• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Kronis

2.2.3 Komponen Resiliensi

Adapun komponen resiliensi menurut Wagnild dan Young (1993) adalah sebagai berikut :

a. Kebermaknaan (Meaningfulness)

Kebermaknaan merupakan suatu kesadaran hidup memiliki tujuan,

dimana diperlukan suatu usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Komponen ini adalah yang menjadi dasar dari keempat komponen lainnya sekaligus menjadikan komponen-komponen terpenting dari resiliensi itu sendiri. Hal ini dikarenakan tanpa tujuan akan menjadi sia-sia dan tidak bermakna. Menurutnya, akan sangat sulit untuk menjalani hidup tanpa tujuan yang baik, karena tujuan tersebut yang akan membantu setiap individu yang mengalami kesulitan ataupun mendorong untuk maju.

b. Ketenangan hati (Equanimity)

Ketenangan hati merupakan suatu perspektif mengenai keseimbangan dan harmoni yang dimiliki individu yang berkaitan tentang hidup berdasarkan pengalaman yang terjadi masa hidupnya. Para individu yang resilien telah memahami bahwa hidup bukanlah sebatas hal yang baik dan buruk. Mereka mampu untuk memperluas perspektifnya sehingga dapat lebih fokus pada aspek positif daripada negatif dari setiap kejadian dalam hidupnya. Selain itu mereka pun telah belajar untuk tidak menunjukkan

Universitas Sumatera Utara

respon yang ekstreem dan sikap tenang. Hal tersebut menjadikan individu yang resilien sebagai individu yang optimis, karena bahkan pada situasi yang sulit mereka mampu melihat kesempatan untuk tidak menyerah dan menemukan jalan keluar. Baik pengalaman diri sendiri maupun orang lain pun dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran bagi mereka. Dalam komponen ini juga termasuk adanya humor pada individu yang resilien. Mereka mampu menertawai diri sendiri maupun lingkungannya ketika berada pada situasi yang relevan.

c. Ketekunan (Perseverance)

Ketekunan yaitu suatu tindakan untuk bertahan meskipun harus menghadapi tantangan dan kesulitan. Selain itu, memiliki komponen ketekunan juga berarti bahwa seseorang bersedia untuk berjuang untuk menyusun kembali hidupnya dan disiplin terhadap dirinya sendiri. Secara umum, resiliensi melibatkan komponen ketekunan karena pada dasarnya konsep ini merupakan sebuah kemampuan untuk bangkit ketika seseorang telah jatuh. Dalam mencapai tujuan hidup, sering kali kita bertemu dengan hambatan, kesulitan bahkan kegagalan. Kondisi ini sangat mendorong seseorang untuk menyerah. Namun demikian, individu yang resilien akan terus bertahan untuk terus berjuang sampai akhir. Salah satu cara untuk membangun ketahanan ini adalah dengan menekuni rutinitas yang positif dan membuat tujuan realistis dalam hidup.

Universitas Sumatera Utara

d. Kemandirian (Self-Reliance)

Kemandirian yaitu keyakinan individu terhadap diri serta kemampuan yang ia miliki. Melalui berbagai pengalaman, baik itu kesuksesan maupun kegagalan, individu yang resilien belajar untuk mengatasi masalahnya sendiri. Keterampilan tersebut yang kemudian memunculkan rasa percaya akan kemampuan dirinya sendiri. Mereka secara berkesinambungan menggunakan, mengadaptasi, memperkuat, serta memperbaiki keterampilan tersebut sepanjang hidupnya. Selain itu, kemandirian juga merupakan kemampuan individu untuk bergantung pada dirinya serta mengenali kekuatan dan keterbatasan yang ia miliki.

e. Eksistensial kesendirian (Existential aloneness)

Eksistensial kesendirian merupakan suatu kesadaran bahwa jalan hidup setiap orang bersifat unik serta mampu menghargai keberadaan dirinya sendiri. Individu yang resilien mampu berteman dengan dirinya sendiri dalam artian merasa puas, nyaman, dan menghargai keunikan yang ada pada dirinya. Komponen eksistensial kesendirian menunjukkan bahwa individu yang resilien mampu untuk merasa nyaman atas kondisi dirinya sendiri. Mereka menghargai dirinya dan sadar penuh bahwa ia memiliki banyak hal yang dapat dikontribusikan untuk lingkungan sekitarnya. Mereka pun tidak merasakan tekanan untuk melakukan konformitas dengan lingkungannya. Karakteristik eksistensial kesendirian bukan berarti tidak menghiraukan pentingnya berbagi pengalaman dan merendahkan orang lain, melainkan menerima diri sendiri apa adanya.

Universitas Sumatera Utara 2.2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi Resiliensi

Faktor-faktor yang memengaruhi resiliensi terbagi menjadi faktor risiko dan faktor protektif. Adapun faktor-faktor tersebut menurut Nasution (2011) adalah sebagai berikut :

a. Faktor resiko

Faktor resiko dalam kehidupan dapat berasal dari berbagai sumber, yaitu sumber internal dan eksternal dalam keluarga dan dari dalam diri sendiri. Berbagai faktor resiko yang dapat disandangkan pada individu antara lain sebagai berikut: a. anggota dari kelompok berisiko tinggi, misalnya anak-anak dari keluarga yang serba kekurangan dalam kebutuhan materialnya serta hidup dalam kemelaratan; b. tumbuh dilingkungan yang penuh kekerasan atau tercerabut; c. terlahir memiliki cacat fisik, mengalami trauma fisik atau penyakit; d. mengalami kondisi penuh tekanan dalam jangka waktu yang lama, misalnya mengalami disfungsi dalam keluarga atau anak-anak dari orang tua yang memiliki gangguan mental; e. menderita trauma, misalnya kekerasan fisik atau seksual, atau berada dalam situasi perang.

Pada dasarnya manusia menerjemahkan berbagai pengalaman hidup tersebut secara berbeda. Hasil penelitian Reivich & Shatte (2002) menunjukkan bahwa kebanyakan orang menganggap dirinya cukup memiliki resiliensi, padahal sebenarnya kebanyakan orang tidak siap secara emosional ataupun psikologis untuk menghadapi penderitaan. Setiap orang berisiko putus asa dan merasa tidak berdaya, jadi tidak ada

Universitas Sumatera Utara

orang yang tidak membutuhkan resiliensi karena pada dasarnya setiap manusia pernah, sedang, atau akan mengalami kesulitan dalam satu atau beberapa area kehidupannya.

b. Faktor Protektif

Faktor protektif memainkan peran penting dalam memodifikasi efek negatif lingkungan yang merugikan hidup dan membantu menguatkan resiliensi. Penelitian terdahulu menunjukkan tiga perangkat variabel yang berlaku sebagai faktor protektif yang mungkin menghalangi atau menghentikan pengaruh kuat dari pengalaman yang merugikan. Faktor-faktor ini meliputi karakteristik individu, lingkungan keluarga, dan konteks sosial yang lebih luas.

Seperangkat faktor triarkik ini dapat dipahami sebagai sumber daya psikososial yang mendukung atau meningkatkan perkembangan adaptif. Individu yang dapat mendatangkan sumberdaya pribadi dan sosial dalam jumlah banyak atau level yang tinggi akan lebih efektif dalam melakukan

koping terhadap kesulitan dibanding individu yang memiliki sumberdaya

yang sedikit. Faktor protektif ini dilaksanakan dalam tiga tingkat yaitu pengaruh individu, keluarga, komunitas yang lebih luas dan dinamakan kerangka triarkik dari resiliensi.

Dokumen terkait