Bandingkan juga dengan rumusan (24) berikut !
3. Koherensi dan Kohes
Koherensi/kepaduan dan kohensi/keserasian adalah hal kekompakan hubungan timbal balik antarunsur pembentuk kalimat. Selain koherensi/kepaduan, kohesi/keserasian juga sangat menentukan terbentuknya sebuah kalimat utuh, kompak, dan padu.
(25) Pak Jecky mengajar matematika di kelas 2.
(26) Indriana membelikan rumah baru untuk karyawannya (27) Siswa memberi tanda silang setiap jawaban yang benar.
(28) Bab ini membahas landasan teori yang dipakai dalam penelitian ini
Kalimat-kalimat (25) - (28) merupakan kalimat yang berterima bagi orang-orang awam. Namun, secara cermat, kalimat-kalimat tersebut sebenarnya tidak padu dan serasi hubungan antarunsurnya. Kalimat (25) baru akan diketahui ketidakserasiannya jika kalimat itu diuji bentuk pasifnya. Rumusan (25) akan menjadi koheren dan kohesan jika dirumuskan kembali, akan menjadi sebagai berikut.
(25a) Pak Jecky mengajar siswa kelas 2 mata pelajaran matematika. (25b) Pak Jecky mengajarkan matematika di kelas 2.
(25c) Pak Jecky mengajari kelas 2 matematika.
Kalimat (26) dan (27) juga memiliki hubungan antarunsurnya tidak padu sebagaimana yang terjadi pada kalimat (25). Kedua kalimat itu dapat dirumuskan kembali menjadi (26a) dan (27a)
(26a) Indriana membelikan karyawannya rumah baru.
(27a) Siswa memberikan tanda silang setiap jawaban yang benar. Hubungan antarunsur pada kalimat (28) juga tidak serasi. Kalimat tersebut dapat dirumuskan kembali seperti (28a, 28b) berikut.
(28a) Bab ini berisi pembahasan landasan teori yang dipakai dalam penelitian ini. Atau,
(28b) Di dalam bab ini penulis membahas landasan teori yang dipakai dalam penelitian ini.
4. Kehematan
Kehematan kalimat dalam sistem sebuah karya tulis ilmiah hendaknya menjadi bahan pertimbangan penulis. Dengan perkataan lain, penulis hendaknya mengindarkan diri dari pemakaian kata yang berbunga-bunga yang hanya
mengganggu ide itama. Bila dalam suatu proses, penulis cenderung untuk menggunakan bentuk-bentuk yang sama yang kadang bermakna kontradiksi dengan maksud penulis, hendaknya “yang sama” itu dilesapkan saja salah satu bagiannya – kalau memang bagian yang sama itu sudah dapat terwakili. Contoh pemakaian dua unsur yang sama, yang salah satu unsurnya boleh dilesapkan.
(29) Instrumen penelitian itu baru dapat digunakan setelah instrumen itu diuji keterandalannya dan kesahihannya.
(30) Setelah data itu ditabulasikan, data itu baru dapat diolah dengan analisis statistik.
Kalimat-kalimat tersebut dapat dirumuskan kembali sebagai berikut. (29a) Instrumen penelitian itu baru dapat digunakan setelah diuji
keterandalan dan kesahihannya.
(30a) Setelah ditabulasikan, data itu baru dapat diolah dengan analisis statistik.
Yang perlu pula dicatat dalam proses pelesapan itu adalah letak unsur yang dilesapkan. Unsur subjek pada induk kalimat tidak boleh dilesapkan. Sebaliknya, pelesapan itu boleh terjadi apabila yang dilesapkan adalah unsur subjek pada anak kalimat. Bandingkan pelesapan yang keliru pada rumusan berikut.
(31) *Setelah instrumen penelitian itu diuji keterandalan dan kesahihannya, baru dapat digunakan untuk mengumpulkan data. (32) *Setelah data itu ditabulasikan, baru diolah dengan statistik
Penghematan dapat dilakukan pula dengan tidak menyertakan pemakaian kata penghubung ganda, terutama kata penghubung subordinatif (bertinghkat). Berikut adalah beberapa kata penghubung ganda yang sering digunakan dalam tulisan.
meskipun ---, tetapi--- walaupun---, tetapi--- kendatipun----, tetapi---
Sehubungan dengan, ---, maka---- berdasarkan ---, maka --- menurut ---, maka --- jika ----, maka --- apabila ---, maka --- kalau ---, maka --- Contoh:
(33) Meskipun hujan sudah turun selama sebulan, tetapi mata air belum bertambah besar.
(34) Walaupun diadakan razia di mana-mana, tetapi perdagangan narkoba sulit diatasi’
(35) Sehubungan dengan diadakannya libur sekolah, maka besar kemungkinannya akan merebak kerusuhan di mana-mana.
(36) Berdasarkan data sensus penduduk, maka dapat diketahui bahwa jumlah laki-laki di Indonesia lebih kecil dibandingkan jumlah perempuan.
(37) Jika digunakan pendekatan komunikatif, maka prestasi belajar siswa dalam menulis baik.
Rumusan (33) – (37) tersebut di atas dapat dikembalikan dalam rumusan sebagai berikut.
(33a) Meskipun hujan sudah turun selama sebulan, mata air belum bertambah besar.
(34a) Walaupun diadakan razia di mana-mana, perdagangan narkoba sulit diatasi.
(35a) Sehubungan dengan diadakannya libur sekolah, besar kemungkinannya akan merebak kerusuhan di mana-mana.
(36a) Berdasarkan data sensus penduduk, dapat diketahui bahwa jumlah laki-laki di Indonesia lebih kecil dibandingkan jumlah perempuan.
(37a) Jika digunakan pendekatan komunikatif, prestasi belajar siswa dalam menulis (akan) baik.
Pemborosan semacam itu terjadi pula dalam pemakaian kata atau kelompok kata sifat/adjektiva berikut.
(38) Goncangan itu sangat kuat sekali
(39) Badai itu bergerak sangat amat kencang.
Kedua rumusan tersebut dapat dirumuskan kembali menjadi (38a,b – 39a,b).
(38a) Goncangan itu sangat kuat, dan (38b) Goncangan itu kuat sekali
(39a) Badai itu bergerak sangat kencang, dan (39b) Badai itu bergerak amat kencang.
Kehematan juga dikenakan pada pemakaian kata yang berhiponimi, yaitu kata-kata yang memiliki makna bawahan. Kata bulan, memiliki medan bawahan Januari, Februari, Maret ....Desember – dan kata hari memiliki bawahan Senin, Selasa, Rabu .... Sabtu. Sebagai misal, kata Januari sesungguhnya sudah menunjukkan nama Bulan Desember, dan seterusnya. Berikut adalah contoh pemakaian kata yang berlebihan.
(40) Presiden Gus Dur mengadakan kunjungan ke Bejing hari Kamis lalu.
(41) Pada bulan Desember, hari Selasa tanggal 7, Kapal Dobonsolo bersandar di Kupang
(42) Rambutnya berwarna kemerah-merahan
(43) Bapak Rektor turun ke bawah ke lantai I memalui tangga samping.
Rumusan (40) – (43) dapat ditulis kembali menjadi rumusan berikut. (40a) Presiden Gus Dur mengadakan kunjungan ke Bejing Kamis lalu. (41a) Kapal Dobonsolo bersandar di Kupang Selasa 7 Desember 1999. (42a) Rambutnya kemerah-merahan
(43a) Bapak Rektor turun ke lantai I melalui tangga samping.
Pemborosan kata semacam itu terjadi pula pada pemakaian kata yang bersinonim agar supaya, adalah merupakan, seperti misalnya.
(44) Salah satu cara agar supaya kita tidak terinfeksi virus HIV sebaiknya kita tidak melakukan hubungan seksual di luar istri sah atau suami sah.
(45) Pemebrian surat rekomendasi dari salah seorang pejabat adalah merupakan salah satu cara yang ditempuh nasabah untuk mendapatkan pinjaman dari bank tetentu.
(46) Beberapa kota besar sekarang ini sudah menjadi kota produsen dan pengekspor narkoba, a seperti misalnya Jakarta, Surabaya, dan Medan.
Kalimat-kalimat tersebut dapat dikembalikan sebagai berikut.
(44a) Salah satu cara supaya tidak terinfeksi virus HIV, sebaiknya kita tidak melakukan hubungan seksual di luar istri sah atau suami sah. (45a) Pemebrian surat rekomendasi dari salah seorang pejabat adalah
salah satu cara yang ditempuh nasabah untuk mendapatkan pinjaman dari bank tetentu.
(46a) Beberapa kota besar sekarang ini sudah menjadi kota produsen dan pengekspor narkoba, misalnya Jakarta, Surabaya, dan Medan. Pemborosan sering terjadi pula dalam pemakaian kata-kata sarana benda yang meyatakan jamak yang diikuti oleh kata benda bentuk ulang, seperti pada contoh berikut.
(47) Para guru-guru harus bertanggung jawab atas peristiwa tawuran pelajar di kota-kota besar.
(48) Beberapa orang-orang yang tidak menyetujui putusan pimpinan terpaksa dikeluarkan dari perusahaan itu.
(49) Banyak murid-murid SMU telah kecanduan narkoka.
Kalimat-kalimat tersebut dapat dirumuskan kembali sebagai berikut.
(47a) Para guru harus bertanggung jawab atas peristiwa tawuran pelajar di kota-kota besar.
(47b) Guru-guru harus bertanggung jawab atas peristiwa tawuran pelajar di kota-kota besar
(48a) Beberapa orang yang tidak menyetujui putusan pimpinan terpaksa dikelurkan dari perusahaan itu.
(48b) Orang-orang yang tidak menyetujui putusan pimpinan terpaksa dikelurkan dari perusahaan itu.
(49a) Banyak murid SMU telah kecanduan narkoka. (49b) Murid-murid SMU telah kecanduan narkoka.
Pasangan kalimat tersebut di atas tentu saja memiliki perbedaan nuansa makna. Kelompok kata banyak murid SMU, berbeda maknanya dengan murid-murid SMU. Kelompok kata murid-murid SMU berarti semua murid SMU, sedangkan banyak murid SMU tidak semua murid SMU walaupun jumlahnya banyak. Kata para-lah yang bisa mewakili makna perulangan nomina di atas.
Kesalahan serupa juga terjadi pada bentuk ulang kata kerja yang menyatakan ‘saling’, misalnya pukul-memukul, cubit-cubitan, kait-mengait, sambung-menyambung, dan sebagainya. Makna ‘saling’ dapat pula dinyatakan dengan afiks gabung ber-an, misalnya: bergandengan, berciuman, berpelukan, bertabrakan, dan sebagainya. Pemborosan pemakain bentuk ini dapat dilihat dalam contoh berikut.
(50) Kedua orang itu saling pukul-memukul, cubit-mencubit.
(51) Perkelahian di Kampung Baru dan di Kuanino memiliki latar belakang permasalahan yang saling kait-mengait.
(52) Mereka saling berpelukan.
(53) Kedua kendaraan itu saling bertabrakan.
Kalimat-kalimat itu dapat dikembalikan sebagai berikut. (50a) Kedua orang itu pukul-memukul, cubit-mencubit. (50b) Kedua orang itu saling memukul, mencubit.
(51a) Perkelahian di Kampung Baru dan di Kuanino memiliki latar belakang permasalahan yang saling megait.
(51b) Perkelahian di Kampung Baru dan di Kuanino memiliki latar belakang permasalahan yang kait-megait.
(52a) Mereka berpelukan. (52b) Mereka saling memeluk
(53b) Kedua kendaraan itu saling menabrak
Pemborosan juga banyak terjadi pada pemakaian kata dari, dan daripada seperti yang terdapat dalam rumusan berikut.
(54) *Tujuan daripada penghijauan ini adalah untuk mencegak erosi dan bahaya banjir.
(55) *Walaupun segi kepariwisataan telah memberikan lapangan kerja kepada penduduk Bali dan telah mendorong sektor sektor seni lukis, seni pahat, dan kerajian lainnya, namun, kita mulai merasakan aspek-aspek negatif daripada perkembangan kepariwisataan ini. Kalimat-kalimat tersebut dapat dikembali sebagai berikut.
(55a) Tujuan penghijauan ini adalah untuk mencegak erosi dan bahaya banjir.
(56a) Walaupun segi kepariwisataan telah memberikan lapangan kerja kepada penduduk Bali dan telah mendorong sektor sektor seni lukis, seni pahat, dan kerajian lainnya, namun, kita mulai merasakan aspek-aspek negatifperkembangan kepariwisataan ini.
5. Kevariasian
Variasi kalimat yang dimaksudkan di sini adalah bentuk-bentuk kalimat yang berbeda, tetapi memiliki makna yang sama. Variasi kalimat ini diperlukan dalam kegiatan tulis-menulis guna menghindari kebosanan pembaca karena berkesan monoton. Penulis yang berpengalaman dapat menciptakan berbagai macam variasi. Pemilihan variasi ini juga sangat ditentukan oleh gaya penulisan.
(57) Orang tuaku memiliki rambut keriting, dapat divariasikan sebagai: (57a) Orang tuaku berambut keriting.
(57b) Orang tuaku rambutnya keriting. (57c) Rambut orang tuaku keriting.
Penggunaan variasi selain dipertimbangkan formasi letak, juga perlu dipertimbangkan faktor penekanannya.
(58) Orang dapat mengetahui jumlah uang negara yang dilesapkan oleh 180 perusahaan di dalam tabel 4.
Dalam tulisan ilmiah kalimat tersebut memiliki variasi sebagai berikut.
(58a) Di dalam tabel 4 dapat diketahui uang negara yang dilesapkan oleh 180 perusahaan.
(58b) Uang negara yang dilesapkan oleh 180 perusahaan dapat diketahui di dalam tabel 4.
Pergeseran unsur kalimat di atas, selain penekanan terhadap usnur tertentu, juga kaitannya dengan kalimat-kalimat sebelum dan sesudahnya. Dengan muatan makna yang sama kadang-kadang penulis menuangkannya dengan struktur kalimat lain, yang bukan kalimat turunan dari pola dasarnya. Gagasan di atas misalnya dapat disampaikan dalam formulasi.
(58c) Tabel 4 berisi data jumlah uang negara yang hilang dari 180 perusahaan.
Data unag negara yang didihilangkan oleh 180 perusahaan dapat dilihat dalam tabel 4
Kalimat aktif transitif yang dipasifkan, diupayakan memberikan penekanan terhadap objek kalimat.
(59) Pengusaha-pengusa besar menyimpan uangnya di luar negeri. (60) Uang pengusaha-pengusaha besar disimpannya di luar negeri. (61) Oleh karena kerusuhan terjadi di mana-mana, orang-orang kaya
melarikan modalnya ke luar negeri.
(62) Modal orang-orang kaya dilarikan ke luar negeri karena kerusuhan terjadi di mana-mana.
Tidak semua kalimat aktif transitif dapat dipasifkan. Kalimat-kalimat berikut ini merupakan kalimat pasif yang salah.
(63) Kemiskinan di desa-desa telah berhasil diatasi oleh pemerintah (68) Hama belalang telah berhasil diberantas oleh para petani.
Mengapa salah? Struktur pasif semacam itu dapat diartikan, yang ‘berhasil’ adalah “kemiskinan dan hama wereng”. Padahal, pada kalimat pertama tentu penulis maksudkan, yang berhasil adalah ‘pemerintah’, dan kalimat kedua yang berhasil adalah “para petani”. Kalimat semacam itu tidak dapat dipasifkan, kalimat-kalimat itu sebaiknya ditulis dalam bentuk aktif sebagai berikut.
(63a) Pemerintah telah berhasil mengatasi kemiskinan di desa-desa. (63b) Para petani telah berhasil memberantas hama belalang.
Kalimat-kalimat tersebut sebenarnya merupakan penggabungan dari kalimat-kalimat sebagai berikut.
(63a-1) Pemerintah telah berhasil.
(63a-2) Pemerintah mengatasi kemiskinan di desa-desa. (64a-1) Pra Petani telah berhasil
(64a-2) Para petani memberantas hama belalang.
Kalimat-kalimat itu dapat pula digabungkan sebagai berikut.
(63a-1a) Pemerintah telah berhasil dalam mengatasi kemiskinan di desa-desa.
(64a-1a) Para petani telah berhasil dalam memberantas hama belalang.
Kalimat aktif transitif yang sebenarnya adalah pada ruas kedua, sedangkan pada ruas pertama jelas terlihat sebagai kalimat intransitif. Verba gabung dengan kata mau, suka, senang, ingin juga menhasilkan kalimat gabung yang seakan-akan sebagai kalimat tunggal seperti pada kalimat berikut.
(65) Orang itu senang merancang bagunan yang bernuansakan bangunan tradisional.
(66) Kami mau mendirikan gedung bertingkat tiga.
(67) Kami tidak suka mengerjakan penggalian harta karun.
(69) Peneliti ingin melestarikan sastra lisan di daerah-daerah sebagai aset nasional.
Kalimat-kalimat tersebut di atas merupakan hasil penggabungan dua kalimat. Kalimat turunannya, walaupun ruas keduanya transitif, kalimat itu tidak dapat diubah menjadi kalimat pasif.
Kalimat yang terlalu pendek dalam tulisan ilmiah akan terkesan kering, sebaliknya kalimat yang terlampau panjang akan sulit dipahami pembaca, bahkan dapat menyulitkan penulis itu sendiri. Ide dalam kalimat yang panjang cenderung kabur. Oleh karena itu, kombinasi kalimat panjang dan pendek barangkali menjadi pilihan dalam rangka menciptakan sebuah wacana ilmiah yang mudah dan enak dicerna. Namun, ada suatu syarat kertebacaan, bahwa kalimat yang memiliki daya keterbacaan yang baik, jumlah unsur pembentuk kalimatnya tidak melebihi sembilan kata.
LANGKAH 03
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit Lembar informasi/ Handout Lembar kerja mahasiswa (LKM) Sumber lain yang relevan KEGIATAN PADA LANGKAH 03
10) Mahasiswa dibagikan LKM dan soal latihan kalimat untuk dikerjakan berkelompok. (Lembaran soal: tersendiri)
11) Hasil kerja kelompok disampaikan dalam pleno kelas.
12) Fasilitator/ pendamping mendampingi diskusi pleno mahasiswa. LANGKAH 04
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit Lembar informasi/ Handout Lembar kerja mahasiswa (LKM)
Sumber lain yang relevan KEGIATAN PADA LANGKAH 04
7) Pendamping mengajak mahasiswa mereview proses dan materi perkuliahan KALIMAT.
8) Pendamping menyimpulkan materi pertemuan hari itu.
9) Mahasiswa disampaikan tugas pengayaan untuk dikerjakan di rumah. (Lembaran informasi tugas: tersendiri).
PENILAIAN
Untuk menilai keberhasilan mahasiswa dalam perkuliahan ini, tiga model penilaian, yakni penilaian proses, dan portofolio, dan hasil kerja digunakan sebagai model penilaian. Butir-butir penilaian disiapkan dalam lembar kerja mahasiswa. Pendamping diharapkan merekam seluruh proses sejak awal kegiatan: mulai dari proses kegiatan di kelas, sampai pada merekam hasil tugas-tugas (portofolio).