• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEBIJAKAN PENDIDIKAN DALAM SISTEM PENDIDIKAN

B. Komponen Pendidikan

Dari delapan standar pendidikan yang diterakpkan BSNP ada beberapa hal yang melekat pada standar pendidikan :

1. Dasar dan Tujuan pendidikan

Pendidikan yang berjalan di Indonesia di atur dalam Undang-undang no 20 Tahun 2003 tentang sitem pendidikan Nasional, dan sebagai dasar pendidikan Nasional adalah pancasila dan undang-undang dasar 1945. Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangkan mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan akan sama dengan gambaran manusia terbaik menurut orang tertentu. Mungkin saja seseorang tidak mampu melukiskan dengan kata-kata tentang bagaimana manusia yang baik yang Ia maksud. Sekalipun demikian tetap saja Ia menginginkan tujuan pendidikan itu haruslah manusia terbaik. Pendidikan bertujuan membentuk manusia supaya mempunyai kepribadian yang menjunjung tinggi spiritualitas dan moralitas. Jadi sesuai dengan apa yang dikatakan KH. Sahal Mahfudz

xli

bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan usaha sadar yang membentuk watak dan perilaku secara sistematis, terenca dan terarah. Sedangkan Noeng Muhadjir mensyaratkan bahwa aktifitas pendidikan adalah aktifitas interaktif anatar pendidik dan subyek didik untuk mencapai tujuan yang baik dengan cara yang baik dan dalam konteks positif.

Tujuan pendidikan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh kegiatan pendidikan. Tujuan pendidikan , menurut jenisnya terbagi dalam beberapa jenis, yaitu tujuan Nasional, institusional, kurikuler dan intruksional. Tujuan Nasional adalah tujuan pendidikanyang ingin dicapai oleh suatu bangsa; tujuan institusional adalah tujuan pendidikan yang ingin dicapai suatu lembaga pendidikan; Tujuan kurikuler adalah tujuan pendidikan yang ingin dicapai suatu suatu mata pelajaran tertentu ; dan “ tujuan instruksional adalah tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh suatu pokok atau sub pokok bahasan tertentu” ( Suwarno. 2014: 34 ). 2. Kurikulum Pendidikan

Secara etimologis, istilah kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu, curir yang artinya “pelari” dan curere yang berarti tempat berpacu, istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga, terutama dalam bidang atletik pada zaman Romawi kuno di Yunani. Dalam bahasa perancis, istilah kurikulum berasal dari kata Courier yang berarti berlari. Kurikulum berarti suatu jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dari garis start sampai dengan garis finish untuk memperoleh medali atau

xlii

penghargaan. Jarak yang harus ditempuh tersebut kemudian diubah menjadi program sekolah dan semua orang yang terlibat didalamnya. “Dengan demikian secara terminolgi istilah kurikulum dalam pendidikan adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan peserta didik disekolah untuk memperoleh ijazah” (Arifin. 2012:2).

Dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 19 tentang sistem pendidikan Nasional pengertian kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Pengertian kurikulum dapat disimpulkan dari dua sisi yang berbeda, yakni menurut pandangan lama dan pandangan baru. Pandangan lama, atau sering juga disebut pandangan tradisional, merumuskan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh murid untuk memperoleh ijazah.

Pengertian tadi mempunyai implikasi sebagai berikut :

a. Kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran, mata pelajaran sendiri pada hakikatnya adalah pengalaman nenek moyang dimasa lampau. b. Mata pelajaran adalah sejumlah informasi atau pengetahuan, sehingga

penyampaian mata pelajaran pada siswa akan membentuk mereka menjadi manusia yang mempunyai kecerdasan berfikir

c. Mata pelajaran menggambarkan kebudayaan masa lampau, adapun pengajaran berarti penyampaian kebudayaan kepada generasi muda.

xliii

d. Tujuan mempelajari mata pelajaran adalah untuk memperoleh ijazah. Ijazah diposisikan sebagai tujuan, sehingga menguasai mata pelajaran berarti telah mencapai tujuan belajar

e. Adanya aspek keharusan bagi setiap siswa untuk mempelajari mata pelajaran yang sama. Akibatnya, faktor minat dan kebutuhan siswa tidak dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum.

f. “Sistem penyampaian yang digunakan oleh guru adalah sistem penuangan . akibatnya, dalam kegiatan belajar gurulah yang lebih banyak bersikap aktif, sedangkan siswa hanya bersifat pasif belaka” ( Hamalik. 2011:1).

Seiring berkembangnya dunia pendidikan, pengertian kurikulumpun berkembang. Ronald C. Doll mengatakan bahwa pengertian kurikulum secara umum diterima, yakni sebagai isi pelajaran atau kumpulan mata pelajaran, telah berubah menjadi pengalaman yang ditawarkan siswa dibawah bimbingan arahan sekolah. Kurikulum terdiri dari struktur dan fungsi.” Struktur kurikulum merupakan rencana yang tertulis, sedangkan fungsi kurikulum merupakan pelaksanaan, evaluasi, dan pengembangan kurikulum” (Aziz. 2010:63).

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan pasal 1 ayat 16 kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan

xliv

pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Pendidikan di Indonesia telah diatur daam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam penjelasan atas undang- undang nomr 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional dikemukakan bahwa pendidikan Nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memperdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

Berdasarkan visi pendidikan tersebut, pendidikan Nasional mempunyai misi sebagai berikut: (a) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; (b) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai ahir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; (c) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral; (d) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar Nasional dan global; dan (e) memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prisip otonomi dalam konteks Negara kesatuan Republik Indonesia.

xlv

Kurikulum adalah kegiatan yang mencakup berbagai rencana kegiatan peserta didik yang terperinci berupa bentuk-bentuk bahan pendidikan, saran-saran strategi belajar-mengajar, pengaturan-pengaturan program agar dapat diterapkan, dan hal-hal yang mencakup pada kegiatan yang bertujuan mencapai tujuan ( Mujib. 2006:122).

Dalam proses belajar mengajar kedudukan kurikulum sangat penting, yakni kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, yakni tujuan terahir yang dicapai: tujuan pendidikan Nasional, sampai pada tujuan pendidikan terendah yakni tujuan yang akan dicapai setelah selesai kegiatan belajar mengajar. “Sistem kurikulum merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan, sistem persekolahan dan sistem masyarakat‟ ( Ismawati. 2012: 9).

3. Peserta Didik

“Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu” ( Suwarno. 2014: 36 ). Anak didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun psikis untuk mencapai tujuan pendidikannya melalui proses pendidikan. “Definisi tersebut memberi arti bahwa anak didik adalah anak yang belum dewasa yang memerlukan orang lain untuk menjadi dewasa” (Aziz. 2010:24). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipahami dalam masalah anak didik:

xlvi

a. Anak didik bukan miniatur orang dewasa. Ia mempunyai dunia sendiri, sehingga metode belajar yang digunakan untuk anak tidak sama dengan orang dewasa.

b. Perkembangan anak didik mengikuti periode dan tahap perkembangan tertentu

c. Anak didik memiliki kebutuhan dan menuntut untuk memenuhi kebutuhan itu semaksimal mungkin.

d. Anak didik memiliki perbedaan anatar individu dengan individu yang lain, baik perbedaan yang disebabkan dari endogen ( fitrah ) maupun eksogen.

e. Anak didik dipandang sebagai kesatuan sistem manusia.

Dengan berpijak pada paradigma “ belajar sepanjang masa” maka istilah yang tepat untuk menyebut individu yang menuntut ilmu adalah peserta ddik dan bukan anak didik. Peserta didik cakupannya lebih luas, yang tidak hanya melibatkan anak-anak, tetapi juga pada orang-orang dewasa. Sementara istilah anak didik hanya dikususkan bagi individu yang berusia kanak-kanak. “Penyebutan peserta didik ini juga mengisyaratkan bahwa lembaga pendidikan di masyarakat, seperti majelis taklim, paguyuban, dan sebagainya” ( Mujib.2012:103).

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Pendidikan Nasional

xlvii

bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa.

4. Lingkungan Pendidikan

“ Lingkungan Pendidikan adalah lingkungan yang melingkupi terjadinya proses pendidikan. Lingkungan pendidikan meliputi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat” ( Suwarno. 2014:39 ). Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia baik berupa benda mati ataupun hidup, ataupun peristiwa-peristiwa yang terjadi termasuk kondisi masyarakat terutama yang dapat memberikan pengaruh kuat terhada individu. Seperti lingkungan tempat pendidikan berlangsung dan lingkungan tempat anak bergaul. Lingkungan ini kemudia secara khusus disebut lembaga pendidikan sesuai dengan jenis dan tanggung jawab yang secara khusus menjadi bagian dari karakter lembaga tersebut ( Kadir. 2014:157).

Menurut Imam Barnadib dalam bukunya Filsafat Pendidikan

mengatakan bahwa lingkungan pendidikan yang lebih luas adalah masyarakat global, masyarakat selalu membangun kekuatan untuk berubah dan berkembang, yang dalam banyak hal belum ada pada tradisi-tradisi yang dipertahankan.

Dokumen terkait