Pembatasan aktor adalah yang memiliki peranan sebagai pengambil keputusan atau yang memiliki kepentingan atau berada dalam lingkup kerja pengelolaan hasil hutan kayu dari hutan alam. Pembatasan pada lingkup sumberdaya yang menjadi kepentingan dari para aktor menjadi hal yang utama karena kerangka pikir ACF konsisten pada dasar telaah aktor pada jaringan kebijakan (policy network) yang dipelajari proses kebijakannya (sabatier 1998).
Analisa parameter ACF pada kebijakan sertifikasi PHPL
Parameter tetap bersama dengan parameter eksternal berpengaruh pada cara pandang aktor sehingga mengarah pada koalisi tertentu. Parameter tetap yang mempengaruhi cara poandang aktor adalah permasalahan dasar, distribusi dasar sumberdaya, struktur dan nilai dasarsosial, dan Peraturan yang berlaku.
Parameter eksternal dikenali melalui telaah diskursus pada teks kebijakan. Perubahan yang terjadi mengikuti pembagian periode waktu dinamika aturan sertifikasi PHPL. Parameter yang memiliki pengaruh terhadap cara pandang aktor terhadap suatu permasalahan adalah (1) Perubahan kondisi sosial ekonomi, (2) Perubahan opini publik, (3) Perubahan sistem koalisi pemerintahan, dan (4) Kebijakan politik dan pengaruh dari subsistem lain.
Dinamika parameter ACF pada telaah kebijakan sertifikasi PHPL adalah sebagaimana diuraikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Dinamika parameter ACF pada kebijakan sertifikasi PHPL
Parameter Tetap
1. Permasalahan dasar
Re-Investasi rendah akibat biaya transaksi yang tinggi, tumpang tindih kewenangan dalam penataan ruang dan tenurial yang diidentifikasi sebagai permasalahan utama IUPHHK Hutan Alam
2. Distribusi dasar sumberdaya
Perbedaan tujuan dalam pelaksanaan kebijakan sertifikasi PHPL akibat beda peran dan hubungan antar parapihak yang berkepentingan dan cara pandang terhadap permasalahan di hutan alam.
3. Struktur dan nilai dasar sosial
Kerusakan hutan akibat lemahnya tingkat kepatuhan atas kebijakan yang diberlakukan pada pengelolaan hutan alam. Dilihat melalui tingginya biaya transaksi kehutanan yang terjadi dalam implementasi kebijakan pendukung pengelolaan hutan
4. Peraturan yang berlaku
Perubahan proses sertifikasi PHPL yang menunjukan penguatan peran LSM dalam JPIK sebagi unsur masyarakat sipil dan upaya perbaikan tata kelola kehutanan.
Parameter eksternal 2000 - 2002 2002 - 2009 2009 - 2015 1. Perubahan kondisi sosial ekonomi Pemerintah sebagai regulator juga pelaksana sistem penilaian
Ketentuan penilaian dilakukan oleh pihak keriga (LPI) untuk menjaga obyektivitas penilaian
Keterlibatan masyarakat dalam wadah JPIK dalam mengawasi proses penilaian sertifikasi PHPL 2. Perubahan pada opini publik Sertifikasi PHPL sebagai bagian dari penilaian kinerja
Sertifikasi PHPL sebagai bagian dari penilaian kinerja dan pembinaan kinerja IUPHHK HutanAlam
Sertifikasi PHPL dilakukan secara
mandatory sebagai upaya pemenuhan permintaan pasar
Tabel 5 (Lanjutan)
Parameter Tetap
3. Perubahan pada sistem koalisi pemerintahan
Otonomi daerah dimana kewenangan diberikan penuh kepada
Pemerintah Daerah
Kebijakan regulasi atas sertifikasi kembali ke Pemerintah pusat dan dilaksanakan oleh pihak ketiga (LPI) yang di akreditasi oleh KAN
4. Kebijakan politik dan pengaruh dari subsistem lain
Kerjasama internasional dalam menghadapi isu lingkungan global
Tekanan dari pasar kayu internasional terhadap tata kelola kehutanan di Indonesia dan legalitas produk kayu. Ditindaklanjuti dalam bentuk perjanjian kerjasama yang mengikat.
Berdasarkan analisa parameter ACF baik tetap dan ekternal maka ditemukan bahwa arah kebijakan mengenai sertifikasi PHPL adalah :
1. Periode tahun 200 – 2002, Sertifikasi PHPL adalah instrument penilaian kinerja sebagai dasar perijinan IUPHHK Hutan Alam
2. Periode tahun 2002 –2009, Sertifikasi PHPL sebagai dasar pembinaan untuk perbaikan kinerja IUPHHK Hutan Alam
3. Periode tahun 2009 – 2015, Sertifikasi PHPL untuk membuka peluang pasar kayu Internasional melalui upaya pembuktian atas perbaikan tata kelola kehutanan
Analisa Aktor Pembentuk Koalisi
Analisa pada peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah dan hasil dari wawancara membagi para pihak yang berkepentingan (stake holders) dalam perumusan dan penetapan kebijakan aturan mewajibkan sertifikasi PHPL menjadi dua logika sistem yang dipercayai (beliefe system) yaitu kepatuhan dan nilai benda. Sebagaimana Sabatier dan Weible (2007) menjelaskan bahwa faktanya kerangka pikir ACF mengenal dua arah sistem logika yaitu (1) logika kepatuhan pada legal formal yang berlaku dan (2) logika konsekuensi atas sikap untuk memaksimalkan nilai benda.
Koalisi yang pertama (Koalisi A) adalah pihak atau aktor yang menggunakan sertifikasi dengan tujuan untuk menunjukan kepatuhan terhadap legal formal aturan yang berlaku pada pengelolaan hutan alam. Koalisi yang kedua (Koalisi B) adalah pihak atau aktor yang menggunakan sertifikasi dengan tujuan untuk memaksimalkan nilai sumberdaya. Nilai sumberdaya yang dimaksudkan dalam definisi koalisi B adalah peningkatan nilai kualitas ekologi, ekonomi kayu baik harga maupun peluang pasar, dan terjaganya kondisi sosial masyarakat sekitar Hutan Alam.
Berdasarkan hasil telaah atas perubahan aturan kebijakan pemerintah mengenai sertifikasi PHPL diperoleh gambaran atas pemikiran dari masing- masing aktor yang terlibat. Pola pemikiran para aktor tersebut dapat dibaca pada Tabel 6.
Tabel 6 Kecenderungan pemikiran penentu posisi koalisi aktor
Aktor Kecenderungan Pemikiran
Pemerintah Pusat Sebagai pembuat keputusan dan yang mengeluarkan kebijakan ditingkat pusat berdasarkan rekomendasi dari pemerintah daerah maka kecenderungan pemikiran dari aktor adalah bahwa UM IUPHHK wajib mengikuti peraturan yang ditetapkan untuk mendapatkan hasil yang baik. Peraturan yang dimaksud adalah semua peraturan yang mendukung kegiatan pengelolaan hutan. Pemerintah Daerah Aktor merupakan pelaksana keputusan pemerintah pusat atau yang memiliki kewenangan lebih tinggi. Memiliki kewenangan sebagai pembuat keputusan dan kebijakan tingkat daerah.Kecenderungan pemikiran adalah bahwa pelaksanaan sistem pengelolaan hutan alam harus seusai dan mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh
pemerintah pusat dan daerah. Lembaga Penilai
Independen
Sebagai pelaksana penilaian sertifikasi PHPL pada UM IUPHHK Hutan Alam, aktor harus mengikuti pedoman penilaian adalah peraturan tentang sertifikasi yang berlaku. Dasar bekerja aktor adalah menilai dengan titik berat penilaian lebih cenderung pada kelengkapan dokumen sesuai syarat administrasi yang diwajibkan pemerintah dan kesesuaian hasil pemeriksaan di lapangan dengan pembuktian dokumen terkait. Atas dasar tersebut maka kecenderungan pemikiran Aktor adalah bahwa UM IUPHHK yang secara administrasi mengikuti aturan yang ditetapkan
pemerintah pusat dan daerah maka dinilai telah bekerja sesuai kaidah PHPL.
FLEGT Aktor adalah fasilitator proses MOU VPA antara Uni
Eropa dan Indonesia terkait SVLK sebagai sistem sertifikasi kayu yang diakui pasar Internasional. Dalam bekerja lebih terfokus pada upaya ratifikasi aturan dan kebijakan pengelolaan hutan. Pemahaman aktor atas penilaian PHPL yang baik adalah kepatuhan UM IUPHHK terhadap peraturan pemerintah dan tata kelola kehutanan yang baik (good governance)
UM - IUPHHK Hutan Alam
Aktor adalah pelaksana kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan pengelola langsung sumberdaya hutan alam. Dalam bekerja aktor bertanggungjawab atas hasil dan dampak dari manajemen pengelolaan yang
diterapkan pada hutan alam. Dapat dikatakan sebagai pihak yang terkena dampak langsung atas adanya perubahan kebijakan. Sebagai pemilik bidang usaha aktor menginginkan adanya keuntungan atau
pertambahan nilai jual atas produk yang dihasilkan. Kelangsungan usaha yang lestari (Sustainable production) merupakan hal yang utama diupayakan.
Tabel 6 (Lanjutan)
Aktor Kecenderungan Pemikiran
JPIK Aktor adalah pelaksana kebijakan yang dikeluarkan oleh
pemerintah sebagai pemantau hasil kinerja pengelolaan hutan alam. Dalam bekerja bersifat independen dan memiliki posisi sebagai wakil masyarakat yang merupakan pihak yang terkena dampak langsung dari pelaksanaan kebijakan. Aktor merupakan pihak yang mengharapkan adanya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan dan keberlangsungan ekologi hutan untuk masyarakat.
Hasil Koalisi
Berdasarkan arah pemikiran para aktor yang terlibat dalam proses kebijakan sertifikasi PHPL maka sistem pemikiran aktor ini dapat dibagi ke dalam koalisi A dan Koalisi B. Pembagian koalisi adalah sebagaimana pada Tabel 7. Tabel7 Dinamika para pihak dalam koalisi
Aktor 2000 - 2002 2002 - 2009 2010 - 2015 Koalisi A 1. Pemerintah Pusat 2. Pemerintah Daerah 1. Pemerintah 2. Lembaga Penilai Independen 3. FLEGT 1. Pemerintah 2. Lembaga Penilai Independen 3. FLEGT Koalisi B 1. UM IUPHHK Hutan Alam 2. Masyarakat madani (perkembanga n selanjutnya tergabung dalam JPIK) 1. UM IUPHHK Hutan Alam 2. Jaringan pemantau Independen Kehutanan (JPIK) 1. UM IUPHHK Hutan Alam 2. Jaringan pemantau Independen Kehutanan (JPIK)
Dapat dilihat bahwa analisa dengan menggunakan kerangka pikir ACF menghasilkan arah sertifikasi PHPL mandatory lebih kepada pemenuhan kepatuhan terhadap peraturan yang dibuat oleh Pemerintah. Tujuan untuk memaksimalkan nilai kayu diinginkan hanya sebatas memperluas peluang pasar. Sementara itu tujuan untuk memaksimalkan nilai sumberdaya terutama peningkatan nilai kualitas ekologi Hutan Alam masih belum dapat dicapai.
Pada kenyatannya permasalahan yang terjadi pada pengelolaan hutan alam umumnya terjadi akibat permasalahan yang lebih mendasar. Masalah yang timbul akibat kepastian kawasan, permasalahan tenurial, dan konflik wewenang antara pusat dan daerah akan menghasilkan aturan kebijakan yang disinsentif bagi pelaksana kebijakan. Sebagai contohnya, proses alih fungsi areal hutan alam
menjadi areal hutan tanaman atau perkebunan yang tidak dibarengi dengan pengelolaan selanjutnya adalah fenomena lemahnya kebijakan penggunaan lahan nasional dan pelemahan aspek-aspek politik ekonomi (Kartodihardjo dan Supriono 2000).
Sebagai penyusun regulasi atau peraturan, Pemerintah terkendala akibat ketidaksiapan Pemerintah Daerah dalam menjalankan otonomi daerah yang kemudian menjadikan permasalahan terkait hutan alam produksi semakin besar. Penataan ruang yang masih belum pasti, bias wilayah administrasi dan bias antar sektor dengan kepentingannya masing-masing menimbulkan permasalahan tumpang tindih (Nurrochmat 2010). Konflik pengelolaan sumberdaya alam, contohnya kasus penambangan illegal di kawasan hutan adalah akibat dari posisi status kawasan sebagai state property tidak diikuti penguatan kelembagaan sehingga membentuk kelembagaan illegal (Kartodihardjo 2006).
Melihat kondisi yang kemudian timbul akibat tidak terintegrasinya peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah dan konflik yang terjadi atas kewenangan sumberdaya maka dapat dikatakan bahwa kepatuhan terhadap peraturan pemerintah sebagaimana disyaratkan dalam sertifikasi PHPL belum menunjukan adanya perbaikan tata kelola disektor kehutanan. Masih diberlakukan Peraturan Pemerintah yang bertentangan dengan konsep kelestarian hutan seperti diperbolehkannya ijin pertambangan di areal hutan produksi. Setelah melihat dampaknya secara menyeluruh maka pada akhirnya perlu dilakukan evaluasi atas kebijakan lingkungan yang dihasilkan oleh pemerintah.