BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
4.9 Goodness of Fit
4.9.1 Koefisien Determinasi (R 2 )
Uji determinasi (R2) dilakukan untuk mengukur seberapa besar kemampuan variabel independen dalam menjelaskan varians dari variabel dependen. Jika R2 semakin mendekati 1 menunjukkan peranan variabel independen terhadap variabel dependennya semakin besar, sebaliknya jika R2 semakin mendekati 0 menunjukkan peranan variabel independen terhadap variabel dependennya semakin kecil.
4.9.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F)
Uji F digunakan untuk menguji tingkat pengaruh variabel independen secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen. Apabila p-value statistik uji F < 0,05 maka secara bersama-sama terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen.
4.9.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)
Uji t digunakan untuk menguji tingkat signifikansi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Jika p-value < 0,05 maka variabel independen secara individu mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.1 Analisis Statistik Deskriptif
Hasil statistik deskriptif memberikan gambaran secara keseluruhan atas variabel penelitian yaitu struktur modal (DER), profitabilitas (ROA), kebijakan dividen (DPR) dan nilai intrinsik perusahaan mengenai nilai minimum, maksimum, rata-rata (mean) serta standar deviasi. Statistik deskriptif dari masing-masing variabel penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.1
Tabel 5.1 Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
DER 51 ,0577 2,7368 ,951302 ,6756746
ROA 51 -,0634 ,2743 ,067100 ,0642260
DPR 51 ,0000 ,7776 ,122855 ,1771354
NILAI.INTRINSIK.
PERUSAHAAN 51 30,00 18398,00 4702,6275 4813,78826
Valid N (listwise) 51
Sumber : hasil penelitian, 2017 (data diolah) 5.1.1.2 Struktur Modal
Struktur modal yang diukur dengan debt to equity ratio (DER) merupakan perbandingan antara total utang terhadap total ekuitas. Berdasarkan Tabel 5.1, struktur modal pada perusahaan sektor properti menujukkan nilai rata-rata sebesar 0,951 dengan standar deviasi sebesar 0,676. Nilai rata-rata yang lebih besar dibandingkan standar deviasi mengindikasikan bahwa sebaran data yang baik.
Nilai minimum DER sebesar 0,057 dan nilai maksimumnya sebesar 2,737.
Perusahaan yang memiliki nilai DER paling kecil adalah perusahaan Lippo Cikarang Tbk., sedangkan perusahaan yang memiliki nilai DER terbesar adalah perusahaan Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. Rasio DER yang lebih besar dari 1 berarti komposisi total utang yang lebih besar dibandingkan total modal sendiri sehingga ketergantungan sumber pendanaan dari pihak luar akan semakin besar.
Tabel 5.2 Rasio Struktur Modal
No. KODE PERUSAHAAN DER
6 BEST Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk 0,522 7 BIPP Bhuwanatala Indah Permai Tbk 0,232
8 BKSL Sentul City Tbk 0,702
9 BSDE Bumi Serpong Damai Tbk 0,630
10 COWL Cowell Development Tbk 2,015
11 CTRA Ciputra Development Tbk 1,012
12 CTRP Ciputra Property Tbk 0,876
13 CTRS Ciputra Surya Tbk 0,911
14 DART Duta Anggada Realty Tbk 0,674
15 DGIK Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk 0,932
16 DILD Intiland Development Tbk 1,157
17 DMAS Puradelta Lestari Tbk 0,118
18 DUTI Duta Pertiwi Tbk 0,320
19 ELTY Bakrieland Development Tbk 1,201 20 EMDE Megapolitan Developments Tbk 0,812 21 FMII Fortune Mate Indonesia Tbk 0,312
22 GAMA Gading Development Tbk 0,219
23 GMTD Gowa Makassar Tourism Development Tbk 1,299
24 GPRA Perdana Gapuraprima Tbk 0,662
25 IDPR Indonesia Pondasi Raya Tbk 0,392 26 JKON Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk 0,943
27 JRPT Jaya Real Property Tbk 0,830
No. KODE PERUSAHAAN DER
29 KPIG MNC Land Tbk 0,254
30 LAMI Lamicitra Nusantara Tbk 0,161
31 LCGP Eureka Prima Jakarta Tbk 0,058
32 LPCK Lippo Cikarang Tbk 0,507
33 LPKR Lippo Karawaci Tbk 1,185
34 MDLN Modernland Realty Tbk 1,120
35 MKPI Metropolitan Kentjana Tbk 1,018
36 MTLA Metropolitan Land Tbk 0,636
37 NIRO Nirvana Development Tbk 0,139
38 NRCA Nusa Raya Cipta Tbk 0,836
39 PLIN Plaza Indonesia Realty Tbk 0,941
40 PPRO PP Properti Tbk 1,113
41 PTPP Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk 2,737
42 PWON Pakuwon Jati Tbk 0,986
43 RDTX Roda Vivatex Tbk 0,178
44 RODA Pikko Land Development Tbk 0,289
45 SCBD Danayasa Arthatama Tbk. 0,473
46 SMDM Suryamas Dutamakmur Tbk 0,286
47 SMRA Summarecon Agung Tbk 1,491
48 SSIA Surya Semesta Internusa Tbk 0,936
49 TOTL Total Bangun Persada Tbk 2,285
50 WIKA Wijaya Karya (Persero) Tbk 2,605 51 WSKT Waskita Karya (Persero) Tbk 2,123 Sumber : hasil penelitian, 2017 (data diolah)
5.1.1.2 Profitabilitas
Profitabilitas yang menggunakan rasio return on asset (ROA) diperoleh dari pembagian laba bersih dengan total aset. Pada Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata variabel ROA adalah 0,067 dengan standar deviasi 0,064. Nilai minimun variabel ROA adalah -0,063 dan nilai maksimumnya yaitu 0,274.
Perusahaan yang menghasilkan nilai ROA terkecil adalah perusahaan Bakrieland Development Tbk dengan nilai minus yang menunjukkan perusahaan mengalami kerugian, sedangkan perusahaan yang memiliki nilai ROA terbesar adalah perusahaan Fortune Mate Indonesia Tbk. Nilai ROA yang besar mengindikasikan
bahwa perusahaan mampu menggunakan aset-aset yang dimiliki secara efektif sehingga menghasilkan laba yang besar.
Tabel 5.3 Rasio Profitablitas
6 BEST Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk 0,046 7 BIPP Bhuwanatala Indah Permai Tbk 0,093
8 BKSL Sentul City Tbk 0,006
9 BSDE Bumi Serpong Damai Tbk 0,065
10 COWL Cowell Development Tbk -0,049
11 CTRA Ciputra Development Tbk 0,067
12 CTRP Ciputra Property Tbk 0,037
13 CTRS Ciputra Surya Tbk 0,094
14 DART Duta Anggada Realty Tbk 0,031
15 DGIK Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk 0,004
16 DILD Intiland Development Tbk 0,041
17 DMAS Puradelta Lestari Tbk 0,171
18 DUTI Duta Pertiwi Tbk 0,075
19 ELTY Bakrieland Development Tbk -0,063 20 EMDE Megapolitan Developments Tbk 0,051 21 FMII Fortune Mate Indonesia Tbk 0,274
22 GAMA Gading Development Tbk 0,004
23 GMTD Gowa Makassar Tourism Development Tbk 0,094
24 GPRA Perdana Gapuraprima Tbk 0,048
25 IDPR Indonesia Pondasi Raya Tbk 0,164 26 JKON Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk 0,066
27 JRPT Jaya Real Property Tbk 0,115
28 KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk 0,036
29 KPIG MNC Land Tbk 0,022
30 LAMI Lamicitra Nusantara Tbk 0,241
31 LCGP Eureka Prima Jakarta Tbk 0,000
32 LPCK Lippo Cikarang Tbk 0,162
33 LPKR Lippo Karawaci Tbk 0,015
34 MDLN Modernland Realty Tbk 0,068
No. KODE PERUSAHAAN ROA
36 MTLA Metropolitan Land Tbk 0,066
37 NIRO Nirvana Development Tbk -0,009
38 NRCA Nusa Raya Cipta Tbk 0,096
39 PLIN Plaza Indonesia Realty Tbk 0,062
40 PPRO PP Properti Tbk 0,120
41 PTPP Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk 0,107
42 PWON Pakuwon Jati Tbk 0,075
43 RDTX Roda Vivatex Tbk 0,139
44 RODA Pikko Land Development Tbk 0,148
45 SCBD Danayasa Arthatama Tbk. 0,029
46 SMDM Suryamas Dutamakmur Tbk 0,022
47 SMRA Summarecon Agung Tbk 0,058
48 SSIA Surya Semesta Internusa Tbk 0,057
49 TOTL Total Bangun Persada Tbk 0,065
50 WIKA Wijaya Karya (Persero) Tbk 0,036 51 WSKT Waskita Karya (Persero) Tbk 0,052 Sumber : hasil penelitian, 2017 (data diolah)
5.1.1.3 Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen pada penelitian ini diukur dengan perbandingan dividen per lembar saham terhadap laba per lembar saham. Variabel kebijakan dividen diukur menggunakan DPR. Berdasarkan Tabel 5.1 nilai rata-rata variabel DPR adalah 0,123 dengan standar deviasi 0,177. Nilai minimum variabel DPR adalah 0,000 dengan nilai maksimumnya 0,777. Hasil nilai minimun dengan angka nol menunjukkan perusahaan tidak membagikan dividen. Perusahaan yang memiliki nilai DPR terbesar adalah perusahaan Puradelta Lestari Tbk, hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan mampu membagikan hampir 80% dari laba yang diperoleh dalam bentuk dividen.
Tabel 5.4 Rasio Kebijakan Dividen
No. KODE PERUSAHAAN DPR
1 ACST Acset Indonusa Tbk 0,399
2 ADHI Adhi Karya (Persero) Tbk 0,128
No. KODE PERUSAHAAN DPR
3 APLN Agung Podomoro Land Tbk 0,000
4 ASRI Alam Sutera Realty Tbk 0,000
5 BAPA Bekasi Asri Pemula Tbk 0,000
6 BEST Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk 0,056 7 BIPP Bhuwanatala Indah Permai Tbk 0,000
8 BKSL Sentul City Tbk 0,000
9 BSDE Bumi Serpong Damai Tbk 0,044
10 COWL Cowell Development Tbk 0,000
11 CTRA Ciputra Development Tbk 0,071
12 CTRP Ciputra Property Tbk 0,074
13 CTRS Ciputra Surya Tbk 0,074
14 DART Duta Anggada Realty Tbk 0,000
15 DGIK Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk 0,000
16 DILD Intiland Development Tbk 0,128
17 DMAS Puradelta Lestari Tbk 0,778
18 DUTI Duta Pertiwi Tbk 0,000
19 ELTY Bakrieland Development Tbk 0,000 20 EMDE Megapolitan Developments Tbk 0,111 21 FMII Fortune Mate Indonesia Tbk 0,000
22 GAMA Gading Development Tbk 0,000
23 GMTD Gowa Makassar Tourism Development Tbk 0,038
24 GPRA Perdana Gapuraprima Tbk 0,237
25 IDPR Indonesia Pondasi Raya Tbk 0,020 26 JKON Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk 0,314
27 JRPT Jaya Real Property Tbk 0,323
28 KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk 0,000
29 KPIG MNC Land Tbk 0,179
30 LAMI Lamicitra Nusantara Tbk 0,000
31 LCGP Eureka Prima Jakarta Tbk 0,000
32 LPCK Lippo Cikarang Tbk 0,000
33 LPKR Lippo Karawaci Tbk 0,149
34 MDLN Modernland Realty Tbk 0,000
35 MKPI Metropolitan Kentjana Tbk 0,347
36 MTLA Metropolitan Land Tbk 0,114
37 NIRO Nirvana Development Tbk 0,000
38 NRCA Nusa Raya Cipta Tbk 0,200
39 PLIN Plaza Indonesia Realty Tbk 0,561
40 PPRO PP Properti Tbk 0,153
41 PTPP Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk 0,200
No. KODE PERUSAHAAN DPR
43 RDTX Roda Vivatex Tbk 0,078
44 RODA Pikko Land Development Tbk 0,000
45 SCBD Danayasa Arthatama Tbk. 0,000
46 SMDM Suryamas Dutamakmur Tbk 0,000
47 SMRA Summarecon Agung Tbk 0,084
48 SSIA Surya Semesta Internusa Tbk 0,150
49 TOTL Total Bangun Persada Tbk 0,713
50 WIKA Wijaya Karya (Persero) Tbk 0,200 51 WSKT Waskita Karya (Persero) Tbk 0,171 Sumber : hasil penelitian, 2017 (data diolah)
5.1.1.3 Nilai Intrinsik Perusahaan
Dalam memperoleh nilai intrinsik perusahaan maka digunakan Free Cash Flow to Firm (FCFF) yang merupakan arus kas bersih perusahaan yang didiskontokan pada tingkat biaya modal rata tertimbang. Berdasarkan Tabel 5.1 nilai rata-rata dari variabel nilai intrinsik perusahaan adalah 4702,62 dengan nilai standar deviasi sebesar 4813,78. Nilai minimum dari nilai intrinsik perusahaan diperoleh perusahaan Eureka Prima Jakarta Tbk dengan nilai 30 milyar rupiah, sedangkan nilai maksimum diperoleh perusahaan Pakuwon Jati Tbk sebesar 18.398 milyar rupiah.
Tabel 5.5 Nilai Intrinsik Perusahaan (dalam Milyar Rupiah)
No. KODE PERUSAHAAN Nilai Intrinsik
Perusahaan
1 ACST Acset Indonusa Tbk 1.105
2 ADHI Adhi Karya (Persero) Tbk 3.928
3 APLN Agung Podomoro Land Tbk 5.754
4 ASRI Alam Sutera Realty Tbk 14.066
5 BAPA Bekasi Asri Pemula Tbk 34
6 BEST Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk 3.092
7 BIPP Bhuwanatala Indah Permai Tbk 193
8 BKSL Sentul City Tbk 101
9 BSDE Bumi Serpong Damai Tbk 18.379
10 COWL Cowell Development Tbk 849
No. KODE PERUSAHAAN Nilai Intrinsik Perusahaan
11 CTRA Ciputra Development Tbk 13.633
12 CTRP Ciputra Property Tbk 2.206
13 CTRS Ciputra Surya Tbk 4.257
14 DART Duta Anggada Realty Tbk 2.119
15 DGIK Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk 132
16 DILD Intiland Development Tbk 3.055
17 DMAS Puradelta Lestari Tbk 10.360
18 DUTI Duta Pertiwi Tbk 6.365
19 ELTY Bakrieland Development Tbk 659
20 EMDE Megapolitan Developments Tbk 696
21 FMII Fortune Mate Indonesia Tbk 2.015
22 GAMA Gading Development Tbk 76
23 GMTD Gowa Makassar Tourism Development Tbk 1.045
24 GPRA Perdana Gapuraprima Tbk 599
25 IDPR Indonesia Pondasi Raya Tbk 2.130
26 JKON Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk 3.171
27 JRPT Jaya Real Property Tbk 7.712
28 KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk 5.662
29 KPIG MNC Land Tbk 1.623
30 LAMI Lamicitra Nusantara Tbk 1.175
31 LCGP Eureka Prima Jakarta Tbk 30
32 LPCK Lippo Cikarang Tbk 7.540
33 LPKR Lippo Karawaci Tbk 7.516
34 MDLN Modernland Realty Tbk 9.129
35 MKPI Metropolitan Kentjana Tbk 10.546
36 MTLA Metropolitan Land Tbk 4.754
37 NIRO Nirvana Development Tbk 97
38 NRCA Nusa Raya Cipta Tbk 2.295
39 PLIN Plaza Indonesia Realty Tbk 8.227
40 PPRO PP Properti Tbk 1.794
41 PTPP Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk 10.370
42 PWON Pakuwon Jati Tbk 18.398
43 RDTX Roda Vivatex Tbk 4.424
44 RODA Pikko Land Development Tbk 4.054
45 SCBD Danayasa Arthatama Tbk. 1.593
46 SMDM Suryamas Dutamakmur Tbk 775
47 SMRA Summarecon Agung Tbk 14.107
48 SSIA Surya Semesta Internusa Tbk 3.952
49 TOTL Total Bangun Persada Tbk 1.373
No. KODE PERUSAHAAN Nilai Intrinsik Perusahaan
50 WIKA Wijaya Karya (Persero) Tbk 9.078
51 WSKT Waskita Karya (Persero) Tbk 3.586
Sumber : hasil penelitian, 2017 (data diolah)
FCFF didapat dari EBIT dikali satu kurang persentase pajak dan dikurangi dengan net capital expenditure dan non cash working capital. Net capital expenditure ditambah dengan non cash working capital dibagi EBIT (1-t) merupakan rumus dari reinvestment rate, sehingga dengan menggunakan rumus reinvestment rate maka dapat pula diperoleh rumus FCFF sebagai berikut :
Reinvestment
Rate = Net Capital Expenditure + Non - Cash WC EBIT (1 - tax rate)
Free Cash Flow to Firm = EBIT(1-tax) (1 – Reinvestment Rate) a. EBIT (1- tax)
Sumber pendanaan suatu perusahaan terdiri dari utang dan ekuitas, oleh karena itu dalam menghitung FCFF maka digunakan laba operasi sebelum bunga dan pokok pembayaran utang dikali dengan satu kurang persentase pajak.
b. Net capital expenditure
Capital expenditure merupakan biaya yang dapat menciptakan manfaat di masa depan. Salah satu biaya yang menciptakan manfaat masa depan adalah biaya promosi sehingga biaya ini dikeluarkan dari biaya operasi dan ditambahkan kembali pada capital expenditure karena biaya tersebut dapat menghasilkan manfaat pendapatan untuk berapa tahun ke depan. Net capital expenditure diperoleh dari selisih aset tetap bersih tahun ini dengan aset tetap bersih tahun sebelumnya.
c. Change in non cash working capital
Working capital adalah modal kerja perusahaan yang diperoleh dari selisih aktiva lancar dengan utang lancar. Working capital yang digunakan pada rumus FCFF adalah non cash working capital dengan terlebih dahulu mengurangi kas atau surat-surat berharga dari aktiva lancar (non cash current asset) dan utang jangka pendek atau bagian dari utang jangka panjang yang berbunga yang jatuh tempo dalam jangka pendek (non cash current liabilities). Perubahan pada non cash working capital diperoleh dari selisih non cash working capital tahun ini dengan non cash working capital tahun sebelumnya.
d. Growth
Tingkat pertumbuhan (growth rate) dalam penilaian arus kas di masa mendatang menggunakan rumus expected growth yaitu mengalikan reinvestment rate dengan return on capital. Dalam menentukan tingkat pertumbuhan di setiap tahun proyeksi maka dilihat dari data historis tingkat pertumbuhan yang diharapkan selama tiga tahun kebelakang untuk dapat menentukan tingkat pertumbuhan stabil (stable growth) pada nilai terminal.
Tingkat pertumbuhan historis yang diperoleh kemudian dirata-ratakan dan dilakukan penyesuaian dengan tingkat pertumbuhan rata-rata tiap sub sektor industri properti sehingga diperoleh growth untuk tiap tahun proyeksi.
e. Proyeksi reinvestment rate
Dalam definisinya nilai FCFF didapat setelah perusahaan melakukan reinvestment, sehingga untuk memperoleh reinvestment rate tahun 2016 sampai tahun 2020 dapat dilakukan dengan membagi growth tahun tersebut
dengan return on capital hingga perusahaan mencapai tingkat pertumbuhan yang stabil.
f. Free Cash Flow to Firm (FCFF)
FCFF merupakan arus kas bersih sebelum pembayaran utang dan setelah kebutuhan investasi kembali (reinvestment) dalam belanja modal dan modal kerja. Nilai FCFF diproyeksikan selama lima tahun dari tahun 2016 sampai tahun 2020. Pada tahun keenam diasumsikan perusahaan mencapai tingkat pertumbuhan stabilnya dan ditentukan nilai terminalnya.
g. Nilai terminal
Dengan asumsi bahwa setiap perusahaan ada untuk selamanya (going concern), maka proyeksi arus kas tidak dilakukan hingga tahun tidak terhingga sehingga diperlukan nilai terminal (terminal value) yang menggambarkan arus kas yang akan tumbuh pada tingkat konstan untuk selamanya. Nilai terminal dapat dirumuskan sebagai berikut :
h. Biaya modal
Biaya modal mencerminkan biaya pendanaan dari semua sumber modal baik dari utang maupun modal yang dihitung dengan menggunakan biaya modal rata-rata tertimbang (Weighted Average Cost of Capital).
i. Nilai intrinsik perusahaan
Dalam Discounted Cash Flow (DCF) model, nilai intrinsik perusahaan diperoleh dengan menilai kinikan seluruh aliran arus kas tunai bersih atau FCFF dan nilai terminal pada suatu tingkat diskonto (discount rate) yaitu
5.1.2 Analisis Statistik Inferensi
Penelitian menggunakan analisis jalur (path analysis) dalam memperoleh pengaruh antar variabel penelitian dengan menggunakan dua substruktur yaitu substruktur pertama melihat pengaruh DER dan ROA terhadap DPR, sedangkan substruktur kedua melihat pengaruh DER, ROA dan DPR terhadap nilai intrinsik perusahaan.
5.1.2.1 Pengujian Asumsi Klasik
5.1.2.1.1 Uji Asumsi Klasik Substruktur Pertama 1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan menggunakan statistik Kolmogorov-Smirnov dan melihat sebaran residual data pada grafik Normal P-Plot. Pada Tabel 5.6 nilai Asymp. Sig. (2-tailed) adalah sebesar 0,168 (>0,05) dengan sebaran residual data yang terlihat di grafik Normal P-Plot (Gambar 5.1) yang berada di sekitar garis diagonal yang menunjukkan sebaran data berdistribusi normal sehingga asumsi normalitas data terpenuhi.
Tabel 5.6 Uji Normalitas Substruktur Pertama
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 51
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation ,23020387 Most Extreme Differences Absolute ,110
Positive ,110
Negative -,063
Test Statistic ,110
Asymp. Sig. (2-tailed) ,168c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Gambar 5.1 Normal P-P Plot Residual Substruktur Pertama 2. Uji Multikolinearitas
Pada Tabel 5.7 nilai Tolerance tiap-tiap variabel adalah lebih besar dari 0,1 (>0,1) dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) tiap-tiap variabel bebas lebih kecil dari 5. Dengan demikian dapat disimpulkan tidak terjadi masalah multikolinearitas antara variabel bebas.
Tabel 5.7 Uji Multikolinieritas Substruktur Pertama
Coefficientsa
Model
Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)
DER ,937 1,067
ROA ,937 1,067
a. Dependent Variable: DPR
3. Uji Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan uji Glejser dan grafik scatterplot. Pada Tabel 5.8 hasil uji Glejser menunjukkan nilai signifikansi yang lebih besar dari 5% dan Gambar 5.2 menunjukkan sebaran data residual menyebar tidak membentuk pola tertentu sehingga terbebas dari masalah heteroskedastisitas.
Tabel 5.8 Uji Heteroskedastisitas Substruktur Pertama
M u l G
Gambar 5.2 Scatterplot Substruktur Pertama 5.1.2.1.2 Uji Asumsi Klasik Substruktur Kedua
1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan menggunakan statistik Kolmogorov-Smirnov dan melihat sebaran residual data pada grafik Normal P-Plot. Pada Tabel 5.9 nilai Asymp. Sig. (2-tailed) adalah sebesar 0,200 (>0,05) dengan sebaran residual data yang terlihat di grafik Normal P-Plot (Gambar 5.3) yang berada di sekitar garis diagonal yang menunjukkan pola sebaran data berdistribusi normal sehingga asumsi normalitas data terpenuhi.
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) ,139 ,029 4,844 ,000
DER -,007 ,023 -,044 -,305 ,762 ,937 1,067
ROA ,619 ,343 ,259 1,805 ,077 ,937 1,067
a. Dependent Variable: Absut
Tabel 5.9 Uji Normalitas Substruktur Kedua
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 51
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation 1,20992075 Most Extreme Differences Absolute ,098
Positive ,067
Negative -,098
Test Statistic ,098
Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Gambar 5.3 Normal P-P Plot Residual Substruktur Kedua 2. Uji Multikolinearitas
Pada Tabel 5.10 nilai Tolerance tiap-tiap variabel adalah lebih besar dari 0,1 (>0,1) dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) tiap-tiap variabel bebas lebih kecil dari 5. Dengan demikian dapat disimpulkan tidak terjadi masalah multikolinearitas antara variabel bebas.
Tabel 5.10 Uji Multikolinieritas Substruktur Kedua
Coefficientsa Model
Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 (Constant)
DER ,816 1,225
ROA ,867 1,153
DPR ,843 1,186
a. Dependent Variable: NILAI.INTRINSIK.PERUSAHAAN
1. Uji Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan uji Glejser dan grafik scatterplot. Pada Tabel 5.11 hasil uji Glejser menunjukkan nilai signifikansi yang lebih besar dari 5% dan Gambar 5.4 menunjukkan sebaran data residual menyebar tidak membentuk pola tertentu sehingga terbebas dari masalah heteroskedastisitas.
Tabel 5.11 Uji Heteroskedastisitas Substruktur Kedua
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 1,097 ,166 6,621 ,000
DER -,034 ,122 -,044 -,279 ,781 ,816 1,225 ROA -,114 1,745 -,010 -,065 ,948 ,867 1,153 DPR -,409 ,415 -,154 -,986 ,329 ,843 1,186 a. Dependent Variable: Abs
5.1.2.2 Goodness of Fit
5.1.2.2.1 Analisis Goodness of Fit Substruktur Pertama 1. Koefisien determinasi (R2)
Hasil koefisien determinasi (R2) pada Tabel 5.12 sebesar 0,157 mengindikasikan bahwa variabel bebas DER dan ROA mampu menjelaskan 15,7% variansi data pada variabel terikat DPR, selebihnya 84,3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak masuk dalam model ini.
Tabel 5.12 Koefisien Determinasi Substruktur Pertama
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 ,396a ,157 ,122 ,23495
a. Predictors: (Constant), ROA, DER b. Dependent Variable: DPR
2. Uji Signifikansi Simultan (Uji F)
Pada Tabel 5.13 variabel bebas DER dan ROA secara bersama-sama (simultan) mampu mempengaruhi variabel terikat DPR secara signifikan berdasarkan hasil signifikansi F yang lebih kecil dari 0,05 (Sig F = 0,017).
Tabel 5.13 Signifikansi Simultan Substruktur Pertama
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression ,494 2 ,247 4,471 ,017b
Residual 2,650 48 ,055
Total 3,143 50
a. Dependent Variable: DPR b. Predictors: (Constant), ROA, DER
3. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)
Berdasarkan Tabel 5.14, secara parsial hasil statistik uji t menunjukkan variabel DER berpengaruh positif dan signifikan dengan nilai p-value
0,010 (<0,05) terhadap variabel DPR. Sedangkan variabel ROA berpengaruh positif dan tidak signifikan pada nilai p-value 0,054 (<0,05).
Tabel 5.14 Signifikansi Parameter Individual Substruktur Pertama
Coefficientsa
Berdasarkan Tabel 5.14 maka persamaan untuk substruktur pertama dapat dituliskan sebagai berikut :
Y1 = 0,365 X1 + 0,270 X2 + Є1
persamaan substruktur di atas mengindikasikan bahwa besarnya pengaruh variabel struktur modal terhadap variabel kebijakan dividen adalah sebesar 0,365 dan pengaruh variabel profitabilitas terhadap kebijakan dividen sebesar 0,270.
5.1.2.2.2 Analisis Goodness of Fit Substruktur Kedua 1. Koefisien Determinasi (R2)
Hasil koefisien determinasi (R2) pada Tabel 5.15 sebesar 0,443 mengindikasikan bahwa variabel bebas DER, ROA dan DPR mampu menjelaskan 44,3% variansi data pada variabel terikat nilai intrinsik perusahaan, selebihnya 55,7% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model ini.
Tabel 5.15 Koefisien Determinasi Substruktur Kedua
Model Summaryb
a. Predictors: (Constant), DPR, ROA, DER
b. Dependent Variable: NILAI.INTRINSIK.PERUSAHAAN
2. Uji Signifikansi Simultan (Uji F)
Pada Tabel 5.16 variabel bebas DER, ROA dan DPR secara bersama-sama (simultan) mampu mempengaruhi variabel terikat nilai intrinsik perusahaan secara signifikan berdasarkan hasil signifikansi F yang lebih kecil dari 0,05 (Sig F = 0,000).
Tabel 5.16 Signifikansi Simultan Substruktur Kedua
ANOVAa b. Predictors: (Constant), DPR, ROA, DER
3. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)
Hasil statistik uji t pada Tabel 5.17 menunjukkan variabel DER dan variabel ROA secara individual berpengaruh positif dan signifikan dengan nilai p-value 0,000 (<0,05) terhadap variabel nilai intrinsik perusahaan.
Sedangkan variabel DPR memiliki pengaruh positif tetapi tidak signifikan dengan nilai p-value 0,159 terhadap variabel nilai intrinsik perusahaan.
Tabel 5.17 Signifikansi Parameter Individual Substruktur Kedua
Coefficientsa
Berdasarkan Tabel 5.17 maka persamaan untuk substruktur kedua dapat dituliskan sebagai berikut :
Y2 = 0,471 X1 + 0,479 X2 + 0,170 Y1 + Є2
persamaan substruktur di atas mengindikasikan bahwa besarnya pengaruh variabel struktur modal terhadap variabel nilai intrinsik perusahaan adalah sebesar 0,471, pengaruh variabel profitabilitas terhadap nilai intrinsik perusahaan adalah 0,479 dan pengaruh variabel kebijakan dividen terhadap variabel nilai intrinsik perusahaan adalah sebesar 0,170.
5.1.2.3 Hasil Analisis Jalur
Substruktur pertama dan substruktur kedua pada penelitian merupakan bagian dari analisis jalur. Gambar 5.5 menunjukkan secara keseluruhan pengaruh antar variabel DER dan variabel ROA terhadap variabel DPR serta variabel nilai intrinsik perusahaan. Hasil dari analisis jalur disajikan pada Gambar 5.5.
Gambar 5.5 Hasil Analisis Jalur Variabel Penelitian
Berdasarkan Gambar 5.5, pengaruh antar variabel memiliki pengaruh langsung, tidak langsung dan total. Pengaruh langsung merupakan pengaruh yang timbul berdasarkan hasil regresi antar variabel penelitian. Pengaruh tidak langsung merupakan hasil dari perkalian antara pengaruh langsung variabel bebas
DER (X1)
DPR (Y1) Nilai Intrinsik
Perusahaan (Y2)
0,471
0,479
ROA (X2)
0,365
0,270
0,170
ε1 = 0,843 ε2 = 0,557
terhadap variabel intervening dengan pengaruh variabel intervening terhadap variabel terikat. Pengaruh total merupakan jumlah dari pengaruh langsung dengan pengaruh tidak langsung. Pengaruh antar variabel dirangkum dalam Tabel 5.18.
Tabel 5.18 Pengaruh Antar Variabel Penelitian
Variabel Pengaruh
Bebas Terikat Intervening Langsung Tidak Langsung Total DER
Sumber : hasil penelitian, 2017 (data diolah)
5.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil uji t maka diperoleh nilai signifikansi (p-value) untuk pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung dari tiap-tiap variabel penelitian.
Hasil pengujian hipotesis yang digunakan adalah signifikan pada alfa 5% yang disajikan pada Tabel 5.19.
Tabel 5.19 Pengujian Hipotesis Penelitian
Tabel 5.19 Pengujian Hipotesis Penelitian