• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tulisan Bahasan/ Argumentatif

Dalam dokumen KAJIAN BAHASA INDONESIA kalimat anisae.doc (Halaman 111-115)

akan dipaparkan, perlu juga dilengkapi metode dan teknik menulis Metode dan tenik penulisan paparan itu, adalah:

4. Tulisan Bahasan/ Argumentatif

WACANA ATAU tulisan bahasan/argumentatif bertujuan memberikan pembahasan atau berupaya membuktikan kebenaran dari suatu pokok persoalan. Berbeda halnya dengan tulisan paparan/exposisi, pada argumentasi, penulis berupaya membawa jalan pikiran pembaca untuk menerima keputusan yang disampaikan, bahkan penulis berupaya mengubah pandangan pembaca yang semula mungkin menolak atau memiliki pendapat lain, diupayakan untuk meninggalkan pendapatnya itu dan menerima pendapatnya. Oleh karena itu, tulisan ini disebut juga tulisan bahasan atau argumentatif - penulis berargumentasi terhadap sesuatu yang diputuskannya. Dalam argumentasi, penulis berupaya mendorong pembaca untuk menjadi yakin atas kebenaran keputusannya itu. Untuk itu, penulis penulis senantiasa mnyertakan evidensi sebagai upaya pembuktian kebenaran yang telah disampaikannya. Pembuktian dalam wacana argumentatif hendaknya kuat sehingga dapat dipertangguyngjawabkan. Pembuktian juga hendaknya rasional dan objektif.

Setiap tulisan argumentatif/bahasan diangkat dari pokok permasalahan tertentu. Pokok permasalahan yang dibawahnya itu hendaknya diikuti dengan evindensi melalui data-data, fenomenon-fenomenon atau gejala-gejala – yang kemudian, dari padanya itu akan dibahas dan dibahasakan secara rasional dan objektif. Oleh karena itu,, tulisan argumentatif merupakan tulisan yang memiliki tingkat keilmuan yang cukup tinggi. Tulisan ini memerlukan kemampuan nalar atau kecerdasan yang cermat dan cendikia.

Tulisan argumentatif pada dasarnya berisi tentang jawaban dari pertanyaan “mengapa”, bukan sekedar jawaban atas pertanyaan apa, dan

siapa seperti dalam paparan. Laporan penelitian, tesis, desertasi yang berhipotesis sudah barang tentu disusun dalam tulisan argumentatif. Namun tidak semua buku ilmiah atau hasil penelitian ditulis dengan tulisan argumentatif. Penelitian deskriptif kualitatif berkecenderungan disusun dalam tulisan paparan.

Dalam Tulisan argumentatif juga dimungkinkan terdapat paparan sebagai argumetasi untuk meyakinkan kebenaran dari sebuah proposisi/pernyataan yang dibuktikan kebenarannya itu. Pembuktian ini dapat juga merupakan pernyataan sebagai argumen atas pendapat atau proposisinya tersebut. Dalam bergumentasi, penulis bisa berbicara secara induktif atau deduktif, dan dapat pula secara deduktif-induktif, seperti terlihat dalam kutipan dari agumentasi Kaswanti Purwu berikut.

Mengapa Deiksis dalam Bahasa Indonesia?

Mengapa bahasa Indonesia? Masih banyak bidang dalam bahasa Indonesia (terutama bidang sintaksis) yang belum diteliti secara mendalam, Di samping itu juga, belum banyak orang Indonesia sendiri yang mendalami bahasanya sendiri. Baru beberapa sarjana Indonesia, antara lain Sudaryanto (1979), Simatupang (1979), yang memilih bahasa Indonesia sebagai bahan disertasi dan dipertahankan di Indonesia. Yang menjadi penyebabnya barangkali adalah bahwa orang Indonesia memandang bahasa Indonesia bukan merupakan bahasa pertama. Apalagi apa yang disebut bahasa baku masih dapat dipersoalkan.

Penulisan tata bahasa Indonesia dan artikel tentang bahasa Indonesia hingga kini belum memuaskan, belum memberikan gambaran yang lengkap tentang bahasa Indonesia. Masih banyak hal yang belum diterangkan secara tuntas, di antaranya perbedaan antara kata sampai dan tiba, antara sekarang dan kini, antara telah dan sudah, antara akan dan bakal, mau, dan hendak, dan antara sekejap, sekilas, sepintas, sejurus, antara nanti dan nantinya, antara lain dan lainnya, antara tentu dan tentunya, dan tentu saja, antara supaya dan untuk, mengapa ada dua bentuk pasif dalam bahasa Indonesia. Ini semuanya dan beberapa hal lain lagi yang ada hubungannya dengan deiksis menjadi bahan penelitian dalam disertasi ini

Faktor lain yang mendorong saya memilih bahasa Indonesia adalah rasa ketidakpuas-an terhadap hasil penelitian tentang bahasa Indonesia yang dikerjakan oleh beberapa ah-li bahasa yang tidak menguasai bahasa Indonesia, antara lain Chung (1976), terutama sebagian besar data yang dianalisis berbau bahasa Indonesia. Memang idealnya, dalam penelitian linguistik, bahasa yang diteliti adalah bahasa yang dikuasai peneliti; apalagi kalau itu menyangkut bidang sintaksis dan semantik.

Peneliti memilih deiksis karena dalam bidang linguistik belum banyak ahli yang menelitinya. Filmore (1971) merupakan salah seorang di antara beberapa ahli bahasa yang mencoba menyusun sebuah teori tentang deiksis dengan mempergunakan hasil penelitian tentang deiksis bahasa Indonesia. Menurut pengakuannya sendiri, teori tentang deiksis yang dicoba disusun itu belum merupakan hasil yang matang: meskipun demikian, bukan maksud disertasi ini untuk mendukung atau melawan atau mengembangkan teori tersebut; beberapa istilah Filmore dan yang lain dipinjam dalam penelitian ini karena deiksis merupakan kerangka kesatuan yang dikerjakan, terutama oleh Filmore (1966, 1971), Lyons (1977), dan Brecht (1974), dipinjam sebagai kerangka dasar yang menyatukan bahan-bahan yang diteliti ini.

Jadi, teori deiksis itu hanya dipakai sebagai alat (semacam teropong atau kaca mata) untuk lebih mengerti tentang bahasa Indonesia, dan

tentu saja fenomena-fenomena yang kemudian muncul sebagai akibatnya hanyalah yang tampak dari sudut pandang teori deiksis itu, Hingga kini, sepanjang pengetahuan saya, belum ada yang mendalami bahasa Indonesia dari kaca mata deiksis ini. Ternyata dengan kaca mata ini saya dapat melihat fenomenon-fenomenon dalam bahasa Indonesia yang belum pernah saya lihat sebelum-nya, bahkan menyeret lebih lanjut sampai ke aspek sintaksis yang penting dalam linguistik (yang tidak saya bayangkan sewaktu saya memulai penelitian ini), yaitu yang menyangkut tipologi bahasa. Aspek sintaksis ini perlu dijabarkan secara tuntas, bukan hanya deiksis (karena hanya sedikit sangkut pautnya dengan deiksis meskipun demi pemahaman tentang deiksis secara utuh aspek sintaksis ini diperlukan) akan tetapi demi bidang sintaksis sendiri karena dalam bahasa Indonesia bidang itu masih rawan sekali.(1982:3- 4)

LANGKAH 03

Durasi Waktu Media Pendukung

1 x 50 menit Lembar informasi/ Handout  Lembar kerja mahasiswa (LKM)  Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 03

16) Mahasiswa dibagikan LKM dan soal latihan WACANA untuk dikerjakan berkelompok. (Lembaran soal: tersendiri)

17) Hasil kerja kelompok disampaikan dalam pleno kelas.

18) Fasilitator/ pendamping mendampingi diskusi pleno mahasiswa. LANGKAH 04

Durasi Waktu Media Pendukung

1 x 50 menit Lembar informasi/ Handout  Lembar kerja mahasiswa (LKM)  Sumber lain yang relevan

KEGIATAN PADA LANGKAH 04

13) Pendamping mengajak mahasiswa mereview proses dan materi perkuliahan tentang WACANA.

14) Pendamping menyimpulkan materi pertemuan hari itu.

15) Mahasiswa disampaikan tugas pengayaan untuk dikerjakan di rumah. (Lembaran informasi tugas: tersendiri).

PENILAIAN

Untuk menilai keberhasilan mahasiswa dalam PERKULIAHAN digunakan tiga model penilaian, yakni penilaian proses, dan portofolio, dan hasil kerja. Butir-butir penilaian disiapkan dalam lembar kerja mahasiswa. Pendamping diharapkan merekam seluruh proses sejak awal kegiatan: proses kegiatan di kelas, dan tugas-tugas sebagai salah satu bentuk portofolio.

BAGIAN SEMBILAN

Dalam dokumen KAJIAN BAHASA INDONESIA kalimat anisae.doc (Halaman 111-115)