• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komisi Judisial

Dalam dokumen Konstitusi dan Konstitusionalisme (Halaman 99-102)

ORGAN NEGARA dAN PEMISAHAN KEKUASAAN

E. KEKUASAAN KEHAKIMAN 1. Latar Belakang Pemikiran

4. Komisi Judisial

Selain kedua badan kekuasaan kehakiman tersebut ada lagi satu lembaga baru yang kewenangannya ditentukan dalam UUD, yaitu Komisi Judisial. Dewasa ini, banyak negara terutama negara-negara yang sudah maju mengembangkan lembaga komisi Judisial (judicial commision) semacam ini dalam lingkungan peradilan dan lembaga-lembaga penegak hukum lainnya maupun di lingkungan organ-organ pemerintahan pada umumnya. Meskipun lembaga baru ini tidak Dari contoh-contoh kasus di Afrika Selatan, Czech (Cheko),

Li-thuania, dan Korea Selatan tersebut di atas, dapat disimpulkan bah-wa di lingkungan negara-negara yang berubah ke arah demokrasi pada dasawarsa terakhir abad ke-20, pada umumnya mengadopsi gagasan pembentukan “Mahkamah Konstitusi” seperti yang telah lama berkembang di beberapa negara demokrasi konstitusional di Eropa. Jumlah anggotanya berkisar antara 9 sampai 5 orang. Di Ko-rea Selatan dan Lithuanian 9 orang, Afrika Selatan orang, Cheko (Czech) 5 orang. Masa jabatannya juga bervariasi. Di Afrika Selatan 2 tahun maksimum berusia 70 tahun, di Korea Selatan 6 tahun dan sesudahnya dapat diangkat lagi, dan Lithuania maksimum 9 tahun dengan pergantian setiap tahun, dan di Cheko 0 tahun dan sesu-dahnya dapat diangkat lagi tanpa pembatasan. Oleh karena itu, di Indonesia, dalam rangka menyempurnakan pelaksanaan reformasi konstitusional yang integral menuju proses demokratisasi yang sejati sampai tahun 2004 nanti, sangat penting dibentuknya “Mahkamah Konstitusi”, sekaligus untuk menggantikan peran MPR yang terkait dengan fungsi mahkamah itu, yang memang harus diubah sesuai dengan keinginan zaman.

Dalam Perubahan Ketiga UUD 945, Pasal 24 ayat (2) dinyatakan: “Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”. Dalam Pasal 24C ditentukan:

() Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat

per-tama dan terakhir yang putusannya bersifat inal untuk men

-guji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

(2) Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar.

() Mahkamah Konstitusi mempunyai sembilan orang anggota hakim konstitusi yang ditetapkan oleh Presiden, yang diajukan

98 Dalam Pasal III Aturan Peralihan yang disahkan dalam Sidang Tahun 2002, dinyatakan: “Mahkamah Konstitusi dibentuk selambat-lambatnya pada tanggal 7 Agustus 200 dan sebelum dibentuk segala kewenangannya dilakukan oleh Mahka-mah Agung. Untuk melaksanakan kewenangan transisional itu, MahkaMahka-mah Agung telah mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung No.2 tahun 2002 yang mengatur hukum acara peradilan tata negara tersebut.

diri dan independen sehingga dapat diharapkan menjalankan tugas-nya secara lebih efektif. Khusus terhadap Mahkamah Agung, tugas Komisi Judisial itu dikaitkan dengan fungsi pengusulan pengang-katan Hakim Agung, sedangkan pengusulan pengangpengang-katan hakim lainnya, seperti hakim konstitusi misalnya, tidak dikaitkan dengan Komisi Judisial.

Hanya saja perlu dicatat bahwa rumusan ketentuan Pasal 24B ayat () UUD 945 hasil Perubahan Ketiga dapat menimbulkan kon-troversi tersendiri di kemudian hari. Disitu dirumuskan dengan sangat jelas: “Komisi Judisial bersifat mandiri yang berwenang me-ngusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim”. Artinya, tugas pertama komisi ini adalah mengusulkan pengangkatan hakim agung dan tugas keduanya adalah menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim. Karena tugas pertama dikaitkan dengan ‘hakim

agung’ dan tugas kedua dengan ‘hakim’ saja maka secara hariah jelas

sekali artinya, yaitu Komisi Judisial bertugas menjaga (preventif) dan menegakkan (korektif dan represif) kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku semua hakim di Indonesia. Dengan demikian, hakim yang harus dijaga dan ditegakkan kehormatan, keluhuran martabat dan perilakunya mencakup hakim agung, hakim pengadilan umum, pengadilan agama, pengadilan tata usaha negara, dan pengadilan militer serta termasuk hakim konstitusi.

Akan tetapi, jika perdebatan-perdebatan yang terjadi dalam si-dang-sidang Badan Pekerja MPR yang mempersiapkan rumusan asli ketentuan Pasal 24B ayat () UUD 945 itu (the original intent and the original understanding of the text) ditelusuri kembali, ternyata perkataan “kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim” disitu, di-kaitkan dengan pengertian hakim agung, bukan hakim dalam arti luas. Karena itu, sebetulnya yang dimaksudkan adalah bahwa Komisi Judisial itu mempunyai kewenangan mengusulkan pengangkatan ha-kim agung dan mengawasi pelaksanaan tugas haha-kim agung itu dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, dan perilaku para hakim agung. Namun, teks Pasal 24B ayat () itu sangat tegas, yaitu di satu pihak ada perkataan ‘hakim agung’ dan di pihak lain ada perkataan ‘hakim’ saja. Jika yang diawasi Komisi Judisial hanya hakim agung saja maka tentu organisasinya cukup menjalankan kekuasaan kehakiman tetapi keberadaannya diatur

dalam UUD 945 Bab IX tentang Kekuasaan Kehakiman. Karena itu, keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan kehakiman. Dalam Pasal 24B ditegaskan: () Komisi Judisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mem-punyai kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim; (2) Anggota Komisi Judisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela; () Anggota Komisi Judisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan DPR; (4) Susunan, kedudukan dan ke-anggotaan Komisi Judisial diatur dengan undang-undang.”

Dari ketentuan mengenai Komisi Judisial ini dapat dipahami bahwa jabatan hakim dalam konsepsi UUD 945 dewasa ini adalah jabatan kehormatan yang harus dihormati, dijaga dan ditegakkan kehormatannya oleh suatu lembaga yang juga bersifat mandiri, yaitu Komisi Judisial. Pembentukan lembaga baru ini dapat dikatakan merupakan pengembangan lebih lanjut ide pembentukan Majelis Kehormatan Hakim Agung yang sudah berkembang selama ini. Akan tetapi, jika majelis semacam ini dibentuk di lingkungan internal Mahkamah Agung maka sulit diharapkan akan efektif menjalankan fungsi pengawasan atas kehormatan hakim agung itu sendiri, karena kedudukannya yang tidak independen terhadap subjek yang akan diawasi. Di samping itu, jika lembaga ini dibentuk di dalam struktur Mahkamah Agung, maka subjek yang diawasinya hanya terbatas pada hakim agung saja. Oleh karena itu, keberadaan lembaga Komisi Judisial ini dibentuk tersendiri di luar Mahkamah Agung sehingga subjek yang diawasinya dapat diperluas ke semua hakim, termasuk hakim konstitusi dan hakim di seluruh Indonesia. Di samping itu, kedudukan Komisi Judisial itu dapat pula diharapkan bersifat

man-berada di pusat saja. Tetapi, jika jangkauan pengawasan yang perlu dilakukannya menyangkut hakim pada umumnya maka tidak dapat dielakkan perlunya dipikirkan mengenai pengembangan jaringan kelembagaannya ke seluruh wilayah hukum Indonesia tempat di mana para hakim bekerja. 

organisasi negara itu sebagai keseluruhan. Jika yang dibahas bukan bentuk organnya, melainkan bentuk penyelenggaraan pemerin-tahan atau bentuk penyelenggaraan kekuasaan maka istilah yang lebih tepat dipakai adalah istilah ‘bentuk pemerintahan’. Istilah ini pun harus dibedakan pula dari istilah ‘sistem pemerintahan’ yang menyangkut pilihan antara sistem presidential, sistem parlementer, atau sistem campuran. Konsepsi yang terakhir ini berkenaan dengan sistem penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan dalam arti cabang kekuasaan eksekutif. Perbedaannya dari pengertian bentuk pemerin-tahan, pertama adalah bahwa istilah pemerintahan dalam konsepsi ‘bentuk pemerintahan’ bersifat statis, yaitu berkenaan dengan ben-tuknya (vormen), sedangkan dalam ‘sistem pemerintahan’, aspek pemerintahan yang dibahas bersifat dinamis. Kedua, dalam konsepsi bentuk pemerintahan, kata pemerintahan lebih luas pengertiannya karena mencakup keseluruhan cabang kekuasaan. Sedangkan kata pemerintahan dalam ‘sistem pemerintahan’ terbatas pengertiannya pada cabang eksekutif saja. Penggunaan kata government dalam baha-sa Inggris juga sering menimbulkan kebaha-salahpahaman. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa kata itu mengandung dua arti, yaitu arti luas dan arti sempit. Keduanya dipengaruhi oleh tradisi pemerintahan yang berkembang di Inggris (British) dan Amerika Serikat. Karena Kerajaan Inggris mempraktekkan sistem pemerintahan parlementer, maka perkataan government disana menunjuk kepada pengertian yang sempit, yaitu hanya cabang kekuasaan eksekutif saja. Tetapi, dalam bahasa Inggris Amerika, kata government mencakup pengertian yang luas, yaitu keseluruhan pengertian penyelenggaraan negara. Dalam konstitusi Amerika Serikat misalnya, istilah “the Government of the United States” selain mencakup cabang eksekutif yang dipegang oleh Presiden, juga mencakup Kongres yang terdiri atas House of Repre­ sentatives dan Senat.

Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, perlu diperjelas adanya perbedaan mendasar antara pengertian ‘bentuk negara’, ‘ben­ tuk pemerintahan’, dan ‘sistem pemerintahan’. Ketiga istilah tersebut sebaiknya tidak dipertukarkan satu sama lain, sehingga tidak men-imbulkan kesalahpahaman dalam praktek. Perbincangan mengenai bentuk negara’ (staats­vormen) terkait dengan pilihan-pilihan antara (a) bentuk negara kesatuan (unitary state, eenheidsstaat), (b) bentuk negara serikat (federal, bonds­staat), atau (c) bentuk konfederasi (confederation, A. BENTUK NEGARA dAN BENTUK PEMERINTAHAN

Dalam berbagai literatur hukum dan apalagi dalam pengguna-annya sehari-hari, konsep ‘Bentuk Negara’ (staats­vorm) seringkali dicampuradukkan dengan konsep ‘Bentuk Pemerintahan’ (regerings­ vorm). Hal ini juga tercermin dalam perumusan Pasal ayat () Un-dang-Undang Dasar 945 yang menyebutkan: “Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk republik”199. Dari kalimat ini tergambar bahwa the founding fathers Indonesia sangat menekankan

pentingnya konsepsi Negara Kesatuan sebagai deinisi hakiki negara

Indonesia (hakikat negara Indonesia). Bentuk dari negara kesatuan Indonesia itu ialah republik. Jadi jelaslah bahwa konsep bentuk negara yang diartikan disini adalah ‘republik’ yang merupakan pilihan lain dari kerajaan (monarki) yang telah ditolak oleh para anggota BPUPKI mengenai kemungkinan penerapannya untuk Indonesia modern200.

Kelemahan rumusan di atas terkait dengan pengertian ‘bentuk negara’ yang tidak dibedakan dari pengertian ‘bentuk pemerintahan’. Padahal, kedua konsep ini sangat berbeda satu sama lain. Karena yang dibicarakan adalah bentuk negara berarti bentuk organ atau

BENTUK NEGARA KESATUAN

Dalam dokumen Konstitusi dan Konstitusionalisme (Halaman 99-102)