BAB III METODE PENELITIAN
4.1. Perilaku Menyimpang dalam Novel Negeri para Bedebah
4.1.6 Kolusi
Kolusi adalah kerja sama secara diam-diam untuk maksud tidak terpuji yang dapat merugikan orang lain. Seperti dalam Novel Negeri para Bedebah Episode1-14 di beberapa paragraf menunjukkan perilaku menyimpang pada tokoh dalam kerja samanya, seperti contoh berikut ini:
”Bukankah kau teman dekat pejabat partai yang berkuasa? Menteri-menteri? Atau bahkan presiden? Atau kolega bisnis? Bukankah mereka bisa membantu menyelamatkan Bank Semesta? Aku menyebut daftar kemungkinan”. (Tere Liye.
2012:45).
Paragraf di atas menjelaskan bahwa Thomas menyarankan pada Om Liem agar segera menghubungi teman-teman dekatnya seperti menteri, presiden atau kolega bisnis yang bisa membantu menyelamatkan Bank Semesta dari masalah kebangkrutannya.
Contoh lain dari kolusi yang terdapat dalam Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 dapat dilihat pada paragraf berikut ini:
”Beri kami waktu lima belas menit menuju bandara, Ram. Pastikan kau membangunkan salah satu staf perusahaan untuk menyiapkan tiket, paspor dan dokumen perjalanan kami. Segera menyusul ke bandara. Ada penerbangan ke Frankfurt, transit di Dubai pukul 3 dini hari, 45 menit lagi. Kita lakukan ini demi Om Liem, orang yang telah banyak membantu kalian selama ini, aku mendesis, menatap tajam semua orang dalam kamar”. (Tere Liye. 2012:51).
Dilihat pada paragraf di atas bahwa Thomas memerintahkan Ram segera membangunkan salah satu staf perusahaan penerbangan agar menyiapkan tiket, paspor dan dokumen untuk perjalanan mereka menuju Frankfurt. Thomas, Ram dan orang-orang yang ada di dalam kamar melakukan kerja sama tidak terpuji tersebut karena Om Liem telah banyak membantu mereka selama ini.
Contoh selanjutnya dari kolusi yang terdapat dalam Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 dapat dilihat pada paragraf berikut ini:
”Salah satu staf perusahaan sedang menuju bandara. Semua tiket dan paspor dalam perjalanan. Kau tinggal ambil di meeting point pintu keberangkatan”. (Tere Liye.
2012:55).
Pada paragraf di atas menjelaskan bahwa kolusi terjadi antara Ram dan Thomas. Ram mengatakan pada Thomas bahwa salah satu staf perusahaan sedang menuju bandara dan tinggal ambil di pintu keberangkatan semua tiket beserta paspornya.
Novel Negeri para Bedebah memasukkan unsur-unsur kolusi dalam rangkaian ceritanya. Dalam novel ini kolusi dituliskan sebagai salah satu unsur yang menguatkan kesan bahwa novel ini tokoh-tokohnya melakukan perilaku menyimpang. Berikut ini beberapa penggalan paragraf dalam Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 yang menunjukkan kolusi:
”Segera, Randy. Detik ini juga! Kau sudah berjanji di klub bertarung, jika aku mengalahkan Rudi, kau akan melakukan apa saja, termasuk meloloskan buronan negara. Janji seorang petarung Randy”. (Tere Liye. 2012:58).
”Telepon dari Randy. Dia memberikan nomor loket imigrasi yang harus kutuju” (Tere Liye. 2012:59).
”Jika nanti ada polisi yang menginterogasi, bilang saja kalian diancam olehku. Di luar itu, kalian tidak tahu dan tidak berkomentar, paham? Dokter dan empat rawat mengangguk”. (Tere Liye. 2012:58).
”Saya menajer hotel bandara, Pak. Sekaligus membawahi loket travel agent. Jadwal saya berjaga malam ini. Hotel dan travel agent juga milik Tuan Liem. Kami selama ini menyiapkan dokumen perjalanan, termasuk menyimpan paspor keluarga Tuan
Pada paragraf di atas dapat dijelaskan bahwa, pertama Thomas menagih janji Randy sewaktu di klub pertarungan kemarin yang akan melakukan apa saja termasuk meloloskan buronan negara. Randy akhirnya memberikan nomor loket imigrasi yang harus dituju oleh Thomas dan Om Liem. Yang kedua, kerja sama antara keempat perawat dan dokter, Thomas memerintahkan pada mereka bila diintrogasi oleh polisi katakan bahwa diancam olehnya.
Lalu, yang ketiga kerja sama yang terjadi antara menajer hotel bandara dengan Thomas.
Menajer hotel bandara di bawah pimpinan Om Liem selalu menyiapkan dokumen perjalanan Om Liem termasuk menyimpan paspornya.
Kolusi selanjutnya yang terdapat dalam Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 dapat dilihat pada paragraf berikut ini:
”Kau segera telepon enam-tujuh wartawan surat kabar, majalah, televisi, berita online, yang sering memintaku menjadi narasumber, kolega pers kita. Aku mengabaikan keluhan Maggie, mulai mendikte apa yang harus segera dia lakukan. Kau sertakan juga tiga-empat pengamat ekonomi, kawan dekat, yang sering sependapat dengan kita. Minta mereka berkumpul di salah satu restoran hotel dekat kantor, beritahu
”Kau bisa, Maggie. Inilah poin terpentingnya, kau tidak boleh bilang siapa pun. Kau paham? Nah, sekali urusan ini beres, aku berjanji akan memberimu dua lembar tiket berlibur. Terserah kau mau ke mana dan mengajak siapa”. (Tere Liye. 2012:69).
Pada paragraf di atas dijelaskan bahwa kolusi terjadi antara Thomas dengan Maggie.
Thomas memerintahkan Maggie segera telepon enam-tujuh wartawan surat kabar, majalah, televisi, berita online, kolega pers serta tiga-empat pengamat ekonomi, kawan dekat, yang sering sependapat dengan kita. Lalu, Maggie harus merahasiakan segala urusan Thomas tersebut. Thomas mengiming-imingkan pada Maggie selesai urusan ini berakhir, Maggie akan mendapatkan dua lembar tiket berlibur dan terserah mau mengajak siapa.
Selain paragraf di atas contoh lain dari perilaku menyimpang pada Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 dapat dilihat pada kutipan berikut ini:
”Kau harus bilang ke mereka, aku tidak masuk kantor hari ini, tidak tahu-menahu, tidak mengerti. Maggie mengangguk, wajahnya tegang. Jika mereka terus mendesak, kau telepon pengacara kantor, minta ditemani dalam interogasi”. (Tere Liye.
2012:99).
”Kau bantu aku keluar dari gedung ini, maka akan kuceritakan semuanya padamu.
Eksklusif. Kau bahkan bisa mendapatkan promosi dari cerita ini. Julia berhitung dengan situasi. Semuanya? Ya semuanya. Tidak ada yang ditup-tutupi”. (Tere Liye.
2012:100).
”Bergegas, Thom. Kita bisa kabur dari polisi dalam situasi seperti ini. Julia sudah mengambil sebagian dokumen dalam boks, berlari dalam keramaian menuju tangga darurat. Genius. Aku akhirnya mengembuskan napas, mengangguk. Sepertinya aku telah menemukan teman setara dalam pelarian ini”. (Tere Liye. 2012:101).
Pada paragraf di atas terlihat kolusi yang pertama Maggie harus mengatakan pada pihak polisi bahwa Thomas tidak masuk kantor dan tidak tahu menahu serta tidak mengerti dimana keberadaannya sekarang. Kolusi yang kedua tejadi antara Julia dan Thomas, Thomas meminta bantuan kepada Julia segara keluar dari gedung kantornya. Selesai pelarian tersebut Thomas mengiming-imingkan akan menceritakan semua masalah yang menimpanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Segera Julia bergegas melakukan sesuatu, agar Thomas lolos dari pencarian polisi.
Contoh selanjutnya dari perilaku menyimpang yang terdapat dalam Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 dapat dilihat pada paragraf berikut ini:
”Kau sudah terlibat, Julia, persis saat kau penuh dengan rasa penasaran mengaduk-aduk masa laluku. Dan jelas kau sudah menyetir mobil sejauh ini. Kau sudah terlibat.
Lagi pula, bukankah kau sudah menduga sejak awal, aku yang melarikan Om Liem semalam? Mau atau terpaksa, dengan memecahkan alarm kebakaran gedung, kau sudah memutuskan terlibat. Julia membungkuk, mendengus, masih berusaha mengendalikan diri”. (Tere Liye. 2012:108).
Paragraf di atas menjelaskan bahwa kerja sama antara Julia dengan Thomas sudah mulai terjalin. Julia menyetir mobil dan memecahkan alarm kebakaran gedung agar Thomas lolos dari tangkapan polisi. Julia sudah terlibat dalam masalah pelarian Thomas.
Contoh lain dari kolusi yang terdapat dalam Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 dapat dilihat pada paragraf berikut ini:
”Kau mungkin melupakan beberapa pejabat? Opa bertanya pelan, mendongak menatap langit-langit. Tidak, semua pihak sudah mendapatkan bagiannya. Tidak ada yang tertinggal. Om Liem menggeleng”. (Tere Liye. 2012:111).
Paragraf di atas menunjukkan bahwa Opa membantu Om Liem dalam menjalankan penyogokan terhadap beberapa pejabat karena masalah yang sedang menimpanya.
Contoh lain dari pada perilaku menyimpang yang terdapat dalam Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 dapat dilihat pada paragraf berikut ini:
”Baiklah apakah kokoh bisa menyerahkan seluruh sertifikat rumah dan tanah? Dengan menunjukkan itu pada massa di luar, menjanjikan mereka mungkin bisa dibubarkan, Wusdi berkata arif. Juga surat menyurat perusahaan, gudang-gudang, kapal. Biarkan kami yang pegang, dengan itu akan terlihat iktikad baik keluarga kalian menyelesaikan masalah. Aku bisa membujuk jaksa kepala untuk membatalkan tuntutan. Menghilangkan bukti-bukti, Tunga ikut berkata bijak”. (Tere Liye.
2012:116).
Dilihat pada paragraf di atas bahwa kolusi terjadi antara Om Liem, Tunga, Wusdi dan jaksa kepala. Tugas Wusdi menunjukkan seluruh sertifikat rumah, tanah, surat menurat perusahaan, gudang-gudang dan kapal kepada massa di luar, sedangkan tugas Tunga adalah membujuk jaksa kepala pengadilan untuk membatalkan serta menghilangkan bukti-bukti tuntutan.