PERANGKAT PERATURAN PERUNdANG-UNdANGAN
E. PROdUK HUKUM MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
1. Produk Hukum MPR dewasa Ini
Seperti dimaklumi, putusan-putusan MPR itu selama ini dina-makan Ketetapan ataupun Keputusan. Ketetapan bersifat ke luar dan ke dalam, sedangkan Keputusan bersifat internal. Dengan pembedaan ini maka segala putusan yang berlaku ke dalam anggota majelis send-iri, dituangkan dalam bentuk Keputusan, sedangkan yang berlaku keluar majelis dituangkan dalam bentuk Ketetapan214. Atas dasar pembedaan ini, sampai sekarang sudah tercatat banyak Ketetapan MPR, sedangkan Keputusan MPR hanya berkenaan dengan hal-hal yang relatif bersifat tetap. Banyaknya jumlah ketetapan MPR yang berlakunya ke luar dan ke dalam majelis itu, sangat dipengaruhi oleh suasana politik dan perkembangan kebutuhan yang dirasakan oleh para wakil rakyat di MPR. Masalahnya, bagaimanakah kita akan memperlakukan keputusan-keputusan dan ketetapan-ketetapan MPR itu selanjutnya dalam konteks wacana mengenai penataan kembali sumber tertib hukum, dan bentuk serta susunan tata urut peraturan perundang-undangan Republik Indonesia di masa mendatang.
Dalam UUD 945, ketentuan mengenai tugas MPR tercantum hanya dalam pasal, yaitu Pasal juncto Pasal 7 ayat () dan (2), dan Pasal 6 ayat (2). Dalam Pasal , ditentukan bahwa MPR menetapkan Undang-Undang Dasar dan garis-garis besar daripada haluan negara. Sedangkan dalam Pasal 7, diatur mengenai mekanisme perubahan UUD yang tentunya masih terkait dengan wewenang MPR untuk menetapkan UUD sebagaimana dimaksud dalam Pasal di atas. Selanjutnya, dalam Pasal 6 ayat (2) dinyatakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR dengan suara yang terbanyak.
Dengan demikian, tugas pokok MPR itu sebenarnya hanya berkisar pada tiga soal, yaitu UUD, Presiden dan Wakil Presiden (Lembaga Kepresidenan), dan garis-garis besar daripada haluan 24 Lihat Bab XII Pasal 90 Ketetapan MPR No.II/MPR/999 tentang Peraturan Tata Tertib MPR-RI sebagaimana telah diubah dengan Ketetapan MPR No.I/ MPR/999 tentang Perubahan Kelima atas Ketetapan MPR-RI No.I/MPR/98 tentang Peraturan Tata Tertib MPR-RI.
2. Peraturan Perundang-Undangan
Dalam arti khusus, pengertian peraturan perundang-undangan yang saya maksud di sini adalah keseluruhan susunan hirarkis peraturan perundang-undangan yang berbentuk Undang-Undang ke bawah, yaitu semua produk hukum yang melibatkan peran lem-baga perwakilan rakyat bersama-sama dengan pemerintah ataupun melibatkan peran pemerintah karena kedudukan politiknya dalam rangka melaksanakan produk legislatif yang ditetapkan oleh lem-baga perwakilan rakyat bersama-sama dengan pemerintah menurut tingkatannya masing-masing. Seperti telah diuraikan di atas, yang terlibat dalam pembentukan atau pembuatan Undang-Undang adalah Dewan Perwakilan Rakyat (peran primer) dan Presiden/Pemerintah (peran sekunder), yang terlibat dalam pembuatan Peraturan Daerah (Perda) adalah DPRD propinsi atau DPRD kabupaten/kotamadya (peran primer) bersama-sama dengan Gubernur atau Bupati/Wa-likota (peran sekunder), dan yang terlibat dalam pembuatan Peraturan Desa adalah badan perwakilan rakyat di desa yang dalam UU No.22 Tahun 999 disebut Badan Perwakilan Desa (peran primer) dan Ke-pala Desa (peran sekunder).
Di samping itu, yang juga termasuk dalam pengertian peraturan perundang-undangan di sini ialah segala perangkat peraturan yang tingkatannya di bawah UU dan dimaksudkan untuk melaksanakan ketentuan yang termuat dalam bentuk peraturan yang tingkatan-nya lebih tinggi. Sebagai konsekuensi dianuttingkatan-nya ajaran pemisahan kekuasaan legislatif dan eksekutif secara tegas, maka para pejabat yang dapat dianggap memiliki kewenangan demikian itu adalah Presiden, Menteri dan pejabat setingkat Menteri. Sedangkan para pejabat dalam birokrasi pemerintahan yang terikat menurut keten-tuan peraturan kepegawai-negerian tidak dapat diberi wewenang menetapkan peraturan sama sekali, mengingat jabatannya murni bersifat eksekutif.
Dengan demikian produk-produk peraturan perundang-undangan dalam pengertian yang khusus ini sangat berbeda dari peraturan yang disebut sebagai Peraturan Dasar yang dibuat oleh Majelis Permusy-awaratan Rakyat sebagai majelis tertinggi penjelmaan segenap rakyat Indonesia yang berdaulat. Oleh karena itu, tepatlah jika keduanya dibedakan dengan sebutan Peraturan Dasar dan Peraturan Perundang-Undangan di bawah Peraturan Dasar.
itu, harus dapat ditawarkan kepada para pemilih untuk meyakinkan mereka dalam menentukan pilihannya masing-masing. Tugas MPR dalam kaitan dengan ini adalah menyetujui atau menolak ataupun menambah dan mengurangi rancangan program yang diajukan se-cara garis besar oleh setiap calon Presiden sebelum calon Presiden tersebut dipilih secara resmi. Apabila naskah garis besar program calon Presiden itu nantinya disetujui, dan calon Presiden yang ber-sangkutan dinyatakan terpilih, maka naskah itulah yang disebut sebagai Garis Besar Haluan Negara yang akan dijadikan acuan bagi Presiden untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan, serta dijadikan acuan bagi DPR untuk mengawasi pelaksanaan tugas Presiden, ataupun dijadikan acuan bagi Sidang MPR yang akan datang dalam menilai hasil kerja Presiden, baik di akhir masa jabatannya ataupun dalam forum Sidang Istimewa untuk perkara ‘impeachment’.
Masalahnya, apakah memang harus naskah GBHN itu ditetap-kan dalam bentuk dokumen yang dinamaditetap-kan Ketetapan MPR? Bukankah dapat saja diatur bahwa naskah GBHN itu disahkan oleh Sidang Umum MPR dengan nama atau sebutan GBHN saja sesuai ketentuan Pasal UUD 945. Sedangkan materi-materi yang sudah ditetapkan oleh MPR selama ini, di luar naskah GBHN dapat pula dipertimbangkan untuk dijadikan materi dalam rangka agenda pe-rubahan UUD.
Berkenaan dengan Presiden dan Wakil Presiden, tugas MPR adalah memilih untuk mengangkat dan/atau memberhentikan. Dokumen putusan ini memang dapat disebut Ketetapan seperti bi-asa karena sifatnya ‘beschikking’. Tetapi, jika ingin konsisten dengan istilah Keputusan yang bersifat ‘beschikking; seperti halnya dengan Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, dan sebagainya, maka pengangkatan dan pemberhentian Presiden dan Wakil Presiden itu dapat saja dituangkan dalam bentuk Keputusan. Namun soal ini tidak prinsipil sifatnya, mengingat istilah Keputusan MPR selama ini sudah digunakan untuk pengertian putusan yang bersifat internal. Karena itu, dapat diteruskan pengertian seperti yang diatur dalam Peraturan Tata Tertib MPR yang berlaku sekarang, yaitu bahwa “Keputusan MPR adalah putusan Majelis yang mempunyai kekuatan hukum mengikat ke dalam Majelis”215.
Yang justru paling pokok dalam rangka penyusunan tertib peraturan negara. Khusus mengenai soal yang terakhir ini, yaitu ‘garis-garis
besar daripada haluan negara’, sesungguhnya dapat dilacak bahwa perumusan kata-kata dalam frase ini agak menyimpang dari tata bahasa yang baik dan benar. Akan tetapi, kesalahan gramatikal ter-sebut selama ini telah dimanfaatkan untuk mengembangkan penaf-siran bahwa yang dimaksud dalam frase ‘garis-garis besar daripada haluan negara’ disini mencakup dua pengertian, yaitu garis besar haluan negara dalam arti luas dan dalam arti sempit. Yang dipahami dalam arti sempit adalah Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagaimana selalu ditetapkan setiap 5 tahunan yang dijadikan acuan bagi Presiden untuk melaksanakan tugas-tugas pembangunan lima tahunan. Sedangkan yang dipahami dalam arti luas adalah segala arahan bagi haluan negara yang diperlukan selain naskah GBHN itu. Karena itu, maka haluan-haluan negara selain GBHN itu perlu ditetapkan juga dalam bentuk Ketetapan-Ketetapan MPR dengan kedudukan di bawah UUD. Maka jadilah Ketetapan MPR itu banyak sekali jumlahnya sampai sekarang, yang jika ditelaah satu per satu ada juga materi ketetapan yang memang sungguh-sungguh diperlukan, seperti misalnya Ketetapan MPR tentang Hak Asasi Manusia, tetapi banyak juga yang tidak terlalu penting.
Sebenarnya, semua materi yang dianggap perlu ditetapkan terse-but jika memang diterse-butuhkan dapat saja dimasukkan ke dalam UUD dalam rangka agenda perubahan UUD. Akan tetapi, karena UUD 945 selama Orde Baru disakralkan maka tidak pernah terbayang sebel-umnya bahwa kita sekarang ini akan dapat menyaksikan perubahan terhadap ketentuan UUD 945. Oleh karena itu, setelah kita memasuki keadaan yang normal di era reformasi sekarang ini, kiranya sudah saatnya kita kembali berpikir jernih mengenai keberadaan Ketetapan MPR itu sendiri sebagai bentuk peraturan resmi sebagaimana diten-tukan dalam TAP MPRS No.XX/MPRS/966 tersebut di atas.
Naskah GBHN sebagaimana dikenal selama ini tidak perlu lagi ditetapkan dalam bentuk dokumen yang diperlakukan sebagai per-aturan dengan derajat di bawah UUD. Apalagi, siklus kepemimpinan Presiden dewasa ini telah dibatasi paling lama 0 tahun. Artinya, peralihan kekuasaan Presiden dapat berlangsung setiap lima tahunan sesuai ketentuan UUD, dan karena itu sudah semestinya, setiap calon Presiden mempersiapkan rancangan programnya masing-masing yang dalam proses demokratisasi pengisian jabatan kepresidenan
Ketua lembaga Tinggi Negara setingkat Presiden dan DPR dapat secara periodik menyampaikan laporan perkembangan tugasnya di hadapan Sidang-Sidang MPR.
Dengan demikian, bentuk putusan MPR dapat disederhanakan dalam empat jenis naskah saja, yaitu () Peraturan Dasar yang dapat berupa naskah UUD, naskah Perubahan UUD, dan naskah Piagam Dasar; (2) Ketetapan MPR tentang pengangkatan dan pemberhentian Presiden dan Wakil Presiden; () Ketetapan MPR tentang GBHN; dan (4) Keputusan MPR yang hanya mempunyai kekuatan hukum mengikat ke dalam Majelis. Termasuk dalam pengertian Keputusan yang bersifat internal ini, menurut saya, adalah Peraturan Tata Tertib MPR yang dapat dituangkan dalam bentuk Keputusan, bukan Keteta-pan seperti yang lazim dipraktekkan selama ini. Dari keempat jenis naskah di atas, yang dapat dianggap termasuk pengertian peraturan perundang-undangan Republik Indonesia hanya naskah yang terma-suk pengertian Peraturan Dasar, dengan kedudukan tertinggi dalam tata-urut hirarkis peraturan perundang-undangan tersebut.
Segala bentuk putusan MPR yang sudah ada selama ini, jika usulan ini dapat diterima, tentu dapat disesuaikan menurut keten-tuan yang baru nantinya, dengan catatan semua putusan itu dijamin tercatat dengan sebaik-baiknya dalam risalah-risalah majelis. Ada pula ketetapan-ketetapan yang dapat dipandang tidak mempunyai relevansi sama sekali, misalnya, Ketetapan MPR tentang Pidato Per-tanggungjawaban Presiden yang selama Orde Baru selalu dikeluar-kan tiap lima tahun dengan isinya yang pendek, yaitu: “Menerima Sepenuhnya” atau bahkan “Menerima Sepenuhnya Tanpa Catatan”. Ini adalah contoh Ketetapan MPR yang tidak perlu, dan bahkan lucu untuk disebut sebagai salah satu bentuk peraturan perundang-un-dangan. Bahkan, yang lebih lucu lagi adalah Ketetapan MPR yang menyatakan ‘Menolak Pidato Pertanggungjawaban Presiden’ yang justru dibuat dalam Sidang Umum di akhir masa jabatan Presiden yang bersangkutan. Padahal, cukuplah penilaian terhadap pertang-gungjawaban Presiden di akhir masa jabatan itu dijadikan referensi untuk proses pemilihan Presiden dalam agenda berikutnya. Kepu-tusan melalui pemungutan suara untuk menerima atau menolak pertanggungjawaban Presiden itu seharusnya hanya terjadi dalam persidangan perkara ‘impeachment’ melalui Sidang Istimewa MPR, bukan dalam Sidang Umum akhir jabatan216.
25 Lihat Pasal 90 ayat () dalam Bab XII Ketetapan MPR No. II/MPR/999 tentang Peraturan Tata Tertib MPR-RI. Di dalam ayat () dinyatakan “Bentuk-bentuk putusan Majelis adalah: a. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat; b. Keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat”. Dalam ayat (2) dinyatakan: “Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah putusan Majelis yang mempunyai kekuatan hukum mengikat ke luar dan ke dalam Majelis.”
perundang-undangan ini adalah putusan-putusan MPR berkenaan dengan UUD. MPR berwenang menetapkan (Pasal ) dan mengubah (Pasal 7) UUD. Akan tetapi, bentuk dokumen penetapan ataupun pe-rubahan itu tidak mungkin dituangkan dalam bentuk Ketetapan yang justru kedudukannya lebih rendah daripada UUD itu sendiri. Karena itu, produk putusan MPR di bidang UUD ini seyogyanya dinamakan UUD dan Perubahan UUD saja. Bahkan, apabila diperlukan untuk mengatur hal-hal yang rinci dalam satu naskah yang tebal, yang tidak mungkin dimasukkan menjadi materi UUD sehingga naskah UUD tidak terlalu tebal, maka dapat pula dipertimbangkan kemungkinan adanya bentuk hukum yang dinamakan Piagam Dasar. Misalnya, MPR dapat menetapkan Piagam Dasar Hak Asasi Manusia Indonesia sebagai dokumen pelengkap UUD. Dengan demikian, kita dapat memiliki tiga jenis dokumen yang dihasilkan oleh MPR, yaitu naskah UUD, naskah Perubahan UUD, dan naskah Piagam Dasar, yang kesemuanya dapat disebut sebagai Peraturan Dasar Republik Indonesia.
Sejalan dengan itu, maka sudah seyogyanya bahwa Sidang-Si-dang MPR itu dibagi menjadi tiga komisi saja, yaitu Komisi A tentang Undang-Undang Dasar, Komisi B tentang Lembaga Kepresidenan, dan Komisi C tentang Haluan Negara. Segala pembahasan mengenai peraturan-peraturan yang bersifat pokok dan mendasar, dibahas dalam Komisi UUD. Segala sesuatu yang menyangkut Presiden dan Wakil Presiden, termasuk soal pertanggung-jawaban, soal pemili-han, soal pengangkatan pejabat Presiden dan Wakil Presiden, soal ‘impeachment’ dan lain-lain dibahas dalam Komisi Kepresidenan. Sedangkan Komisi C khusus membahas mengenai GBHN dan reko-mendasi-rekomendasi kebijakan yang harus mendapat perhatian Presiden dalam lima tahun. Apabila diperlukan, dapat pula dibentuk Komisi khusus, misalnya untuk membahas mengenai lembaga-lem-baga tinggi negara lainnya, seperti misalnya Mahkamah Agung dan Badan Pemeriksa Keuangan, terutama apabila diterima usulan agar
Dua yang pertama merupakan produk Majelis Permusyawaratan Rakyat, sedangkan yang terakhir adalah produk Dewan Perwakilan Rakyat. Setiap Undang-Undang, baik yang diprakarsai oleh Pemer-intah, atau oleh Dewan Perwakilan Daerah ataupun oleh Dewan Perwakilan Rakyat sendiri, adalah produk Dewan Perwakilan Rakyat dan karena itu dapat dipertimbangkan mengenai kemungkinan perubahannya menjadi naskah yang menggunakan kepala surat Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam ketentuan Pasal 20 ayat () hasil Perubahan Pertama UUD 945 jelas dinyatakan bahwa Dewan Per-wakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Kekuasaan Presiden dalam hubungan dengan pengesahan suatu Ran-cangan Undang-Undang menjadi Undang-Undang hanyalah bersifat formil dan administratif belaka. Pengesahan formil dan administratif tersebut bahkan sesuai ketentuan Pasal 20 ayat (5) hasil perubahan kedua bersifat ‘imperative’ dan ‘mandatory’ dimana ditentukan bahwa dalam waktu 0 hari sejak disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, meskipun Presiden tidak bersedia menandatanganinya sebagai tanda pengesahan administratif, Rancangan Undang-Undang itu berlaku dengan sendirinya sebagai undang-undang.
Memang dapat pula dipersoalkan berkenaan dengan bentuk penandatanganan oleh Presiden itu, khususnya berkenaan dengan kemungkinan perubahan format undang-undang. Apakah karena Presiden yang menandatanganinya maka format undang-undang tersebut masih dapat tetap menggunakan format kepala surat Pres-iden seperti selama ini, atau kepala suratnya justru harus diganti dengan kepala surat Dewan Perwakilan Rakyat. Di Amerika Serikat misalnya, setiap Undang-Undang ditandatangani oleh Ketua Senat dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat secara bersama-sama, sehingga formatnya adalah format Kongres, bukan menggunakan kepala surat Presiden. Karena penandatanganan undang-undang tetap dilakukan oleh Presiden maka format undang-undang kita di masa depan masih dapat menggunakan format Presiden. Namun demikian, mengingat kekuasaan membentuk undang-undang berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat () berada di tangan Dewan Perwakilan Rakyat dan bukan lagi di tangan Presiden seperti dalam rumusan Pasal 5 ayat () yang lama (sebelum diamandemen), maka wajar pula jika berkembang pemikiran bahwa format undang-undang di masa yang akan datang seharusnya menggunakan kepala surat Dewan Perwakilan Rakyat, bukan lagi kepala surat Presiden (format Presiden).
26 Contoh konvensi yang dapat dikemukakan berkenaan dengan hal ini adalah persidangan perkara ‘impeachment’ Presiden Bill Clinton dalam kasusnya dengan Monica Lewinsky yang dimenangkan oleh Clinton, dan karena itu ia dapat meneruskan masa jabatannya sampai selesai, atau dalam kasus pidato pertanggung-jawaban Presiden Soekarno yang dikenal dengan Pidato Nawaksaranya yang ditolak oleh Sidang Istimewa MPRS Tahun 966 dan menyebabkan Presiden Soekarno harus berhenti dari jabatannya.
Sebenarnya, semua itu dapat terjadi, semata-mata karena telah berlangsungnya kebiasaan yang salah selama masa Orde Baru, yaitu untuk kepentingan pemilihan ulang bagi Presiden untuk menduduki kembali jabatan Presiden, maka diperlukan adanya Ketetapan yang menerima bulat, sepenuhnya dan tanpa catatan tersebut di atas. Oleh karena itu, di masa depan, kekeliruan-kekeliruan seperti ini tidak boleh terulang lagi. Salah satu caranya, hapuskan saja kedudukan Ketetapan MPR sebagai bentuk peraturan perundang-undangan yang secara hirarkis berada di bawah UUD tetapi berada di atas UU. Di seluruh dunia, selalu diatur bahwa di bawah UUD (konstitusi) peraturan yang tertinggi adalah undang-undang sebagai produk lembaga legislatif bersama-sama dengan eksekutif. Selain naskah Peraturan Dasar (UUD, Perubahan UUD, dan Piagam Dasar), produk-produk lembaga MPR itu secara langsung dapat saja disebut sesuai dengan namanya, yaitu penetapan GBHN dengan mengetok palu dan ditandatangani oleh para pimpinan MPR, dan penetapan Pres-iden dan Wakil PresPres-iden dengan ditandatanganinya Ketetapan yang bersifat ‘beschikking’.
2. Produk Hukum Majelis di Masa depan
Di masa depan, kedudukan konstitusional Majelis Permusya-waratan Rakyat mengalami perubahan yang sangat mendasar. MPR bukan lagi dan tidak dapat lagi disebut sebagai lembaga tertinggi negara, melainkan merupakan badan legislatif yang terdiri atas dua kamar parlemen, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah, yang keduanya secara bersama-sama disebut sebagai MPR yang kedudukannya sederajat dengan Presiden dan Mahkamah Agung. Produk hukum parlemen Indonesia di masa depan hanya ada dua tingkatan, yaitu tingkat konstitusi berupa (i) Undang-Undang Dasar, dan (ii) Perubahan Undang-Undang Dasar; sedangkan pada tingkat di bawahnya adalah (iii) Undang-Undang.
gani oleh pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat sendiri segera setelah pengesahan dilakukan di dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat. Oleh karena itu, dengan memperhatikan implikasi teknis atas pengaturan oleh Pasal 20 ayat (5) itu, saya mengusulkan bahwa sebaiknya naskah undang-undang di masa depan sebaiknya tidak lagi menggunakan format lama.
Karena kedudukan MPR menurut ketentuan baru UUD 945 pasca amandemen sudah mengalami perubahan mendasar maka sep-erti dikemukakan di atas ia tidak lagi mengeluarkan produk hukum sebagaimana dikenal selama ini. Karena itu, produk hukum MPR hasil Pemilu 2004, haruslah disesuaikan dengan ketentuan UUD 945 setelah perubahan Keempat tahun 2002 tersebut. MPR tidak boleh dan tidak akan lagi menetapkan produk hukum yang bersifat ‘mengatur’ (regeling), kecuali dalam bentuk UUD atau Perubahan UUD. Namun, kewenangan MPR untuk mengeluarkan produk hukum yang tidak bersifat mengatur masih tetap dapat dipertahankan. Misalnya, MPR dapat saja menetapkan:
(a) Ketetapan MPR yang merupakan baju hukum naskah Peruba-han UUD sesuai dengan ketentuan Pasal ayat () jo Pasal 7 UUD 945;
(b) Ketetapan MPR yang menyatakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden telah resmi sebagai Presiden sejak pengucapan sump-ah/janji jabatannya di hadapan Sidang MPR, sesuai dengan ketentuan Pasal ayat (2) UUD 945.
(c) Ketetapan MPR yang memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dari jabatannya sesuai dengan ketentuan pasal ayat () jo Pasal 7A dan Pasal 7B UUD 945.
(d) Ketetapan MPR yang menetapkan Presiden dan/atau Wakil Presiden untuk mengisi kekosongan jabatan Presiden dan/atau Wakil Presiden sesuai ketentuan Pasal 8 ayat (2) dan (). Namun demikian, semua bentuk ketetapan MPR tersebut hanya bersifat administratif dan tidak boleh lagi memuat norma-norma hukum yang bersifat mengatur (regeling). Produk MPR yang bersifat mengatur hanya dituangkan dalam bentuk UUD atau Perubahan UUD. Demikian pula dengan bentuk Ketetapan MPR tentang Per-aturan Tata Tertib MPR yang ada selama ini juga tidak dapat lagi dipertahankan. Peraturan Tata Tertib biasanya dibenarkan untuk ditetapkan dengan alasan norma yang diatur bersifat internal (inter Jika pemikiran demikian diikuti maka fungsi pengesahan
den-gan tandatanden-gan Presiden pada setiap undang-undang berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (4), dapat dikatakan hanya bersifat formil dan administratif saja, yaitu dalam rangka pengundangan dan pen-gumuman yang dipraktekkan selama ini, di mana Menteri Negara Sekretaris Negara menandatangani setiap RUU yang diundangkan. Dengan prosedur terakhir ini, setiap undang-undang memerlukan tandatangan ketua Dewan Perwakilan Rakyat atau oleh para ang-gota Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat yang secara bersama-sama mewakili segenap anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Setelah itu, barulah diperlukan tandatangan Presiden untuk pengesahannya se-cara formil dan administratif.
Pandangan seperti ini sebenarnya sangat masuk akal. Dalam Pasal 20 ayat (4) hasil Perubahan Pertama ditentukan: “Presiden mengesah-kan rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama untuk menjadi undang-undang”. Akan tetapi, dalam Pasal 20 ayat (5) hasil Perubahan Kedua, ditentukan: “Dalam hal rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu tiga puluh hari semenjak rancangan undang-undang tersebut disetujui, rancangan undang-undang tersebut sah menjadi undang-undang dan wajib diundangkan”. Dalam praktek, secara teoritis bisa saja terjadi bahwa suatu rancangan undang-undang yang telah mendapat persetujuan bersama di DPR ternyata memuat hal-hal yang menurut Presiden berbahaya atau menyulitkan Presiden untuk bekerja. Jika tenggang waktu 0 hari itu terlampaui, maka otomatis rancangan undang-undang tersebut secara hukum dianggap telah berlaku sebagai Undang-Undang sesuai dengan ketentuan Pasal 20 ayat (5) tersebut.
Jika hal itu terjadi maka timbul pertanyaan, siapakah yang menandatangani naskah Undang-Undang dimaksud? Apakah