• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 KEBIJAKAN SERTIFIKASI PHPL

Kriteria 4. Sosial Indikator

4.1. Luas dan batas yang jelas antara kawasan unit pengelolaan dengan kawasan masyarakat hukum adat dan atau masyarakat setempat dan telah mendapat persetujuan para pihak yang terkait.

4.2.Jenis dan jumlah perjanjian yang melibatkan masyarakat hukum adat dan atau masyarakat setempat dalam kesetaraan tanggung jawab pengelolaan bersama.

4.3. Ketersediaan mekanisme dan implementasi pendistribusian insentif yang efektif, serta pembagian biaya dan manfaat yang adil antara para pihak.

4.4. Perencanaan dan implementasi pengelolaan hutan telah mempertimbangkan hak masyarakat hukum adat dan masyarakat setempat.

4.5. Peningkatan peran serta masyarakat hukum adat dan masyarakat setempat yang aktivitas ekonominya berbasis hutan.

Pada Kriteria dan Indikator Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari sebagaimana Lampiran Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 4795/Kpts-II/2002 verifier atau tolak ukur pemenuhan nilai atas kriteria dan indikator merupakan hasil pertimbangan dari auditor dari masing-masing LPI. Perubahan yang kemudian dilakukan menurut sumber yang diwawancarai dari pihak LPI adalah untuk menghindari bias dan subyektifitas penilaian antar masing-masing Lembaga Penilai dan auditor penilai.

Tabel 4 Kriteria dan indikator penilaian sertifikasi PHPL sesuai Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan No P.5/VI-BPPHH/2014 Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan No P.5/VI-BPPHH/2014 Tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu

Indikator Alat Penilaian (Verifier)

PRASYARAT

1.1. Kepastian Kawasan Pemegang IUPHHK-HA

Ketersediaan Dokumen legal dan administrasi tata batas (PP/SK IUPHHK-HA, Pedoman TBT, Buku TBT, Peta TBT, BATB)

Realisasi tata batas dan legitimasinya (BATB) Pengakuan para pihak atas eksitensi areal IUPHHK kawasan hutan (BATB)

Tindakan pemegang izin dalam hal terdapat perubahan fungsi kawasan (Apabila tidak ada perubahan fungsi maka verifier ini menjadiNot Aplicable)

Penggunaan kawasan di luar sektor kehutanan (Apabila tidak ada penggunaan kawasan di luar sektor kehutanan maka verifier ini menjadiNot Aplicable)

1.2.Komitmen Pemegang IUPHHK-HA

Keberadaan dokumen visi, misi dan tujuan perusahaan yang sesuai dengan PHL Sosialisasi visi, misi dan tujuan perusahaan Kesesuaian visi, misi dengan implementasi PHL 1.3.Jumlah dan Kecukupan

Tenaga Profesional Bidang Kehutanan pada Seluruh Tingkatan untuk

Mendukung Pemanfaatan Implementasi Penelitian, Pendidikan dan Latihan

Keberadaan tenaga profesional bidang kehutanan (sarjana kehutanan dan tenaga teknis menengah kehutanan) di lapangan pada setiap bidang kegiatan pengelolaan hutan sesuai ketentuan yang berlaku

Peningkatan Kompetensi SDM

Ketersediaan dokumen ketenaga-kerjaan 1.4.Kepastian dan Mekanisme

untuk Perencanaan Pelaksanaan Pemantauan Periodik, Evaluasi dan Penyajian Umpan Balik Mengenai Kemajuan Pencapaian (Kegiatan) IUPHHK-HA

Kelengkapan unit kerja perusahaan dalam kerangka PHPL

Keberadaan perangkat Sistem Informasi Manajemen dan tenaga pelaksana Keberadaan SPI/internal auditor dan efektifitasnya

Keterlaksanaan tindak koreksi dan pencegahan manajemen berbasis hasil monitoring dan evaluasi

Tabel 4 (Lanjutan)

Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan No P.5/VI-BPPHH/2014 Tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu

1.5.Persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan (PADIATAPA)

Persetujuan rencana penebangan melalui peningkatan pemahaman, keterlibatan, pencatatan proses dan diseminasi isi kandungannya

Persetujuan dalam proses tata batas

Persetujuan dalam proses dan pelaksanaan CSR/CD

Persetujuan dalam proses penetapan kawasan lindung

PRODUKSI

2.1. Penataan areal kerja jangka panjang dalam pengelolaan hutan lestari

Keberadaan dokumen rencana jangka panjang (management plan)yang telah disetujui oleh pejabat yang berwenang

Kesesuaian implementasi penataan areal kerja di lapangan dengan rencana jangka panjang

Pemeliharaan batas blok dan petak / compartemen kerja

2.2. Tingkat pemanenan lestari untuk setiap jenis hasil hutan kayu utama dan nir kayu pada setiap tipe ekosistem

Terdapat data potensi tegakan per tipe ekosistem yang ada (berbasis IHMB/Survei Potensi, ITSP, Risalah Hutan)

Terdapat informasi tentang riap tegakan

Terdapat perhitungan internal/selfJTT berbasis data potensi/hasil inventarisasi dan kondisi kemampuan pertumbuhan tegakan

2.3. Pelaksanaan penerapan tahapan sistem silvikultur untuk menjamin regenerasi hutan

Ketersediaan SOP seluruh tahapan kegiatan sistem silvikutur

Implementasi SOP seluruh tahapan kegiatan sistem silvikultur

Tingkat kecukupan potensi tegakan sebelum masak tebang

Tingkat kecukupan potensi permudaan 2.4. Ketersediaan dan

penerapan teknologi ramah lingkungan untuk

pemanfaatan hasil hutan kayu

Ketersediaan prosedur pemanfaatan/pengelolaan hutan ramah lingkungan

Penerapan teknologi ramah lingkungan

Tingkat kerusakan tegakan tinggal minimal dan keterbukaan lahan

Tabel 4 (Lanjutan)

Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan No P.5/VI-BPPHH/2014 Tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu

2.5. Realisasi penebangan sesuai dengan rencana kerja penebangan/

pemanenan / pemanfaatan pada areal kerjanya

Keberadaan dokumen rencana kerja jangka pendek (RKT) yang disusun berdasarkan rencana kerja jangka panjang (RKU) dan disahkan sesuai peraturan yang berlaku (Dinas Propinsi,Self approval)

Kesesuaian peta kerja dalam rencana jangka pendek dengan rencana jangka panjang

Implementasi peta kerja berupa penandaan batas blok tebangan/dipanen/ dimanfaatkan/ditanam/ dipelihara beserta areal yang ditetapkan sebagai kawasan lindung (untuk konservasi/buffer zone/

pelestarian plasfa nutfah/ religi/ budaya/ sarana prasarana dan penelitian dan pengembangan) Kesesuaian lokasi, luas, kelompok jenis dan volume panen dengan dokumen rencana jangka pendek

2.6. Kesehatan finansial perusahaan dan tingkat investasi yang memadai dan memenuhi kebutuhan dalam pengelolaan hutan, administrasi, penelitian dan pengembangan, serta peningkatan kemampuan sumber daya manusia

Kondisi kesehatan finansial

Realisasi alokasi dana yang cukup berdasarkan laporan penatausahaan keuangan yang dibuat dengan Pedoman Pelaporan Keuangan

Pemanfaatan Hutan Produksi (yang telah diaudit oleh akuntan public)

Realisasi alokasi dana yang proporsional Realisasi Pendanaan yang lancar

Modal yang ditanakan (kembali) ke hutan Realisasi kegiatan fisik penanaman/ pembinaan hutan

EKOLOGI

3.1. Keberadaan, kemantapan dan kondisi kawasan dilindungi pada setiap tipe hutan

Luasan kawasan dilindungi

Penataan kawasan dilindungi (persentase yang telah ditandai, tanda batas dikenali)

Kondisi penutupan kawasan dilindungi Pengakuan para pihak terhadap kawasan dilindungi

Laporan pengelolaan kawasan lindung hasil tata ruang areal/land scapingsesuai RKL RPL dan/atau tata ruang yang ada di dalam RKU 3.2. Perlindungan dan

pengamanan hutan

Ketersediaan prosedur perlindungan yang sesuai dengan jenis-jenis gangguan yang ada

Sarana prasarana perlindungan gangguan hutan SDM perlindungan hutan

Implementasi perlindungan gangguan hutan (preemtif/ preventif/ refresif)

Tabel 4 (Lanjutan)

Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan No P.5/VI-BPPHH/2014 Tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu

3.3. Pengelolaan dan pemantauan dampak terhadap tanah dan air akibat pemanfaatan hutan

Ketersediaan prosedur pengelolaan dan pemantauan dampak terhadap tanah dan air Sarana pengelolan dan pemantauan dampak terhadap tanah dan air

SDM Pengelolaan dan pemantauan dampak terhadap tanah dan air

Rencana dan implementasi pngelolaan dampak terhadap tanah dan air (teknis sipil dan vegetatif) Rencana dan implementasi pemantauan dampak terhadap tanah dan air

Dampak terhadap tanah dan air 3.4. Identifikasi spesies flora

dan fauna yang dilindungi dan/ atau langka

(endangered), jarang (rare), terancam punah (threatened) dan endemik

Ketersediaan prosedur identifikasi flora dan fauna yang dilindungi dan/ atau langka, jarang, terancam punah dan endemik mengacu pada perundangan/ peraturan yang berlaku

Implementasi kegiatan identifikasi 3.5. Pengelolaan flora untuk :

1. Luasan tertentu dari hutan produksi tidak terganggu, dan bagian yang tidak rusak 2. Perlindungan terhadap

spesies flora dilindungi dan/ atau jarang,

langka, terancam punah dan endemik

Ketersediaan prosedur pengelolaan flora yang dilindungi mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku

Implementasi kegiatan pengelolaan flora sesuai dengan yang direncanakan

Kondisi spesies flora dilindungi dan/ atau jarang, langka, terancam punah dan endemik

1.1.Pengelolaan fauna untuk : 1. Luasan tertentu dari

hutan produksi yang tidak terganggu, dan bagian yang tidak rusak 2. Perlindungan terhadap

spesies fauna dilindungi dan/ atau jarang, langka, terancam punah dan endemik

Ketersediaan prosedur pengelolaan fauna yang dilindungi mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku, dan tercakup kegiatan

perencanaan, pelaksanaan, kegiatan dan pemantauan

Realisasi pelaksanaan kegiatan pengelolaan fauna sesuai dengan yang direncanakan Kondisi spesies fauna dilindungi dan/ atau jarang, langka, terancam punah dan endemik

Tabel 4 (Lanjutan)

Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan No P.5/VI-BPPHH/2014 Tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu

SOSIAL

4.1. Kejelasan deliniasi kawasan operasional perusahaan/ pemegang izin dengan kawasan masyarakat hukum adat dan/ atau masyarakat setempat

Ketersediaan dokumen / laporan mengenai pola penguasaan dan pemanfaatan SDA / SDH setempat, identifikasi hak-hak dasar masyarakat hukum adat dan / atau masyarakat setempat, dan rencana pemanfaatan SDH oleh pemegang ijin.

Tersedia mekanisme pembuatan batas / rekonstruksi batas kawasan secara partisipatif dan penyelesaian konflik batas kawasan Terseda mekanisme pengakuan hak-hak dasar masyarakat hukum adat dan masyarakat

setempat dalam perencanaan pemanfaatan SDH. Terdapat batas yang memisahkan secara tegas antara kawasan / areal kerja unit manajemen dengan kawasan kehidupan masyarakat Terdapat persetujuan para pihak atas luas dan batas areal kerja IUPHHK / HPH.

4.2. Implementasi tanggung jawab sosial perusahaan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku

Ketersediaan dokumen yang menyangkut tanggung jawab sosial pemegang ijin sesuai dengan peraturan perundangan yang relevan / berlaku.

Ketersediaan mekanisme pemenuhan kewajiban sosial pemegang ijin terhadap masyarakat. Kegiatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai hak dan kewajiban pemegang ijin terhadap masyarakat dalam mengelola SDH. Realisasi pemenuhan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat / implementasi hak-hak dasar masyarakat setempat dalam pengelolaan SDH.

Ketersediaan laporan / dokumen terkait pelaksanaan tanggung jawab sosial pemegang ijin termasuk ganti rugi

4.3. Ketersediaan mekanisme dan implementasi

distribusi manfaat yang adil antara para pihak

Ketersediaan data dan informasi masyarakat hukum adat dan/ atau masyarakat setempat yang terlibat, tergantug, terpengaruh oleh aktivitas pengelolaan SDH

Ketersediaan mekanisme peningkatan peran serta dan aktivitas ekonomi masyarakat hukum adat dan/ atau masyarakat setempat

Tabel 4 (Lanjutan)

Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan No P.5/VI-BPPHH/2014 Tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu

Keberadaan dokumen rencana pemegang izin mengenai kegiatan peningkatan peran serta dan aktivitas ekonomi setempat

Implementasi kegiatan peningkatan peran serta dan aktivitas ekonomi masyarakat hukum adat dan atau masyarakat setempat oleh emegang izin yang tepat sasaran

Keberadaan dokumen/ laporan mengenai pelaksanaan distribusi manfaat kepada para pihak

4.4. Keberadaan mekanisme resolusi konflik yang handal

Tersedianya mekanisme resolusi konflik Tersedianya peta konflik

Adanya kelembagaan resolusi konflik yang didukung oleh para pihak

Ketersediaan dokumen proses penyelesaian konflik yang pernah terjadi

4.5. Perlindungan , pengembangan dan

peningkatan kesejahteraan tenaga kerja

Adanya hubungan industrial

Adanya rencana dan realisasi pengembangan kompetensi tenaga kerja

Dokumen standar jenjang karir dan implementasinya

Adanya dokumen tunjangan kesejahteraan karyawan dan implementasinya

Bila dibandingkan antara standar pada tabel 3 dengan tabel 4 maka dapat dilihat bahwa standar yang digunakan sesuai Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan No P.5/VI-BPPHH/2014maka terlihat bahwa verifier yang disyaratkan menjadi lebih rinci dan mengikat. Pemenuhan terhadap penilaian kriteria dan indikator terukur berdasarkan bukti dokumen yang secara administratif mengikuti peraturan pemerintah yang mendukung kegiatan pengelolaan hutan. Atas hal tersebut maka UM IUPHHK Hutan Alam yang lulus penilaian sertifikasi tidak diragukan lagi legalitasnya.

Bila dilihat secara detail maka kriteria dan indikator dalam sertifikasi PHPL yang digunakan pada saat ini sangat rinci dan saling terkait serta mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Bila tidak hanya kepatuhan terhadap aturan (Compliance) namun juga terkonfirmasi dengan kondisi yang sesungguhnya di lapangan (Comfirmity) maka pemenuhan terhadap indikator dan verifier penilaian PHPL pada akhirnya menunjukan sistem kerja yang baik dan teratur. Dengan pemenuhan atas hasil akhir tersebut maka tujuan atas hutan yang lestari dapat tercapai.

Perkembangan Hasil Sertifikasi PHPL pada IUPHHK Hutan Alam Berdasarkan bedah kinerja yang dilaksanakan tahun 2016 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahwa sampai dengan tahun 2016 dari 262 IUPHHK Hutan Alam, dilaporkan 90 (34%) UM mendapat hasil Baik, 25 (9,5%) UM mendapat nilai sedang, sedang dalam proses 3 (1,1%) UM, dan 24 (9,1%)UM mendapat nilai buruk. Selain itu ada 34 (12,9%)UM IUPHHK Hutan Alam yang masa sertifikatnya sudah berakhir namun belum melakukan re- sertifikasi selebihnya 86 (32,8%) UM belum terdata dalam sistem sertifikasi. Perbandingan jumlah UM yang lulus sertifikasi ini menunjukan bahwa pelaksanaan sertifikasi sepenuhnya belum dapat dikatakan berhasil.

Sertifikasi bukanlah jalan keluar atas permasalahan rusaknya hutan Indonesia namun dapat menjadi indikator permasalahan dalam tata kelola kehutanan. Kelemahan dalam tatakelola kehutanan dapat terbaca dari tingkat pemenuhan kriteria dan indikator penilaian yang dilakukan oleh kebanyakan Unit Manajemen IUPHHK Hutan Alam. Salah satu kelemahan yang ditemukan dalam pemenuhan kriteria dan indikator adalah masalah dana yang dikembalikan lagi ke hutan (re-investasi). Keseluruhan hasil yang penilaian sertifikasi PHPL yang dilakukan pada tahun 2013 pada Unit Manajemen IUPHHK Hutan Alam di Kalimantan Tengah menunjukan hanya 2 dari 27 Unit Manajemen yang memiliki nilai baik pada indikator kesehatan finansial dan modal yang ditanamkan kembali1. Biaya transaksi yang tinggi ditemukan tejadi pada proses perijinan, perencanaan hutan, produksi, administrasi kehutanan, pengelolaan hutan secara keseluruhan dan implementasi yang dilakukan dari setiap kebijakan yang mendukung proses kegiatan pengelolaan hutan (Kartodihardjoet al2015).

Indikator lain yang menunjang baik atau tidaknya kinerja pengelolaan hutan oleh pemegang IUPHHK Hutan Alam adalah adanya kepastian kawasan yang diterima oleh para pihak. Keberadaan tatabatas yang telah temu gelang seharusnya menjadi hal yang utama sebelum dimulainya kegiatan pengelolaan hutan. Kenyataannya penataan batas pada IUPHHK Hutan Alamterkendala oleh ketidakjelasan penataan tata guna hutan dan lahan. Proses padu serasi Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dan Rencana tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) yang dilakukan secara top down tidak menyelesaikan masalah bahkan lebih memberikan dampak negatif kepada sosial ekonomi masyarakat (Kartodihardjo dan Supriono 2000).

Masalah lain adalah adanya konflik atas areal hutan yang terjadi akibat adanya permasalahan penataan ruang di sektor kehutanan.Permasalahantimbul akibat adanya kebutuhan sektor lain dan masyarakat terhadap lahan untuk perkebunan, transmigrasi, pertambangan dan pemukiman. Keluarnya PP no. 10 tahun 2010 mengenai tata cara perubahan peruntukan dan fungsi kawasan mewadahi perubahan pada kawasan hutan secara parsial melalui proses tukar menukar kawasan hutan dan pelepasan kawasan hutan (Nurrochmat 2010).

1

Rekapitulasi hasil penilaian sertifikasi PHPL yang dilakukan oleh penulis pada UM IUPHHK Hutan Alam provinsi Kalimantan Tengah tahun 2013

4 KOALISI DALAM PROSES KEBIJAKAN SERTIFIKASI

Dokumen terkait