BAB 2 LANDASAN TEORI
2.1 Komitmen Organisasi
2.1.1. Pengertian Komitmen Organisasi
Pada sub bab ini akan dipaparkan penjelasan mengenai definisi dari komitmen organisasi yang disampaikan oleh para ahli. Kebanyakan para ahli mendefinisikan komitmen sebagai keterlibatan maupun loyal terhadap organisasi. Meyer dan Allen (1991) merumuskan definisi mengenai komitmen organisasi adalah sebagai konstruk psikologis yang merupakan karakteristik hubungan anggota dengan organisasinya dan memiliki implikasi terhadap keputusan individu untuk melanjutkan keanggotaannya dalam berorganisasi. Mowday et al., (dalam Meyer & Allen, 1991) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai kekuatan yang bersifat relatif dan individu terlibat dengan kegiatan di dalam organisasi.
Mathieu dan Zajac (dalam Suma & Lesha, 2013) menjelaskan bahwa komitmen organisasi adalah ikatan atau hubungan individu dengan organisasi. Jaros (dalam Suma & Lesha, 2013) mendefinisikan komitmen organisasi adalah terlibatnya pegawai dalam kegiatan organisasi kemudian memberikan kinerja terbaik yang dimiliki oleh pegawai. Mowday et al., (1979), mendefinisikan
13
komitmen organisasi sebagai konsep multi dimensi yang merangkul keinginan karyawan untuk tetap dalam organisasi. Komitmen melibatkan hubungan aktif dengan organisasi sehingga individu bersedia memberikan sesuatu dari dirinya sendiri untuk berkontribusi pada kesejahteraan organisasi. 3 faktor internal yang terkait pada komitmen organisasi, yaitu:
1. Keyakinan kuat dan penerimaan atas tujuan dan nilai organisasi.
2. Bersedia mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk organisasi. 3. Keinginan yang kuat untuk mempertahankan keanggotaannya di dalam
organisasi.
Roodt (dalam Adam Martin & Gert Roodt, 2008) komitmen adalah kecenderungan kognitif terhadap fokus khusus, sejauh fokus ini memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan, menyadari nilai-nilai dan mencapai tujuan. Steven M Jex (2002) beranggapan bahwa, komitmen organisasi dapat dianggap sebagai sejauh mana karyawan berkontribusi untuk organisasi yang memberi pekerjaan dan bersedia untuk bekerja atas organisasi dan sampai kapan pegawai tersebut akan bertahan dan tidak keluar dari organisasi. Menurut Levy (2009) komitmen organisasi adalah kekuatan yang memperlihatkan sejauh mana pegawai akan terlibat dan berkontribusi dengan organisasi. Jadi komitmen organisasi adalah ikatan yang dimiliki oleh pegawai dengan organisasi dan pegawai bersedia mengerahkan seluruh kemampuannya, bersikap loyal terhadap organisasi, dan bertanggung jawab kepada organisasi.
14
2.1.2. Dimensi Komitmen Organisasi
Teori untuk menjelaskan dimensi daripada komitmen organisasi ini ialah berasal dari teori Meyer dan Allen (1991) yang telah meneliti komitmen organisasi selama beberapa dekade ini. Berikut adalah dimensi dari komitmen organisasi yang dipaparkan Meyer dan Allen:
2.1.2.1. Affective Commitment
Meyer dan Allen (1991) menyatakan bahwa karyawan organisasi yang berkomitmen kepada organisasi yang didasari oleh afektif, akan terus bekerja bagi organisasi karena individu memang menginginkan melakukan hal tersebut. Masih pada artikel yang sama, Meyer dan Allen menambahkan bahwa karyawan harus memiliki ikatan emosional dan adanya ikatan antara pegawai dan organisasi.
Menurut Meyer dan Allen (1997) komitmen afektif adalah keterikatan emosional karyawan, identifikasi dan keterlibatan dalam organisasi. Menurut Levy (2009) komitmen afektif diartikan sebagai kedekatan emosi yang ditandai dengan adanya keyakinan yang kuat dan penerimaan tujuan dan nilai organisasi, kesediaan mengerahkan usaha atas nama organisasi dan keinginan yang kuat untuk tetap menjadi organisasi.
2.1.2.2. Continuance Commitment
Meyer dan Allen (1991) menjelaskan bahwa continuance commitment mengacu pada biaya yang terkait dengan meninggalkan organisasi. Selain itu karyawan merasa rugi jika meninggalkan organisasi dan mendapat keuntungan jika tetap berada di dalam organisasi. Karyawan yang memilih mengutamakan organisasinya berdasarkan continuance commitment akan tetap tinggal karena
15
karyawan harus melakukan hal tersebut. Menurut Levy (2009) kedekatan terhadap organisasi sebagai fungsi dari apa yang telah karyawa dapat.
2.1.2.3. Normative Commitment
Meyer dan Allen (1991) menjelaskan normative commitment sebagai sebuah perasaan yang mencerminkan sebuah kewajiban untuk melanjutkan sebuah pekerjaan. Lebih lanjut lagi Meyer dan Allen menambahkan pegawai harus dapat bertanggung jawab terhadap organisasi dan mengikuti peraturan organisasi.
Normative commitment yang dipaparkan oleh Levy hampir serupa dengan yang disampaikan oleh Meyer dan Allen yakni, kedekatan terhadap organisasi yang mencerminkan sebuah kewajiban untuk melanjutkan pekerjaan dengan organisasi.
2.1.3. Faktor-Faktor Komitmen Organisasi
Dalam mengajukan konseptual dari komitmen organisasi, Meyer dan Allen (1991) memberikan penjelasan adanya variabel yang menjadi penyebab dari komitmen organisasi. Levy (2009) memaparkan faktor dari komitmen organisasi. Peneliti akan memaparkan teori yang telah disampaikan oleh Levy karena menurut peneliti, penelitian ini masih baru dibanding dengan teori Meyer dan Allen. Levy (2009) menjelaskan ada 3 ketegori utama yakni organizational mechanism, individual/personal characteristic, dan social factor.
1. Organizational Mechanisms
Pernahkah anda melihat bagaimana sebuah organisasi melakukan seseuatu untuk membuat karyawannya komit dengan organisasi?. Levy (2009) menjelas kan bahwa beberapa struktur organisasi yang baik, yaitu dengan membuat sebuah sistem berupa hadiah yang diberikan kepada pegawai karena memiliki kinerja
16
positif. Hadiah yang dimaksud Levy ialah menyediakan sertifikat untuk pegawai terbaik bulan ini, membiayai pendidikan pegawai yang ingin melanjutkan sekolah, dan lainnya (Levy, 2009). Meyer dan Allen (1997) melihat bahwa struktur seperti mengarah pada komitmen afeksi, khususnya komunikasi yang mendukung mereka, perlakuan yang cukup, dan meningkatkan perasaan saling memntingkan dan kemampuan orang lain.
2. Individual/Personal Characteristic
Berbicara masalah struktur organisasi belum lengkap rasanya tanpa membahas karakteristik individu. Setiap pegawai membawa banyak kualitas, sikap, kepercayaan, dan kemampuan yang biasa disebut individual differences atau keunikan individu dan perbedaan ini sering berkaitan dengan perilaku kerja seperti komitmen organisasi. Mathieu dan Zajac (dalam Levy, 2009) melihat adanya keterkaitan antara personal characteristic dengan komitmen afeksi dan komitmen berkelanjutan tetapi baik Mathieu maupun Zajac tidak melihat hal yang serupa pada komitmen normatif. Meskipun pengetahuan akan komitmen normatif terbatas dibanding dengan 2 komponen yang lain, beberapa anteseden muncul pada literatur lain. Singkatmya, meski pun tidak ada bukti yang mengarah pada komitmen normatif, ada beberapa bukti yang tidak langsung memperlihatkan bahwa pegawai yang menanamkan kepercayaan penuh pada tanggung jawab sama halnya dengan komitmen normatif kepada organisasi (Allen & Meyer, 1997).
3. Social Factor
Sampailah kita pada teori terakhir mengenai anteseden komitmen organisasi yang dipaparkan oleh Levy (2009) yaitu faktor sosial. Salah satu komitmen organisasi
17
yang konsisten secara alami dan berkualitas ialah hubungan pegawai dan supervisor. Maksudnya adalah sejauh mana bos memperlakukan dan berkomunikasi secara terbuka dengan pegawai (Mathieu & Zajac dalam Levy, 2009). Peneliti menyimpulkan maka jika perlakuan sosial mendukung dan membuat nyaman pegawai maka dengan sendirinya pegawai akan berkomitmen dengan organisasi.
2.1.4. Pengukuran Komitmen Organisasi
Pada sub bab ini peneliti masih mengacu pada teori daripada Meyer dan Allen (1997). Pengukuran komitmen organisasi menggunakan organizational commitment scale (OCS) yang dikembangkan dengan pengukuran komitmen organisasi berdasarkan konstruk model tiga dimensi (Meyer & Allen, 1997). Meyer dan Allen (1997) menyoroti bahwa skala tersebut dimaksudkan untuk mengukur tiga komponen dari komitmen organsiasi: affective commitment, continuance commitment, dan normative commitment.
Mowday et all., (1979) juga telah membuat alat ukur komitmen organisasi yang diberi nama organizational commitment questioner (OCQ). Sama halnya dengan OCS milik Meyer dan Allen, OCQ ini juga mengukur komitmen organisasi. Hanya saja disini peneliti akan memaparkan alat ukur yang telah dibuat oleh Meyer dan Allen yakni OCS untuk mengukur komitmen organisasi. OCS adalah kuesioner yang terdiri dari 24 pernyataan yang terstruktur atau item, seluruh tersebut mengukur tiga dimensi dari komitmen organisasi yaitu afektif, berkelanjutan dan normatif (Meyer & Allen, 1997).
18