• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGEMBANGAN MODEL

2.2. Kajian Teori

2.2.5. Struktur Modal

2.2.5.3. Komponen Struktur Modal

Menurut Riyanto (1995: 22) komponen struktur modal terdiri dari : 1. Hutang Jangka Panjang (Long Term Debt)

Jumlah hutang di dalam neraca akan menunjukkan besarnya modal pinjaman yang digunakan dalam operasi perusahaan. Modal pinjaman ini dapat berupa hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang (http://jurnal-sdm.blogspot.com).

Menurut Riyanto (1995: 238) hutang jangka panjang adalah hutang yang memiliki jangka waktu (jatuh tempo) yang panjang, umumnya lebih dari 10 tahun. Hutang jangka panjang pada umumnya digunakan untuk membelanjai perluasan perusahaan (ekspansi) atau modernisasi dari perusahaan karena kebutuhan modal untuk keperluan tersebut meliputi jumlah yang besar.

Adapun jenis atau bentuk-bentuk utama dari hutang jangka panjang antara lain (Riyanto, 1995: 238) :

a) Pinjaman obligasi (bonds payable)

Pinjaman obligasi adalah pinjaman uang untuk jangka waktu yang panjang. Dalam obligasi, debitur mengeluarkan surat pengakuan utang yang mempunyai nominal tertentu. b) Pinjaman hipotik (mortgage)

Pinjaman hipotik adalah pinjaman jangka panjang dengan hak hipotik terhadap suatu barang tidak bergerak sebagai jaminan yang diberikan oleh debitur kepada kreditur. Apabila debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya, maka jaminan tersebut dapat dijual dan hasil penjualannya digunakan untuk menutup tagihan.

Menurut Riyanto (1995: 240) modal sendiri pada dasarnya adalah modal yang berasal dari pemilik perusahaan dan yang tertanam di dalam perusahaan untuk waktu yang tidak tertentu lamanya. Modal yang berasal dari pemilik perusahaan memiliki berbagai macam bentuk sesuai dengan bentuk hukum masing-masing perusahaan yang bersangkutan. Modal perusahaan yang berbentuk PT (Perseroan Terbatas) adalah modal saham, sedangkan dalam Firma dan CV adalah modal yang berasal dari anggota dan modal dari perusahaan perorangan adalah modal yang disetor dari pemiliknya. Selain itu, retained earning (laba ditahan) juga merupakan modal sendiri perusahaan.

Terdapat 2 jenis modal saham menurut Riyanto (1995: 240), yaitu :

a) Saham Biasa (Common Stock)

Saham Biasa adalah suatu sertifikat atau piagam yang memiliki fungsi sebagai bukti pemilikan suatu perusahaan dengan berbagai aspek-aspek penting bagi perusahaan. Pemilik saham akan mendapatkan hak untuk menerima sebagaian pendapatan tetap (deviden) dari perusahaan serta kewajiban menanggung resiko kerugian yang diderita perusahaan. Investor yang memiliki saham biasa suatu perusahaan memiliki hak untuk ambil bagian dalam mengelola perusahaan sesuai dengan hak suara yang dimilikinya berdasarkan besar kecil saham yang

dipunyai. Semakin banyak prosentase saham yang dimiliki maka semakin besar hak suara yang dimiliki untuk mengontrol operasional perusahaan.

b) Saham Preferen (Preferred Stock)

Saham preferen adalah saham yang pemiliknya akan memiliki hak lebih dibanding hak pemilik saham biasa. Pemegang saham preferen akan mendapat dividen lebih dulu dan juga memiliki hak suara lebih dibanding pemegang saham biasa seperti hak suara dalam pemilihan direksi sehingga jajaran manajemen akan berusahan sekuat tenaga untuk membayar ketepatan pembayaran dividen preferen agar tidak lengser (http://organisasi.org).

2.2.5.4. Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal

Menurut Riyanto (1995: 297) faktor-faktor utama yang mempengaruhi struktur modal adalah :

1. Tingkat Bunga 2. Stabilitas Earning 3. Susunan dari Aktiva 4. Kadar Resiko dari Aktiva

5. Besarnya Jumlah Modal yang Dibutuhkan 6. Keadaan Pasar Modal

8. Besarnya Suatu Perusahaan

Menurut Weston dan Brigham (1998: 174) variabel-variabel yang mempengaruhi struktur modal adalah stabilitas penjualan, struktur aktiva, leverage operasi, tingkat pertumbuhan, profitabilitas, pajak, pengendalian, sikap manajemen, sikap pemberi pinjaman, kondisi pasar, kondisi internal perusahaan dan fleksibilitas keuangan.

Variabel-variabel yang mempengaruhi struktur modal menurut Weston dan Copeland (1999: 35), adalah :

1. Tingkat Pertumbuhan Penjualan 2. Stabilitas Arus Kas

3. Karakteristik Industri 4. Struktur Aktiva 5. Sikap Manajemen

6. Sikap Pemberi Pinjaman.

2.2.5.5. Teori Struktur Modal Pecking Order Theory

Secara ringkas, Myers (1984) menyatakan pecking order theory sebagai berikut :

b) Perusahaan akan berusaha menyesuaikan rasio pembagian deviden dengan kesempatan investasi yang dihadapi dan berupaya untuk tidak melakukan perubahan pembayaran deviden yang terlalu besar. c) Pembayaran deviden yang cenderung konstan dan fluktuasi laba

yang diperoleh mengakibatkan dana internal kadang-kadang berlebih ataupun kurang untuk saham investasi.

d) Apabila pendanaan eksternal diperlukan, maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih dahulu. Penerbitan sekuritas akan dimulai dari penerbitan obligasi, kemudian obligasi yang dapat dikonversikan menjadi modal sendiri, baru akhirnya menerbitkan saham baru.

Sesuai dengan teori ini, tidak ada rasio hutang karena ada dua jenis modal sendiri yang preferensinya berbeda, yaitu laba ditahan yang dipilih lebih dulu dan penerbitan saham baru yang dipilih paling akhir (Husnan dan Pudjiastuti, 2004: 263).

2.2.6. Inflasi

2.2.6.1. Pengertian Inflasi

Secara umum inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan tingkat harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus selama waktu tertentu. Beberapa pengertian mengenai inflasi menurut para pakar (http://jurnal-sdm.blogspot.com) :

Proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus menerus selama peride tertentu.

2. Menurut Samuelson dan Nordhaus (1998: 578-603) Inflasi dinyatakan sebagai kenaikan harga secara umum.

2.2.6.2. Komponen Inflasi

Ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan telah terjadi inflasi (http://jurnal-sdm.blogspot.com) :

1. Kenaikan harga

Harga suatu komoditas dikatakan naik jika menjadi lebih tinggi daripada harga periode sebelumnya.

2. Bersifat umum

Kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut tidak menyebabkan harga secara umum naik.

3. Berlangsung terus menerus

Kenaikan harga yang bersifat umum juga belum akan memunculkan inflasi jika terjadi sesaat, karena itu perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan.

2.2.6.3. Penggolongan Inflasi

Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi yang berasal dari dalam negeri diakibatkan oleh terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang mengakibatkan harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai karena naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang (id.wikipedia.org).

Berdasarkan tingkat keparahannya terdapat empat jenis inflasi, yaitu (id.wikipedia.org) :

1. Inflasi ringan (kurang dari 10% per tahun)

2. Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% per tahun) 3. Inflasi berat (antara 30% sampai 100% per tahun) 4. Hiperinflasi (lebih dari 100% per tahun).

2.2.6.4. Dampak Inflasi

Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam

masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu (id.wikipedia.org).

Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat (id.wikipedia.org).

Dampak inflasi bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur) adalah menguntungkan karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman. Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi

menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil) (id.wikipedia.org).

Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat (id.wikipedia.org).

2.2.7. Rasio Leverage

Rasio leverage adalah rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang (Riyanto, 1995: 331). Menurut Sutrisno (2001: 248-249) rasio leverage menunjukkan seberapa besar kebutuhan dana perusahaan dibelanjai dengan hutang. Semakin besar tingkat leverage perusahaan menunjukkan semakin besar jumlah hutang yang digunakan dan semakin besar pula resiko bisnis yang dihadapi oleh perusahaan terutama apabila kondisi perekonomian memburuk.

Ada lima rasio leverage menurut Sutrisno (2001: 249-251) yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan, antara lain :

Rasio total hutang dengan total aktiva yang biasa disebut rasio hutang (debt ratio), mengukur prosentase besarnya dana yang berasal dari hutang. Yang dimaksud dengan hutang adalah semua hutang yang dimiliki oleh perusahaan baik yang berjangka pendek maupun berjangka panjang.

Debt Ratio = Total Hutang_ x 100% Total Aktiva

2. Debt to Equity Ratio

Rasio hutang dengan modal sendiri (debt to equity ratio) merupakan imbangan antara hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Yang dimaksud dengan hutang adalah semua hutang yang dimiliki oleh perusahaan baik yang berjangka pendek maupun berjangka panjang. Semakin tinggi rasio ini berarti modal sendiri semakin sedikit dibanding dengan hutangnya.

Debt to Equity Ratio = Total Hutang_ x 100% Modal

3. Time Interest Earned Ratio

Time interst earned ratio yang sering disebut sebagai coverage ratio ini merupakan rasio antara laba sebelum bunga dan pajak dengan beban bunga. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi beban tetapnya berupa bunga dengan laba yang diperolehnya.

Time Interest Earned Ratio = Laba sebelum bunga & pajak Beban bunga

(Sartono, 2001: 121) 4. Fixed Charge Coverege Ratio

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk menutup beban tetapnya termasuk pembayaran deviden saham preferen, bunga, angsuran pinjaman, dan sewa. Bunga yang dihitung dalam rasio ini adalah beban bunga.

Fixed Charge Coverege Ratio = EBIT + bunga + angsuran lease Bunga + angsuran lease 5. Debt Service Ratio

Debt service ratio merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhui beban tetapnya termasuk angsuran pokok pinjaman. Bunga dan sewa yang dihitung dalam rasio ini adalah beban bunga dan beban sewa.

Debt Service Ratio = _____Laba sebelum bunga & pajak_____ Bunga + sewa + Angsuran pokok pinjaman

(1-tarif pajak)

Rasio hutang (debt ratio) mengukur persentase kebutuhan modal yang dibelanjai dengan hutang (Kartadinata, 1999:57).Meningkatnya rasio hutang berarti bahwa kegiatan operasional perusahaan lebih banyak diperoleh dari hutang. Asumsi itu menguatkan pendapat bahwa kenaikan

atau penurunan rasio hutang akan berpengaruh pada komposisi struktur modal (Kesuma, 2006).

2.2.8. Rasio Profitabilitas

Profitabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Dengan kata lain profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Riyanto, 2001 : 35).

Menurut Munawir (2002 : 86) rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk operasi tersebut atau untuk mengukur kemampuan perusahaan guna memperoleh keuntungan. Semakin besar tingkat keuntungan menunjukkan semakin baik manajemen dalam mengelola perusahaan. Rasio keuntungan atau profitabilitas dapat diukur dengan beberapa indikator, yakni (Sutrisno, 2001: 254) :

1. Profit Margin

Profit margin merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan penjualan yang dicapai.

Net Profit Margin = _ EAT__ x 100% Penjualan

2. Return on Asset (ROA)

ROA merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki perusahaan. Dalam hal ini,

laba yang diperhitungkan adalah laba sebelum bunga dan pajak (EBIT).

Return on Asset = _ EBIT__ x 100% Total Aktiva

3. Return on Equity (ROE)

ROE merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri yang dimiliki. Laba yang diperhitungkan adalah laba bersih setelah dipotong pajak atau EAT.

4. Return on Investment (ROI)

ROI merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang akan digunakan untuk menutup investasi yang digunakan. Laba yang diperhitungkan adalah laba bersih setelah dipotong pajak atau EAT.

Return on Equity = _ EAT__ x 100% Modal Sendiri

Return on Investment = _ EAT__ x 100% Investasi

5. Earning Per Share (EPS)

Laba per lembar saham (earning per share) merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik. Laba yang digunakan sebagai ukuran adalah laba bagi pemilik atau EAT.

Earning Per Share = _ ____EAT_______ Jumlah lembar Saham

Menurut Weston dan Brigham (1994: 475), perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi umumnya menggunakan hutang dalam jumlah yang relatif sedikit. Karena dengan tingkat pengembalian investasi yang tinggi memungkinkan bagi perusahaan melakukan permodalan dengan laba ditahan saja.

The pecking order theory (Kahle dan Shastri, 2002: 7) menyarankan agar perusahaan mendanai investasinya dengan pertama, dari laba ditahan (retained earning), kedua dari hutang dan ketiga dari ekuitas. Menurut teori ini, perusahaan yang mendapatkan keuntungan lebih (profitable) akan mempunyai struktur modal yang rendah daripada perusahaan yang kurang menghasilkan keuntungan (less profitable), karena perusahaan yang menghasilkan keuntungan lebih mampu mendanai investasinya dengan laba ditahan.

Menurut Chen, Lensink dan Sterken (1998: 16) the pecking order theory menyatakan adanya hubungan negatif antara struktur modal dan profitabilitas. Jika sebuah perusahaan memiliki lebih banyak retained earning, maka akan lebih baik bagi perusahaan tersebut untuk menggunakan retained earning daripada hutang.

2.2.9. Pengaruh Inflasi Terhadap Struktur Modal

Menurut Mills (1996: 7) dengan mengacu pada discount rate (tingkat diskonto) ketika terjadi inflasi, penyesuaian utama yang dapat

dilakukan sebuah perusahaan adalah penyesuaian terhadap struktur modalnya. Lonjakan inflasi yang terus meningkat dapat diimbangi dengan meningkatkan hutang dalam struktur modal dan mengurangi biaya modal tertimbang.

Frank dan Goyal (2009) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan struktur modal adalah expected inflation. Ketika tingkat inflasi tinggi, maka perusahaan cenderung untuk meningkatkan hutangnya (http://findarticles.com). Menurut Noguera (2001) inflasi dapat mempengaruhi struktur modal secara tidak langsung. Terjadinya inflasi akan mendorong perusahaan untuk menambah penggunaan hutang berupa penerbitan obligasi (bond) karena inflasi akan menurunkan biaya hutang (cost of debt). Dengan diterbitkannya obligasi, maka akan mempengaruhi tingkat struktur modal.

2.2.10. Pengaruh Rasio Leverage Terhadap Struktur Modal

Loth menyatakan bahwa struktur modal yang sehat adalah struktur modal yang memiliki porsi hutang yang lebih rendah dibandingkan dengan modal sendiri suatu perusahaan (www.investopedia.com). Menurut Sutrisno (2001: 248-249) rasio leverage menunjukkan seberapa besar kebutuhan dana perusahaan dibelanjai dengan hutang. Semakin besar tingkat leverage perusahaan menunjukkan semakin besar jumlah hutang yang digunakan dan semakin besar pula resiko bisnis yang dihadapi oleh perusahaan terutama apabila kondisi perekonomian memburuk.

Rasio leverage dapat diwakili oleh debt ratio (rasio hutang). Meningkatnya rasio hutang berarti bahwa kegiatan operasional perusahaan lebih banyak diperoleh dari hutang. Asumsi tersebut menguatkan pendapat bahwa kenaikan atau penurunan rasio hutang akan berpengaruh pada komposisi struktur modal (Kesuma, 2006).

Dokumen terkait