PASOKAN CABAI MERAH KERITING DI DKI JAKARTA
7.1. Model Pasokan Cabai merah keriting di DKI Jakarta
7.3.3. Uji Koefisien Regresi Parsial (Uji T)
Jika pada uji F dilakukan pemerikasaan pengaruh signifikan model secara keseluruhan terhadap variabel dipenden, uji T diperlukan untuk melihat variabel independen mana saja yang secara individu signifikan berpengaruh terhadap variabel dipenden. Pengujian masing-masing variabel independen dapat dilakukan dengan meilhat nilai probabilitas masing-masing variabel independen. Variabel independen yang nilai probabilitasnya lebih kecil dari taraf nyata (0,1) dapat dikatakan berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dipenden ketika variabel independen lainnya konstan (ceteris paribus). Berdasarkan nilai
88 probabilitas dari output minitab yang dapat dilihat pada Tabel 17. diketahui bahwa dua dari enam variabel independen yang ada secara statistik memberikan pengaruh secara signifikan pada variabel dipenden ketika variabel independen lainnya konstan. Variabel-variabel independen yang berpengaruh signifikan yaitu harga rata-rata cabai substitusi (rawit merah dan rawit hijau) dan tingkat inflasi.
Variabel X1 yang merupakan kuantitas cabai merah pada periode sebelumnya (i-1) dalam model pasokan cabai merah di DKI Jakarta menurut uji koefisien regresi parsial secara statistik tidak signifikan mempengaruhi jumlah pasokan cabai merah ketika variabel independen lain konstan (ceteris paribus). Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai probabilitas X1 yaitu sebesar 0,111 yang lebih besar dari nilai taraf nyata yaitu 0,1. Variabel independen harga cabai merah keriting (X2) secara statistik juga tidak berpengaruh signifikan pada jumlah pasokan cabai merah keriting ketika variabel independen lain konstan (ceteris paribus). Hal ini terlihat dari nilai probabilitas X2 yang lebih besar dari taraf nyata sepuluh persen yaitu 0,523. Begitu pula dengan harga cabai merah keriting pada musim sebelumnya, secara statistik tidak berpengaruh nyata ada jumlah pasokan cabai merah keriting ketika variabel lain konstan. Hal ini dilihat dari nilai probabilitas yang lebih besar dari sepuluh persen yaitu 0,603. Momen-momen tertentu seperti hari raya, bulan puasa dan tahun baru juga tidak berpengaruh signifikan pada jumlah pasokan cabai merah keriting dengan nilai probabilitas yang lebih besar dari sepuluh persen yaitu 0,338.
Dua variabel independen yang secara statistik berpengaruh signifikan pada jumlah pasokan cabai merah keriting di DKI Jakarta yaitu harga rata-rata komoditi substitusi (cabai rawit merah dan cabai rawit hijau) dan tingkat inflasi. Masing- masing nilai probabilitas kedua variabel independen tersebut yaitu 0,004 dan 0,07. Nilai probabilitas kurang dari sepuluh persen, jadi kedua variabel ini secara individu berpengaruh nyata pada jumlah pasokan cabai merah keriting ketika variabel lain konstan (ceteris paribus).
89 7.4. Implikasi Kebijakan
Sebagai salah satu komoditi strategis yang merupakan komoditi ketiga terbesar dalam menyumbangkan nilai inflasi, cabai merah keriting harus dapat dijaga dengan baik keseimbangannya agar tidak berdampak negatif bagi perekonomian di Indonesia. Untuk dapat menjaga keseimbangan pasar cabai merah keriting tersebut, yang paling penting yaitu menjaga agar jumlah pasokan cabai merah keriting seimbang dengan jumlah kebutuhan konsumen.
Dilihat dari segi konsumen, jumlah permintaan tidak banyak mengalami perubahan ketika terjadi perubahan pada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jumlah permintaan rumah tangga terhadap cabai merah tidak elastis menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi pada faktor yang mempengaruhinya. Faktor- faktor yang secara nyata berpengaruh signifikan pada jumlah permintaan cabai merah keriting yaitu jumlah anggota keluarga dan tempat pembelian cabai. berarti, terkait dengan permintaan, hal yang harus sangat diperhatikan adalah pertumbuhan jumlah penduduk. Meningkatnya jumlah penduduk akan menyebabkan peningkatan jumlah konsumsi cabai merah kerting yang artinya untuk dapat memenuhi kebutuhan akan cabai merah keriting, produksi cabai merah keriting harus dapat terus ditingkatkan seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk.
Selain jumlah penduduk, faktor yang signifikan berpengaruh yaitu tempat pembelian, dimana lebih bnayk konsumen yang melakukan pembelian cabai merah keriting di pasar tradisional daripada dipasar moderen. Hal ini berarti, sebaiknya pemasaran cabai merah keriting lebih diarahkan atau lebih diprioritaskan pada pasar tradisional, bukan berarti cabai merah keriting tidak dipasarkan kepasar moderen, tetapi kuantitas di pasar-pasar tradisional harus lebih banyak daripada di pasar-pasar moderen. Melihat kondisi ini, ketidakseimbangan yang terjadi dalam pasar cabai merah keriting seperti fluktuasi harga tidak begitu dipengaruhi oleh jumlah permintaan, melainkan lebih disebabkan oleh jumlah pasokan cabai merah keriting itu sendiri yang tidak stabil. Oleh karena itu kebijakan yang terpenting dalam menjaga keseimbangan cabai merah keriting yaitu menjaga stabilitas kuantitas pasokan cabai tersebut.
90 Menjaga kuantitas pasokan cabai merah keriting sebaiknya dimulai dari proses budidaya. Pengaturan waktu pembudidayaan cabai merupakan tahap awal yang sangat penting. Kerja sama pemerintah dan para pelaku usaha cabai dalam menentukan waktu yang tepat untuk menanam cabai dan berapa jumlah yang harus diusahakan. Kuantitas yang diusahakan disesuaikan dengan jumlah kebutuhan konsumen yang atau jika memungkinkan dilakukan peramalan jumlah kebutuhan konsumen dimasa yang akan datang, sehingga jumlah yang diproduksi tidak melebihi atau kurang dari kebutuhan pasar. Selebihnya kebijakan mengenai penetapan harga minimal dan harga maksimal juga bisa dilakukan oleh pemerintah. Selain untuk menjaga stabilitas harga cabai, hal ini juga bisa menjaga posisi pengusaha cabai (petani) agar tidak mengalami kerugian ketika harga turun serta mencegah harga cabai yang terlalu tinggi di tingkat konsumen. Selain itu, kebijakan mengenai cabai ini juga harus dilakukan pada keseluruhan jenis cabai. karena walaupun cabai merah keriting lebih dominan, tetapi ketersediaan cabai jenis lain juga bisa membantu menjaga stabilitaspasokan cabai. Selain banyak masyarakat yang mengkonsumsi, harga dan kuantitasnya juga mempengaruhi harga cabai merah keriting itu sendiri.
91
VIII.
KESIMPULAN DAN SARAN
8.1.Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian, serta pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagi berikut.
1. Perilaku konsumsi cabai merah di DKI Jakarta pada umumnya tidak memilki banyak perbedaan antara satu rumah tangga dengan rumah tangga lainnya. Masyarakat di DKI Jakarta lebih banyak memenuhi kebutuhan cabai merah dengan melakukan pembelian di pasar tradisional. Rata-rata rumah tangga di DKI Jakarta membeli cabai merah dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kubutuhan penggunaan, sanagt jarang yang melakukan pembelian dalam jumlah besar untuk cadangan karena cabai mudah didapat dan tidak tahan lama untuk disimpan. Konsumen rumah tangga di DKI Jakarta rata-rata sangat tergantung dengan cabai, hanya sedikit yang dapat menggunakan komoditi lain sebagai pengganti cabai merah seperti cabai rawit dan sambal botol. Untuk harga beli cabai saat ini, konsumen menilai harga tersebut biasa saja atau tidak terlalu mahal. Dalam merespon perubahan harga yang sering terjadi pada cabai merah, sebagian besar konsumen tidak mengubah jumlah konsumsi cabai merah walaupun terjadi perubahan harga, dengan demikian dapat diketahu bahwa tingkat harga cabai tidak begitu berpengaruh pada jumlah konsumsi rumah tangga terhdap cabai merah.
2. Rata-rata permintaan rumah tangga di DKI Jakarta terhadap cabai merah dipengaruhi jumlah anggota keluarga, harga beli cabai, pendapatan rumah tangga, frekuensi pembelian cabai dalam satu bulan, tempat pembelian, dan suku. Secara bersama-sama variabel-variabel tersebut mempengaruhi jumlah permintaan cabai merah suatu rumah tangga, tetapi tidak semua variabel secra individu tetap berpangaruh secara siginifkan pada jumlah permintaan cabai. Variabel yang secara individu tetap berpengaruh signifikan ketika variabel lain tetap pada taraf nyata sepuluh persen yaitu jumlah anggota keluarga, tempat pembelian, dan suku. Walaupun variabel-variabel tersebut berpengaruh pada jumlah permintaan rumah tangga, tetapi jumlah permintaan cabai rumah tangga tidak elastis terhadap masing-masing variabel yang mempengaruhinya tersebut.
92 3. Rata-rata jumlah pasokan cabai merah merah keriting setiap periode (bulan) dipengaruhi jumlah pasokan cabai merah keriting periode sebelumnya, harga cabai merah keriting itu sendiri, harga cabai merah keriting musim sebelumnya, harga komoditi substitusi (harga rata-rata cabai rawit merah dan harga cabai rawit hijau), laju inflasi di DKI Jakarta, dan bulan puasa/hari raya. Variabel-variabel ini secara keseluruhan berpengaruh secara signifikan pada jumlah pasokan cabai merah keriting setiap bulannya. Tetapi jika dilihat satu persatu, tidak semua variabel berpengaruh signifikan ketika variabel lain tetap. Variabel-variabel yang secara individu tetap berpengaruh secara signifikan pada taraf nyata sepuluh persen yaitu harga rata-rata cabai rawit merah dan rawit hijau, dan tingkat inflasi. Namun demikian hanya terhadap perubahan tingkat inflasi jumlah pasokan cabai merah keriting bersifat elastis.
8.2.Saran
Terkait dengan hasil penelitian yang telah disampaikan, beberapa saran yang direkomendasikan penulis kepada berbagai pihak terkait dengan pasokan dan permintaan komoditi cabai khususnya cabai merah keriting yaitu :
1. Hendaknya pemerintah dan para pelaku usaha cabai secara umum tidak hanya memfokuskan kegiatannya pada cabai merah kerting saja dimana cabai merah keriting jumlahnya mencapai lebih dari 50 persen dari jumlah cabai secara keseluruhan. Cabai lainnya seperti cabai rawit hijau yang berpengaruh pada jumlah pasokan cabai hendaknya lebih diperhatikan juga agar harganya tidak terlalu tinggi dan fluktuatif sehingga berpengaruh pula pada pasokan cabai merah keriting dan cabai secara keseluruhan.
2. Baik pelaku usaha (budidaya dan penjualan) cabai merah hendaknya juga mempertimbangkan waktu produksi dan aktivitas penjualan yang dilakukan, khususnya pada musim-musim panen dan bulan puasa/hari raya,mengingat jumlah konsumsi rumah tangga rata-rata cukup stabil, dan tidak banyak terpengaruh oleh perubahan. Agar tidak terjadi kelebihan dan kekurangan pasokan, sehingga harga cabai dapat stabil.
3. Mengingat masih ada variabel secara individu tidak signifikan berpengaruh pada jumlah permintaan dan pasokan cabai merah, penelitian lanjutan dengan
93 kajian yang sama dapat dilakukan guna mendapatkan model yang lebih baik. Dapat pula dilakukan penambahan beberapa variabel lain yang terkait dengan jumlah permintaan dan pasokan cabai merah.
4. Pasokan cabai yang berasal dari berbagi daerah di Indonesia menyebabkan banyaknya faktor yang mempengaruhi masuknya cabai hingga sampai ke DKI Jakarta. Penelitian lebih lanjut mengenai hal-hal yang mempengaruhi masuknya cabai ke DKI Jakarta secara lebih detail mungkin bisa menjadi suatu bhan kajian untuk mengetahui bagaimana cabai dari berbagai daerah sampai ke DKI Jakarta.
5. Tingkat permintaan konsumen berbeda-beda tergantung oleh pribadi konsumen masing-masing. Oleh karena itu penelitian tentang konsumen secara personal mengenai tingkat kesukaannya pada rasa pedas dan jumlah cabai yang dikonsumsi masing-masing individu mungkin bisa menjadi bahan kajian penelitian untuk menghasilkan permintaan cabai individu, berbeda dengan penelitian ini yang lebih mengkaji permintaan rumah tangga.
i