• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian deskriptif : subjective well-being pada biarawati di Yogyakarta.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penelitian deskriptif : subjective well-being pada biarawati di Yogyakarta."

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

PENELITIAN DESKRIPTIF : SUBJECTIVE WELL-BEING PADA BIARAWATI DI YOGYAKARTA

Yohanes Hanggoro Tri Pamungkas

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuisubjective well-beingpada biarawati atau suster biara. Subjek dalam penelitian ini adalah para biarawati atau suster biara yang berada di Yogyakarta. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 69 orang. Hipotesis dalam penelitian ini adalah biarawati akan tetap merasakan subjective well-being dengan hidupnya. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan satu skala Likert, yaitu skalasubjective well-being. Reliabilitas skala subjective well-being adalah 0,951. Reliabilitas ini diperoleh dengan menggunakan korelasi Cronbach’s Alpha. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan melakukan kategorisasi terhadap subjek penelitian dan diperoleh hasil biarawati atau suter biara cenderung memiliki subjective well-being yang tinggi, yaitu sebanyak 41 orang atau 59,4%.

(2)

DESCRIPTIVE RESEARCH: SUBJECTIVE WELL-BEING TOWARDS NUNS IN YOGYAKARTA

Yohanes Hanggoro Tri Pamungkas

ABSTRACT

This research aims to determine the subjective well-being towards nuns or sisters. The subjects in this research are the nuns or sisters in Yogyakarta. The total number of subjects in this research is 69 people. The hypothesis in this report is that the nuns or sisters will still feel thesubjective well-beingin their lives. The research’s data is collected by using a Likert scale, which is subjective well-being scale. The reliability ofsubjective well-being

scale is 0,951. This reliability is obtained by using theCronbach’s Alphacorrelation.The data in this research is analyzed by using categorization towars the research’s subjects and it will

be obtained the result of the nuns or sisters which are tend to have the high subjective well-being, as many as 41 people or 59,4%.

(3)

PENELITIAN DESKRIPTIF : SUBJECTIVE

WELL-BEING PADA BIARAWATI DI

YOGYAKARTA

Disusun dalam rangka memenuhi Tugas Skripsi

Disusun Oleh :

Yohanes Hanggoro

(099114114)

FAKULTAS PSIKOLOGI

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)
(5)
(6)

Hari Esok Akan Lebih Indah

Dari Hari Ini

Maka

Terus Berusaha, Percaya,

(7)

Karyaku ini kupersembahkan untuk :

Kedua Orang Tuaku yang setia menunggu kelulusanku...

Kakak-Kakakku dan Keluarga besar...

Teman Psikologi 2009 yang sudah tersebar keseluruh

Indonesia...

Keluarga besar GKN Gloria...

Kakak dan adik-

adik “Tresno Soul Management”...

Mis E yang pernah menemani...

Sahabat-

sahabat “Geng Coro Balap”...

Sahabat-

sahabat “The Brothers”...

(8)
(9)

PENELITIAN DESKRIPTIF : SUBJECTIVE WELL-BEING PADA BIARAWATI DI YOGYAKARTA

Yohanes Hanggoro Tri Pamungkas

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui subjective well-being pada biarawati atau suster biara. Subjek dalam penelitian ini adalah para biarawati atau suster biara yang berada di Yogyakarta. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 69 orang. Hipotesis dalam penelitian ini adalah biarawati akan tetap merasakan subjective well-being dengan hidupnya. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan satu skala Likert, yaitu skala

subjective well-being. Reliabilitas skala subjective well-being adalah 0,951. Reliabilitas ini diperoleh dengan menggunakan korelasi Cronbach’s Alpha. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan melakukan kategorisasi terhadap subjek penelitian dan diperoleh hasil biarawati atau suter biara cenderung memiliki subjective well-being yang tinggi, yaitu sebanyak 41 orang atau 59,4%.

(10)

DESCRIPTIVE RESEARCH: SUBJECTIVE WELL-BEING TOWARDS NUNS IN YOGYAKARTA

Yohanes Hanggoro Tri Pamungkas

ABSTRACT

This research aims to determine the subjective well-being towards nuns or sisters. The subjects in this research are the nuns or sisters in Yogyakarta. The total number of subjects in this research is 69 people. The hypothesis in this report is that the nuns or sisters will still feel the subjective well-being in their lives. The research’s data is collected by using a Likert scale, which is subjective well-being scale. The reliability of

subjective well-being scale is 0,951. This reliability is obtained by using the Cronbach’s

Alpha correlation. The data in this research is analyzed by using categorization towars the research’s subjects and it will be obtained the result of the nuns or sisters which are tend to have the high subjective well-being, as many as 41 people or 59,4%.

(11)
(12)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa karena

dengan penyertaan dan tuntunanNya penulis dapat menyelesaikan skripsinya yag

berjudul “Penelitian Deskriptif : Subjective Well-Being Pada Biarawati di

Yogyakarta”. Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta.

Tugas akhir ini dapat terselesaikan berkat dukungan dan bantuan banyak

pihak. Maka dari pada itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas

Sanata Dharma.

2. Ratri Sunar Astuti, S.Psi., M.Psi., selaku Kaprodi Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma.

3. Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi selaku dosen pembimbing akademik.

Terimakasih atas kesediaan bapak dalam mendampingi saya dalam

menyelesaikan masalah akademik dan membantu dalam administrasi

akademik.

4. Sylvia Carolina MYM, S.psi., M.Psi., selaku dosen pembimbing skripsi.

Terimakasih untuk waktu dan tenaganya untuk membantu saya dalam

(13)

5. Seluruh staf pengajar di Fakultas Psikologi. Terimakasih karena telah

membimbing, mengajar, dan membagi ilmunya kepada saya.

6. Seluruh karyawan Fakultas Psikologi Sanata Dharma, Bu Nanik, Mas

Gandung, Pak Gik, Mas Doni,dan Mas Muji yang sudah membantu dalam

menyediakan alat-alat tes yang diperlukan dan bantuan-bantuan yang lain.

Pelayanan yang memuaskan dari kalian.

7. Keluarga saya (babe, mamah, mas, dan mbak) yang senantiasa mendoakan

dan memberikan semangat untuk menyelesaikan skripsi. Saya minta maap

karena menunggu lama dalam menyelesaikan skripsi.

8. Para suster-suster dan terkhusus pada suster Marsel dan suster Petra yang

membantu saya dalam mengumpulkan data penelitian. Saya ucapkan

terimakasih.

9. Seluruh keluarga besar GKN Gloria yang senantiasa mendoakan dan

mendukung saya. Saya ucapkan terimakasih atas semuanya.

10. LC Tresno (Mas Nomo, Didit, Igar, Anggi, Dhana, Yogi, dan Kris) yang

selalu ada untuk berbagi cerita, berbagi kebahagiaan, dan berbagi kesusahan

untuk saya. Terimakasih saya ucapkan pada kalian semua. Kalian adalah

keluarga baru saya.

11. The Brothers “Kelelawar Berkalung Sorban” (Togar, Hani, Fandra, Julius,

Uki, dan Gatyo) yang senantiasa menemani saya, menjadi tempat berbagi

cerita,dan tempat berbagi tawa. Terimakasih atas pengalaman-pengalaman

(14)

12. Teman-teman C-Class 09 yang menemani hari-hari saya baik didalam dan

diluar kelas. Terimakasih telah menjadi tempat yang menyenangkan untuk

belajar, bercanda, dan berkumpul bersama. Saya bersyukur bisa berdinamika

bersama kalian selama ini.

13. Keluarga besar “Coro Balap” yang selalu mengingatkan saya untuk

mengerjakan skripsi meskipun dengan ejekan-ejekan. Terimakasih atas

perhatiannya dan dukungannya selama ini.

14. Teman-teman Mitra Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, Paingan.

Untuk mbak Judit, Tika, Remma, Lana, Rea, Odil, Prima, Iwan, Nasa, Nisa,

Nia, Chintya, Istri, Agung, dan Yovi. Terimakasih untuk kebersamaannya dan

senang bisa memiliki pengalaman berdinamika dengan kalian diperpustakaan.

15. Orang-orang yang mungkin saya lupa atau tidak sempat saya tuliskan.

Terimakasih atas bantuan dan dukungannya baik langsung maupun tidak

langsung sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih terdapat banyak

kekurangan, baik dalam segi metode maupun pelaporannya. Oleh karena itu,

penulis menerima segala masukan yang membangun demi perbaikan penelitian

selanjutnya. Semoga skripsi ini bisa bermanfaat bagi banyak orang dan kiranya

(15)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING...ii

HALAMAN PENGESAHAN...iii

HALAMAN MOTTO...iv

HALAMAN PERSEMBAHAN...v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...vi

ABSTRAK...vii

ABSTRAK...viii

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH...ix

KATA PENGANTAR...x

DAFTAR ISI...xiii

DAFTAR TABEL...xvi

DAFTAR LAMPIRAN...xvii

BAB I: PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...5

C. Tujuan Penelitian...5

D. Manfaat Penelitian...5

(16)

1. Pengertian Subjective Well-Being...7

2. Komponen-Komponen yang Membentuk Subjective Well-Being...8

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Subjective Well-Being...15

4. Perwujudan Tinggi dan Rendahnya Subjective Well-Being...18

B. Biarawati...19

1. Pengertian Biarawati...19

2. Gaya Hidup Biarawati...20

3. Tahapan Dalam Menjadi Biarawati...23

C. Reward...24

D. Subjective Well-Being pada Biarawati...25

E. Kerangka Berpikir...27

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN...28

A. Jenis Penelitian...28

B. Identifikasi Variabel...28

C. Definisi Operasional...29

1. Subjective Well-Being...29

D. Subjek Penelitian...32

E. Metodologi Pengambilan Sampel...32

F. Metodologi dan Alat Pengumpulan Data...32

G. Validitas dan Reliabilitas...35

1. Validitas Skala...35

2. Seleksi Aitem...35

3. Reliabilitas...38

H. Analisi Data...39

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...41

A. Pelaksanaan Penelitian...41

B. Deskripsi Subjek...43

(17)

D. Kategorisasi...46

E. Analisis Data Penelitian...48

F. Pembahasan...49

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN...54

A. Kesimpulan...54

B. Saran...55

1. Bagi pengelola Biara...55

2. Bagi Biarawati...55

3. Bagi Penelitian Selanjutnya...55

DAFTAR PUSTAKA...56

(18)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1.Blue Print Skala Subjective Well-Being......34

Tabel 3.2.Pemberian Skor pada Subjective Well-Being...35

Tabel 3.3.Komponen dan Distribusi Aitem Skala Subjective Well-Being ...38

Tabel 4.1.Kongregasi atau Ordo Subjek Penelitian...42

Tabel 4.2.Identitas Subjek Penelitian...44

Tabel 4.3.Hasil Pengukuran Statistik Deskriptif...46

Tabel 4.4.Hasil Kategorisasi Subjective Well-Being pada Subjek Penelitian...47

Tabel 4.5.Hasil Analisis Subjective Well-Being Biarawati Berdasarkan Lamanya Hidup Membiara...48

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala Subjective Well-Being...60

Lampiran 2 Reliabilitas Skala Penelitian...72

(20)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehidupan yang bahagia merupakan dambaan semua manusia.

Aristoteles dalam Bertens (2007) bahkan menjelaskan kehidupan yang

bahagia merupakan tujuan utama dari eksistensi manusia. Maka tidak

salah manusia selalu mengusahakan diri mereka untuk meraih kehidupan

yang bahagia.

Kebahagiaan juga merupakan sesuatu yang bersifat individual.

Masing-masing orang memiliki cara pandangnya sendiri dalam melihat

dan memaknai arti kebahagiaan. Melihat hal tersebut, maka Diener

menjelaskan kebahagiaan yang individual ini dengan konsepnya yang

disebut subjective well-being.

Diener, Lucas, & Oishi, 2009 mendefinisikan subjective well-being

adalah hasil evaluasi atau penilaian seseorang secara kognitif dan afektif

terhadap seluruh pngalaman kehidupannya. Evaluasi kognitif merupakan

penilaian terhadap kepuasan hidup seseorang dan evaluasi afektif

merupakan respon emosional yang timbul dari setiap pengalaman hidup

seseorang.

Pada umumnya, kebahagiaan sering dikaitkan dengan hal-hal yang

bersifat materi. Seseorang yang memiliki materi yang berlimpah

(21)

barang-barang yang berkualitas, dan barang mewah lainnya digunakan

sebagai acuan untuk melihat kebahagiaan seseorang. Maka tidak salah jika

materi dan kondisi finansial dijadikan standar untuk melihat kebahagiaan.

Soleman H, dkk (2002) bahkan menjadikan kondisi finansial menjadi

salah satu indikator untuk melihat kebahagiaan seseorang.

Kebahagiaan juga erat kaitannya dengan menikah dan memiliki

keluarga. Soleman H, dkk (2002) menjelaskan social support yang salah

satunya adalah keluarga memberikan dampak bagi seseorang dalam

terciptanya perasaan puas pada hidup mereka. Lebih lanjut dijelaskan,

menurut hasil penelitian di Amerika (dalam buku Psikologo Wanita Jilid 2

karya Dr. Kartini Kartono, 1992), fungsi keibuan atau menjadi seorang ibu

merupakan sumber kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup mereka. Maka

tidak salah jika menciptakan keluarga yang harmonis menjadi dambaan

seiap orang yang menikah. Lalu bagaimana dengan kelompok masyarakat

tertentu yang memilih untuk hidup dengan gaya hidup yang berbeda,

seperti biarawati atau suster biara.

Biarawati adalah wanita yang memfokuskan hidupnya dalam

kehidupan membiara dan hidup dengan memegang teguh kaul suci yang

mereka hayati. Gaya hidup seorang biarawati atau suster adalah hidup

untuk lebih melayani sesama dan menghayati ajaran-ajaran Injil dalam

hidup berdoa. Melayani sesama ini diwujud nyatakan dalam semangat

kerasulan ordo atau tarikat yang mereka ikuti, baik dibidang pendidikan,

(22)

Injil dalam hidup berdoa diwujud nyatakan para biarawati dengan

melakukan doa, baik itu dilakukan secara pribadi ataupun secara bersama.

Selain itu, biarawati atau suster biara hidup dengan berpegang teguh oleh

kaul suci yang mereka hayati dan peraturan-peraturan biara menurut Ordo

mereka masing-masing. Kaul suci yang mereka hayati dan hidupi adalah

kaul selibat atau keperawanan, kaul ketaatan, dan kaul kemiskinan.

Dalam menjalani kehidupannya sebagai seorang biarawati, mereka

juga mengalami masalah dan tantangan. Paulus Suparmo, Sj (2007)

menjelaskan bahwa biarawati mengalami krisis dalam menanggapi

panggilan hidupnya. Lebih lanjut, Paulus Suparmo, Sj

mengklasifikasikannya dalam 3 masa hidup membiara yaitu masa biara

awal, masa biara tengah, dan masa biara lanjut usia.

Masa biara awal biasanya dialami oleh biarawati yang berada pada

tingkatan aspiran dan novice. Pada masa biara awal, biarawati mengalami

krisis identitas. Biarawati merasakan kebingungan mengenai apakah

panggilan hidupnya sebagai biarawati adalah jalan hidup yang harus

dilalui selama hidupnya. Krisis seksualitas menjadi krisis selanjutnya yang

dialami biarawati dalam kehidupan. Saat seseorang merasakan perasaan

jatuh cinta dengan lawan jenisnya itu adalah hal yang biasa dan wajar

namun bagi seorang biarawati ini hal yang dilarang. Mengingat hal

tersebut dapat mengganggu dalam panggilan hidup membiaranya.

Selanjutnya, krisis sosial juga terjadi dalam kehidupan membiara. Hal ini

(23)

keinginan biarawati tersebut. Selanjutnya adalah krisis pekerjaan. Hal ini

terjadi karena biarawati tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan

dimana ia melayani. Mereka akan merasakan kebingungan dan frustasi

dalam menjalankan tugas pelayanannya. Kemudian, biarawati masih

berada pada tahapan aspiran dan novise adalah biarawati yang berada pada

masa transisi dari masa kanak-remaja menuju masa dewasa awal. Mereka

belum mau untuk berubah dan berpindah dari “zona nyaman” mereka. Hal

ini disebut dengan krisis awal yaitu mau berubah.

Pada masa biara tengah, masalah biasanya terjadi pada para

biarawati mediator. Ada beberapa masalah yang dialami pada masa ini.

Pertama adalah krisis tengah umur. Krisis ini terjadi karena biarawati

merasa apa yang dilakukan dalam pelayanannya tidak sesuai dengan apa

yang diinginkan dan diharapkannya. Kedua adalah masalah menopause.

Masalah ini adalah masalah yang pasti terjadi dengan wanita, terkhusus

pada wanita yang sudah memasuki usia tua. Selanjutnya, biarawati

mengalami perasaan kesepian. Hal ini terjadi karena para biarawati merasa

tidak punya sahabat atau teman karena mereka disibukkan dengan tugas

pelayanan yang diberikan kongregasi. Yang keempat adalah krisis

keturunan. Biarawati juga memiliki keinginan untuk menjadi seorang ibu

dan melahirkan seorang anak. Menjadi masalah karena peraturan sebagai

biarawati membuat mereka tidak dapat melakukannya. Hidup selibat

adalah salah satu kaul suci yang harus dipegangnya untuk menjadi seorang

(24)

Masalah ini muncul karena terkadang biarawati tidak rela melepaskan

posisinya pada biarawati lebih muda.

Masa biara lanjut usia. Biasanya terjadi pada usia 60-65 tahun.

Pada masa ini krisis yang dihadapi adalah bagaimana mereka menghadapi

masa pensiun dan masalah kesehatan yang dialaminya. Hal ini terjadi

karena keterbatasan fisiknya yang semakin tua dan hal tersebut wajar

dialami dimasa tua oleh semua orang.

Melihat begitu banyaknya masalah yang dialami biarawati dalam

menjalani panggilannya, seperti masalah krisis identitas pada masa biara

awal, krisis ingin memiliki keturunan pada masa biara tengah, krisis

kesehatan pada masa lanjut usia, dan masih banyak masalah lainnya maka

peneliti tertarik untuk meneliti tentang subjective well-being pada

biarawati.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana tingkat subjective well-being pada biarawati?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui subjective

(25)

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk ilmu

psikologi, khususnya pada bidang perkembangan tentang

kesejahteraan diri atau subjective well-being, terkhusus pada biarawati.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi tentang

kondisi kesejahteraan diri atau subjective well-being pada biarawati.

(26)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Subjective Well-Being

1. Pengertian Subjective Well-Being

Subjective well-being merupakan evaluasi atau penilaian terhadap

kehidupan individu, penilaian terhadap kepuasan hidupnya dan

evaluasi terhadap suasana hati dan emosi individu tersebut (Diener &

Lucas, 1999). Diener dan Larsen (dalam Edington, 2005)

mengungkapkan definisi subjective well-being adalah kondisi yang

cenderung stabil sepanjang waktu dan sepanjang rentang kehidupan.

Diener, Lucas dan Oishi (2009) mendefinisikan subjective

well-being atau kesejahteraan subjektifsebagai hasil evaluasi atau penilaian

seseorang secara kognitif dan afektif terhadap seluruh pengalaman

hidup seseorang. Evaluasi kognitif merupakan penilaian terhadap

kepuasan hidup seseorang dan evaluasi afektif merupakan respon

emosional yang timbul dari setiap pengalaman hidup seseorang.

Kepuasan hidup terdiri dari kepuasan hidup secara global dan

kepuasan hidup dalam domain khusus, seperti pendapatan, keluarga

dan relasi sosial, pekerjaan, dan kesehatan. Kemudian, respon

emosional terdiri dari respon emosional positif misalnya perasaan

senang dan respon emosional negatif misalnya perasaan sedih atau

(27)

Berdasarkan pernyataan-pernyataan diatas maka dapat disimpulkan

bahwa subjective well-being adalah hasil evaluasi individu secara

kognitif (kepuasan hidup) dan afektif (positive & negative affect)

terhadap seluruh pengalaman hidup individu.

2. Komponen-Komponen yang Membentuk Subjective Well-Being

Terdapat 2 komponen pembentuk subjective well-being (Andrews

& Robinson, 1992 ; Argyle, 2001; Diener, 2000; Diener et al., 1999) :

a. Komponen Kognitif

Komponen kognitif merupkan hasil evaluasi terhadap

kepuasan hidup individu. Terdapat dua bentuk evaluasi terhadap

kepuasan hidup yaitu kepuasan hidup secara global dan kepuasan

hidup dalam domain khusus. Diener, Sandvik, dan Seidltizt (1993)

menggambarkan kepuasan hidup secara global dengan kehidupan

seseorang yang dekat dengan kehidupan ideal yang diinginkan,

mampu menikmati hidup, merasa puas dengan hidupnya yang

sekarang, merasa puas dengan hidupnya dimasa lalu, dan ada

tidaknya keinginan untuk merubah hidupnya yang sekarang.

Kemudian, Diener menjelaskan kepuasan hidup yang dalam

domain khusus yang terdiri dari :

1. Pendapatan

Pendapatan adalah sejumlah uang atau barang yang

diterima seseorang dari hasil pekerjaannya yang didigunakan

(28)

wawancara informal dengan biarawati KSFL, ketercukupinya

kebutuhan bulanan sudah cukup memberikan kepuasan bagi

diri biarawati.

2. Relasi dengan lingkungan sosial

Relasi yang positif ditandai dengan adanya kemampuan

individu untuk membangun relasi yang baik dengan individu

lain. Biarawati yang memiliki relasi yang baik dapat dilihat

dari sejauh mana biarawati tersebut mampu menunjukkan

sikap yang hangat, menunjukkan perhatian, memiliki rasa

percaya, memiliki empati, merasakan perasaan nyaman, dan

mampu membangun keakraban dengan biarawati sekomunitas,

biarawati diluar komunitas, dan orang umum.

3. Pekerjaan

Menurut hasil wawancara informal dengan biarawati

KSFL, kongregasi pusat memiliki wewenang untuk

memberikan tugas dan kewajiban pada biarawatinya.

Biarawati yang merasakan kepuasan terhadap tugas yang

diberikan kongregasi akan menunjukkan semangat dalam

mengerjakan tugas yang diberikan dan berusaha

menyelesaikannya dengan sebaik mungkin.

4. Kesehatan

Kesehatan erat kaitannya dengan kondisi fisiologis

(29)

keluhan sakit saat melakukan tugas pelayanannya membuat

biarawati mengalami kepuasan.

b. Komponen Afeksi

Komponen afeksi merupakan hasil evaluasi perasaan

terhadap pengalaman yang pernah terjadi. Komponen afeksi dibagi

kedalam dua jenis, yaitu positive affect dan negative affect.

Positive Affect berbicara tentang perasaan yang menyenangkan

dialami oleh seseorang. Watson dan Tellegen (1985)

mengklasifikasikan perasaan positif dalam PANAS-X (Positive

Affect and Negative Affect Schedule). Mereka mengklasifikasikan

positive affect ke dalam tiga bagian, yaitu :

1. Joviality

Joviality merupakan perasaan bahagian yang dirasakan

seseorang. Perasaan ini terdiri dari rasa bersemangat dan

antusias yang ditunjukan biarawati dalam melakukan sesuatu.

2. Self Assurace

Self Assurace merupakan perasaan aman yang dirasakan

seseorang. Perasaan ini terdiri atas perasaan proud (rasa

bangga) dan confident (ketenangan atau kenyamanan) menjadi

seorang biarawati.

3. Attentiveness

Attentiveness merupakan rasa diperhatikan oleh orang lain.

(30)

kasih sayang yang diperoleh biarawati, baik dari biarawati

sekomunitas ataupun orang lain diluar komunitasnya.

Menurut Diener (1993) terdapat beberapa perasaan yang

muncul untuk menjelaskan tentang postitive affect yaitu :

1. Ketenangan

Ketenangan adalah keadaan dimana biarawati merasa

tenang baik secara hati, batin, dan pikiran.

2. Kasih sayang

Kasih sayang adalah perasaan cinta kasih yang dirasakan

biarawati.

3. Kedermawana

Kedermawanan adalah kebaikan hati untuk membantu

sesamanya.

4. Pengampunan

Pengampunan adalah memberikan maaf terhadap

kesalahan yang dilakukan orang lain.

Perasaan yang positif atau perasaan yang menyenangkan

dengan frekuensi yang tinggi akan membuat seseorang mengalami

subjective well-being dalam kehidupannya. Mereka cenderung

akan mampu menikmati perjalanan hidupnya dan memandang

masa depannya lebih baik.

Negative affect merupakan kebalikan dari positive affect ,

(31)

baik itu perasaan yang sedih atau cemas. Watson dan Tellegen

(1985) mengklasifikasikan perasaan negatif dalam PANAS-X

(Positive Affect and Negative Affect Schedule). Mereka

mengklasifikasikan negative affect ke dalam empat bagian, yaitu :

1. Fear

Fear merupakan perasaan takut yang muncul dalam diri

seseorang. Perasaan ini terdiri dari perasaan takut, perasaan

gugup, dan perasaan gelisah yang pernah dialami oleh

biarawati.

2. Hostility

Hostility merupakan perasaan permusuhan yang dialami

dalam diri seseorang yang secara umum disebut dengan

perasaan angry atau marah.

3. Guilty

Guilty merupakan rasa bersalah yang dialami seseorang.

Pada biarawati, perasaan ini muncul saat dirinya melakukan

suatu kesalahan atau melanggar suatu aturan.

4. Sadness

Sadness adalah perasaan sedih yang dialami seseorang.

Pada biarawati, perasaan ini muncul saat dirinya teringat akan

pengalaman yang tidak menyenangkan dimasalalu dan berada

pada kondisi yang tidak menyenangkan atau disaat tertekan

(32)

Menurut Diener (1993) terdapat beberapa perasaan yang

muncul untuk menjelaskan tentang perasaan negatif yaitu :

1. Marah

Marah adalah perasaan tidak senang karena diperlakukan

tidak semestinya.

2. Rasa Bersalah

Perasaan tidak nyaman karena melakukan sesuatu yang

tidak benar atau melanggar peraturan.

3. Egois

Egois adalah perasaan yang selalu mementingkan

kehendak atau keinginan diri sendiri.

4. Kekecewaan

Kekecewaan adalah perasaan tidak puas karena

keinginannya tidak terpenuhi.

5. Sedih

Sedih adalah perasaan pilu didalam hati karena suatu

keadaan yang tidak nyaman.

6. Frustrasi

Frustrasi adalah rasa kecewa akibat kegagalan dalam

melakukan sesuatu atau mencapai sesuatu.

Perasaan negatif atau perasaan yang cenderung tidak

menyenangkan dengan frekuensi yang tinggi akan

(33)

dalam hidupnya. Mereka akan merasa bahwa hidupnya berjalan

dengan buruk. Hal ini mengakibatkan seseorang akan mengalami

gangguan efektivitas keberfungsian hidup, misalnya memandang

dirinya tidak berguna dan tidak berarti.

Berdasarkan rincian diatas terdapat dua aspek yang

berpengaruh dalam pembentukan subjective well-being, yaitu

aspek kognitif dan emosi. Aspek kognitif tersebut dapat dilihat dari

hasil evaluasi terhadap kepuasan hidup atau life satisfaction. Life

satisfaction dapat diukur dengan melihat kepuasan hidup secara

global dan kepuasan hidup dalam domain khusus. Kepuasan hidup

secara global dapat diukur melalui kehidupan seseorang yang dekat

dengan kehidupan ideal yang diinginkan orang tersebut, menikmati

kondisi hidupnya sekarang, puas dengan hidupnya yang sekarang,

puas dengan hidupnya dimasa lalu, dan seberapa besar keinginan

untuk merubah hidup mereka sekarang. Kepuasan hidup dalam

domain khusus dapat diukur dari tingkat pendapatan, relasi dengan

lingkungan sosial, kesesuanan pekerjaan, dan kesehatan.

Kemudian, aspek emosi dapat dilihat dari banyaknya positive affect

dan rendahnya negative affect yang dirasakan seseorang. Positive

affect ditandai dengan seberapa sering mereka merasakan

ketenangaan, kasih sayang, kedermawanan, pengampunan,

perhatian, rasa bersemangat, antusias, dan rasa bangga. Negative

(34)

rasa bersalah, egois atau mementingkan dirisendiri, kekecewaan,

sedih, kegagalan atau frustasi, takut, gugup, gelisah, dan rasa

tertekan.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Subjective Well-Being

Menurut Diener dalam jurnalnya berjudul “Subjective Well-Being:

The Science of Happiness and a Proposal for a National Index”,

terdapat 3 aspek yang mempengaruhi pembentukan subjective

well-being, yaitu:

a. Emosi

Temperamen dan kepribadian terlihat menjadi salah satu

faktor kuat yang mempengaruhi subjective well-being. Lykken dan

Tellegen (dalam Diener & Lucas, 1999) menjelaskan bahwa

kepribadian memberikan pengaruh sebesar 50 % dalam

pembentukan subjective well-being dan berpengaruh sebesar 80 %

pada jangka panjang.

b. Kognitif

Nilai-nilai dan tujuan mempengaruhi seseorang dalam

melihat apa yang terjadi atau melihat peristiwa sebagai hal baik

atau buruk.

c. Sosial

Budaya dan kondisi sosial mempengaruhi subjective

well-being seseorang. Pertama, apakah lingkungan sosial dapat

(35)

dan kesehatan. Kedua, budaya berkorelasi pada pembentukan

tujuan dan nilai-nilai seseorang. Kondisi sosial dan budaya tersebut

mempengaruhi level subjective well-being.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi pembentukan subjective

well-being antar lain adalah :

a. Finansial

Kondisi finansial erat kaitannya dengan pendapatan yang

diterima seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut

hasil penelitian Gross National Happiness Survey Findings, 51%

responden menjawab bahwa keamanan finansial menjadi faktor

utama dalam pembentukan kebahagiaan. Kondisi finansial yang

baik memberikan jaminan terhadap kelayakan hidup bagi mereka.

b. Pendidikan

Pendidikan merupakan kunci bagi seseorang untuk

bergerak ke masa depan. Menurut hasil penelitian Gross National

Happiness Survey Findings, pendidikan memperoleh 26% suara

responden dalam pembentukan kebahagiaan. Fasilitas, sarana

prasarana pendidikan yang memadai, dan kualitas pendidik

merupakan hal-hal yang mempengaruhi kebahagiaan dalam hal

pendidikan.

c. Kesehatan

Kondisi tubuh yang sehat juga berpengaruh dalam

(36)

d. Keluarga dan relasi sosial

Keluarga merupakan faktor penting dalam pembentukan

kebahagiaan seseorang. Perasaan nyaman, aman, dan hangat dapat

diperoleh dari keluarga yang baik. Menurut hasil penelitian Gross

National Happiness Survey Findings, memperoleh 26% suara

responden yang menyatakan bahwa hubungan keluarga yang baik

menjadi salah satu potensi yang besar dalam pembentukan

kebahagiaan.

e. Pekerjaan

Pekerjaan juga menjadi salah satu faktor yang

mempengaruhi kebahagiaan. Kesempatan kerja dan lingkungan

kerja yang baik berpengaruh dalam pembentukan kebagiaan.

f. Kepercayaan dan spiritulalitas

Mengikuti acara keagamaan, mengunjungi rumah ibadah,

dan beribadah dapat menjadi sarana untuk meningkatkan

kebahagiaan. Menurut hasil penelitian Gross National Happiness

Survey Findings, kurang lebih 9% responden mengatakan bahwa

agama dan kegiatan spiritual dapat meningkatkan kebahagiaan

hidup mereka.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga

aspek yang dapat mempengaruhi subjective well-being seseorang, yaitu

aspek emosi, kognitif, dan sosial. Temperamen dan kepribadian adalah

(37)

well-being. Kemudian, faktor kognitif yang mempengaruhi subjective

well-being adalah nilai-nilai dan tujuan hidup seseorang. Budaya dan

kondisi sosial merupakan faktor sosial yang mempengaruhi subjective

well-being seseorang. Selain itu terdapat beberapa faktor lain yang

juga mempengaruhi pembentukan subjective well-being atau

kebahagiaan seseorang, yaitu kondisi finansial, pendidikan, kesehatan,

keluarga dan relasi sosial, pekerjaan, dan kepercayaan dan spiritualitas

seseorang.

4. Perwujudan Tinggi dan Rendahnya Subjective Well-Being

Biarawati yang memiliki subjective well-being yang tinggi

memiliki kepuasan terhadap hidupnya. Secara umum, mereka akan

cenderung menggambarkan kehidupan mereka dekat dengan

kehidupan ideal yang diinginkannya, mampu menikmati hidup, merasa

puas dengan hidupnya yang sekarang, merasa puas dengan hidupnya

dimasa lalu, dan ada tidaknya keinginan untuk merubah hidupnya yang

sekarang (Diener, Sandvik, dan Seidltizt, 1993). Selain itu, biarawati

dengan subjective well-being yang tinggi akan merasa puas dengan

ketercukupinya kebutuhan hidup yang diberikan kongregasi, memiliki

relasi yang baik dengan lingkungan sosialnya, baik itu biarawati

sekomunitas dan orang di luar komunitas, mampu menikmati tugas

pelayanannya sebagai seorang biarawati, dan merasakan kepuasan

(38)

Ketika biarawati memiliki subjective well-being yang tinggi,

mereka cenderung sering merasakan perasaan yang menyenangkan.

Perasaan ini dapat dialami saat mereka merasakan ketenangan dalam

dirinya, merasakan kasih sayang, merasakan kepuasan, melakukan

kedermawanan, dan memberikan pengampunan pada orang lain.

Biarawati dengan subjective well-being yang rendah memiliki

kecenderungan sering merasakan perasaan yang tidak menyenangkan.

Perasaan ini dialami saat mereka marah, merasa bersalah, egois,

merasa iri, merasakan kecewa, sedih, dan merasa frustrasi karena

kegagalan dalam menjalankan tugas pelayanannya sebagai biarawati.

B. Biarawati

1. Pengertian Biarawati

Dalam Kamus Besar Indonesia edisi 4 dijelaskan bahwa biarawati

berasal dari kata dasar biara yang berarti bangunan tempat tinggal

laki-laki atau perempuan yang memfokuskan diri terhadap ajaran dibawah

pimpinan seorang ketua menurut aturan alirannya.

Dalam buku Iman Katholik (1996), biarawati diartikan sebagai

anggota kelompok yang memfokuskan diri mereka dalam kehidupan

kebiaraan dan bertugas untuk membantu uskup. Meski begitu,

biarawati atau suster tidak termasuk dalam hierarki gereja Katolik. Hal

ini dipertegas oleh Konsili Vatikan II yang mengajarkan “Meskipun

status yang terwujudkan dengan pengikraran nasihat-nasihat Injil,

(39)

diceraikan dari kehidupan dan kesucian Gereja (LG44), sebab hidup

membiara berkembang dari kehidupan Gereja sendiri, bahkan

“nasihat-nasihat Injil didasarkan pada sabda dan teladan Tuhan”

(LG43)” (dikutip dari Konferensi Waligereja Indonesia dalam

bukunya yang berjudul Iman Katolik, 1996, hal.375).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa biarawati

adalah wanita yang memfokuskan hidupnya dalam kehidupan

membiara dan hidup dengan memegang teguh kaul suci yang mereka

hayati.

2. Gaya Hidup Biarawati

Gaya hidup seorang biarawati atau suster adalah hidup untuk lebih

melayani sesama dan menghayati ajaran-ajaran Injil dalam hidup

berdoa. Melayani sesama ini diwujud nyatakan dalam semangat

kerasulan ordo atau tarikat yang mereka ikuti, baik dibidang

pendidikan, sosial, kesehatan, ataupun pastoral. Semangat kerasulan di

bidang pendidikan diwujud nyatakan biarawati dengan menjadi

pengelola dan pendidik di sekolah Katholik yang dimiliki kongregasi,

seperti sekolah Ursulin yang dimiliki Ordo Santa Ursula (OSU).

Semangat kerasulan di bidang sosial diwujud nyatakan biarawati

dengan memberikan pendampingan dan konseling, seperti yang

dilakukan Ordo Klaris Kapusines (OSC Cap.) yang memberikan

perhatian khusus untuk melayani para wanita yang tersesat, tertindas,

(40)

nyatakan biarawati dengan mengelola rumah sakit, poliklinik, dan

pusat kesehatan di desa-desa yang dimiliki kongregasi. Hal ini juga

dilakukan oleh para biarawati Carolus Borromeus (CB). Selain itu,

semangat kerasulan dibidang pastoral diwujud nyatakan dengan

pengelolaan rumah retret dan aktif dalam kegiatan gereja

(http://www.indonesianpapist.com/2011/04/situs-ordo-dan-kongregasi-suster-di.html). Kemudian, menghayati ajaran-ajaran Injil

dalam hidup berdoa diwujud nyatakan para biarawati dengan

melakukan doa, baik itu dilakukan secara pribadi ataupun secara

bersama.

Selain itu, hidup dengan memegang teguh kaul suci yang mereka

hayati dan peraturan-peraturan biara menurut ordo mereka

masing-masing. Selain itu dalam menghidupi kaul-kaul suci, suster atau

biarawati memilih hidup membiara dan menjaga kesucian mereka

dengan tidak menikah. Hal ini dilakukan sebagai komitmen mereka

akan kaul selibat atau keperawanan. Kaul selibat atau keperawanan

berbicara tentang totallitas dalam melayani Tuhan dan terus menerus

berusaha mengarahkan hidup mereka kepada Kristus, khususnya

dalam hidup doa (Iman Katolik, 1996). Biarawati atau suster dituntut

untuk taat dan hidup sesuai dengan aturan-aturan. Hal ini dilakukan

dengan berpegang pada janji suci atau kaul ketaatan. Kaul ketaatan

berbicara tentang melayani satu sama lain diantara mereka (antara

(41)

terhadap ajaran-ajaran Injil, yang secara khusus diajarkan oleh

masing-masing “lembaga-lembaga religius” atau yang sering kita

dengar sebagai Ordo (Iman Katolik, 1996). Biarawati atau suster yang

dituntut untuk hidup dalam kesederhanaan bahkan hidup dalam

kemiskinan. Hal ini dilakukan mereka sebagai wujud komitmen

mereka terhadap kaul kemiskinan yang mereka hidupi. Kaul

kemiskinan berbicara tentang meninggalkan segala yang dimiliki

untuk hidup seperti “hamba” seperti ajaran Yesus (Iman Katolik,

1996). Hal ini diwujud nyatakan dengan gaya hidup sederhana yang

dilakukan oleh biarawan atau suster dan nampak jelas dari gaya

berpakaian, hidup keseharian di biara, dan hidup membantu mereka

yang lemah, miskin, sakit, dan dipandang tidak berguna di

masyarakat.

Berdasarkan penjelasan diatas maka gaya hidup biarawati adalah

hidup untuk melayani sesama dan menghayati ajaran-ajaran Injil

dalam hidup berdoa. Melayani sesama ini diwujud nyatakan dalam

semangat kerasulan ordo atau tarikat yang mereka ikuti, baik dibidang

pendidikan, sosial, kesehatan, ataupun pastoral. Kemudian,

menghayati ajaran-ajaran Injil dalam hidup berdoa diwujud nyatakan

para biarawati dengan melakukan doa, baik itu dilakukan secara

pribadi ataupun secara bersama. Selain itu, hidup mereka sangat

memegang teguh kaul suci yang mereka hayati dan

(42)

3. Tahapan Dalam Menjadi Biarawati

Menurut hasil wawancara informal dengan salah biarawati dari

Kongregasi Suster Fransiscan St. Lusia (17 Agustus, 2014), terdapat 4

tahapan dalam seseorang menjadi seorang biarawati secara umum,

yaitu:

1. Aspiran atau juvenis

Aspiran atau juvenis merupakan tahapan awal untuk

menjadi seorang biarawati. Mereka adalah wanita yang baru

beberapa bulan masuk dalam kehidupan membiara.

2. Postulant atau novice

Postulant atau novice adalah mereka sudah hidup membiara

selama 1 hingga 2 tahun.

3. Junior atau biarawati mediator

Pada tahap ini mereka memiliki para biarawati sudah

diberikan kepercayaan untuk menjalankan tugas kerasulan ordo

atau kongregasi. Bisa dikatakan mereka adalah tonggak dalam

pekerjaan misi sebuah ordo atau kongregasi karena mereka

memiliki peran dan tanggung jawab dalam menjalankan misi

ordo, baik itu disekolah-sekolah, dibiara, ataupun ditempat

pelayanan mereka yang lain.

4. Kaul kekal

Pada tahapan ini para biarawati mengucapkan janji setia

(43)

seorang biarawati. Kaul kekal juga berbicara tentang

penyerahan total pada kehidupan pada pelayanan sesuai ajaran

Kristus.

C. Reward

Hukum Thorndike (1911) menjelaskan bahwa pemberian reward

atau hadiah meningkatkan frekwensi dan intensitas seseorang untuk

melakukan sesuatu. Pavlov (1927) mendefinisikan reward sebagai sebuah

objek yang menghasilkan perubahan perilaku subjek. Kemudian, Skinner

(dalam jurnal Behavioral Theories and The Neurophysiology of Reward

tahun 2006) menjelaskan bahwa reward sebagai suatu penguat jalur

stimulus dan respon dalam perilaku individu. Berdasarkan penjelasan

tersebut maka dapat disimpulkan bahwa reward merupakan suatu imbalan

yang diberikan untuk mengubah atau menguatkan suatu perilaku manusia.

Schultz (2006) menuliskan terdapat dua persepsi umum untuk

menjelaskan tentang reward atau imbalan. Pertama adalah seseorang akan

melakukan sesuatu dengan baik untuk mendapatkan hadiah. Kedua adalah

seseorang akan melakukan perilaku yang sama untuk mendapatkan

kesenangan yang sama seperti saat individu melakukan perilaku yang

sama dimasa yang lalu. Selain itu, Schultz juga menjelaskan terdapat

beberapa bentuk umum reward pada manusia, antara lain adalah uang,

kedudukan atau kekuasaan, perasaan aman, pujian, pengakuan, dan masih

(44)

D. Subjective Well-Being Pada Biarawati

Subjective well-being adalah penilaian individu secara kognitif dan

afektif terhadap keseluruhan pengalaman hidup. Subjective well-being ini

dapat tercipta saat seseorang merasakan kepuasan di dalam hidupnya (life

satisfaction). Life satisfaction tentang bagaimana seseorang memandang

atau menilai kehidupannya sekarang. Selain itu, disaat seseorang lebih

banyak mengalami pengalaman dan merasakan perasaan yang

menyenangkan dalam hidupnya (positive affect) dan mengalami sedikit

perasaan yang tidak menyenangkan (negative affect). Perasaan positif

mencangkup perasaan seseorang yang mengalami ketenangaan, kasih

sayang, kedermawanan, kepuasan, dan pengampunan. Serta perasaan

negative yaitu marah, rasa bersalah, egois atau mementingkan dirisendiri,

iri, kekecewaan, sedih,dan kegagalan atau frustasi yang cenderung lebih

sedikit yang dirasakan dan dialami seseorang dalam hidupnya.

Untuk dapat mencapai subjective well-being, orang pada umumnya

terus mengusahakan diri mereka untuk mencapai kondisi financial yang

baik, pendidikan yang tinggi, menjaga kesehatan yang baik dengan hidup

sehat atau bahkan mengikuti asuransi kesehatan, membangun keluarga dan

membangun relasi sosial yang baik dengan lingkungannya, mendapatkan

dan meraih posisi pekerjaan yang baik, dan ikut dalam kegiatan

(45)

hal tersebut dapat dilakukan untuk meraih dan mecapai subjective

well-being dan kebahagiaan dalam hidupnya. Tapi bagaimana dengan

kelompok masyarakat tertentu yang hidup dengan cara berbeda dengan

orang-orang pada umumnya seperti biarawati.

Biarawati adalah cerminan kelompok masyarakat yang ada dan

tetap ada hingga sekarang, memilih hidup dengan cara hidup berbeda

dengan orang pada umumnya. Biarawati adalah wanita yang

memfokuskan diri untuk hidup membiara dan bertugas untuk membantu

uskup serta hidup dengan menghayati ajaran-ajaran Injil. Selain itu, cara

hidup yang mereka lakukan cenderung berbeda dengan orang-orang pada

umumnya. Tercermin nyata dalam tiga kaul-kaul suci yang mereka

pegang dan mereka hayati. Kaul selibat atau kesucian adalah kaul yang

mengharuskan mereka untuk hidup tidak menikah dan membangun

keluarga. Hal ini dilakukan sebagai komitmen mereka akan kaul selibat

atau keperawanan. Kaul selibat atau keperawanan berbicara tentang

totallitas dalam melayani Tuhan dan terus menerus berusaha mengarahkan

hidup mereka kepada Kristus, khususnya dalam hidup doa. Kaul ketaatan

berbicara tentang melayani satu sama lain diantara mereka (antara

biarawati atau suster dengan biarawati atau suster) dan hidup taat terhadap

ajaran-ajaran Injil, yang secara khusus diajarkan oleh masing-masing

“lembaga-lembaga religius” atau yang sering kita dengar sebagai Ordo.

(46)

meninggalkan segala yang dimiliki untuk hidup seperti “hamba” seperti

ajaran Yesus.

Untuk mewujud nyatakan panggilan hidupnya, biarawati nantinya

akan mengikrarkan janji sucinya yang disebut kaul kekal. Untuk mencapai

kesana, seorang biarawati harus melalui proses yang lama dan tidak

mudah. Secara umum, terdapat empat tahapan yaitu aspiran atau juvenis,

postulan atau novice, junior atau mediator, hingga nantinya mencapai kaul

kekal.

E. Kerangka Berpikir

Bagan 2.1 Dinamika Subjective Well-Being pada Biarawati Biarawati

Apakah biarawati mengalami SWB dalam hidupnya? Gaya hidup biarawati,

(47)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan ini adalah kuantitatif. Penelitian

kuantitatif merupakan jenis penelitian yang menggunakan analisis data

dengan menggunakan prosedur statistik. Juliansyah Noor menjelaskan,

penelitian kuantitatif adalah metode pengujian teori tertentu dengan cara

meneliti suatu variabel. Variabel atau instrumen penelitian ini terdiri atas

data-data numerik yang dianalisis dengan menggunakan prosedur statistik

tertentu (dalam bukunya berjudul Metodologi Penelitian, 2011, hal.38).

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif

adalah penelitian yang bertujuan untuk membuat deskripsi mengenai

situasi-situasi atau kejadian-kejadian (dalam buku berjudul Metodologi

Penelitian, 2011, hal.34). Penelitian ini terdiri dari satu skala yang berisi

pernyataan-pernyataan untuk mengukur tentang subjective well-being

biarawati yang dilihat dari lamanya hidup membiara biarawati.

B. Variabel Penelitian

Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah subjective

well-being. Subjective well-being adalah adalah hasil evaluasi individu secara

(48)

C. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah penjabaran dari suatu konsep teoritik

kedalam bentuk yang bisa diukur. Definisi operasional di dalam penelitian

ini adalah :

1. Subjective Well-Being

Dalam penelitian ini, subjective well-being akan dilihat dari skor

total dari alat ukur subjective well-being yang disusun oleh peneliti.

Skor total yang diperoleh merupakan skor dari setiap komponen

pembentuk subjective well-being, yaitu evaluasi terhadap komponen

kogniti dan afektif.

a. Evaluasi Kognitif

Evaluasi kognitif merupakan evaluasi dari kepuasan hidup

secara global dan domain khusus. Alat ukur yang digunakan untuk

pengukuran kepuasan hidup secara global didasarkan pada SWLS

(Satisfaction With Life Scale) oleh Diener, dkk (1985).

Alat ukur yang digunakan untuk pengukuran kepuasan

hidup dalam domain khusus didasarkan pada indikator-indikator

yang terdapat dalam komponen-komponen kognitif pembentuk

subjective well-being yaitu kepuasan hidup yang dikemukakan

Diener, Sandvik, dan Seidltizt (1993), yaitu :

a. Pendapatan

1. Ketercukupan kebutuhan hidup dengan uang atau barang

(49)

b. Relasi dengan lingkungan sosial

1. Kemampuan biarawati menunjukkan sikap yang hangat,

merasa puas, mampu menunjukkan perhatian, memiliki

rasa percaya, memiliki empati, merasakan perasaan

nyaman, dan mampu membangun keakraban dengan

anggota komunitas dan orang di luar komunitas.

c. Pekerjaan

1. Menunjukkan semangat mengerjakan tugas yang diberikan

oleh kongregasi.

2. Menyelesaikan tugas yang diberikan kongregasi dengan

baik.

d. Kesehatan

1. Kondisi tubuh yang segar dan tidak mengalami keluhan

sakit saat melakukan tugas pelayanannya.

Perolehan skor yang tinggi pada skala kepuasan hidup akan

menunjukkan seseorang memiliki tingkat kepuasan hidup yang

tinggi atau positif, namun perolehan skor yang rendah pada skala

kepuasan hidup akan menunjukkan bahwa tingkat kepuasan

hidupnya rendah atau negatif.

b. Evaluasi Afektif

Evaluasi afektif merupakan hasil evaluasi perasaan

(50)

yang terdapat dalam komponen afektif pembentuk subjective

well-being yang dikemukakan oleh Watson dan Tellegen (1985) dalam

PANAS-X (Positive Affect and Negative Affect Schedule) dan

Diener (1993), yaitu

a. Positive Affect

1. Merasakan ketenangaan, kasih sayang, kedermawanan,

pengampunan, perhatian, rasa bersemangat, antusias,

dan rasa bangga dalam menjalani hidup hingga sekarang

menjadi biarawati.

b. Negative Affect

1. Merasakan perasaan marah, rasa bersalah, egois atau

mementingkan dirisendiri, kekecewaan, sedih,

kegagalan atau frustasi, takut, gugup, gelisah, dan rasa

tertekan yang pernah dirasa selama hidup hingga

sekarang menjadi biarawati.

Perolehan skor yang tinggi pada skala positife affect dan

negative affect akan menunjukkan seseorang memiliki positife

affect dan negative affect yang tinggi atau positif, namun perolehan

skor yang rendah pada skala positife affect dan negative affect akan

menunjukkan tingkat positife affect dan negative affect yang

(51)

D. Subjek Penelitian

Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah biarawati.

Biarawati adalah perempuan yang tinggal dibiara dan hidup dengan

memegang teguh kaul suci yang mereka hayati.

Gaya hidup atau corak hidup seorang biarawati adalah hidup untuk

lebih melayani sesama dan menghayati ajaran-ajaran Injil dalam hidup

berdoa. Melayani sesama ini diwujud nyatakan dalam semangat kerasulan

ordo atau tarikat yang mereka ikuti.

E. Metode Pengambilan Sampel

Tehnik pengambilan sampel dilakukan dengan tehnik sample non

probability. Tehnik sample non probability adalah tehnik pengambilan

sempel dengan tidak memberikan peluang atau kesempatan yang sama

bagi setiap anggota populasi untuk menjadi sempel dalam penelitian (Etta

dan Sopiah, 2010). Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan

tehnik purposive samplig. Tehnik ini dilakukan dengan memilih sempel

penelitian yang sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu. Kriteria yang

ditentukan dalam penelitian ini adalah para biarawati.

F. Metode dan Alat Pengumpulan Data

Metode pengumpulan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dengan skala Likert. Peneliti memilih menggunakan skala Likert untuk

mengungkapkan sikap setuju atau tidak setuju terhadap suatu fenomena

sosial. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala subjective

(52)

Pernyataan-pernyataan yang ada dalam skala penelitian ini terbagi

atas dua macam jenis item yaitu aitem favorable dan unfavorable. Aitem

favorable berisikan pernyataan-pernyataan yang mendukung indikator dari

variabel yang ingin diteliti. Aitem unfavorable berisikan

pernyataan-pernyataan yang tidak mendukung indikator dari variabel yang ingin

diteliti (Azwar,2009). Pada skala tersebut terdapat empat alternatif

jawaban yang diberikan yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat

tidak setuju.

Dibawah ini merupakan rincian dari skala penelitian tersebut yaitu,

1. Skala Subjective Well-Being

Skala yang digunakan ini digunakan untuk mengukur tingkat

subjective well-being pada subjek penelitian adalah skala subjective

well-being. Aitem-aitem pada skala penelitian ini dibuat dalam dua

macam, yaitu favorable dan unfavorable. Aitem favorable berisikan

pernyataan-pernyataan yang mendukung terbentuknya subjective

well-being yang terdiri dari komponen kognitif dan afektif. Aitem

unfavorable berisikan pernyataan-pernyataan yang tidak mendukung

terbentuknya subjective well-being yang terdiri dari komponen

kognitif dan afektif. Skala ini dibuat dengan memberikan empat

alternatif jawaban yang diberikan yaitu sangat setuju (SS), setuju (S),

tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Jumlah aitem dalam

penelitian ini adalah 92 aitem yang terdiri atas 43 aitem favorable dan

(53)

Tabel 3.1

Blue Print Skala Subjective Well-Being

No Aspek Sub-Aspek Item Total Favorable Unfavorable

1 Kognitf Kepuasan 1,2,3,11,12,13,21 26,27,28,29,30,46, 38

Hidup 44,45,51,52,53,54 47,48,49,50,79,80, (41,3%)

55,71,72,90,91,92 81,82,85,86,87,88,

89

2 Afektif Positive 4,5,14,15,22,23,24 54

Affect ,25,31,32,33,34,35 (58,7%)

,41,42,43,61,62,63

,64,65,73,83,84

Negative 6,7,8,9,10,16,17,18

Affect , 19,20,36,37,38,39,

40,54,57,58,59,60,

66,67,68,69,70,74,75

,76,77,78

Total aitem 92

(54)

Tabel 3.2

Pemberian Skor pada Skala Subjective Well-Being

Alternatif Jawaban Favorable Unfavorable

Sangat Setuju 4 1

Setuju 3 2

Tidak Setuju 2 3

Sangat Tidak Setuju 1 4

G. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 1. Validitas Skala

Validitas adalah suatu pengukuran yang digunakan untuk melihat

sejauh mana alat ukur yang digunakan dapat mengukur apa yang ingin

diukur dalam suatu penelitian (Etta dan Sopiah, 2010). Validitas yang

digunakan dalam penelitian ini adalah jenis validitas isi. Validitas isi

adalah validitas yang didasarkan pada pendapat profesional

(profesional judgement). Pada penelitian ini penilaian alat ukur

dilakukan oleh dosen pembimbing skripsi sebagai seorang profesional.

Dosen pembimbing skripsi menguji kesesuaian antara aitem-aitem

pada skala dengan komponen-komponen yang akan diukur

(Suryabrata, 2008).

2. Seleksi Aitem

Seleksi aitem digunakan untuk melihat aitem mana yang memiliki

skor tinggi dan mana yang memiliki skor yang rendah. Peneliti

(55)

for Windows. Seleksi aitem didasarkan pada pada daya diskriminasi

aitem yang akan menghasilkan koefisiensi korelasi aitem total (rix).

Daya deskriminasi aitem adalah kondisi dimana aitem yang ada

mampu membedakan antara individu atau sbjek penelitian yag

memiliki dan yang tidak memiliki atribut-atribut yang diukur

(Azwar,2006).

Koefisiensi korelasi aitem total (rix) merupakan korelasi antara skor

aitem dengan skor aitem total. Besarnya koefisiensi korelasi aitem total

(rix) bergerak dari 0 sampai dengan 1,00 baik itu positif maupun

negatif. Skor yang semakin mendekati 1,00 akan memiliki daya

deskriminasi yang tinggi dan apabila skor mendekati angka 0 maka

aitem tersebut memiliki daya deskriminasi yang rendah. Kemudian,

batasan yang digunakan dalam pemilihan aitem adalah rix≥ 0,3. Hal ini

berarti semua aitem yang mencapai koefisiensi korelasi aitem total

minimal 0,30 dan dapat dikatakan aitem tersebut memuaskan. Namun,

aitem dengan koefisiensi korelasional aitem total ≤ 0,3 maka aitem

tersebut memiliki daya deskriminasi yang rendah dan akan digugurkan

(Azwar, 2006).

Pada skala ini terdapat dua komponen pembentuk subjective

well-being yaitu komponen kognitif dan afektif. Pada komponen kognitif,

terdapat 38 aitem yang terdiri atas 19 aitem favorable dan 19 aitem

unfavorable. Hasil pengujian data pada komponen kognitif

(56)

sedangkan aitem yang memiliki nilai rix ≤ 0,3 adalah aitem 2, 26, 30,

71, 85, 87, 90, dan 91. Jadi dalam komponen kognitif terdapat 8 aitem

yang gugur. Kemudian, pada komponen afeksi terbentuk atas positive

affect dan negative affect. Positive affect merupakan aitem-aitem

favorable dan negative affect merupakan aitem-aitem unfavorable

pembentuk komponen afektif. Pada komponen afektif menunjukkan

bahwa terdapat 54 aitem yang terdiri atas 24 aitem favorable dan 30

aitem unfavorable. Hasil pengujian data menunjukkan bahwa terdapat

34 aitem yang memiliki rix ≥ 0,3, sedangkan aitem yang memiliki nilai

rix ≤ 0,3 adalah aitem 6, 7, 8, 9, 10, 16, 17, 19, 23, 35, 57, 59, 61, 64,

66, 67,68, 74, 75, dan 77. Jadi dalam komponen afektif terdapat 20

(57)

Tabel 3.3

Komponen dan Distribusi Aitem Skala Subjective Well-Being

No Aspek Sub-Aspek Item Total

Favorable Unfavorable

1 Kognitf Kepuasan 1,3,11,12,13,21 27,28,29,46, 30

Hidup 44,45,51,52,53,54 47,48,49,50,79,80, (46,9%)

55,72,92 81,82,86,88, 89

2 Afektif Positive 4,5,14,15,22,24 34

Affect ,25,31,32,33,34 (53,1%)

,41,42,43,62,63

,65,73,83,84

Negative 18,20,36,37,38,39,

Affect 40,54,58,60, 69,70

,76,78

Total aitem 64

(100%)

3. Reabilitas

Reliabilitas adalah sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat

(58)

pengukuran tersebut reliabel, sedangkan pengukuran yang memiliki

reliabilias yang rendah menunjukkan bahwa pengukuran tersebut tidak

reliabel dan tidak dapat dipercaya (Azwar, 2011). Reliabilitas

dinyatakan oleh koefisiensi reliabilitas (rxx’) yang berada dari rentang 0

sampai dengan 1,00. Pengukuran yang reliabel jika skor koefisiensi

reliabilitasannya mendekati angka 1,00 (Azwar, 2011).

Skala subjective well-being diuji dengan menggunakan tehnik

Alpha Cronbach dan didapatkan hasil (r) = 0,940, dan koefisiensi

Alpha Cronbach setelah seleksi aitem adalah (r) = 0,951. Nilai Alpha

Cronbach menjadi naik dikarenakan adanya 28 aitem yang kurang

baik digugurkan sehingga meningkatkan koefisiensi Alpha Cronbach.

H. Analisis Data

Data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan

katagorisasi. Pengkatagorisasian dilakukan dengan mengkatagorisasikan

subjek berdasarkan tingkatan subjective well-being biarawati yang dilihat

dari lamanya waktu membiara. Tujuan pengkatagorisasian adalah untuk

menempatankan individu kedalam kelompok-kelompok secara berjenjang

berdasarkan atribut yang ingin peneliti lihat, yaitu dari yang sangat rendah

ke yang sangat tinggi (Azwar, 2006). Luas interval setiap katagori

diperoleh melalui beberapa tahapan perhitungan, diantaranya adalah :

a) Menentukan skor maksimum : Nilai tertinggi tiap aitem x

(59)

b) Menentukan skor minimun : Nilai terendah tiap aitem x jumlah

terpakai

c) Menghitung mean teoritik : (skor maksimum + skor minimum)

: 2

d) Standart Deviasi : (skor maksimum – skor minimum) : 6

Norma katagorisasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah

(Azwar, 2006):

X ≤ (Mean –(1,5.σ)) katagori Sangat Rendah

(Mean –(1,5.σ)) < X ≤ (Mean –(0,5.σ)) katagori Rendah

(Mean –(0,5.σ)) < X ≤ (Mean + (0,5.σ)) katagori Sedang

(Mean + (0,5.σ)) < X ≤ (Mean + (1,5.σ)) katagori Tinggi

(Mean + (1,5.σ)) < X katagori Sangat Tinggi

(60)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 27 Desember 2014 sampai

dengan 30 Januari 2015. Pengambilan data dilakukan dengan meminta

bantuan kepada para suster untuk mengisi skala. Setiap subjek penelitian

mendapatkan satu buah kuesioner yang berisi skala subjective well-being.

Peneliti menggunakan beberapa metode dalam menyebarkan skala

kepada pada suster. Pertama adalah dengan meminta bantuan pada suster

secara personal dan langsung untuk mengisi skala. Kedua adalah dengan

datang door to door ke biara-biara untuk meminta ijin untuk membagikan

skala. Ketiga adalah dengan meminta ijin pada suster untuk membagi

skala dalam acara Natalan Gabungan Frater dan Suster. Berikut pemaparan

(61)

Tabel 4.1

Kongregasi atau Ordo Subjek Penelitian

No Nama Ordo / Kongregasi Jumlah

1 PIJ (Sang Timur) 10

2 PBHK 2

3 SCMM 1

4 JMJ 4

5 KYM 7

6 FSE (Fransiskan Santa Elisabeth) 5

7 FDCC 3

8 SFD 5

9 Charitas 2

10 FCH 3

11 KSFL (kongregasi Fransiskan Santa Lusia) 8

12 SPM (Santa Perawan Maria) 4

13 FCM 3

14 PPYK (Putri-Putri Yesus Kristus) 2

15 OSF 2

16 SSCC 8

Total 69

Skala yang tersebar sebanyak 80. Setelah menunggu sampai batas

(62)

tidak kembali karena sebagian skala hilang. Selain itu, skala tidak kembali

karena skala kembali setelah batas waktu yang ditentukan oleh peneliti.

Kuesioner yang terkumpul selanjutnya diperiksa. Terdapat 5 skala yang

tidak terisi dengan baik. Jadi jumlah skala yang dapat dijadikan data

adalah 69.

Dalam penelitian ini juga, peneliti menggunakan uji coba terpakai.

Peneliti menggunakan uji coba terpakai dengan beberapa alasan yang

mendasarinya. Pertama adalah pada bulan Desember pastilah banyak

universitas yang libur karena libur Natal ataupun libur semester sehingga

ada kemungkinan akan banyak suster yang akan kembali ke daerah

asalnya melihat sebagian suster di Jogja adalah pelajar. Kedua adalah akan

banyak suster yang sibuk karena Natal sehingga akan sulit untuk meminta

ijin ke biara-biara untuk meminta ijin melakukan penelitian. Ketiga adalah

cukup lamanya mengurus perijinan penelitian dibiara. Hal ini dikarnakan

harus adanya persetujuan dari kepala biara untuk melakukan penelitian

dan menurut hasil lapangan kepala biara sering tidak ada ditempat karena

adanya tugas keluar. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kurangnya

subjek penelitian maka peneliti menggunakan uji coba terpakai dalam

penelitian ini.

B. Deskripsi Subjek

Subjek yang terlibat dalam penelitian ini adalah biarawati atau

(63)
(64)

KSFL Junior 4-10 tahun 25-28 tahun 5

menguji apakah suatu nilai tertentu berbeda secara nyata atau tidak dengan

rata-rata sebuah sampel atau mean empirik (Santoso, 2010). Pada

penelitian ini, rata-rata sampel penelitian (mean empirik) akan

dibandingkan dengan mean teoritik. Mean teoritik didapat dengan

menggunakan rumus, yaitu mean teoritik = (Xmin + Xmax) : 2.

Sedangkan mean empirik diperoleh dari rata-rata skor responden.

Gambar

Tabel 3.3.Komponen dan Distribusi Aitem Skala Subjective Well-Being ............38
Tabel 3.1
Tabel 3.2
Tabel 3.3
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian, dari sisi aspek hubungan positif dengan sesama, bahwa tiga dari enam subjek memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan orang tua dan merasa tidak nyaman saat

1) Deskripsi Panti Asuhan Subjek Penelitian.. Jumlah subjek keseluruhan dari ketiga panti asuhan tersebut yakni 40 remaja dengan presentase 100%. 2) Deskripsi jenis kelamin

Subjek merasa seharusnya tidak melakukan aborsi jika saja hubungan seksual pranikah yang dilakukannya dapat dicegah, untuk itu saat ini yang dilakukan subjek

akan memberikan gambaran subjective well-being pada pekerja perempuan yang meliputi keadaan subjek pada saat bekerja, beradaptasi dengan lingkungan kerja, perasaan atau

Penelitian Diansari (2016) juga menyatakan bahwa subjek yang memiliki SWB yang baik terlihat dari komponen kognitif subjek yaitu: memiliki penerimaan diri, tidak

Subjek dalam penelitian ini terdiri dari empat orang subjek muslim dewasa madya yang belum pernah menikah Dari hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan

Subjek merasa seharusnya tidak melakukan aborsi jika saja hubungan seksual pranikah yang dilakukannya dapat dicegah, untuk itu saat ini yang dilakukan subjek untuk

Kemudian, dari sisi aspek hubungan positif dengan sesama, bahwa tiga dari enam subjek memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan orang tua dan merasa tidak nyaman saat