• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komponen Sosial, Ekonomi dan Budaya 1. Perubahan Kependudukan

Dalam dokumen KA Andal PPGM Pertamina (Halaman 174-181)

MIN.6MMIN 5

BADAN JALAN RAYA

C. Komponen Sosial, Ekonomi dan Budaya 1. Perubahan Kependudukan

Tahap Operasi

Jumlah penduduk lokal akan bertambah karena akan banyak pekerja datang dari daerah lain karena adanya peneriman tenaga kerja untuk kegiatan operasi produksi gas dan gas cair serta kegiatan pemeliharaan peralatan dan fasilitas produksi. Hal itu disebabkan pekerjaan operasi produksi gas dan gas cair sebagian harus dikerjakan oleh pekerja terapil dan khusus yang kemungkinan tidak tercukupi oleh tenaga kerja lokal. Kehadiran pekerja pendatang akan meningkatkan kepadatan penduduk dan merubah komposisi penduduk setempat khususnya kelompok umur dan jenis kelamin.

Pada tahap Operasi, jumlah pekerja pendatang relatif besar, terutama kegiatan operasional kilang LNG. Hal ini akan berdampak terhadap kondisi kependudukan, apalagi bila para pekerja disertai dengan keluarganya untuk jangka selama operasi yang lebih dari 20 tahun menetap, sehingga akan menimbulkan dampak turunan lain yang ikut menggerakkan perekonomian lokal dan merubah struktur sosial masyarakat lokal. Secara hipotetik, dampak

2. Perubahan Pola Kepemilikan Lahan Tahap Prakonstruksi

Pemilikan/pengelolaan lahan, baik berupa lahan sawah, tegal dan kebun, dari penduduk sebagai pemilik lahan yang legal beralih kepemilikan secara permanen/pengelolaannya kepada PT. PERTAMINA EP – PPGM karena dibeli atau disewa. Selanjutnya lahan yang sudah berhasil dibebaskan tersebut akan berubah fungsi dari peruntukan semula, misalnya yang sebelumnya untuk kegiatan pertanian akan beralih fungsi menjadi jalur pipa, kompleks bangunan fasilitas produksi gas dan gas cair.

Perubahan kepemilikan lahan secara permanen akan terjadi setelah kegiatan pembebasan lahan dan tanam tumbuh selesai. Perubahan pola kepemilikan lahan ini termasuk sebagai dampak negatif penting hipotetik, karena diprakirakan dalam proses pembebasannya akan menyebabkan pihak-pihak tertentu merasa tidak puas dengan nilai ganti rugi yang ada. Lahan yang dibebaskan sebenarnya juga telah dilakukan untuk banyak lokasi sumur, karena kegiatan yang dilakukan pemrakarsa meneruskan kegiatan sebelumnya.

3. Peningkatan Pendapatan Masyarakat Tahap Konstruksi

Pendapatan masyarakat, terutama para pekerja yang terlibat langsung dalam kegiatan konstruksi akan meningkat. Jumlah tenaga kerja yang direkrut untuk konstruksi mulai dari mobilisasi dan demobilisasi alat/bahan/pekerja, pembukaan dan pematangan lahan, pemasangan pipa dan pembangunan fasilitas produksi gas serta gas cair cukup besar dengan periode waktu yang lebih dari 1 tahun dan dengan gaji standar. Rekrutmen tenaga kerja dilakukan oleh kontraktor atau perusahaan yang ditunjuk pemrakarsa, maka proses seleksi akan berjalan sesuai prosedur standar sehingga tenaga kerja lokal yang terserap adalah yang memunuhi persayaratan yang telah ditentukan. Tenaga kerja yang diambil meliputi tenaga ahli dan bukan tenaga ahli misalnya kuli angkut, tenaga keamanan, tukang bangunan, tukang las, tukang cat dan pembantu operator alat berat. Kesempatan kerja yang ada ini akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Masyarakat bukan pekerja dan yang memanfaatkan kesempatan usaha yang ada juga berpeluang untuk meningkatkan pendapatan karena uang yang diterima para pekerja akan dibelanjakan untuk memenuhi berbagai keperluan hidup mereka. Oleh karena itu dampak peningkatan pendapatan masyarakat ditetapkan sebagai dampak positif penting hipotetik.

Tahap Operasi

Pendapatan masyarakat, terutama masyarakat pekerja yang terlibat langsung dalam kegiatan pada tahap operasi akan meningkat. Jumlah tenaga kerja yang direkrut untuk operasi produksi gas dan gas cair cukup besar dengan periode waktu yang lebih lama, yaitu lebih dari 20 tahun dan dengan gaji yang standar. Oleh karena rekruitmen tenaga kerja dilakukan oleh kontraktor atau perusahaan yang ditunjuk pemrakarsa, proses seleksi akan dilaksanakan secara standar sehingga tenaga kerja lokal yang terserap adalah yang benar-benar memunuhi persayaratan yang telah ditentukan. Tenaga kerja yang diambil meliputi tenaga ahli dan bukan tenaga ahli misalnya tenaga keamanan,office boy(pembantu), tenaga untuk pemeliharaan fasilitas produksi seperti petugas kebersihan, pertamanan, line checker (pengawas ROW), pemeliharaan gedung seperti tukang bangunan, tukang las, tukang cat dan pembantu operator alat berat. Masyarakat bukan pekerja juga berpeluang untuk meningkatkan pendapatan melalui kesempatan usaha yang ada, karena uang yang diterima para pekerja akan dibelanjakan untuk memenuhi berbagai keperluan hidup para pekerja dan keluarganya. Peningkatan pendapatan masyarakat dari berbagai kegiatan pada tahap operasi ini ditetapkan sebagai dampak positif penting hipotetik.

Tahap Pasca Operasi

Pendapatan masyarakat akan menurun khususnya bagi para pekerja yang selama ini terlibat langsung aktivitas operasi seiring dengan berlangsungnya kegiatan penglepasan tenaga kerja. Masyarakat bukan pekerja namun yang penghasilannya terkait dengan perusahaan atau para pekerja juga akan ikut menurun.

Pendapatan masyarakat, terutama pekerja, yang direkrut proyek untuk konstruksi akan meningkat; pendapatan masyarakat lain yang menyediakan jasa dan untuk memenuhi kepentingan proyek atau kebutuhan para pekerja yang menjadi konsumen juga akan meningkat. Dampak kenaikan pendapatan masyarakat ini akan menambah gerakan ekonomi lokal dan bagi masyarakat lain yang yang selama ini menganggur juga mendapat kesempatan usaha yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Secara hipotetik, peningkatan pendapatan masyarakat pada tahap konstruksi akan menjadi dampak penting. Pada tahap operasi, pendapatan masyarakat, terutama pekerja, yang direkrut proyek untuk operasi produksi akan meningkat; pendapatan masyarakat lain yang menyediakan jasa dan untuk memenuhi kepentingan proyek atau kebutuhan para pekerja

dan keluarganya yang jumlahnya lebih dari 5000 orang yang menjadi konsumen juga akan meningkat. Dampak kenaikan pendapatan masyarakat ini akan menambah gerakan ekonomi lokal dan bagi masyarakat lain yang selama ini menganggur juga mendapat kesempatan usaha yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Secara hipotetik, peningkatan pendapatan masyarakat pada tahap operasi akan menjadi dampak positif penting hipotetik.

4. Adanya Kesempatan Berusaha Tahap Konstruksi

Kesempatan berusaha bagi masyarakat terbuka pada tahap konstruksi. Usaha jasa transportasi pengangkutan pipa dan jasa penyewaancrane dan lainya terbuka pada kegiatan mobilisasi dan demobilisasi alat/material/pekerja. Usaha kontraktor pembukaan lahan dan penyewaan alat berat dan laln-lain terbuka pada kegiatan pembukaan lahan dan pematangan lahan. Usaha pembangunan fasilitas, pemasok bahan bangunan, pemasok bahan makanan dan penyewaan rumah dan jasa transportasi akan terbuka saat kegiatan pembangunan fasilitas produksi. Jasa penyewaan alat berat, las dan lainnya terbuka saat kegiatan pemasangan pipa berlangsung. Kesempatan berusaha tersebut dapat dilakukan oleh penduduk setempat selama memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh kontraktor. Dengan demikian, maka adanya kesempatan berusaha pada tahap konstruksi ini ditetapkan sebagai dampak positif penting hipotetik.

Tahap Operasi

Kesempatan berusaha penduduk setempat terbuka pada tahap operasi. Kesempataan berusaha yang berkembang adalah seperti warung makanan, jasa transportasi, toko kelontong, hotel, dan usaha lain untuk memenuhi keperluan hidup pekerja dan keluarganya serta usaha-usaha yang berkaitan dengan kepentingan operasional produksi gas dan gas cair. Kesempatan berusaha ini akan berdampak positif lain berupa peningkatan pendapatan masyarakat dan tumbuhnya perekonomian lokal. Dengan demikian, adanya kesempatan berusaha pada tahap operasi ini ditetapkan sebagai dampak positif penting hipotetik

Tahap Pasca Operasi

Kesempatan usaha akan terkuka misalnya bagi kontraktor pembongkaran fasilitas dan jasa pengangkutan peralatan yang akan dipindahkan atau dibongkar pada kegiatan

pembongkaran fasilitas produksi dan demobilisasi peralatan. Sebaliknya, kesempatan berusaha bagi masyarakat yang secara tidak langsung bergantung pada kepentingan produksi atau pemeliharaan fasilitas produksi serta pemenuhan keperluan keluarga karyawan akan menurun seiring dengan kegiatan penutupan sumur dan penghentian operasi produksi dan kegiatan penglepasan tenaga kerja. Oleh karenanya dampak menurunnya kesempatan berusaha pada tahap pasca operasi ditetapkan sebagai dampak negatif penting hipotetik.

5. Gangguan Proses Sosial Tahap Prakontruksi

Proses sosial yang bersifat disosiatif diduga akan muncul bila tidak diperoleh kesepakatan nilai ganti rugi yang diterima masyarakat saat kegiatan pembebasan lahan. Proses sosial yang bersifat disosiatif juga akan muncul karena masuknya tenaga kerja dari luar daerah untuk konstruksi. Proses hubungan sosial yang kurang harmonis (kecemburuan) antara penduduk lokal dan tenaga kerja pendatang terjadi karena perbedaan perilaku dan adat-istiadat, hal mana berpotensi menimbulkan permasalahan-permasalahan dalam masyarakat. Namun demikian, apabila tenaga kerja dari luar dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan pola perilaku dan adat-istiadat yang berlangsung di daerah setempat maka konflik akan dapat dihindari. Dengan demikian, maka adanya gangguan proses sosial pada tahap prakonstruksi ini ditetapkan bukan sebagai dampak negatif penting hipotetik.

Tahap Konstruksi

Proses soial yang bersifat disosiatif akan muncul bila terjadi gangguan lalu lintas (kerusakan jalan dan kecelakaan lalu lintas) akibat kegiatan mobilisasi dan demobilisasi alat/bahan/ personil. Disosiasi juga timbul bila terjadi gangguan kenyamanan masyarakat akibat kebisingan dan penurunan kualitas udara akibat kegiatan pembangunan fasilitas produksi. Salain itu Proses sosial yang bersifat disosiatif juga akan muncul bila terjadi kekeruhan sungai, pemotongan saluran irigasi, pemotongan jalan akibat kegiatan pemasngan pipa. Setelah berakhirnya tahap konstruksi akan terjadi penglepasan tenaga kerja, dan bila proses ini tidak mengikuti peraturan yang berlaku atau kesepakatan sebelumnya maka akan menimbulkan gangguan hubungan sosial dalam masyarakat. Oleh karena itu, adanya gangguan proses sosial pada tahap konstruksi ini ditetapkan sebagai dampak negatif penting hipotetik.

Tahap Operasi

Proses sosial yang bersifat disosiatif akan muncul akibat munculnya kebisingan, bau gas (H2) dan pencemaran air dari kegiatan operasi produksi gas dan gas cair. Proses disosiatif juga dapat muncul bila dalam kegiatan proses produksi tidak melibatkan masyarakat lokal sebagai pekerja, dan adanya perubahan status sosial, seperti munculnya orang kaya baru, perubahan status yang semula petani/pedagang kemudian menjadi pekerja proyek. Dimungkinkan proses pembebasan lahan dan rekrutmen tenaga kerja lokal yang berlangsung tidak transparan akan dapat menimbulkan kecemburuan dalam masyarakat.

Proses sosial yang bersifat disosiatif akan muncul bila tidak diperoleh kesepakatan nilai ganti rugi lahan dan tanaman pada kegiatan pembebasan lahan dan tanam tumbuh (Tahap Prakonstruksi). Walaupun sudah tercapai kesepakatan nilai ganti rugi lahan, tetapi bila terjadi kesalahpahaman dalam proses pembayaran juga berpotensi menimbulkan proses disosiatif. Proses sosial yang bersifat disosiatif akan muncul bila terjadi gangguan lalu lintas, kerusakan jalan dan kecelakaan saat kegiatan mobilisasi dan demobilisasi alat/ bahan/personil. Disosiasi akan muncul karena kegiatan konstruksi lain melibatkan banyak pekerja yang berisiko timbulnya gesekan sosial. Pada tahap operasi, proses produksi yang menghasilkan limbah cair, padat dan gas ditambah kemungkinan tidak terakomodasinya keinginan masyarakat lokal menjadi karyawan akan menimbulkan disosiasi. Padahal periode waktu operasi produksi lama dan mencakup luas wilayah yang luas. Oleh karena itu, proses sosial yang bersifat disosiatif secara hipotetik akan menjadi dampak negatif penting hipotetik.

6. Perubahan Sikap dan persepsi masyarakat

Persepsi masyarakat merupakan gabungan berbagai dampak yang dapat bersifat positif dan atau negatif serta terjadi pada semua tahapan pekerjaan.

Tahap Prakonstruksi

Persepsi positif terhadap perusahaan atau pemrakarsa akan muncul bila harga ganti untung tanah yang diterima masyarakat sesuai dengan harapan mereka. Sebaliknya, persepsi negatif akan muncul bila proses pembebasan lahan tidak dilakukan melalui musyawarah dan mufakat dan tidak ada kesepakatan dalam hal nilai ganti rugi. Demikian juga persepsi positif akan muncul bila masyarakat lokal mendapatkan kesempatan bekerja di proyek secara proporsional yang direkrut untuk konstruksi. Sebaliknya, bila rekrutmen itu dipandang tidak proporsional, maka akan terjadi persepsi yang negatif. Oleh karena itu, munculnya sikap dan persepsi masyarakat pada tahap prakonstruksi ini ditetapkan sebagai dampak negatif penting hipotetik.

Tahap Konstruksi

Sikap dan persepsi negatif akan muncul bila terjadi kerusakan jalan, gangguan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas pada kegiatan mobilisasi dan demobilisasi alat/bahan/ personil. Sebaliknya, persepsi positif akan muncul bila pemrakarsa ikut berpartisipasi dalam peningkatan kapasitas jalan dan bahkan membangun jalan. Persepsi negatif akan muncul bila pekerja yang digunakan dalam kegiatan pembukaan dan pematangan lahan tidak mengutamakan pekerja lokal dan bila kayu-kayu hasil tebangan dan material lainnya dirasakan mengganggu masyarakat. Sebaliknya, persepsi positif akan muncul bila kegiatan itu banyak menyerap tenaga lokal dan bekas tebangan terlihat diatur dengan baik. Persepsi negatif akan muncul bila terjadi kebisingan dan dirasakan mengganggu masyarakat pada kegiatan pembanguan fasilitas poduksi. Persepsi negatif akan muncul bila aksesibilitas masyarakat sekitar terganggu akibat pemotongan jalan dan saluran irigasi serta timbulnya kekeruhan akibat pemasangan pipa. Mengingat bahwa sikap dan persepsi negatif masyarakat dalam hal ini lebih dominan muncul, maka sikap dan persepsi masyarakat pada tahap konstruksi ini dikatagorikan sebagai dampak negatif penting hipotetik.

Tahap Operasi

Persepsi negatif akan muncul bila terjadi kebisingan, bau (H2S) dan pencemaran air akibat operasi produksi gas dan gas cair serta tidak terakomodasinya masyarakat sebagai pekerja di perusahaan. Sebaliknya, persepsi positif akan muncul bila pemrakarsa banyak memanfaatkan tenaga lokal dan berubahnya estetika lingkungan sekitar dan dalam kompleks fasilitas produksi menjadi indah.

Persepsi masyarakat terhadap perusahaan akan bersifat positif bila nilai ganti rugi dan proses pembebasan lahan dan tanam tumbuh dirasa memuaskan, demikian sebaliknya. Jumlah masyarakat yang lahannya dibebaskan banyak dan daerah yang dibebaskan luas serta pengalihan hak itu berlangsung permanen. Persepsi masyarakat terhadap perusahaan akan bersifat positif bila rekrutmen tenaga (pada tahap prakonstruksi) yang bekerja untuk konstruksi melibatkan tenaga kerja lokal secara proporsional, demikian sebaliknya. Persepsi masyarakat akan bersifat negatif bila dalam proses konstruksi terjadi banyak dampak lingkungan seperti kebisingan, debu, pemotongan saluran irigasi, pemotongan jalan dan penurunan aksesibilitas jalan raya yang dirasa mengganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat. Oleh karena jumlah manusia yang terkena dampak relatif banyak mengingat lokasi kegiatan berada di konsentrasi penduduk (walaupun tidak mengenai permukiman) atau lahan milik penduduk dan meliputi wilayah yang panjangnya lebih dari 75 km dan

1 tahun, maka secara hipotetik, dampak sikap dan persepsi masyarakat akan bersifat negatif penting. Persepsi positif muncul bila kegiatan rekrutmen tenaga kerja untuk operasi produksi melibatkan warga lokal secara proporsional. Namun sebaliknya dampak negatif juga akan muncul karena kemungkinan masyarakat akan merasa terganggu dengan adanya limbah cair, padat dan gas yang dihasilkan proses produksi, dan bila arus lalu lintas darat dan laut di sekitar lokasi kegiatan dirasakan mengganggu warga. Oleh karena jumlah manusia yang terkena dampak relatif banyak karena lokasi kegiatan berada di konsentrasi penduduk dan lama berlangsungnya dampak lebih dari 20 tahun, maka secara hipotetik, dampak sikap dan persepsi masyarakat akan menjadi dampak negatif penting hipotetik.

D. Komponen Kesehatan Masyarakat

Dalam dokumen KA Andal PPGM Pertamina (Halaman 174-181)