masing dye yang berbeda. Perbedaan nilai kosentrasi ini, telah
ditandai dengan menurunnya nilai absorbansi yang dihasilkan.
Hasil karakterisasi sel surya hibrid ZnO/klorofil-CuSCN memperlihatkan bentuk kurva I-V yang berbeda pada masing-masing karakterisasi setiap sel. Klorofil tanpa modifikasi memperlihatkan bentuk yang kurang ideal meskipun tegangan terbukanya (Voc) lebih tinggi dari yang lainnya. Ini kemungkinan disebabkan oleh rekombinasi prematur, yang mana saat klorofil lebih cepat
29 mengalami degradasi. Sedangkan untuk klorofil yang tersubtitusi dengan logam, tampak memperlihatkan bentuk kurva lebih stabil yang ditandai dengan nilai fill factor (FF) yang dihasilkan, meskipun nilai efisiensinya lebih rendah dari klorofil
modifikasi.
Secara khusus mekanisme terbentuknya arus dapat dilihat pada Gambar 18, yaitu diawali dengan penyerapan foton pada material organik sehingga menghasilkan pasangan muatan antara elektron dan hole bebas yang disebut
eksiton. Eksiton akan tereksitasi ke level yang lebih tinggi bila mendapat energi yang cukup, artinya enegi foton yang diberikan harus lebih besar atau sama dengan energi dalam eksiton. Eksiton yang tereksitasi akan berdifusi ke inter face
sehingga terjadi pemisahan muatan antara elektron dan hole akibat medan listrik
yang disebabkan oleh beda muatan. Selanjutnya elektron dan hole akan bergerak
menuju elektroda masing-masing. Dalam perjalanannya menuju elektroda, elektron harus terfasilitasi dengan baik, disinilah peranan elektrolit sangat dibutuhkan. Elektron yang telah mencapai elektrodanya akan siklus kembali menuju elektroda hole sehingga membentuk pasangan elektron hole atau eksiton.
Secara rinci proses ini dapat digambarkan pada diagram Gambar 18 dibawah ini.
(Desai et al. 2012)
Gambar 18. Mekanisme transpor elektron pada sel srya hibrid
Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan dalam bentuk sel surya hibrid, merupakan kombinasi dari ZnO dengan dye sintetis dapat dilihat pada
Tabel 3. Bila dibandingkan antara hasil eksperimen dengan penelitian sebelumnya, klorofil yang termodifikasi dengan logam sangat mungkin untuk dikembangkan lebih lanjut baik dari sisi stabilitas I-V maupun efisiensi. Khusus untuk klorofil yang termodifikasi dengan logam Cu memiliki nilai fill factor yang lebih tinggi
akan tetapi nilai efisiensi masih terlalu rendah, sehingga perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kosentrasi ketika dalam bentuk Cu-feofitin.
30
Tabel 3. Perbandingan tingkat stabilitas dalam sel surya hybrid Struktur Sel Voc
(mV) FF (%) η Acuan
ZnO/klorofil/CuSCN 542 0,37 2,5 eksperimen
ZnO/Zn-feofitin/CuSCN 427 0,45 1,3 eksperimen ZnO/Cu-feofitin/CuSCN 286,8 0,55 0,3 eksperimen
TiO2/N3/CuI 590 0,37 0,4 Meng et al. (2003) ZnO/N719/CuSCN 570 0,37 1,7 Desai et al. 2012
ZnO/N3/CuSCN 600 0,44 2,1 O’regan et al. 2002
TiO2/C60/CuSCN 350 0,4 0,12 Senadeera dan Perera. 2005
6
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Klorofil yang termodifikasi dengan ion logam Zn2+ dan Cu2+ telah menyebabkan perubahan pada serapan klorofil alami. Korofil yang termodifikasi memiliki serapan yang lebih luas khususnya yang termodifikasi ion logam Cu2+. Kombinasi antara ZnO/klorofil dalam bentuk sel surya hibrid,telah memperlihatkan serapan yang lebih luas pada serapan ZnO ke daerah visibel, khususnya untuk klorofil yang termodifikasi. Sehingga dalam aplikasi sel suryanya klorofil yang termodifikasi menghasilkan nilai fill factor yang lebih
besar dari pada klorofil tanpa modifikasi.
Saran
1. Perlu dilakukan kembali sintesis ZnO dengan bentuk morfologi ZnO nanorod, nanofiber, nanoflower, dll
2. Karena klorfil a merupakan bagian yang sensitif cahaya, sebaiknya klorofil yang digunakan adalah klorofil a, sehingga perlu dilakukan pemisahan antara klorofil a dan b
3. Perlu dikembangkan lebih lanjut khususnya klorofil yang termodifikasi dengan ion logam Zn2+ , sebagai aplikasi dalam Kemosensor (Xu, et al. 2010).
31 DAFTAR PUSTAKA
Agostiano. A, Catucci. L, Cosma. P, and Fini. P,. 2003. Aggregation Prosses and Photophysical Poperties of Chlorophyll a in Aqueous Solution Modulated by Presence of Cyclodextrins. J.Phys. Chem. 5. 2122-2128
Agmon N. 1990. Dynamic Stikes shift in Coumarin: Is it only relaxation?. J. Phys. Chem. 94. 2959-2963
Ali. Mohammad M. 2011. Characterization of ZnO thin films grown by chemical bath deposition. Journal of Basrah Researches.Vol.37.No.3A
Altaf M, Chaudhry M. Ashraf, Zahid Maria. 2003. Study Of Optical Band Gap Of Zinc-Borate Glasses. J. res. Sci. 14(2). 253-259
Aneesh P. M., Vanaja K. A., Jayaraj M. K., 2007, Synthesis of ZnO nanoparticles by hydrothermal method, Nanophotonic Materials IV, Vol. 6639, 0277-786
Beek Waldo J. E., Wienk Martijn M., Kemerink Martijn, Yang Xiaoniu, and Janssen Ren A. J. 2005, Hybrid Zinc Oxide Conjugated Polymer Bulk Heterojunction Solar Cells, J. Phys. Chem. B, 109, 9505-9516
Budiyanto A.W., Notosudarmo S., dan Limantara L., 2008. Pengaruh pengasaman terhadap fotodegradasi Kloofil a. JMS. Vol. 13. No.3
Chand N, Hedaoo M, Gautam KKS and Khare PS. 2012. Optical Properties of Mango Leaf Dye Sensitized Zinc Oxide NanocrystallineThin Film for Solar Cell. Scholarly J. Biotechnol. Vol. 1(2), pp. 39-46
Christiana R, Kristopo H, Limantara L. 2008. Photodegradation and antioxidant activity of chlorophyll a from spirulina (spirulina sp.) Powder. Indo. J. Chem. (2), 236 - 241
Dapic N, 2012, Behaviour Of Fothergilla gardenii Chlorophyll Catabolite Under
Acidic Conditions, Kragujevac J. Sci. (34) 79-85.
Desai U.V, Xu Chengkun, Wu Jiamin, dan Gao Di, 2012, Solid-state-Dye Sensitized Solar Cell Based on Ordered ZnO nanowire arrays,
Nanotechnology, (23).205-401
Erge H.S, Karadenz F, Koca N, Soyer Y., 2008. Effect Of Heat Treatment On Chlorophyll Degradation And Color Loss In Green Peas. GIDA. 33 (5) : 225-233
Fiedor J, Fiedor L, Kammhuber N, Scherz. A, and Scher. H. 2002. Photodynamics of the Bacteriochlorophyll-Carotenoid System. 2. Influence of central Metal,
Solvent and β-Caroten on Photobleaching of Bacteriochlorophyll Derivatives.
J. Photochem. Photbiol. 76:2. 145-152.
Gupta S.K, Joshi A,Kaur M. 2010. Development of gas sensors using ZnO nanostructures. J. Chem. Sci. Vol. 122, No. 1.57–62
Gupta M, Sharma V, Shrivastava J, Solanki A, Singh AP, Satsangi VR, Dass S and Shrivastav R. 2009. Preparation and characterization of nanostructured ZnO thin films for photoelectrochemical splitting of water. Bull. Mater. Sci.
Vol. 32, No. 1.
Greenham, N. C. (2008) Hybrid Polymer/Nanocrystal Photovoltaic Devices, in Organic Photovoltaics (eds C. Brabec, V. Dyakonov and U. Scherf), Wiley- VCH Verlag GmbH & Co. KGaA, Weinheim, Germany
Gross, J. 1991. Pigment in Vegetables, Chlorophyll and Carotenoids. Van Nostrand Reinhold, New York. (7). 75
32
Gledhill, S. E.; Scott, Gregg, B. A. (2005). Organic and nano-structured composite photovoltaics: An overview. J Mater Res J Mater Res. Vol. 20, Nr. 12. pp. 3167-3179. ISSN 0884-2914
Hamedani N.F dan Farzaneh F., 2006 Synthesis of ZnO Nanocrystals with Hexagonal (Wurtzite) Structure in Water Using Microwave J.Sci.17(3):
231-234
Ibrahem Mohammed A, YuWei H, Tsai M-H, Ho K-C, Shyue J-J, Chu CW, 2013,
Solar Energy Materials & Solar Cells, Solution-processed zinc oxide nanoparticles as interlayer materials for inverted organic solar cells,
(108).156–163
Ilican S, Caglar Y, Caglar M. 2008. JOAM. Preparation and characterization of
ZnO thin films, deposited by sol-gel spin coating method, Vol. 10, No.
10.2578 – 2583
İnanç, A. Levent. 2011. Chlorophyll: Structural Properties, Health Benefits and Its Occurrence in Virgin Olive Oils,Akademik Gıda. 9(2) 2θ-32)
J. Xiaohui, F. Wei, V. Kittichungchit, H. Tetsuro, F. Akihiko dan O. Masanori. 2008. Fabrication of oriented ZnO nanopillar self-assemblies and their application for photovoltaic devices. Nanotechnology. Vol. 19. No.43.
0957-4484
Karami. Hassan, F. Elham. 2011. Synthesis and Characterization of ZnO Nanorods Based on a New Gel Pyrolysis Method. Hindawi Publishing CorporationJournal of Nanomaterials, (10).1155
Ketabi S A, Kazemi S A, Bagheri-Mohagheghi M M. 2011. The effect of complexing agent on the crystallization of ZnO nanoparticles. Pramana – J. Phys. Vol.77. No. 4,
Koca N, Karadeniz F., Burdurlu H.S. 2003. Effect of pH on chlorophyll degradation and colour loss in blanched green peas. Scientific Research Projects. 073
Khan ZR, Khan MS1, Zulfequar M, Khan MS2, 2011. MSA. Optical and Structural Properties of ZnO Thin Films Fabricated by Sol-Gel Method. (2)340-345
Kupper H, Kupper F, Spiller M. 1996. Environmental relevance of heavy metal- substituted chlorophylls using the example of water plants. J. Exp.Bot.
295(47), 259-266.
Liu Chueh-Yang, Chen Chia-Fu, Leu Jih-Perng, 2009. Fabrication and CO Sensing Properties of Mesostructured ZnO Gas Sensors. Journal of The Electrochemical Society. ECS.156-1-J16-J19
Lee Tao-Hua, Sue Hung-Jue dan Cheng Xing, 2011, Solid-state dye-sensitized solar cells based on ZnO nanoparticle and nanorod array hybrid photoanodes, Nanoscale Research Letters, (6):517