• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kohesi Kelompok

Dalam dokumen 4. ANALISIS DATA. Gambar 4.1 Logo Kaskus (Halaman 36-40)

Menurut Fujishin (2007), kohesivitas berkaitan erat dengan kepuasan, produktivitas, moral, dan efisiensi komunikasi. Umumnya, dalam kelompok yang kohesif, anggota merasa terlindungi sehingga proses komunikasi berlangsung lebih bebas, terbuka, dan intens. Meskipun kedua tugas dan kohesi sosial yang penting bagi anggota kelompok, anggota dapat lebih memperhatikan kohesi sosial karena mencerminkan perasaan mereka tentang proses kelompok dan hubungan mereka dengan anggota kelompok. Selain itu, kohesi sosial membantu anggota kelompok merasa sukses, terhubung, dihargai, dan didukung. Ketik aanggota

kelompok merasa sukses, ia memberikan kontribusi untuk penyelesaian tugas kelompok. Ketika seorang anggota kelompok merasa terhubung, ia berkomunikasi dengan anggota kelompoknya dan berpartisipasi dalam anggota kelompok dan berpartisipasi dalam interaksi kelompok. ketika seorang anggota kelompok merasa dihargai, dia menghargai anggota kelompoknya. Bersama-sama, perasaan ini memberikan kontribusi pada pengembangan kepercayaan di antara anggota.

Pada kepuasan anggota kepada kelompoknya, akan menyebabkan anggota tersebut menjadi lebih terbuka dan dekat dengan anggota lainnya. Kaskuser yang puas dan nyaman dengan kelompoknya, akan cenderung sering berkumpul baik secara online maupun offline communication agar dapat menjaga hubungan yang baik dengan anggota lainnya. Menurut Forsyth (1999), salah satu ciri suatu kelompok dapat dikatakan kohesi yaitu masing-masing anggota timbul kedekatan, sehingga dapat mempengaruhi kerekatan satu sama lainnya. Seperti yang dilakukan oleh Widhi yang berbagi cerita pribadi tentang wanita kepada kaskuser dengan ID Kaskus Hanadamary. Tidak hanya Widhi, Hellmi melakukan hal yang sama. Bagi Hellmi, kaskuser udah ia anggap seperti saudara, teman sekaligus sahabat. Hellmi akan merasa rindu jika jarang bertemu dengan kaskuser lainnya.

Forsyth (1999) mengemukakan bahwa ada empat dimensi kohesivitas kelompok, yaitu:

a. Kekuatan Sosial

Keseluruhan dari dorongan yang dilakukan oleh individu dalam kelompok untuk tetap berada dalam kelompoknya. Dorongan yang menjadikan anggota kelompok selalu berhubungan dengan dorongan di dalam kelompok tersebut membuat mereka bersatu. Kaskuser yang puas dengan kelompoknya akan senang berada di dalam kelompok. Mereka menciptakan kaos dan jaket Kaskus Regional Surabaya sebagai identitas kelompok. Anggota yang puas akan membeli kaos dan jaket tersebut dan memakainya sebagai bentuk kecintaannya dengan kelompoknya.

b. Kesatuan dalam kelompok

Perasaan saling memiliki terhadap kelompoknya dan memiliki perasaan moral yang berhubungan dengan keanggotaannya dalam kelompok. Setiap individu dalam kelompok merasa kelompok adalah sebuah keluarga, tim dan komunitasnya serta memiliki perasaan kebersamaan. Adanya interaksi di dalam kelompok membuat anggota merasa diterima dan nyaman. Perasaan tersebut berkembang menjadi perasaan saling memiliki antar anggota. Kedekatan Widhi dan Hellmi dengan kaskuser menyebabkan adanya perasaan saling memiliki dan menganggap kaskuser merupakan bagian dari keluarga. Perasaan saling memiliki tersebut ditandai dengan mulai saling bercerita tentang kehidupan masing-masing.

“Kita sering curhat-curhat sesama kaskuser. Wes koyo sodara, temen, sahabat. Jadi sering kangen kalo jarang ketemu.”jelas Hellmi (wawancara peneliti dengan Hellmi tanggal 17 April 2012, pk 21.00)

c. Daya Tarik

Individu akan lebih tertarik melihat dari segi kelompok kerjanya sendiri daripada melihat dari anggotanya secara spesifik. Terkadang seseorang memutuskan untuk menjado anggota sebuah kelompok dilihat dari pencapaian apa saja yang telah dilakukan oleh kelompok tersebut. Pencapaian yang telah dicapai oleh kelompok tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi orang lain yang ingin menjadi anggota kelompok tersebut. Terjadi peningkatan jumlah kaskuser disbanding saat tahun-tahun pertama Kaskus Regional Surabaya dibentuk. Menurut Erwin, hal ini disebabkan oleh komunitas ini mulai semakin dikenal masyarakat sebagai komunitas yang mempunyai dampak positif bagi kaskuser. Tidak hanya itu saja, sejak Kaskus menjadi sebuah perusahaan, Regional-regional di dalam mengalami peningkatan jumlah anggota.

d. Kerja sama kelompok

Individu memiliki keinginan yang lebih besar untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok. Setiap anggota kelompok mempunyai keinginan besar untuk dapat berperan besar dalam setiap proyek yang diadakan oleh kelompok tersebut. Keinginan tersebut membuat antar anggota melakukan interaksi dan saling bekerjasama untuk memberikan yang terbaik kepada kelompok. Disini, sebagai anggota kelompok, Widhi memberikan kontribusi dan ingin berperan besar dalam setiap proyek yang diadakan oleh Kaskus Regional Surabaya.Hal ini ditunjukkan dari kesediannya untuk membantu.

Berpartisipasi penuh dalam kelompok baik secara komunikasi akan membentuk kohesi di dalam kelompok. Walaupun Hellmi tidak aktif dalam memberikan kontribusi sebagai panitia dalam setiap acara formal offline communication, Hellmi berusaha untuk tetap datang dan aktif melakukan komunikasi baik secara online dan offline communication. Tujuannya hanya ingin tetap menjalin tali persaudaraan dengan anggota lainnya.

“Walaupun aku enggak pernah jadi panitia, tapi aku selalu dateng ke semua acara. Kalo perlu bantuan ya aku bantu. Namanya temen ya tetep dibantu. Tujuannya apa? Ya biar tetep akrab.Rasa bosen itu pasti ada.Bosen postingan itu-itu aja.Sekarang lebih mencari informasi aja.Enggak seperti dulu. Mungkin karena udah lama banget ya jadi kaskuser, jadi kalo liat thread udah bosen. Sekarang kalo online sekarang lebih kearah buka-buka informasi aja ya.kalo offline, ya tetep dateng”jelas Hellmi (wawancara peneliti dengan Hellmi tanggal 17 April 2012, pk 21.00)

Untuk moral dalam kelompok, anggota akan memperhatikan kohesi sosial karena mencerminkan perasaan mereka tentang proses kelompok dan hubungan mereka. Sebagai seorang moderator sekaligus tangan kanan Regional Leader (RL), Ceps secara tidak langsung diharuskan untuk dapat dekat dengan kaskuser dan selalu ada disetiap

online dan offline communication. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan cerminan perasaan Ceps bahwa Ceps ingin memberikan yang terbaik kepada kaskuser dalam segi moral.

“Enggak gampang jadi moderator. Harus deket sama kaskuser yang lainnya, harus ada selama online dan offline. Intinya selalu ada setiap saatlah mbak.”jelas Ceps (wawancara peneliti dengan Ceps tanggal 16 April 2012, pk 12.00)

Kontribusi kepada kelompok ditunjukkan melalui penyelesaian tugas yang diberikan oleh anggota. Kontribusi kepada kelompok ini akan membentuk kohesi yang akan membantu anggota untuk merasa sukses. Dengan saling membantu, anggota kelompok akan bersama-sama mencapai kesuksesan. Seperti yang telah dilakukan oleh Widhi, karena ia merasa dihargai oleh kelompoknya, maka ia tidak segan-segan memberikan waktu dan tenaganya untuk membantu Erwin dan Ceps dalam eventformaloffline communication. Widhi bersama-sama dengan kaskuser lainnya berusaha membantu Erwin dan Ceps untuk mensukseskan acara.

4.3.6 Tantangan Kohesi Kelompok dalam Virtual Community

Dalam dokumen 4. ANALISIS DATA. Gambar 4.1 Logo Kaskus (Halaman 36-40)

Dokumen terkait