• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. PENGEMBANGAN SISTEM JAMINAN HALAL

2. Komponen Sistem Jaminan Halal

Ada beberapa versi yang menjelaskan sistem jaminan halal di Indonesia. Para ahli yang kompeten dalam bidang kehalalan produk di Indonesia, baik secara perorangan maupun secara kelembagaan, berupaya merumuskan sistem jaminan halal yang ideal melalui pendekatan ISO 9000 versi 2000 dan HACCP. Hal tersebut sangat wajar, karena bagaimanapun sampai saat ini penerapan sistem jaminan halal yang baru diwajibkan oleh LPPOM MUI mulai Juli 2005 belum memiliki standar yang baku. Sementara itu dalam cakupan legalitas kenegaraan, peraturan mengenai sistem jaminan halal baru sampai pada tahap pembahasan RUU Jaminan Produk Halal di Departemen Agama (Kompas, 2006).

Untuk itu seluruh komponen sistem jaminan halal yang termuat dalam Manual Halal PT. Country Lestari, dikembangkan dengan mengacu pada persyaratan minimal yang diwajibkan oleh LPPOM MUI dalam Panduan Penyusunan Sistem Jaminan Halal edisi III tahun 2005 dengan sedikit modifikasi yang mengacu pada BSN 1004-2002 tentang Panduan Penyusunan Rencana Sistem Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (HACCP).

a. Kebijakan Halal

Kebijakan perusahaan tentang komitmen perusahaan dalam menghasilkan produk halal harus diuraikan secara tertulis, baik dalam bentuk manual halal maupun poster yang mudah dilihat oleh karyawan. Hal ini dimaksudkan agar kebijakan halal diketahui oleh seluruh karyawan dan memacu mereka agar menerapkan kebijakan halal tersebut di tingkat teknis.

b. Tujuan Sistem Jaminan Halal

Merupakan suatu pernyataan secara tertulis mengenai tujuan dari penerapan sistem jaminan halal di perusahaan.

c. Struktur Manajemen Halal

Manajemen halal merupakan organisasi internal perusahaan yang mengelola seluruh fungsi dan aktivitas manajemen dalam menghasilkan produk halal. Struktur organisasi yang terlibat merupakan perwakilan dari manajemen puncak, serta bagian yang terlibat langsung dengan pelaksanaan produksi halal seperti bagian QC (Quality Control), pengembangan produk (R&D), produksi, pembelian dan penggudangan.

Manajemen halal dilaksanakan oleh auditor halal internal yang diketuai oleh seorang koordinator halal internal. Auditor halal internal haruslah seorang Muslim yang mengerti peraturan tentang halal dengan baik dan memiliki hubungan dengan lembaga sertifikasi halal, yaitu LPPOM MUI (Utami, 2002).

d. Panduan Halal

Panduan halal merupakan uraian singkat tentang aturan halal- haram dalam Islam yang dapat dipahami oleh seluruh jajaran manajemen dan karyawan perusahaan yang mencakup pengertian halal-haram, dasar Al Qur’an /hadits dan fatwa MUI, serta pedoman halal-haram bahan yang digunakan dan proses produksi yang dijalankan. Adapun output dari panduan halal ini berupa daftar bahan beserta titik kritisnya, bagan

alir proses produksi beserta titik kritisnya dan tindakan pencegahan yang diambil perusahaan.

e. SOP(Standard Operating Procedure) Halal

SOP halal ini digunakan sebagai panduan operasional dalam berproduksi. Prosedur produksi yang dibuat sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di masing-masing perusahaan, meliputi semua aktivitas atau kegiatan yang ada pada masing-masing bidang/divisi. Seluruh karyawan wajib mengikuti prosedur yang telah ditetapkan, dan masing- masing penanggung jawab setiap bagian memastikan karyawannya mengikuti prosedur yang ada.

f. Acuan Teknis Pelaksanaan SJH

Sistem jaminan halal dilaksanakan oleh bidang-bidang yang terkait dalam struktur manajemen halal. Dalam pelaksanaannya perlu dibuat acuan teknis yang berfungsi sebagai dokumen untuk membantu pekerjaan bidang-bidang terkait dalam melaksanakan fungsi kerjanya. Dengan demikian output dari acuan teknis ini adalah berupa dokumen, form, spesifikasi serta matriks bahan yang dapat membantu pelaksanaan sistem jaminan halal di tingkat teknis.

g. Sistem Administrasi

Sistem administrasi diperlukan untuk membantu penelusuran kehalalan bahan baku yang digunakan. Sistem ini menjelaskan mengenai sistem pencatatan penggunaan bahan baku yang dapat ditelusuri untuk tiap jenis produk.

h. Sistem Dokumentasi

Pelaksanaan sistem jaminan halal di PT. Country Lestari didukung oleh dokumen yang informatif dan dapat dengan mudah diakses oleh semua pihak yang terlibat dalam produksi halal, termasuk pihak LPPOM MUI sebagai lembaga sertifikasi halal di Indonesia.

i. Sosialisasi dan Pelatihan Sistem Jaminan Halal

Sistem jaminan halal yang telah dibuat oleh perusahaan disosialisasikan ke seluruh bagian perusahaan, termasuk kepada pihak ketiga (supplier) agar dapat dipahami oleh seluruh pihak terkait sehingga mempermudah pelaksanaannya. Metode sosialisasi yang dilakukan satu perusahaan akan berbeda dengan perusahaan lainnya, tergantung dari budaya kerja masing masing perusahaan.

Pelatihan pelaksanaan sistem jaminan halal harus melibatkan semua personel yang pekerjaannya mungkin mempengaruhi status kehalalan produk. Pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman karyawan terhadap hukum Islam tentang pentingnya kehalalan suatu produk. Pemahaman karyawan tersebut diharapkan mampu menimbulkan kepedulian terhadap kebijakan kehalalan dan menerapkannya di tingkat operasional.

j. Pemeliharaan Dokumentasi dan Pelaporan+

Semua dokumen berupa informasi tertulis harus dipelihara untuk memberikan kemudahan bagi auditor internal/eksternal dalam melakukan penelusuran kembali terhadap dokumen yang berkaitan dengan kehalalan produk. Selain itu dilakukan pula laporan berkala kepada LPPOM MUI setiap enam bulan sekali sebagai bukti konsistensi terhadap pelaksanaan sistem jaminan halal.

k. Pemantauan dan Evaluasi Sistem Jaminan Halal

Pelaksanaan sistem jaminan halal dipantau dan dievaluasi melalui suatu audit halal internal. Audit pelaksanaan sistem jaminan halal dilakukan pada setiap bagian yang terkait mulai dari pembelian bahan, penyimpanan bahan, proses produksi, penyimpanan produk jadi, transportasi dan pengembangan produk baru oleh tim auditor halal internal perusahaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menilai kesesuaian sistem produksi halal dengan persyaratan halal yang ditetapkan LPPOM MUI.

Selain dilakukan pengecekan terhadap pelaksanaan SOP halal, dilakukan pula pemeriksaan kelengkapan dan kesesuaian dokumen- dokumen pendukung kehalalan produk yang menyangkut bahan, proses maupun produk di setiap bagian yang terkait seperti daftar bahan, spesifikasi, sertifikat halal, formula, dokumen pembelian bahan, dokumen penggudangan dan sebagainya.

l. Tindakan Perbaikan atas Pelaksanaan Sistem Jaminan Halal

Tindakan perbaikan atas pelaksanaan SJH dilakukan jika pada saat dilakukan audit halal internal ditemukan ketidaksesuaian pelaksanaannya. Tindakan perbaikan harus dilakukan sesegera mungkin, jika temuan yang didapatkan berdampak langsung terhadap status kehalalan produk. Semua bentuk tindakan perbaikan dilakukan oleh perusahaan dengan dibuatkan laporan ketidaksesuaian.

m. Kaji Ulang Manajemen atas Sistem Jaminan Halal

Kaji ulang manajemen atas sistem jaminan halal secara menyeluruh harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Hal tersebut dilakukan karena adanya perubahan sistem manajemen yang mempengaruhi peran sistem jaminan halal secara menyeluruh atau sebagian, misalnya peran auditor halal internal. Kaji ulang manajemen dapat dilakukan dengan melibatkan seluruh bagian yang terlibat dalam sistem jaminan halal, termasuk manajemen puncak perusahaan.

n. Perubahan Dokumen

Perubahan dokumen sistem jaminan halal dapat dilakukan jika memang dianggap perlu, baik oleh pimpinan perusahaan, tim auditor halal internal maupun auditor halal eksternal. Perubahan dokumen sistem jaminan halal dilakukan setelah dilakukan pengkajian oleh tim auditor halal internal pusat. Perubahan yang telah dilakukan kemudian disosialisasikan kepada tim auditor halal internal cabang untuk selanjutnya dilaksanakan di masing-masing cabang.

C. IMPLEMENTASI SISTEM JAMINAN HALAL

Dokumen terkait