• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ORGANISASI DAN TATA PERAN

5.2 Tata Peran Pelaku

Penanggung jawab pengelolaan kegiatan Program KOTAKU-DFAT adalah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang bertindak sebagai lembaga penyelenggara program (executing agency). Untuk melaksanakan program tersebut agar dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan dan terciptanya kolaborasi dengan program lain, serta untuk mengoptimalkan hasil yang dicapai dalam rangka pencapaian tujuan kegiatan, telah dibentuk Program Management Unit (PMU) NSUP, NUSP-2 dan NSUP-CERC.

1. Program Management Unit (PMU)

Program Management Unit adalah sebuah unit kerja yang dibentuk berdasarkan Keputusan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor:

GARIS KOLABORASI

DAN KOORDINASI GARIS PELAKSANAAN GARIS DUKUNGAN PROGRAM

Tingkat

Pokja PKP Kab/Kota Tim Korkot

PEMKOT/KAB

Pokja PKP Provinsi Balai/PIU CK Provinsi KMW/KMT PEMPROV Tim Pengarah Pokja PKP

Nasional

975/KPTS/M/2019 tanggal 17 Oktober 2019 tentang Pembentukan Organisasi Pelaksana Kegiatan NSUP, NUSP-2 dan NSUP-CERC.

PMU dalam penyelenggaraan Program KOTAKU-DFAT memiliki kewenangan sebagai berikut:

a) Menyusun kebijakan penyelenggaraan Program KOTAKU-DFAT.

b) Memastikan penyusunan rencana pelaksanaan, pembinaan teknis, dan sinkronisasi program dan strategi keberlanjutan program Program KOTAKU-DFAT.

c) Melakukan koordinasi dengan Bappenas, Kementerian Keuangan, ATR/BPN berkaitan dengan pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

d) Memastikan peningkatan kapasitas pelaku untuk membuka ruang inovasi dalam pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

e) Menyusun kebijakan tentang rekrutmen penambahan personil pendamping dan fasilitator.

f) Memfasilitasi seleksi lokasi pilot Program KOTAKU-DFAT.

g) Melakukan koordinasi dan fasilitasi pengembangan kemitraan dengan berbagai pihak dan membuka akses kepada berbagai sumberdaya untuk kelancaran inovasi dalam kegiatan Program KOTAKU-DFAT.

h) Melakukan sosialisasi tingkat pusat dan daerah.

i) Melakukan pembinaan kelembagaan berkaitan dengan kegiatan Program KOTAKU- DFAT.

j) Melakukan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan.

k) Membantu menyelesaikan Pengelolaan Informasi dan Masalah.

2. Project Implementation Unit (PIU)

Project Implementation Unit berperan membantu pelaksanaan tugas PMU dalam pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai berikut:

a) Melaksanakan kegiatan Program KOTAKU-DFAT sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

b) Melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pengelolaan pengetahuan.

c) Memastikan tersusunnya POS dan modul-modul Pelatihan.

d) Melakukan pengumpulan serta pengolahan data, pelaporan, dan informasi pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 33

e) Menyampaikan informasi yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

f) Melakukan penanganan pengaduan dari pihak manapun yang berkaitan dengan Program KOTAKU-DFAT.

g) Melakukan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan tugas KMP dan KMW/OSP.

b. Tingkat Provinsi

Pelaksana di tingkat provinsi ditunjuk PIU Provinsi/Balai PPW dengan tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

1. Melaksanakan kegiatan teknis dan administratif untuk pelaksanaan Program KOTAKU- DFAT.

2. Menyalurkan dan mengadministrasikan dana Program KOTAKU-DFAT.

3. Melakukan rekrutmen tim koordinator kota dan tim fasilitator.

4. Melakukan pembayaran gaji dan BOP tim korkot dan fasilitator.

5. Melaksanakan sosialisasi dan koordinasi tingkat provinsi.

6. Melakukan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

7. Mengelola tata pelaporan pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

8. Mempertanggungjawabkan seluruh pengeluaran dana sesuai ketentuan yang berlaku.

9. Menindak lanjuti berbagai pengaduan terkait kegiatan Program KOTAKU-DFAT sampai proses hukum/ke tangan penegak hukum dengan tetap mengutamakan penyelesaian secara kekeluargaan.

c. Tingkat Kabupaten/Kota

Pelaku utama kegiatan Program KOTAKU-DFAT di tingkat kabupaten/kota adalah pemerintah kabupaten/kota dan Pokja PKP Kabupaten/Kota. Tugas masing-masing pelaku tingkat kota/kabupaten adalah sebagai berikut:

1. Pemerintah Kabupaten/Kota, dalam hal ini Bupati/Walikota sebagai penanggung jawab pelaksanaan program/kegiatan di kabupaten/kota:

a) mengoordinasikan penyelenggaraan Program KOTAKU-DFAT di wilayah kerjanya;

b) membina dan mengendalikan kegiatan Program KOTAKU-DFAT di wilayah kerjanya;

c) mengkoordinasikan keterpaduan program dan penganggaran (APBD); dan

d) melakukan konsolidasi perencanaan, pendanaan, dan pendataan dari tingkat kabupaten/kota.

2. Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan Permukiman (Pokja PKP) Kabupaten/Kota a) Melaksanakan penajaman dokumen Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas

Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KPKP) dan konsolidasi hasil penajaman dengan RPLP;

b) memastikan keterlibatan aktif dinas dan lembaga yang berurusan dengan perumahan dan Permukiman, terutama berkaitan dengan air minum, air limbah, sampah, lingkungan hidup, kebencanaan (termasuk wabah), inklusi, termasuk penyandang disabilitas;

c) menambah keberagaman sektor dan disiplin di dalam keanggotaannya, untuk mendukung terbangunnya inovasi di tingkat kota/kabupaten dan masyarakat;

d) memastikan kolaborasi berjalan efektif serta memediasi penanganan masalah antar sektor/lembaga/tingkatan pemerintahan dan dengan komunitas (termasuk fasilitator dan Tim Korkot) yang bersangkutan;

e) memfasilitasi sinkronisasi perencanaan dan pelaksanaan di tingkat kota/kabupaten dengan tingkat komunitas dan mengkoordinasikan keterpaduan program pencapaian target kegiatan Program KOTAKU-DFAT;

f) menyampaikan surat persetujuan RPLP;

g) memastikan keterpaduan program dan penganggaran (APBD) untuk kegiatan pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman dengan program KOTAKU- DFAT;

h) mengoordinasikan pemantauan pelaksanaan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman dalam program KOTAKU-DFAT; dan

i) mengoordinasikan, menyiapkan, melaksanakan, memantau, mndokumentasikan, dan melaporkan hal-hal terkait pengelolaan dampak lingkungan dan sosial;

j) memfasilitasi sosialisasi tingkat kota/kabupaten selama pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT.

k) memantau dan mengendalikan pelaksanaan program KOTAKU-DFAT di tingkat kabupaten/kota dibantu oleh Tim Korkot.

l) memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul atas kegiatan Program KOTAKU-DFAT.

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 35

d. Tingkat Kecamatan

Perangkat daerah kecamatan sebagai pelaksana teknis kewilayahan yang dipimpin oleh camat merupakan pemegang peran utama di tingkat kecamatan. Berikut ini tugas camat dalam program ini adalah:

a) mengkoordinasikan penyelenggaraan Program KOTAKU-DFAT di wilayah kerjanya;

b) memastikan Renstra Kecamatan memuat rencana penanganan permukiman, terutama permukiman kumuh, serta melengkapi Renstra Kecamatan dengan hasil penajaman RPLP;

c) melakukan sinkronisasi target terkait perumahan dan permukiman layak huni dalam Renstra Kecamatan dengan RPJM Kabupaten/kota;

d) berkoordinasi dengan Pokja PKP dan perangkat desa/lurah yang ada di wilayah kerjanya;

e) bertanggung jawab atas pengelolaan lingkungan dan sosial di wilayah kerjanya;

f) membina penyelenggaraan Program KOTAKU-DFAT di wilayah kerjanya; dan g) melakukan pembinaan kepada pemerintahan kelurahan/desa dan BKM/LKM.

h) memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul atas kegiatan Program KOTAKU-DFAT.

e. Tingkat Kelurahan/Desa

Di tingkat kelurahan/desa, unsur utama pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT adalah Lurah/Kepala Desa dan perangkatnya, BKM/LKM, UPL, TIPP, dan KSM/Panitia dengan peran dan tugas masing-masing unsur sbb:

1. Lurah/Kepala Desa

Secara umum peran utama lurah/ kepala desa adalah memberikan dukungan dan jaminan agar pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT di wilayah kerjanya dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan aturan yang berlaku sehingga tujuan yang diharapkan melalui Program KOTAKU-DFAT dapat tercapai dengan baik. Untuk itu, lurah/ kepala desa dapat mengerahkan perangkat kelurahan atau desa sesuai dengan fungsi masing- masing.

Lurah/kepala desa bekerja bersama BKM/LKM dalam penyelenggaraan kegiatan Program KOTAKU-DFAT di wilayahnya.

Tugas dan tanggung jawab lurah/kepala desa dalam pelaksanaan Program KOTAKU- DFAT, antara lain adalah sebagai berikut:

a) Memfasilitasi keterlibatan aktif lembaga tingkat kelurahan/ desa yang berurusan dengan perumahan dan permukiman, terutama berkaitan dengan air minum, air limbah, sampah, lingkungan hidup, kebencanaan (termasuk wabah), inklusi, termasuk penyandang disabilitas;

b) Memfasilitasi sosialisasi tingkat kelurahan/desa;

c) Memfasilitasi terselenggaranya pertemuan pengurus RT/RW dan masyarakat dengan Korkot/Askot Mandiri/Tim Fasilitator, dan relawan masyarakat dalam upaya penyebarluasan informasi dan pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT;

d) Memfasilitasi koordinasi dan sinkronisasi rencana dan kegiatan yang terkait dengan pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT dengan rencana kegiatan pembangunan tingkat kelurahan/desa;

e) Berkoordinasi dengan Tim Fasilitator, relawan masyarakat dan BKM/LKM, memfasilitasi penyelesaian persoalan dan konflik serta penanganan pengaduan yang muncul dalam pelaksanaan Program KOTAKU-DFAT;

f) Memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul atas kegiatan Program KOTAKU-DFAT.

2. BKM/LKM

BKM/LKM bekerja bersama dengan Lurah/Kepala Desa dalam penyelenggaraan kegiatan Program KOTAKU-DFAT di wilayahnya. BKM/LKM dalam pelaksanaan Program KOTAKU- DFAT mempunyai tugas sebagai berikut:

a) Melaksanakan penajaman dokumen Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP) dan berbagai instrumen/dokumen turunannya serta mengkonsolidasi hasil penajaman RPLP dengan RP2KPKP;

b) Bekerja sama aktif dengan Lurah/Kades untuk membangun kolaborasi dengan lembaga tingkat kelurahan/ desa yang berurusan dengan perumahan dan permukiman, terutama berkaitan dengan air minum, air limbah, sampah, lingkungan hidup, kebencanaan (termasuk wabah), inklusi, termasuk penyandang disabilitas;

c) Membangun kondisi yang kondusif dalam menumbuhkan inovasi untuk perumahan dan permukiman layak huni;

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 37

d) Menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti akademisi, LSM/OMS dengan berbagai bidang keahlian, berbagai dinas pemerintahan, sektor swasta, dsb, untuk mendukung pengembangan inovasi;

e) Menjamin keterlibatan semua pihak dan lapisan masyarakat dalam proses pemgambilan keputusan yang partisipatif, transparan, demokratis, dan inklusif;

f) Melaksanakan pencairan dana kepada KSM/Panitia;

g) Membuat Surat Perjanjian Pemanfaatan Dana Lingkungan (SPPD-L) dengan KSM/

Panitia selaku pelaksana kegiatan Program KOTAKU-DFAT; dan

h) Memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul ditingkat kelurahan, termasuk memberikan sanksi/peringatan kepada KSM/Panitia atas pelanggaran pemanfaatan dana dan atau pelanggaran atas ketentuan-ketentuan dalam SPPD-L;

i) Memastikan investasi yang akan dibangun adalah kegiatan inovatif yang berkontribusi pada berkurangnya luasan kumuh melalui pilot tematik penataan lingkungan permukiman yang inovatif.

3. Unit Pengelola Lingkungan (UPL)

Unit Pengelola Lingkungan (UPL) unit pelaksana yang dibentuk oleh BKM/LKM berperan mengkoordinasikan seluruh kegiatan sebagai berikut:

a) Memfasilitasi pembentukan Organisasi Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP);

b) Menyelenggarakan Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi (MP2K) bagi semua tim pelaksana (KSM/ Panitia) termasuk praktek lapangan;

c) Memverifikasi administrasi pencairan/pemanfaatan dana kepada KSM/ Panitia;

d) Memfasilitasi, mengawasi dan mengkoordinir seluruh pelaksanaan kegiatan KSM/

Panitia termasuk memberikan penguatan teknik konstruksi maupun administrasi kegiatan;

e) Menyelenggarakan rapat-rapat evaluasi rutin bersama KSM/ Panitia untuk mengevaluasi kemajuan pelaksanaan kegiatan dan mendorong upaya-upaya percepatan penyelesaiaan kegiatan lapangan;

f) Bersama Tim Fasilitator, terutama Faskel Teknik dan KSM/ Panitia melakukan cek opname pekerjaan di lapangan;

g) Memfasilitasi penyusunan dan memverifikasi laporan-laporan Kegiatan KSM/ Panitia (Mingguan, Bulanan, LPJ, termasuk foto dokumentasi) dan melaporkannya kepada BKM/LKM;

h) Memastikan semua infrastruktur memenuhi persyaratan teknis (bangunan berkualitas baik/ kuat dan tahan lama, bermanfaat/ berfungsi, serta memiliki rencana Operasional dan Pemeliharaan (O&P), termasuk rencana kerjanya);

i) Bersama Fasilitator Teknik/Askot Infrastruktur melakukan verifikasi proposal KSM/

Panitia (termasuk membuat Berita Acara Verifikasi);

j) Bersama Fasilitator Teknik/Askot Infrastruktur dan pihak KSM/ Panitia melakukan Sertifikasi Kegiatan (termasuk membuat BAP2);

k) Memastikan investasi yang dibangun memenuhi persyaratan teknis konstruksi, berkualitas baik, berfungsi, dimanfaatkan sesuai rencana, dioperasikan, dipeliharan, serta dapat dikembangkan.

4. Tim Inti Perencanaan Partisipatif (TIPP)

TIPP terdiri dari berbagai elemen masyarakat yang berperan dalam menyelenggarakan dan melaksanakan perencanaan partisipatif. Sebaiknya, TIPP dibentuk oleh warga yang beragam usia, gender, disiplin, dan kapasitas. Pada tahap tertentu, TIPP melakukan konsultasi publik yang melibatkan lebih banyak lagi unsur masyarakat. Selama proses, TIPP akan memperoleh penguatan-penguatan teknis untuk mendukung pengembangan inovasi.

5. Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM)

Peran KSM/Panitia dalam kegiatan Program KOTAKU-DFAT adalah sebagai berikut:

a) Menyusun proposal kegiatan infrastruktur yang sudah disepakati bersama jenis kegiatan dan lokasinya;

b) Mengelola dan melaksanakan kegiatan Program KOTAKU-DFAT secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan, serta memastikan prasarana yang dibangun tidak menimbulkan dampak lingkungan dan sosial;

c) Menyampaikan Jadwal Kerja, Rencana Pengadaan Bahan/Alat, Rencana Pemeliharaan, Rencana Tenaga Kerja, Tim Pelaksana Kegiatan yang lebih rinci kepada UPL sebelum dilaksanakan Musyawarah Pra Pelaksanaan Kegiatan (MP2K);

d) Melaksanakan Musyawarah Pengadaan Bahan/Alat, Musyawarah Pertanggungjawaban Pelaksanaan Kegiatan dan memastikan Tim O&P turut serta dalam MP2K;

e) Memastikan semua infrastruktur

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 39

f) Membangun prasarana dengan kualitas baik, bermanfaat sesuai kebutuhan masyarakat dan memenuhi persyaratan teknis konstruksi (Bangunan berkualitas baik/kuat & tahan lama, bermanfaat/berfungsi, serta memiliki Operasi dan Pemeliharaan (O&P), termasuk rencana kerjanya);

g) Membuat Papan Nama/Informasi Proyek sehingga dapat diketahui oleh masyarakat umum;

h) Membuat laporan pertanggungjawaban (LPJ) kegiatan dan mengarsipkannya;

i) Melakukan penggantian atau perbaikan prasarana yang diperintahkan oleh konsultan/UPL selama proses konstruksi berlangsung;

j) Mendorong pelibatan masyarakat sebanyak-banyaknya dalam pelaksanaan kegiatan;

k) Aktif melakukan penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul akibat pelaksanaan kegiatannya;

l) Melaksanakan Operasi dan Pemeliharaan (O&P) investasi yang dibangun, termasuk memiliki rencana kerja yang jelas.

BAB VI

PEMANTAUAN & PENGENDALIAN

PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan pemantauan dan pengendalian kegiatan Program KOTAKU-DFAT pada dasarnya sama dengan kegiatan KOTAKU, meliputi kegiatan pemantauan (monitoring), indikator keberhasilan, pengendalian, evaluasi kegiatan menyeluruh, dan pelaporan. Pemantauan dan pengendalian diselenggarakan untuk memastikan pelaksanaan pembangunan tepat waktu, hasil-hasil pembangunan memenuhi standar kualitas yang diharapkan, serta mengantisipasi dan meminimalisasi terjadinya penyimpangan/ penyalahgunaan pemanfaatan dana.

Pemanfaatan dana tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan.

6.1 Indikator Keberhasilan

Indikator penilaian capaian keberhasilan untuk lokasi sasaran yang didanai oleh Program KOTAKU-DFAT dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

Tabel 2. Indikator Kinerja Program KOTAKU-DFAT

Nama Indikator Baseline

Target Tahunan 2021 Target Akhir

2022 Outcome Indicator

Jumlah orang yang menerima “peningkatan kualitas infrastruktur” yang difasilitasi proyek (perempuan) (jumlah orang)

0.00 10,000 20,000

Jumlah orang yang menerima “peningkatan kualitas sumber air” yang difasilitasi proyek (perempuan) (jumlah orang)

0.00 3,000 6,000

Jumlah orang yang menerima “peningkatan kualitas sanitasi” yang difasilitasi proyek (perempuan) (jumlah orang)

0.00 3,000 6,000

Jumlah orang menerima pengumpulan sampah secara berkala yang difasilitasi proyek (perempuan) (jumlah orang)

0.00 10,000 20,000

Jumlah orang yang menerima “peningkatan kualitas drainase” yang difasilitasi proyek (perempuan) (jumlah orang)

0.00 3,000 6,000

Result Indicator

Kegiatan 3. Dukungan untuk Skema Percontohan Infrastruktur dan Layanan

Nama Indikator Baseline

Target Tahunan 2021 Target Akhir

2022 Persentase pelayanan air minum dan sanitasi

terbangun dan berfungsi, yang menerapkan desain inklusif disabilitas

0 40% 50%

Catatan: Indikator Kinerja KOTAKU-DFAT merupakan bagian dari Indikator Kinerja KOTAKU

6.2 Pelaku Pemantauan dan Pengendalian

Pelaksana pemantauan dan pengendalian kegiatan Program KOTAKU-DFAT terdiri dari pelaku tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan kelurahan/desa dengan para pelaku sebagai berikut:

a. Tingkat Pusat terdiri dari PMU, PPK Pengendalian II dan dibantu oleh Konsultan Manajemen Pusat dan Advisory;

b. Tingkat Provinsi terdiri dari BPPW Provinsi, PPK Provinsi dibantu oleh konsultan (KMW/OSP dan KMT);

c. Tingkat Kabupaten/Kota terdiri dari Pokja PKP Kabupaten/Kota dibantu oleh Tim Korkot;

d. Tingkat Kelurahan/Desa terdiri dari BKM/LKM/UPL, Lurah/Kades, TIPP, KSM, relawan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, dibantu oleh Tim Fasilitator.

6.3 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Pemantauan

Kegiatan pemantauan diselenggarakan secara periodik, sekurang-kurangnya satu kali setiap tahapan kegiatan. Khusus untuk tingkat kelurahan/desa, pemantauan kegiatan dilakukan sejak tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan dan pemeliharaan.

6.4 Pelaporan Kegiatan Pemantauan

Tim pemantauan berkewajiban menyusun laporan hasil pelaksanaan kegiatan pemantauan.

Kegiatan pemantauan dilakukan sejalan dengan pemantauan program KOTAKU secara menyeluruh melalui SIM dan situs KOTAKU. Secara khusus, pemantauan pelaksanaan dan

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 43

capaian kegiatan hibah ini akan mendata aspek-aspek yang terkait peningkatan akses air minum dan sanitasi serta data pemanfaat yang terpilah menurut gender dan disabilitas.

Bila dalam kegiatan pemantauan tersebut terindentifikasi temuan adanya penyimpangan dan penyalahgunaan pemanfaatan dana Program KOTAKU-DFAT, maka Satker PPK Provinsi dapat menghentikan sementara pelaksanaan kegiatan dan pemanfaatan dana BPM sesuai surat perjanjian yang tertuang dalam Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) serta dapat menyelesaikannya persoalan tersebut melalui jalur hukum.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 TAHAPAN PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT

Berikut ini gambaran umum tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan baik di tingkat kota/kabupaten maupun kelurahan/desa secara paralel. Pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setempat. Kegiatan pemantauan dilaksanakan di setiap tahapan.

1. Tahapan Kegiatan Tingkat Kota/Kabupaten

No Kegiatan Pelaku Output

I Tahap Persiapan: Sosialisasi, Seleksi Lokasi dan Pengembangan Kapasitas

a. Penyiapan daftar 41 kelurahan di kab/kota sesuai kriteria seleksi

Pelaksana: PMU NSUP, KMP Daftar calon (shortlist) 46 kelurahan di Kab/Kota terpilih b. Sosialisasi kepada kab/kota yang diundang

sebagai calon penerima KOTAKU-DFAT, mendiskusikan tentang komitmen pemerintah kota/kabupaten dalam pelaksanaan KOTAKU- DFAT

Pelaksana: PMU NSUP Peserta: Pemerintah Kab/Kota Pendamping/

Narasumber: Dir PKP, Dir Perkotaan Bappenas

Berita Acara Sosialisasi

c. Direktur PKP menerbitkan SK Lokasi KOTAKU- DFAT

sesuai kebutuhan Pelaksana: PMU NSUP SK Penugasan Askot

dan Faskel e. Peningkatan kapasitas tim pendamping dan

Pokja PKP.

• Pelibatan lembaga terkait gender dan inklusi sosial setempat di dalam forum-forum Pokja PKP

• Penguatan materi yaitu terkait pelayanan air minum dan sanitasi, gender & inklusi sosial, pembangunan berkelanjutan, ketahanan terhadap bencana (termasuk wabah), dan pengantar mengenai ketentuan KOTAKU- DFAT

Pelaksana: PMU NSUP, KMP Peserta: OSP, Tim Korkot, Tim Faskel, Pokja PKP

Pendamping/Narasumber: Dir PKP, Dir Perkotaan Bappenas

Tim siap melaksanakan pendampingan

f. Sosialisasi di lokasi percontohan tentang hasil seleksi dan rencana penyelenggaraan kegiatan KOTAKU-DFAT

Pelaksana: Pokja PKP

Peserta: BKM, berbagai elemen masyarakat

Pendamping: Tim Korkot dan Faskel

Berita Acara Sosialisasi

g. Pemutakhiran profil kumuh, yang telah

memuat data terkait GESI Pelaksana: Pokja PKP dan Tim

Korkot Profil kumuh, yang

memuat data terkait GESI

h. Pemetaan pihak yang berpotensi untuk dikolaborasikan, terutama terkait elemen penguatan KOTAKU-DFAT

Pelaksana: Pokja PKP dan Tim

Korkot Peta multipihak dan

strategi kolaborasi i. Khusus bagi kota yang telah memiliki sistem

data GIS yang baik, dapat memutakhirkan data permukiman dari lokasi percontohan

Pelaksana: Pokja PKP dan Tim Korkot

Data permukiman lokasi percontohan di sistem GIS kota II Tahap Perencanaan

a. Refleksi Perkara Kritis: Pelaksana: Pokja PKP Berita Acara RPK

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR (POS) PENYELENGGARAAN PROGRAM KOTAKU-DFAT 47

No Kegiatan Pelaku Output

• Meninjau kembali visi, prioritas, progress implementasi RP2KPKP, serta potensi dan tantangannya

• Mendiskusikan tantangan terkini dan masa depan, terkait urbanisasi dan krisis lingkungan/ekologis yang dialami permukiman kumuh di kota/kab ybs, terutama yang bersinggungan dengan lokasi percontohan

Peserta: Pokja PKP, BKM, TIPP, kelompok peduli, termasuk komunitas terkait GESI Pendamping/Narasumber: Tim OSP, Tim Korkot, Fasilitator UP

Peserta paham konteks permasalahan yang memerlukan solusi inovatif

b. Konsolidasi data permukiman kumuh dan penyiapan dokumen pendukung analisis dan penajaman RP2KPKP

Pelaksana: Pokja PKP Pendamping: Tim Korkot Narasumber: Berbagai dinas/lembaga di tingkat kota

Data, peta dan dokumen pendukung

c. Penajaman RP2KPKP:

• Konsolidasi berbagai data/

kajian/rencana berbagai sektor yang bersinggungan dengan lokasi percontohan

• Konsep perencanaan makro yang mendukung inovasi penanganan permukiman kumuh di lokasi percontohan

• Rencana teknis dan rencana investasi skala kota/kawasan yang mendukung atau terkoneksi dengan penanganan permukiman kumuh di lokasi percontohan

Pelaksana: Pokja PKP Pendamping: Tim Korkot Narasumber: Berbagai dinas/lembaga di tingkat kota

RP2KPKP, rencana teknis, dan rencana investasi tingkat kota

d. Konsolidasi Penajaman RP2KPKP dengan RPLP Pelaksana: Pokja PKP, BKM, TIPP, Fasilitator UP

, kelompok peduli, termasuk komunitas terkait GESI

III Tahap Pelaksanaan

a. Implementasi kegiatan dari berbagai sumber

dana Pelaksana: Pokja PKP

Pendamping: Tim Korkot, Tim OSP

Hasil kegiatan

IV. Keberlanjutan

a. Penyusunan kerangka regulasi, bila relevan Pelaksana: Pokja PKP Pendamping/Narasumber:

Lembaga di tingkat kota/kab atau pusat yang relevan

Regulasi

b. Penguatan kelembagaan Pelaksana: Pokja PKP

Pendamping: Tim Korkot, Tim OSP, PMU, Bappenas

Kinerja Pokja PKP meningkat c. Evaluasi, pengelolaan pengetahuan, dan

pengembangan kegiatan atau replikasi/adopsi inovasi model penanganan ke lokasi lain

Pelaksana: Pokja PKP

Pendamping: Tim Korkot, Tim OSP, PMU, Bappenas

Produk pengetahuan dan rencana pengembangan kegiatan

2. Tahapan Kegiatan Tingkat Kelurahan/Desa

No Kegiatan Pelaku Output

I Tahap Persiapan: Sosialisasi,

Pembentukan TIPP, Rekrutmen Fasilitator UP, dan Pengembangan Kapasitas

a. Koordinasi dengan Pemerintah Kota terkait rencana pengajuan kelurahan untuk seleksi; penyiapan Lurah-BKM; dan penentuan lokasi prioritas dalam kelurahan sebagai lokus proyek.

Untuk penentuan lokasi prioritas, perlu meninjau kembali RPLP (2019) serta capaian implementasi RPLP (pengurangan kumuh dan tantangan yang masih ada, baik dari hasil verifikasi/validasi data baseline 2015 dan hasil identifikasi/

penyempurnaan data baseline 2020).

Pelaksana: Pokja PKP, Perangkat Kelurahan, BKM

Pendamping/Narasumber:

Perwakilan Balai PPW/PPK Provinsi, OSP/Korkot

§ Data/profil lokasi prioritas dan

b. Sosialisasi ke masyarakat, Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM) dan pembentukan Tim Inti Perencanaan Partisipatif (TIPP)

Pelaksana: Lurah, BKM Peserta: berbagai elemen masyarakat

Pendamping/Narasumber: Pokja PKP, Tim Korkot dan Faskel

TIPP terbentuk Berita Acara Rembug Kesiapan Masyarakat

c. Rekrutmen Fasilitator UP Pelaksana: BPPW/Satker PKP Provinsi

Peserta: calon Fasilitator UP Pendamping/Narasumber: Pokja PKP, Tim Korkot dan Faskel

Fasilitator UP termobilisasi

d. Pemetaan pemangku kepentingan dan penyepakatan mekanisme pelibatan berbagai elemen masyarakat dan mulai kolaborasi dengan berbagai pihak pada tiap tahapan proyek

Pelaksana: Pokja PKP, BKM, TIPP, Fasilitator UP e. Pelatihan/lokakarya metodologi

perencanaan dan materi dasar terkait penataan permukiman kumuh (termasuk isu air minum, air dan sanitasi),

aksesibilitas universal, pembangunan berkelanjutan, ketahanan terhadap bencana, penghidupan yang berkelanjutan.

Pelaksana: Tim Korkot dan Faskel Peserta: TIPP, BKM, Perangkat Kelurahan

TIPP, BKM, dan Perangkat Kelurahan siap menyelenggarakan perencanaan partisipatif

II Tahap Perencanaan

2.1 Meninjau kembali RPLP & membangun visi

a. Peninjauan kembali profil kumuh dan

a. Peninjauan kembali profil kumuh dan

Dokumen terkait