• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komoditas Peternakan Populasi dan Pemotongan Ternak

Ternak dapat dikelompokkan menjadi ternak unggas (ayam buras, ayam ras pedaging, ayam ras petelur dan itik), ternak kecil (kambing, domba, babi) dan ternak besar (sapi potong, kerbau, kuda, sapi perah). Pada tahun 2010, populasi seluruh jenis ternak unggas adalah 1.207,3 juta ekor (Tabel 3.1.8). Populasi terbesar adalah ayam ras pedaging (broiler) yang merupakan 67,19% dari total populasi unggas, sementara populasi terkecil adalah itik (2,68%). Ayam buras dan ayam ras petelur (layer) masing-masing merupakan 23,10% dan 7,02% dari total populasi ternak unggas.

Tabel 3.1.8. Laju Pertumbuhan Populasi Jenis Ternak Utama, 2000-2010.

Jenis Ternak Laju (%/tahun) Populasi 2010 2000-

Ayam Ras Pedaging 7,93 6,74 811.189 67,19 Ayam Buras 1,35 -2,57 278.954 23,10 Sumber: Ditjen Peternakan, diolah.

Keterangan:

*) Satuan populasi unggas dalam ribuan ekor; jenis ternak lainnya dalam ekor.

Data series 2000-2010 ditunjukkan pada Lampiran 3.1.23.

Total populasi ternak unggas tumbuh rata-rata 3,94%/tahun selama periode 2000-2005 dan meningkat lebih cepat menjadi 4,74%/tahun selama periode 2005-2010. Laju pertumbuhan yang tinggi tersebut dipacu oleh laju pertumbuhan populasi ayam ras pedaging dan petelur yang pesat. Populasi ayam pedaging tumbuh

rata-rata 5,97%/tahun selama periode 2000-2005, menurun menjadi dan 4,69%/tahun selama periode 2005-2010. Sementara itu, populasi ayam petelur tumbuh rata-rata 5,35%/tahun selama periode 2000-2005 dan sedikit menurun menjadi 5,32%/tahun selama periode 2005-2010. Untuk ayam buras, laju pertumbuhan populasinya relatif rendah, yaitu rata-rata 1,35%/tahun pada periode 2000-2005 dan bahkan menurun menjadi -2,57%/tahun selama periode 2005-2010, yang berarti telah terjadi kemunduran yang cukup cepat. Sebaliknya, populasi itik yang semula tumbuh lambat dengan rata-rata 0,83%/tahun pada periode 2000-2005, kemudian tumbuh sangat cepat pada periode 2005-2010 dengan rata-rata 6,39%/tahun, yang berarti terjadi akselerasi laju pertumbuhan yang signifikan. Percepatan pertumbuhan populasi ternak itik selama 2005-2010 diduga didorong oleh meningkatnya permintaan akan daging itik oleh restoran termasuk K5 (tenda-tenda) di pinggir jalan yang tumbuh sangat cepat di berbagai kota.

Total populasi ternak kecil (kambing, domba, dan babi) pada tahun 2010 adalah sekitar 28,54 juta ekor. Laju pertumbuhan populasi ketiga jenis ternak ini memperlihatkan percepatan yang cukup signifikan dari rata-rata 2,28%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi 4,09%/tahun pada periode 2005-2010. Percepatan pertumbuhan terjadi pada populasi kambing dan domba. Pada periode 2000-2005, populasi kambing tumbuh rata-rata 1,18%/tahun, sementara populasi domba tumbuh rata-rata 2,44%/tahun. Pada periode 2005-2010, laju pertumbuhan populasi kambing dan domba meningkat lebih cepat menjadi masing-masing 4,56%/tahun dan 4,98%/tahun. Sebaliknya, laju pertumbuhan populasi babi melambat dari rata-rata 4,41%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi hanya 1,88%/tahun pada periode 2005-2010.

Total populasi ternak besar (sapi potong, kerbau, kuda dan sapi perah) pada tahun 2010 adalah sebesar 13,45 juta ekor. Sapi potong mempunyai jumlah populasi terbesar yaitu sekitar 78,61% dari total populasi ternak besar. Selama periode 2000-2005, populasi sapi potong menurun rata-rata 0,53%/tahun, namun kemudian meningkat cepat menjadi rata-rata 5,18%/tahun selama periode 2005-2010.

Peningkatan ini diduga selain disebabkan oleh peningkatan kelahiran anak sapi (pedet) juga karena adanya impor sapi induk dan bakalan, terutama dari Australia.

Pada periode yang sama, populasi ternak kerbau menurun rata-rata 1,43%/tahun selama periode 2000-2005 dan pada periode 2005-2010 menurun lebih cepat lagi yaitu 2,02%/tahun. Sebaliknya, populasi ternak kuda dan sapi perah memperlihatkan pertumbuhan yang makin cepat. Pada periode 2000-2005, populasi ternak kuda menurun rata-rata 1,48%/tahun, namun pada periode 2005-2010 meningkat rata-rata 4,32%/tahun. Sementara itu, populasi sapi perah yang semula meningkat lambat dengan rata-rata 0,81%/tahun pada periode 2000-2005, meningkat sangat cepat dengan rata-rata 7,24%/tahun selama periode 2005-2010.

Percepatan laju pertumbuhan populasi sapi perah dipacu oleh kenaikan harga susu segar hasil peternak yang cukup signifikan selama periode 2005-2010.

Total pemotongan ternak besar (sapi, kerbau, kuda) dan ternak kecil (kambing, domba, babi) pada periode 2000-2005 menurun rata-rata 3,24%/tahun tetapi pada periode 2005-2010 meningkat sangat cepat menjadi 6,35%/tahun. Ini berarti terjadi akselerasi laju pertumbuhan yang signifikan pada periode 2005-2010 dibanding periode 2000-2005. Pada tahun 2010, jumlah pemotongan ternak besar dan ternak kecil mencapai 10,5 juta ekor lebih.

Pemotongan sapi pada tahun 2010 sebesar 2,14 juta ekor, atau sekitar 20,26% dari populasinya. Sejalan dengan laju pertumbuhan populasi sapi potong yang negatif (-0,53%/tahun) pada periode 2000-2005, pemotongan sapi juga menurun rata-rata 0,53%/tahun pada periode yang sama (Tabel 3.1.9). Pada periode 2005-2010, pemotongan sapi meningkat rata-rata 4,85%/tahun, yang lebih rendah daripada laju pertumbuhan populasinya (5,31%/tahun). Jika laju pertumbuhan populasi dapat dipertahankan melampaui laju peningkatan pemotongannya, maka dapat diharapkan populasi sapi akan meningkat, sehingga pada akhirnya akan mencapai populasi yang dapat menghasilkan produksi daging sesuai dengan kebutuhan di masa datang.

Seperti halnya pemotongan sapi, pemotongan kerbau juga menurun pada periode 2000-2005 (-5,60%/tahun), tetapi meningkat menjadi 3,95%/tahun pada periode 2005-2010. Peningkatan jumlah pemotongan kerbau diduga merupakan salah satu faktor penyebab turunnya populasi kerbau (-2,02%/tahun) selama periode 2005-2010. Berbeda dengan sapi dan kerbau, pemotongan kuda pada periode 2000-2005 meningkat rata-rata 8,73%/tahun, tetapi kemudian melambat

menjadi menjadi hanya 2,77%/tahun pada periode 2005-2010. Ada indikasi bahwa terdapat hubungan substitusi antara daging sapi dan kerbau dengan daging kuda.

Pada saat pemotongan sapi dan kerbau menurun selama peride 2000-2005, pemotongan kuda meningkat, sehingga dapat menggantikan sebagian konsumsi daging sapi dan kerbau. Demikian juga pada saat pemotongan sapi dan kerbau meningkat selama periode 2005-2010, pemotongan kuda menurun.

Tabel 3.1.9. Laju Pertumbuhan Jumlah Pemotongan Ternak Besar dan Ternak Kecil Tercatat, 2000-2010.

Jenis Ternak Laju (%/tahun) Pemotongan 2010

2000-2005

2005-2010 Jumlah

(ekor) Pangsa (%) Ternak Besar:

Sapi*) -0,53 4,85 2.141.408 20,39 Kerbau -5,60 3,95 232.404 2,21

Kuda 8,73 -2,77 10.505 0,10

Ternak Kecil:

Kambing -0,80 4,29 3.199.840 30,47 Domba -11,02 1,67 1.500.076 14,28 Babi -1,34 12,68 3.418.473 32,55

Total -3,24 6,35 10.502.706 100 Sumber: Ditjen Peternakan, diolah.

Keterangan: Data series 2000-2010 diperlihatkan pada Lampiran 3.1.24.

*) Terdiri dari sapi potong, dan sapi perah afkir.

Seperti halnya pemotongan sapi dan kerbau, pemotongan kambing, domba, dan babi juga menurun pada periode 2000-2005 dan meningkat pada periode 2005-2010. Selama periode 2000-2005, pemotongan kambing menurun rata-rata 0,80%/tahun tetapi kemudian meningkat menjadi 4,29%/tahun selama periode 20052010. Percepatan pertumbuhan pemotongan terjadi pada domba yaitu dari -11,02%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi 1,67%/tahun pada periode 2005-2010. Percepatan laju pertumbuhan pemotongan sangat cepat terjadi pada babi yaitu dari -1,34%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi 12,68%/tahun pada periode 2005-2010. Jumlah kambing, domba dan babi yang dipotong pada tahun 2010 masing-masing adalah 3,20 juta ekor, 1,50 juta ekor, dan 3,42 juta ekor.

Produksi Daging, Telur dan Susu

Total produksi daging pada tahun 2010 adalah sebesar 2,35 juta ton (Tabel 3.1.10). Dari total produksi daging tersebut, sebanyak 64,11% di antaranya dari daging ayam dan 1,19% dari daging itik. Pangsa daging ternak besar (sapi, kerbau, dan kuda) adalah sebesar 20,20%, sedangkan pangsa daging ternak kecil adalah sebesar 14,49%.

Tabel 3.1.10. Laju Pertumbuhan Produksi Peternakan, 2000-2010.

Jenis Produk Pertumbuhan (%/th) Produksi 2010 2000-2005 2005-2010 Jumlah

(ton) Pangsa (%)

Daging: 5,65 4,32 2.347.100 100 1. Ternak Unggas: 7,26 5,15 1.532.700 65,30

a. Ayam 7,30 5,19 1.504.800 64,11 Ayam Buras 2,57 -5,08 259.800 11,07 Ayam Ras

Pedaging 9,88 8,31 1.184.300 50,46 Ayam Ras Petelur 4,38 3,77 60.700 2,59

b. Itik 5,83 3,24 27.900 1,19 2. Ternak Kecil: 3,94 2,81 340.200 14,49

Kambing 3,35 7,29 77.500 3,30

Domba 8,76 -0,16 59.100 2,52

Babi 2,84 2,24 203.600 8,67

3. Ternak Besar: 2,79 2,91 474.200 20,20

Sapi 3,48 3,46 435.200 18,54

Kerbau -3,46 -2,57 37.200 1,58

Kuda 11,89 -0,52 1.800 0,08

Telur: 6,55 4,45 1.378.700 100 Ayam Ras Petelur 7,31 5,85 959.300 69,58

Ayam Buras 4,48 -3,11 167.700 12,16

Itik 5,65 5,27 251.700 18,26

Susu Sapi 2,61 11,28 927.800 100

Sumber: Ditjen Peternakan, diolah.

Keterangan: Dara series 2000-2010 ditunjukkan pada Lampiran 3.1.25.

Selama periode 2000-2010, produksi daging ayam meningkat dengan laju pertumbuhan yang melambat, yaitu dari rata-rata 7,30%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi 5,19%/tahun pada periode 2000-2005-2010. Produksi daging ayam yang sangat signifikan penurunannya adalah daging ayam buras, sesuai dengan pertumbuhan populasinya yang negatif. Penurunan laju pertumbuhan produksi ayam

diduga disebabkan oleh substitusi oleh produksi daging itik yang mengalami laju pertumbuhan populasi sangat signifikan sebagaimana telah disebutkan di muka.

Angka penurunan produksi daging ayam buras (5,08%/tahun) yang lebih cepat daripada laju penurunan populasinya (2,57%/tahun) mencerminkan bobot badan ayam buras makin kecil selama periode 2005-2010. Hal ini dapat disebabkan oleh makin buruknya kondisi pemberian pakan oleh peternak ayam buras.

Selain produksi daging ayam, produksi daging ternak kecil juga meningkat dengan pertumbuhan yang melambat, yaitu dari rata-rata 3,94%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi rata-rata 2,81%/tahun selama periode 2005-2010.

Pelambatan pertumbuhan produksi tertinggi terjadi pada produksi daging domba dari rata-rata 8,75%/tahun selama 2000-2005 menjadi rata-rata -0,16%/tahun selama periode 2005-2010. Yang sangat ironis adalah penurunan pertumbuhan produksi daging domba terjadi pada kondisi pertumbuhan populasi yang meningkat dari rata-rata 2,44%/tahun selama 2000-2005 menjadi rata-rata 4,98%/tahun. Hal ini juga mencerminkan makin kecilnya bobot badan hidup ternak domba yang dapat disebabkan oleh makin buruknya kinerja pemberian pakan domba selama periode 2005-2010 dibandingkan periode lima tahun sebelumnya. Untuk daging babi, pertumbuhan produksinya relatif stabil dari rata-rata 2,84%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi rata-rata 2,24%/tahun selama periode 2005-2010.

Berbeda dengan pertumbuhan produksi daging ayam dan ternak kecil, pertumbuhan produksi daging dari ternak besar mengalami percepatan dari rata-rata 2,79%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi rata-rata 2,91%/tahun selama periode 2005-2010. Pertumbuhan produksi daging sapi relatif stabil dari rata-rata 3,48%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi rata-rata 3,46%/tahun selama periode 2005-2010. Pertumbuhan produksi daging kerbau negatif selama decade terakhir, yaitu dari rata-rata -3,46%/tahun pada peiode 2000-2005 menjadi rata-rata -2,57%/tahun pada periode 2005-2010. Produksi daging yang pertumbuhannya melambat sangat cepat adalah daging kuda dari rata-rata 11,89%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi -0,52%/tahun selama periode 2005-2010. Namun karena pangsa daging kerbau dan daging kuda sangat kecil, maka pengaruh penurunan produksinya tertutup oleh dominasi percepatan pertumbuhan positif produksi daging sapi.

Sementara itu, produksi telur meningkat dengan laju pertumbuhan yang menurun, yaitu dari rata-rata 7,21%/tahun pada tahun 2000-2005 menjadi 5,47%/tahun pada tahun 2005-2010. Sebaliknya, produksi susu sapi perah meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata 2,60%/tahun selama periode 2000-2005 dan meningkat lebih cepat menjadi 11,63%/tahun selama periode 2000-2005-2010.

Pada tahun 2010, produksi telur hampir mencapai 1,4 juta ton (telur ayam buras, ayam ras petelur dan itik) sedangkan produksi susu (segar) mencapai hampir 928 ribu ton. Ayam ras petelur merupakan sumber utama produksi telur yaitu 69,58%

dari total produksi telur pada tahun 2010. Laju pertumbuhan produksi yang lebih tinggi dari laju pertumbuhan populasi pada ayam ras petelur dan sapi perah menunjukkan adanya peningkatan produktivitas pada kedua jenis ternak tersebut.

3.2. Perkembangan Perdagangan