DAFTAR PUSTAKA
SEBAGAI PENGGANTI RUMPUT LAPANGAN TERHADAP PER FORMA DAN KUALITAS DAGING
20. Kolestrol Daging
Analisa kolestrol daging dilakukan sesuai dengan metode yang dimodifikasi Tangendj aja et al. (1983).
Rancanga n Percobaa n dan Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) de ngan 4 perlakuan dan 4 kelompok. Jenis ransum berfungsi sebagai perlakuan dan perbedaan bobot badan domba sebagai kelompok. Data yang diperoleh dari peneitian ini diolah secara statistik dengan analisis keragaman. Jika analisis keragaman menunjukkan perbedaan nyata maka dilakukan uji Duncan`s Multiple Range Test (DMRT).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penga ruh Ransum Pe rlak uan terhadap Konsumsi Zat Makanan pada Domba
Jumlah bahan kering yang dapat dimakan oleh seekor ternak selama satu hari perlu diketahui. Dengan mengetahui jumlah bahan kering yang dimakan dapat dipenuhi kebutuhan seekor ternak akan makanan yang perlu untuk hidup pokok, pertumbuhan dan produksinya. Konsumsi tergantung dari hijauan saja yang dibe rika n atau bersamaan de ngan ko nsentrat. Konsumsi ba han kering untuk ternak domba menurut Devendra dan Burn (1994) yang menyatakan bahwa kebutuhan BK pada domba adalah sekitar 2,8 – 4,9% dari bobot badan.
Hasil penelitian tentang konsumsi bahan kering (BK) selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 17. Konsumsi BK menunjukkan berbeda sangat nyata (P<0,01), ini menggambar-kan bahwa tingkat konsumsi BK dipengaruhi oleh perlakuan, domba yang mendapat suplemen Cr organik dari fungi A. niger dengan substrat serat sawit (SSF-Cr organik) menunjukkan konsumsi yang lebih rendah daripada kontrol. Hal ini dimungkinkan perbedaan persentase SSF didalam ransum masing- masing perlakuan, walaupun kandungan nutrisinya hampir sama.
Persentase BK yang diko nsumsi dari pe rlakuan A-D adalah sebesar 571.3 - 405.07 g/eko r/hr. Adanya respon konsumsi pakan yang berbeda disebabkan karena kandungan dan kualitas gizi pakan menurun, terutama serat kasar meningkat dan nutrisi tercerna dan aroma menurun sehingga palatabilitas rendah yang mengakibatkan konsumsi pakan menurun. Selain itu, keragaman konsumsi pakan disebabkan oleh status ternak dan bobot badan bervariasi dengan ternak yang lebih besar mengko nsumsi pakan lebih banyak, hal ini berhubungan dengan kapasitas tampung lambung berbeda.
Tabe l 17 Pengaruh ransum perlakuan terhadap konsumsi pakan(g/ ekor/hr) Peuba h Perlakuan A B C D Konsumsi BK 571.3A±22.45 568.99A ±107.65 534.54 A 405.07 ±90.61 B±64.52 Konsumsi PK 85.41 A ±3.01 77.19 A ±14.34 67.86B±11.16 49.16C Konsumsi SK ±6.79 91.71 A ±5.81 101.09 A ±22.77 105.44 A ±18.64 78.85 B Konsumsi Lemak ±15.61 11.78 A ±0.36 11.87 A ±1.90 10.79 A ±1.81 8.32 B Konsumsi BETN ±1.31 331.84A ±11.58 334.46 A ±58.4 310.88A ±52.57 236.45 B ±38.41
Keterangan: A = Kontrol ( 60% RL + 40% konsentrat), B = 15% SSF-Cr + 45% RL, C = 30% SSF-Cr + 30% RL, D = 45% SSF-Cr + 15% RL, SSF-Cr = serat sawit
fermentasi-Cr, RL = ru mput lapangan. Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0.01)
Pada penelitian ini (Tabel 17) terlihat bahwa ko nsumsi BK antara 405.07 - 571.3 g/ekor/hr. Data ini menunjukkan bahwa konsumsi BK menurun secara nyata dari perlakuan A ke perlakuan D (P<0.01). Hal ini disebabkan bertambah banyaknya level serat sawit fermentasi yang diberikan untuk pengganti rumput lapangan menyebabkan palatabilitas ransum menurun. Menurut Arora (1995) bahwa beberapa pakan tertentu kurang palatabilitasnya dibandingkan pakan lain. Konsumsi pakan akan lebih banyak jika aliran lewatnya pakan cepat, sedangkan serat sawit fermentasi de ngan ka ndungan serat kasar yang tinggi menyebabkan laju makanan dalam sistem pencernaan aka n lama karena but uh waktu yang cukup guna mencerna. Besar kecilnya konsumsi BK dipengaruhi oleh kualitas atau komposisi zat makanan dalam ransum. Komposisi BK dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain palatabilitas, jumlah zat makanan ransum yang diberikan (Tillman et al 1998). Konsumsi diperhitungkan sebagai jumlah maka nan ya ng dimaka n oleh ternak, dimana zat maka nan yang dika ndungny a akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok dan untuk produksi hewan tersebut (Tillman et al 1991). Pada perlakuan A, B, dan C berbeda tidak nyata artinya, penggunaan SSF-Cr sampa i level 30 % da ri total ransum tidak berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering. Konsumsi pakan yang berbeda tidak nyata untuk ketiga macam perlakuan tersebut diduga disebabkan kandungan serat kasar, energi dan palatabilitas yang relatif sama dari ketiga macam ransum perlakuan. Pada perlakuan D tidak terjadi peningkatan konsumsi BK ransum walaupun mengandung susunan ransum dan Cr-organik yang sama. Diduga peranan cr dalam penelitian inibelum menunjukkan hasil yang signifikan. Hal ini
sesuai dengan hasil penelitian lain yang menunj ukka n suplementasi kromium tidak mempengaruhi konsumsi ransum (Amoiko n et al. 1995 dan Page et al. 1993). Status protein pakan yang hampir sama, mengingat masing- masing perlakuan menggunakan jenis bahan penyusun pakan dan proporsi penggunaan yang hampir sama pula, sehingga memungkinkan tingkat palatabilitas yang tidak jauh berbeda. Wallace dan Newbold (1992) menjelaskan bahwa tingkat palatabilitas dan status protein pakan serta tingkat kecernaan pakan dapat mempengaruhi jumlah konsumsi pakan. Selanjut nya menurut Parakkasi (1999), bahwa serat kasar mempunyai hubungan positif dengan tingkat konsumsi, sehingga dengan kandungan serat kasar yang relatif sama pada ketiga macam perlakuan menyebabkan konsumsi pakan berbeda tidak nyata. Menurut Arora (1995), bahwa konsumsi pakan sangat dipengaruhi oleh laju pakan dalam rumen. Lebih lanjut dijelaskan oleh Parakkasi (1999), pakan yang berkualitas rendah dan banyak mengandung serat kasar mengakibatkan jalannya pakan akan lebih lambat sehingga ruang dalam saluran pencernaan cepat penuh. Selain itu yang membatasi tingkat konsumsi adalah kebutuhan energi. Hewan akan mengkon-sumsi lebih banyak agar dapat memenuhi kebutuhan energinya. Peningkatan SSF-Cr mempengaruhi konsumsi bahan kering ransum, ini juga disebabkan kandungan gizi SSF-Cr sangat mempengaruhi palatabilitas ransum. Hal ini sesuai dengan pernyataan Parakkasi (1999) bahwa tingkat konsumsi ternak dipengaruhi oleh ternak, makanan yang diberikan, lingkungan tempat hewan tersebut dipelihara. Faktor ternak dipengaruhi oleh bobot badan atau ukuran besarnya tubuh, bobot badan dewasa, jenis kelamin, umur, faktor genetik dan tipe bangsa. Menurut Aregheore (2001) konsumsi merupakan faktor yang penting dalam menentukan jumlah dan efisiensi produktivitas ruminansia, dimana ukuran tubuh ternak sangat mempengaruhi konsumsi pakan. Menurut NRC (1997) konsumsi bahan kering domba yakni domba dengan bobot badan ± 12 kg, membutuhkan konsumsi bahan kering 4 % dari bobot badan adalah 480 g. Berarti untuk perlakuan A, B, dan C kebutuhan konsumsi bahan kering ransum sesuai dengan NRC (1985), sedangkan untuk perlakuan D terjadi pe nur unan ko nsumsi ba han ke ring ransum dibandingkan dengan NRC (1997).
Secara fisik SSF-Cr memiliki bentuk seperti tepung yang masih kasar, warna hitam kecoklatan dan bahu fermentasi. Menurut Kartadisastra (1997) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi adalah palatabilitas, yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti bau, rasa (hambar, pahit, asin dan manis). Bentuk dan tekstur SSF-Cr yang hampir mirip dengan tepung dan mudah dicampurkan pada konsentrat sehingga menghasilkan konsumsi pakan yang tidak berbeda. Tekstur bahan pakan mempengaruhi palatabilitas pakan dan palatabilitas berpengaruh pada tingkat konsumsi pakan (Prawirodigdo et al. 1995). Rata-rata konsumsi bahan kering pada domba lokal jantan yang mendapat ransum perlakuan dapat dilihat pada Tabe l 17.
Kemampuan ternak ruminansia mengkonsumsi makanan dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, tingkat produksi, umur dan kesehatan ternak sedangkan faktor dari ransum yaitu frekuensi pemberian dari keseimbangan gizi (Siregar 1994). Konsumsi PK pada (Tabel 17) terlihat 24.12-85.41 g. konsumsi ini menurun dengan banyaknya jumlah SSF-Cr yang diberikan pengganti rumput lapangan disebabkan konsumsi BK juga menurun (P<0.01). Menurut Parakkasi (2002) jumlah konsumsi dipengaruhi kecepatan degradasi, semakin cepat penghancuran makanan semakin mudah ternak lapar dan mengkonsumsi makanan lebih banyak. Konsumsi protein didapat dengan perkalian antara jumlah konsumsi BK dengan presentase protein ransum (Soder & Gregorini 2010) .
Konsumsi protein merupakan faktor yang menentukan dari domba untuk berproduksi ataupun berproduksi secara optimal. Menurut Davendra dan Burn (1994), kebutuhan protein untuk hidup pokok sangat tergantung dari tipe ransum, kualitas protein, tingkat energi juga kondisi ternak yang bersangkutan.Adapun kebutuhan protein untuk hidup pokok menurut Tomaszewska et al. (1993) berkisar 2,82g/kg0.75, diperlukan 0,195 g protein tercerna tiap gram pertambahan bobot badan. Konsumsi PK dapat dilihat ada Tabel 17. Konsumsi PK antara tiap perlakuan pakan menunjukkan perbedaan sangat nyata (P<0,01) Konsumsi serat kasar da lam penelitian ini 41.45-105.44 g (Tabel 17) dan dalam analisa statistik ternyata konsumsi serat kasar tersebut berbeda nyata (P<0.05). Konsumsi serat kasar mula- mula cendrung meningkat, selanjutnya terjadi penurunan pada perlakuan D dan E, hal ini disebabkan tingginya level SSF-Cr yang diberikan
pada perlakuan E menyebakan konsumsi serat kasar juga terendah. Total konsumsi pakan dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain komposisi bahan maka nan (Van Soest 1987). Pemberian protein yang tepat akan meningkatkan sekresi LH yang akan meningkatkan persentase kebuntingan. Konsumsi BETN penelitian antara 236.45 -334.46 g dan secara statistik berbeda nyata ( P<0.05). Konsumsi ini turun seiring dengan turunnya konsumsi BK ransum. Konsumsi terendah terdapat pada perlakuan D yaitu 236.45 g. Rendahnya konsumsi BETN karena semua hijauan diganti dengan SSF-Cr dengan ka ndungan BETN SSF-Cr lebih rendah dan serat kasarnya lebih tinggi. Kandungan BETN memberikan gambaran kasar tentang banyaknya pati dari gula bahan makanan (Sutardi 1990). Jumlah konsumsi dipengaruhi oleh kecepatan kecernaan semakin cepat penghancuran makanan maka ternak semakin mudah lapar dan akan mengkonsumsi makanan lebih banyak (Parakkasi 2002).
Penga ruh Rans um Perlakuan terhadap Kecernaa n Zat Makanan pada Domba
Nilai kecernaan adalah persentase bahan makanan terkonsumsi yang tidak didapatkan dalam feses dan dapat diserap oleh saluran pencernaan; jika dinyatakan dalam persen maka disebut dengan koefisien cerna (Tillman et al. 1998). Faktor yang mempengaruhi daya cerna ransum menurut Anggorodi (1999) yaitu suhu, laju pe rjalanan paka n melalui alat pencernaan, bentuk fisik bahan pakan, komposisi ransum, dan pengaruh terhadap perbandingan nutrien lainnya. Hasil pengaruh ransum perlakuan terhadap kecernaan zat makanan pada domba disajikan pada Tabel 18. Analisis sidik ragam memperlihatkan pengaruh perlakuan yang tidak nyata (P>0.05). Kondisi ini kemungkinan besar disebabkan adanya suplemen katalitik yang memberikan pengaruh yang sama terhadap aktivitas mikroba rumen pada setiap kombinasi perlakuan. Berbagai organisme memerlukan mineral untuk pertumbuhannya, termasuk pula mikroorganisme dalam rumen.
Kecernaan BK ransum adalah 74.12 - 80.35% terlihat disini, kecernaan menurun dengan semakin banyaknya pemakaian serat sawit fermentasi. Kualitas pakan, bentuk fisik, komposisi kimia, jumlah kalori dalam pakan dan ukuran partikel, faktor ternak dan tingkat pemberian pakan adalah faktor yang mempengaruhi daya cerna dalam lambung sekaligus menentukan jumlah
konsumsi pakan, jumlah zat makanan yang dicerna dari suatu bahan pakan berhubungan erat dengan ko nsumsi (Tillman et al. 1998, Pond et al. 2005). Tabe l 18 Pengaruh ransum perlakuan terhadap kecernaan zat makanan (%)
Peuba h Perlakuan A B C D Kecernaan BK 79.60±3.86 80.35±5.75 74.12±5.06 78.89±2.18 Kecernaan PK 82.33A±3.48 82.45A±5.08 76.29B±4.98 79.28A Kecernaan SK ±3.71 73.77±4.15 71.46±8.95 64.71±7.05 71.43±4.13 Kecernaan LK 80.27±5.12 84.46±8.34 74.06±4.30 82.92±2.24 Kecernaan BETN 82.41±4.05 83.83±4.65 78.85±4.52 82.89±2.81 Keterangan : A = Kontrol ( 60% RL + 40% konsentrat), B = 15% SSF-Cr + 45% RL, C = 30%
SSF-Cr + 30% RL, D = 45% SSF-Cr + 15% RL, SSF-Cr = serat sawit fermentasi- Cr, RL = ru mput lapangan. Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0.01)
Daya cerna protein kasar adalah 76.29-82.45% (P>0,05). Pada konsumsi terlihat penurunan konsumsi protein tetapi daya cernanya hampir sama. Hal ini disebabkan frekuensi pemberian pakan dan komposisi zat makanan yang diberika n sama, sehingga aktifitas untuk mensintesa zat-zat makanan juga sama. Penurunan atau pe ningkatan daya cerna protein disebabkan oleh keseimbangan protein itu sendiri de ngan zat-zat lain seperti energi dan serat kasar dan tercerna nya suatu maka nan. Daya cerna PK yang sama juga disebabkan komposisi rans um yang sama dan PK yang sama.serta energi ransum yang sama. Komposisi ransum akan mempengaruhi kondisi pH, suhu rumen, populasi mikroba rumen dan kemampuan protein itu sendiri untuk lolos ke pasca rumen, hal ini dapat mempengaruhi kecernaan protein. Penamba han kromium or ganik yang berbe ntuk SSF dalam ransum tidak menaikan konsumsi protein ransum, hal ini sesuai dengan hasil penelitian lain yang menunjukkan suplementasi kromium tidak mempengaruhi konsumsi ransum (Amoikon et al. 1995 dan Page et al. 1993). Dalam proses pencernaan, protein dan urea mengalami degradasi oleh enzim proteolitik yang dihasilkan oleh mikroba menjadi peptida. Peptida atau oligopeptida yang terbentuk sebagian digunakan oleh mikroba untuk membentuk protein tubuhnya dan sebagian lagi diproses lebih lanjut menjadi asam amino.
Sebagian asam-asam amino dikatabolis (deaminasi) lebih lanjut menjadi asam- asam organik, NH3 da n CO2
Peningkatan daya cerna ini seiring dengan penurunan PK, dengan sedikitnya konsumsi, maka aktivitas pencernaan akan lebih meningkat jika dibandingkan dengan ternak yang mengkonsumsi PK lebih banyak pada batas konsumsi yang sesuai dengan kebutuhannya. Tillman et al. (1998) menyatakan bahwa daya cerna yang tertinggi didapat pada jumlah konsumsi sedikit lebih rendah dari kebutuhan ternak.
(McDonald et al. 1995).
Daya cerna serat kasar dalam penelitian adalah 64,71-73,77 % (Tabel 17) dan secara statistik berbeda tidak nyata. Daya cerna ini jauh lebih tinggi dari pada penelitian penggunaan jerami padi fermentasi yang menggunakan A. niger ( rata- rata 63.17 % ) walaupun secara statistik kecernaan pada pe nelitian ini hampir sama, namun terlihat kecendrungan peningkatan kecernaan serat kasar. Hal ini disebabkan penggunaan SSF-Cr dalam ransum proses fermentasi menyebabkan terputus nya ika tan antara serat kasar dan hemiselulosa dengan lignin sehingga lebih muda h dicerna. Kecepatan cerna dari bahan yang tinggi kandungan lignin dan silika akan meningkat setelah perlakuan (pengolahan), karena bahan yang mengalami proses pengolahan menjadi lebih muda h larut sehingga kecernaan terhadap dinding sel menjadi cepat.
Daya cerna yang berbeda tidak nyata juga disebabkan jumlah dari jenis bahan ko nsentrat yang diberikan sama antara perlakuan. Hal ini sesuai dengan pendapat Mathius et al (2004) bahwa jumlah dan jenis konsentrat yang ada dalam campuran ransum akan mempengaruhi daya cerna zat makanan. Daya cerna serat kasar yang hampir sama juga disebabkan kecernaan BK ransum juga hampir sama dan frekuensi pemberian pakan yang sama. Kandungan serat kasar ransum, frekuensi pemberian pakan, jenis ternak dan selera makan akan mempengaruhi daya cerna (Church 1993). Aktivitas mikroba rumen dalam mencerna serat kasar sangat dipengaruhi oleh jumlah energi dan protein yang seimbang. Pond et al.
(2005) menyatakan bahwa jumlah energi dan protein yang optimum dalam ransum akan meningkatkan populasi mikroba rumen sehingga daya cerna serat kasar akan meningkat.
Konsumsi lemak dalam penelitian 10.79 - 8.32g/ekor/hr dan secara statistik berbeda nyata (P<0.05). Konsumsi lemak ini menurun dengan bertambah banyaknya penggunan SSF-Cr dan turun pada pe rlakuan D. Rendahnya konsumsi pada perlakuan D karena konsumsi BK pada D juga paling rendah, sedangkan lemak tersebut terdapat dalam BK yang dikonsumsi, sehingga seiring dengan kemampuan mikroba mencerna lemak kasar dan akhirnya konsumsi lemak pada perlakuan D juga rendah. Tingkat konsumsi pada perlakuan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain koefisien cerna, kualitas bahan makanan, fermentasi dalam rumen dan laju makanan dalam saluran pencernaan. Bentuk fisik, komposisi kimia dan ukuran partikel pakan adalah faktor yang mempengaruhi daya cerna pakan dalam lambung yang sekaligus akan menentukan jumlah konsumsi pakan. Besar kecilnya konsumsi zat maka nan dipe nga-ruhi oleh beberapa faktor antara lain palatabilitas, jumlah makanan yang tersedia da n komposisi zat makanan dalan ransum (Parakkasi 1999).
Daya cerna lemak penelitian antara 74.06 - 84.46% dan secara statistik berbeda tidak nyata (P > 0.05). Daya cerna lemak yang hampir sama seiring dengan hampir samanya daya cerna BK ransum. Faktor yang mempengaruhi kecernaan lemak adalah kadar lemak pakan dan laju makanan melalui saluran pencernaan (Pond et al. 2005) menyatakan bahwa tingkat kecernaan maka nan dipengaruhi oleh laju kecernaan makanan dalam alat pemcernaan dan kondisi fisiologis ternak, selanjutnya makin tinggi konsumsi serat kasar makin rendah daya cerna dari zat lain, bahan makanan yang difermentasi sering mempunyai daya cerna yang tinggi (Cakra & Siti 2008) Daya cerna lemak penelitian ini rataannya 80.43 % lebih tinggi dari penelitian Rooswandani (2003) yang mendapatkan daya cernanya ±75.35% dengan pemberian probiotik pada sapi peranakan ongole. Tillman et al. (1998) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi daya cerna adalah kadar lemak ransum dan laju makanan dalam saluran pencernaan, disamping itu kadar lemak dan efek asosiasi juga mempengaruhi daya cerna. Pada percobaan ini dilihat secara angka perlakuan B memberikan daya cerna lemak lebih tinggi dari pada perlakuan C, D dan A. Suplementasi SSF sebanyak 15% pada perlakuan B memberikan daya cerna lemak yang lebih tinggi, tapi perlakuan D dengan pemberian SSF-Cr 45%
menghasilkan daya cerna lemak lebih tinggi daripada perlakuan C dan A (kontrol).
Kecernaan BETN yang didapat dalam penelitian antara 78.48 - 83.83 % dan secara statistik berbeda tidak nyata (P > 0.05). Daya cerna dipengaruhi oleh komposisi pakan, spesies ternak, umur dan rasio komposisinya (Tillman et al
1998). Tidak berbedanya kecernaan BETN karena ternak mendapatkan sumber pati yang sama dari kosentrat, sesuai dengan pendapat Parakkasi (1999) bahwa perbedaan sumber karbohidrat dalam ransum akan mempengaruhi pula tinggi rendahnya daya cerna BETN. Patinya yang terdapat dalam sebagian besar makanan penguat akan lebih dapat dicerna dari pada serat kasarnya. Menurunnya konsentrasi BETN menyebabkan meningkatnya daya cerna BETN karena BETN akan lebih lama berada didalam saluran pencernaan, sesuai dengan pendapat Church (1993) yang menyatakan bahwa lamanya zat makanan di dalam saluran pencernaan menunjukkan salah satu faktor yang menentukan daya cerna zat maka nan.
Penga ruh Ransum Pe rlak uan terhadap Pertambahan Bobot Badan Domba Salah satu kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan ialah dengan pengukuran pertambahan bobot badan. Pertambahan bobot badan yang diperoleh dari percobaan pada ternak merupakan hasil metabolisme zat- zat makanan yang dikonsumsi. Makin baik kualitas pakan yang dikonsumsi ternak akan diikuti dengan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi Pond et al (2005) Menurut Lawrence dan Fowler (1997) pertumbuhan adalah perubahan skala dan bentuk serta peningkatan dalam massa tubuh. Menurut Tillman et al (1998) pertumbuhan mempunyai tahap-tahap yang cepat dan lambat. Tahap cepat terjadi pada saat sampai pubertas, dan tahap lambat terjadi pada saat kedewasaan tubuh telah telah tercapai. Pertumbuhan umumnya dinyatakan dengan pengukuran kenaikan bobot badan yang dilakukan dengan penimbagan berulang yaitu tiap hari, minggu, atau bulan (Tillman et al. 1998). Setelah dilakukan penimbangan bobot badan domba dalam penelitian yaitu akhir kolekting dan satu bulan sesudahnya didapat rataan pertambahan bobot badan (BB) disajikan pada Tabel 19. Pada penelitian ini pertambahan bobot badan antara 47.10- 74.98 g dan secara statistik pengaruh penggantian rumput lapangan dengan serat sawit fermentasi
berbeda tidak nyata (P>0.05). Hal ini menunjukkan kemampuan ransum A, B, C, dan D sama untuk pertumbuhan dan penggantian rumput lapangan dengan serat sawit fermentasi sampai 45% tidak mempengaruhi pertumbuhan. Tidak terdapatnya perbedaan yang nyata terhadap pertambahan bobot badan disebabkan daya cerna zat- zat makanan yang hampir sama pada semua perlakuan sehingga retensi N juga berbeda tidak nyata sampai perlakuan D (45% SSF-Cr).
Pada penelitian ini konsumsi zat makanan memang semakin sedikit dengan semakin ba nyaknya serat sawit fermentasi tetapi daya cernanya hampir sama sehingga penyerapannya pun mungkin hampir sama. Sesuai dengan pendapat Parakkasi (1999) ba hwa dalam pertumbuhan hewan tidak sekedar meningkatkan berat badannya tetapi juga menyebabkan perubahan konformasi oleh perbedaan tingkat pertumbuhan komponen tubuh. Konsumsi PK dari
perlakuan A sampai dengan D juga hampir sama, begitu juga konsumsi BK dan serat kasar. Pertumbuhan yang dimanifestasikan dengan pertambahan bobot badan dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain jumlah konsumsi, total Tabe l 19 Pengaruh ransum perlakuan terhadap pertambahan bobot badan domba
dan retensi nitrogen (g/ekor /hari)
Peuba h Perlakuan
A B C D
1. Pertambahan BB 74.98±29.84 61.18±16.93 52.90±18.38 47.10±19.54 2. Retens i N 7.05A±0.96 7.36A±2.34 5.19AB±1.79 3.88B±0.69 Keterangan: A = Kontrol ( 60% RL + 40% konsentrat), B = 15% SSF-Cr + 45% RL, C = 30%
SSF-Cr + 30% RL, D = 45% SSF-Cr + 15% RL, SSF-Cr = serat sawit fermentasi- Cr, RL = ru mput lapangan. Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0.01)
protein yang didapat setiap hari, jenis bangsa ternak, jenis kelamin, iklim, kesehatan, tipe kelahiran dan managemen (Tillman et al. 1998).
Pertambahan bobot badan menurun pada perlakuan D, tapi tidak memberikan perbedaan yang nyata antar perlakuan. Ini menggambarkan sebagian besar percobaan penambahan mineral kromium organik yang dilakukan di daerah sub-tropis tidak memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan bobot badan, sedangkan pada daerah tropis pengaruh suplementasi kromium lebih baik. Lindemann et al (1995) menyatakan bahwa penambahan mineral kromium dapat meningkatkan pertambahan bobot badan hingga 30% tergantung pada
tingkat stress (keadaan nutrisi, lingkungan dan penyakit). Pada percobaan ini beberapa domba di dalam rumennya terdapat kawat spiral yang sebelumnya tidak diketahui, diduga hal ini yang menyebabkan berkurang-nya pertambahan bobot badan domba. Page et al (1993), yang meneliti tentang suplementasi Cr pada babi sedang tumbuh, mendapatkan bahwa suplementasi Cr pikolinat sebanyak 200 ppb meningkatkan pertambahan bobot badan 0.87 kg/hari lebih tinggi dibanding kontrol 0.81 kg/hari, sedangkan pada penelitian ini pertambahan bobot badan lebih rendah dari yang diatas, ini menggambarkan terjadinya penurunan sintesis protein dan lemak pada jaringan perifer akibat menurunnya uptake asam amino dan glukosa oleh efektifitas kerja insulin akibat adanya Cr.
Retensi N penelitian berkisar antara 3.88-7.05 g (Tabe l 19) dan secara statistik berbeda sangat nyata (P< 0.01). Rendahnya retensi N pada perlakuan D disebabkan konsumsi PK pada perlakuan D juga terendah, tapi daya cerna sama. Rendahnya retensi nitrogen pada perlakuan dapat juga dipengaruhi oleh banyaknya protein yang digunakan untuk membentuk energi (ATP), sehingga N yang diretensi jadi berkurang. Berapa banyak asam amino dari protein bahan makanan yang digunakan untuk sintesa di da lam tubuh tergantung pada komposisi