BAB II LANDASAN TEORI
2.2 Landasan Teori
2.2.4 Pengertian Pendekatan Kontekstual
2.2.4.1 Komponen Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan suatu pendekatan yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman belajar yang lebih bersifat konkret melalui keterlibatan aktivitas siswa mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri. Dengan demikian pembelajaran tidak sekedar dilihat dari sisi produk, melainkan juga dari sisi proses. Pembelajaran kontekstual memiliki tujuh komponen utama yang harus dikembangkan menurut Ditjen Dikdasmen (dalam Hernawan, dkk., 2007: 158-160) sebagai berikut:
Kontruktivisme (Contructivisme)
Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Pengetahuan bukan seperangkat fakta dan konsep yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus membangun pengetahuan itu memberi makna melalui pengalaman yang nyata.
Menemukan (Inquiry)
Pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan bukan merupakan hasil dari
mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil menemukan sendiri.
Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Melalui penerapan bertanya, pembelajaran akan lebih hidup, akan mendorong proses dan hasil belajar yang lebih luas dan mendalam, dan akan banyak ditemukan unsur-unsur lain yang terkait yang sebelumnya tidak terpikirkan baik oleh guru maupun siswa.
Masyarakat Belajar (Learning Community)
Membiasakan siswa untuk melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya. Jadi, hasil pembelajarannya diperoleh dari kerja sama dengan orang lain melalui berbagai pengalaman.
Pemodelan (Modeling)
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Pembuatan model dapat dijadikan alternatif untuk mengembangkan pembelajaran agar bisa memenuhi harapan siswa secara menyeluruh dan membantu mengatasi keterbatasan yang dimiliki oleh para guru.
Kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan, sikap dan keterampilan pada dunia nyata yang dihadapi siswa akan mudah diaktualisasi ketika pengalaman belajar itu telah terinternalisasi dalam setiap jiwa siswa. Jadi refleksi yang merupakan cara berpikir tentang apa yang baru terjadi atau baru saja dipelajari sangat penting diberikan di setiap pembelajaran.
Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment)
Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan siswa. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan belajar, maka guru segera mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan di akhir periode pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (Ebta/Ebtanas/US/UN), tetapi dilakukan bersama secara integral tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.
Adapun karakterisitik penilaian autentik menurut Trianto (2007:115) yaitu dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, yang diukur keterampilan dan performansi bukan mengingat fakta, berkesinambungan, terintegrasi, dan dapat digunakan sebagai feed back.
Dalam CTL yang dapat digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa, antara lain: proyek/kegiatan dan laporannya, PR (pekerjaan rumah), kuis, karya siswa, presentasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis, dan karya tulis.
Melalui komponen-komponen dalam pembelajaran kontekstual tersebut maka dapat dilakukan implementasi pendekatan kontekstual terhadap unsur tema dan amanat dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro SMA kelas XI semester I. Langkah –langkah pembelajaran kontekstual tersebut ialah sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi (kontruktivisme) novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro
Kontruktivisme dilakukan dengan cara mengidentifukasi novel. Langkah ini siswa membaca novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro dan memahami isi ceritanya, kemudian siswa menuliskan sinopsis atau
ringkasan cerita agar lebih mudah memahami secara mendalam isi cerita tersebut.
2) Analisis (menemukan/inquiry) unsur tema dan amanat novel 5 cm.
Inquiry dilakukan dengan cara menganalisis novel. Langkah kedua ini siswa menganalisis unsur tema dan amanat yang terdapat dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Oleh karena itu siswa diharapkan terlebih dahulu memahami definisi tema dan amanat, kemudian langkah-langkah dalam menentukan tema. Langkah-langkah dalam menentukan tema adalah persoalan yang paling menonjol, secara kualitatif, persoalan yang banyak menimbulkan konflik yang melahirkan peristiwa, dan menentukan waktu penceritaan yang diperlukan untuk menceritakan peristiwa atau tokoh-tokoh yang ada dalam karya sastra. Selain itu siswa harus memahami teknik penyampaian moral meliputi implisit dan eksplisit.
3) Bertanya
Dalam langkah ini, siswa mengaitkan kisah dalam novel 5 cm baik tema dan amanatnya dalam kehidupan sehari-hari, tujuanya adalah agar siswa menemukan konsep pembelajaran yang dipelajarinya.
4) Diskusi kelompok.
Langkah diskusi kelompok ini membuat siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 3 sampai 4 orang. Setiap kelompok akan dibagikan teks cuplikan salah satu bab dari novel 5 cm. Kemudian siswa mendiskusikan dengan kelompoknya masing-masing mengenai unsur intrinsik tema dan amanat dalam bab tersebut. Dalam kelompok, masing-masing siswa menyampaikan ide mengenai tema dan amanat dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro.
5) Pemodelan
Langkah pemodelan ini adalah langkah dimana guru menyiapkan model yaitu sebuah novel yang dianalisis unsur intrinsik tema dan amanatnya. Guru menyajikan ringkasan cerita kemudian mengambil salah satu bab pada novel tersebut kemudian guru memberi pemodelan pembelajaran agar siswa memahami secara rinci langkah dalam menentukan tema dan amanat.
6) Refleksi
Pada langkah ini siswa diberi kesempatan untuk merencana, menimbang membandingkan, menghayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri. Untuk dapat menguji pemahaman siswa, setelah pembelajaran
akan selesai, siswa hendaknya membuat catatan kecil mengenai pemahamannya akan pembelajaran dan materi yang telah dibahas dalam kelas. Refleksi ini dapat berupa penghayatan akan pengetahuan yang diperoleh baik dari kelebihan maupun kekurangan yang didapatnya.
7) Penilaian
Langkah penilaian ini guru melakukan evaluasi pembelajaran agar guru dapat mengetahui hasil dari belajar siswa dan penilaian keterampilan siswa.
2.3 Pembelajaran Sastra di SMA