BAHAN AJAR PENDIDIKAN GURU SKOLAH DASAR
MATA KULIAH KAJIAN BAHASA INDONESIA
OLEH
OYANG F. LASSA
EDITOR
ROBERT TAGANG
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2016
BAGIAN SATU
ADANYA BAHASA MANUSIA:
A. PENGANTAR
Para ahli linguistik dunia berdaya upaya untuk menjejaki, dari mana asal bahasa manusia itu? Apakah manusia pertama di “Taman Firdaus” telah diberikan bahasa oleh Penciptanya? Apakah ada teori lain yang dapat membuktikan bahwa bahasa pada manusia sesungguhnya berkembang secara bertahap sesuai perkembangan manusia? Tidak ada data yang cukup kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ada beberapa pandangan yang akan kita pelajari pada bagian materi pengayaan.
B. INDIKATOR PENCAPAIAN HASIL BELAJAR
Mahasiswa mampu menjelaskan lahirnya bahasa manusia ditinjau dari:
1. Teori Tekanan Sosial
2. Teori Onomatopetik atauTeori Ekoik
3. Teori Interyeksi
4. Teori Nativistik atau Teori Fonetik
5. Teori YO – HE – HO
6. Teori Isyarat
7. Teori Permainan Vokal
8. Teori Isyarat Oral
9. Tepri Kontrol Sosial
10. Teori Kontak
11. Teori Hockett - Ascher
C. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
LANGKAH 01
Durasi Waktu keg. Media Pendukung
KEGIATAN PADA LANGKAH 01
1) Mahasiswa diajak duduk di dalam kelompok-kelompok kecil. 2) Mahasiswa distimulasi dengan beberapa pertanyaan:
o Menurut pendapat Anda, bagaimanakah pada awalnya manusia memperoleh bahasa?
o Apakah sejak masa primitif, manusia telah mengenal bahasa?
3) Pendamping dapat memastikan bahwa mahasiswa telah menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sesuai pemahaman mereka masing-masing.
4) Pendamping diharapkan lebih banyak bersabar selama mahasiswa berupaya menemukan jawabannya.
LANGKAH 02
Durasi Waktu keg. Media Pendukung
2 x 50 menit Lembar informasi/ Handout Penulisan Artikel
Lembar kerja mahasiswa (LKM) Sumber lain yang relevan
KEGIATAN PADA LANGKAH 02
1. Mahasiswa dibagikan Handout BAHASA MANUSIA: SUATU TINJAUAN HISTORIS BAHASA DAN HAKEKATNYA untuk dicermati, baik secara berkelompok maupun secara mandiri.
2. Materi Pengayaan
ADANYA BAHASA MANUSIA:
(1) Pengantar
Para ahli linguistik dunia berdaya upaya untuk menjejaki, dari mana asal bahasa manusia itu? Apakah manusia pertama di “Taman Firdaus” telah diberikan bahasa oleh Penciptanya? Apakah ada teori lain yang dapat membuktikan bahwa bahasa pada manusia sesungguhnya berkembang secara bertahap sesuai perkembangan manusia? Tidak ada data yang cukup kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Paba bagian awal ini kita mencoba mengikuti beberapa pandangan yang dikemukakan oleh sejumlah ahli bahasa.
(a) Teori tekanan Sosial
Teori ini dikemukakan oleh Adam Smith di dalam bukunya The Theory of Moral Sentiments. Teori ini bertolak dari suatu anggapan bahwa bahasa manusia lahir karena manusia dihadapkan pada kebutuhan untuk saling memahami. Apabila manusia primitif dihadapkan pada objek tertentu, manusia terdorong untuk mengucapkan sesuatu melalui bunyi-bunyi tertentu. Bunyi-bunyi tertentu itu dikenal sebagai tanda untuk menyatakan hal-hal yang dimaksudkannya. Jika pengalaman manusia bertambah, manusia akan menyampaikan pengalaman-pengalaman barunya itu melalui bunyi-bunyi tertentu pula.
Teori Tekanan Sosial tidak mempersoalkan fisik manusia primitif – yang berhubungan langsung dengan perkembangan kemampuan berbahasa manusia.
Teori Tekanan Sosial memberikan suatu gambaran bahwa manusia pada saat itu sudah memiliki bentuk fisik (jasmani) yang sudah sempurna, sehingga kapasitas mentalnya sudah sempurna pula. Teori Tekanan Sosial menegaskan bahwa perilaku tutur manusia pada saat itu terjadi sebagai akibat dari tekanan sosial, dan bukan terjadi dari hasil perkembangan manusia itu sendiri.
(b) Teori Onomatopetik atau Ekoik
seperti lolongan anjing, bunyi ayam, desiran angin, deburan gelombang, dan sebagainya. Melalui tiruan itulah lahirlah kata-kata.
Walaupun dalam kenyataan yang sudah diakui oleh para ahli bahasa bahasa bahwa ada unsur-unsur bahasa yang diciptakan manusia dengan meniru-niru bunyi binatang atau gejala alam yang terjadi di sekitar kehidupan manusia, tetapi kebenaran teori ini masih dipersoalkan para ahli yang lain. Para penyanggah mempersoalkan bahwa walaupun untuk berkomunikasi, manusia waktu itu cenderung meniru bunyi-bunyi makhluk rendahan seperti bunyi-bunyi binatang dan gejala alam, tidak berarti bahwa daya cipta manusia lebih rendah dari mahluk-mahluk rendahan itu.
(c)Teori Interyeksi
Teori ini diberi nama TEORI POOH-POOH. Teori ini dicetuskan pertama kali oleh Etienne Bonnet Condillac, dkk. TEORI POOH-POOH selanjutnya dikembangkan oleh Whitney setelah dikolaborasikannya dengan temuannya yakni onomatopetik. Dalam menguatkan hasil kolaborasinya, Whitney menjelaskan bahwa adalah wajar jika orang-orang yang tidak terpelajar dan belum berkembang, mengucapkan ujaran-ujaran tertentu, sementara mereka juga secara alamiah mengexpresikan keadaan jiwanya. Whitney memberikan penguatan kepada pengikutnya bahwa dalam melakukan ssesuatu hal manusia cenderung menampilkan expresi jiwa, dan berdasarkan expresi jiwa itulah manusia memberi makna pada ujaran-ujaran yang juga merupakan refleksi atau wujud dari suasana bathin tertentu itu. Whitney menambahkan, bahwa karena dengan adanya ketakutan, kegembiraan, dan sebagainya, makhluk-makhluk seperti binatang dan manusia cenderung mengucapkan ujaran tertentu, dan ujaran-ujaran itu diterima oleh manusia lainnya.
(d) Teori Nativistik atau Tipe Fonetik
Oleh Max Muller (pencetus), teroi ini diberi nama DING-DONG. Max Muller berdalih, terdapat satu hukum yang menguasai seluruh alam ini, yakni “bahwa setiap barang akan mengeluarkan bunyi kalau barang itu dipukul”. Secara kodrati, semua barang memiliki bunyi-bunyi yang khas dan kekhasan itu ditanggapi manusia. Kekuatan dasar manusia adalah memiliki kemampuan expresif artikulatoris. Dengan kekuatan itulah manusia mengirimkan pesan kepada penerima melalui expresi pancaindra – artikulatorisnya. Max Muller mengingatkan bahwa kemampuan artikulatoris itu bukan buatan manusia sendiri, melainkan suatu daya insting dari manusia. Oleh sebab itu bahasa merupakan suatu produk dari insting manusia yang dikategorikan dalam suatu tahapam kemampuan yang sangat primitif (sederhana).
Max Muller menjelaskan bahwa dengan insting manusia meresapi setiap inpresi dari luar yang menciptakan expresi vokalnya dari dalam. Bahasa berawal dari akar, dan akar itu merupakan tipe fonetik atau bunyi yang khas. Kata lahir dari bermacam-macam inpresi yang diramu dari perpaduan fonetik, dan peragaman dan /atau perubahan-perubahan fonetik. Bila expresi instingtif telah diselesaikan, instingtif tersebut akan padam dengan sendirinya.
Muller kembali menyimpulkan bahwa “tipe barang selalu memberikan reaksi tertentu bila diberikan srimulus”. Reaksi itu terjadi pada manusia yang separuhnya berbentuk vokal, yang dalam hal ini telah membentuk tipe-tipe fonetik tertentu yang kemudian menjadi akar bagi perkembangan bahasa manusia itu sendiri.
Dalam perjalanannya, tapatnya pada tahun 1891, Max Muller memodifikasi teori ding dong dengan nama Yo-He-Ho, yang sesungguhnya telah populer berangka tahun 1861 – 1863. Dalam kata pengantar teorinya, Max Muller menjelaskan bahwa sesuangguhnya istilah teorinya itu dipinjamnya dari tipe fonetiknya Noire, seorang sarjana filologi Perancis yang menerangkan tentang sumber tipe-tipe fonetik. Menurut Muller.
suara bergetar menghasilkan berbagai tipe bunyi. Akibat gateran yang dihasilkan itulah, lahirlah bunyi ujaran. Orang-orang pada kelas primitif yang belum mengenal peralatan maju akan mengalami beban yang sangat berat. Oleh sebab itu, manusia kelas primitif selalu bekerja bersama-sama dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan-pekerjaan yang amat berat sekali pun. Untuk memberikan semangat kepada sesama mereka selama bekerja, manusia-manusia kelas itu mengucapkan bunyi-bunyi yang khas – yang selalu dipertalikan dengan pekerjaan yang sedang dikerjakannya. Nama-nama baru akan selalu lahir dari aktivitas seperti itu dan sekali gus nama-nama itu dipakai untuk menamakan pekerjaan mereka.
(e) Teori Isyarat
Teori ini dikumandangkan oleh Wilhelm Wundt, seorang psikolog terkenal pada abad XIX. Dengan berpatok tolak dari hukum psikologis, Wundt menjelaskan bahwa setiap perasaan manusia mempunyai bentuk expresi yag khusus, yang merupakan pertalian tertentu antara saraf reseptor dengan saraf axeptor. Bila diamati secara mendalam dari ekspresi-ekspresi yang lahir, tampaklah bahwa setiap ekspresi-ekspresi selalu mereflekesikan peraaan tertentu yang dapat dipakai dalam mengkomunikasikan kenyataan-kenyataan.
Teori ini menjelaskan bahwa bahasa isyarat lahir dari emosi dan gerakan-gerakan ekspresif yang tak disadari – yang menyertai emosi. Suatu komunikasi gagasan dilakukan dengan gerakan tangan yang mendukung gerakan-gerakan mimik. Bila seseorang diajak berbicara dalam suatu gerakan yang disepakati maka lahirlah suatu kesepahaman, dan melalui proses kesepahaman itu selalu lahir dan dikembangkan dari suatu proses berpikir yang sama. Kesepahaman itu kemudian terbentuk dan terakumulasi dalam gerakan-gerakan konkrit yang tak disadari. Gerakan-gerakan konkrit yang tidak disadari itu lambat laun diganti oleh Gerakan- gerakan-gerakan yang disadari.
menjadi mwujudkan komunikasi pikiran. Wujud konkrit yang lahir pada masa inilah yang dinamakan bahasa.
Perlu diingat bahwa, komunikasi untuk mendengar memungkinkan manusia menciptakan jenis gerakan yang ketiga yakni gerakan artikulatoris, di samping gerakan mimietik dan pantomimiek yang sudah ada. Dijelaskannya pula bahwa walaupun bahasa isyarat merupakan bahasa primitif, tetapi Wundt, dkk sama sekali tidak menegaskan bahwa artikulatoris berkembang dari bahasa isyarat. Wundt menganggap bahwa kedua hal itu (artikulasi dan isyarat) dipakai bersama-sama, kemudian bahasa ujaran memperoleh status yang lebih tetap karena flexibilitasnya dan kemampuannya untuk mengadakan abstraksi.
(f) Teori Permainan Vokal
Jespersen seorang filolog Denmark menyimpulkan bahwa bahasa primitif manusia menyerupai bahasa anak-anak. Keputusan Jespersen diumumkan setelah dilakukannya penelitian bahasa anak-anak, bahasa suku-suku primitif, dan sejarah bahasa-bahasa. Bahasa manusia pada mulanya berwujud dengungan dan senandung yang tak berkeputusan yang tidak mengungkapkan pikiran apa pun, sama seperti suara senandung orang tua dalam membuat dan menyenangkan bayi. Bahasa lahir dari suatu permainan vokal, didukung oleh ujaran-ujaran. Dengungan dan senandung itu bermula dari suatu kebiasaan mengisi waktu senggang. Kesan Jespersen, bahwa bahasa yang terjadi dari dan berkembang dari kata-kata hasil dengungan dan senandung itu sesungguhnya merupakan suatu bentuk lahir yang sangat kaku, yang rumit, dan bahkan kacau. Walaupun demikian, bahasa yang lahir dari proses seperti itu kecenderungan untuk berkembang lambat – kendatipun “dia” terus bergerak maju menuju ke suatu yang lebih jelas, teratur, dan mudah.
(g) Teori Isyarat Oral
Teori ini dikumandangkan oleh Sir Richard Piaget dalam bukunya Human Speech. Dalam upaya memperkuat teorinya, Richard Piaget mengemukakan bukti-bukti yang selalu bertolak dari zaman bahasa isyarat. Bahwa ketika manusia mulai menggunakan peralatan, tangan manusia dipenuhi barang-barang sehingga manusia tidak secara bebas berkomunikasi. Berdasarkan hal itulah manusia selalu menggunakan oral (mulut) untuk membuat isyarat, yang sejatinya dilakukan dengan tangan (baca Keraf, 1996:9 – 11).
(h) Teori Kontrol Sosial
Teori ini diajukan oleh Grace Andrus de Laguna dalam bukunya Speech: Its Function and Development. Menurut teori ini, ujaran adalah suatu medium yang besar yang memungkinkan manusia bekerja sama. Bahasa (ujaran) merupakan upaya yang mengkoordinasikan dan menghubungkan teriakan hewan (cry) dan panggilan (call) yang memiliki fungsi sosial. Panggilan yang merupakan bahasa dari seekor induk ayam ketika seekor elang terbang melintasi di atasnya, membangkitkan respon tertentu pada anak-anak ayam untuk mencari tempat persembunyian. Kontrol sosial yang berwujud teriakan binatang dihubungkan dengan tingkah laku sederhana manusia dan kemampuan yang masih rendah dari spesies yang bersangkutan.
Perubahan-perubahan dalam cara hidup manusia menyebabkan cry dan call sama sekali tidak mencukupi kebutuhan dalam berkomunikasi. Perubahan dari manusia yang arboreal (manusia yang hidup di atas pohon), ke manusia yang hidup dan tinggal di tanah menyebabkan perubahan dalam susunan urat saraf yang cukup kompleks dan fleksibel untuk manata kembali suatu kehidupan yang lebih tinggi tingkatannya. Semakin meningkatnya komplesitas, organisme manusia pun harus menjadi lebih sensitif untuk membuat variasi-variasi yang lebih halus dalam membuat rangsangan (baca de Laguna dalam Keraf, 1996:11-12).
Ketika (cry) manusia primitif berakhir sebagai determinan langsung dari tingkah laku kelompok, ia berubah menjadi proklamasi yang sesungguhnya sebagai penentu bermacam-macam tingkah laku kelompok, dan sebagai alat untuk membangkitkan dan mengonsentrasikan persiapan bagi tindak-tanduk yang akan dilakukan. Ketidaklangsungannya sebagai alat kontrol sosial adalah sesuai dengan tingkat kebebasan ekspresi emosional di satu pihak dan fungsi simbolisme yang asli di pihak yang lain.
Pemisahan teriakan dari sebegitu banyaknya teriakan menuju pada ekspresi yang lain yang memungkinkan teriakan itu dipergunakan dalam kapasitas yang lain. Teori ini membandingkjan pemakaian bunyi-bunyi vokal manusia primitif dengan bunyi yang digunakan oleh manusia dewasa ini. Pandangan ini sependapat dengan Jespersen, yakni bahwa permainan vokal adalah unsur yang penting pada waktu lahirnya bahasa. Bunyi-bunyi yang digunakan dalam bentuk tindak-tanduk itu sendiri memang menyenangkan, tetapi juga ada kesenangan dalam tindak-tanduk itu sendiri. Ketika bunyi-bunyi itu dipakai secara sistimatik untuk mengontrol tingkah laku orang-orang lain yang mengacu pada objek-objek selama permainan berlangsung, nama-nama itu menjadi kata dan masuk sebagai unsur dalam struktur bahasa. Bila kita tengok ke belakang, teori ini ibarat seorang bayi yang kelaparan. Ketika seorang bayi hendak mengucapkan bunyi-bunyi ”din-din now”, bayi itu secara otomatis mulai bicara dalam arti kata yang sesungguhnya.
(i) Teori Kontak
ini menyerupai teori kontrol sosial yang diajukan Adam Smith. Namun, bagian-bagian yang penting meyerupai teori kontrol sosial-nya Laguna. Teori ini menjelaskan bahwa hubungan sosial pada mahluk hidup memperlihatkan bahwa kebutuhan manusia untuk mengadakan kontak satu sama lain tidak pernah memberikan kepuasan antara individu. Pada tahap yang sangat rendah, yakni pada tingkat instingtif – kebutuhan untuk mengadakan kontak tampaknya dapat dipenuhi oleh kontak spesial. Tetapi semakin kehidupan dilapisi oleh pengalaman yang terarah, keinginan akan kontak spesial (kontak karena kerapatan jarak fisik) tadi akan menjelma menjkadi suatu keinginan untuk mengadakan kontak emosional. Pada tingkatan ini kepuasan manusia karena kedekatan emosinal dengan yang lain yang akan menibulkan pengertian, simpati, dan empati pada orang lain tercapai. Kontak emosional adalah hal biasa dan esensial pada tingkah laku berbahasa. Bahasa hanya mungkin ada bila ada hubungan personal atau kontak emosional antara orang-orang yang mampu berbicara.
Aspek terakhir dari kontak yang sangat esensial dari perkembangan bahasa adalah kontak intelektual. Kontak ini berfungsi untuk menyampaikan pikiran. Hal ini berlaku secara filogenetis, bahwa bahasa dapat lahir sesudah tercapai prakondisi untuk kontak emosional dan kontak intelektual pada anggota-anggota masyarakat primitif.
(j) Teori Hockett-Ascher
Dengan mempertimbangkan evolusi manusia berdasarkan data arkeologi dan data-data geologis, Hockett-Ascher mengupas lebih menyeluruh perihal adanya bahasa manusia dalam bukunya The Human Revolution. Hockett-Ascher merumuskan bahwa sekitar dua sampai satu juta tahun yang lalu, makhluk yang disebut PROTO-HOMINOID sudah memiliki semacam bahasa. Primat PROTO-HOMINOID ini dianggap memiliki semacam sistem komunikasi yang disebut call. Makhluk proto-hominoid adalah makhluk arboreal – hidup mereka berkelompok-kelompok antara 5 – 30 anggota. Mereka menggunakan tongkat dan batu sebagai peralatan kerja.
mendalam ditemukan suatu teori bahwa sistem call yang digunakan oleh makhluk proto-hominoid itu dikenallah dua sistem komunikasi yang masih bertahan sampai dewasa ini, yakni sistem komunikasi yang diturunkan pada Gibbon modern dan yang lainnya berkembang menjadi bahasa nenek moyang manusia.
Call merupakan suatu sistem yang komunikasi sederhana, terdiri atas enam tanda distingsi, sesuai dengan situasi yang dihadapi. Keenam perbendahaan call itu diuraikan:
(a) call untuk menandakan adanya makanan, (b) call untuk menyatakan adanya bahaya,
(c) call untuk menyatakan persahabatan atau keinginan untuk bersahabat,
(d) call yang tidak mempunyai arti dan hanya menunjukkan dimana seekor Gibbon berada – call ini berfungsi untuk menjaga agar anggota kelompok jangan berpisah terlalu jauh ketika mereka bergerak di antara pohon-pohonan,
(e) call untuk perhatian sexual,
(f) call untuk menyatakan kebutuhan akan perlindungan keibuan.
Untuk menyatakan sifat stimulus yang dihadapi setiap call dapat bervariasi berdasarkan intensitasnya, lamanya, dan jumlah perulangannya. Tiap call bersifat exklusif dan timbali-balik. Ciri exklusif yang timbali-balik ini secara teknis disebut sistem tertutup (clossed system), sebaliknya bahasa yang digunakan manusia dewasa ini sifatnya terbuka (open system). Sistem call dan bahasa berbeda dalam tiga hal - sebagaimana diuraikan berikut.
sudah tidak ada makanan”, atau Gibbon lainnya juga tidak akan merespons bila ”mereka akan menunggu makanan berikutnya”. Atau, Gibbon yang mendapat makanan akan berlari ke markas induknya untuk menyebarkan informasi bahwa ia sudah menemukan makanan di suatu tempat, dan ia akan berada di tempat itu setelah mengeluarkan makanan.
(2) Ujaran dari suatu bahasa terdiri atas susunan unit-unit tanda yang disebut fonem yang tidak mengandung makna, tetapi berfungsi untuk memisahkan ujaran-ujaran yang bermakna satu dengan yang lainnya. Jadi, ujaran memiliki dua hal, yakni struktur dari ujaran yang tidak mengandung makna, tetapi bisa dibedakan satu dari yang lain, dan juga sebuah struktur dari unsur-unsur yang mengandung makna. Sistem ini disebut dengan kekembaran pola (duality of patterning). Sebuah call tidak memiliki ciri ini. Perbedaan antara dua call bersifat global.
(3) Konvensi-konvensi dari sebuah bahasa yang dialihkan secara tradisional, walaupun kepastian mempelajari bahasa dan rangsangan untuk berbahasa bersifat genetis. Hal ini belum dipastikan mengenai Gibbon, walaupun telah dicatat bahwa ada berbedaan regional dari call Gibbon. Sebab itu dapat disimpulkan bahwa call proto-hominoid diteruskan dari generasi ke generasi dilakukan secara genetis.
Menurut Hockett-Ascher, sekitar 1.000.000 – 40.000 tahun yang lalu, proto-hominoid perlahan-lahan berkembang menjadi kera pra-manusia. Dalam suatu peristiwa yang sangat penting kelompok proto-hominoid berpindah dan membuat tempat kediaman mereka di tanah dengan cara yang sangat kasar (Keraf, 1996:17-21).
Perlu dicatat bahwa lahirnya ssuatu bahasa dari sistem call hendaknya ditanggapi secara wajar. Ciri-ciri khusus dari sistem call proto-hominoid masih dapat dijumpai dalam tingkah laku manusia pada tingkat vokal-auditoris, yang bukan sebagai bagian dari bahasa, tetapi sebagai kesetaraan dalam penggunaan bahasa.
tinggi dan kadang-kadang lebih rendah. Manusia masih menggunakan gerutu, desah, atau teriakan-teriakan yang bukan kata atau morfem, juga semuanya itu bukan bagian dari bahasa. Bermacam-macam fonomenon-fenomenon paralinguistik ini diolah kembali dan diubah dengan banyak cara berdasarkan kondisi hidup manusia, tetapi silsilahnya tetap lebih tua dari bahasa itu sendiri.
LANGKAH 03
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit Lembar informasi/ Handout Lembar kerja mahasiswa (LKM) Sumber lain yang relevan
KEGIATAN PADA LANGKAH 03
1) Mahasiswa dibagikan lembaran latihan untuk dikerjakan secara berkelompok. (Lembaran soal: tersendiri)
2) Hasil kerja kelompok disampaikan dalam pleno kelas. 3) Pendamping mendampingi diskusi mahasiswa.
LANGKAH 04
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit Lembar informasi/ Handout Lembar kerja mahasiswa (LKM) Sumber lain yang relevan
KEGIATAN PADA LANGKAH 04
1) Pendamping mengajak mahasiswa mereview proses dan materi perkuliahan tentang ADANYA BAHASA MANUSIA: SUATU TINJAUAN HISTORIS.
2) Mahasiswa disampaikan tugas pengayaan untuk dikerjakan di rumah. (Lembaran informasi tugas: tersendiri).
D. PENILAIAN
Pendamping diharapkan merekam seluruh proses sejak awal kegiatan, proses kegiatan di kelas, dan tugas-tugas sebagai salah bentuk portofolio.. (Lembar penilaian: terlampir).
BACAAN PENGAYAAN
o Alwasillah, chaedar. 1983. Linguiustik: Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.
o Keraf, Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Grammedia.
o --- 1984. Komposisi: Sebuah Kemahiran Berbahasa. Ende: Nusa Indah.
o Parera, Jos Daniel. 1991. Kajian Linguistik Umum, Historis komparatif, dan Tipologi Struktural. Jakarta: Erlangga.
o Pateda, Mansoer. 1994. Linguistik: Sebuah Pengantar. Bandung: Angkasa.
BAGIAN DUA
HAKEKAT DAN CIRI BAHASA
(1 x 150 menit)
A.
PENGANTAR
Sudah jam tujuh, saya terlambat ke sekolah.
Pateda (1994) menjelaskan rumusan
“sudah jam tujuh, saya
terlambat ke sekolah”
merupakan serentetan bunyi artikulatif yang
lahir dari seseorang penutur dalam satuan rumusan yang bermakna.
Pateda (1994) menjelaskan, bahwa gambaran peristiwa yang tergambar
dari
sudah jam tujuh saya terlambat ke sekolah,hanya dapat dipahami dan
diterima oleh pihak-pihak yang memiliki pengalaman yang sama.
Gambaran rumusan peristiwa tersebut tidak akan terjadi bagi
pihak-pihak yang memiliki latar bahasa Dawan, Tetun, Jerman, Inggris, atau
yang lain-lainnya.
B.
TUJUAN
Setelah pembahasan ini, mahasiswa diharapkan mampu
menjelaskan hakekat bahasa secara benar.
C.
BAHAN DAN ALAT
Kridalaksana, Harimurti. 2001.
Kamus Linguistik
, hal. 21. PT.
Komputer, LCD, Meta-plano, Flipchart, Bahan ajar/ handout
D.
LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
Langkah 1: PENYAJIAN AWAL (1O MENIT)
Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses langkah ini lebih
kurang 10 menit, dengan alur proses sebagai berikut.
1)
Mahasiswa diajak duduk berkelompok, yang setiap
kelompoknya beranggotakan 3 – 5 orang.
3)
Pendamping dapat memastikan bahwa mahasiswa telah
memiliki pengetahuan siap yang memadai tentang “hakekat
bahasa”.
4)
Mahasiswa diberi kesempatan mencermati materi “hakekat
bahasa”.
5)
Hasil pre-test mahasiswa (pada butir 2) dapat dijadikan
pendamping sebagai bahan stimulan untuk pembelajaran
selanjutnya.
Langkah 2: PENJELASAN MATERI POKOK (15 menit)
Materi pokok “hakekat bahasa” disampaikan dalam bentuk
powerpoint
diselingi penjelasan dan tanya jawab.
Langkah 3: DISKUSI KELOMPOK (45 MENIT)
Pada langkah ini, mahasiswa dibagikan soal-soal diskusi melalui
LKM (lembar kerja mahasiswa). Soal-soal diskusi dapat dilihat pada
LKM.
Langkah 4: PLENO HASIL DISKUSI (45 MENIT)
Langkah ini mengikuti alur belajar sebagai berikut.
1) Setiap kelompok menanfaatkan waktu 5 menit sacara baik untuk
mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Waktu yang disiapkan
untuk setiap itu untuk melakukan kegiatan presentasi, tanggapan,
dan penyampaian rangkuman oleh kelompok pengamat.
Penetapan waktu tersebut akan disesuaikan dengan tingkat
pemahaman mahasiswa terhadap materi saji dan waktu
dimulainya kegiatan diskusi kelompok.
mempermudah proses penyimpulan yang akan dilakukan pada
langkah 5.
Langkah 5: REVIEW (10 MENIT)
1) Mahasiswa diajak mereview atau merangkum seluruh isi sajian
pada pertemuan ini.
2) Demi penyempurnaan hasil review atau hasil rangkuman,
pendamping perlu menyampaikan materi pengayaan yang
berhubungan dengan pertemuan ini.
3) Sebagai akhir dari pertemuan ini, kepada mahasiswa disampaikan
tugas pengayaan untuk dikerjakan secara kelompok di luar waktu
tatap muka.
4) Perlu diingat, bahwa peran dosen pada seluruh langkah kegiatan
adalah sebagai
fasilitator, motivator, dan observer.
E.
BAHAN BACAAN UNTUK MAHASISWA DAN DOSEN
HAKEKAT BAHASA
Sudah jam tujuh, saya terlambat ke sekolah.
Pateda (1994) menjelaskan rumusan
Sudah jam tujuh, saya terlambat ke sekolahmerupakan serentetan bunyi artikulatif yang lahir
dari seseorang penutur bahasa dalam satuan rumusan yang bermakna.
Jika dianalisis, pertanyaan-pertanyaan yang lahir barangkali sebagai
berikut.
o Siapa yang berartikulasi? ”Saya” (orang).
o Perihal apakah yang disampaikan ”saya?” ”Sudah jam tujuh”.
o Pertanyaan selanjutnya, ”maksud apakah yang terkandung dalam ”sudah jam tujuh itu?” ”Saya sudah terlambat ke sekolah”.
sekolah”
itu memantulkan amanat dari seseorang pemakai bahasa
(Indonesia), dan dari deretan bunyi itulah memantulkan makna yang
sempurna, dan oleh kesempurnaan jualah amanat itu dapat ditanggapi
secara sempurna pula oleh para pemakai bahasa Indonesia, dan
dipastikan tidak bertentangan dengan:
Sudah jam tujuh, saya sudah terlambat ke sekolah.
Pateda (1994) menjelaskan, pesan peristiwa tersebut ditanggapi
secara baik hanya karena pihak-pihak yang memiliki pengalaman yang
sama benar-benar memahami pesan itu secara baik pula. Tentu saja,
gambaran pesan itu tidak akan terjadi untuk pemakai bahasa: seperti
Dawan, Tetun, Jerman, Inggris, atau yang lainnya.
1. Apa itu bahasa?
Bloomfield (Sumarsono, 2002:18; baca juga Kridalaksana
2001:21) mendefinisikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang
bersifat sewenang-wenang
(arbitrer),
dipakai oleh anggota masyarakat
untuk saling berhubungan, berinteraksi, dan mengidentifdikasikan diri.
Definisi Bloomfield itu dipandang
Archibal A Hill
(lihat Pateda, 1994:7),
tidak hanya mengandung makna berinteraksi, dan mengidntifikasi diri,
tetapi bahasa memiliki sifat yang sempurna dan universal.
dan wajib hubungannya antara lambang yang tampak dengan konsep
yang dilambangkannya?
2. Ciri Universal
Para ahli bahasa menemukan sejumlah ciri universal bahasa
diuraikan sebagai berikut.
a)
Sistemis dan Sistematis.
Sebagai suatu sistem, bahasa
terdiri atas sejumlah unsur yang tersusun secara teratur yang
masing-masing unsurnya saling bekerja sama, berhubungan satu
sama lainnya. Unsur-unsur itu diuraikan sebagai bunyi, bentuk,
makna, fungsi, struktur, proses, dan unsur para-lingual.
b)
Lambang Bunyi.
Satuan unsur mulai dari unsur yang paling
rendah dalam suatu hierarkis bahasa sampai pada suatu tingkat yang
tertinggi itu berwujud lambang atau simbol bunyi yang artikulatif.
Lambang atau simbol yang tertata dalam satuan fonem, morfem,
kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana itu bermuara pada suatu
pengertian utuh, yakni satu satuan konsep, satu satuan ide, atau satu
satuan pikiran.
d)
Bermakna.
Satuan-satuan lambang sistematis itu, baik
yang mempunyai rujukan yang jelas maupun yang tidak mempunyai
rujukan,
semuanya digunakan secara fungsional untuk
berkomunikasi dan mengidentifikasi diri oleh para pemakainya. Oleh
karena itu, suatu makna mengikuti lambang-lambang dan memiliki
sifat yang sempurna.
e)
Konvensional.
Agar komunikasi sosial dalam suatu kelompok
pemakai bahasa berjalan dengan lancar dan tidak terjadi hambatan
karena salah paham atau salah pengertian, semua anggota kelompok
masyarakat pemakai bahasa tertentu mestinya memahami konvensi
keterkaitan lambang bunyi yang digunakannya itu dengan konsep,
ide, pengertian, atau pikiran yang mewakilinya. Kekonvensionalan
bahasa terletak pada ketaatan dan kepatutan para penuturnya untuk
menggunakan lambang bunyi itu sesuai dengan konsep yang
dilambangkannya.
f)
Unik.
Setiap bahasa memiliki ciri yang spesifik dan unik.
Artinya, lambang atau bentuk, struktur, dan makna yang dimiliki oleh
suatu bahasa tidak sama dan bahkan tidak dimiliki oleh bahasa yang
lain. Bahwa ciri khas itu mengenai seluruh tataran kebahasaan, mulai
fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, sampai pada suatu
wacana yang luas dan kompleks. Keunikan bahasa juga dapat terjadi
pada struktur supra segmental seperti nada, tekanan, intonasi, jeda.
idiolek masyarakat adat, dan sebagainya. Koine (variasi bahasa) yang
digunakan oleh masyarakat yang merasa dirinya
petinggi
akan
berbeda dengan masyarakat kelas petani, nelayan, atau masyarakat
penutur kebanyakan.
h)
Produktif.
Meskipun jumlah unsur-unsur pembentuk suatu
bahasa seperti fonem, morfem, kata, kalimat, dan wacana itu
terbatas, unsur-unsur itu dapat menurunkan satuan-satuan baru yang
jumlahnya tak terbatas. Misalnya, dengan sejumlah kosa kata seperti:
saya
,
gunung
,
laut, mereka, ke, dan
,
orang dapat secara
produktif memformulasikan berbagai-bagai kalimat dengan makna
yang tak terbatas.
Saya ke gunung dan mereka ke laut; Saya ke laut dan mereka ke gunung;
Saya, mereka ke laut dan ke gunung, dan seterusnya.
i)
Dinamis dan Berkembang.
Bahasa itu selalu berubah dan
berkembang sesuai dengan perubahan dan perkembangan
masyarakat penuturnya. Sebelum tahun 1965, kata
gerombolan
digunakan tanpa ada dampak politisnya. Namun, setelah
pemberontakan G30S/PKI, kata itu berdampak pada kelompok yang
mengacu pada pengertian yang lain. Kata
tikus
mengacu pada suatu
benda, hewan atau binatang jenis pengerat. Ikuti contoh formulasi
kalimat:
Sebidang sawah milik Bapak Siso habis dimakan tikus sawah.
Bandingkan formulasi di atas dengan:
Dana purnabakti sejumlah pensiunan guru SD tahun 2007 Kecamatan Siso, habis dimakan tikus pengurus.
F.
LEMBAR KERJA MAHASISWA (LKM)
Petunjuk: Kerjakanlah dalam kelompok!
1)
Bahasa adalah suatu sistem bunyi? Jelaskanlah
sistem fonologis bahasa Anda?
bahwa bahasa Anda berbeda dengan orang-orang di kampung
seberang? Jika berbeda, mengapa hal itu terjadi?
3)
Bahasa adalah suatu sistem yang
konvensional? Jelaskan dari sisi sintaksis!
4)
Tuturan manusia, jelas berbeda dengan tuturan
hewan. Di manakah letak perbedaan yang paling hakiki?
5)
Pada sekitar tahun 1960-an, kata
“oknum,
gerombolan, diamankan”
, dirasakan meresahkan masyarakat
Indonesia. Jelaskanlah dari sisi makna!
G.
TES AKHIR( 25 MENIT)
Petunjuk:
jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut secara
singkat!
1) Apa itu “bahasa” menurut Bloomfield?
2) Unsur-unsur apa sajakah yang Anda dapatkan dari batasan
Bloomfield itu?
3) Sebutkan ciri-ciri universal dari bahasa!
4) Menurut Anda, apakah bahasa Indonesia yang digunakan oleh
masyarakat penutur Bahasa Dawan di kota So’e, sama dengan
bahasa Indonesia yang digunakan oleh masyarakat penutur
Bahasa Malayu Kupang di Kodya Kupang?
BAGIAN TIGA
KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA
A. INDIKATOR PENCAPAIAN HASIL BELAJAR
Mahasiswa mampu menjelaskan bahwa:
1. kedudukan Bahasa Indonesia dalam perpolitikan Indonesia
2. fungsi Bahasa Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia.
LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
LANGKAH 01
Durasi Waktu keg. Media Pendukung
1 x 50 menit Lembar informasi/ Handout Lembar kerja mahasiswa (LKM) Sumber lain yang relevan
KEGIATAN PADA LANGKAH 01
5) Mahasiswa distimulasi dengan beberapa pertanyaan:
o Menurut pendapatmu, Bagaimanakah kedudukan bahasa Indonesia dalam duania perpolitikan dewasa ini?
6) Pendamping memastikan bahwa mahasiswa dapat menemukan jawaban tersebut sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing.
7) Pendamping diharapkan lebih banyak bersabar selama mahasiswa berupaya menemukan jawaban.
LANGKAH 02
Durasi Waktu keg. Media Pendukung
2 x 50 menit Lembar informasi/ Handout Penulisan Artikel
Lembar kerja mahasiswa (LKM) Sumber lain yang relevan
B. BACAAN PENGAYAAN
Halliday,M.A.K. dan Ruqaiya Hasan. 1994. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-Aspek bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada Univ. Press.
Keraf, Gorys. 1997. Komposisi. Ende: Nusa Indah.
Kridalaksana, Harimurti. 1995. “Pendayagunaan Potensi Intern dan Extern dalam Pengembangan Bahasa Indonesia dan Peningkatan Budaya bangsa”. Makalah yang disajikan dalam Seminar nasional Sejarah Bahasa Indonesdia dalam Perjalanan Bangsa.” Denpasar, Bali: Univ Udayana.
---. 1991. Masa Lampau Bahasa Indonesia:
Sebuah Bunga Rampai. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Pateda Mansoer. 1991. Linguistik Terapan. Ende: Nusa Indah. Sa’adie, Maimur, dkk. 1997. Bahasa Bantu. Jakarta: Depdikbud,
bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III tahun 1997/1998.
KEGIATAN PADA LANGKAH 02
3. Mahasiswa dibagikan Handout KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA untuk dicermati, baik secara berkelompok maupun secara mandiri.
KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA
(2) Kedudukan Bahasa Indonesia
Kedudukan bahasa adalah suatu status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai budaya, yang dirumuskan atas dasar nilai sosial yang dihubungkan dengan bahasa yang bersangkutan (Politik Bahasa Nasional 2:145). Sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia memiliki status tertinggi. Secara tegas, kedudukan ini dimilikinya sejak diikrarkannya oleh para pemuda dalam Sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
Selain berkedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara atau bahasa resmi. Hal ini juga ditegaskan dalam UUD ’45, Bab XV pasal 36. Dalam dokumen tertinggi itu Bahasa Indonesia dimaklumatkan sebagai bahasa negara.
(3) Fungsi Bahasa Indonesia
Sebelum kita berbicara tentang fungsi Bahasa Indonesia, alangkah baiknya kita berbicara sejenak perihal fungsi bahasa pada umumnya.
Keraf (1997:3-6) menuliskan bahwa secara umum bahasa berfungsi sebagai berikut.
(a)Untuk menyatakan ekspresi diri. Fungsi tersebut mengidikasikan bahwa melalui bahasa, manusia dapat menyatakan diri secara terbuka tentang segala sesuatu yang tersirat dalam “dadanya”, sekurang-kurangnya untuk memaklumatkan keberadaan dirinya. Faktor-faktor yang yang mendorong lahirnya fungsi ini adalah:
ketertarikan dan perhatian orang lain terhadap diri kita,
keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi.
kehidupan masa kini, dan dapat memprediksi dan menganalisis kehidupan pada masa yang akan datang.
(c)Alat intergrasi dan adaptasi sosial. Fungsi ini mengindikasikan, bahwa dengan kekuatan bahasa, anggota-anggota masyarakat dapat dipersatukan secara efisien, dan setiap warga merasa dirinya terikat erat dengan warga kelompok lain, karena manusia merasa bahwa ”dia” adalah bagian dari kelompok sosial yang lebih besar. Dengan bahasa, manusia dapat melakukan aktivitas kemsyarakatan dan menghindarkan diri sejauh mungkin terhadap bentrokan-bentrokan dalam kehidupan kemasyarakatan. Bahasa juga memiliki kekuatan untuk memungkinkan manusia berintgrasi (hidup membaur) secara sempurna dengan kelompok sosial yang dimasukinya. Dengan kekuatan bahasa manusia dapat secara perlahan-lahan belajar mengenal adat-istiadat, tingkah laku, dan tata krama masyarakat. Manusia berusaha berdaptasi dengan kelompok sosial lain yang tentunya memiliki tatakrama, adat istiadat yang berbeda daripadanya.
(d)Alat kontrol sosial. Fungsi ini mengindikasikan bahwa dengan kekuatan bahasa manusia berdaya upaya mempengaruhi tingkah laku dan tindak-tanduk orang lain. Bahwa, tingkah laku manusia dapat bersifat terbuka (overt: tingkah laku yang dapat diamati dan diobservasi) dan tingkah laku yang bersifat tetrtutup (covert: tingkah laku yang tidak dapat diobservasi). Dengan kekuatan bahasa manusia dapat mengadakan kontrol sosial melalui proses-proses sosialisasi yang berwujud: (i) keahlian bicara, (ii) pengalihan kepercayaan dan sikap orang tua kepada anak-anak yang sedng tumbuh, (iii) melukiskan dan menjelaskan peranan serta mampu mengidentifikasi diri dalam melakukan tindakan, (iv) menanamkan rasa keterlibatan (sense of belonging atau esprit de corps) pada si anak tentang masyarakat bahasanya.
mengacu pada penggunaan bahasa untuk mempengaruhi, mengajak, menyuruh atau melarang, (e) fungsi puitis (poetic) mengacu pada penggunaan bahasa yang bernilai puitis, (f) fungsi fatis (phatic) mengacu kepada penggunaan bahasa untuk memelihara kontak antara pembicara dengan pendengar, (g) fungsi metalingual (metalingual) mengacu kepada penggunaan untuk menguraikan unsur-unsur bahasa itu sendiri.
Finocchiaro (Dardjowidjojo 1987) menuliskan bahwa bahasa memiliki fungsi (a) fungsi personal mengacu kepada kemampuan pembicara atau penulis untuk mengungkapkan pikiran, kemauan, dan perasaannya, (b) fungsi interpersonal mengacu pada penggunaan bahasa yang berakibat pada hubungan pembicara dengan pendengar atau antara penulis dengan pembaca, (c) fungsi direktif mengacu pada penggunaan bahasa yang berhubungan dengan permintaan, ajakan, bujukan, perintah, dan larangan, (d) fungsi referensial yang mengacu pada penggunaan bahasa yang berhubungan dengan dunia luar pembicara/penulis dan pendengar/pembaca, misalnya berhubungan dengan benda, peristiwa, dan proses, (e) fungsi imajinatif yang mengacu kepada penggunaan bahasa yang bersifat imajinatif, misalnya dalam menyusun sajak, cerpen, dan novel.
Blundell, cs. (Dardjowidjojo 1987:138-139) menuliskan bahwa bahasa memiliki (a) fungsi informational, attitudinal, active yang didasarkan pada kenyataan bahwa sebelum kita mempunyai sikap (attitude) terhadap suatu pendapat, ujaran, kita memerlukan informasi lebih dahuulu, (b) social formula, yakni penggunaan bahasa hanya untuk basa-basi, misalnya halo, apa khabar!
(c) pelumas komunikasi mengacu pada penggunaan bahasa yang bermaksud agar komunikasi berjalan terus, mislnya: ah, masak, oh.... ya, mm... I see, aha...! (d) fungsi informasi kebahasaan yang mengacu kepada informasi kebahasaan saja.
Inem sexi!, (d) fungsi interactional mengacu kepada penggunaan bahasa yang beruasaha agar kominikasi tertap berjalan lancar, misalnya: harus memperhatikan situasi, norma, (e) fungsi personal, yang mengacu kepada penggunaan bahasa yang menyatakan pikran, kemauan, perasaan pribadi, (f) fungsi heuristic mengacu kepada penggunaan bahasa untuk memperoleh pengetahuan, untuk mengenal lingkungan, (g) fungsi imaginatif mengacu kepada penggunaan bahasa untukmenciptakan ide yang imajinatif, misalnya menciptakan sajak, novel, dan cerpen.
Berdasarkan fungsi-fungsi umum, fungsi Bahasa Indonesia dapat dijabarkan, bahwa Dalam kedudukannya sebagai sebagai bahasa nasional dan juga sebagai bahasa resmi kenegaraan Bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
(1) Sebagai lambang kebanggaan nasional. (2) Sebagai lambang identitas nasional.
(3) Sebagai alat yang memungkinkan penyatuan suku atau etnik yang memiliki ciri bahasa dan ciri budaya masing-masing.
(4) Sebagai alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya.
Di samping itu, dalam kedudukan sebagai bahasa negara atau bahasa resmi kenegaraan, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
(1) bahasa resmi dalam menjalankan adminitrasi kenegaraan, (2) bahasa pengantar dalam dunia pendidikan,
(3) alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencaraan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintahaan,
(4) alat pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan dan teknologi
LANGKAH 03
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit Lembar informasi/ Handout
Lembar kerja mahasiswa (LKM) Sumber lain yang relevan
KEGIATAN PADA LANGKAH 03
4) Mahasiswa dibagikan lembaran latihan untuk dikerjakan secara berkelompok. (Lembaran soal: tersendiri)
6) Pendamping mendampingi diskusi mahasiswa.
LANGKAH 04
Durasi Waktu Media Pendukung
1 x 50 menit Lembar informasi/ Handout Lembar kerja mahasiswa (LKM) Sumber lain yang relevan
KEGIATAN PADA LANGKAH 04
3) Pendamping mengajak mahasiswa mereview proses dan materi perkuliahan tentang KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA 4) Mahasiswa disampaikan tugas pengayaan untuk dikerjakan di rumah.
(Lembaran informasi tugas: tersendiri). C. PENILAIAN
Untuk menilai keberhasilan mahasiswa dalam PERKULIAHAN INI, digunakanlah tiga model penilaian, yakni penilaian proses, portofolio, dan hasil kerja. Butir-butir penilaian disiapkan dalam lembar kerja mahasiswa. Pendamping diharapkan merekam seluruh proses sejak awal kegiatan, proses kegiatan di kelas, dan tugas-tugas sebagai salah satu bentuk portofolio.. (Lembar penilaian: terlampir).
H.
PENGANTAR
Bahasa terdiri-dari dua aspek yakni aspek
bentuk
dan aspek
makna
. Aspek bentuk dapat dibagi menjadi dua unsur yaitu
unsur
segmental
dan
unsur suprasegmental
. Unsur segmental dapat
dibagi-bagi atas bagian-bagian yang lebih kecil yang meliputi: fonem,
morfem, kata, frasa, klausa, kalimat dan wacana. Sebaliknya unsur
suprasegmental adalah unsur bahasa yang kehadirannya tergantung
dari kehadiran unsur segmental. Unusr suprasegmental meliputi:
tekanan keras, tekanan tinggi (nada) dan tekanan panjang yang
dalam bentuk yamg lebih luas dikenal sebagai intonasi
Unsur-unsur segmental dapat dikatakan sudah cukup berhasil
digambarkan di atas helai kertas, walaupun di sana sini masih
terdapat adanya kekurangan. Unsur-unsur suprasegmental beserta
gerak-gerik dan air muka belum dapat dilukiskan dengan sempurna.
Unsur-unsur segmental biasanya dinyatakan secara tertulis dengan
abjad, persukuan, penulisan kata dan sebagainya. Sebaliknya
unsur-unsur suprasegmental biasanya dinyatakan secara tertulis melalui
tanda-tanda baca atau pungtuasi.
I.
TUJUAN
Setelah pembahasan ini, mahasiswa diharapkan mampu
menerapkan pungtuasi dalam berbagai karya tulis ilmiah.
J.
BAHAN DAN ALAT
c.1 Referensi yang Digunakan
Kridalaksana, Harimurti. 2001.
Kamus Linguistik
, hal. 21.
Jakarta: PT. Grammedia.
Keraf, Gorys. 1997.
Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran
Bahasa.
Ende: Nusa Indah.
Keraf, Gorys. 1996.
Tata Bahasa Indonesia
: untuk SMU dan SMK.
Ende: Nusa Indah.
Moeliono, A.M.(Ed.) 1997.
Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia
.
Jakarta: Balai Putaka.
Sugono, Dendy (Penyunting). 2008. Petunjuk Praktis Bahasa
Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, Depdiknas.
Sugono, Dendy (Penyunting). 2008. Pengindnesiaan Kata dan
Ungkapan Asing. Jakarta: Pusat Bahasa, Depdiknas.
c.2 Bahan dan Alat
Komputer, LCD, Meta-plano, Flipchart, Bahan ajar/ handout
K.
LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
Langkah 1: PENYAJIAN AWAL (1O MENIT)
Waktu yang dibutuhkan untuk langkah ini lebih kurang 10 menit,
dengan alur proses sebagai berikut.
6)
Mahasiswa diajak duduk berkelompok, yang setiap
kelompoknya beranggotakan 3 – 5 orang.
9)
Mahasiswa diberi kesempatan mencermati materi
“pungtuasi”.
10)
Hasil pre-test mahasiswa (pada butir 2) dapat dijadikan
pendamping sebagai bahan stimulan untuk pembelajaran
selanjutnya.
Langkah 2: PENJELASAN MATERI POKOK (15 menit)
Materi pokok “pungtuasi” disampaikan dalam bentuk
powerpoint
diselingi penjelasan dan tanya jawab.
Langkah 3: DISKUSI KELOMPOK (45 MENIT)
Pada langkah ini, mahasiswa dibagikan soal-soal diskusi melalui
LKM (lembar kerja mahasiswa).
Langkah 4: PLENO HASIL DISKUSI (45 MENIT)
Langkah ini mengikuti alur belajar sebagai berikut.
3) Setiap kelompok menanfaatkan waktu 5 menit sacara baik untuk
mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Waktu yang disiapkan
untuk setiap itu untuk melakukan kegiatan presentasi, tanggapan,
dan penyampaian rangkuman oleh kelompok pengamat.
Penetapan waktu tersebut akan disesuaikan dengan tingkat
pemahaman mahasiswa terhadap materi saji dan waktu
dimulainya kegiatan diskusi kelompok.
Langkah 5: REVIEW (10 MENIT)
5) Mahasiswa diajak mereview atau merangkum seluruh isi sajian
pada pertemuan ini.
6) Demi penyempurnaan hasil review atau hasil rangkuman,
pendamping perlu menyampaikan materi pengayaan yang
berhubungan dengan pertemuan ini.
7) Sebagai akhir dari pertemuan ini, kepada mahasiswa disampaikan
tugas pengayaan untuk dikerjakan secara kelompok di luar waktu
tatap muka.
8) Perlu diingat, bahwa peran dosen pada seluruh langkah kegiatan
adalah sebagai
fasilitator, motivator, dan observer.
L.
BAHAN BACAAN UNTUK MAHASISWA DAN DOSEN
PUNGTUASI
(sumber utama: Komposisi Gorys Keraf
1. Pentingnya Pungtuasi
kepada suatu ucapan dengan perbedaan variasi kecepatan, keras
lembut dan intonasi yang berlainan.
Semuanya itu begitu biasa dalam kehidupan sehari-hari
sehingga tidak timbul persoalan bagi pendengar. Setiap orang yang
diajak bicara langsung memahami apa fungsi dari suara naik atau
menurun. Apa makna dari suatu tutur yang disampaikan dalam
tempo yang relatif lebih lama? Tetapi semuanya ini baru menjadi
persoalan bila percakapan-percakapan atau bahasa lisan itu
ditranskripsikan dalam tulisan. Bagaimana seorang dapat
menyatakan nada yang naik atau menurun, bagaimana ia harus
melukiskan ujaran-ujaran yang keras, lembut dan sebagainya?
Pada waktu dilakukan transkripsi bahasa lisan itu, sebenarnya
dicoba pula untuk menuangkan semua hasil ujaran manusia beserta
nuansa lagu dan laju ujaran ke dalam gambar-gambar di atas sehelai
kertas. Penulis yang ahli dan berpengalaman akan megubah
kalimat-kalimatnya sedemikian rupa sehingga ia dapat memperoleh tekanan
yang diinginkannya sebagaimana terdapat dalam bahasa lisan. Ia
akan berusaha pula untuk memilih kata-kata yang tepat untuk
mencerminkan kembali arti sebagai yang dimaksudkan dalam
bahasa lisan; walaupun masih terdapat kekurangan-kekurangan.
2. Dasar Pungtuasi
Sebelum mempelajari pungtuasi, hendaknya sekali lagi
dicamkan bahwa pungtuasi itu dibuat berdasarkan dua hal utama
yang saling melengkapi, yaitu (1) didasarkan pada unsur
suprasegmental, (2) didasarkan pada hubungan sintaksis.
Coba katakan, saudara, siapa namamu
?
karena di situ diberikan perhentian sebentar dengan intonasi menaik.
Sebaliknya pada akhir kalimat diberikan tanda tanya karena
intonasinya adalah intonasi tanya.
Sering terjadi bahwa unsur-unsur kalimat yang merupakan
kesatuan ditampilkan dalam urutan yang terpisah, yaitu diinterupsi
oleh unsur-unsur yang kurang esensil sifatnya. Dalam hal ini harus
dipergunakan tanda-tanda baca agar hubungan itu tidak menjadi
kabur. Misalnya kita tidak boleh memisahkan unsur-unsur yang
merupakan satu kesatuan seperti subjek dan predikat atau sebuah
kata dengan keterangan yang erat. Sebaliknya kita harus
memisahkan anak-anak kalimat yang independen dalam sebuah
kalimat majemuk, memisahkan subjek dari unsur-unsur pengantar
predikat yang mendahului subyek memisahkan unsur-unsur yang
setara, dan lain sebagainya.
3. Macam-macam Pungtuasi
Pungtuasi yang lazim dipergunakan dewasa ini didasarkan atas
relasi gramatikal, frasa, dan inter-relasi antara bagian kalimat
(hubungan sintaksis). Tanda-tanda tersebut duraikan sebagaikan
berikut.
(1)
Titik.
Titik atau perhentian terakhir biasanya dilambangkan dengan (.).
Tanda ini lazimnya dipakai untuk hal-hal sebgai berikut.
(a)
Menyatakan akhir dari sebuah tutur atau kalimat.
Bapak sudah pergi ke kantor.Tidak ada yang perlu ditakuti.
Ada kalangan yang menganggap cara dramatik itu sebagai cara yang terbaik.
Karena kalimat tanya dan kalimat perintah atau seru mengandung
pula pengertian perhentian akhir yaitu berakhirnya suatu tutur.
Tanda tanya dan tanda seru yang digunakan dalam kalimat–
kalimat tersebut selalu mengandung sebuah tanda titik.
Pergilah dari sini! Aduh, sialnya nasibku!
(b)
Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar,
jabatan pangkat dan singkatan kata atau ungkapan yang sudah
lazim.
Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya
dipakai satu tanda titik.
Dr. (Doktor) a.n. (atas nama) dr. (dokter) d.a. (dengan alamat) Ir. (Insinyiur) u.b. (untuk beliau) Kol. (Kolonel) dkk. (dan kawan-kawan) M.Sc.(Master of Science) dll. (dan lain-lain) Prof . (Pofesor) dst. (dan seterusnya) S.H. (Sarjana Hukum) dsb. (dan sebagainya) Drs. (Doktorandus) tsb. (tersebut)
M.A. (Master of Arts) Yth. (Yang terhormat)
Semua singkatan kata yang mempergunakan inisial atau akronim
tidak mempergunakan titik: MPR, DPR, ABRI. Hankam, Kopkamtib,
Ampera, Lemhanas, dan sebagainya.
(c)
Tanda titik dipergunakan untuk memisahkan angka
ribuan, jutaan, dan seterusnya yang menunjukkan jumlah; juga
dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik.
1.000
pukul 5.45.42 (pukul lima lewat 45 123.000 menit 42 detik)
154.376.235. 567.987.456.879.
Bila bilangan itu tidak menunjukkan jumlah maka tanda titik tidak
dipergunakan:
Pada halaman 5675 terdapat kata-kata berikut. Ia lahir pada tahun 1876
(2)
Koma.
i.
Untuk memisahkan bagian-bagian kalimat, antara
kalimat setara yang menyatakan pertentangan, antara anak
kalimat dan induk kalimat, dan antara anak kalimat dan kalimat.
Ia sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi maksudnya tidak tercapai.
Mereka bukan mengerjakan apa yang diperintahkan, melainkan duduk bermalas-malasan saja.
Nenek mengatakan dengan bangga, bahwa mereka adalah keturunan petani yang kuat-kuat, yang pantang mengalah dengan raksasa alam - ya, tiada dilupakan beliau berceritera tentang tanggul yang arsiteknya beliau rencanakan.
Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa dalam usaha penyempurnaan ejaan bahasa Indonesia, lebih dahulu harus ditentukan secara deskriptif tata fonem bahasa Indonesia, sebelum dilakukan pemilihan huruf bagi fonem-fonem.ii.
Koma dipergunakan untuk menandakan suatu bentuk
parentetis (keterangan-keterangan tambahan yang biasanya
ditempatkan juga dalam kurung) dan unsur –unsur yang tak
restriktif.
1. Pertama, tulislah nama saudara di atas kertas itu.
2. Anak-anak, yang sudah menghadiri kebaktian itu, dapat dipulangkan ke rumahnya masing-masing.
3. Kedatangannya, seperti yang diinginkannya dari dulu, tidak disambut dengan upacara besar-besaran.
iii.
Tanda koma dipergunakan untuk memisahkan anak
kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat mendahului induk
kalimatnya, atau untuk memisahkan induk kalimat dengan
sebuah bagian pengantar yang terletak sebelum induk kalimat.
Bila hujan berhenti, ia akan mulai menanami sawahnya. Karena marah, ia meninggalkan kami.
Sebagai pembuka acara ini, kami persilakan hadirin berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan.
iv.
Koma dipergunakan untuk menceraikan beberapa
kata yang disebut berturut-turut.
Ia membeli seekor ayam, dua ekor kambing, lima puluh kilogram gula sebagai oleh-oleh untuk orang tuanya.
Realita kehidupan penuh dengan kaidah, aturan-aturan, ukuran-ukuran, hukum-hukum, yamg memberikan arti pada keselarasan hidup itu sendiri.
Di samping itu, kenyataan dan sejarah juga menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa itu biasanya tidak berlangsung lama.
Biarpun demikian, pelajar-pelajar yang berkualitas baik tidak sepenuhnya tertampung dalam universitas-universitas.
Oleh karena itu, sudah tibalah waktunya bagi kita untuk menata kembali kehidupan di kampus ini.
vi.
Koma selalu dipergunakan untuk menghindari salah
baca atau keragu-raguan.
Meragukan : Di luar rumah kelihatan suram. Jelas : Di luar, rumah kelihatan suram. Jelas : Di luar rumah, kelihatan suram.
vii.
Koma dipakai untuk menandakan seseorang yang
diajak bicara.
Saya mendoakan, Yanto, agar engkau selalu berhasil dalam usahamu. Saya setuju, saudara.
viii.
Koma dipakai juga untuk memisahkan aposisi dari
kata yang diterangkannya
.Jendral Suharto, Presiden Republik Indonesia, dengan sekuat tenaga berusaha untuk menyelamatkan rakyat Indonesia.
Orang tuanya, Pak Yakob telah meninggal tadi malam.
ix.
Koma dipakai untuk memisahkan kata-kata afektif
seperti
o, ya, wah, aduh, kasihan dari bagian kalimat
lainnya.
Aduh, betapa sedih nasibnya
Wah, sungguh hebat hasil yang mereka capai.
x.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan sebuah
ucapan langsung dari bagian kalimat lainnya.
Kata ayah, ”saya akan mengurus sendiri persoalan itu.”
xi.
Koma dipergunakan juga untuk beberapa maksud
berikut.
Memisahkan nama dan alamat, bagian-bagian
alamat, tempat dan tanggal.
Memisahkan nama keluarga dari gelar
akademik.
Untuk menyatakan angka desimal.
Bila anda ingin menyurati saya alamatkanlah ke: Fakultas Sastra – Universitas Indonesia, Jln. Daksinapati, Rawamangun, Jakarta.
Mulyana, Slamet. A.K. Pardede, S.S.,M.A.
Tanah itu panjangnya 25,56 m
(3)
Titik Koma.
Fungsi titik koma sebenarnya terletak antara titik dan koma. Di
satu pihak orang ingin melanjutkan kalimatnya dengan bagian kalimat
berikutnya, tetapi di pihak lain dirasakan bahwa kalimat tadi sudah
dapat diakhiri dengan sebuah titik. Sebab itu titik-koma itu
dilambangkan dengan sebuah titik di atas sebuah koma (;).
Titik–koma
dipakai dalam hal-hal berikut.
i.
Untuk memisahkan dua bagian kalimat yang
sederajat, dimana tidak dipergunakan kata-kata sambung.
Ia seorang sarjana yang cemerlang; seorang atlit yang mengandung harapan; seorang aktor yang sangat baik.
ii.
Titik-koma dipergunakan juga untuk memisahkan
anak-anak kalimat yang sederajat.
Ia mengatakan bahwa ia sudah kecapaian; ia membenci pekerjaan itu; sebab itu ia ingin segera meninggalkan pekerjaan itu yang sudah dijalankannya bertahun-tahun lamanya.
iii.
Untuk memisahkan sebuah kalimat yang panjang
yang mengandung subyek yang sama, serta terdapat perhentian
yang lebih lama dari koma biasa; teristimewa titik-koma itu
dipergunakan dalam bagian kalimat terdahulu telah dipergunakan
koma.
Tingkat kultural suatu bangsa menentukan kekuatan teknik, industri dan pertaniannya; dengan demikian menentukan kekuatan ekonminya. Melihat adiknya tiba-tiba seperti orang putus harapan itu, hilang segala akalnya; gelisah tak tentu apa yang hendak dikerjakannya, dipegang-pegangnya dagunya dengan tangannya yang kasar, yang mulai lisut sedikit-sedikit.
Menurut penyelidikan Lembaga tersebut, kekuatan yang menyolok di kalangan para mahasiswa, khususnya para mahasiswa baru, antara lain:
1. pengetahuan umum mereka kebanyakan berada dibawah taraf; 2. tidak cukup menguasai bahasa indonesia dan bahasa inggris;
3. tidak mampu membaca tabel, grafik, mempergunakan register dan kamus;
4. cara belajar mereka kurang efisien; 5. cara berpikir mereka jauh dari memadai.
Pendeknya, sebagai pedoman dapat diingat bahwa titik-koma
merupakan sebuah perhentian yang lebih lama dari koma.
Dengan mempergunakan sebuah titik-koma, penulis dapat
terhindar dari tiga kemungkinan kesalahan.
o berhenti secara tiba-tiba pada suatu rangkaian kalimat-kalimat pendek yang terpisah, yang diakhiri dengan titik biasa;
o menghilangkan kejenuhan (monotoni) dari suatu kalimat yang panjang, terdiri dari bagian-bagian kalimat atau anak-anak kalimat yang dirangkaikan begitu saja dengan kata dan atau kata sambung yang lain;
o menghindari kekaburan dari sebuah kalimat yang berbelit-belit yang dipisahkan oleh sebuah koma saja
(4)
Titik Dua.
Titik dua yang biasanya dilambangkan dengan tanda (:), biasanya
dipergunakan dalam hal-hal berikut.
(a)Sebagai penghantar sebuah kutipan yang panjang, baik yang
diambil dari sebuah buku, majalah dan sebagainya, maupun dari
sebuah ucapan langsung.
tetapi diikuti suatu rangkaian atau pemerian.
o Di warung itu dapat dibeli barang-barang berikut: sayur-sayuran, gula, tembakau, buah-buahan, barang pecah-belah, dan sebagainya.
o Manusia terdiri dari dua bagian: jiwa dan badan.
(c)Titik dua tidak dipakai kalau pemerian atau perincian itu
merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
o Di warung itu dapat dibeli barang-barang sayur-sayuran, gula, tembakau, buah-buahan, barang pecah-belah, dan sebagainya.
(d) Titik dua dipergunakan juga sebagai sebuah pengantar sebuah
pernyataan atau kesimpulan.
Kenyataannya ádalah sebagai berikut: Bahasa Indonesia dan Matemática merupakan mata pelajaran dasar, bahasa Perancis dan Jerman merupakan pilihan.
(e)Walaupun sangat jarang, titik dua dapat juga dipergunakan untuk
memishkan dua kalimat yang sederajat, sedangkan bagian yang
kedua menerangkan atau menegaskan bagian yang pertama.
Tiap pelari cepat sudah berusaha sedapat-dapatnya: Roby adalah seorang pelari jarak pendek.
(f) Titik dua dipakai sesudah kata atau frasa yang memerlukan
pemerian.
Ketua Panitia : S. Sastradinata Wakil Ketua : Adiarta
Sekretaris : Anita
(g) Dalam teks drama atau dialog, titik dua dipakai sesudah kata yang
menunjuk pelaku percakapan.
David: He, Abil, kemarilah. Apa artinya tulisan itu? Bahasa Latinkah? Abil : (tetap menyembunyikan orgel) Alaaah, apa gunanya?
David: gunanya? Demi kepentingan orgelmu yang terkutuk itu.
(5)
Tanda kutip.
Tanda kutip, yang biasanya dilambangkan dengan tanda ( ”...” )
atau (’....’), dipergunakan dalam hal-hal berikut.
(a)Untuk mengutip kata-kata seseorang, atau sebuah kalimat atau
suatu bagian yang penting dari buku, majalah dan sebagainya.
Ia mengatakan, ”saya harus pergi.”
Dalam bukunya tentang ilmu perbandingan pemerintahan Prof. M. Nasroen, S.H mengatakan antara lain: ”menurut pendapat saya, Monarkhie, republik oligarkhi, dsb. Itu, semuanya adalah bentuk-bentuk negara dan oleh sebab itu semuanya itu masing-masing adalah negara. . . ”
(b) Bila hanya ada satu kata yang dikutip, maka tidak perlu
mempergunakan titik dua.
(c)Tanda kutip dipergunakan untuk menulis judul karangan (artikel),
syair atau bab buku.
o Ia menulis sebuah artikel dalam majalah bulanan itu dengan judul ”pemuda dan dekadensi moral”.
o Untuk deklamasi minggu depan siapkanlah ”aku” ciptaan Chairil Anwar.
(d) Tanda kutip dipakai untuk menyatakan sebuah kata asing atau
ssebuah kata yang diistimewakan atau mempunyai arti khusus.
o Ia menyatakan bahwa semuanya sudah ”oke”
o Hal ini bisa dimengerti karena biaya bagi penelitianbebas yang jauh lebih kurang daripada biasa untuk keperluan penelitian yang sifatnya ”applied” dan prakti.
o Semboyan ”buku, pesta dan cinta” sudah lama ditinggalkan baik didalam tindak- tanduk maupun slogan.
(e)Tanda kutip dalam tanda kutip: bila terdapat sebuah kutipan dan
dalam sebuah kutipan, maka masing-masingnya harus
dibedahkan dengan tanda kutip yang berlainan.
o Yanto berkata, ”tiba-tiba saya mendengar suatu suara berseru ‘siapa itu?’” atau
o Yanto berkata, ‘tiba-tiba saya mendengar’ saya mendengar suatu suara berseru ”siapa itu?”
(f) Tanda kutip tunggal dipakai untuk mengapit terjemahan atau
penjelasan sebuah kata atau ungkapan asing.
Teriakan-teriakan binatang dan orang primitif oleh wundt disebut LAUTGEBARDEN ’gerak-gerik bunyi’.
(g) Di samping hal-hal yang telah diuraikan diatas, perlu kiranya
diminta perhatian atas pemakaian koma, titik dan huruf kapital
dalam contoh-contoh berikut yang juga mempergunakan tanda
kutip itu.
”Hendaknya demikian, ”katanya. ”kita harus sadar untuk melaksanakan tugas kita masing-masing dengan baik.”
(h) Perhatikan: koma sesudah ”demikian” titik sesudah ”katanya”.
dan huruf kapital
K
pada kata ”kita” yang memulai kalimat baru.
”Saya kira, ” katanya, ” kita harus berhenti sekarang.”