• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2 Kajian Pustaka

2.2.6 Komunikasi Antar Pribadi

Menurut Kathleen S. Verderber et al. (2007), komunikasi antarpribadi merupakan proses melalui mana orang menciptakan dan mengelola hubungan mereka, melaksanakan tanggung jawab secara timbal balik dalam menciptakan makna. Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang berlangsung dalam siuasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang (Wiryanto, 204 : 32)

Komunikasi ini paling efektif mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang.

Komunikasi antarpribadi bersifat dialogis, artinya arus balik terjadi langsung. Komunikator dapat mengetahui secara pasti apakah komunikasinya positif, negatif, berhasil, atau tidak (Wiryanto, 204 : 36)

Adapun De Vito mendefenisikan komunikasi antarpribadi merupakan pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain, atau sekelompok orang dengan efek dan umpan balik yang langsung (Liliweri, 1991 : 13)

De Vito juga mengemukakan bahwa komunikasi antar pribadi mengandung ciri-ciri antara lain adalah (Liliweri, 1991 : 13):

• Keterbukaan atau Openess

Komunikator dan komunikan saling mengungkapkan segala ide atau gagasan bahwa permasalahan secara bebes (tidak ditutupi) dan tebuka tanpa rasa takut atau malu. Kedua-duanya saling mengerti dan memahami pribadi masing-masing.

• Empati atau Empathy

Kemampuan seseorang memproyeksikan dirinya orang lain di dalam lingkungannya.

• Dukungan atau Supportiveness

Setiap pendapat, ide atau gagasan yang disampaikan mendapat dukungan dari pihak-pihak yang berkomunikasi. Dengan demikian keinginan atau hasrat yang ada dimotivasi untuk mencapainya. Dukungan membantu seseorang untuk lebih bersemangat dalam melaksanakan aktivitas serarta meraih tujuan yang didambakan.

• Rasa positif atau Positiveness

Setiap pembicaraan yang disampaikan dapat gagasan pertama yang positif, rasa positif menghidarkan pihak-pihak yang berkomunikasi untuk tidak curiga atau prasangka yang mengganggu jalannya interaksi kedua

• Kesamaan atau Equality

Suatu komunikasi lebih akrab dalm jalinan pribadi lebih kuat, apabila memiliki kesamaan tertentu seperti kesamaan pandangan, sikap, usia, ideologi dan sebaiknya.

2.2.6.1 Sifat- Sifat Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antar pribadi dari mereka yang saling mengenal lebih bermutu dari mereka yang belum mengenal karena setiap pihak mengetahui secara baik tentang liku-liku hidup pihak lain, pikiran dan pengetahuannya, perasaanya, maupun menanggapi tingkah lakunya. Sehingga jika hendak menciptakan komunikasi anatar pribadi yang lebih bermutu maka didahului dengan keakraban,dengan kata lain tidak semua bentuk interaksi yang dilakukan antara dua orang dapat digolongkan ke dalam komunikasi antar pribadi. Ada tujuh sifat yang menunjukan bahwa sesuatu komunikasi antara dua orang merupakan sikap komunikasi antar pribadi dan bukannya komunikasi lainnya yang terangkum dari pendapat Effendy (2007:.46). Sifat-sifat komunikasi antar pribadi itu sendiri adalah: (1) melibatkan di dalamnya perilaku verbal dan non-verbal; (2) melibatkan pernyataan ataupun ungkapan yang spontan, scripted, dan contrived ; (3) tidak statis, namun dinamis; (4) melibatkan umpan balik pribadi, hubungan interaksi dan koherensi (pernyataan satu dan harus berkaitan dengan sebelumnya); (5) dipandu oleh tata aturan yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik; (6) komunikasi antar pribadi merupakan satu kegiatan dan tindakan; dan (7) melibatkan didalamnya bidang persuasif.

2.2.6.2Jenis-jenisKomunikasi Antarpribadi

Secara teoritis komunikasi antarpribadi diklasifikasikan menjadi dua jenis menurut sifatnya (Effendy, 2006 : 129), yaitu :

1. Komunikasi diadik (Dyadic Communication)

Komunikasi diadik adalah komunikasi antarpribadi yang berlangsung antara dua orang yakni seorang adalah komunikator yang menyampaikan pesan dan seorang lagi komunikan yang menerima pesan. Oleh karena perilaku komunikasinya dua orang, maka dialog yang terjadiberlangsung secara intens. Komunikator memusatkan perhatiannya hanya kepada diri komunikan. Situasi komunikasi seperti itu akan nampak dalam komunikasi triadik atau komunikasi kelompok, baik kelompok dalam bentuk keluarga maupun dalam bentuk kelas atau seminar. Dalam suatu kelompok terdapat kecenderungan terjadinya pemilihan interaksi seseorang dengan seseorang yang mengacu kepada apa yang disebut primasi diadik (dyadic primacy). Primasi diadik ini ialah setiap dua orang dari sekian banyak dalam kelompok itu yang terlihat dalam komunikasi berdasarkan kepentingan masing-masing.

2. Komunikasi Triadik (Triadic Communication)

Komunikasi triadik ini adalah komunikasi antarpribadi yang pelakunya terdiri dari tiga orang, yakni seorang komunikator dan dua orang komunikan. Jika misalnya A yang menjadi komunikator, maka ia pertama-tama menyampaikan kepada komunikan B, kemudian kalau dijawab atau ditanggapi, beralih kepada komunikan C, juga secara berdialogis. Apabila dibandingkan dengan komunikasi diadik, maka komunikasi diadik lebih efektif, karena komunikator memusatkan perhatiannya kepada seorang komunikan, sehingga ia dapat menguasai frame of reference komunikan sepenuhnya, juga umpan balik yang berlangsung kedua faktor yang sangat berpengaruh terhadap efektif tidaknya proses komunikasi.

Walaupun demikian dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya, misalnya komunikasi kelompok dan komunikasi massa, komunikasi triadik karena merupakan komunikasi antarpribadi lebih efektif dalam kegiatan mengubah sikaf, opini, atau prilaku komunikan (Effendy, 2006 : 152).

2.2.6.3 TujuanKomunikasi Antarpribadi

Komunikasi antarpribadi memiliki beberapa tujuan. Menurut De Vito (2007 : 129) terdapat empat tujuan komunikasi antarpribadi, yaitu :

1. Mengurangi kesepian

Kontak dengan sesama manusia akan mengurangi kesepian. Ada kalanya kita mengalami kesepian karena secara fisik kita sendirian. Di lain pihak, kita kesepian karena meskipun mungkin bersama orang lain, kita mempunyai kebutuhan akan kontak dekat. Dalam upaya mengurangi kesepian, orang berusaha memiliki banyak kenalan. Satu hubungan yang dekat biasanya berdampak lebih baik.

2. Mendapatkan rangsangan

Manusia membutuhkan stimuli. Salah satu cara agar manusia mendapatkan stimuli adalah dengan melakukan kontak antar manusia.

3. Mendapatkan pengetahuan diri

Sebagian besar melalui kontak antar manusialah kita dapat mengetahui diri sendiri.

Persepsi mengenai diri sendiri sangat dipengaruhi oleh apa yang kita yakini dan pikiran orang lain tentang kita.

2.2.6.4 Karakteristik Komunikasi Antarpribadi

Liliweri (1997 : 82) mengemukakan ciri-ciri komunikasi antarpribadi yang lain, yaitu:

1. Komunikasi antarpribadi biasanya terjadi secara spontan dan sambil lalu.

2. Komunikasi antarpribadi tidak mempunyai tujuan terlebih dahulu

3. Komunikasi antarpribadi terjadi secara kebetulan di antara peserta yang tidak mempunyai identitas yang jelas

4. Komunikasi antarpribadi mempunyai akibat yang disengaja maupun tidak disengaja 5. Komunikasi antarpribadi seringkali berlangsung berbalas-balasan

6. Komunikasi antarpribadi menghendaki paling sedikit dua orang dengan suasana yang bebas, bervariasi, adanya keterpengaruhan

7. Komunikasi antarpribadi tidak dikatakan tidak sukses jika tidak membuahkan hasil.

8. Komunikasi antarpribadi menggunakan lambang-lambang bermakna.

Komunikasi antarpribadi yang baik adalah komunikasi yang memiliki ciri keterbukaan, kepekaan dan bersifat umpan balik. Individu merasa puas berkomunikasi antarpribadi bila ia dapat mengerti orang lain dan merasa bahwa orang lain juga memahami dirinya. Komunikasi antarpribadi antara dua individu, karenanya pemahaman komunikasi dan hubungan antarpribadi menempatkan pemahaman mengenai komunikasi dalam proses psikologis.

Percakapan yang sifatnya pribadi, hanya dapat dilaksanakan melalui komunikasi antarpribadi. Hal ini dikarenakan komunikasi antarpribadi melibatkan pribadi dan terjalin melalui interaksi secara langsung di antara pribadi-pribadi yang sudah saling mengenal, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah diterima, dimengerti dan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Ketepatan yang tinggi dapat dicapai apabila antara komunikator dan komunikan mempunyai pengalaman dan latar belakang yang sama, dengan demikian keefektifan komunikasi antarpribadi dapat terjadi. Orang tua dan anak yang hidup dalam suatu keluarga tentunya mempunyai pengalaman dan latar belakang yang sama. Anak belajar dari orang tua sehingga pengalaman dan pengetahuan orang tua banyak diberikan kepada anaknya.

2.2.6.5Efektivitas Komunikasi Antar Pribadi

Dikatakan efektifitas dalam waktu tertentu tujuan dapat tercapai dengan baik.

Ini berarti komunikasi antarpribadi efektif jika dalam waktu tertentu komunikasi

memahami pesan yang disampaikan komunikatornya dengan baik dan melaksanakannya.

Berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan. Rakhmat(2004:159)

menyatakan bahwa komunikasi yang efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Menurut Effendy (2003:219) Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang menimbulkan sikap, opini ataupun perilaku. Efek komunikasi yang timbul pada komunikan diklasfikasikan sebagai berikut :

a. .Efek kognitif yaitu efek yang berkaitan dengan pikiran, nalar atau rasio. Dengan efek ini diharapkan komunikan yang semula tidak mengerti menjadi mengerti,yang semula tidak tau membedakan mana yang salah dan yang benar.

b. Efek afektif adalah efek yang berhubungan dengan perasaan. Misalnya yang semula tidak senang menjadi senang, yang semula rendah diri menjadi memiliki rasa percaya diri

c. Efek behavioral yakni efek yang menimbulkan etika untuk berprilaku tertentudalam arti kata melakukan suatu tindakan atau kegiatan yang bersifat fisik atau jasmani.

Ketiga jenis efek ini adalah hasil proses psikologi yang berkaitan satu sama lain,secara terpadu. Efek behavioral tidak mungkin timbul pada komunikan apabila sebelumnya dia tidak tahu atau tidak mengerti disertai rasa senang dan berani. Menurut Tubbs dan Moss (Rakhmat, 2004:13) komunikasi yang efektif menimbulkan 5 hal yaitu:

a. .Pengertian, artinya penerimaan yang cermat dari isi stimulus/pesan seperti yang dimaksud oleh komunikator.

b. Kesenangan, artinya tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian, akan tetapi ada juga dilakuakan untuk menimbulkan kesenangan, misalnya menanyakan seseorang.

Komunikasi inilah yang menyebabkan hubungan kita menjadi hangat, akrab dan menyengkan.

c. Pengaruh pada sikap. Komunikasi seringkali dilakukan dengan tujuan untuk mempengaruhi orang lain. Komunikasi yang efektif ditandai dengan perubahan sikap, perilaku atau pendapat komunikan sesuai dengan kehendak komunikator.

d. Hubungan sosial yang baik .Komunikasi juga ditunjukan untuk menumbuhkan hubungan sosial yang baik. Manusia juga adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup sendiri

e. Tindakan Efektifitas komunikasi biasanya diukur dari tindakan nyata yang dilakukan komunikan.Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik.

Menurut Rakhmat (2004:129) ada tiga faktor menumbuhkan hubungan interpersonal,yaitu:

1.Percaya.

Definisi ini menyebutkan tiga unsur percaya, yaitu:

a) Ada situasi yang menimbulkan resiko.Bila orang menaruh kepercayaan kepada orang lain, ia akan menghadapi resiko.

b) Orang yang menaruah kepercayaan pada orang lain berarti menyadari bahwa akibat-akibatnya bergantung pada perilaku orang lain.

c) Orang yakin bahwa perilaku pihak lain akan berakibat baik baginya.

Selain itu, faktor kepercayaan juga berhubungan dengan karakterisitik dan maksud orang lain, hubungan kekuasaan, serta sifat dan kualitas komunikasi.

2.Sikap Suportif

Sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam berkomunikasi. Orang dikatakan defensif bila tidak menerima, tidak jujur, dan tidak empatis;

dan tentunya akan menggagalkan komunikasi interpersonal. Jack R. GIBB menyebutkan enam prilaku sportif, yaitu sebagi berikut :

Iklim Defernsif Iklim Suportif 1. Evaluasi Tabel 2.1 Sumber Rakmat (2004:134)

3.Sikap terbuka

Sikap terbuka (open mindness) amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Brooks dan Emmert (Rakhmat,2004:136), mengkarakteristikkan orang bersikap terbuka sebagai orang yang menilai pesan

objektif dengan data dan logika, serta membedakan dengan mudah dengan melihat suasana.

2.2.6.6 Hubungan Orangtua dan Anak

Kelangsungan hidup anak-anak tergantung pada hubungan dengan orangdewasa.

Bayi manusia, pada kenyataannya, ketergantungannya pada orang lain lebihlama daripada ketergantungan bayi spesies makhluk lain atas induknya. Pada hewan tingkat rendah, kelangsungan hidup spesies dan kemampuan komunikasi yang diperlukan sebagian besar telah terjamin melalui warisan (Steward, 2014:69). Pada manusia hubungan orangtua-anak terlihat sangat jelas dalam sebuah keluarga inti.Anak-anak merupakan hasil perkawinan, buah cinta yang mendalam dari sepasang suami dan istri.

Anak-anak adalah wujud dari kesatuan mereka. Maka hubungan diantara mereka tentu membedakannya dengan anak-anak yang bukan kelahirannya,atau antara anak-anak dengan orangtua yang bukan melahirkan mereka. Hubungan jenis ini memang ditandai dengan prinsip hubungan darah yang ketat sekali dengan rasa emosional yang mendalam maupun rasa kita daripada mereka sangat tinggi. Banyak dari kita yang kurang mengerti bagaimana cara yang baik dalam berkomunikasi dengan anggota keluarganya sendiri khususnya antara suami dan istri serta orangtua dan anak. Kesalahpahaman sering terjadi antara kedua belah pihak dikarenakan belum mengetahui sebenarnya tentang tipe keluarganya dan cara berkomunikasi dari tipe-tipe keluarga yang ada,sehingga kesalahpahaman akan sering terjadi didalam berkomunikasi antar anggota keluarga.

Keluarga merupakan kelompok primer yang paling penting didalam masyarakat.

Keluarga merupakan sebuah grup yang terbentuk dari perhubungan priadan wanita, hubungan yang berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak.Berdasarkan pendapat Fitzpatrick (Kurniawati, 2014:47-52) cara orangtua berinteraksi dengan anaknya akan tercermin dengan sikap dan perilaku pada seorang anak, meskipun dampaknya tidak terlihat secara langsung.Teman sepermainan pertama seorang anak adalah saudara laki-laki dan saudara perempuannya. Dariinteraksi tersebut seorang anak akan memperoleh pelajaran berharga tentang bagaimana ia menjalin hubungan dengan teman dan oranglain nantinya.Seseorang tumbuh tanpa interaksi dengan saudara merupakan hal yang tidak menguntungkan karena dia terlewat suatu peluang untuk berlatih dan mengembangkan keahlian dalam menjalin suatu hubungan, Masing-masing

keluarga memiliki tipe-tipe orangtua tertentu yang ditentukan oleh cara-cara mereka menggunakan ruang,waktu,dan energi mereka serta tingkatan mengungkapkan perasaan mereka, menggunakan kekuasaan dan membagi filosofi yang umum tentang pernikahan mereka. Sebuah tipe skema keluarga tertentu yang digabungkan dengan orientasi komunikasi atau kesesuaian akan menghasilkan tipepernikahan tertentu. Tipe-tipe pernikahan adalah tradisional, mandiri dan terpisah. Setiap tipe pernikahan bekerja dengan cara-cara yang sangat berbeda.

Menurut Fitzpatrick dan koleganya, komunikasi keluarga tidak terjadi secara acak, tetapi sangat berpola berdasarkan pada skema-skema tertentu yang menentukan bagaimana anggota keluarga saling berkomunikasi. Skema-skema ini terdiri atas pengetahuan tentang: (1).Seberapa dekat keluarga tersebut ; (2 )Tingkat individualitas dalam keluarga; dan (3) Faktor-faktor eksternal terhadap keluarga, misalnya teman, jarak, geografis, pekerjaan dan masalah-masalah lainnya diluar keluarga.

2.2.6.7 Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal (verbal communication) adalah bentuk komunikasi yang disampaikan komunikator kepada komunikan dengan cara tertulis (written) atau lisan (oral).

Komunikasi verbal menempati porsi besar. Karena kenyataannya, ide-ide, pemikiran atau keputusan, lebih mudah disampaikan secara verbal ketimbang nonverbal. Dengan harapan, komunikan (baik pendengar maupun pembaca) bisa lebih mudah memahami pesan-pesan yang disampaikan. contoh: komunikasi verbal melalui lisan dapat dilakukan dengan menggunakan media, contoh seseorang yang bercakap-cakap melalui telepon. Sedangkan komunikasi verbal melalui tulisan dilakukan dengan secara tidak langsung antara komunikator dengan komunikan. Proses penyampaian informasi dilakukan dengan menggunakan media berupa surat, lukisan, gambar, grafik dan lain lain.

2.2.6.8 Komunikasi non verbal

Komunikasi non verbal (nonverbal communication) menempati porsi penting. Banyak komunikasi verbal tidak efektif hanya karena komunikatornya tidak menggunakan komunikasi nonverbal dengan baik dalam waktu bersamaan. Melalui komunikasi nonverbal, orang bisa mengambil suatu kesimpulan tentang berbagai macam perasaan orang, baik rasa senang, benci, cinta, kangen dan berbagai macam perasaan lainnya. Menurut Afrina (2015 : 132-133) Berikut bentuk bentuk komunikasi nonverbal :

1. Sentuhan: Sentuhan dapat termasuk: bersalaman, menggenggam tangan, berciuman, sentuhan di punggung, mengelus-elus, pukulan, dan lain-lain.

2. Gerakan tubuh; Dalam komunikasi nonverbal, kinesik atau gerakan tubuh meliputi kontak mata, ekspresi wajah, isyarat, dan sikap tubuh. Gerakan tubuh biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frase, misalnya mengangguk untuk mengatakan ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan perasaan,

3. Vokalik; Vokalik atau paralanguage adalah unsure nonverbal dalam suatu ucapan, yaitu cara berbicara. Contohnya adalah nada bicara, nada suara, keras atau lemahnya suara, kecepatan berbicara, kualitas suara, intonasi, dan lain-lain.

4. Kronemik; Kronemik adalah bidang yang mempelajari penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal. Penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal meliputidurasi yang dianggap sesuai bagi suatu aktivitas, banyaknya aktivitas yang dianggap patut dilakukan dalam jangka waktu tertentu, serta ketepatan waktu (punctuality).

2.2.6.9 Teori pertukaran kasih Sayang

Dalamteori inimemunculkan sebuahpandangan BioEvolusionerpadakomunikasi penuh kasih sayang,banyak hubungan antar pribadi diprakarsaidandipeliharamelaluipertukaranperilaku-perilakukasihsayang,sepertimemeluk,pegangan tangan atau dengan mengatakan “aku sayang padamu” tentu sajapernyataan kasih sayang sering bertindak sebagai saatyang menentukan danmempercepat perkembangan hubungan,namun demikian komunikasi penuh kasihsayang tidak hanya berkontribusi kepada kesehatan hubungan,tetapi juga kepadakesehatan orang itu sendiri(Budyatna:301).

Komunikasi yang penuh kasih sayang bersifat adaptif berkenaan dengan kelangsungan hidup manusia dan kesuburan dengan asumsi bahwa menerima dan menyampaikan pernyataan dengan kasih sayang berkontribusi bagi kelangsungan hidup seseorang. Teori pertukaran kasih sayang atau Affection Exchange Theory(AET) merupakan teori ilmiah dimana tujuan utamanya adalah untuk menerangkan mengapa umat manusia mengkomunikasikan kasih sayang kepada satu sama lain, dan dengan konsekuensi-konsekuensi apa, memperkuat hal ini ada dua asumsi pokok dalam AET yaitu asumsi yang pertama bahwa umat manusia, seperti halnya organisme hidup lainnya, tunduk kepada prinsip mengenai seleksi alam dan seleksi seksual.sedangkan asumsi yang kedua adalah perilaku komunikasi manusia hanya sebagian tunduk kepada pembatasan yang disengaja dari komunikator. kecenderungan-kecenderungan adaptif yang

berkembang, juga pengaruh-pengaruh psikologis seperti hormon-hormon mempengaruhi perilaku komunikasi dalam cara-cara yang tidak perlu bukti bagi kesadaran diri sendiri.AET dimulai dengan preposisi bahwa kebutuhan dan kapasitas untuk kasih sayang adalah pembawaan sejak lahir, yaitu manusia dilahirkan dengan kemampuan dan kebutuhan untuk merasakan kasih sayang, yang didefenisikan sebagai kedaan internal tentang kemesraan dan penuh semangat positif bagi sasaran hidup. Proposisi ini memiliki dua implikasi penting yaitu manusia tidak perlu belajar merasakan kasih sayang dan implikasi kedua ialah bahwa kebutuhan kasih sayang adalah pokok dalam rumpun manusia, yang mengimplikasikan manfaat-manfaat apabila ini terpenuhi dan konsekuensi-konsekuensi negatif apabila tidakterpenuhi. Proposisi kedua mengenai AET adalah bahwa perasaan-perasaan penuh kasih sayang dan pernyataan-pernyataan penuh kasih sayang adalah berbeda pengalaman yang sering kali akan tetapi tidak selalu berbeda.

2.2.6.10 Teori Pertalian

Dengan teori pertalian kita dapat melihat bagaimana interaksi orangtua dan anak mempengaruhi perkembangan kepribadian (Ainsworth&Bowlby,1991)Teori tersebut telah diterapkan dalam berbagai hubungan meliputi sepanjang hidup termasuk hubungan orangtua dengan anak-anak pasangan dan saudara-saudara kandung.

Hal yang paling pokok yang dapat dilihat dalam teori ini adalah bahwa umat

manusia memiliki kecenderungan pembawaan lahir untuk membentuk pertalian-pertalian dengan orang lain,dimulai sejak masa kecil dan berlanjut sepanjang umur.pengamatan yang dilakukan Bowlby memiliki kesimpulan bahwa kehilangankasih sayang keibuan memiliki konsekuensi-konsekuensi yang tidak disukai oleh anak-anak, yang berlangsung sepanjang umur.Apabila dipisahkan dari Ibunya, anak-anak seringkali berpindah dari menunjukkkan kesedihan menjadi terpencil atau menyendiri.Makin lama terpisah,kemungkinan besar anak-anak akan menunjukkansifat menyendiri dan anti sosial,kemudian keyakinan ini konsisten dengan asumsi dasar lainnya yaitu:pertalian ataukasih sayang merupakan produk kekuatan-kekuatan biologis dan interaksi sosial dalam lingkungan seseorang,dan sistem pertalian yang meliputi kognisi,emosi,danperilaku yang tampak,dihidupkan atau digiatkan apabila umat manusia memerlukan perlindungan atau mengalami kesusahan.

Satu cirri menentukan bahwa teori pertalian ini terpisah dari teori-teori yanglain adalah teori ini menyelidiki pola-pola terpadu tentang kognisi,emosi dan perilaku sepanjang umur.sebagai tambahan teori ini menelaskan bagaimana Orang

mengembangkan gaya–gaya pertalian yang berbeda, juga bagaimana gaya-gaya

pertalian itu dapat dimodifikasi.ciri-ciri ini dan konsep utama dalam teori pertalian dihimpun dalam lima prinsip yang membantu menjelaskan hubungan antara pertalian dengan komunikasi.

Prinsip yang pertama adalah bahwa interaksi awal dengan ; para pengasuhmengarah kepada perlindungan (atau kegelisahan), yang menentukan tingkatan bagi pengembangan kepribadian dan kemudian pertalian-pertalian. Anak-anak yang terlindungi merespons terhadap situasi yang asing menjadi agak menderita padaperpisahan awal , tetapi kemudian dengan mengadaptasi kepada lingkungan dan menjadi bahagia ketika pengasuh kembali. Prinsip yang kedua memedomani teoripertalian bahwa model-model merupakan skema kognitif yang menggambarkan pengalaman seseorang berinteraksi dengan orang lain model tersebut tentang mawasdiri keadaan dimana seseorang memiliki citra positif vs negative mengenai dirinya.Prinsip yang ketiga bahwa orang dengan gaya–gaya pertalian yang berbeda dalamarti mengenai persepsi-persepsi, pengalaman-pengalaman emosional dan komunikasiyang semuanya mempengaruhi kualitas hubungan-hubungan seseorang.Prinsip yang keempat adalah bahwa meskipun gaya-gaya pertalian secara relatif stabil, masih dapat dimodifikasi.

stabilitas mengenai gaya-gaya pertalian dihubungkan paling tidak kepada dua sumber, bahwa dasar bagi pengembangan kepribadian diperkenalkan selama masa kanak-kanak, dan gaya–gayapertalian itusecara tetap diperkuat. Akhirnya prinsip yang kelima dan relatif baru ialah bahwa gaya pertalian dapat beubah-ubah sesuai fungsi tentang bentuk hubungan dan pasangan relasional.

Dokumen terkait