• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Teoritis

2.1.5 Komponen Sikap

Tiga komponen pembentuk sikap adalah (Simamora, 2003:12) yaitu:

1. Komponen Kognitif (Cognitive Component).

Komponen ini terdiri dari kepercayaan konsumen dan pengetahuan tentang

obyek. Kepercayaan tentang atribut suatu produk biasanya dievaluasi secara

kognitif akan terdukung yang pada akhirnya akan mendukung keseluruhan dari

sikap itu.

2. Komponen Afektif (Affective Component).

Perasaan dan reaksi emosional dari suatu objek menunjukkan komponen

afektif dari sikap. Misalnya konsumen mengatakan “saya menyukai produk A”.

Itu merupakan hasil dari emosi atau evaluasi afektif dari suatu produk. Evalusi ini

terbentuk tanpa adanya informasi kognitif (kepercayaan tentang produk tersebut).

Atau merupakan hasil evalusi dari penampilan produk pada setiap atributnya.

Kebanyakan kepercayaan tentang produk berhubungan dengan reaksi afektif.

Misalnya air mineral yang mempunyai harga Rp. 1000 sampai Rp.2000 dapat

menghasilkan reaksi positif (harga dianggap murah), atau reaksi negatif (harga

terlalu mahal). Hal ini akan mempengaruhi bagaimana kita bereaksi terhadap

produk itu sendiri

3. Komponen Konatif (KonatifComponent).

Komponen ini adalah respons dari seseorang terhadap obyek atau aktivitas.

Seperti keputusan untuk membeli atau tidaknya suatu produk akan

memperlihatkan komponen konatif. Komponen Konatif atau tindakan dapat

dilihat dari adanya maksud untuk membeli.

Adapun karakteristik sikap seseorang terdiri dari :

a. Sikap memiliki obyek.

Artinya sikap itu harus terkait dari obyek yang dituju, obyek tersebut bisa

terkait dengan berbagai konsep konsumsi dan pemasaran seperti produk,

b. Konsistensi sikap.

Konsistensi sikap adalah gambaran perasaan dari seorang konsumen, dan

perasaan tersebut akan direfleksikan oleh perilakunya, karena itu sikap

memiliki konsistensi dengan perilaku.

c. Sikap positif, negatif, dan netral.

Menunjukkan adanya rasa menyukai terhadap sesuatu (sikap positif), rasa tidak

menyukai suatu produk (sikap negatif) dan tidak memiliki sikap (sikap netral).

d. Intensitas Sikap.

Terdapat derajat tingkat kesukaan terhadap suatu produk, maka dapat

diungkapkan melalui intensitas sikapnya.

e. Resistensi Sikap.

Resistensi sikap adalah seberapa besar sikap konsumen bisa berubah karena

alasan tertentu.

f. Persistensi Sikap.

Persistensi sikap adalah karakteristik sikap yang menggambarkan bahwa sikap

akan berubah karena berlalunya waktu.

g. Keyakinan Sikap.

Keyakinan sikap adalah kepercayaan konsumen mengenai kebenaran sikap

yang dimilikinya.

h. Sikap dan Situasi.

Sikap seseorang terhadap suatu obyek sering kali muncul dalam konteks

situasi, hal ini berarti situasi akan mempengaruhi sikap konsumen terhadap

2.1.6 Psikologis.

Satu perangkat proses psikologis berkombinasi dengan karakteristik

konsumen tertentu untuk menghasilkan proses keputusan dan keputusan

pembelian. tugas pemasar adalah memahami apa yang terjadi dalam kesadaran

konsumen antara datangnya rangsangan pemasaran luar dan keputusan pembelian

akhir (Kotler, 2002: 226)

Pilihan pembelian seseorang/ konsumen dipengaruhi empat faktor

psikologis yang utama (Setiadi 2003: 94) yaitu:

1. Motivasi

Kebutuhan yang mendorong seseorang secara kuat mencari kepuasan atas

kebutuhan tersebut. Kebutuhan berubah menjadi motif kalau merangsang

sampai tingkat intensitas yang mencukupi. Motif adalah kebutuhan yang cukup

menekan untuk mengarahkan seseorang mencapai kepuasan.

2. Persepsi

Menurut Kotler (2002:199), persepsi adalah proses menyeleksi, mengatur,

dan menginterpretasi, informasi guna membentuk gambaran yang berarti

tentang dunia. Bagaimana orang bertindak dipengaruhi oleh persepsinya

mengenai sesuatu. Dua orang dengan motivasi yang sama dan dalam situasi

yang sama mungkin mengambil tindakan yang jauh berbeda karena mereka

memandang situasi dengan cara yang berbeda. Seseorang yang termotivasi

bertindak akan dipengaruhi oleh persepsinya terhadap situasi tertentu. Persepsi

seseorang terhadap suatu obyek akan berbeda-beda. Oleh karena itu persepsi

oleh pikiran dan lingkungan sekitarnya. Selain itu satu hal yang yang perlu

diperhatikan dari persepsi adalah bahwa persepsi secara substansil bisa sangat

berbeda dengan realitas. Orang dapat memiliki persepsi yang berbeda atas

obyek yang sama karena tiga proses persepsi antara lain : perhatian selektif,

distorsi selektif, dan ingatan selektif (Kotler 2002:198).

a) Perhatian Selektif.

Orang terlibat kontak dengan rangsangan yang sangat banyak setiap

hari. Tantangan yang sesungguhnya adalah menjelaskan rangsangan mana

yang akan diperhatikan oleh orang-orang. Ada beberapa temuan antara

lain: orang lebih cenderung memperhatikan rangsangan yang mereka

antisipasi, orang lebih cenderung memperhatikan rangsangan dengan

deviasi yang besar dibandingkan dengan ukuran rangsangan normal.

b) Distorsi Selektif.

Distorsi selektif adalah kecenderungan orang untuk mengubah

informasi menjadi bermakna pribadi dan menginterpretasikan informasi itu

dengan cara yang akan mendukung pra-konsepsi mereka.

c) Ingatan selektif.

Orang akan melupakan banyak hal yang mereka pelajari namun

cenderung akan mengingat hal-hal baik yang disebutkan tentang produk

3. Pembelajaran

Perubahan perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh pengalaman.

Kebanyakan perilaku manusia dapat dipelajari. Teori pembelajaran percaya bahwa

pengetahuan dihasilkan melalui dorongan, rangsangan, petunjuk, respon, dan

penguatan kembali. Sebagian besar perilaku manusia adalah hasil dari belajar.

Dalam mengkonsumsi produk, konsumen akan mempertimbangkan manfaat yang

diperolehnya. Oleh karena itu kualitas produk sangat menentukan apakah

konsumen akan memberikan respon positif atau negatif. Respon positif akan

terjadi ketika konsumen merasa puas, akibatnya probabilitas konsumen

melakukan pembelian ulang semakin tinggi. Sementara itu konsumen akan

memberikan respon negatif jika respon atas tindakan itu tidak memuaskan.

4. Keyakinan

Menurut Kotler (2000:199), Keyakinan (belief) adalah gambaran

pemikiran yang dianut seseorang tentang sesuatu hal, sedangkan menurut Setiadi

(2003:377) Keyakinan adalah pemikiran deskriptif yang dipertahankan seseorang

mengenai sesuatu. Perusahaan maupun pabrikan sangat tertarik pada keyakinan

yang ada dalam pikiran orang-orang tentang produk dan jasa mereka. Keyakinan

ini membentuk citra produk dan merek, dan orang akan bertindak berdasarkan

citra tersebut. Jika beberapa keyakinan salah dan menghambat pembelian,

Perusahaan akan meluncurkan kampanye untuk mengoreksi keyakinan tersebut.

Dengan demikian, Keyakinan (belief) terhadap suatu produk atau merek dapat

Dokumen terkait