• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

B. Data Penelitian

4. Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi R Square (R2 = Koefisien determinasi) menunjukkan seberapa besar variabel independen menjelaskan variabel dependennya. Nilai R Square (R2 ) berada diantara 0 dan 1. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel independen dalam menerangkan variasi variabel dependen sangat terbatas. Sedangkan apabila R2 nilai semakin mendekati satu, maka variabel-variabel independen dapat memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Dari hasil pengolahan regresi berganda pada tabel 4.5, dapat diketahui bahwa nilai R adalah 0,547 atau 54,7% yang berarti bahwa korelasi atau hubungan antara variabel Kredit Modal Kerja dengan variabel independennya (CR, QR, TATO, DTAR, NPM) tidak kuat. Defenisi korelasi ini tidak kuat didasarkan pada nilai R yang berada dibawah 0.5.

Angka koefisien determinasi menunjukkan bahwa variabel independen CR, QR, TATO, DTAR, NPM, hanya mampu menjelaskan 54,7% perubahan KMK. Sisanya sebesar 45,3% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model regresi pada penelitian ini.

Tabel 4.5

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .547 a .322 .118 .20282 2.498 a. Predictors: (Constant), Net Profit Margin, Quick Ratio, Total Asset Turnover, Debt Total Assets Ratio, Current Ratio

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .547 a .322 .118 .20282 2.498 b. Dependent Variable: Kredit Modal

Kerja

Sumber : diolah dengan SPSS, 2011

5. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis yang akan dilakukan didahului oleh analisis regresi. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda untuk pengujian statistiknya. Model regresi berganda yang akan diuji dapat dilihat berikut ini.

Y = α + β1x1+ β2x2 + β3x3+ β4x4+ β55 + e Keterangan :

Y = Kredit Modal Kerja (KMK) X1 = Current Ratio (CR)

X2 = Quick Ratio (QR)

X3 = Total Asset Turnover (TATO) X4 = Debt To Total Asset Ratio (DTAR) X5 = Net Profit Margin (NPM)

α = Konstanta

β1, β2, β3, β4, β5 = Koefisien regresi yang menunjukkan angka peningkatan atau penurunan variabel dependen berdasarkan pada variabel independen

Tabel 4.6 Koeefisien Regresi Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardiz ed Coefficient s t Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleran ce VIF 1 (Constant) 8.265 .189 43.8 09 .000 Current Ratio .467 .751 .806 .622 .538 .017 60.0 12 Quick Ratio .415 .745 .912 .705 .485 .017 59.8 40 Total Asset Turn Over -.003 .115 -.005

-.022

.982 .647 1.54 5 Debt To Total Asset

Ratio

-.017 .093 -.044 -.183

.856 .484 2.06 8 Net Profit Margin .343 .669 .654 .557 .399 .013 47.5

91 a. Dependent Variable: Kredit Modal Kerja

Sumber : diolah dengan SPSS, 2011 Persamaan regresi :

KMK = 8.265 + 0.467 CR + 0.415 QR – 0.003 TATO - 0.17 DTAR + 0.343 NPM + e

Interpretasi model :

1) α = 8.265, nilai konstanta ini menunjukkan bahwa dengan tidak adanya

rasio-rasio keuangan berupa current ratio, quick ratio, total asset turnover,

debt to total asset ratio, dan net profit margin maka pemberian kredit akan meningkat sebesar 8.265%;

2) β1=0.467, koefisien regresi ini menunjukkan bahwa setiap penambahan (karena tanda +) 1% CR akan meningkatkan pemberian kredit sebesar 0.467 %;

3) β2 =0.415, koefisien regresi ini menunjukkan bahwa setiap penambahan 1% QR akan meningkatkan pemberian kredit melalui kebutuhan modal kerja debitur sebesar 0.415 %;

4) β3 =-0.003, koefisien regresi ini menunjukkan bahwa setiap perubahan 1% TATO akan menurunkan pemberian kredit sebesar 0.003 %;

5) β4 = 0.17, koefisien regresi ini menunjukkan bahwa setiap perubahan 1% DTAR akan meningkatkan pemberian kredit sebesar 0.17 %;

6) β5 = 0.343, koefisien regresi ini menunjukkan bahwa setiap penambahan 1% NPM akan meningkatkan pemberian kredit sebesar 0.343%;

Pengujian hipotesis dilakukan setelah analisis regresi dengan tujuan untuk menguji variabel independen dalam model regresi berpengaruh atau tidak terhadap variabel dependen. Hipotesis yang dikemukakan untuk penelitian ini diatur sebagai berikut.

H0 : CR, QR, TATO, DTAR, NPM debitur tidak berpengaruh terhadap penyaluran Kredit Modal Kerja baik secara parsial maupun secara simultan.

H1 : CR, QR, TATO, DTAR, NPM debitur berpengaruh terhadap penyaluran Kredit Modal Kerja baik secara parsial maupun secara simultan.

Hipotesis yang menguji pengaruh CR, QR, TATO, DTAR, dan NPM terhadap penyaluran KMK baik secara parsial maupun simultan dijelaskan melalui uji t dan uji F berikut ini.

a. Uji statistik t

Uji signifikansi parsial dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.7 Uji Statistik t Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardiz ed Coefficient s t Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleran ce VIF 1 (Constant) 8.265 .189 43.8 09 .000 Current Ratio .467 .751 .806 .622 .538 .017 60.0 12 Quick Ratio .415 .745 .912 .705 .485 .017 59.8 40 Total Asset Turn Over -.003 .115 -.005

-.022

.982 .647 1.54 5 Debt To Total Asset

Ratio

-.017 .093 -.044 -.183

.856 .484 2.06 8 Net Profit Margin .343 .669 .654 .557 .399 .013 47.5

91 a. Dependent Variable: Kredit Modal Kerja

Sumber : diolah dengan SPSS, 2011

1) Pengaruh kondisi likuiditas terhadap pemberian kredit

Berdasarkan teori rasio likuiditas, rasio ini berguna untuk mengetahui berapa kemampuan perusahaan dalam melunasi utang-utang jangka pendek yang jatuh tempo dengan aktiva jangka pendek yang dimilikinya

(Veithzal dan Andria, 2007:350). Kondisi likuiditas debitur dalam penelitian ini diwakili oleh Current Ratio (CR) dan Quick Ratio (QR). Berdasarkan tabel 4.7, variabel CR (X1) diperoleh p-value sebesar 0,538 (> 0,05) dan hasil t tabel untuk TINV (0,05;41) adalah 2,000. Nilai t hitung < t tabel (0.622 < 2,000). Hal ini mengindikasikan H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti bahwa CR tidak berpengaruh terhadap penyaluran KMK secara parsial. Berdasarkan tabel 4.7, variabel QR (X2) diperoleh p-value sebesar 0,485 (>0.05) dan hasil t tabel untuk TINV (0,05;41) adalah 2,000. Nilai t hitung < t tabel (0.705 < 2,0000). Hal ini mengindikasikan H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti bahwa QR tidak berpengaruh terhadap penyaluran KMK secara parsial.

2) Pengaruh kondisi aktivitas terhadap pemberian kredit

Berdasarkan teori rasio aktivitas, rasio ini berguna untuk mengetahui kemampuan bisnis perbankan itu dalam memanfaatkan aktiva yang dimilikinya, serta mengukur sampai seberapa besar efektivitas organisasi bisnis perbankan dalam mengelola sumber-sumber dananya (Sastradipoera, 2004:175). Kondisi likuiditas debitur dalam penelitian ini diwakili oleh Total Asset Turnove (TATO).

Berdasarkan tabel 4,7, variabel TATO (X3) diperoleh p-value sebesar 0.982 (>0.05) dan hasil t tabel untuk TINV (0,05;41) adalah 2,000. Nilai t hitung < t tabel (-0,022 < 2,000). Hal ini mengindikasikan H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti bahwa TATO tidak berpengaruh terhadap penyaluran KMK secara parsial.

3) Pengaruh kondisi leverage terhadap pemberian kredit

Rasio ini berguna untuk mengetahui kemampuan suatu perusahaan dalam melunasi kewajibannya bilamana perusahaan tersebut dilikuidasikan, dan juga berguna untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh utang-utangnya (Sastradipoera, 2004:175). Kondisi leverage perusahaan diwakili oleh variabel Debt to Total Assets Ratio

(DTAR).

Berdasarkan tabel 4.7, variabel DTAR (X4) diperoleh p-value sebesar 0.856 (> 0.05) dan hasil t tabel untuk TINV (0,05;41) adalah 2,000. Nilai t hitung < t tabel (-0,183 < 2,000). Hal ini mengindikasikan H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti bahwa DTAR tidak berpengaruh terhadap penyaluran KMK secara parsial.

4) Pengaruh kondisi profitabilitas terhadap pemberian kredit

Rasio ini berguna untuk mengetahui kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dari berbagai sumber yang dimilikinya, juga mengetahui hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan manajemen bisnis perbankan. (Sastradipoera, 2004:176). Kondisi profitabilitas perusahaan diwakili oleh variable Net Profit Margin

(NPM).

Berdasarkan tabel 4.7, variabel NPM (X5) diperoleh p-value 0.399 (< 0.05) dan hasil t tabel untuk TINV (0,05;41) adalah 2.000. Nilai t hitung > t tabel (0,557 > 2.000). Hal ini mengindikasikan H1 diterima dan H0

ditolak yang berarti bahwa NPM berpengaruh terhadap pemberian KMK secara parsial.

b. Uji statistik F

Uji F bertujuan untuk menguji pengaruh DTAR, QR, NPM, ROI secara simultan terhadap KMK yang dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut ini.

Tabel 4.8 Uji Statistik F

ANOVAb

Model

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression .032 5 .006 .155 .977a

Residual 1.440 35 .041

Total 1.472 40

a. Predictors: (Constant), Net Profit Margin, Quick Ratio, Total Asset Turnover, Debt Total Assets Ratio, Current Ratio

b. Dependent Variable: Kredit Modal Kerja Sumber : diolah dengan SPSS, 2010

Berikut ini ketentuan untuk menolak atau menerima hipotesis di atas. 1) Perbandingan F hitung dengan F tabel (α ; k-1; n-k)

Jika statistik F hitung > F tabel, maka H0 ditolak dan H1 dterima. Jika statistik F hitung < F tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. 2) Nilai probabilitas (tingkat signifikansi)

Jika probabilitas < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 dterima. Jika probabilitas > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak.

Hasil uji F dalam tabel Anova, menunjukkan nilai F hitung sebesar 0.155 dan nilai signifikansi sebesar 0,977 (>0,05). Nilai F hitung tersebut akan dibandingkan dengan nilai F tabel yang diperoleh melalui fungsi FINV pada

Microsoft Excel. Hasilnya diketahui bahwa nilai F tabel untuk FINV adalah 2.620654. Nilai F hitung < F tabel (0.977 < 2.620654). Kesimpulan : H1 ditolak dan Ho dterima, berarti variabel CR, QR, TATO, DTAR, NPM secara simultan tidak berpengaruh terhadap penyaluran KMK.

Dokumen terkait