• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komponen 4 : Dukungan Pelaksanaan dan Bantuan Teknis

BAB II KETENTUAN UMUM

3.4 Komponen 4 : Dukungan Pelaksanaan dan Bantuan Teknis

Selain penambahan kapasitas, tenaga ahli, tenaga pendamping, dan pengelolaan pengetahuan untuk mendukung pengembangan inovasi, secara umum struktur penyelenggaraan bantuan teknis kegiatan Program KOTAKU-DFAT akan menggunakan dukungan Pelaksanaan dan Bantuan Teknis Program KOTAKU.

Kegiatan Program KOTAKU-DFAT akan difasilitasi oleh tim konsultan yang terdiri dari Tim Advisory, Konsultan Manajemen Pusat (KMP), Konsultan Manajemen Wilayah/ Oversight Service Provider (KMW/OSP), Konsultan Manajemen Teknis (KMT), Tim Koordinator Kota (Korkot), dan Tim Fasilitator.

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 21

Personil konsultan pendamping di tingkat kota/kabupaten dan tim fasilitator yang mendampingi lokasi sasaran Program KOTAKU-DFAT adalah sebagai berikut:

a. Pendamping Tingkat Kota/Kabupaten

Personil di tim Koordinator Kota akan menggunakan tim Asisten Kota exsisting dan dimungkinkan untuk penambahan personil Asisten Kota sesuai kebutuhan lapangan.

Untuk kota/kabupaten yang akan memiliki kegiatan yang berkaitan dengan pertanahan, maka perlu ditambah dengan Asisten Kota bidang Safeguards. Latar belakang atau pengalaman di bidang air minum dan sanitasi atau teknik penyehatan lingkungan akan sangat membantu bagi Asisten Kota bidang Infrastruktur.

b. Pendamping Tingkat Kelurahan/Desa

Tim Fasilitator Kelurahan akan mendampingi kelurahan/desa Program KOTAKU-DFAT.

Tim Fasilitator yang mendampingi kelurahan/desa yang mendapatkan Program KOTAKU- DFAT sekurang-kurangnya terdiri dari Senior Fasilitator, Fasilitator Teknik, Fasilitator Urban Planer, Fasilitator Keuangan, dan Fasilitator Sosial.

Komposisi rinci dan jenis posisi Tim Korkot dan Tim Fasilitator akan diatur kemudian dalam surat Direktur Pengembangan Kawasan Permukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya. Fungsi dan tugas masing-masing konsultan dan fasilitator terkait dengan tugas pendampingan pelaksanaan kegiatan Program KOTAKU-DFAT akan diatur rinci dalam kerangka acuan kerja masing-masing personil.

BAB IV

TAHAP PENYELENGGARAAN

Penyelenggaraan kegiatan Program KOTAKU-DFAT di tingkat kota/kabupaten dan kelurahan/desa dilaksanakan dalam empat tahap sebagai berikut:

4.1 Tahap Persiapan

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini terdiri dari:

a. Pemilihan dan penetapan lokasi sasaran kegiatan Program KOTAKU-DFAT, dimulai dari sosialisasi awal oleh PMU ke pemerintah daerah, seleksi lokasi dan penetapan daftar lokasi oleh Direktur Pengembangan Kawasan Permukiman.

b. Peningkatan kapasitas, yang terdiri dari mobilisasi tim pendamping, sosialisasi, dan pelatihan penguatan materi mengenai kegiatan Program KOTAKU-DFAT baik untuk pemerintah daerah, konsultan, fasilitator, dan masyarakat.

c. Penyiapan masyarakat dalam memasuki tahap perencanaan, yaitu membentuk dan melatih Tim Inti Perencanaan Partisipatif (TIPP). Sebaiknya TIPP terdiri dari berbagai elemen masyarakat, baik pemerintah setempat, organisasi masyarakat, individu, komunitas pemuda, komunitas lansia, penyandang disabilitas, dll. TIPP akan menjadi agen yang intensif melakukan proses perencanaan dan sebagai fasilitator konsultasi publik untuk pelibatan masyarakat yang lebih luas.

d. Rekrutmen Fasilitator UP

e. Pemetaan multipihak untuk kolaborasi sebagai pendukung pengembangan inovasi dan yang akan dilibatkan dalam setiap tahapan kegiatan Program KOTAKU-DFAT.

4.2 Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan, kegiatan Program KOTAKU-DFAT akan memberikan dukungan teknis dan peningkatan kapasitas dalam perencanaan lanjutan tata ruang, penajaman RP2KPKP dan RPLP, rencana teknis, Rancangan Teknis Rinci (DED), serta dokumen pendukung lainnya. Perencanaan kegiatan Program KOTAKU-DFAT akan mencakup penajaman perencanaan RP2KPKP dan RPLP (dan dokumen turunan/pelengkapnya) serta konsolidasi dari penajaman dokumen-dokumen tersebut. Tahap ini dilaksanakan bersama oleh pemerintah kabupaten/kota, masyarakat, dan instansi terkait lainnya untuk mengembangkan inovasi penanganan permukiman kumuh di lokasi terpilih.

Secara garis besar, tahap perencanaan di tingkat kelurahan/desa dimulai dengan memahami

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 25

permukimannya, penajaman RPLP, penyusunan rencana teknis, serta pencairan BPM tahap I (70%). Metodologi perencanaan yang diterapkan akan melibatkan kombinasi kegiatan diskusi dalam studio perencanaan, pemilihan lokasi prioritas, tinjauan lapangan, peningkatan kapasitas/pembekalan, dan konsultasi publik dalam proses yang berkesinambungan.

Metode/instrumen perencanaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kreativitas fasilitator perencanaan.

Secara paralel, tahap perencanaan di tingkat kota/kabupaten dimulai dengan meninjau kembali tantangan terkini dan masa depan dari urbanisasi dan krisis lingkungan/ekologis akibat pembangunan yang dialami kota/kabupaten, penajaman RP2KPKP, konsolidasi dengan RPLP hasil penajaman, konsolidasi hasil penajaman RP2KPKP dengan dokumen perencanaan lain di tingkat kota/kabupaten sebagai upaya untuk kolaborasi sumber daya dan sumber pendanaan, serta rangkaian konsultasi publik yang berkesinambungan.

Tahap ini merupakan salah satu tahapan kunci yang menghasilkan inovasi dalam penanganan kumuh untuk mewujudkan permukiman perkotaan layak huni, inklusif, produktif, berketahanan, dan berkelanjutan. Oleh karenanya, perlu ada penyesuaian proses perencanaan dari proses yang biasa diterapkan. Metodologi, instrumen perencanaan, keterampilan konsultan pendamping dan fasilitator, dan siapa saja yang terlibat dalam perencanaan menentukan kemungkinan terciptanya inovasi. Kolaborasi multi-pihak, multi- disiplin, dan multi-sektor, juga mendukung terciptanya inovasi. Peningkatan kapasitas selama proses perencanaan akan dilakukan untuk memperkuat, antara lain, isu-isu sosial dan lingkungan, penyertaan pengelolaan sosial dan lingkungan, gender dan inklusi sosial, serta pengelolaan risiko bencana.

RPLP harus terkonsolidasi dengan RP2KPKP dengan indikator sebagai berikut:

a. Luas Kumuh. Luas kumuh di RPLP sama dengan luas kumuh yang ada di SK kumuh Walikota/Bupati yang tercantum dalam RP2KPKP;

b. Database Permukiman RPLP dan RP2KPKP menggunakan data baseline permukiman yang sama;

c. Delineasi Kumuh Lokasi permukiman kumuh kelurahan/desa termuat dalam peta sebaran kumuh dalam RP2KPKP, dan sebaliknya, delineasi kawasan kumuh kota tercantum dalam RPLP;

d. Roadmap Penanganan Kumuh dan skenario penanganan pengurangan kumuh di dokumen RPLP selaras dengan rencana skenario penanganan kumuh di RP2KPKP;

e. Rencana Investasi serta kolaborasi rencana investasi dan kegiatan penanganan kumuh di RPLP dan RP2KPKP selaras. Rencana investasi penanganan kumuh di RPLP memuat rencana yang berkolaborasi dengan pemda dan beragam pihak;

f. Peta dan Data Keterpaduan Penanganan Kumuh Peta dan data keterpaduan rencana penanganan kumuh tercantum dalam RPLP dan RP2KPKP. Keterpaduan penanganan kumuh bukan hanya antara kelurahan/desa dengan kota/kabupaten, namun juga antar kelurahan/desa berdekatan dan/atau yang mempunyai isu penanganan yang sama.

4.3 Tahap Pelaksanaan dan Keberlanjutan

Tahap pelaksanaan akan dilaksanakan setelah pencairan BPM tahap I (70%) dicairkan ke rekening BKM/LKM. Tahap pelaksanaan terdiri dari tahap persiapan konstruksi, tahap konstruksi dan tahap pasca konstruksi. Sedangkan tahap keberlanjutan, yang terdiri dari kegiatan pengelolaan dan pemeliharaan, peningkatan kesiapsiagaan, pemantauan, evaluasi, dan pengelolaan pengetahuan. Berdasarkan pembelajaran yang diperoleh dari pengembangan inovasi penanganan kumuh di lokasi percontohan, para pelaku Program KOTAKU diharapkan untuk mengembangkan kegiatan tersebut dengan mereplikasi/mengadopsi/mengadaptasi, dan berkolaborasi.

Gambaran umum keterkaitan tahapan kegiatan KOTAKU-DFAT di tingkat kota/kabupaten dan kelurahan/desa dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 27

Gambar 2. Tahapan Kegiatan KOTAKU-DFAT

Rincian tahapan kegiatan dapat dilihat dalam Tabel di Lampiran 1

BAB V

ORGANISASI & TATA PERAN

5.1 Organisasi Pelaksana

Organisasi pelaksana kegiatan Program KOTAKU-DFAT adalah sama dan mengikuti mekanisme yang ada pada KOTAKU. Kegiatan Program KOTAKU-DFAT merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari KOTAKU. Oleh sebab itu pengelolaan kegiatan Program KOTAKU-DFAT merupakan bagian dari pengelolaan program KOTAKU yang telah diatur dalam Pedoman Umum KOTAKU yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Organisasi penyelenggaraan yang diuraikan di sini adalah organisasi penyelenggaraan KOTAKU yang fokus pada kegiatan Program KOTAKU-DFAT dan secara struktur oganisasi berada di bawah kendali PMU Program Management Unit (PMU) NSUP, NUSP-2, dan NSUP- CERC. Struktur organisasi pelaksana Program KOTAKU-DFAT merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan struktur organisasi KOTAKU secara keseluruhan, dengan penambahan personil yang dibutuhkan di tingkat nasional sampai tingkat kelurahan/desa.

Dalam penyelenggaraan Program KOTAKU-DFAT, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya menugaskan Program Management Unit (PMU) NSUP, NUSP-2, dan NSUP-CERC. PMU melalui PPK Pembinaan Manajemen II menugaskan Konsultan Manajemen Pusat (KMP) Wilayah II dan Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) / Oversight Service Provider (OSP) dengan dukungan dari Konsultan Manajemen Teknis untuk melaksanakan manajemen proyek secara menyeluruh.

Secara rinci hubungan kerja antar unsur pelaksana proyek dari tingkat pusat sampai dengan tingkat masyarakat dapat dilihat pada gambar 3 di bawah ini.

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 31

Gambar 3. Organisasi Pelaksana KOTAKU

5.2 Tata Peran Pelaku a. Tingkat Nasional

Penanggung jawab pengelolaan kegiatan Program KOTAKU-DFAT adalah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang bertindak sebagai lembaga penyelenggara program (executing agency). Untuk melaksanakan program tersebut agar dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan dan terciptanya kolaborasi dengan program lain, serta untuk mengoptimalkan hasil yang dicapai dalam rangka pencapaian tujuan kegiatan, telah dibentuk Program Management Unit (PMU) NSUP, NUSP-2 dan NSUP-CERC.

1. Program Management Unit (PMU)

Program Management Unit adalah sebuah unit kerja yang dibentuk berdasarkan Keputusan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor:

GARIS KOLABORASI

DAN KOORDINASI GARIS PELAKSANAAN GARIS DUKUNGAN PROGRAM

Tingkat

Pokja PKP Kab/Kota Tim Korkot

PEMKOT/KAB

Pokja PKP Provinsi Balai/PIU CK Provinsi KMW/KMT PEMPROV Tim Pengarah Pokja PKP

Nasional

975/KPTS/M/2019 tanggal 17 Oktober 2019 tentang Pembentukan Organisasi Pelaksana Kegiatan NSUP, NUSP-2 dan NSUP-CERC.

PMU dalam penyelenggaraan Program KOTAKU-DFAT memiliki kewenangan sebagai berikut:

a) Menyusun kebijakan penyelenggaraan Program KOTAKU-DFAT.

b) Memastikan penyusunan rencana pelaksanaan, pembinaan teknis, dan sinkronisasi program dan strategi keberlanjutan program Program KOTAKU-DFAT.

c) Melakukan koordinasi dengan Bappenas, Kementerian Keuangan, ATR/BPN berkaitan dengan pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

d) Memastikan peningkatan kapasitas pelaku untuk membuka ruang inovasi dalam pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

e) Menyusun kebijakan tentang rekrutmen penambahan personil pendamping dan fasilitator.

f) Memfasilitasi seleksi lokasi pilot Program KOTAKU-DFAT.

g) Melakukan koordinasi dan fasilitasi pengembangan kemitraan dengan berbagai pihak dan membuka akses kepada berbagai sumberdaya untuk kelancaran inovasi dalam kegiatan Program KOTAKU-DFAT.

h) Melakukan sosialisasi tingkat pusat dan daerah.

i) Melakukan pembinaan kelembagaan berkaitan dengan kegiatan Program KOTAKU- DFAT.

j) Melakukan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan.

k) Membantu menyelesaikan Pengelolaan Informasi dan Masalah.

2. Project Implementation Unit (PIU)

Project Implementation Unit berperan membantu pelaksanaan tugas PMU dalam pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai berikut:

a) Melaksanakan kegiatan Program KOTAKU-DFAT sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

b) Melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pengelolaan pengetahuan.

c) Memastikan tersusunnya POS dan modul-modul Pelatihan.

d) Melakukan pengumpulan serta pengolahan data, pelaporan, dan informasi pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 33

e) Menyampaikan informasi yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

f) Melakukan penanganan pengaduan dari pihak manapun yang berkaitan dengan Program KOTAKU-DFAT.

g) Melakukan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan tugas KMP dan KMW/OSP.

b. Tingkat Provinsi

Pelaksana di tingkat provinsi ditunjuk PIU Provinsi/Balai PPW dengan tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

1. Melaksanakan kegiatan teknis dan administratif untuk pelaksanaan Program KOTAKU- DFAT.

2. Menyalurkan dan mengadministrasikan dana Program KOTAKU-DFAT.

3. Melakukan rekrutmen tim koordinator kota dan tim fasilitator.

4. Melakukan pembayaran gaji dan BOP tim korkot dan fasilitator.

5. Melaksanakan sosialisasi dan koordinasi tingkat provinsi.

6. Melakukan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

7. Mengelola tata pelaporan pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

8. Mempertanggungjawabkan seluruh pengeluaran dana sesuai ketentuan yang berlaku.

9. Menindak lanjuti berbagai pengaduan terkait kegiatan Program KOTAKU-DFAT sampai proses hukum/ke tangan penegak hukum dengan tetap mengutamakan penyelesaian secara kekeluargaan.

c. Tingkat Kabupaten/Kota

Pelaku utama kegiatan Program KOTAKU-DFAT di tingkat kabupaten/kota adalah pemerintah kabupaten/kota dan Pokja PKP Kabupaten/Kota. Tugas masing-masing pelaku tingkat kota/kabupaten adalah sebagai berikut:

1. Pemerintah Kabupaten/Kota, dalam hal ini Bupati/Walikota sebagai penanggung jawab pelaksanaan program/kegiatan di kabupaten/kota:

a) mengoordinasikan penyelenggaraan Program KOTAKU-DFAT di wilayah kerjanya;

b) membina dan mengendalikan kegiatan Program KOTAKU-DFAT di wilayah kerjanya;

c) mengkoordinasikan keterpaduan program dan penganggaran (APBD); dan

d) melakukan konsolidasi perencanaan, pendanaan, dan pendataan dari tingkat kabupaten/kota.

2. Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan Permukiman (Pokja PKP) Kabupaten/Kota a) Melaksanakan penajaman dokumen Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas

Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KPKP) dan konsolidasi hasil penajaman dengan RPLP;

b) memastikan keterlibatan aktif dinas dan lembaga yang berurusan dengan perumahan dan Permukiman, terutama berkaitan dengan air minum, air limbah, sampah, lingkungan hidup, kebencanaan (termasuk wabah), inklusi, termasuk penyandang disabilitas;

c) menambah keberagaman sektor dan disiplin di dalam keanggotaannya, untuk mendukung terbangunnya inovasi di tingkat kota/kabupaten dan masyarakat;

d) memastikan kolaborasi berjalan efektif serta memediasi penanganan masalah antar sektor/lembaga/tingkatan pemerintahan dan dengan komunitas (termasuk fasilitator dan Tim Korkot) yang bersangkutan;

e) memfasilitasi sinkronisasi perencanaan dan pelaksanaan di tingkat kota/kabupaten dengan tingkat komunitas dan mengkoordinasikan keterpaduan program pencapaian target kegiatan Program KOTAKU-DFAT;

f) menyampaikan surat persetujuan RPLP;

g) memastikan keterpaduan program dan penganggaran (APBD) untuk kegiatan pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman dengan program KOTAKU- DFAT;

h) mengoordinasikan pemantauan pelaksanaan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman dalam program KOTAKU-DFAT; dan

i) mengoordinasikan, menyiapkan, melaksanakan, memantau, mndokumentasikan, dan melaporkan hal-hal terkait pengelolaan dampak lingkungan dan sosial;

j) memfasilitasi sosialisasi tingkat kota/kabupaten selama pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

k) memantau dan mengendalikan pelaksanaan program KOTAKU-DFAT di tingkat kabupaten/kota dibantu oleh Tim Korkot.

l) memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul atas kegiatan Program KOTAKU-DFAT.

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 35

d. Tingkat Kecamatan

Perangkat daerah kecamatan sebagai pelaksana teknis kewilayahan yang dipimpin oleh camat merupakan pemegang peran utama di tingkat kecamatan. Berikut ini tugas camat dalam program ini adalah:

a) mengkoordinasikan penyelenggaraan Program KOTAKU-DFAT di wilayah kerjanya;

b) memastikan Renstra Kecamatan memuat rencana penanganan permukiman, terutama permukiman kumuh, serta melengkapi Renstra Kecamatan dengan hasil penajaman RPLP;

c) melakukan sinkronisasi target terkait perumahan dan permukiman layak huni dalam Renstra Kecamatan dengan RPJM Kabupaten/kota;

d) berkoordinasi dengan Pokja PKP dan perangkat desa/lurah yang ada di wilayah kerjanya;

e) bertanggung jawab atas pengelolaan lingkungan dan sosial di wilayah kerjanya;

f) membina penyelenggaraan Program KOTAKU-DFAT di wilayah kerjanya; dan g) melakukan pembinaan kepada pemerintahan kelurahan/desa dan BKM/LKM.

h) memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul atas kegiatan Program KOTAKU-DFAT.

e. Tingkat Kelurahan/Desa

Di tingkat kelurahan/desa, unsur utama pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT adalah Lurah/Kepala Desa dan perangkatnya, BKM/LKM, UPL, TIPP, dan KSM/Panitia dengan peran dan tugas masing-masing unsur sbb:

1. Lurah/Kepala Desa

Secara umum peran utama lurah/ kepala desa adalah memberikan dukungan dan jaminan agar pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT di wilayah kerjanya dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan aturan yang berlaku sehingga tujuan yang diharapkan melalui Program KOTAKU-DFAT dapat tercapai dengan baik. Untuk itu, lurah/ kepala desa dapat mengerahkan perangkat kelurahan atau desa sesuai dengan fungsi masing- masing.

Lurah/kepala desa bekerja bersama BKM/LKM dalam penyelenggaraan kegiatan Program KOTAKU-DFAT di wilayahnya.

Tugas dan tanggung jawab lurah/kepala desa dalam pelaksanaan Program KOTAKU- DFAT, antara lain adalah sebagai berikut:

a) Memfasilitasi keterlibatan aktif lembaga tingkat kelurahan/ desa yang berurusan dengan perumahan dan permukiman, terutama berkaitan dengan air minum, air limbah, sampah, lingkungan hidup, kebencanaan (termasuk wabah), inklusi, termasuk penyandang disabilitas;

b) Memfasilitasi sosialisasi tingkat kelurahan/desa;

c) Memfasilitasi terselenggaranya pertemuan pengurus RT/RW dan masyarakat dengan Korkot/Askot Mandiri/Tim Fasilitator, dan relawan masyarakat dalam upaya penyebarluasan informasi dan pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT;

d) Memfasilitasi koordinasi dan sinkronisasi rencana dan kegiatan yang terkait dengan pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT dengan rencana kegiatan pembangunan tingkat kelurahan/desa;

e) Berkoordinasi dengan Tim Fasilitator, relawan masyarakat dan BKM/LKM, memfasilitasi penyelesaian persoalan dan konflik serta penanganan pengaduan yang muncul dalam pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT;

f) Memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul atas kegiatan Program KOTAKU-DFAT.

2. BKM/LKM

BKM/LKM bekerja bersama dengan Lurah/Kepala Desa dalam penyelenggaraan kegiatan Program KOTAKU-DFAT di wilayahnya. BKM/LKM dalam pelaksanaan Program KOTAKU- DFAT mempunyai tugas sebagai berikut:

a) Melaksanakan penajaman dokumen Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP) dan berbagai instrumen/dokumen turunannya serta mengkonsolidasi hasil penajaman RPLP dengan RP2KPKP;

b) Bekerja sama aktif dengan Lurah/Kades untuk membangun kolaborasi dengan lembaga tingkat kelurahan/ desa yang berurusan dengan perumahan dan permukiman, terutama berkaitan dengan air minum, air limbah, sampah, lingkungan hidup, kebencanaan (termasuk wabah), inklusi, termasuk penyandang disabilitas;

c) Membangun kondisi yang kondusif dalam menumbuhkan inovasi untuk perumahan dan permukiman layak huni;

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 37

d) Menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti akademisi, LSM/OMS dengan berbagai bidang keahlian, berbagai dinas pemerintahan, sektor swasta, dsb, untuk mendukung pengembangan inovasi;

e) Menjamin keterlibatan semua pihak dan lapisan masyarakat dalam proses pemgambilan keputusan yang partisipatif, transparan, demokratis, dan inklusif;

f) Melaksanakan pencairan dana kepada KSM/Panitia;

g) Membuat Surat Perjanjian Pemanfaatan Dana Lingkungan (SPPD-L) dengan KSM/

Panitia selaku pelaksana kegiatan Program KOTAKU-DFAT; dan

h) Memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul ditingkat kelurahan, termasuk memberikan sanksi/peringatan kepada KSM/Panitia atas pelanggaran pemanfaatan dana dan atau pelanggaran atas ketentuan-ketentuan dalam SPPD-L;

i) Memastikan investasi yang akan dibangun adalah kegiatan inovatif yang berkontribusi pada berkurangnya luasan kumuh melalui pilot tematik penataan lingkungan permukiman yang inovatif.

3. Unit Pengelola Lingkungan (UPL)

Unit Pengelola Lingkungan (UPL) unit pelaksana yang dibentuk oleh BKM/LKM berperan mengkoordinasikan seluruh kegiatan sebagai berikut:

a) Memfasilitasi pembentukan Organisasi Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP);

b) Menyelenggarakan Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi (MP2K) bagi semua tim pelaksana (KSM/ Panitia) termasuk praktek lapangan;

c) Memverifikasi administrasi pencairan/pemanfaatan dana kepada KSM/ Panitia;

d) Memfasilitasi, mengawasi dan mengkoordinir seluruh pelaksanaan kegiatan KSM/

Panitia termasuk memberikan penguatan teknik konstruksi maupun administrasi kegiatan;

e) Menyelenggarakan rapat-rapat evaluasi rutin bersama KSM/ Panitia untuk mengevaluasi kemajuan pelaksanaan kegiatan dan mendorong upaya-upaya percepatan penyelesaiaan kegiatan lapangan;

f) Bersama Tim Fasilitator, terutama Faskel Teknik dan KSM/ Panitia melakukan cek opname pekerjaan di lapangan;

g) Memfasilitasi penyusunan dan memverifikasi laporan-laporan Kegiatan KSM/ Panitia (Mingguan, Bulanan, LPJ, termasuk foto dokumentasi) dan melaporkannya kepada BKM/LKM;

h) Memastikan semua infrastruktur memenuhi persyaratan teknis (bangunan berkualitas baik/ kuat dan tahan lama, bermanfaat/ berfungsi, serta memiliki rencana Operasional dan Pemeliharaan (O&P), termasuk rencana kerjanya);

i) Bersama Fasilitator Teknik/Askot Infrastruktur melakukan verifikasi proposal KSM/

Panitia (termasuk membuat Berita Acara Verifikasi);

j) Bersama Fasilitator Teknik/Askot Infrastruktur dan pihak KSM/ Panitia melakukan Sertifikasi Kegiatan (termasuk membuat BAP2);

k) Memastikan investasi yang dibangun memenuhi persyaratan teknis konstruksi, berkualitas baik, berfungsi, dimanfaatkan sesuai rencana, dioperasikan, dipeliharan, serta dapat dikembangkan.

4. Tim Inti Perencanaan Partisipatif (TIPP)

TIPP terdiri dari berbagai elemen masyarakat yang berperan dalam menyelenggarakan dan melaksanakan perencanaan partisipatif. Sebaiknya, TIPP dibentuk oleh warga yang beragam usia, gender, disiplin, dan kapasitas. Pada tahap tertentu, TIPP melakukan konsultasi publik yang melibatkan lebih banyak lagi unsur masyarakat. Selama proses, TIPP akan memperoleh penguatan-penguatan teknis untuk mendukung pengembangan inovasi.

5. Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM)

Peran KSM/Panitia dalam kegiatan Program KOTAKU-DFAT adalah sebagai berikut:

a) Menyusun proposal kegiatan infrastruktur yang sudah disepakati bersama jenis kegiatan dan lokasinya;

b) Mengelola dan melaksanakan kegiatan Program KOTAKU-DFAT secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan, serta memastikan prasarana yang dibangun tidak menimbulkan dampak lingkungan dan sosial;

c) Menyampaikan Jadwal Kerja, Rencana Pengadaan Bahan/Alat, Rencana Pemeliharaan, Rencana Tenaga Kerja, Tim Pelaksana Kegiatan yang lebih rinci kepada UPL sebelum dilaksanakan Musyawarah Pra Pelaksanaan Kegiatan (MP2K);

d) Melaksanakan Musyawarah Pengadaan Bahan/Alat, Musyawarah Pertanggungjawaban Pelaksanaan Kegiatan dan memastikan Tim O&P turut serta dalam MP2K;

e) Memastikan semua infrastruktur

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 39

f) Membangun prasarana dengan kualitas baik, bermanfaat sesuai kebutuhan masyarakat dan memenuhi persyaratan teknis konstruksi (Bangunan berkualitas baik/kuat & tahan lama, bermanfaat/berfungsi, serta memiliki Operasi dan Pemeliharaan (O&P), termasuk rencana kerjanya);

g) Membuat Papan Nama/Informasi Proyek sehingga dapat diketahui oleh masyarakat umum;

h) Membuat laporan pertanggungjawaban (LPJ) kegiatan dan mengarsipkannya;

i) Melakukan penggantian atau perbaikan prasarana yang diperintahkan oleh konsultan/UPL selama proses konstruksi berlangsung;

j) Mendorong pelibatan masyarakat sebanyak-banyaknya dalam pelaksanaan kegiatan;

k) Aktif melakukan penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul akibat pelaksanaan kegiatannya;

l) Melaksanakan Operasi dan Pemeliharaan (O&P) investasi yang dibangun, termasuk memiliki rencana kerja yang jelas.

BAB VI

PEMANTAUAN & PENGENDALIAN

PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan pemantauan dan pengendalian kegiatan Program KOTAKU-DFAT pada dasarnya sama dengan kegiatan KOTAKU, meliputi kegiatan pemantauan (monitoring), indikator keberhasilan, pengendalian, evaluasi kegiatan menyeluruh, dan pelaporan. Pemantauan dan pengendalian diselenggarakan untuk memastikan pelaksanaan pembangunan tepat waktu, hasil-hasil pembangunan memenuhi standar kualitas yang diharapkan, serta mengantisipasi dan meminimalisasi terjadinya penyimpangan/ penyalahgunaan pemanfaatan dana.

Pemanfaatan dana tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan.

Pemanfaatan dana tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan.

Dokumen terkait