• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: LANDASAN TEORI

2. Komponen-Komponen yang Membentuk

Terdapat 2 komponen pembentuk subjective well-being (Andrews & Robinson, 1992 ; Argyle, 2001; Diener, 2000; Diener et al., 1999) : a. Komponen Kognitif

Komponen kognitif merupkan hasil evaluasi terhadap kepuasan hidup individu. Terdapat dua bentuk evaluasi terhadap kepuasan hidup yaitu kepuasan hidup secara global dan kepuasan hidup dalam domain khusus. Diener, Sandvik, dan Seidltizt (1993) menggambarkan kepuasan hidup secara global dengan kehidupan seseorang yang dekat dengan kehidupan ideal yang diinginkan, mampu menikmati hidup, merasa puas dengan hidupnya yang sekarang, merasa puas dengan hidupnya dimasa lalu, dan ada tidaknya keinginan untuk merubah hidupnya yang sekarang. Kemudian, Diener menjelaskan kepuasan hidup yang dalam domain khusus yang terdiri dari :

1. Pendapatan

Pendapatan adalah sejumlah uang atau barang yang diterima seseorang dari hasil pekerjaannya yang didigunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut hasil

wawancara informal dengan biarawati KSFL, ketercukupinya kebutuhan bulanan sudah cukup memberikan kepuasan bagi diri biarawati.

2. Relasi dengan lingkungan sosial

Relasi yang positif ditandai dengan adanya kemampuan individu untuk membangun relasi yang baik dengan individu lain. Biarawati yang memiliki relasi yang baik dapat dilihat dari sejauh mana biarawati tersebut mampu menunjukkan sikap yang hangat, menunjukkan perhatian, memiliki rasa percaya, memiliki empati, merasakan perasaan nyaman, dan mampu membangun keakraban dengan biarawati sekomunitas, biarawati diluar komunitas, dan orang umum.

3. Pekerjaan

Menurut hasil wawancara informal dengan biarawati KSFL, kongregasi pusat memiliki wewenang untuk memberikan tugas dan kewajiban pada biarawatinya. Biarawati yang merasakan kepuasan terhadap tugas yang diberikan kongregasi akan menunjukkan semangat dalam mengerjakan tugas yang diberikan dan berusaha menyelesaikannya dengan sebaik mungkin.

4. Kesehatan

Kesehatan erat kaitannya dengan kondisi fisiologis seseorang. Kondisi tubuh yang segar dan tidak mengalami

keluhan sakit saat melakukan tugas pelayanannya membuat biarawati mengalami kepuasan.

b. Komponen Afeksi

Komponen afeksi merupakan hasil evaluasi perasaan terhadap pengalaman yang pernah terjadi. Komponen afeksi dibagi kedalam dua jenis, yaitu positive affect dan negative affect. Positive Affect berbicara tentang perasaan yang menyenangkan dialami oleh seseorang. Watson dan Tellegen (1985) mengklasifikasikan perasaan positif dalam PANAS-X (Positive Affect and Negative Affect Schedule). Mereka mengklasifikasikan

positive affect ke dalam tiga bagian, yaitu :

1. Joviality

Joviality merupakan perasaan bahagian yang dirasakan seseorang. Perasaan ini terdiri dari rasa bersemangat dan antusias yang ditunjukan biarawati dalam melakukan sesuatu. 2. Self Assurace

Self Assurace merupakan perasaan aman yang dirasakan seseorang. Perasaan ini terdiri atas perasaan proud (rasa bangga) dan confident (ketenangan atau kenyamanan) menjadi seorang biarawati.

3. Attentiveness

Attentiveness merupakan rasa diperhatikan oleh orang lain. Perasaan ini terdiri atas perasaan attentive (perhatian) dan

kasih sayang yang diperoleh biarawati, baik dari biarawati sekomunitas ataupun orang lain diluar komunitasnya.

Menurut Diener (1993) terdapat beberapa perasaan yang muncul untuk menjelaskan tentang postitive affect yaitu :

1. Ketenangan

Ketenangan adalah keadaan dimana biarawati merasa tenang baik secara hati, batin, dan pikiran.

2. Kasih sayang

Kasih sayang adalah perasaan cinta kasih yang dirasakan biarawati.

3. Kedermawana

Kedermawanan adalah kebaikan hati untuk membantu sesamanya.

4. Pengampunan

Pengampunan adalah memberikan maaf terhadap kesalahan yang dilakukan orang lain.

Perasaan yang positif atau perasaan yang menyenangkan dengan frekuensi yang tinggi akan membuat seseorang mengalami

subjective well-being dalam kehidupannya. Mereka cenderung akan mampu menikmati perjalanan hidupnya dan memandang masa depannya lebih baik.

Negative affect merupakan kebalikan dari positive affect , yaitu perasaan yang tidak menyenangkan dalam kehidupannya,

baik itu perasaan yang sedih atau cemas. Watson dan Tellegen (1985) mengklasifikasikan perasaan negatif dalam PANAS-X (Positive Affect and Negative Affect Schedule). Mereka mengklasifikasikan negative affect ke dalam empat bagian, yaitu :

1. Fear

Fear merupakan perasaan takut yang muncul dalam diri seseorang. Perasaan ini terdiri dari perasaan takut, perasaan gugup, dan perasaan gelisah yang pernah dialami oleh biarawati.

2. Hostility

Hostility merupakan perasaan permusuhan yang dialami dalam diri seseorang yang secara umum disebut dengan perasaan angry atau marah.

3. Guilty

Guilty merupakan rasa bersalah yang dialami seseorang. Pada biarawati, perasaan ini muncul saat dirinya melakukan suatu kesalahan atau melanggar suatu aturan.

4. Sadness

Sadness adalah perasaan sedih yang dialami seseorang. Pada biarawati, perasaan ini muncul saat dirinya teringat akan pengalaman yang tidak menyenangkan dimasalalu dan berada pada kondisi yang tidak menyenangkan atau disaat tertekan dalam hidupnya.

Menurut Diener (1993) terdapat beberapa perasaan yang muncul untuk menjelaskan tentang perasaan negatif yaitu :

1. Marah

Marah adalah perasaan tidak senang karena diperlakukan tidak semestinya.

2. Rasa Bersalah

Perasaan tidak nyaman karena melakukan sesuatu yang tidak benar atau melanggar peraturan.

3. Egois

Egois adalah perasaan yang selalu mementingkan kehendak atau keinginan diri sendiri.

4. Kekecewaan

Kekecewaan adalah perasaan tidak puas karena keinginannya tidak terpenuhi.

5. Sedih

Sedih adalah perasaan pilu didalam hati karena suatu keadaan yang tidak nyaman.

6. Frustrasi

Frustrasi adalah rasa kecewa akibat kegagalan dalam melakukan sesuatu atau mencapai sesuatu.

Perasaan negatif atau perasaan yang cenderung tidak

menyenangkan dengan frekuensi yang tinggi akan

dalam hidupnya. Mereka akan merasa bahwa hidupnya berjalan dengan buruk. Hal ini mengakibatkan seseorang akan mengalami gangguan efektivitas keberfungsian hidup, misalnya memandang dirinya tidak berguna dan tidak berarti.

Berdasarkan rincian diatas terdapat dua aspek yang berpengaruh dalam pembentukan subjective well-being, yaitu aspek kognitif dan emosi. Aspek kognitif tersebut dapat dilihat dari hasil evaluasi terhadap kepuasan hidup atau life satisfaction. Life satisfaction dapat diukur dengan melihat kepuasan hidup secara global dan kepuasan hidup dalam domain khusus. Kepuasan hidup secara global dapat diukur melalui kehidupan seseorang yang dekat dengan kehidupan ideal yang diinginkan orang tersebut, menikmati kondisi hidupnya sekarang, puas dengan hidupnya yang sekarang, puas dengan hidupnya dimasa lalu, dan seberapa besar keinginan untuk merubah hidup mereka sekarang. Kepuasan hidup dalam domain khusus dapat diukur dari tingkat pendapatan, relasi dengan lingkungan sosial, kesesuanan pekerjaan, dan kesehatan. Kemudian, aspek emosi dapat dilihat dari banyaknya positive affect

dan rendahnya negative affect yang dirasakan seseorang. Positive affect ditandai dengan seberapa sering mereka merasakan ketenangaan, kasih sayang, kedermawanan, pengampunan, perhatian, rasa bersemangat, antusias, dan rasa bangga. Negative affect dapat dilihat dari seberapa sering merasakan perasaan marah,

rasa bersalah, egois atau mementingkan dirisendiri, kekecewaan, sedih, kegagalan atau frustasi, takut, gugup, gelisah, dan rasa tertekan.

Dokumen terkait