Komponen seni dalam proses penciptaan seni sebagai landasan berkarya. Komponen seni tersebut meliputi: Subject matter, isi dan bentuk.
1. Subject matter
Subject Matter dalam seni adalah sesuatu persoalan yang akan diungkap pada suatu karya, dan sering kali juga disebut pokok soal atau tema. Tetapi karena persoalan ini kadang-kadang sulit untuk dipecahkan terutama dalam seni rupa, maka orang cenderung beranggapan bahwa pokok soal adalah tema. Seperti pengertian “subject matter” berikut ini. Terlepas dari dibedakannya pokok soal dan tema, maka pada setiap karya seni yang beraliran abstrak sekalipun, akan selalu memiliki subject matter, pokok soal atau tema. Dalam karya-karya abstrak subject matter yang dimaksud ada dalam dunia ide atau konsep-konsep intelektual, dan ini berlainan dengan karya-karya non abstrak dimana Subject matter mendasarkan pada obyek-obyek yang dapat dilihat atau fakta-fakta. (P. Mulyadi, 1994:15).
commit to user
Subject matter dalam seni berasal dari kesatuan kualitatif hasil pengolahan batiniah seniman terhadap hal-hal atau apa saja yang ideal. Waktu dan kondisi lingkungan beserta situasi psikis seniman sangat menentukan tempatnya subject matter dan karya. (Suryo Suradjijo, 2000:66)
2. Isi atau arti
Isi disebut sebagai kualitas atau arti, yang ada dalam suatu karya seni. Isi juga dimaksudkan sebagai final statement, mood atau pengalaman penghayat, isi merupakan arti yang essential daripada bentuk, dan seringkali dinyatakan sebagai sejenis emosi, aktifitas intelektual atau assosiasi yang kita lakukan terhadap suatu karya seni. Apabila ada suatu usaha untuk menganalisa mengapa bentuk dari suatu karya menimbulkan emosi atau ekspresi terhadap kita, atau menstimulir aktifitas intelektual penghayatnya, sebenarnya kita sedang berhadapan dengan isi atau arti. (P. Mulyadi, 1994:16-17)
3. Bentuk
Bentuk dalam suatu karya seni adalah aspek visualnya, atau yang terlihat itu, yaitu karya seni itu sendiri. Bentuk dikenal pula sebagai totalitas karya, yang merupakan organisasi unsur-unsur rupa sehingga terwujud apa yang disebut karya. Unsur-unsur yang dimaksudkan adalah : garis, shape, gelap-terang, warna. Ini berarti bahwa bentuk adalah sesuatu yang dapat ditangkap dengan panca indera, dengan kata lain bisa dilihat, diraba, atau didengar (dalam musik). (P. Mulyadi, 1994:16)
commit to user
Unsur-unsur rupa tersebut diatas meliputi: a. Garis
Garis dimulai dari sebuah titik, merupakan jejak yang ditimbulkan oleh titik-titik yang digerakkan atau merupakan sederetan titik yang berhimpit dan juga merupakan suatu goresan atau sapuan yang sempit dan panjang sehingga membentuk seperti benang atau pita. (Arfial Arsad Hakim, 1997:42)
Garis dimulai dari sebuah titik merupakan jejak yang ditimbulkan oleh titik-titik yang digerakan atau merupakan sederetan titik-titik yang berhimpit. Juga merupakan goresan atau sapuan yang sempit dan panjang sehingga membentuk seperti benang atau pita. Wujud suatu garis terdiri dari garis aktual atau garis formal (grafis, tergambar, sungguh, nyata, kongkrit) dan garis ilusif atau sugestif (khayal, semu). (Mikke Susanto, 2002:43)
1) Garis aktual atau garis formal.
Garis dengan pola-pola terukur, dimana diperlukan alat misalnya mistar atau penggaris, jangka, untuk mendapatkan kesempurnaan dari garis terukur (geometris itu) garis-garis itu misalnya garis lurus, garis lengkung, garis bergelombang dan garis patah-patah
2) Garis ilusif atau sugesti.
Kehadiran garis ini tidak bersifat aktual atau formal , tetapi hanya semu dan ilusif. Hadirnya garis tersebut terjadi karena pengulangan unsur, atau karena merupakan batas bidang dan warna. Garis ilusif
commit to user
merupakan pembatas suatu bentuk, ruang, massa atau warna. (Arfial Arsad Hakim, 1997:35)
b. Shape atau bidang.
Shape adalah suatu bidang yang terbatas baik secara teratur atau tidak dibatasi oleh garis ataupun warna. (P. Mulyadi, 1994:6)
Realisme di dalam seni rupa berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interprestasi tertentu. Karya jenis ini menggambarkan alam tanpa illusi, artinya cara mengungkapkannya lebih bertolak pada ketajaman pengamatan kita. Karya jenis ini betul-betul apa adanya, tetapi ada juga pengertian bahwa realis adalah mencerminkan keadaan sesungguhnya. Dalam penampilannya kadang-kadang keadaan yang dilukiskan dipertajam. (P. Mulyadi, 1994:51)
c. Warna.
Warna adalah kesan yang diperoleh mata dari cahaya yang dipantulkan benda-benda yang dikenainya; corak rupa. Peranan warna sangat dominan pada karya seni rupa, hal ini dapat dikaitkan dengan upaya menyatakan gerak, jarak, tegangan, deskripsi alam, ruang, bentuk, ekspresi atau makna simbolik dan justru dalam kaitan yang beraneka ragam. (Mikke Susanto, 2002:113)
Warna terlihat karena distribusi cahaya terhadap mata yang disebabkan oleh pemantulan cahaya dari benda-benda yang ada di alamini. Refleksi itu sampai ke mata kita melalui retina, menembus kesadaran kita untuk selanjutnya menanggapi benda yang tampak dan berwarna tersebut.
commit to user
Dalam bidang seni, warna bisa jadi warna langsung menggunakan proyeksi cahaya, dan warna yang melalui refleksi atau pantulan cahaya. Ada dua macam cara pemunculan dari warna bukan warna cahaya. Pertama, pemunculan secara fisik (campuran fisik) seperti warna cat (pigmen). Berikutnya dalah percampuran warna melalui system optik, dimana perbedaan suatu warna terjadi pada retina mata yang terlihat. (Arfial Arsad Hakim, 1997:89).
Warna dapat dibedakan dalam dua pengertian, warna sebagai fenomena dan warna sebagai bahan yang berasal dari pigmen warna. Warna merupakan salah satu unsur ekspresif karena kualitasnya begitu mempesona langsung kepada emosi penghayatnya. (Suryo Suradjijo, 2000:73)
d. Tekstur.
Tekstur adalah sifat permukaan dari suatu benda atau bidang, yang memberi karakter atas suatu benda atau bidang permukaan tersebut, apakah permukaannya halus, sedang atau kasar. Tekstur dibedakan menjadi dua:
1) Tekstur nyata (tekstur aktual)
Tekstur nyata atau actual/virtual texture (nyata, sesungguhnya) atau disebut juga tactile texture (dapat diraba dan dirasakan), misal permukaan tembok, kaca dan sebagainya. Tekstur tersebut dapat berupa tekstur alami, maupun tekstur buatan
commit to user
2) Tekstur Semu (simulated texture=seolah-olah)
Misalkan kita menciptakan atau membuat tekstur dengan menggunakan suatu alat tertentu misalnya cat dengan kanvas, lalu hasil yang kita dapatkan terlihat seolah-olah permukaan itu sangat kasar atau mungkin sangat licin atau seakan-akan terdiri dari serat-serat dan sebagainya. Padahal jika kita raba yang kita rasakan hanya kehalusan permukaan kertas atau bidang gambar tertentu. Di sini tekstur yang hadir bersifat semu. Ia hadir dalam imajinasi visual. Sebagai contoh dari tekstur semu ini adalah diketemukan bermacam-macam tekstur buatan yang diciptakan dengan berbagai tekhnik-tekhnik arsir, titik-titik, cap dan lain-lain. (Arfial Arsad Hakim, 1997:100-101).