• Tidak ada hasil yang ditemukan

OUTLOOK. Oleh: Reny Kustiari Sri Nuryanti PERTANIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "OUTLOOK. Oleh: Reny Kustiari Sri Nuryanti PERTANIAN"

Copied!
170
0
0

Teks penuh

(1)

 

OUT TLOOK

PUSA K

B PEN

K

K SEK 2014

Pra Sri H Muc Dew R S

AT SOSIA KEBIJAKA

BADAN PE NGEMBAN KEMENTER

KTOR 4 – 2

Oleh:

ajogo U. H Hery Susilo hjidin Rach a K.S. Swa Reny Kustia Sri Nuryant

AL EKON AN PERTA

ENELITIA NGAN PER RIAN PERT

2012

R PER 2025

Hadi owati

hmat astika ari

ti

NOMI DA ANIAN

AN DAN

RTANIAN TANIAN

RTAN

N

NIAN

(2)

Kebijakan pembangunan pertanian lingkup Kementerian Pertanian mencakup empat subsektor yaitu Subsektor Tanaman Pangan, Subsektor Hortikultura, Subsektor Perkebunan dan Subsektor Peternakan. Di dalam Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2011-2014 disebutkan bahwa target-target utama yang ingin dicapai did alam pembangunan sektor pertanian adalah: (i) Pencapaian swasembada untuk gula, kedelai dan daging sapi dan swasembada berkelanjutan untuk padi dan jagung; (ii) Peningkatan diversifikasi pangan; (iii) Peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor; dan (iv) Peningkatan kesejahteraan petani. Di tingkat makro, sasaran yang ingin dicapai mencakup antara lain peningkatan PDB, neraca perdagangan dan investasi pertanian.

Keberhasilan pencapaian target-target tersebut diatas dipengaruhi banyak factor. Salah satu cara untuk melihat potensi pencapaian target-target tersebut adalah melakukan analisis outlook. Laporan ini berisi hasil-hasil analisis tentang: (i) Kinerja sektor pertanian 2000-2010; (ii) Outlook sektor pertanian jangka menengah (tahun 2014); dan (iii) Outlook sektor pertanian jangka panjang (2025).

Analisis tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Karena itum kritik dan saran konstruktif untuk perbaikan akan diterima dengan tangan terbuka.

Bogor, November 2012

Kepala Pusat,

Dr Handewi Purwati Saliem

(3)

Hal.

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

I PENDAHULUAN 1

II PENDEKATAN 2

1.1. Analisis Kinerja 2

1.2. Analisis Outlook 3

III KINERJA SEKTOR PERTANIAN 2000-2010 5

3.1. Perkembangan Produksi 5

3.1.1. Tanaman Pangan 5

3.1.2. Tanaman Hortikultura 8

3.1.3. Tanaman Perkebunan 14

3.1.4. Komoditas Peternakan 20

3.2. Perkembangan Perdagangan 26

3.2.1. Komoditas Pangan 26

3.2.2. Komoditas Hortikultura 28

3.2.3. Komoditas Perkebunan 32

3.2.4. Komoditas Peternakan 34

3.3. Perkembangan Produk Domestik Bruto 36 3.4. Perkembangan Investasi Pertanian 39

IV OUTLOOK JANGKA MENENGAH - 2014 43

4.1. Produksi Pertanian 43

4.1.1. Tanaman Pangan 43

4.1.2. Tanaman Hortikultura 48

4.1.3. Tanaman Perkebunan 53

4.1.4. Komoditas Peternakan 56

4.2. Perdagangan Internasional 57

4.2.1. Komoditas Tanaman Pangan 57

4.2.2. Komoditas Hortikultura 58

4.2.3. Komoditas Perkebunan 61

4.2.4. Komoditas Peternakan 62

4.3. Produk Domestik Bruto 64

4.4. Investasi Pertanian 65

V OUTLOOK JANGKA PANJANG - 2025 67

5.1. Produksi 67

5.1.1. Tanaman Pangan 67

5.1.2. Tanaman Hortikultura 69

5.1.3. Tanaman Perkebunan 75

5.1.4. Komoditas Peternakan 77

5.2. Perdagangan Internasional 78

5.2.1. Komoditas Pangan 78

5.2.2. Komoditas Hortikultura 80

5.2.3. Komoditas Perkebunan 82

(4)

5.4. Investasi Pertanian 86

VI KESIMPULAN DAN SARAN 88

6.1. Kinerja 2000-2010 88

6.1.1. Produksi dan Perdagangan 88

6.1.2. PDB dan Investasi 89

6.2. Outlook Jangka Menengah - 2014 89 6.2.1. Produksi dan Perdagangan 89

6.2.2. PDB dan Investasi 91

6.3. Outlook Jangka Panjang - 2025 91

6.3.1. Produksi dan Perdagangan 91

6.3.2. PDB dan Investasi 92

6.4. Saran Kebijakan 93

DAFTAR PUSTAKA 94

LAMPIRAN-LAMPIRAN 95

(5)

Nomor Judul Hal

.

3.1.1 Laju Pertumbuhan Luas Areal Panen, Produktivitas, dan Produksi Tanaman Pangan Utama, 2000-2010. 5 3.1.2 Laju Pertumbuhan Luas Areal Panen, Produktivitas dan

Produksi Tanaman Hortikultura Menurut Kelompok Komoditas, 2000-2010.

9

3.1.3 Laju Pertumbuhan Luas Areal Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman Buah-buahan dan Sayuran Utama, 2000- 2010.

11

3.1.4 Laju Pertumbuhan Luas Areal Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman Obat dan Tanaman Hias Utama, 2000- 2010.

12

3.1.5 Laju Pertumbuhan Luas Areal Total dan Produksi Tanaman Perkebunan Utama, 2000-2010.

14

3.1.6 Pangsa Produksi Komoditas Perkebunan Menurut Tipe

Manajemen, 2010 (%). 18

3.1.7 Posisi Indonesia dalam Produksi Komoditas Perkebunan Utama Dunia, 2005 dan 2010.

19 3.1.8 Laju Pertumbuhan Populasi Jenis Ternak Utama, 2000-2010. 20 3.1.9 Laju Pertumbuhan Jumlah Pemotongan Ternak Besar dan

Ternak Kecil Tercatat, 2000-2010.

23

3.1.10 Laju Pertumbuhan Produksi Peternakan, 2000-2010. 24 3.2.1 Laju Pertumbuhan Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca

Perdagangan Komoditas Pangan Utama, 2000-2010. 27 3.2.2 Pertumbuhan Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca

Perdagangan Komoditas Buah-buahan dan Sayuran Utama, 2000-2010.

29

3.2.3 Pertumbuhan Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Tanaman Obat Utama dan Tanaman Hias Utama, 2000-2010.

31

3.2.4 Laju Pertumbuhan Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Perkebunan Utama, 2000-2010. 33 3.2.5 Laju Pertumbuhan Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca

Perdagangan Komoditas Peternakan Utama, 2000-2010. 35 3.3.1 Laju Pertumbuhan PDB Riil Sektor Pertanian Menurut

Subsektor, 2000-2009.

37

3.3.2 Laju Pertumbuhan PDB Riil Hortikultura Menurut Kelompok 39

(6)

3.4.1 Pertumbuhan Jumlah dan Total Nilai Realisasi Investasi PMA dan PMDN di Sektor Pertanian, 2000-2010.

40

3.4.2 Pertumbuhan Nilai Investasi PMA dan PMDN menurut Subsektor di Sektor Pertanian, 2000-2010. 41 4.1.1 Proyeksi Luas Areal Panen, Produktivitas, dan Produksi

Komoditas Pangan Utama, 2014.

44

4.1.2 Proyeksi Luas Areal Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman Hortikultura Menurut Kelompok Komoditas, 2014. 49 4.1.3 Proyeksi Luas Areal Panen, Produktivitas, dan Produksi

Komoditas Buah-buahan dan Sayuran Utama, 2014. 51 4.1.4 Proyeksi Luas Areal Panen, Produktivitas, dan Produksi

Tanaman Obat dan Tanaman Hias Utama, 2014.

52

4.1.5 Proyeksi Luas Areal dan Produksi Komoditas Perkebunan

Utama, 2014. 54

4.1.6 Proyeksi Produksi Daging, Telur dan Susu, 2014. 56 4.2.1 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan

Komoditas Pangan Utama, 2014. 58

4.2.2 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Buah-buahan dan Sayuran Utama, 2014.

59

4.2.3 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Tanaman Obat dan Tanaman Hias Utama, 2014. 61 4.2.4 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan

Komoditas Perkebunan Utama, 2014. 62

4.2.5 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Peternakan, 2014.

63

4.3.1 Proyeksi PDB Riil Sektor Pertanian, 2014. 65 4.41 Proyeksi Nilai PMA dan PMDN di Sektor Pertanian, 2014. 66 5.1.1 Proyeksi Luas Areal Panen, Produktivitas, dan Produksi

Tanaman Pangan Utama, 2025.

68

5.1.2 Proyeksi Luas Panen, Poduktivitas dan Produksi Tanaman Hortikultura Menurut Kelompok Komoditas, 2025. 71 5.1.3 Proyeksi Luas Areal Panen, Produktivitas dan Produksi

Tanaman Buah-buahan dan Sayuran Utama, 2025.

72

5.1.4 Proyeksi Luas Areal Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman Obat dan Tanaman Hias Utama, 2025. 74 5.1.5 Proyeksi Luas Areal dan Produksi Tanaman Perkebunan

Utama, 2025. 75

5.1.6 Proyeksi Produksi Peternakan, 2025. 78

(7)

5.2.2 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Buah-buahan dan Sayuran Utama, 2025. 81 5.2.3 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan

Komoditas Tanaman Obat dan Tanaman Hias Utama, 2025.

82

5.2.4 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan

Komoditas Perkebunan Utama, 2025. 83

5.2.5 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan

Komoditas Peternakan, 2025. 84

5.3.1 Proyeksi PDB Riil Sektor Pertanian, 2025. 86 5.4.1 Proyeksi PMA dan PMDN Sektor Pertanian, 2025 87

(8)

Nomor Judul Hal.

3.1.1 Perkembangan Luas Panen Komoditas Tanaman Pangan Utama, 2000-2010 (ha).

95

3.1.2 Perkembangan Produktivitas Komoditas Tanaman Pangan

Utama, 2000-2010 (t/ha). 95

3.1.3 Perkembangan Produksi Komoditas Tanaman Pangan Utama,

2000-2010 (t). 96

3.1.4 Perkembangan Luas Areal Komoditas Hortikultura menurut Kelompok Komoditas, 2000-2010 (ha)

96

3.1.5 Perkembangan Produktivitas Komoditas Hortikultura menurut Kelompok Komoditas, 2000-2010 (t/ha) 97 3.1.6 Perkembangan Produksi Komoditas Hortikultura menurut

Kelompok Komoditas, 2000-2010 (ton).

97 3.1.7 Perkembangan Luas Areal Tanaman Buah-buahan Utama,

2000-2010 (ha)

98

3.1.8 Perkembangan Produktivitas Tanaman Buah-buahan Utama,

2000-2010 (t/ha) 98

3.1.9 Perkembangan Produksi Tanaman Buah-buahan Utama, 2000- 2010 (t)

99

3.1.10 Perkembangan Luas Panen Tanaman Sayuran Utama, 2000-

2010 (ha) 99

3.1.11 Perkembangan Produktivitas Tanaman Sayuran Utama, 2000-

2010 (t/ha). 100

3.1.12 Perkembangan Produksi Tanaman Sayuran Utama, 2000-2010 (t)

100

3.1.13 Lampiran 3.1.13. Perkembangan Luas Panen Tanaman Obat

Utama, 2000-2010 (ha) 101

3.1.14 Perkembangan Produktivitas Tanaman Obat Utama, 2000-

2010 (t/ha) 101

3.1.15 Perkembangan Produksi Tanaman Obat Utama, 2000-2010 (t) 102 3.1.16 Perkembangan Luas Panen Tanaman Hias Utama, 2000-2010

(ha)

102

3.1.17 Perkembangan Produktivitas Tanaman Hias Utama, 2000-

2010 103

3.1.18 Perkembangan Produksi Tanaman Hias Utama, 2000-2010 103 3.1.19 Perkembangan Luas Areal Total Tanaman Perkebunan Utama,

2000-2010 (ha).104 104

(9)

3.1.21 Perkembangan Produktivitas Komoditas Perkebunan Utama,

2000-2010 (t/ha) 105

3.1.22 Perkembangan Produksi Komoditas Perkebunan Utama, 2000- 2010 (t)

105

3.1.23 Perkembangan Populasi Ternak, 2000-2010 (000 ekor). 106 3.1.24 Perkembangan Jumlah Pemotongan Ternak Tercatat, 2000-

2010 (ekor). 106

3.1.25 Perkembangan Produksi Komoditas Peternakan, 2000-2010

(t). 107

3.2.1 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Pangan Utama, 2000- 2010 (US$’000).

108

3.2.2 Perkembangan Nilai Impor Komoditas Pangan Utama, 2000-

2010 (US$’000). 108

3.2.3 Perkembangan Neraca Perdagangan Komoditas Pangan

Utama, 2000-2010 (US$’000). 109

3.2.4 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Buah Utama, 2000- 2010 (US$’000).

109

3.2.5 Perkembangan Nilai Impor Komoditas Buah Utama, 2000-

2010 (US$’000). 110

3.2.6 Perkembangan Neraca Perdagangan Komoditas Buah Utama,

2000-2010 (US$’000) 110

3.2.7 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Sayuran Utama, 2000- 2010 (US$’000).

111

3.2.8 Perkembangan Nilai Impor Komoditas Sayuran Utama, 2000-

2010 (US$’000). 111

3.2.9 Perkembangan Neraca Perdagangan Komoditas Sayuran

Utama, 2000-2010 (US$’000). 112

3.2.10 Perkembangan Nilai Ekspor Tanaman Obat Utama, 2000-2010 (US$’000).

112

3.2.11 Perkembangan Nilai Impor Komoditas Obat Utama, 2000-

2010 (US$’000). 113

3.2.12 Perkembangan Neraca Perdagangan Tanaman Obat Utama, 2000-2010 (US$’000).

113 3.2.13 Perkembangan Nilai Ekspor Tanaman Hias Utama, 2000-2010

(US$’000).

114

3.2.14 Perkembangan Nilai Impor Tanaman Hias Utama, 2000-2010

(US$’000). 114

(10)

3.2.16 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Perkebunan Utama,

2000-2010 (US$’000) 116

3.2.17 Perkembangan Nilai Impor Komoditas Perkebunan Utama, 2000-2010 (US$’000)

116

3.2.18 Perkembangan Neraca Perdagangan Komoditas Perkebunan

Utama, 2000-2010 (US$’000) 117

3.2.19 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Ternak, 2000-2010

(US$’000) 117

3.2.20 Perkembangan Nilai Impor Komoditas Ternak, 2000-2010 (US$’000)

118

3.2.21 Perkembangan Neraca Perdagangan Komoditas Ternak, 2000-

2010 (US$’000) 118

3.2.22 Perkembangan PDB Riil Sektor Pertanian Menurut Subsektor, 2000-2010 (Rp’milyar, harga konstan 2000).

119 3.3.2 Perkembangan PDB Riil Hortikultura Menurut Kelompok

Komoditas, 2000-2010 (Rp’ milyar).

119

3.4.1 Perkembangan Jumlah dan Total Nilai Investasi PMA dan PMDN di Sektor Pertanian, 2000-2010. 120 3.4.2 Perkembangan Nilai Investasi PMA dan PMDN menurut

Subsektor di Sektor Pertanian, 2000-2010

121 4.1.1 Proyeksi Luas Areal Panen, Produkivitas dan Produksi

Tanaman Pangan Utama, 2011-2014.

122

4.1.2 Proyeksi Luas Areal Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman Hortikultura Menurut Kelompok Komoditas, 2011- 2014.

123

4.1.3 Proyeksi Luas Areal, Produktivitas dan Produksi Tanaman

Buah-buahan Utama, 2011-2014. 124

4.1.4 Proyeksi Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman

Sayuran Utama, 2011-2014. 125

4.1.5 Proyeksi Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman Obat, 2011-2014.

126

4.1.6 Proyeksi Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman

Hias Utama, 2011-2014. 127

4.1.7 Proyeksi Luas Areal Total dan Produksi Tanaman Perkebunan

Utama, 2011-2014. 128

4.1.8 Proyeksi Produksi Peternakan, 2011-2014 (ton). 128 4.2.1 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan 129

(11)

4.2.2 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Buah-buahan Utama, 2011-2014 (US$’000).

130

4.2.3 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Sayuran Utama, 2011-2014 (US$’000). 131 4.2.4 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan

Komoditas Tanaman Obat Utama, 2011-2014 (US$’000).

132

4.2.5 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Tanaman Hias Utama, 2011-2014 (US$’000). 133 4.2.6 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan

Komoditas Perkebunan Utama, 2011-2014 (US$’000). 134 4.2.7 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan

Komoditas Peternakan, 2011-2014 (US$’000).

135 4.3.1 Proyeksi PDB Riil Sektor Pertanian, 2011-2014 (Rp milyar) 136 4.4.1 Proyeksi Nilai PMA dan PMDN, 2011-2014 136 5.1.1 Proyeksi Luas Areal Komoditas Tanaman Pangan Utama,

2015-2025 (’000 ha). 137

5.1.2 Proyeksi Produktivitas Komoditas Tanaman Pangan Utama, 2015-2025 (ku/ha).

137

5.1.3 Proyeksi Produksi Komoditas Tanaman Pangan Utama, 2015-

2025 (’000 ton). 138

5.1.4 Proyeksi Luas Panen Komoditas Hortikultura Menurut Kelompok Komoditas, 2015-2025 (000 ha). 138 5.1.5 Proyeksi Produktivitas Komoditas Hortikultura Menurut

Kelompok Komoditas, 2015-2025 (t/ha).

139

5.1.6 Proyeksi Produksi Komoditas Hortikultura Menurut Kelompok

Komoditas, 2015-2025 (000 t). 139

5.1.7 Proyeksi Luas Areal Tanaman Buah-buahan Utama, 2015-

2025 (000 ha) 140

5.1.8 Proyeksi Produktivitas Tanaman Buah-buahan Utama, 2015- 2025 (t/ha)

140

5.1.9 Proyeksi Produksi Tanaman Buah-buahan Utama, 2015-2025

(000 t) 141

5.1.10 Proyeksi Luas Panen Tanaman Sayuran Utama, 2015-2025 (000 ha)

141 5.1.11 Proyeksi Produktivitas Tanaman Buah-buahan Utama, 2015-

2025 (t/ha)

142

5.1.12 Proyeksi Produksi Tanaman Sayuran Utama, 2015-2025 (000

t) 142

(12)

5.1.14 Proyeksi Produktivitas Tanaman Obat, 2015-2025 (t/ha) 143 5.1.15 Proyeksi Produksi Tanaman Obat, 2015-2025 (kg) 144 5.1.16 Proyeksi Luas Panen Tanaman Hias Utama, 2015-2025 (ha) 144 5.1.17 Proyeksi Produktivitas Tanaman Hias Utama, 2015-2025. 145 5.1.18 Proyeksi Produksi Tanaman Hias Utama, 2015-2025. 145 5.1.19 Proyeksi Luas Areal Total Tanaman Perkebunan Utama, 2015-

2025 (000 ha).

146 5.1.20 Proyeksi Produksi Tanaman Perkebunan Utama, 2015-2025

(000 t).

146

5.1.21 Proyeksi Produksi Peternakan, 2015-2025 (000 t). 147 5.2.1 Proyeksi Nilai Ekspor Komoditas Tanaman Pangan Utama,

2015-2025 (US$’000). 147

5.2.2 Proyeksi Nilai Impor Komoditas Tanaman Pangan Utama,

2015-2025 (US$’000). 148

5.2.3 Proyeksi Neraca Perdagangan Komoditas Tanaman Pangan Utama, 2015-2025 (US$’000).

148

5.2.4 Proyeksi Nilai Ekspor Komoditas Buah-buahan Utama, 2015-

2025 (US$’000). 149

5.2.5 Proyeksi Nilai Impor Komoditas Buah-buahan Utama, 2015- 2025 (US$’000).

149 5.2.6 Proyeksi Neraca Perdagangan Komoditas Buah-buahan

Utama, 2015-2025 (US$’000).

150

5.2.7 Proyeksi Nilai Ekspor Komoditas Sayuran Utama, 2015-2025

(US$’000). 150

5.2.8 Proyeksi Nilai Impor Komoditas Sayuran Utama, 2015-2025 (US$’000).

151 5.2.9 Proyeksi Neraca Perdagangan Komoditas Sayuran Utama,

2015-2025 (US$’000).

151

5.2.10 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Komoditas Tanaman Obat Utama, 2015-2025 (US$’000). 152 5.2.11 Proyeksi Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan

Komoditas Tanaman Hias Utama, 2015-2025 (US$’000).

152

5.2.12 Proyeksi Nilai Ekspor Komoditas Perkebunan Utama, 2015-

2025 (US$’000). 153

5.2.13 Proyeksi Nilai Impor Komoditas Perkebunan Utama, 2015-

2025 (US$’000). 153

5.2.14 Proyeksi Neraca Perdagangan Komoditas Perkebunan Utama, 154

(13)

5.2.15 Proyeksi Nilai Ekspor Komoditas Peternakan, 2015-2025 (US$’000).

154

5.2.16 Proyeksi Nilai Impor Komoditas Peternakan, 2015-2025

(US$’000). 155

5.2.17 Proyeksi Neraca Perdagangan Komoditas Peternakan, 2015- 2025 (US$’000).

155

5.3.1 Proyeksi PDB Riil Sektor Pertanian, 2015-2025 (Rp’ milyar) 156 5.4.1 Proyeksi PMA Sektor Pertanian, 2015-2025 (US$’ juta) 156 5.4.2 Proyeksi PMDN 2015-2025 (Rp’ milyar). 157

(14)

Kebijakan pembangunan pertanian lingkup Kementerian Pertanian mencakup empat subsektor yaitu Subsektor Tanaman Pangan, Subsektor Hortikultura, Subsektor Perkebunan dan Subsektor Peternakan. Target-target utama yang ingin dicapai oleh Kementerian Pertanian adalah: (1) Pencapaian swasembada untuk gula, kedelai dan daging sapi dan swasembada berkelanjutan untuk padi dan jagung; (2) Peningkatan diversifikasi pangan; (3) Peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor; dan (4) Peningkatan kesejahteraan petani. Di tingkat makro, sasaran yang ingin dicapai mencakup peningkatan PDB, neraca perdagangan, investasi pertanian, penyerapan tenaga kerja dan nilai tukar petani (Kementan, 2010).

Banyak faktor yang menentukan keberhasilan pencapaian target-target tersebut diatas. Salah satu cara untuk melihat potensi pencapaian target-target tersebut adalah melakukan analisis outlook. Sehubungan dengan itu, maka tujuan kegiatan penyusunan outlook ini adalah: (1) Melakukan analisis kinerja sektor pertanian periode 2000-2010; (2) Melakukan analisis prospek sektor pertanian jangka menengah periode 2010-2014 dan jangka panjang periode 2015-2025; dan (3) Menyusun buku “Outlook Sektor Pertanian 2014 & 2025”.

Analisis ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu: (1) Analisis produksi; dan (2) Analisis makro. Analisis produksi mencakup luas areal, produksi, dan produktivitas untuk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan, sedangkan untuk peternakan mencakup populasi, jumlah pemotongan, dan produksi. Sementara analisis makro mencakup PDB (Produk Domestik Bruto), perdagangan luar negeri (ekspor dan impor), dan investasi di sektor pertanian.

Dengan adanya hasil analisis ini akan dapat diketahui kinerja perkembangan sector pertanian pada aspek produksi dan indikator makro selama periode 2000- 2010 dan proyeksi untuk jangka menengah 2011-2014 dan jangka panjang 2015- 2025. Proyeksi didasarkan pada beberapa faktor, yaitu: (1) Kekuatan pertumbuhan selama 10 tahun terakhir (2000-2010); dan (2) Perkiraan perubahan faktor-faktor eksternal seperti iklim, ketersediaan lahan untuk pertanian, dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan masing-masing komoditas pertanian.

(15)

2.1. Analisis Kinerja

Analisis kinerja digunakan untuk menghitung laju pertumbuhan rata-rata per tahun (dalam %) di dalam periode 2000-2010. Di dalam analisis ini, segmen waktu dibedakan menjadi dua yaitu 2000-2005 dan 2005-2010. Tujuan pembagian segmen waktu demikian adalah untuk melihat perubahan dalam laju pertumbuhan (trend), yaitu apakah meningkat (yang berarti ada akselerasi pertumbuhan), atau menurun (yang berarti terjadi perlambatan pertumbuhan), atau relatif konstan (yang berarti stabil), atau dari positif menjadi negatif (yang berarti terjadi kemunduran), atau dari negatif menjadi positif (yang berarti ada kemajuan).

Persamaan untuk menghitung laju pertumbuhan per tahun, baik untuk periode 2000-2005 maupun 2005-2010, menggunakan persamaan regresi semi- logaritma yang sama yaitu sebagai berikut:

T At ln 0 1

ln    ………. (1) dimana:

At = Nilai variabel yang dihitung trendnya pada tahun t

α1 = Trend/tahun (jika dikalikan dengan 100% menjadi trend dalam %)

T = Tahun pengamatan

Metode penghitungan trend dengan persamaan semi-logaritma dipandang lebih baik jika dibandingkan dengan metode lainnya, misalnya persamaan regresi kuadratik, persamaan geometrik dan rata-rata tahunan. Metode semi-logaritma mengikuti kaidah statistik yang memperhitungkan variasi nilai variabel masing- masing tahun di dalam periode analisis, dan dapat diketahui juga kekuatan prediksi (predictive power) yang dapat dilihat dari nilai adjusted R2, serta nilai t-ratio yang menunjukkan seberapa signifikan nilai trend yang dihasilkan. Sementara persamaan kuadratik sulit diterapkan untuk jangka pendek (5 tahunan) karena bentuk grafik variabel yang dianalisis tidak ada yang berbentuk U atau U terbalik. Persamaan geometrik hanya memperhitungkan nilai pada tahun awal dan tahun akhir saja tanpa memperhitungkan variasi nilai di antara dua titik waktu tersebut sehingga hasilnya akan sangat bias ke bawah atau keatas. Metoda rata-rata pertumbuhan antar tahun tidak mempunyai landasan ilmiah.

(16)

Outlook terdiri dari outlook jangka pendek (2011-2014) dan outlook jangka panjang (2015-2025). Hasil analisis trend 2000-2010 (kinerja) tidak bisa digunakan secara langsung untuk membuat proyeksi, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang karena dua alasan penting. Pertama, pola perkembangan selama periode 2000-2010 mungkin bervariasi, sehingga perlu dilihat scatter diagram selama periode tersebut. Berdasarkan scatter diagram tersebut, kemudian dipilih segmen waktu terakhir yang menunjukkan perkembangan yang lebih smooth. Dengan data segmen waktu terakhir ini kemudian dihitung trendnya untuk digunakan sebagai basis proyeksi jangka pendek (2011-2014). Kedua, adanya faktor pembatas ekspansi produksi, utamanya ketersediaan lahan pertanian yang makin terbatas. Karena itu, dalam membuat proyeksi, perlu dibuat skenario penurunan trend setiap tahun, tergantung pada jenis komoditasnya, dan terlepas dari target-target pertumbuhan yang telah ditetapkan pemerintah termasuk target laju pertumbuhan PDB sektor pertanian. Untuk menghitung trend pada segmen waktu terpilih untuk proyeksi (misalnya 2005-2010), hanya data dalam segmen waktu ini yang digunakan.

Sementara untuk proyeksi 2011-2025 digunakan pendekatan sebagai berikut:

(1) Menggunakan koefisien trend hasil penghitungan trend untuk segmen waktu terakhir terpilih dari periode 2000-2010 (misalnya x%/tahun) sebagai basis trend awal; dan (2) Mengurangi trend tersebut (misalnya sebesar β% untuk trend tahun 2011 sehingga menjadi (x/100)*α% = β%/tahun, dan seterusnya untuk tahun- tahun berikutnya). Persentase penurunan trend tersebut bisa lebih besar dari α%/tahun (dipercepat) atau lebih kecil dari α%/tahun (diperlambat), tergantung pada kondisi yang dihadapi oleh masing-masing komoditas.

Sebagai contoh, untuk komoditas perkebunan tanaman keras, dimana perluasan areal pada umumnya menggunakan areal kawasan hutan, penurunan trend akan lebih cepat pada periode 2015-2025 dibanding periode sebelumnya karena makin banyak kritik dari dunia internasional terhadap pembukaan hutan di Indonesia untuk perkebunan, utamanya kelapa sawit. Sementara trend produksi ke depan bisa saja dipercepat melalui perbaikan teknologi, namun produktivitas suatu komoditas pertanian (tanaman atau ternak) juga ada batas maksimumnya sesuai dengan kapasitas genetiknya. Karena itu, trend produktivitas juga ada batasnya dan

(17)

perlambatan dalam perkembangan produktivitas).

Pendekatan tersebut di atas juga digunakan untuk menghitung proyeksi nilai ekspor dan impor, dan investasi pertanian dengan mempertimbangkan trend dimasa lalu (2000-2010) dan hasil proyeksi produksi masing-masing komoditas di masa datang (2011-2025). Khusus untuk membuat proyeksi PDB menggunakan analisis regresi berganda terlebih dengan menggunakan data tahun 2000-2010, dimana total produksi menjadi variabel penjelas, yaitu sebagai berikut:

Yit it

it

PDB Q

PDB  

0

 

1 1

 

2 ……….………..……… (2)

dimana:

PDBit = PDB riil subsektor i tahun t (Rp) PDBit-1 = PDB riil tahun t-1 (Rp)

QYit = Total produksi subsektor i tahun t (ton) β0, β1, β2 = Konstanta

Proyeksi PDB menggunakan rumus (3) sebagai berikut:

it

it

PDB

it

QY

PDB

*

 

0

 

1

*

1

 

2

*

……….……….. (3) dimana:

PDB*it = Proyeksi PDB subsektor ke-i tahun t (Rp) PDB*it-1 = Proyeksi PDB subsektor ke-i tahun t-1 (Rp) β0, β1, β2 = Konstanta hasil estimasi pada persamaan (2) Q*Yit = Proyeksi total produksi subsektor i tahun t (ton)

Pendekatan analisis proyeksi PDB ini mengambil logika bahwa besarnya PDB masing-masing subsektor dipengaruhi oleh total produksi pertanian masing-masing subsektor yang bersangkutan. Mungkin saja metode tersebut kurang tepat, karena menggunakan jumlah kuantitas produksi sebagai variabel bebas, bukan jumlah nilai produksi. Tetapi karena data harga produsen tidak selalu ada untuk semua komoditas yang dianalisis, maka metode yang telah dijelaskan tersebut di atas tetap digunakan sehingga penghitungan proyeksi PDB ada dasarnya. Dengan menggunakan parameter tiga konstanta (β0, β1, β2) dan proyeksi total produksi tahun t (Q*Yit), maka nilai PDB pada tahun t dapat diproyeksikan.

(18)

III. KINERJA SEKTOR PERTANIAN 2000-2010

3.1. Perkembangan Produksi 3.1.1. Tanaman Pangan

Dalam rangka mencapai ketahanan pangan nasional, berbagai program telah dilakukan oleh pemerintah, di antaranya adalah pencapaian swasembada untuk kedelai dan swasembada berkelanjutan untuk padi dan jagung. Pemerintah juga menetapkan target surplus 10 juta ton beras kumulatif sampai dengan tahun 2014.

Selain program swasembada untuk kedelai dan swasembada berkelanjutan untuk padi dan jagung, pemerintah juga mencanangkan program diversifikasi pangan, baik melalui aksi KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari), menggiatkan penggunaan tepung non-beras, baik untuk kudapan maupun pengganti nasi, serta membangun model pengembangan diversifikasi bahan baku pangan non-beras di kebun percobaan Cimanggu Badan Litbang Pertanian. Berbagai program tersebut dilakukan dengan sasaran utama dicapainya peningkatan produksi tanaman pangan.

Perkembangan luas panen, produktivitas dan produksi komoditas pangan utama (padi, jagung, dan kedelai) dan komoditas pangan lainnya (kacang hijau, kacang tanah, ubi jalar dan ubi kayu) disajikan pada Tabel 3.1.1.

Tabel 3.1.1. Laju Pertumbuhan Luas Areal Panen, Produktivitas, dan Produksi Tanaman Pangan Utama, 2000-2010.

Komoditas

Luas Areal Panen Produktivitas Produksi Laju (%/th) Luas

2010 (000’ ha)

Laju (%/th) Provitas 2010 (t/ha)

Laju (%/th) Produksi 2010 (000’ t) 2000-

2005 2005-

2010 2000-

2005 2005-

2010 2000-

2005 2005- 2010

Padi 0,06 2,27 13.118 1,17 2,14 5,01 1,24 4,41 65.981 Jagung 0,91 4,02 4.134 3,52 6,40 4,43 4,43 10,41 17.845 Kedelai -5,70 3,72 672 1,26 0,94 1,37 -4,44 4,66 975 Kc Hijau -1,02 -3,87 258 3,17 1,43 1,26 2,15 -2,44 292 Kc Tanah 1,76 -3,34 621 1,74 1,47 1,13 3,50 -1,88 779 Ubi Jalar -0,79 0,53 181 2,37 1,00 11,33 1,58 1,53 2.051 Ubi Kayu -1,29 -0,72 1.183 5,28 6,15 20,22 3,99 5,42 23.918 Sumber: Ditjen Tanaman Pangan, diolah

Keterangan: Data series 2000-2010 diperlihatkan pada Lampiran 3.1.1 s/d Lampiran 3.1.3.

(19)

Luas panen komoditas pangan utama (padi, jagung dan kedelai) dan komoditas pangan lainnya (kacang hijau, kacang tanah, ubi jalar dan ubi kayu) secara umum menunjukkan peningkatan untuk padi, jagung, dan kacang hijau, sementara untuk kedelai, kacang tanah, ubijalar dan ubikayu cenderung menurun.

Selama periode 2000-2010, perkembangan luas panen padi diawali dengan laju peningkatan yang sangat lambat pada periode 2000-2005, yaitu hanya 0,36%/tahun. Namun dengan telah dicanangkannya program swasembada dan swasembada berkelanjutan, maka luas panen padi pada periode 2005-2010 meningkat cukup cepat menjadi 2,27%/tahun pada periode tersebut. Pola yang sama berlaku untuk komoditas jagung namun dengan laju pertumbuhan lebih tinggi.

Peningkatan luas panen padi didukung oleh adanya program-program pemerintah, utamanya SLPTT (Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu).

Sementara itu, peningkatan luas areal jagung lebih karena introduksi varietas hibrida dengan produktivitas tinggi dan meningkatnya harga jagung di pasar dengan berkembangnya industri pakan ternak yang meningkatkan permintaan akan jagung sebagai bahan baku. Sebaliknya untuk kedelai, luas panennya selama periode 2000- 2005 menurun, yang diduga karena desakan kedelai lokal oleh kedelai impor dimana petani tidak mampu bersaing. Namun seperti halnya pada padi dan jagung, pada periode 2005-2010 perkembangan luas panen kedelai mengalami percepatan yaitu meningkat dengan laju 3,72%/tahun.

Untuk komoditas pangan selain padi, kedelai dan jagung, luas panennya pada periode 2005-2010 cenderung menurun untuk kacang hijau, kacang tanah dan ubi kayu, tetapi meningkat untuk ubikayu. Apabila tidak ada penambahan luas areal pangan secara keseluruhan, maka program-program percepatan pertumbuhan produksi komoditas pangan utama, yaitu padi, jagung dan kedelai, untuk mensukseskan program swasembada dan swasembada berkelanjutan, akan dapat menurunkan luas panen komoditas-komoditas pangan lainnya.

Produktivitas komoditas pangan meningkat secara konsisten. Selama periode 2000-2005 produktivitas padi meningkat 1,17%/tahun, dan pada periode berikutnya (2005-2010) meningkat lebih cepat yaitu 2,14%/tahun. Demikian pula untuk jagung, selama dua periode tersebut mengalami percepatan peningkatan produktivitas yang cukup signifikan, yaitu dari 3,52%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi

(20)

6,40%/tahun pada periode 2005-2010. Sebaliknya untuk kedelai, laju pertumbuhan produktivitasnya pada periode 2005-2010 hanya 0,94%/tahun, yang lebih lambat dibandingkan dengan periode sebelumnya (1,26%/tahun).

Komoditas pangan selain padi secara konsisten juga mengalami pertumbuhan produktivitas positif. Di antara komoditas pangan tersebut, jagung dan ubikayu mengalami peningkatan produktivitas tertinggi. Peningkatan produktivitas jagung yang tinggi disebabkan oleh introduksi varietas unggul hibrida seperti Pioneer, BC6 dan varietas-varietas lain yang mempunyai produktivitas lebih tinggi dibandingkan varietas non-hibrida. Peningkatan produktivitas ubikayu juga konsisten tinggi selama 2000-2010 yang disebabkan oleh telah diintroduksinya varietas Kasetsart berproduktvitas tinggi yang berasal dari Thailand.

Namun peningkatan produktivitas padi secara substansial sulit diharapkan akan terjadi di masa dating sepanjang tidak ada terobosan teknologi secara signifikan. Hasil analisis Susilowati et al (2010) menunjukkan bahwa dengan teknologi yang ada saat ini, tingkat efisiensi teknis usahatani padi sudah mendekati frontier yaitu lebih dari 0,9 yang berarti bahwa peningkatan produksi padi hanya dapat dicapai melalui peningkatan luas areal panen.

Produksi tiga komoditas pangan utama, yaitu padi, jagung dan kedelai, selama dua kurun waktu yang dianalisis, mengalami peningkatan yang cukup substansial. Dari periode waktu 2000-2005 ke periode 2005-2010, laju pertumbuhan produksi padi mengalami percepatan dari 1,24%/tahun menjadi 4,41%/tahun, untuk jagung dari 4,43%/tahun menjadi 10,41%/tahun dan untuk kedelai yang pada periode sebelumnya mengalami pertumbuhan negatif (-4,44%/tahun) pada periode berikutnya meningkat menjadi 4,66%/tahun. Percepatan laju pertumbuhan dalam periode 2005-2010 tersebut, seperti telah diuraikan sebelumnya, tidak terlepas dari adanya program swasembada berkelanjutan padi dan jagung yang didukung oleh penggunaan benih unggul bermutu dan dukungan subsidi harga pupuk serta program pemberantasan OPT. Untuk komoditas pangan lainnya, percepatan laju pertumbuhan produksi yang cukup tinggi pada kurun waktu 2005-2010 hanya terjadi pada ubikayu, yaitu dari 3,99%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi 5,42%/tahun pada periode 2005-2010, sementara komoditas-komoditas lainnya cenderung mempunyai laju pertumbuhan yang melambat.

(21)

3.1.2. Tanaman Hortikultura

Tanaman hortikultura meliputi buah-buahan, sayuran, tanaman hias (florikultura), dan tanaman obat (biofarmaka). Berdasarkan Kepmentan Nomor 511/Kpts/PD.9/2006, komoditas hortikultura yang perlu ditangani adalah sebanyak 323 jenis, yang terdiri dari buah-buahan 60 jenis, sayuran 80 jenis, tanaman hias 117 jenis, dan tanaman obat 66 jenis. Secara umum, komoditas hortikultura bercirikan: jenisnya sangat banyak tetapi masing-masing jenis dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, mudah rusak dan life time-nya pendek, pada umumnya dibutuhkan dalam bentuk segar, dan tergantung pada selera konsumen yang cenderung cepat berubah.

Komoditas hortikultura, khususnya buah-buahan dan sayuran, merupakan komoditas strategis karena perannya yang penting dalam pencapaian Pola Pangan Harapan (PPH) untuk memenuhi ‘gizi bermutu dan berimbang’. Komoditas hortikultura selain menjadi sumber karbohidrat, protein, dan lemak nabati, juga menjadi sumber yang sangat penting untuk vitamin, mineral, serat, antioksidan, senyawa yang berkhasiat obat, dan senyawa-senyawa berguna lainnya. Oleh karena itu, produk hortikultura perlu selalu tersedia setiap saat dalam jumlah yang cukup, mutu yang baik, aman dikonsumsi, harga terjangkau, serta mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat sebagai konsumen merupakan pasar sangat potensial, yang dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan tingkat konsumsi hortikultura.

Komoditas hortikultura juga mempunyai nilai ekonomis tinggi, sehingga usaha komoditas ini dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat petani dan pelaku usaha lainnya, baik yang berskala mikro, kecil, menengah maupun besar. Usaha hortikultura mempunyai keunggulan karena mempunyai nilai ekonomi tinggi, jenisnya sangat beragam, ketersedian sumber daya (alam, buatan dan manusia) yang cukup banyak dan teknologi pendukung, serta potensi pasar di dalam dan luar negeri yang terus meningkat.

Produk hortikultura buah-buahan dan sayuran merupakan bahan pangan sebagai sumber utama vitamin, mineral, serat, antioksidan, dan energi yang sangat baik bagi kesehatan. Di samping dikonsumsi segar, produk buah-buahan, sayuran

(22)

dan tanaman obat juga berperan sebagai bahan dasar produk olahan dalam industri pangan dan industri kesehatan.

Produksi komoditas hortikultura dari tahun ke tahun cenderung meningkat, khususnya buah-buahan, sayuran, tanaman obat dan beberapa jenis tanaman hias.

Peningkatan produksi buah-buahan dan sayuran dilatarbelakangi oleh besarnya permintaan buah-buahan dan sayuran akibat pertambahan penduduk, peningkatan kesadaran masyarakat akan manfaat buah dan sayur bagi kesehatan serta peningkatan kesejahteraan.

Upaya peningkatan produksi hortikultura dilakukan melalui perluasan areal panen dan peningkatan produktivits. Secara garis besar, berdasarkan kelompok komoditas hortikultura, dalam periode 2000-2005, keseluruhan produksi komoditas hortikultura meningkat 8,31%/tahun (Tabel 3.1.2). Peningkatan terbesar terjadi pada kelompok tanaman hias yaitu 14,91%/tahun, menyusul kelompok tanaman obat 12,26%/tahun, diikuti kelompok buah-buahan 11,93%/tahun dan kelompok sayuran 2,52%/tahun. Namun demikian kinerja yang baik tidak dapat dipertahankan pada periode 2005-2010, dimana laju peningkatan produksi pada periode tersebut melambat menjadi hanya 2,90%/tahun. Hal ini terjadi karena penurunan produksi pada semua kelompok komoditas, terutama kelompok tanaman buah-buahan.

Tabel 3.1.2. Laju Pertumbuhan Luas Areal Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman Hortikultura Menurut Kelompok Komoditas, 2000-2010.

Kelompok Komoditas

Luas Panen Produktivitas Produksi

Laju (%/th) Luas 2010 (000’ha)

Laju (%/th) Provitas 2010 (t/ha)

Laju (%/th) Produksi 2010 (000’ t) 2000-

2005 2005-

2010 2000-

2005 2005-

2010 2000-

2005 2005- 2010

Buah-buahan 6,14 -0,01 719,8 9,83 1,14 23,9 11,79 2,92 19.929 Sayuran 2,76 2,65 1.103,9 0,15 0,12 9,6 2,88 2,52 10.454 Tanaman Obat 7,83 -1,89 17,9 3,76 1,60 20,5 12,26 7,57 485 Tanaman Hias -7,81 -1,72 1,9 28,56 12,79 199,9 14,91 8,49 314

Total 4,09 1,50 1.843,4 4,23 1,40 16,9 8,31 2,90 31.181 Sumber: Ditjen Hortikultura, diolah.

Keterangan: Data series 2000-2010 ditunjukkan Lampiran 3.1.4 s/d Lampiran 3.1.6.

Peningkatan produksi yang cukup besar pada periode tahun 2000-2005 terutama karena peningkatan luas panen terutama tanaman obat (7,83%/tahun) dan tanaman buah-buahan (6,14%/th) serta peningkatan produktivitas yang cukup cepat pada tanaman hias (28,56%/th). Dalam periode 2005-2010, pertumbuhan

(23)

produksi yang dicapai dapat terjadi karena peningkatan produktivitas, sementara luas panen pada kelompok tanaman buah-buahan, tanaman obat dan tanaman hias menunjukkan penurunan.

Dengan produksi seperti diatas, konsumsi buah-buahan dan sayuran masing- masing berada pada tingkat 32,59 kg dan 40,66 kg per kapita per tahun. Tingkat konsumsi tersebut masih di bawah rekomendasi Organisasi Pangan Dunia (FAO) yaitu 73 kg/kapita/tahun. Tingkat konsumsi buah-buahan dan sayuran masyarakat Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan di negara-negara lainnya di Asia Tenggara, apalagi dibandingkan dengan negara-negara maju. Permintaan konsumen yang rendah mengakibatkan jumlah produksi tidak mampu didorong hingga melebihi jumlah permintaan. Oleh karena itu, konsumsi komoditas hortikultura perlu dinaikkan. Produk hortikultura umumnya dikonsumsi dalam bentuk segar, namun demikian pengembangan pasar produk olahan meningkat pesat. Sejalan dengan itu permintaan bahan baku produk hortikultura untuk industri terus meningkat.

Gambaran perkembangan produksi komoditas utama tanaman buah-buahan, tanaman sayur, tanaman hias dan tanaman obat dapat diuraikan sebagai berikut.

Buah-buahan dan Sayuran

Komoditas buah-buahan yang mempunyai luas areal terbesar pada tahun 2010 adalah mangga yaitu 131 ribu ha. Dengan produktivitas sekitar 10 ku/ha, maka produksi mangga mencapai 1,3 juta ton. Produksi buah-buahan terbesar adalah pisang yaitu sekitar 5,8 juta ton, sementara produksi terkecil adalah jambu biji, yaitu sekitar 204 ribu ton (Tabel 3.1.3). Produksi buah-buahan tumbuh rata-rata 14,37%/tahun pada periode 2000-2005, namun kemudian melambat cepat menjadi hanya 1,91%/tahun selama periode 2005-2010. Pertumbuhan produksi buah-buahan yang tinggi dipacu oleh pertumbuhan produksi pepaya dan nenas yaitu masing- masing 5,36% dan 5,30% per tahun. Pertumbuhan produksi nenas lebih bersumber dari peningkatan produktivitas, sedangkan pertumbuhan produksi pepaya lebih bersumber dari perluasan areal yang mencapai 7,81%/tahun.

Sementara komoditas sayuran yang mempunyai luas areal terbesar pada tahun 2010 adalah cabai, yang mencapai 237,5 ribu ha. Selain itu, produktivitas cabai juga terbesar dibandingkan dengan sayuran lainnya. Produktivitas cabai pada

(24)

tahun yang sama mencapai 5,61 ton/ha dan produksinya mencapai 1,33 juta ton.

Produksi sayuran terbesar adalah kubis yaitu sekitar 1,38 juta ton, sedangkan produksi terkecil adalah bawang putih, yaitu hanya sekitar 12,3 ribu ton.

Tabel 3.1.3. Laju Pertumbuhan Luas Areal Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman Buah-buahan dan Sayuran Utama, 2000-2010.

Komoditas

Luas Areal Panen Produktivitas Produksi Laju (%/th) Luas

2010 (000’ha)

Laju (%/th) Provitas 2010 (t/ha)

Laju (%/th) Produksi 2010 (000’ t) 2000-

2005 2005-

2010 2000-

2005 2005-

2010 2000-

2005 2005- 2010

Buah:

Alpukat 6,69 5,09 20,5 3,71 -4,07 10,96 10,41 1,02 225,1 Durian 10,25 2,8 46,1 8,89 -2,68 10,65 19,15 0,13 491,2 Jb Biji 3,81 2,19 10,0 9,43 1,19 20,45 13,24 3,38 204,1 Jeruk 15,81 -4,03 57,0 12,38 1,04 35,66 28,18 -2,99 2.032,7 Mangga 31,62 -3,54 131,3 -20,75 5,69 10,00 10,87 2,16 1.313,5 Nenas 7,48 -2,52 12,1 8,18 7,81 114,61 15,66 5,30 1.390,4 Pepaya -3,00 4,45 9,4 9,87 0,91 74,21 6,87 5,36 695,2 Pisang 6,84 2,33 101,8 -1,28 1,62 57,11 5,56 3,95 5.814,6 Rambutan 10,34 2,22 79,3 9,01 -3,31 6,53 19,36 -1,09 517,6 Manggis 12,45 3,97 10,2 6,64 1,66 8,26 17,00 5,41 84,5 Total 9,98 1,00 477,8 4,38 0,91 37,80 14,37 1,91 12.768,9

Sayur:

Bw Merah 0,86 5,09 109,5 -2,75 1,88 9,58 -1,88 6,96 1.048,2 Bw Putih -4,03 -12,00 1,8 -16,05 0,94 6,79 -20,08 -11,05 12,3 Cabai 4,11 4,64 237,5 21,88 0,004 5,61 25,97 4,65 1.332,4 K Panjang 11,48 0,02 85,9 -1,75 0,83 5,68 9,71 0,86 488,3 Kentang -0,71 2,69 66,5 -6,55 -0,51 15,95 -7,26 2,18 1.060,6 Ketimun 3,38 0,56 56,9 15,33 -1,16 9,61 18,69 -0,59 546,9 Kol/Kubis -0,71 3,61 67,4 1,98 -1,97 20,55 1,27 1,65 1.384,7 Terung 5,57 1,87 52,3 -0,20 6,42 9,74 5,36 8,29 509,1 Tomat 3,41 3,05 61,4 0,45 4,50 14,51 3,84 7,54 890,2 Wortel 5,56 1,90 27,2 2,3 -3,60 15,00 7,86 -1,70 408,3 Rata-rata 3,12 0,70 766,4 1,93 0,61 11,49 5,04 1,31 7.680,8 Sumber: Ditjen Hortikultura, diolah.

Keterangan: Data series 2000-2010 diperlihatkan pada Lampiran 3.1.7 s/d Lampiran 3.1.9 untuk buah-buahan, dan Lampiran 3.1.10 s/d Lampiran 3.1.12 untuk sayuran.

Total produksi sayuran tumbuh rata-rata sekitar 5,04%/tahun selama periode 2000-2005, namun kemudian laju pertumbuhannya melambat menjadi hanya 1,31%/tahun selama periode 2005-2010. Pertumbuhan pada periode 2000-2005 yang tinggi dipacu oleh pertumbuhan produksi cabai dan ketimun yaitu masing- masing 25,97% dan 18,69% per tahun. Sementara pertumbuhan pada periode 2005-2010 terutama dipacu oleh pertumbuhan produksi terung dan tomat masing- masing 8,29% dan 7,54% per tahun. Pertumbuhan produksi cabai dan ketimun pada periode 2000-2005 karena adanya peningkatan produktivitas, yaitu masing-

(25)

masing 21,88% dan 15,33% per tahun. Pertumbuhan produksi terung pada periode 2000-2005 karena adanya peningkatan luas areal 5,57%/tahun, sedangkan pertumbuhan tomat dipacu oleh peningkatan produktivitas yang mencapai 4,5%/tahun.

Tanaman Obat dan Tanaman Hias

Untuk tanaman obat, pada tahun 2010, tanaman jahe menunjukkan areal panen terluas, yaitu sekitar 6,1 ribu ha (Tabel 3.1.4). Kemudian berturut-turut diikuti oleh kunyit (4,6 ribu ha), dan lengkuas (2,1 ribu ha). Sementara tanaman obat dengan areal panen terkecil adalah temu kunci, yaitu hanya 274 ha. Sesuai dengan luas areal panen, produksi tanaman jahe adalah yang paling besar, yaitu 107,7 ribu ton. Kemudian diikuti berturut-turut oleh kunyit (107,4 ribu ton), lengkuas (59 ribu ton) dan kencur (29,6 ribu ton).

Tabel 3.1.4. Laju Pertumbuhan Luas Areal Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman Obat dan Tanaman Hias Utama, 2000-2010.

Komoditas

Luas Areal Panen Produktivitas Produksi Laju (%/th) Luas

2010 (ha)

Laju (%/th) Provitas 2010 (ku/ha)

Laju (%/th) Produksi 2010 (ton) 2000-

2005 2005-

2010 2000-

2005 2005-

2010 2000-

2005 2005- 2010

Tanaman Obat:

Jahe 2,13 -2,88 6.054 -2,10 -3,03 17,80 0,19 -5,52 107.730

Kunyit 20,50 -0,62 4.558 4,13 5,17 23,60 24,90 4,02 107.380 Kencur 19,71 -8,53 1.923 6,51 5,62 15,40 26,41 -3,49 29.640 Lengkuas -4,87 7,13 2.062 7,29 2,50 28,60 3,60 9,83 58.960

Temulawak 23,47 -0,55 1.373 8,22 6,36 19,40 29,62 4,96 26.670 Kapulaga 3,89 -4,81 541 21,15 22,38 52,70 22,69 23,36 28.550 Temuireng 9,17 -3,50 376 16,60 5,14 19,00 26,00 1,39 7.140 Lempuyang 10,81 0,80 411 2,33 2,49 20,70 13,29 3,18 8.520 Temukunci 74,90 8,14 274 -27,26 7,25 15,90 61,46 15,74 4.360 Sambiloto 85,76 10,11 167 -9,19 6,24 23,10 97,66 15,52 3.850 Total 17,75 -0,54 4,10 5,99 23,70 23,13 5,94 42.110 Tanaman Hias:

Melati -7,07 -48,56 102 16,42 35,58 21,26 9,10 1,33 21.600 Krisan 0,13 32,40 1.002 39,92 -12,87 18,48 35,82 25,61 185.230 Mawar -21,13 -1,81 384 9,12 6,29 21,42 -7,10 7,38 82.350 Sedap Malam 6,20 -46,21 62 15,94 37,41 95,11 22,47 15,49 59.300

Gladiol -34,46 -23,05 41 39,42 14,62 24,72 23,83 -7,65 10.060 Anggrek 12,75 3,39 139 6,72 8,87 10,10 17,29 12,18 14.050

Palem -4,20 -2,68 48 4,07 9,68 2,28 -0,89 6,77 1.100 Anthurium 2,35 -1,35 25 23,03 22,38 30,40 27,22 25,43 7.660 Heliconia -2,06 9,51 27 18,38 15,41 11,17 18,92 22,28 2.960 Anyelir 7,08 5,43 24 -8,13 23,13 31,29 -4,25 30,36 7.610

Total -3,70 -2,71 16,50 13,88 27,22 14,81 15,32 41.150 Sumber: Ditjen Hortikultura, diolah.

Keterangan: Satuan produktivitas dan produksi tanaman hias masing-masing adalah tangkai/m2 dan juta tangkai; Data series 2000-2010 ditunjukkan pada Lampiran 3.1.13 s/d Lampiran 3.1.15 untuk tanaman obat, dan Lampiran 3.1.16 s/d Lampiran 3.1.18 untuk tanaman hias.

(26)

Produktivitas kapulaga adalah yang terbesar, yaitu 5,27 ton/ha, kemudian berturut-turut diikuti oleh lengkuas (2,86 ton/ha), kunyit (2,36 ton/ha) dan lempuyang (2,07 ton/ha). Sementara itu, tanaman obat yang produktivitasnya terkecil adalah kencur, yaitu hanya 1,54 ton/ha.

Produksi tanaman obat tumbuh rata-rata sekitar 23,13%/tahun selama periode 2000-2005, namun kemudian tumbuh hanya 5,94%/tahun selama periode 2005-2010. Pertumbuhan yang tinggi pada periode 2000-2005 dipacu oleh pertumbuhan produksi sambiloto dan temu kunci masing-masing 97,60% dan 61,46% per tahun. Produksi sambiloto yang meningkat drastis ini karena peningkatan areal, yaitu 85,76%/tahun, walaupun produktivitasnya menurun 9,19%/tahun.

Untuk tanaman hias, pada tahun 2010, tanaman yang mempunyai areal panen terluas adalah krisan yaitu 1.002 ha, diikuti berturut-turut oleh mawar (384 ha), anggrek (139 ha) dan melati (102 ha). Seperti pada luas areal panen, produksi krisan adalah yang terbesar, yaitu 185,23 juta tangkai, namun produktivitasnya hanya 18,48 tangkai/m2. Produktivitas bunga sedap malam adalah yang terbesar dibandingkan dengan tanaman hias lainnya, yaitu 95,11 tangkai/m2, diikuti berturut- turut oleh anyelir (31,29 tangkai/m2), anthurium (30,40 tangkai/m2) dan gladiol (24,72 tangkai/m2).

Produksi tanaman hias tumbuh rata-rata 14,80%/tahun selama periode 2000- 2005, kemudian meningkat lebih cepat menjadi 15,32%/tahun selama periode 2005- 2010. Pertumbuhan produksi yang tinggi pada periode 2000-2005 dipacu oleh pertumbuhan produksi krisan dan anthurium yang tumbuh dengan laju masing- masing sebesar 35,82% dan 27,22% per tahun. Sementara pertumbuhan produksi yang tinggi pada periode 2005-2010 dipacu oleh pertumbuhan produksi anyelir dan krisan yang sangat tinggi yaitu masing-masing 30,36% dan 25,61% per tahun.

Pertumbuhan produksi krisan pada periode 2000-2005 karena adanya peningkatan luas areal, yaitu 32,40%/tahun, sedangkan pertumbuhan produksi anthurium pada periode 2000-2005 karena adanya peningkatan produktivitas, yaitu 23,03%/tahun.

(27)

3.1.3. Tanaman Perkebunan

Tanaman perkebunan terdiri diri tanaman tahunan atau tanaman keras (perennial crops) dan tanaman setahun/semusim (annual/seasonal crops). Tanaman keras utama adalah kelapa sawit, kelapa, karet, kakao, kopi, teh, dan cengkeh, sedangkan tanaman setahun/semusim utama adalah tebu/gula, tembakau, dan lada1. Hampir semua jenis komoditas perkebunan tersebut, kecuali tebu/gula dan tembakau, merupakan komoditas ekspor andalan dan sumber devisa penting (net exporter) di subsektor perkebunan, bahkan di sektor pertanian. Sementara produksi komoditas tebu/gula dan tembakau masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri sehingga masih perlu diimpor (net importer). Posisi komoditas tembakau masih dilematis karena di satu sisi merupakan salah satu sumber pendapatan penting bagi petani dan negara dari cukai tembakau dan rokok, sedangkan dari sisi lain kurang mendukung kesehatan dan bertentangan dengan konvensi tembakau dunia yang sudah diratifikasi oleh seluruh negara di dunia kecuali Indonesia.

Tabel 3.1.5. Laju Pertumbuhan Luas Areal Total dan Produksi Tanaman Perkebunan Utama, 2000-2010.

Komoditas

Luas Areal Total Produksi Laju (%/tahun) Luas

2010 (000’

ha)

Laju (%/tahun) Produksi 2010 (000’ t) 2000-

2005 2005-

2010 2000-

2005 2005- 2010

Kelapa Sawit 4 ,98 7 ,30 8.036,4 10,15 8,09 23.712,0 Kelapa 0 ,23 0 ,04 3.808,3 0,08 1,14 3.266,4 Karet -0 ,64 0 ,94 3.445,1 8,33 1,22 2.591,9 Kakao 8 ,90 6 ,63 1.651,5 10,97 2,39 844,6 Kopi -0 ,28 -0 ,15 1.268,5 3,11 1,04 684,1 Cengkeh 1 ,36 1 ,11 470,0 3,88 7,06 110,8 Tebu/Gula 1 ,51 2 ,45 434,3 5,31 4,43 2.694,2 Tembakau -4 ,94 1 ,14 193,9 -5,57 -1,58 122,3 Lada 4 ,16 -0 ,82 186,3 1,26 1,84 84,2 Teh -2 ,05 -2 ,51 124,6 0,34 -0,79 150,3

Sumber: Ditjen Perkebunan, diolah.

Keterangan: Data series 2000-2010 ditunjukkan pada Lampiran 3.1.19 s/d Lampiran 3.1.22.

      

1 Komoditas perkebunan lain adalah jambu mete, panili, pala, serat-seratan (kapas, rami, dll) dan minyak-minyakan (jarak pagar, jarak kepyar), dan lain-lain tidak dicakup dalam analisis ini karena produksinya masih sangat terbatas.

(28)

Pola pertumbuhan luas areal, produktivitas dan produksi komoditas perkebunan selama 2000-2010 ditunjukkan pada Tabel 3.1.5. Pola pertumbuhan umumnya mengalami perubahan selama periode lima tahun terakhir (2005-2010) dibanding selama periode lima tahun sebelumnya (2000-2005). Kelapa sawit mengalami laju pertumbuhan luas areal total yang makin spektakuler, yaitu dari 4,98%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi 7,30%/tahun pada periode 2005- 2010 sehingga pada tahun 2010 mencapai luas lebih dari 8 juta ha, yang merupakan areal komoditas perkebunan paling luas dengan pangsa 41% dari total luas areal 10 komoditas perkebunan utama yang dianalisis seluas sekitar 19,6 juta ha. Demikian pula produktivitasnya yang pada periode 2000-2005 menurun, pada periode 2005- 2010 meningkat cukup cepat sehingga pada tahun 2010 mencapai lebih dari 4,3 ton minyak sawit per ha per tahun. Perkembangan luas areal total yang cepat tersebut diikuti oleh perkembangan luas areal produktif yang juga cepat. Dengan pertumbuhan produktivitas yang cepat tersebut menyebabkan laju pertumbuhan produksinya juga sangat cepat walaupun mengalami pelambatan, yaitu dari 10,15%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi 8,09%/tahun pada periode 2005- 2010 sehingga pada tahun 2010 mencapai produksi hampir 24 juta ton minyak sawit.

Laju pertumbuhan produksi yang spektakuler pada komoditas kelapa sawit tersebut dipicu oleh kenaikan harga CPO di pasar dunia yang cepat sebagai akibat dari meningkatnya permintaan dunia akan komoditas ini dan meningkatnya harga minyak mentah (crude oil) dunia. Insentif harga yang makin tinggi tersebut menyebabkan sebagian areal komoditas perkebunan lain dan bahkan areal komoditas pangan terkonversi menjadi areal kelapa sawit, utamanya di pulau Sumatera dan Kalimantan. Namun pembukaan hutan secara besar-besaran untuk perluasan areal kelapa sawit mendapatkan kritikan dari berbagai negara lain karena kegiatan tersebut dinilai dapat mengganggu keseimbangan alam dunia, dimana Indonesia mempunyai peranan sangat penting dalam menjaga areal rain forest sebagai salah satu paru-paru dunia. Karena itu pada tahun 2011 dilakukan moratorium kelapa sawit untuk mengendalikan penebangan hutan untuk perluasan areal kelapa sawit.

(29)

Tanaman perkebunan lainnya yang luas areal dan produksinya juga mengalami pertumbuhan sangat cepat adalah kakao, walaupun pada periode 2005- 2010 melambat dibanding pada periode 2000-2005. Karena pertumbuhan luas arealnya yang melambat pada periode 2005-2010, maka luas arealnya pada tahun 2010 mencapai 1,65 juta ha lebih, yang menempati urutan keempat (8,42%) sesudah kelapa sawit, kelapa dan karet. Walaupun produktivitasnya meningkat makin cepat, produksinya mengalami pelambatan pertumbuhan yang drastis yaitu dari 10,97%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi hanya 2,39%/tahun pada periode 2005-2010.

Laju pertumbuhan luas areal yang cepat pada tanaman kakao disebabkan oleh permintaan pasar dan harga dunia yang meningkat, walaupun sebagian areal kakao dikonversi menjadi areal kelapa sawit di beberapa wilayah, utamanya Sumatera. Namun masalah paling berat yang dialami komoditas kakao adalah meluasnya hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di wilayah sentra kakao Sulawesi Selatan yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan produksi kakao nasional selama periode 2005-2010. Program Gerakan Nasional Kakao (Gernas Kakao) berupaya mengatasi masalah hama PBK tersebut, disamping memperbaiki mutu buah kakao rakyat yang masih rendah karena tidak difermentasi. Jika masalah hama PBK dapat diatasi secara lebih baik, maka laju pertumbuhan produksi tersebut bisa dipacu menjadi lebih cepat lagi di masa datang.

Luas areal komoditas karet hanya mengalami percepatan pertumbuhan yang sangat marjinal pada periode 2005-2010 dibanding pertumbuhan pada periode 2000-2005 yang menurun, namun produksinya mengalami pelambatan laju pertumbuhan yang sangat signifikan, yaitu dari 8,33%/tahun pada periode 2000- 2005 menjadi hanya 1,22%/tahun pada periode 2005-2010. Perkembangan ini terkait dengan laju permintaan karet di pasar dunia yang sedikit melemah karena terjadinya resesi ekonomi di negara-negara maju seperti AS, Eropa dan Jepang, dimana laju permintaan terhadap otomotif melambat yang berdampak pada melambatnya pertumbuhan permintaan akan ban kendaraan bermotor yang bahan baku utamanya adalah karet alam.

Luas areal kopi terus menurun, namun pertumbuhan produksinya masih positif walaupun melambat pada periode 2005-2010 dibanding pada periode 2000-

(30)

2005. Persaingan dengan kopi asal negara-negara lain, utamanya Brazil dan Vietnam yang mutu kopinya lebih bagus (jenis Arabika), berdampak menekan pertumbuhan produksi kopi Indonesia yang mutunya kurang bagus (jenis Robusta). Disamping itu, peranan kopi Indonesia lebih banyak sebagai bahan pencampur (blending material) di negara-negara pengimpor utama seperti AS, Eropa dan Jepang.

Untuk komoditas tebu/gula, luas arealnya terus meningkat dengan laju yang makin cepat, yaitu dari 1,51%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi 2,45%/tahun pada periode 2005-2010. Namun pertumbuhan produksinya sedikit melambat dari 5,31% menjadi 4,43% per tahun, yang masih tergolong cukup cepat. Perkembangan yang cukup pesat ini disebabkan oleh adanya program pemerintah yaitu revitalisasi perkebunan (utamanya program “bongkar ratoon”) dan revitalisasi pabrik gula.

Revitalisasi kebun tebu telah mampu meningkatkan produktivitas tebu per ha dan kandungan gula dalam nira tebu, sedangkan revitalisasi pabrik gula telah dapat memperbaiki kapasitas ekstraksi nira dari tebu dan rendemen gula yang dihasilkannya walaupun masih terbatas.

Luas areal dan produksi komoditas teh mengalami kemunduran, yang disebabkan oleh adanya persaingan yang makin ketat dari produk-poduk teh dari luar negeri. Disamping itu, pertumbuhan yang pesat pada industri air mineral dan minuman ringan (soft drink) lainnya juga berdampak negatif terhadap perkembangan teh nasional. Walaupun industri teh sudah mencoba memproduksi produk-produk baru dengan berbagai kemasan (teh hijau, dan lain-lain), masih belum mampu mendongkak pertumbuhan produksi komoditas ini.

Komoditas tembakau juga mengalami pertumbuhan produksi yang negatif, yang disebabkan oleh tidak adanya lagi dukungan pemerintah dalam perluasan areal, disamping turunnya permintaan rokok per kapita di dalam negeri karena makin mahalnya harga rokok sebagai akibat dari cukai rokok yang makin tinggi, disamping karena kesadaran masyarakat yang makin tinggi akan pentingnya arti hidup sehat. Karena itu banyak industri rokok yang tutup, utamanya yang berskala kecil, sehingga total permintaan akan tembakau produksi lokal oleh industri rokok dalam negeri menurun. Bersamaan dengan itu, laju permintaan dunia akan daun dan produk tembakau juga melambat karena meningkatnya kesadaran masyarakat dunia akan bahaya asap rokok terhadap kesehatan.

(31)

Dilihat dari segi manajamennya, komoditas perkebunan diproduksi oleh rakyat (Perkebunan Rakyat/PR) dan perusahaan besar baik milik negara (Perkebunan Besar Negara/PBN) maupun milik swasta (Perusahaan Besar Swasta/PBS). Produksi lada seluruhnya dihasilkan oleh PR, sementara produksi beberapa komoditas lainnya sebagian besar dihasilkan oleh PR dan sebagian kecil oleh perusahaan perkebunan besar (BPN dan PBS), yaitu kelapa, kakao, karet, kopi, cengkeh, tembakau, dan tebu/gula (Tabel 3.1.6). Peranan PBS dalam memproduksi gula dan tembakau cukup signifikan. Komoditas yang lebih banyak diproduksi oleh perkebunan besar adalah kelapa sawit, utamanya PBS.

Tabel 3.1.6. Pangsa Produksi Komoditas Perkebunan Menurut Tipe Manajemen, 2010 (%).

Komoditas Perkebunan Rakyat

Perkebunan Besar

Total Negara Swasta Kelapa sawit 38,81 10,40 50,79 100

Kelapa 97,45 0,07 2,48 100

Karet 79,68 9,74 10,58 100

Kakao 91,60 4,36 4,03 100

Kopi 95,81 2,10 2,09 100

Cengkeh 98,25 0,30 1,45 100 Tebu/Gula 51,32 13,66 35,02 100 Tembakau 66,98 2,29 30,37 100

Lada 100,00 0 0 100

Teh 23,14 52,57 24,29 100

Sumber: Ditjen Perkebunan, diolah.

Daya saing suatu komoditas dapat diukur dengan berbagai indikator, yang salah satunya adalah pangsa produksi di tingkat dunia dan perkembangannya selama periode tertentu. Tabel 3.1.7 menunjukkan bahwa tiga komoditas perkebunan Indonesia mempunyai pangsa produksi sangat tinggi pada tahun 2010 dan menempati posisi pertama di dunia di antara sekian banyak negara produsen, yaitu cengkeh dan kelapa sawit, dengan pangsa produksi masing-masing 69,44%

dan 47,08% pada tahun 2010. Posisi kedua di dunia ditempati oleh minyak kopra (CCO), karet, kakao biji dan lada, yang pada tahun 2010 mempunyai pangsa produksi masing-masing 24,58%, 26,46%, 19,15% dan 14,21%. Sementara posisi ke tiga, enam, delapan dan tujuh belas masing-masing diduduki oleh kopi biji,

(32)

tembakau, teh dan gula dengan pangsa produksi pada tahun 2010 masing-masing 9,58%, 2,74%, 3,32% dan 1,23%.

Tabel 3.1.7. Posisi Indonesia dalam Produksi Komoditas Perkebunan Utama Dunia, 2005 dan 2010.

Komoditas

Pangsa (%) Peringkat Indonesia

2010

Jumlah Negara Produsen

2010 2005 2010

Cengkeh 74,51 69,44 1 10

Kelapa sawit a) 45,01 47,08 1 43 Kelapa b) 22,65 24,58 2 73

Karet 24,13 26,46 2 29

Kakao 15,86 19,15 2 59

Lada 20,44 14,21 2 41

Kopi 8,73 9,58 3 76

Tembakau 2,27 2,74 6 128

Teh 4,90 3,32 8 46

Gula 1,45 1,23 17 119 Sumber: FAOStat (2012), diolah.

Keterangan: a) Crude Palm Oil (CPO) & Palm Kernel Oil (PKO) b) Crude Copra Oil (CCO)

Pangsa produksi Indonesia pada tahun 2010 ada yang meningkat dan ada yang menurun disbanding pada tahun 2005. Komoditas yang pangsa produksinya meningkat adalah kelapa sawit, kelapa, karet, kakao, dan kopi, yang menunjukkan bahwa dayasaing keenam komoditas tersebut makin tinggi. Sementara komoditas yang pangsa produksnya menurun adalah cengkeh, lada, teh dan gula, yang menunjukkan bahwa dayasaing keempat komoditas tersebut melemah. Untuk cengkeh, walaupun pangsa produksinya menurun, tetap mendominasi produksi cengkeh dunia.

Posisi Indonesia yang bervariasi dari cukup sampai dengan tertinggi tersebut merupakan indikator bahwa Indonesia menempati posisi yang cukup sampai sangat penting dalam memproduksi komoditas perkebunan tersebut di dunia. Di masa datang, daya saing dan posisi Indonesia di dunia dalam memproduksi komoditas perkebunan perlu ditingkatkan atau minimal dipertahankan jangan sampai turun.

Program-program revitalisasi perkebunan perlu ditingkatkan dengan perencanaan dan mutu pelaksanaan yang lebih baik lagi.

(33)

3.1.4. Komoditas Peternakan Populasi dan Pemotongan Ternak

Ternak dapat dikelompokkan menjadi ternak unggas (ayam buras, ayam ras pedaging, ayam ras petelur dan itik), ternak kecil (kambing, domba, babi) dan ternak besar (sapi potong, kerbau, kuda, sapi perah). Pada tahun 2010, populasi seluruh jenis ternak unggas adalah 1.207,3 juta ekor (Tabel 3.1.8). Populasi terbesar adalah ayam ras pedaging (broiler) yang merupakan 67,19% dari total populasi unggas, sementara populasi terkecil adalah itik (2,68%). Ayam buras dan ayam ras petelur (layer) masing-masing merupakan 23,10% dan 7,02% dari total populasi ternak unggas.

Tabel 3.1.8. Laju Pertumbuhan Populasi Jenis Ternak Utama, 2000-2010.

Jenis Ternak Laju (%/tahun) Populasi 2010 2000-

2005 2005-

2010 Jumlah

*) Pangsa (%) Ternak Unggas: 3,94 4,74 1.207.338 100 1. Ayam 5,97 4,69 1.174.933 97,32

Ayam Ras Pedaging 7,93 6,74 811.189 67,19 Ayam Buras 1,35 -2,57 278.954 23,10 Ayam Ras Petelur 5,35 5,32 84.790 7,02 2. Itik 0,83 6,39 32.405 2,63 Ternak Kecil: 2,28 4,09 28.536.997 100

Kambing 1,18 4,56 13.409.277 46,99

Domba 2,44 4,98 8.327.022 29,18

Babi 4,44 1,88 6.800.698 23,83

Ternak Besar: -0,67 4,12 13.445.862 100 Sapi Potong -0,53 5,18 10.569.312 78,61

Kerbau -1,43 -2,02 2.128.491 15,83

Kuda -1,48 4,32 386.708 2,88

Sapi Perah 0,81 7,24 361.351 2,69 Sumber: Ditjen Peternakan, diolah.

Keterangan:

*) Satuan populasi unggas dalam ribuan ekor; jenis ternak lainnya dalam ekor.

Data series 2000-2010 ditunjukkan pada Lampiran 3.1.23.

Total populasi ternak unggas tumbuh rata-rata 3,94%/tahun selama periode 2000-2005 dan meningkat lebih cepat menjadi 4,74%/tahun selama periode 2005- 2010. Laju pertumbuhan yang tinggi tersebut dipacu oleh laju pertumbuhan populasi ayam ras pedaging dan petelur yang pesat. Populasi ayam pedaging tumbuh rata-

(34)

rata 5,97%/tahun selama periode 2000-2005, menurun menjadi dan 4,69%/tahun selama periode 2005-2010. Sementara itu, populasi ayam petelur tumbuh rata-rata 5,35%/tahun selama periode 2000-2005 dan sedikit menurun menjadi 5,32%/tahun selama periode 2005-2010. Untuk ayam buras, laju pertumbuhan populasinya relatif rendah, yaitu rata-rata 1,35%/tahun pada periode 2000-2005 dan bahkan menurun menjadi -2,57%/tahun selama periode 2005-2010, yang berarti telah terjadi kemunduran yang cukup cepat. Sebaliknya, populasi itik yang semula tumbuh lambat dengan rata-rata 0,83%/tahun pada periode 2000-2005, kemudian tumbuh sangat cepat pada periode 2005-2010 dengan rata-rata 6,39%/tahun, yang berarti terjadi akselerasi laju pertumbuhan yang signifikan. Percepatan pertumbuhan populasi ternak itik selama 2005-2010 diduga didorong oleh meningkatnya permintaan akan daging itik oleh restoran termasuk K5 (tenda-tenda) di pinggir jalan yang tumbuh sangat cepat di berbagai kota.

Total populasi ternak kecil (kambing, domba, dan babi) pada tahun 2010 adalah sekitar 28,54 juta ekor. Laju pertumbuhan populasi ketiga jenis ternak ini memperlihatkan percepatan yang cukup signifikan dari rata-rata 2,28%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi 4,09%/tahun pada periode 2005-2010. Percepatan pertumbuhan terjadi pada populasi kambing dan domba. Pada periode 2000-2005, populasi kambing tumbuh rata-rata 1,18%/tahun, sementara populasi domba tumbuh rata-rata 2,44%/tahun. Pada periode 2005-2010, laju pertumbuhan populasi kambing dan domba meningkat lebih cepat menjadi masing-masing 4,56%/tahun dan 4,98%/tahun. Sebaliknya, laju pertumbuhan populasi babi melambat dari rata- rata 4,41%/tahun pada periode 2000-2005 menjadi hanya 1,88%/tahun pada periode 2005-2010.

Total populasi ternak besar (sapi potong, kerbau, kuda dan sapi perah) pada tahun 2010 adalah sebesar 13,45 juta ekor. Sapi potong mempunyai jumlah populasi terbesar yaitu sekitar 78,61% dari total populasi ternak besar. Selama periode 2000- 2005, populasi sapi potong menurun rata-rata 0,53%/tahun, namun kemudian meningkat cepat menjadi rata-rata 5,18%/tahun selama periode 2005-2010.

Peningkatan ini diduga selain disebabkan oleh peningkatan kelahiran anak sapi (pedet) juga karena adanya impor sapi induk dan bakalan, terutama dari Australia.

Referensi

Dokumen terkait

"embanunan be#kelanutan di#umuskan sebaai pembanunan yan memenuhi kebutuhan masa kini tanpa men'#bankan hak pemenuhan kebutuhan ene#asi

misI D I M E N S I P E M B A N G U N A N DIMENSI PEMERATAAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH DIMENSI PEMBANGUNAN MANUSIA DIMENSI PEMBANGUNAN SEKTOR UNGGULAN KUALITAS INFRASTRUKTUR

Dalam perencanaan struktur ruang dalam perkotaan seperti pada kecamatan Wajo maka pembagian wilayah/area pada lokasi tersebut menunjukkansecara jelas bahwa

Hasil analisa XRF setelah proses water leaching, acid leaching dan kalsinasi yang disajikan pada ke-3 Tabel memperlihatkan bahwa kondisi perbandingan pasir ilmenit

Karakteristik geoteknik ditentukan melalui uji fisik berupa uji cone penetrometer (CPT), deskripsi visual-manual contoh tanah dari hasil bor dalam, dan uji standard

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi filtrat belimbing wuluh dengan lama waktu perendaman, kombinasi keduanya terhadap kadar logam

c. Mudah mengatur pilihan untuk suatu pembelajaran. Komik merupakan salah satu aplikasi dari media visual yang sering kita jumpai. Komik merupakan media yang bersifat

Ada perbedaan yang bermakna kadar BOD, COD dan TSS antara kelompok perlakuan menggunakan pengolahan koagulasi biofilter dan karbon aktif dengan kelompok kontrol