BAB III. PERBANDINGAN HISTEREKTOMI TRANSABDOMINAL DENGAN
3.4 Komplikasi Laparoskopi
menunjukkan gambaran wrist-like motion robotic arm yang menyediakan gerakan lebih halus. Saat ini data mengenai histerektomi robotic semakin banyak dengan indikasi tumor jinak atau ganas. Bagaimanapun, keterbatasan pada robotic seperti meningkatnya waktu operasi dan biaya. Kebanyakan system da Vinci umumnya menghabiskan biaya hingga $2 juta dan tambahan biaya per kasus diperkirakan sekitar $950-1,400 US dolar, dimana termasuk tambahan biaya untuk ruangan dan waktu perawatan. Selanjutnya, diperkirakan biaya $1,000 sampai $1,500 US dolar untuk instrument disposable yang digunakan per kasus. Saat ini data terbatas pada perbandingan luaran histerektomi dengan total laparoscopic dengan robotic untuk tumor jinak dan ganas.
Tabel 12. Differences between the total laparoscopic hysterectomy and robotic hysterectomy groups for malignant indication (endometrial carcinoma).
3.4 Komplikasi Laparoskopi.
Dengan meningkatnya penggunaan laparoskopi dalam operasi ginekologi, ada beberapa peningkatan komplikasi yag dilaporkan. Ada beberapa komplikasi berhubungan dengan fase-fase dalam operasi laparoskopi: menilai insidensi, mekanisme, tampilan: dan rekomendasi metode untuk mencegah komplikasi dalam tindakan operasi laparoskopi.
35
36
Cedera Vaskular
Insidensi
Cedera vaskular merupakan komplikasi laparoskopi yang serius dengan tingkat mortalitas 9-17%. Insidensi yang dilaporkan bervariasi 0,04%-0,5 % dari keseluruhan laparoskopi. Studi terkini yang dilakukan oleh Swiss Association of Laparoscopic and Thoracoscopic Surgery memeriksa 43,028 prosedur laparoskopi melaporkan perdarahan internal atau hematom pada dinding abdomen dengan insidensi sebanyak 1,7% intraoperatif dan 1,5% postoperatif dan 0,09% cedera vaskular besar.
Lokasi dan mekanisme
Kebanyakan cedera vaskular selama insersi Veres needle atau trokar. Kedekatan aorta distal dan pembuluh darah iliaka kommunis ke umbilikus menyebabkan pembuluh darah ini memiliki resiko yang lebih tinggi mengaami cedera dibandingkan vena kava inferior, arteri iliaka eksterna dan interna. Perdarahan pada aspirasi jarum Verses atau melalui trokar, perdarahan tersembunyi di dalam panggul atau abdomen dan hipotensi yang tidak diketahui sebabnya harus diwaspadai untuk dilakukan eksplorasi dan identifikasi pembuluh darah sesegera mungkin. Karena adanya pengenalan yang terlambat, cedera vaskular selama prosedur ini berhubugan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas dibandingkan pada saat proses operasi.
Perdarahan yang signifikan juga terjadi karena cedera pembuluh darh epigastrika superfisial, siirkumfleks superfisial, epigastrika inferior atau sirkumfleks profunda karena insersi trokar. Perdarahan dapat tampak sebagai hematom diffus pada dinding abdomen atau perdarahan banyak ke rongga peritoneum. Pada saat itu, perdarahan pada lokasi insersi port dapat ditampon dengan trokar dan dapat diminimalisir selama operasi namun dapat muncul kembali pada fase post operatif.
Pencegahan
Faktor-faktor resiko yang berkontribusi terjadinya cedera vaskular termasuk keterampilan dokter bedah, ketajaman instrumen, sudut insersi, posisi pasien, derajat elevasi dinding abdomen, dan volume pneumoperitoneum. Untuk menghilangkan faktor resiko dan menghindari cedera vaskular, ada beberapa teknik standard termasuk:
- Elevasi dinding abdomen ketika membuat insisi vertikal 1 cm melalui kulit, muskulus rektus dan peritoneum setentang umbilikus.
37
- Elevasi dinding abdomen ketika insersi ujung trokar yang tumpul dan lebar melewati insisi dinding abdomen.
- Insuflasi hanya dilakukan apabila sudah ada konfirmasi penempatan laparoskopi yang benar.
Insersi trokar kedua selalu dilakukan dibawah pandangan langsung untuk menghindari cedera vaskular pada dinding abdomen dan pelvis. Pembuluh darah epigastrika superfisial dan iliaka sirkumfleks superfisial dapat diidentifikasi dengan melakukan transiluminasi ketika pembuluh pembuluh darah epigastrika inferior dapat ditelusuri dengan visualisasi langsung pada bagian abdomenn anterior.
Penanganan
Cedera vaskular membutuhkan respon yang ccepat, langsung, dan terkordinasi yaitu:
- Hentikan perdarahan arteri secepatnya dengan menutup pembuluh darah dengan
forcep atraumatik atau tampon diffus pada pemmbuluh vena dengan vaginal pack 2
inchi melewati 10-12 mm port atau melewati insisi laparotomi. Jangan menggunakan diatermi bipolar kooagulasi secara blind atau memperluas robekan.
- Pastikan bahwa jalur resusitasi terpasang dengan baik seperti jalur intravena, kecocokan golongan darah untuk transfusi, resusitasi cairan jika diperlukan tindakan laparotomi dan jika diperlukan konsultasi dengan ahli vaskular.
- Cari sumber perdarahan secara cepat dan hati-hati. Pendekatan laparoskopi dapat dipertimbangkan jika hemodinamik pasien stabil, lokasi pembuluh darah yang cedera dapat terlokalisasi dengan jelas, perdarahan dapat terkontrol dengan baik secara sementara dan dokter bedah berpengalaman menanganinya.
- Mengamankan cedera vaskular degan menggunakan metode hemostatik yang tepat sesuai dengan asal pembuluh darah yang cedera.
Cedera Usus
Insidensi
Insidensi cedera usus berkisar dari 0,06%-0,5% untuk laparoskopi diagnostik dan 0,3-0,5% pada laparoskopi operatif. Walaupun jarang terjadi, cedera usus dapat menyebabkan komplikasi serius termasuk kematian. Pada 31 penelitian yang dilaporkann antara 1973 dan 2001 melakukan 329.935 prosedur laparoskopi, tingkat mortalitas cedera usus sekitar 3,6%.
38
Mekanisme
Lokasi yang paling sering adalah cedera pada usus halus (58%), kolon (32%), dan lambung (8%). Diperkirakan hingga setengah dari seluruh laparoskopi yang berhubungan dengan cedera usus selama proses laparoskopi mulai dari penggunaaan jarum Veres dan insersi trokar. Hal ini mungkin disebabkan karena trauma dari tindakan pembedahan, trauma panas dari elektrosurgeri, herniasi melalui lokasi port atau adanya kebocoran anastomosis.
Adhesiolisis luas yang dilakukan intraoperatif merupakan faktor resiko untuk terjadinya cedera usus. Cedera usus dapat diakibatkan oleh penggunaan forceps yang tidak tepat, retraksi usus, reinnesrsi intrumen atau diseksi secara tajam. Cedera panas selam operasi dapat disebabkan langsung, capacitive couupling atau insulation failur. Cedera ini bisa tidak dikenali atau terjadi di luarr lapangan operasi, menyebabkan tampiilan yang lebih lama dan diagnosis yang terlambat.
Herniasi pada lokasi port laparoskopi merupakan hal yang jarang terjadi, dilaporkan insidensi 0,006-1%. Peningkatan resiko berhubungan dengan ukuran trokar dimana 3,1% resiko berhubungan dengan diameter trokar 12 mm dibandingkan dengan 0,2% pada diameter 10 mm. herniasi usus melalui port dengan diameter 5 mm juga pernah dilaporkan.
Kebocoran anastomosis jarang terjadi tetapi meruupakan komplikasi yang serius. Kebocoran ini berhubungan dengan tingkat anastomosis dari anus. Platell et al melaporkan bahwa tingkat kebocoran anastomosis pada reseksi sangat rendah pada daerah anterior, reseksi rendah, reseksi tinggi, dan nemikolektomi adalah 8%, 3,2%, 2,3% dan 0,4%.
Pencegahan
Penatalaksanaan cedera usus yang berhubungan tergantung pada tiga faktor: - Waktu diagnosis
- Status klinis pasien
- Keterampilan dokter bedah
Diperkirakan hanya sekitar 30-50% cedera usus yag dapat dikenali selama operasi. Gejala dapat muncul 1-30 hari setelah operasi. Jangka waktu mulai dari operasi sampai pengenalan gejala bervariasi tergantung dari lokasi cedera di usus. Cedera pada usus halus umumnya muncul 4,5 hari (sekitar 2-14 hari) sedangkan cedera pada kolon muncul 5,4 hari ( sekitar
1-39
29 hari). Cedera termal muncul lebih lama. Pada umumnya, semakin lama diagnosis, semakin tinggi morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan cedera usus.
Pasien dengan cedera usus pada laparoskopi menunjukkan gejala klinis seperti distensi ringan pada abdomen, nyeri di sekitar lokasi inserti trokar, demam, diare dengan suara bising usus yang abnormal atau hipoksia ringan dengan sedikit gejala peritonitis. Distres pernafasan dapat keliru dengan infeksi paru atau emboli paru. Gejala yang lain dapat berupa nyeri akut abdomen, muntah, takikardia, hipotensi, rigiditas abdomen dan ileus. Ketika peritonitis menjadi meluas, kondisi pasien dapat berubah cepat dengan resiko terjadi konsolidasi paru, abses subdiafragmatika, septikemia, dan kegagalan multi organ.
Penatalaksanaan
Pengenalan dini dan intervensi yang sesuai merupakan kunci untuk meminimalisasi morbiditas dan mortalitas pada cedera usus dalam laparoskopi. Kontaminasi feses pada ujung jarum Veres atau trokar, atau gejala ringan seperti hematom usus harus curiga dan membutuhkan inspeksi yang lebih hati-hati pada permukaan usus untuk memastikan kemungkinan adanya cedera. Jika ragu, dapat dilakukan menenggelamkan usus ke dalam cairan irigasi untuk melihata ada atau tidaknya gelembung atau pengisian cairan ke dalam bagian usus yang defek.
Bagian usus yang cedera harus ditangani dengan cepat. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan laparoskopi. Cedera pada gaster, usus halus, dan kolon dapat diperbaiki dengan menggunakan vicryl 4/0.
Pasien dengan adanya dugaan cedera usus harus dinilai dengan baik, rehidrasi, antibiotik parenteral dan insersi NGT. Radiografi abdomen, ultrasonografi, CT Scan dengan kontras pada abdomen dan pelvis memperlihatkan adanya gambaran udara di bawah diafragma, distesi usus dengan gambaran multiple fluid level atau gambaran cairan/ udara yang terlokalisir karena adanya abses.
Cedera Saluran Kemih Insidensi
Insidensi cedera saluran kemih berkisar antara 0,05%-8,3% dari keseluruhan laparoskopi. Trauma kandung kemih lebih sering (0,02-8,3%) dibaningkan dengan cedera ureter (0,5-3%). Walaupun semua cedera pada kandung kemih mudah untuk dikenali, cedera pada ureter biasanya luput dari pemgamatan pada saat durante operasi. Keterlambatan diagnosis pada
40
saluran kemih berhubungan dengan morbiditas yang serius seperti terbentuknya fistula, peritonitis, dan gangguan fungsi ginjal.
Mekanisme
Cedera kandung kemih selama tindakan laparoskopi mungkin disebabkan karena insersi trokar suprapubik pada kandung kemih yang penuh, diseksi kkandung kemih selama histerektomi laparoskopi, eksisi endometriosis, atau pengangkatan massa pelvis seperti miomma uteri atau tuomr ovarium. Kondisi yang menyebabkan perubahan anatomi normal pelvis, seperti perlengketan dari riwayat seksio sesaria atau radiasi, akan meningkatkan resiko cedera. Mekanisme cedera kandung kemih selama laparoskopi termasuk elektrokauter, diseksi tumpul, atau trauma dari laser, gunting, dan trokar.
Lokasi tersering cedera pad aureter adalah pada ligament infundobuloopelvikum dimana ureter menyebrangi daerah pinggir pelvis, fossa ovarium, lateral serviks dimana ureter melewati di bawah arteri uterina, ligamentum uterosakral, dan forniks anterior vagina. Mekanisme cedera termasuk transeksi, ligasi, atau nekrosis atau iskemik.
Pencegahan
Pencegahan cedera saluran kemih membutuhkan pengetahuan anatomi pelvis yang baik, keterampilan diseksi yang baik, dan prinsip hemostatik yang baik.
Resiko cedera kandung kemih akan menurun dengan adanya drainase kandung kemih yang rutin durante operasi, insersi trokar suprapubik di atas kandung kemih, penggunanaan diseksi tajam dibandingkan tumpul dari serviks selama histerektomi dan kehati-hatian terhadap kemungkinan kelainan kongenital.
Untuk menghiindari cedera ureter dibutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi jalur kandung kemih, keterampilan yang baik dalam membebaskan ureter dari ligamentum infundibulo-pelvikum atau selama eksisi endometriosis dari dinding lateral pelvis dan sebelum ligasi arteri uterina selama histerektomi laparoskopi.
Penatalaksanaan
Cedera Kandung Kemih
Pengenalan awal dan perbaikan kerusakan kandung kemih merupakan hal yang penting untuk mencegah fistla. Ostrzenki et al, pada studi 1372 artikel laparoskopi yang dipublikasikan antara 1970-1996 melaporkan bahwa diagnosis cedera kandung kemih intraoperatif didapati
41
sebanyak 53,24% dari keseluruhan cedera kandung kemih. Gilmour menemukan bahwa 97% cedera kandung kemih yang didiagnosa posoperatif akan menjadi fistula vesico-vagina. Trauma parsial pada kandung kemih tampak sebagai penonjolan mukosa pada lapisan muskularis. Trauma komplit akan menyebabkan hilangnya urin melewati dinding kandung kemih. Jika ragu, dapat dilakukan pengisian kandung kemh dengan cairan metilen biru dimana cairan metilen akan merembes dari bagian yang mengalami cedera ke rongga abdomen. Sitoskopi dapat membantu mengevaluasi perluasan cederan pada daerah orifisium uretra.
Cedera ureter
Bukti terkini dari beberapa literatur menunjukkan bahwa lebih dari 70% cedera ureter muncul ada postoperatif. Beberapa penilaian yang dapat memfasilitasi diagnosis intraoperatif dan menurunkan terlambatnya diagnosis pada cedera ureter. Diagnosis cedera ureterintra operatif harus segera dilakukan perbaikan dengan bantuan urologis. Dulunya cedera seperti ini harus dilakukan laparotomi. Bagaimanapun, tingkat keberhasilan perbaikan cedera ureter melalui tidakan laparoskopi sudah dilaporkan dimana luarannya sama dengan laproskopi yaitu 91,3% dan 90,4%. Umumnya perbaikan ureter dengan laparoskopi sangat mungkin dilakukan jika cedera tidak terlalu dekat dengan kandung kemih dan lesi kurang dari 1,5 cm.
Ketika ureter terligasi, ikatan tersebut harus segera dilepaskan dan keutuhan ureter harus dinilai dengan cara melihat peristaltik dan perubahan warna. Jika ada kekhawatiran mengenai keutuhan jaringan, stent ureter harus dimasukkan dan patensinya harus diperiksa dengan
intravenous pyelogram 10 hari kemudian.
Ketika ureter tertranseksi, teknik perbaikannya tergantung dari lokasi dan luasnya cedera. Transeksi parsial dapat diatasi dengan insersi stent duoble-J-shaped dengan atau tanpa jahitan setelah pemasangan stent. Stent harus tetap terpasang selama 6 minggu untuk mendukung penyembuhan. Jika terjadi transeksi komplit dengan cedera kurang dari 5 cm dari
vesicoureteric junction, dapat dilakukan re-implantasi ureter langsung ke kandung kemih,
dengan pembuatan saluran ureter ke otot kanddung kemih untuk mencegah refluks ureter dan infeksi saluran kemih yang berulang. Jika cedera lebih dari 5 cm dari kandung kemih, dapat dilakukan re-anastomosis dengan uretero-ureterostomi.
Pasien dengan cedera ureter dapat menunjukkan gejala klinis postoperatif seperti nyeri pinggang karena adanya hidronefrosis atau obstruksi ureter, hematuria, oliguria, inkontinensia urin karenna adanya fistula ureterovagina, hipertensi karena nefropati
42
obstruksi, ileus, peritonitis atau sepsis.. meningkatnya kreatinin serum disebabkan karena reabsorsi urin transperitonial. Aspirasi cairan dari intra-peritoneal dan retroperitoneal dapat diperiksa untuk melihat osmolalitas urin. Ultrasonografi, IVP dan CT dengan kontras menunjukkan adanya hidronefrosis dan hidroureter, cairan bebas pada retroperitonial atau intraperitonial.
Pada kasus dengan dugaan adanya fistula, cairan metilen biru, dapat diisi ke kandung kemih. Fistula vesikovagina dapat didiagnosa berdasarkan adanya pewarnaan biru pada tampon di vagina.
Jika dijumpai adanya cedera ureter, harus segera dilakukan operasi perbaikan. Jika operasi dikontraindikasikan karena adanya infeksi ataupun nekrosis jaringan, nefrostomi perkutaneus atau pemasangan retrograde stent dapat dilakukan utnuk menjaga drainase urin dan mendukung penyembuhan spontan.
Cedera Syaraf Insidensi
Cedera syaraf merupakan hal yang jarang dalam laparoskopi. Bagaimanapun, resiko terjadinya komplikasi neurologis umumnya berhubungan dengan kompleksitas dan invasifnya prosedur yang dilakukan. Studi ari perkumpulan ginekologi onkologi menunjukkan bahwa insidensi cedera syaraf umumnya terjadi sekitar 1,9% dan yang tertinggi 5,5% selama histerektomi radikal.
Mekanisme
Cedera syaraf karena tindakan laparoskopi terjadi karena peregangan yang berlebihan disebabkan posisi pasien yang tidak sesuai, retraksi jaringan yang berlebihan, kompresi syaraf atau cedera langsung karena diseksi. Cedera syaraf karena posisi dapat terjadi pada ekstremitas atas dan bawah. Cedera pleksus brakhialis merupakan yang paling sering terjadi dan selalu diakibatkan karena posisi lengan dan bahu pasien yang mengalami peregangan yang berlebihan dalam waktu yang lama. Cedera syaraf ulna dan peroneal juga berhubungan dengan posisi.
Kerusakan syaraf selama operasi pelvis selalu melibatkan cedera salah satu percabangan pleksus lumbosakral, termasuk iliohipogastrika, ilioinguinal, genitofemoral, femoral kutaneuus lateral, femoral, obturator, nervus pudendal dan skiatika.
43
Pencegahan
Ketika penanganan cedera syaraf termasuk sulit dan luarannya yang tidak dapat diprediksi, pencegahan merupakan tindakan yang penting. Dalam tindakan laparoskopi pasien diposisikan dengan posisi litotomi rendah dengan fleksi sendi panggul 170ᵒ terhadap tubuh dan fleksi 90ᵒ- 120ᵒ terhadap lutut. Abduksi sendi paha tidak lebih dari 90ᵒ
Selama proses laparoskopi baik dikter bedah maupun asisten harus hati-hati terhadap peregangan dan traksi jaringan termasuk syaraf untuk mencegah kerusakan dari peregangan atau kompresi yang berlama-lama.
antara tungkai, dan harus ada rotasi eksterna minimal dari panggul. Lengan pasien harus berdekatan dengan tubuh.
Penatalaksanaan
Jika adanya dugaan terjadi kerusakan syaraf harus segera dipperiksa defisit neurologis yang ada termasuk sensorik atau motorik terutama berhubungan dengan innervasi lumbosakral. Manajemen awal adalah kunci keberhasilan pada kebanyakan kasus cedera syaraf dalam prosedur laparoskopi. Perbaikan klinis bisa saja terjadi dalam waktu yang lama. Keberhasilan penyembuhan tergantung dari jenis syaraf, perluasan cedera, dan mekanisme cedera.
Jika cedera sudah diidentifikasi selama laparoskopi, harus dilakukan perbaiakan cedera dengan menggunakan mikrosurgeri, terutama pada kasus-kasus transeksi. Prosedur ini dapat dilakukan dengan epineural atau fasikular, dan lebih baik lagi jika dikerjakan dengan ahli bedah syaraf. Kedua ujung bedah syaraf dapat diperbaiki dengan menggunakan nilon 8/0 atau 10/0. Jika cedera syaraf diidentifikasi setelah prosedur atau mekanisme cedera menyebabkan tekanan yang berlebihan pada syaraf, dapat dilakukan tindakan non-invasif.
Nervus femoralis, obturator, dan skiatik memiliki komponen motor neuron dan membutuhkan fisioterapi sesegera mungkin untuk mencegah atrofi otot. Cedera ujung syaraf sensorik diatasi dengan farmakologi yaitu dengan analgetik oral, suplemen vitamin B atau dosis rendah antidepressan trisiklik. Pengobatan ati-epilepsi, gabapentin, dan pregabalin juga dapat digunakan pada dosis 900mg - 3600mg/hari. Untuk penyembuhan jangka panjang, kortikosteroid dan blok syaraf juga dapat digunakan. Jika hal ini tidak berhasil pembedahan neurolisis, reseksi neuroma atau reseksi syaraf bida saja diperlukan.
44
BAB IV
KESIMPULAN
Histerektomi adalah prosedur ginekologi yang paling umum, dengan sekitar 500.000 – 600. 000 operasi yang dilakukan setiap tahun di Amerika Serikat. Sejak histerektomi laparoskopi pertama dilakukan oleh Reich et al. pada tahun 1989, histerektomi laparoskopi telah dianggap metode bedah yang semakin penting dalam mengobati penyakit ginekologi. Histerektomi laparoskopi diindikasikan dalam kondisi tertentu seperti aksesibilitas vagina yang kurang baik, koeksistensi adneksa patologi, endometriosis dan adhesi panggul.
Ada beberapa jenis tindakan laparoskopi seperti laparoskopi diagnostik dengan histerektomi transvaginal, laparoscopic-assisted vaginal hysterectomy (LAVH), laparoscopic
hysterectomy (LH), total laparoscopic hysterectomy, laparoscopic supacervical hysterectomy (LSH), vaginal hysterectomy, laparoscopic hysterectomy with lymaphadenectomy, laparoscopic hysterectomy with lymphadenectomy and omentectomy dan laparoscopic radical hysterectomy with lymphadenectomy.
Ada beberapa kontraindikasi relatif untuk dilakukannya operasi laparoskopi pada bidang ginekologi, di mana kebanyakan dokter lebih suka melakukan laparotomi. Pada kebanyakan kasus di mana keterbatasan akses pervaginam atau tidak adanya mobilitas uterus, bisa dipertimbangkan untuk dilakukan histerektomi laparoskopi. Faktor penting yang merupakan pertimbangan tingkat kesulitan untuk laparoskopi adalah jumlah operasi sebelumnya. Riwayat adanya operasi sebelumnya akan menyebabkan perlengketan dan akan mempersulit operasi selanjutnya. Beberapa langkah tindakan laparoskopi yang harus, diperhatikan yaitu penilaian preoperatif, posisi pasien, posisi tim bedah, posisi port, teknik operasi, dan akhir prosedur.
Saat ini histerektomi laparoskopi merupakan tindakan yang aman dan teknik yang layak dalam manajemen patologi jinak pada uterus dan menawarkan ketidaknyamanan postoperatif yang minimal, masa rawat inap yang lebih singkat, penyembuhan cepat, dan kembalinya aktivitas sehari-hari yang lebih cepat. Rasionalisasi histerektomi total laparoskopi adalah mengkonversi histerektomi perabdominal menjadi prosedur laparoskopi yang kemudian akan menurunkan trauma dan morbiditas. Kebanyakan studi pada ukuran uterus yang besar, biasanya uterus dengan ukuran kehamilan 15-16 minggu atau berat lebih dari 500
45
gram dimana kebanyakn menyimpulkan bahwa uterus yang besar harus ditangani dengan laparotomi. Penelitian yang dilakukan Sinha R, et all (2009) menguji kelayakan histerektomi total laparoskopi pada 173 wanita dengan ukuran uterus 500 gram atau lebih dan teknik-teknik modifikasi yang diadopsi pada prosedur tersebut. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa histerektomi total laparoskopi merupakan teknik yang aman dan layak pada kasus-kasus ginekologi dengan pembesaran uterus untuk menghindari tindakan laparotomi.
Umumnya, ahli bedah menghadapi adhesi pelvis yang tak terduga selama histerektomi total laparoskopi yang mungkin melarang pembedahan yang aman melalui laparoskopi. Sekitar 10% dari pasien tanpa operasi pelvis yang sebelumnya memiliki perlengketan omentum atau usus, sedangkan 31% pasien dengan operasi panggul sebelumnya bebas dari pelengketan. Jika pasien memiliki riwayat laparotomi sebelumnya dan memungkinkan terjadinya perlengketan, harus diinformasikan kepada pasien resiko kemungkinan laparotomi kembali. Pendekatan laparoskopi memiliki keuntungan dibandingkan laparatomi, yaitu kemungkinan pemeriksaan abdomen secara menyeluruh untuk menilai rongga abdomen untuk penyebaran extra-uterine dan cairan peritoneal untuk sitologi. Selain itu, karena pasien tidak memiliki luka abdomen yang besar, hasil pendekatan laparoskopi di rumah sakit memiliki masa rawat inap yang lebih singkat, morbiditas luka abdomen yang lebih kecil, pendekatan laparoskopi menyebabkan pasin lebih cepat kembali dalam aktivitas sehari-hari.
Ada beberapa komplikasi berhubungan dengan fase-fase dalam operasi laparoskopi yaitu cedera vaskular, usus, saluran kemih dan syaraf. Komplikasi ini dapat dicegah dengan pengamatan anatomi laparoskopi yang baik dan juga berhubungan dengn posisi pasien.
46
DAFTAR PUSTAKA
1. Lam A, Dealing with Complications in Laparoscopy. University of Sydney,Australia.2009
2. Goris-Gbenou M, Arfi N, Mitach A, Rashed S, Lopez J. A Case of Delayed Diagnosis Billateral Ureteral and Bladder Injury after Laparoscopic Hysterectomy: Unusual complication. 2012
3. Garrett J, Naschimento C, Nicklin L, et all; Total laparoscopic Histerectomy : The brishbane Learning Curve. Queenland centre for Gynecological cancer, Royal womens and Brisbane Hospital, and school of Medicine, Central Clinical Division, University of Queensland, Brisbane, Queensland, Australia.2007
4. Laparoscopic Techniques for Hysterectomy. Available at: www.nice.org.uk.2007 5. Soto E, Lo Y, Friedman K et al. Total Laparoscopic Hysterectomy versus da Vinci
Robotic Hysterectomy: is Using The Robot Beneficial. Department of Obstetric Gynecology and Reproductive Science, Mount Sinai School of Medicine, New York, USA, Department of Surgery, Hospital San Jose-Tec de Monterrey, Mexico, Department of Obstetrics and Gynecology, St.Luke’s and Roosevelt Hospitals, New York, USA.2011
7. Mishra R. Laparoscopic Hysterectomy.2011
8. Chang W, Hsu W, Sheu B, Huang S, Torng P, Chang D. Minimizing Bladder Injury in Laparoscopically Assisted Vaginal Hysterectomy Among Women With Previous Cesarian Sections. Department of Obstetrics and Gynecology, National Taiwan University Hospital, 7 Chung-shan South Road, Taipei, Taiwan. 2008
9. Park S, Cho H, Kim H. Factors Determining Conversion to Laparotomy in Patients Undergoing Total Laparoscopic Hysterectomy. Department of Obstetric and