• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. Wujud Peranan Guru Pendidikan Agama Islam di

SMP Negeri 1 Manuju Kab. Gowa merupakan salah satu pendidikan yangdipercayadari pihak masyarakat khususnya orang tua, yangmembutuhkan bantuan demipendidikan anaknya. Salah atu tujuannya tidak lain supaya anaknya menjadianak soleh yang berakhlakul karimah.

Guru PAI sebagai pemegang utamatanggung jawab dalam pembentukan akhlak memiliki tugas yang sangat berat.Oleh karenanya peranan guru sangat penting dan menentukan akhlak siswa.

1. Fungsi Guru PAI di sekolah

Dalam mengatasi kenakalan siswa di SMP Negeri 1 Manuju Kab.

Gowa guru PAI berfungsi sebagai:

a. Guru Sebagai Pembimbing.

Siswa harus benar-benar dapat diarahkan dan dibimbing agar tidakmelencengpada jalan yang semestinya, karena pada usia ini siswa mengalamikegoncangan dan saat-saat rawan yang mudah dimasuki, baik hal yangpositif maupun negatif.Peranan guru PAI SMP Negeri 1 Manuju Kab.

Gowa dalam halpembentukan akhlak mempunyai tanggung jawab yang besar untukmenciptakan siswanya berakhlak mulia yang siap untuk membenai akhlak yang sudah rusak.

Bentuk bimbingan secara langsung guru PAI di SMP

Negeri 1 Manuju Kab. Gowa yaitu :guru membimbing jalannya doa pada awal dan akhirpelajaran, membimbing kegiatan ekstra keagamaan seperti, Shalat Dhuha, istighotsah dan salat dhuhur berjamaah.

Hasil analisis angket dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 7

Jawaban responden terhadap guru PAI berdoa sebelum memulai pembelajaran

No. Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase (%)

1 Selalu 13 48%

2 Kadang-kadang 14 52%

3 Tidak pernah - 0%

Jumlah 27 100%

Tabulasi Angket No. 1 Tahun 2014.

Berdasarkan tabulasi angket di atas, dari 27 responden penulis mengetahui bahwa 13 atau 48% responden menyatakan selalu, 14atau 52%

responden menyatakan kadang-kadang dan tidak ada atau 0% responden menyatakan tidak pernah, sehingga penulis menyimpulkan bahwa guru PAI di SMP Negeri 1 Manuju kadang-kadamg membaca do’a sebelum memulai pembelajaran.

Tabel 8

Jawaban responden terhadap guru PAI dalam mengajak siswa untuk shalat berjamaah

No. Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase (%)

1 Selalu 15 56%

2 Kadang-kadang 12 44%

3 Tidak pernah - 0%

Jumlah 27 100%

Tabulasi Angket No. 2 Tahun 2014.

Berdasarkan tabulasi angket di atas, dari 27 responden penulis mengetahui bahwa 15 atau 56% responden menyatakan selalu, 12 atau 44%

responden menyatakan kadang-kadang dan tidak ada atau 0% responden menyatakan tidak pernah, sehingga penulis menyimpulkan bahwa guru PAI di SMP Negeri 1 Manuju selalu mengajak siswa untuk shalatberjamaah.

b. Guru Sebagai Figur

Peranan guru PAI di SMP Negeri 1 Manuju Kab. Gowa sebagai figur terletak padakepribadian dan akhlaknya. Jadi guru yang mempunyai kepribadian danakhlak baiklah yang nantinya bisa dicontoh siswa, supaya siswamempunyai kepribadian dan akhlak baik juga. Oleh karena itu, SMP Negeri 1 Manuju Kab. Gowa, sejak awal dalam memilih dan menerima guru sebagai pengajar, harus benar-benar berakhlak mulia yang nantinya akan dianut oleh siswa yang bisa menjadikan siswanya berakhlak yang mulia juga, yaitu anak soleh yang berakhlaqul karimah.

Guru PAI sebagaifigur telihat dalam hal antara lain :

1) Dalam kedisiplinan, guru PAI selalu tepat waktu dalam mengajarataupun melaksanakan kegiatan ekstra di sekolah

2) Dalam berpakaian, guru menunjukan cara berpakaian yang islami 3) Guru mengucapkan salam dan menyapa setiap kali bertemu

denganguru yang lain

4) Berbicara sopan dengan muridnya, baik di dalam maupun di luar kelas

Hasil analisis angket dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 9

Jawaban responden terhadap guru PAI dalam mengajar tepat waktu No. Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase (%)

1 Selalu 21 78%

2 Kadang-kadang 6 22%

3 Tidak pernah - 0%

Jumlah 27 100%

Tabulasi Angket No. 3 Tahun 2014.

Berdasarkan tabulasi angket di atas, dari 27 responden penulis mengetahui bahwa 21 atau 78% responden menyatakan selalu, 6 atau 22%

responden menyatakan kadang-kadang dan tidak ada atau 0% responden menyatakan tidak pernah, sehingga penulis menyimpulkan bahwa guru PAI di SMP Negeri 1 Manuju selalu mengajar tepat waktu.

Tabel 10

Jawaban responden terhadap guru PAI dalam berpakaian yang islami No. Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase (%)

1 Selalu 20 74%

2 Kadang-kadang 7 26%

3 Tidak pernah - 0%

Jumlah 27 100%

Tabulasi Angket No. 4 Tahun 2014.

Berdasarkan tabulasi angket di atas, dari 27 responden penulis mengetahui bahwa 20 atau 74% responden menyatakan selalu, 7 atau 26%

responden menyatakan kadang-kadang dan tidak ada atau 0% responden menyatakan tidak pernah, sehingga penulis menyimpulkan bahwa guru PAI di SMP Negeri 1 Manuju selalu berpakaian yang islami.

Hasil analisis angket dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 11

Jawaban responden terhadap guru PAI dalam memberikan pesan-pesan moral kepada siswa

No. Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase (%)

1 Selalu 15 56%

2 Kadang-kadang 10 37%

3 Tidak pernah 2 7%

Jumlah 27 100%

Tabulasi Angket No. 5 Tahun 2014.

Berdasarkan tabulasi angket di atas, dari 27 responden penulis mengetahui bahwa 15 atau 56% responden menyatakan selalu, 10 atau 37%

responden menyatakan kadang-kadang dan 2 atau 7% responden menyatakan tidak pernah, sehingga penulis menyimpulkan bahwa guru PAI di SMP Negeri 1 Manuju selalu memberikan pesan-pesan moral kepada siswa.

Tabel 12

Jawaban responden terhadap guru PAI dalam menasehati siswa yang melanggar aturan sekolah

No. Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase (%)

1 Selalu 13 48%

2 Kadang-kadang 11 41%

3 Tidak pernah 3 11%

Jumlah 27 100%

Tabulasi Angket No. 6 Tahun 2014.

Berdasarkan tabulasi angket di atas, dari 27 responden penulis mengetahui bahwa 13 atau 48% responden menyatakan selalu, 11 atau 41%

responden menyatakan kadang-kadang dan 3 atau 11% responden menyatakan tidak pernah, sehingga penulis menyimpulkan bahwa guru PAI di SMP Negeri 1 Manuju selalu menasehati siswa yang melanggar aturan sekolah.

c. Guru Sebagai Penasehat

Salah satu Peranan guru pai SMP Negeri 1 Manuju sebagai penasehatbagi siswanya.Guru PAI sebagai penasehat di SMP Negeri 1 Manuju Kab. Gowa yaitu dengan memberikan nasehat dan solusi baik pada siswa secara umummaupun siswa yang mempunyai masalah. Peranan tersebut tidak sebatas didalam kelas, akan tetapi siswa diberi kesempatan untuk berkonsultasi diluar kelas.

Nasehat yang dilakukan SMP Negeri 1 Manuju Kab. Gowa Kab.

Gowa diantaranya yaitu:

1) Dalam bentuk ekstra keagamaan (KAP), guru selalu diberikesempatan untuk memberikan mauidhoh atau pesan moral yang baikuntuk siswa

2) Guru menegur dan menasehati siswanya saat melanggar aturansekolah

3) Untuk menyadarkan anak-anak yang nakal guru mengajarkan merekaziarah ke makam tokoh agama setempat pada malam hari untukmerenungi kesalahannya, sekaligus guru menasehati denganmenggunakan cerita-cerita tauladan.

2. Metode Guru PAI dalam Mengatasi Kenakalan Siswa

SMP Negeri 1 Manuju Kab. Gowa sebagai sekolah swasta yang berada di lingkunganmasyarakat heterogen, dari beberapa kalangan yang berbeda dalam statussosial, ekonomi maupun keagamaan. Dengan adanya

latar belakang kondisisiswa yang beraneka ragam, maka pihak sekolah mempunyai strategi denganmerubah dan menambah mata pelajaran pendidikan agama Islam.

Metode-metode yang digunakan guru PAI SMP Negeri 1 Manuju Kab. Gowa antara lain sebagai berikut:

a. Metode cerita

Yaitu dengan mengisahkan peristiwa-peristiwa sejarah hidupmanusia masa lampau baik menyangkut keta’atannya maupunkemungkarannya terhadap Allah SWT.Disini guru menceritakan materipelajaran yang berkaitan dengan akhlak Rasulullah, sahabat maupun orang

shalih atau ulama’ kepada siswanya, yang disertai dengan mediapembelajaran yang berupa gambar-gambar, diharapkan denganmendengarkan cerita, siswa akan tertarik mendengarkan memahami isicerita dan dapat mengambil pelajaran atau nilai-nilai akhlak yang adadalam kisah-kisah antara lain : kisah mengenai kesabaran NabiMuhammad SAW,kebaikan perangai dan ketampanan Nabi Yusuf AS,keihlasan Siti Khadijahdalam mendukung perjuanagn Rasul, kecerdasanNabi Ibrahim AS dalam memerangi kemungkaran. Juga menegnaikedhaliman seperti cerita Qorunyang tamak dengan harta, Fir’aun yanghaus dengan kekuasaan sampai pada pengakuan sebagai Tuhan, Tsa’labahyang durhaka pada orang tua.

Kreatifitas guru dalam menyampaikancerita dari intonasi suara, gaya bahasa akan menambah daya tarik yangbesar bagi siswa meskipun cerita merupakan metode belajar yang klasik.Oleh karena itu di akhir cerita memberikan nasehat-nasehat terutama yangberkaitan dengan akhlak etika dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

b. Metode keteladanan

Metode keteladanan sebagai metode yang digunakan untukmerealisasikan tujuan pendidikan dengan memberi contoh keteladananyang baik kepada siswa, agar mereka dapat berkembang baik fisik maupunmental dan memiliki akhlak yang baik dan benar. Pada siswa SMP yangdilihat dari segi usianya berada dalam masa remaja usia pubertas yangmembutuhkan figur atau idola untuk dijadikan panutan hidupnya.

Sekolahsebagai tempat untuk mendapatkan ilmu pegetahuan, siswa yangmembutuhkan suritauladan akanmeniru dari apa yang diamatinyaterutama dari guru. Karena guru adalah orang yang dipercaya lebihpandai, pengalaman dan mengerti agama.Oleh karena itu, guru yang adadi SMP Negeri 1 Manuju Kab. Gowa dituntut keprofesionalannya baik dari segipenampilan, sikap, pergaulan dan menjaga diri dari hal-hal yang tidakpantas. Karena dikhawatirkan siswa belum bisa memilah-milah mana yangpantas ditiru dan mana yang tidak.

Dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan, guru tidak hanyamenyuruh, megawasi kegiatan tetapi guru ikut serta dari awal sampai

akhir pada pelaksanaannya, seperti pada shalat jama’ah Dzuhur, guru langsung bergegas mengambil air wudhu, baru menyuruh siswa melaksanakannya. Keteladanan yang diperoleh siswa ketika berada di luar sekolah bersumberdari keluarga dan lingungan sekitar serta teman-teman sepergaulannyatentu saja tidak semua yang diamati siswa tersebut pantas dijadikanteladan, karena jika perhatian keluarga yang kurang, sementara keadaan lingkungan saja kurang baik akan membawa pengaruh negatif dalam pembentukan akhlak siswa. Jadi dengan adanya guru yang baik sebagaisuri tauladan dan siswa diawasi untuk berbuat baik diharapkan akhlak siswa yang terbentuk akan menjadi lebih baik.

c. Metode latihan dan pembiasaan

Metode latihan dan pembiasaan adalah mendidik dengan caramemberikan latihan-latihan terhadap suatu kegiatan kemudianmembiasakannya. Di sekolah ini pelaksanaan metode tersebut dimulai darihal-hal yang ringan seperti mengucapkan salam dan bersalaman ketikabertemu dengan guru maupun teman, berdo’a ketika mulai dan selesaibelajar, membaca asmaul husna, juz amma dalam kegiatan keagamaan.

d. Metode demonstrasi

Yaitu menggambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnyapenjelasan verbal dengan suatu kerja fisik atau pengoperasian perasaan.Dalam pembelajaran agama, guru PAI SMP Negeri 1 Manuju Kab.

Gowa menggunakanmetode ini dalam praktik ibadah, seperti wudhu, shalat dan mengajarkanniat dan tata cara mandi besar yang benar, karena siswa memasuki usiabaligh. Sedangkan metode demonstrasi yang berkaitan denganpembentukan akhlak siswa, guru megajarkan dan mempraktekkanbagaimana cara bergaul, bertemu dan bertutur kata yang sopan, berjalandan lain-lain, dengan melihat tata cara yang dipraktikkan gurunya, siswaakan meniru setidaknya di lingkungan sekolah.

e. Metode ganjaran dan hukuman

Metode hukuman sangat efektif untuk mengontrol perilaku siswadi sekolah, siswa SMP Negeri 1 Manuju Kab. Gowa yang berada di lingkungan antara desadan kota terkadang iseng-iseng ingin mencoba hal baru.

Meskipunkonsekuensinya mendapat hukuman dari sekolah. Pada anak usia remaja,siswa gemar bermain dengan teman sebayanya untuk membuat genk ataukelompok, merasa senasib dan mempunyai rasa solidaritas, akan tetapi jikaprinsip tersebut tidak diarahkan oleh guru dapat menjadikan kenakalanbersama dan lebih sulit penanganannya.

Hasil analisis angket dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 13

Jawaban responden terhadap guru PAI dalam menggunakan metode mengajar

No. Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase (%)

1 Selalu 10 37%

2 Kadang-kadang 12 44%

3 Tidak pernah 5 19%

Jumlah 27 100%

Tabulasi Angket No. 7 Tahun 2014.

Berdasarkan tabulasi angket di atas, dari 27 responden penulis mengetahui bahwa 10 atau 37% responden menyatakan selalu, 12 atau 44%

responden menyatakan kadang-kadang dan 5 atau 19% responden menyatakan tidak pernah, sehingga penulis menyimpulkan bahwa guru PAI di SMP Negeri 1 Manuju kadang-kadang menggunakan beragam metode dalam mengajar.

Dalam kesempatan wawancara dengan Dra. Asmi Farida Guru Pendais SMP Negeri 1 Manuju Kab. Gowa, beliau mengatakan bahwa:

“Dalam pembelajaran, khususnya mata pelajaran yang saya ajarkan seharusnya menggunakan berbagai macam metode karena banyak sekali manfaatnya, terutama materi PENDAIS beraneka ragam dan tidak bisa hanya dengan satu metode saja. Disamping itu, dengan beraneka ragamnya variasi tentunya membuat siswa tidak bosan dengan mata pelajaran”. (wawancara tanggal 28 Maret 2014).

3. Upaya yang dilakukan SMP Negeri 1 Manuju dalam Mengatasi Kenakalan Siswa

a. Membuat Buku Point Pelanggaran Tata Tertib

Pembuatan buku point dimaksudkan untuk mengetahui siswa yangsering melakukan kesalahan, buku point tersebut berlaku pada satu tahun ajaran.Jenis pelanggaran yang ada dikategorikan berat, sedang dan ringan.Kesalahan berat seperti berani bertindak kasar terhadap guru,

karyawan atau kepala sekolah baik fisik dan non fisik diberi point 80-100.Untuk pelanggaran sedang yaitu dengan point pada setiap kesalahan yang berkisar antara 10-20 point. Pelanggaran ringan seperti : tidak mengikuti jama’ah shalat dzuhur, tidak mengikuti program ekstra kurikulum yangditentukan diberi point 2-5.

Hasil analisis angket dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 14

Jawaban responden terhadap sekolah dalam mengadakan pemeriksaan kerapian seragam

No. Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase (%)

1 Selalu 11 41%

2 Kadang-kadang 14 52%

3 Tidak pernah 2 7%

Jumlah 27 100%

Tabulasi Angket No. 8 Tahun 2014.

Berdasarkan tabulasi angket di atas, dari 27 responden penulis mengetahui bahwa 11 atau 41% responden menyatakan selalu, 14 atau 52%

responden menyatakan kadang-kadang dan 2 atau 7% responden menyatakan tidak pernah, sehingga penulis menyimpulkan bahwa sekolah SMP Negeri 1 Manuju kadang-kadang mengadakan pemeriksaan kerapian seragam sekolah.

b. Bekerja Sama dengan Wali Murid atau Orang Tua Siswa

Ketika siswa mendaftarkan dan diterima di SMP Negeri 1 Manuju Kab.Gowa,sekolah sudah mulai mengajak orang tua untuk turut serta mengawasi anaknya di rumah, baik dari segi pergaulan, penampilan, ucapan dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan. Dengan kerja sama yang berkesinambungan, diharapkan kenakalan siswa tidak hanya berhenti di sekolah tetapi juga di rumah. Untuk siswa yang sudah kerap melakukan pelanggaran, maka dipangillah orang tuanya untuk diberi pegarahan agar dapat membina anaknya dirumah.

Hasil analisis angket dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 15

Jawaban responden terhadap sekolah dalam melibatkan orangtua mengenai pendidikan siswa

No. Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase (%)

1 Selalu 9 34%

2 Kadang-kadang 16 59%

3 Tidak pernah 2 7%

Jumlah 27 100%

Tabulasi Angket No. 9 Tahun 2014.

Berdasarkan tabulasi angket di atas, dari 27 responden penulis mengetahui bahwa 9 atau 34% responden menyatakan selalu, 16 atau 59%

responden menyatakan kadang-kadang dan 2 atau 7% responden menyatakan tidak pernah, sehingga penulis menyimpulkan bahwa sekoalh

SMP Negeri 1 Manuju kadang-kadang melibatkan orangtua mengenai pendidikan siswa.

c. Bekerja Sama dengan Tokoh Agama dan Masyarakat

Keberadaan ustadz dan guru ngaji di lingkungan tempat tinggalsiswa akan membantu mengajarkan ilmu agama atau ikut mengawasi keberadaan siswa di rumah sehingga ketika siswa akan berbuat tidak baik merasa enggan dan segan terhadap ustadz atau tokoh masyarakat yang ada di lingkungannya. Sekolah juga meminta kepada masyarakat untuk melaporkan siswa SMP Negeri 1 Manuju Kab.Gowa yang berbuat tidak baik untuk diberi pengarahan di sekolah.Dengan adanya upaya-upaya di atas, kenakalan siswa dapat diminimalisir dan mengarahkan kembali untuk membetuk kepribadian siswa yang berkhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Hasil tabulasi angket dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 16

Jawaban responden terhadap sekolah dalam melibatkan anggota masyarakat mengenai kenakalan siswa

No. Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase (%)

1 Selalu 14 52%

2 Kadang-kadang 13 48%

3 Tidak pernah - 0%

Jumlah 27 100%

Tabulasi Angket No. 10 Tahun 2014.

Berdasarkan tabulasi angket di atas, dari 27 responden penulis mengetahui bahwa 14 atau 52% responden menyatakan selalu, 13 atau 48%

responden menyatakan kadang-kadang dan tidak ada atau 0% responden menyatakan tidak pernah, sehingga penulis menyimpulkan bahwa sekolah SMP Negeri 1 Manuju selalu meliabatkan anggota masyarakat mengenai kenakalan siswa.

Dalamkesempatan wawancara dengan M. Irfan, M. S. Pd. I.guru BK SMP Negeri 1 ManujuKab. Gowa, beliau mengatakan bahwa:

“Dalam dunia pendidikan dikenal isyilah trilogi pendidikan, diantaranya sekolah, keluarga dan masyarakat,ketiga komponen tersebut seharusnya ikut andil dalam dunia pendidikan agar tercipta pendidikan yang dicita-citakan”. (wawancara tanggal 29 Maret 2014).

Dokumen terkait