• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.2 Hasil Penelitian

4.2.5 Implementasi Hubungan Pustakawan dengan Organisasi Profesi

pustakawan memiliki organisasi yaitu Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI).Organisasi IPI memberikan kesempatan kepada setiap pustakawan yang mau bergabung dan mengikuti setiap peraturan yang berada dalam sistem keorganisasian.

1. Pustakawan memiliki iuran keanggotaan secara disiplin

Setiap organisasi pasti memiliki iuran untuk mendukung dana untuk kegiatan-kegiatan yang diprogramkan IPI. Hal ini dibuktikan oleh jawaban lima orang informan di DPA-PROVSU, dimana jawaban semua informan tercantum dalam kutipan berikut ini:

“oh kalau itu rutin, wajib itu kami potong gaji kalau pustakawan disini 10 ribu perbulan. Namanya juga kita anggota wajib membayar iuran”

Dari pernyataan tersebut membuktikan bahwa pustakwan yang bekerja di DPA-PROVSU rutin membayar iuran keanggotaan seperti yang ditetapkan di AD/ART IPI.

2. Pustakawan harus aktif mengikuti kegiatan organisasi sesuai kemampuan dengan penuh rasa tanggung jawab supaya tercapai tujuan organisasi yang ikut serta dalam peningkatan pendidikan di Indonesia khususnya di bidang kepustakawanan.

Berikut jawaban-jawaban dari hasil wawancara dengan beberapa informan di DPA-PROVSU. Jawaban yang berikan I1 (KL) yang tercantum dalam kutipan berikut:

“oh iya aktif, sudah banyak yang saya ikuti kegiatannya. Karena tahun lalu kebetulan saya pernah jadi pengurus dalam organisasi IPI”.

Jawaban dari I2 (PS) dalam kutipan berikut ini:

“iya, saya selalu mengikuti kegiatan IPI karena itu sudah kewajiban saya sebagai anggota yang mengutamakan kedisiplinan”.

Jawaban dariI3 ( SR) dalam kutipan berikut ini:

“ kadang-kadang saya ikuti kalau tugas saya disini tidak terganggu dengan kegiatan itu, lagian saya sendiri pun bukan siapa-siapa dalam organisasi itu dek, cuma anggota biasa”.

Sedangkan jawaban dari I4( RM) dalam kutipannya adalah sebagai berikut:

“ya, didalam teorinya kan memang seperti itu, kita memang harus berusaha untuk selalu mengikuti. akan tetapi, tidak semua juga bisa ikuti karena kita sebagai pustakawan ASN (Aparatur Sipil Negara) yang terkadang ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan”.

Jawaban dari I5 (NF) dalam kutipan berikut:

“kalau tentang kegiatan IPI, saya kurang mengikuti dek. Palingan yang sering saya ikuti adalah kegiatan yang memang betul-betul melibatkan semua pustakawan”.

Dari beberapa jawaban informan diatas membuktikan bahwa masih ada pustakawan DPA-PROVSU yang tidak aktif mengikuti kegiatan yang dibuat organisasi profesi yaitu Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI.

Karena beberapa kendala yang dialami seperti: tugas yang harus diselesaikan di perpustakaan itu sendiri dan anggapan yang salah bahwa anggota biasa tidak memiliki keharusan dalam mengikuti kegiatan yang dibuat IPI.

3. Mengutamakan kepentingan organisasi diatas kepentingan pribadi.

Berikut ini adalah hasil wawancara dengan beberapa informan yang dicantumkan dalam kutipan berikut:

Jawaban dari I1 dalam kutipan berikut ini:

“Kalau saya sebagai ASN atau istilah dulu PNS itu wajib sebenarnya, gak tau ya kalau pustakawan yang ada di perpustakaan swasta.

Jawaban I2 dalam kutipan berikut :

“saya selalu berusaha mendahulukan kepentingan organisasi diatas kepentingan pribadi saya”.

Jawaban dari I3 dalam kutipan berikut:

“saya pasti berusaha dengan pernyataan tersebut”.

Sedangkan jawaban I4 tentang hal ini adalah sebagai berikut:

“yah , sebiasa mungkin dek. Tapi saya terkadang lebih memilih untuk mengerjakan tugas saya disini, dibandingkan mementingkan kepentingan organisasi.Karena saya kan kerja disini”.

Jawaban dari I5 dalam kutipan berikut ini :

“Untuk saya yang sudah bisa dibilang lansia, saya kurang memprioritaskan kepentingan organisasi”.

Dari jawaban informan yang tercantum dalam kutipan diatas, dapat diartikan bahwa sebagian besar pustakawan belum dapat menerapkan penyataan yang menuntut pustakawan untuk mengutamakan kepentingan organisasi dibandingkan kepentingan pribadi. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya pustakawan yang memprioritaskan kepentingan lembaga dimana dia bekerja dibandingkan organisasi dan faktor umur (lansia) 4.2.6 Implementasi Hubungan Pustakawan Dengan Masyarakat

Dalam mengembangkan kebudayaan masyarakat sekitarnya pustakawan sudah seharusnya ikut serta dan berupaya merealisasikan sehingga dapat memberikan kepercayaan dan dapat meningkatkan citra pustakawan.

1. Pustakawan bekerja sama dengan komunitas dan organisasi di kalangan

Jawaban I1 tentang hal ini sebagai berikut.

“Kalau ini konteksnya tentang saya pribadi, jadi karena saya kebetulan saya aktif di organisasi, saya juga mengikuti komunitas lain di luar perpustakaan, saya juga pernah jadi ketua majelis pustaka dan informasi di organisasi muhammadiyah. Contoh kegiatannya bisa dikatakan, memberi layanan jasa untuk mengelola perpustakaan masjid baik itu dalam pengadaan koleksi”.

Jawaban dari I2 sebagai berikut.

“Saya mengikuti salah satu komunitas taman baca di taman beringin, dan itu adalah komunitas kawan-kawan yang hobby koleksi buku.Jadi kami mencoba berbagi dengan orang yang berkunjung di taman beringin itu”.

Jawaban dari I3 sebagai berikut.

“Dulu ada yang saya ikuti komunitas diluar perpustakaan ini, seperti perpustakaan jalanan dengan bahan koleksi yang seadanya. Kami sering mengadakan hal itu di taman-taman kota. Dimana hal itu dapat menumbuhkan minat baca yang ada di tempat tersebut”.

Jawaban dari I4 sebagai berikut.

“Itu gak ada yang saya ikuti dek, karena kerjaan saya disini pun masih banyak yang mau diselesaikan”.

Dan jawaban dari I5 sebagai berikut.

“Kalau itu saya kurang mengikuti dek, karena umur saya sudah lumayan tua dek”.

Dari jawaban informan diatas pustakawan DPA-PROVSU telah menerapkan kode etik pustakawan mengenai keterlibatannya dalam komunitas dan organisasi di kalangan masyarakat walaupun masih ada yang kurang mampu menerapkannya karena faktor umur dan prinsip lebih mementingkan tugas dan kewajiban di DPA-PROVSU itu sendiri.

2. Pustakawan berupaya memberikan sumbangan dalam pengembangan kebudayaan di masyarakat.

Jawaban dari I1 sebagai berikut:

“Nah itu juga udah saya singgung tadi, kalau soal menyumbang atau memberikan bantuan berupa barang saya belum pernah, tapi kalau soal jasa kayaknya sudah banyak baik itu dalam mencari sumbangan ataupun mengembangkan sistem perpustakaan mesjid tadi”.

Jawaban dari I2 sebagai berikut:

“Kebetulan saya pribadi belum, tapi kalau dari komunitas sudah berupa sumbangan buku ke perpustakaan sekolah”.

Jawaban dari I3 sebagi berikut:

“Kalaubarang, saya belum pernah ya.Tapi kalau menyumbangkan jasa, saya pikir sudah banyak baik itu dalam pengelolaan perpustakaan sekolah, perpustakaan desa, maupun pelaksanaan sosialisasi seperti seminar di pedesaan terkait dengan kebutuhan informasi masyarakat sekitar”.

Jawaban dari I4 sebagai berikut:

“Tentu saja saya sudah memberikan sumbungan berupa jasa, namun untuk sumbangan berupa barang mungkin ada saja dalam bentuk yang kecil kalau untuk sumbangan yang besar saat ini belum ada”.

Dan jawaban I5 sebagai berikut:

“Kalau dibilang sumbangan jasa ya pastinya sudah, tetapi kalau sumbangan barang mungkin saat ini belum ada yang bisa saya sumbangkan”.

Dari beberapa pendapat yang diungkapkan oleh informan dapat disimpulkan bahwa pustakawan DPA-PROVSU sudah menerapkan kode etik pustakawan mengenai pemberian sumbangan barang atau jasa dalam pengembangan kebudayaan masyarakat.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan penelitian yang telah diuraikan pada Bab IV, maka penulis dapat menarik kesimpulan tentang implementasi kode etik pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara sebagai berikut:

a. Pada substansi sikap dasar pustakawan, pustakawan DPA-PROVSU telah menerapkan substansi dengan baik.

b. Pada substansi hubungan pustakawan dengan pengguna sudah diimplementasikan dengan baik.

c. Pada substansi hubungan antar pustakawan sudah diimplementasikan dengan baik.

d. Pada substansi hubungan pustakawan dengan perpustakaan sudah diimplementasikan dengan baik.

e. Pada substansi hubungan dengan organisasi profesi, kurang aktif dalam mengikuti kegiatan yang dibuat IPI. Karena anggapan, bahwa anggota biasa tidak perlu aktif dalam mengikuti kegiatan yang di programkan oleh IPI. Beberapa pustakawan juga kurang mampu dalam hal memprioritaskan kepentingan organisasi profesi (IPI) dikarenakan urusan pribadi.

f. Pada substansi hubungan pustakawan dengan masyarakat, dimana sebagian pustakawan tidak ingin mengikuti komunitas lain diluar

perpustakaan karena faktor usia dan kurang mampu membagi waktu untuk kepentingan lembaga dan kepentingan pribadi.

5.2 Saran

Setelah memberikan kesimpulan terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, maka peneliti dapat memberikan beberapa saran kepada Dinas Perpustakaan dan Arsip daerah Sumatera Utara (DPA-PROVSU) yaitu sebagai berikut:

1. Pustakawan hendaknya lebih aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang direncanakan organisasi profesi yaitu Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) baik itu berupa seminar, pelatihan dan kegiatan-kegiatan lainnya karena itu merupakan kewajiban setiap anggota organisasi.

2. Pustakawan hendaknya lebih aktif dalam mengadakan pendekatan terhadap masyarakat baik itu melalui program kerja perpustakaan maupun diluar program kerja perpustakaan misalnya: seminar, penyuluhan, lomba baca buku dan pemberian sumbangan buku ke perpustakaan desa atau kelurahan yang ada disekitar DPA-PROVSU. Dan hal itu, akan meningkatkan citra sebagai seorang pustakawan yang berkompetensi.

DAFTAR PUSTAKA

A. Charvis Zubair. 1995 . Kuliah Etika. Jakarta : PT. Raja Gravindo Persada.

Abdullah, M. Yatimin. 2006. Pengantar Studi Etika. Jakarta: PT.Raja GravindoPersada.

Basuki, Sulistyo. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Utama.

Ernawan, Erni R. 2007. Business Ethics. Bandung: Alfabeta.

Harold, Leonard Montague (1995). Harold’s Librarians Glossary and Reference Book. England: Gower Publishing Company Limited.

Hermawan, Rachman dan Zulfikar Zen,. 2006. Etika Kepustakawanan.

Jakarta:Sagung Seto.

Julia. 2013. Kode Etik Bidang Informasi dan Teknologi:

EtikaProfesi.<http://julia.staff.ipb.ac.id/kode-etik-bidang-information teknologietika-profesi /> diakses tanggal 10 Mei 2014.

Kamus Bisnis. 2014. Kode Etik.http://kamusbisnis.com/arti/kode-etik/

diaksestanggal 16 Mei 2014.

Koehn, Daryl. 2000. Landasan Etika Profesi. Yogyakarta: Kanisius.

Lasa,HS. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia.Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

Moleong J, Lexy. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Poedjawijatma, I. R. 2003. Etika Filsafat Tingkah Laku. Jakarta: Rineka Cipta Purwono . 2011. Perpustakaan dan Kepustakawanan Indonesia. Jakarta:

Universitas Terbuka.

Rindjin, Ketut. 2004. Etika Komunikasi Bisnis dan Implementasinya. Jakarta:

PT.Gramedia Pustaka Utama.

Salam, H Burhanuddin. 1997. H. Etika Sosial: Asas Moral Dalam KehidupanManusia. Jakarta: Rineka Cipta.

Soepardan, Suryani dan Hadi, Dadi Anwar. 2007. Etika Kebidanan dan HukumKesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Sudarsono, Blasius. 2006. Antologi Kepustakawanan Indonesia. Jakarta:

SagungSeto.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Sutarno, NS. 2003. Perpustakaan dan Masyrakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Suwarno, Wiji. 2010. Ilmu Perpustakaan & Kode Etik Pustakawan. Jogjakarta:

Ar-Russ Media.--- . 2010. Pengantar Dasar Kepustakaan. Bogor: Ghalia Indonesia.

Surat Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara No. 18 Tahun 1988tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya.

Surat Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara No. 33 Tahun 1990tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya.

Surat Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara No. 132 Tahun 2002tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya.

Tjitropranoto, Prabowo. Penelitian dan Sumber Daya Manusia dibidang Perpustakaan, Jurnal Perpustakaan Pertanian, IV (1), 1995; p.1

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan (LNRI Tahun 2007 No.129. TLN RI No.4774).

LAMPIRAN 1

PEDOMAN OBSERVASI

Dalam pengamatan (observasi) yang dilakukan adalah mengamati penerapan kode etik pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara meliputi:

A. Tujuan

Untuk memperoleh informasi dan data mengenai penerapan kode etik pustakawan pada DPA-PROVSU.

B. Aspek yang diamati :

1. Alamat/lokasi lembaga.

2. Lingkungan fisik lembaga pada umumnya.

3. Suasana kehidupan sehari-haribaik secara akademik maupun sosial.

4. Proses kegiatan yang dilakukan oleh pustakawansesuai dengan tugas masing-masing.

5. Siapa saja yang berperan dalam penerapan kode etik pustakawan.

Lampiran 2

PEDOMAN WAWANCARA

Daftar kisi-kisi pertanyaan wawancara sebagai berikut : 1. Sikap Dasar Pustakawan

a. Bagaimana cara anda untuk mempertahankan serta meningkatkan keunggulan kompetensi atau keahlian seiring dengan perkembangan IPTEK ?

b. Bagaimana cara anda membedakan kepentingan pribadi dalam sehari-hari dan tugas profesi sebagai pustakawan ?

c. Bagaimana cara anda untuk menjamin bahwa tindakan dan keputusan yang anda ambil sudah merupakan pertimbangan yang profesional?

d. Bagaimana cara anda untuk menghindari hal-hal yang bersifat penyalahgunaan posisi untuk mengambil keuntungan sendiri.

e. Apa yang harus anda lakukan untuk mengupayakan bersikap sopan dan bijaksana dalam melayani pengguna, baik itu ucapan maupun perbuatan?

2. Hubungan dengan Pengguna

a. Apa yang anda lakukan untuk selalu menjunjung tinggi hak perorangan atas informasi?

b. Bagaimana cara anda untuk melindungi hak privasi pengguna dan kerahasiaan menyangkut informasi yang dicari?

c. Apa yang sudah anda lakukan terkait hak milik intelektual pada suatu karya atau koleksi perpustakaan lainnya?

3. Hubungan Antar-Pustakawan

a. Apa yang sudah anda lakukan untuk mencapai keunggulan dalam profesi yang dapat diartikan sebagai kompetensi personal ?

b. Kegiatan apa yang sudah anda ikuti atau laksanakan untuk menunjukkan suatu kerjasama antar pustakwan di DPA Provinsi Sumatera Utara ? c. Bagaimana cara anda untuk memelihara dalam menjalin hubungan kerja

sama yang baik antar sesama rekan?

d. Apa upaya anda untuk menjaga nama baik dan martabat rekan pustakawan,baik di dalam maupun di luar kedinasan?

4. Hubungan Pustakawan dengan Perpustakaan

a. Bagaimana pandangan anda terhadap perumusan kebijakan perpustakaan menyangkut kegiatan jasa pustakawan?

b. Apa upaya yang anda lakukan untuk membantu dan mengembangkan pemahaman serta kerja sama dengan semua jenis perpustakaan?

5. Hubungan Pustakawan dengan Organisasi Profesi

a. Apakah anda membayar secara rutin iuran keanggotaan secara rutin seperti yang telah di tetapkan di ADRT IPI ?

b. Apakah anda aktif mengikuti kegiatan IPI sebagai organisasi profesi ? c. Apakah anda selalu mengutamakan kepentingan organisasi di atas

kepentingan pribadi?

6. Hubungan Pustakawan dengan Masyarakat

a. Adakah komunitas lain yang anda ikuti dari luar perpustakaan yang sesuai dengan tujuan perpustakaan ?

b. Apakah anda sudah pernah memberikan sumbangan barang atau jasa dalam pengembangan kebudayaan di kalangan masyarakat ?