• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam

Kompetensi atau kemampuan seorang guru dalam pengembangan pemahaman peserta didik harus dimiliki dan diketahui oleh setiap pendidik.

Karena dengan kecakapan akan pemahaman bagaimana guru mengajarkan paham ilmu yang diajarkan maka, pembelajaran akan dapat dilaksanakan dengan maksimal.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru bahwa:

Maka seorang pendidik mata pelajaran dan jenjang pendidikan apapun harus memiliki standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru.

Dalam hal ini guru PAI pada jenjang SMA harus mempunyai kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) progam studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi. Sedangkan kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintergrasi dalam kinerja guru.

Dalam Peraturan Pemerintah tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru juga disebutkan bahwa kompetensi guru mata pelajaran agama Islam adalah:

a. Menginterpretasikan materi, struktur, konsep, dan pola pikir ilmu-ilmu yang relevan dengan pembelajaran pendidikan agama Islam.

b. Menganalisis materi, struktur, konsep, dan pola pikir ilmu-ilmu yang relevan dengan pembelajaran pendidikan agama Islam.

Berarti kompetensi seorang guru tidak hanya dimiliki guru yang notabene pengajar pelajaran selain agama Islam, namun guru PAI harus memiliki kompetensi yang mendasar sebagai bahan acuan dan rujukan bahwa guru PAI dalam interaksi belajarnya mampu memberikan pemahaman, penghayatan, dan pelaksanaan tentang agama Islam.

3. Peran dan Tugas Guru Pendidikan Agama Islam Muhammad Surya (2006: 23) mengemukakan bahwa:

Unsur inti yang sangat esensial dalam pendidikan adalah pendidik (guru) dan peserta didik (siswa) yang paling berinteraksi dalam situasi pedagogis untuk mencapai tujuan pendidikan. Tanpa kedua unsur itu yaitu guru dan siswa tidak ada yang namanya pendidikan guru berperilaku mengajar dan siswa berperilaku belajar melalui interaksi edukatif dalam suasana pendidikan. guru yang berilaku mengajar secara professional dan efektif akan menghasilkan perilaku belajar yang efektif dan pada giliranya akan menghasilkan keluaran (hasil belajar) yang bermutu.

Secara umum peran serta guru dalam kaitan dengan mutu pendidikan sekurang-kurangnya dapat dilihat dari empat dimensi yaitu guru sebagai pribadi, guru sebagai unsur keluarga, guru sebagai unsur pendidikan, guru sebagai unsur masyarakat.(Muhammad Surya, 2006: 24).

Guru sebagai pribadi, kinerja peran guru dalam kaitan dengan mutu pendidikan tentunya harus dimulai dari dirinya sendiri. Sebagai pribadi, guru mempunyai perwujudan diri dengan dengan seluruh karakteristik yang

dimiliki oleh guru sebagai pendidik. Karena kepribadian merupakan landasan utama bagi guru. Hal ini mengandung makna bahwa seorang guru harus mampu mewujudkan pribadi yang efektif untuk dapat melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai guru. Dan guru PAI dalam praktiknya harus bisa menjadi suri tauladan yang baik. Apalagi dalam kehidupan kesehariannya guru PAI harus berfungsi sebagai pribadi yang bisa memberikan keteladanan khususnya interaksi dalam sekolah. Karena, perkataan atau ucapan akan tidak ada artinya jika tidak diaplikasikan dalam bentuk tingkah laku, karena yang ditangkap anak didik adalah seluruh kepribadianya. (Khoiron Rosyadi, 2004: 187).

Peran guru dikeluarga, dalam kaitan dengan keluarga, guru merupakan unsur keluarga sebagai pengelola (suami atau istri), sebagai anak, dan sebagai pendidik dalam keluarga. Hal ini mengandung makna bahwa guru sebagai unsur keluarga berperan untuk membangun keluarga yang kokoh sehingga menjadi fondasi bagi kinerjanya dalam melaksanakan fungsi guru sebagai unsur pendidikan, khususnya dalam keluarga.

Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Imam Al-Mundziri, Mukhtasar Shahih Muslim yang diterjemahkan oleh Ahmad Zaidun (2003: 73), Rasulullah saw bersabda:

َ ثَّدَح َّلَص ِوَّللا ُلوُسَر َلاَق َلاَق َةَرْ يَرُى ِبَِأ ْنَع ِجَرْعَْلْا ْنَع ِداَنِّزلا ِبَِأ ْنَع ٍكِلاَم ْنَع ُِّبَِنْعَقْلا اَن ى

ُدَلوُي ٍدوُلْوَم ُّلُك َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُوَّللا ُجَتاَنَ ت اَمَك ِوِناَرِّصَنُ يَو ِوِناَدِّوَهُ ي ُهاَوَ بَأَف ِةَرْطِفْلا ىَلَع

ْنِم ُلِبِْلْا

لا َلاَق ٌيرِغَص َوُىَو ُتوَُيَ ْنَم َتْيَأَرَ فَأ ِوَّللا َلوُسَر اَي اوُلاَق َءاَعْدَج ْنِم ُّسُِتُ ْلَى َءاَعَْجَ ٍةَميَِبَ

ُوَّل

َيِلِماَع اوُناَك اَِبِ ُمَلْعَأ )دواد وبأ هاور(

Artinya :

Menceritakan kepada kami Al-Qa‟ nabi dari Malik dari Abi Zinad dari Al–

A‟raj dari Abu Hurairah berkata Rasulullah saw bersabda: “Setiap bayi itu dilahirkan atas fitrah maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasroni sebagaimana unta yang melahirkan dari unta yang sempurna, apakah kamu melihat dari yang cacat?”. Para Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah bagaimana pendapat tuan mengenai orang yang mati masih kecil?” Nabi menjawab: “Allah lah yang lebih tahu tentang apa yang ia kerjakan”. (H.R. Abu Dawud).

Peran guru disekolah, dalam keseluruhan kegiatan pendidikan ditingkat operasional. Peran guru dalam sekolah menjadi acuan penentu keberhasilan pendidikan. PAI yang merupakan kurikulum keberagamaan di sekolah sudah menjadi kewajiban baginya untuk membentuk kompetensi siswa, dalam hal ini peranan guru PAI dilingkungan sekolah harus mempunyai acuan peran guru sebagai mana mestinya. Yaitu, guru sebagai sumber belajar, sebagai fasilitator, pengelola, pembimbing, dan motifator.

a. Sebagai sumber belajar, guru sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran, dikatakan guru yang baik manakala ia dapat menguasai materi pelajaran dengan baik, sehingga benar-benar ia berperan sebagai sumber belajar bagi anak didiknya.

b. Guru sebagai fasilitator, guru dalam hal ini berperan dalam memberikan pelayanan uantuk memudahakan siswa dalam kegiatan pembelajaran.

c. Guru sebagai pengelola, guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman.

Melalui pengelolaan kelas yang baik guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif untuk terjadinya proses belajar seluruh siswa.

d. Guru sebagai Demonstator, bahwa guru dalam hal ini mempunyai peran untuk mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan.

e. Guru sebagai Pembimbing, guru dituntut untuk menjaga, mengarahkan, dan membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat, dan bakatnya.

f. Guru sebagai Motivator, dalam proses pembelajaran motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Jadi, guru diharuskan untuk memberikan dorongan yang bersifat positif.

g. Guru sebagai Evaluator, guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. (Wina Sanjaya: 2007: 21-32).

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, pekerjaan seorang guru merupakan sebuah amanah yang harus dikerjakan, sebagaimana

dijelaskan dalam Alquran Surat Al-Ahzab (33) ayat 72, Allah swt

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh. (Kemenag RI, 2011: 427).

Dalam surat yang lain Q.S.Al-Mu‟minun (23): 8, Allah swt

dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. (Kemenag RI,2011: 342).

Peran guru di masyarakat, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara keseluruhan, guru merupakan unsur strategis sebagai anggota, agen, dan pendidik masyarakat. Sebagai anggota masyarakat guru berperan sebagai teladan bagi masyarakat disekitarnya baik

kehidupan pribadinya maupun kehidupan keluarganya. (Muhammad Surya, 2006: 46-47).

Selain mempunyai beberapa peran tersebut guru PAI juga mempunyai tugas yang harus dilakukan untuk pengembangan mutu pendidikan peserta didik. Dalam segala aspek guru digolongkan mempunyai tiga komponen penting. Yakni, tugas dalam profesi, tugas dalam kemanusiaan, dan tugas dalam bidang kemasyarakatan.

Tugas guru dalam profesi, meliputi mendidik, megajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup.

Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan, melatih berarti mengembangkan ketrampilan-ketrampilan pada siswa.

Tugas guru dalam bidang kemanusiaan, di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua, ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapun yang diberikan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswanya dalam belajar.

Moh. Uzer Usman (2006: 6-7) menjelaskan:

Tugas dalam masyarakat, masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyrakat dapat menimba ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia Indonesia seutuhnya berdasarkan Pancasila.

4. Tujuan Pendidikan Agama Islam

PAI merupakan nama yang diberikan pada salah satu subjek pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa muslim. Ia merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum suatu sekolah sehingga merupakan alat untuk mencapai salah satu aspek tujuan sekolah yang bersangkutan. Karena itu, subjek ini diharapkan dapat memberikan keseimbangan dalam kehidupan anak kelak, yakni manusia yang memiliki kualifikasi tertentu, tetapi tidak terlepas dari nilai-nilai agama. Dengan demikian, Muntholi‟ah (2002: 12-14) mengemukakan bahwa:

Tujuan utama dari PAI adalah untuk memberikan “corak Islam” pada sosok lulusan lembaga pendidikan yang bersangkutan. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan memberikan materi atau pengalaman yang berisi ajaran agama Islam, yang umumnya sudah tersusun secara sistematis dalam ilmuilmu keIslaman.

B. Kenakalan Siswa

1. Pengertian Kenakalan

Kenakalan berasal dari kata “nakal” yang berarti kurang baik (tidak menurut, mengganggu dan sebagainya) terutama pada anak-anak.

(Depdiknas, 2002: 971).

Menurut Bimo Walgito dalam Sudarsono (2004: 11) memberikan pengertian tentang kenakalan anak sebagai berikut :

Tiap perbuatan, jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi merupakan perbuatan yang melawan hukum, yang dilakukan oleh anak, khususnya anak remaja. Yaitu kenakalan anak adalah suatu contoh perilaku yang ditunjukan oleh remaja di bawah usia 18 tahun dan perbuatan tersebut

melanggar aturan, yang dianggap berlebihan dan berlawanan dengan norma masyarakat.

Maka dapat disimpulkan bahwa kenakalan merupakan perilaku yang berupa penyimpangan atau pelanggaran pada norma yang berlaku.

Ditinjau dari segi hukum kenakalan merupakan pelanggaran terhadap hukum yang belum bisa dikenali hukum pidana sehubungan dengan usianya.

(Endang Poerwanti dan Nur Widodo, 2002: 139).

Dari beberapa pengertian diatas dapat sedikit penulis simpulkan bahwa kenakalan adalah pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik dan mengarah pada penyimpangan perilaku sewajarnya baik dalam kelas ataupun luar kelas, dan pelanggaran tersebut adalah pelanggaran pada peraturan yang sudah ada.

2. Bentuk-bentuk Kenakalan

Masalah kenakalan merupakan masalah yang menjadi perhatian orang dimana saja, masalah ini semakin dirasakan dan meresahkan masyarakat terutama di lingkungan sekolah. Jensen dalam Sarlito Wirawan Sarwono (1991: 200-2001) membagi kenakalan siswa ini menjadi 4 jenis, yaitu:

a) Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, seperti perkelahian, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan dan lain-lain.

b) Kenakalan yang menimbulkan korban materi, seperti perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan dan lain-lain..

c) Kenakaln sosial yang tidak menimbulkan korban dipihak orang lain, seperti pelacuran, penyalahgunaan obat dan juga hubungan seks sebelum nikah.

d) Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orangtua.

Adapun bentuk-bentuk kenakalan yang dikaitkan dengan akhlak Madzmumah adalah sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah radhiallahu „anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu

„alaihi wa Sallam bersabda : “Kamu sekalian, satu sama lain Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling menjauhi dan janganlah membeli barang yang sedang ditawar orang lain. Dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Taqwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada beliau tiga kali). Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya”. (Muslim no.

2564).

b) Berbuat Kerusakan atau Bahaya

َأ ْنَع َلاَق َمَّلسو ويلع للها ىَّلَص ِللها َلْوُسَر َّنَأ ُوْنَع ُللها َيِضَر يِرْدُْلْا ِناَنِس ِنْب ُدْعس ٍدْيِعَس ِبِ

َراَرِض َلاَو َرَرَض َلا : وَجاَم ُنْبا ُهاَوَر ٌنَسَح ٌثْيِدَح ).

(

Artinya:

Dari Abu Sa‟id, Sa‟ad bin Malik bin Sinan Al Khudri radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu „alaihi wa Sallam telah bersabda :

“Janganlah engkau membahayakan dan saling merugikan”.

(HR. Ibnu Majah, no. 2341).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu „anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu „alaihi wa Sallam: “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam : “Janganlah engkau mudah marah”. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali.

Sabda beliau : “Janganlah engkau mudah marah”.[Bukhari no. 6116]

d) Berbuat Dzalim

. َرْحَبْلا َلِخْدُأ اَذِإ ُطْيِخَمْلا

Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu „alaihi wa Sallam, beliau meriwayatkan dari Allah „azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan (berlaku) zhalim atas diri-Ku dan Aku menjadikannya di antaramu haram, maka janganlah kamu saling menzhalimi. Wahai hamba-Ku, kamu semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kamu minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Kamu semua adalah orang yang lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka hendaklah kamu minta makan kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Wahai hamba-Ku, kamu semua asalnya telanjang, kecuali yang telah Aku beri pakaian, maka hendaklah kamu minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberinya.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kamu melakukan perbuatan dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku , pasti Aku mengampuni kamu. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kamu tidak akan dapat membinasakan Aku dan kamu tak akan dapat memberikan manfaat kepada Aku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir diantaramu, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antaramu, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun, jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antaramu, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kamu, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga. Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antaramu, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya itu semua adalah amal perbuatanmu. Aku catat semuanya untukmu, kemudian Kami membalasnya. Maka barang siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur kepada Allah dan barang siapa mendapatkan selain dari itu, maka janganlah sekali-kali ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri”. (Muslim no. 2577).

e) Membuat Keresahan

ِقُلُْلْا ُنْسُح ُِّبِْلا : َلاَق ملسو ويلع للها ىَّلَص ِِّبَِّنلا ِنَع ،ُوْنَع ُللها َيِضَر َناَعَْسَ ِنب ِساَّوَّ نلا ْنَع . ُساَّنلا ِوْيَلَع َعِلَّطَي ْنَأ َتْىِرَكَو َكِسْفَ ن ِفِ َكاَح اَم ُْثُِلْْاَو مِلْسُم ُهاَوَر )

( .

Artinya:

Dari An Nawas bin Sam‟an radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu „alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Kebajikan itu keluhuran akhlaq sedangkan dosa adalah apa-apa yang dirimu merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya”. (HR. Muslim).

3. Sebab-sebab Kenakalan Siswa

Remaja yang mengalami problem disekolah pada umumnya mengemukakan keluhan bahwa mereka tidak ada minat terhadap pelajaran dan bersikap acuh tak acuh, prestasi belajar menurun kemudian timbul sikap-sikap dan perilaku yang tidak diinginkan seperti membolos, melanggar tata tertib, menentang guru, berkelahi, dan sebagainya. Hal ini dapat dilihat dari berbagai dimensi penyenebab yaitu faktor-faktor diantaranya adalah:

a. Kurang adanya kematangan fisik, mental dan emosi sesuai dengan teman sebaya dan harapan sosial.

b. Adanya hambatan fisik atau kelainan organisme, baik pendengaran, penglihatan, cacat tubuh dan sebagainya.

c. Kemauan yang kurang atau justru terlalu tinggi.

d. Adanya hambatan atau gangguan emosi akibat tekanan dari orang dewasa khususnya guru sebagai pendidik di sekolah. (Endang Poerwanti dan Nur Widodo, 2002: 17).

Sedangkan menurut Zakiah darajat dalam Mukhtar (2001: 17) penyebab terjadinya kemorosotan moral (akhlak) yang nantinya akan berakibat pada kenakalan siswa. Adalah sebagai berikut;

1) Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap orang dalam masyarakat.

2) Keadaan masyarakat yang kurang stabil, baik dari segi ekonomi maupun sosial politik.

3) Pendidikan moral yang tidak terlaksana menurut semestinya, baik di sekolah, keluarga, maupun dalam masyarakat luas.

4) Suasana rumah tangga siswa yang kurang baik adan harmonis.

5) Diperkenankanya secara popular obat-obatan dan alat anti hamil secara lebih luas dan terbuka.

6) Banyaknya tulisan-tulisan, gambar-gambar, siaran-siaran, kesenian-kesenian yang tidak mengindahkan dasar-dasar, dan tuntutan moral yang seimbang dengan pembentukan karakter siswa.

7) Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu terluang dengan cara yang lebih baik dan membawa kepada pembinaan moral.

8) Tidak ada atau kurangnya markas-markas bimbingan dan penyuluhan bagi siswa dalam mendukung terwujudnya peningkatan moral siswa.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey (lapangan) dengan pendekatan kuantitatif yang berusaha menggambarkan Peranan Guru PAI Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa di SMP Negeri 1 Manuju Kec. Manuju Kab. Gowa.

Sugiyono (2012: 15) mendefinisikan bahwa :

Metode Penelitian Kuantitatif dapat di artikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data, menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

B. Lokasi dan Objek Penelitian

Adapun lokasi penelitian adalah di SMP Negeri 1 Manuju Kec.

Manuju Kab. Gowa. Adapun objek pebelitian ini adalah guru PAI dan siswa SMP Negeri 1 Manuju Kec. Manuju Kab. Gowa.

C. Variabel Penelitian

Kerlinger dalam Sugiyono (2012: 61) mendefinisikan bahwa

“Variabel adalah konstrak (constructs) atau sifat yang akan dipelajari, atau dapat pula dikatakan variabel adalah suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values)”.

23

Dengan melihat judul di atas Peranan Guru PAI Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa di SMP Negeri 1 Manuju Kec. Manuju Kab. Gowa Terdapat dua variabel yaitu variabel bebas (x) adalah Peranan Guru PAI sedangkan variabel terikat (y) adalah Mengatasi Kenakalan Siswa.

D. Defenisi Operasional Variabel

Untuk menghindari kesalah pahaman dan untuk menyamakan presepsi, maka terlebih dahulu penulis mengemukakan defenisi variabel penelitian agar tidak terjadi penafsiran yang keliru.

1. Peranana guru PAI adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang dengan sadar membimbing anak didik ke arah pencapaian kedewasaan, serta terbentuknya kepribadian anak didik yang islami sehingga terjalin keseimbangan, kebahagiaan dunia dan akhirat.

2. Mengatasi kenakalan siswa adalah suatu cara untuk mencegah, menunda dan menghindari penyimpangan tingkah laku yang dilakukan oleh siswa yang dapat mengganggu dan membahayakan orang lain dan juga dirinya sendiri.

E. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Menurut Herman Resito (1992:49), “Populasi adalah Keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda, tumbuh-tumbuhan dan

peristiwa sebagai sumber data yang mempunyai karakteristik tertentu dalam sebuah penelitian”.

Adapun populasi pada penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 1 Manuju dengan jumlah 148 orang dan guru PAI dengan jumlah 2 orang.

Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel di bawah ini:

Tabel 1 Keadaan Populasi

No Guru dan siswa Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan

1 Guru 2 - 2

2 Siswa 138 125 263

Jumlah 140 1255 265

Sumber data: KTU SMP Negeri 1 Manuju Tahun 2014.

2. Sampel

Menurut Nana Sudjana dan Ibrahim (1989:84) Sampel adalah

“sebagian dari populasi yang dimiliki sift karakteristik yang sama sehingga betul-betul mewakili populasi”.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini dengan teknik random sampling, yakni pengambilan secara acak dari jumlah populasi. Oleh karena itu, yang diambil dari penelitian (10%) dari jumlah populasi yang ada sehingga sampelnya menjadi 10% X 265 = 299 orang.

Tabel 2 Keadaan Sampel

No Guru dan Siswa Jenis Kelamin

Jumlah Sampel

L P

1 Guru 2 - 2

2 Siswa 14 13 20

Jumlah 16 13 29

Sumber data: KTU SMP Negeri 1 Manuju Tahun 2014.

F. Instrumen Penelitian

Adapun instrumen yang penulis akan pergunakan dalam penelitian untuk mengetahui Peranan Guru PAI Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa di SMP Negeri 1 Manuju Kec. Manuju Kab. Gowa. tersebut terdiri atas pedoman yaitu: observasi, wawancara, angket/quisioner dan Dokumentasi.

Keempat bentuk instrumen penelitian tersebut digunakan karena pertimbangan praktis sebab kemungkinan hasilnya lebih valid.

Untuk memberikan gambaran ketiga bentuk instrumen di atas, maka penulis akan menguraikan secara sederhana sebagai berikut:

1. Catatan Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena atau gejala-gejala pada objek penelitian. Atau cara pengumpulan data dengan mengamati langsung ke lapangan.

Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2012: 203) mengemukakan bahwa

“Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis.dua diantar yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan”.

2. Pedoman Wawancara

Penelitian yang tujuannya untuk memperoleh data atau keterangan secara langsung dari instrumen. Wawancara sering pula disebut interview, yaitu pengumpulan informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula.

Suharsimi Arikunto dalam sugiyono (2012: 194) berpendapat, ditinjau dari pelaksanaannya, maka interview atau wawancara dapat dibedakan atas beberapa macam yaitu:

1. Wawancara terstruktur, yaitu teknik pengumpulan data, bila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informan apa yang akan diperoleh.

2. Wawancara semiterstruktur, yaitu teknik pengumpulam data dengan bebas peneliti mewawancarai informan.

3. Wawancara tak berstruktur, yaitu teknik pengumpulan data tanpa menggunakan pedoman hanya garis-garis besarnya saja.

3. Angket

Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

Amirul Hadi dan Haryono (1998: 137) menyebutkan macam-macam quesioner/angket yaitu:

a. Quesioner berstruktur b. Quesioner tak berstruktur

c. Quesioner kombinasi berstruktur dan tak berstruktur d. Quesioner semiterbuka

4. Catatan Dokumentasi

Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi ialah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen yang ada pada desa Lapasi-pasi yang dianggap penting atau berhubungan dengan penelitian yang dilakukan dengan tujuan agar dokumen-dokumen tersebut dapat membantu

Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi ialah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen yang ada pada desa Lapasi-pasi yang dianggap penting atau berhubungan dengan penelitian yang dilakukan dengan tujuan agar dokumen-dokumen tersebut dapat membantu

Dokumen terkait