BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4 Hubungan Stakeholder Wisata Alam
5.4.3 Komunikasi
Komunikasi merupakan proses memahami satusama lainnya dan proses informasi baik berupa fakta, kebijakan, prospek, rumor dan kegagalan dapat disebarkan dalam organisasi (Denise 2011). Komunikasi dalam organisasi juga merupakan proses menciptakan dan saling menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau selalu berubah-ubah (Muhammad 2004). Definisi komunikasi muhammad 2004 mengandung tujuh konsep kunci yaitu proses, pesan, jaringan, saling tergantung, hubungan, lingkungan dan ketidakpastian.
Hubungan komunikasi antara stakeholder wisata alam di KBL terletak pada komponen konservasi dan wisata. Stakeholder yang memiliki hubungan komunikasi pada komponen konservasi ialah BKSDA Lampung dengan PT Bumi Kedaton. Stakeholder yang memiliki hubungan komunikasi pada komponen wisata ialah PHRI dengan PT Bumi Kedaton dan Perusahaan Wira Garden.
Hubungan komunikasi pada komponen konservasi di dalam dokumen antara BKSDA Lampung dan PT Bumi terdapat pada pasal 2 BKSDA Lampung yang menjelaskan tugas BKSDA Lampung untuk menyelenggaraan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di dalam dan di luar kawasan konservasi.
Hubungan komunikasi antara BKSDA Lampung dan PT Bumi kedaton di lapangan melalui laporan PT Bumi Kedaton terhadap BKSDA Lampung tentang kondisi dan keadaan satwaliar di dalam kawasan wisata dan komunikasi apabila terdapat pemindahan satwaliar dari kawasan wisata ataupun penambahan satwaliar dari tempat lain. Hubungan komunikasi antara PHRI dengan PT Bumi Kedaton dan Perusahaan Wira Garden merupakan komunikasi antara perhimpunan dengan anggotanya. Hubungan komunikasi pada komponen wisata dijelaskan pada pasal 8 ADRT PHRI yang berisi usaha PHRI untuk mencapai tujuan dengan cara membantu dan membina usaha para anggota, memberikan perlindungan, menerima masukan, memberi bimbingan dan konsultasi serta pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan mutu anggota. Hubungan komunikasi yang terjadi dilapangan antara PHRI dengan PT Bumi Kedaton dan Perusahaan Wira Garden ialah bimbingan dan konsultasi serta penerimaan keluhan, saran dan kritik tentang pariwisata di KBL. keluhan, saran dan kritik yang telah diberikan akan disampaikan kepada pemerintah KBL dan pemerintah Provinsi Lampung.
4.4 Identifikasi kebijakan wisata alam
Kebijakan yang digunakan untuk pengelolaan wisata alam di Kota Bandar Lampung berjumlah 8 kebijakan. Kebijakan yang digunakan terdiri dari 5 kebijakan nasional dan 3 kebijakan daerah. Kebijakan nasional yang digunakan dalam pengelolaan wisata alam di KBL meliputi undang – undang nomor 9 tahun 1990, Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990, peraturan pemerintah nomor 8 tahun 1999, Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010, dan peraturan menteri kehutanan nomor 53 tahun 2006. Kebijakan daerah yang digunakan dalam
pengelolaan wisata alam di KBL meliputi peraturan daerah Kota Bandar Lampung nomor 16 tahun 2008, Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 9 Tahun 2003 dan peraturan walikota Bandar Lampung nomor 31.A tahun 2010. Hasil anaslis kebijakan nasional dan daerah disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Hasil analis kebijakan wisata alam
No. Kebijakan Komponen Keterangan
1. Undang- undang No. 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan
Konservasi Pasal 4,6,12,23,24,25,26 27, 28,29,30,59,64
Partisipasi Pasal 1,2,9,12,26 Manfaat ekonomi Pasal 3,4,5,12
Edukasi Pasal 4,26,30,52
Wisata Pasal 1,4,5,6,9,12,19,
23,24, 26-30, 2.
3.
UU No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya
Konservasi Pasal 1-5,11,28,31,37
Partisipasi -
Manfaat ekonomi -
Edukasi Pasal 31,36,37
Wisata Pasal 31,36
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwaliar
Konservasi Pasal 2,4,30,31,35, 40,
Partisipasi -
Manfaat ekonomi Pasal 2,3
Edukasi Pasal 3,4,31
Wisata Pasal 1,3
4. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010 tentang pengusahaan pariwisata alam di suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam
Konservasi Pasal 1,2,5,18,21,28
Partisipasi Pasal 1,21
Manfaat ekonomi Pasal 14,21
Edukasi Pasal 5
Wisata Pasal 1,7,8,30
5. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 53 Tahun 2006 tentang Lembaga Konservasi
Konservasi Pasal 1,2,16,21,22,24,
25,29,31
Partisipasi -
Manfaat ekonomi -
Edukasi -
Wisata Pasal 2,22
6. Peraturan Daerah KBL nomor 9 tahun 2003 tentang izin usaha
kepariwisataan
Konservasi Pasal 4,8,9
Partisipasi -
Manfaat ekonomi Pasal 11,14
Edukasi -
Wisata Pasal 1,3,11
7. Peraturan Daerah KBL nomor 16 tahun 2008 tentang Kepariwisataan
Konservasi Pasal 2,3,40
Partisipasi Pasal 79,80
Manfaat ekonomi -
Edukasi Pasal 23
Wisata Pasal 1-3,12-17,31-33
8. Peraturan WaliKBL Nomor 31.A tahun 2010 tentang rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil KBL 2009-2029
Konservasi Pasal 1,2,5,8,12,14
Partisipasi -
Manfaat ekonomi -
Edukasi Pasal 8
Wisata Pasal 3,8
5.5.1 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 merupakan kebijakan nasional tentang kepariwisataan. Undang-Undang Nomor10 Tahun 2009 digunakan sebagai dasar kebijakan nasional bagi pengembangan pariwisata termasuk wisata alam di KBL tetapi dalam pelaksanaanya undang-undang ini masih dalam tahap sosialiasi oleh Disbudpar Bandar Lampung. Proses aplikasi akan dilakukan apabila proses sosialisasi kebijakan telah selesai dilakukan. Proses sosialisasi dimaksudkan untuk memberikan pengarahan tentang beberapa perubahan aturan tentang pariwisata sehingga pelaku kegiatan wisata mengetahui perubahan peraturan dan tidak merasa dirugikan akibat adanya perubahan peraturan.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 berisi komponen-komponen wisata alam yang meliputi konservasi, partisipasi, manfaat ekonomi, edukasi dan wisata.
Komponen yang paling banyak terdapat dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 yaitu komponen wisata yang dijelaskan dalam 14 pasal sedangkan komponen yang paling sedikit terdapat dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 yaitu komponen manfaat ekonomi dan komponen edukasi yang hanya dijelaskan dalam empat pasal. Kompenen konservasi tedapat pada pasal 4,6,12,23,24,25,26 27, 28,29,30,59, dan 64, Komponen partisipasi terdapat pada pasal 1,2,9,12, dan 26, komponen manfaat ekonomi terdapat pada pasal 3,4,5,12, komponen edukasi terdapat pada pasal 4,26,30,52, dan komponen wisata terdapat pada pasal 1,4,5,6,9,12,19, 23,24, 26 sampai 30.
Komponen konservasi dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 dijelaskan melalui tujuan kepariwisataan, prinsip kepariwisataan dan azas kepariwisataan untuk melestarikan daya tarik wisata, tanggung jawab pelaku kegiatan pariwisata, dan sanksi yang diberikan apabila merusak daya tarik wisata.
Komponen partisipasi dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 dijelaskan melalui pemberian kesempatan yang sama dan seluas-luasnya kepada masyarakat dalam menyediakan fasilitas wisata, pelibatan masyarakat dalam pembuatan rencana induk pembangunan kepariwisataan, dan mengutamakan masyarakat
sekitar daya tarik wisata untuk dijadikan tenaga kerja. Komponen manfaat ekonomi dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 dijelaskan melalui tujuan dan prinsip pariwisata untuk mengatasi pengangguran, menghapus kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Komponen edukasi dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 dijelaskan melalui tujuan pariwisata dan menyelenggarakan pelatihan dan penelitian tentang pariwisata. Komponen wisata dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 dijelaskan melalui pengertian wisata, tujuan kepariwisataan, azas kepariwisataan, prinsip kepariwisataan, pembuatan rencana induk pembangunan pariwisata, tanggung jawab pelaku kegiatan wisata, dan kewenangan pemerintah.
5.5.2 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990
Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 merupakan kebijakan nasional tentang koservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 digunakan sebagai dasar konservasi dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 berisi empat komponen wisata alam yaitu konservasi, manfaat ekonomi, edukasi dan wisata.
komponen yang paling banyak terdapat dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 ialah komponen konservasi yang dijelaskan dalam 8 pasal dan komponen yang paling sedikit terdapat dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 ialah komponen manfaat ekonomi, edukasi dan wisata yang hanya dijelaskan dalam satu pasal. komponen konservasi dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 terdapat pada pasal 1-5, 11, 28 dan 37, komponen manfaat ekonomi terdapat pada pasal 36, komponen edukasi terdapat pada pasal 37, dan komponen wisata terdapat pada pasal 36. Komponen partisipasi tidak terdapat dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 karena partisipasi masyarakat lebih difokuskan pada kegiatan konservasi seperti menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan (pasal 37).
Komponen konsevasi dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dijelaskan melalui pengertian konservasi sumberdaya alam hayati (KSDAH), tanggung janggung jawab KSDAH di tangan pemerintah dan rakyat, kegiatan KSDAH yang meliputi perlindungan sistem penyangga, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, pemanfaatan lestari sumberdaya alam hayati, dan pengembangan peran masyarakat dengan menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Komponen manfaat ekonomi dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dijelaskan melalui pemanfaatan tumbuhan dan satwaliar dalam bentuk penangkaran, perburuan dan perdagangan. Komponen edukasi dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dijelaskas melalui bentuk pengkajian, penelitian dan pengembangan tumbuhan dan satwaliar. Komponen wisata dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dijelaskan melalui peragaan tumbuhan dan satwaliar kepada pengunjung.
5.5.3 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 merupakan kebijakan nasional tentang pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwaliar. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 berisi empat komponen wisata alam yaitu konservasi, manfaat ekonomi, edukasi dan wisata. komponen yang paling banyak terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 adalah komponen konservasi yang dijelaskan pada 8 pasal sedangkan komponen yang paling sedikit terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 adalah komponen wisata yang hanya dijelaskan dalam tiga pasal. Komponen konservasi terdapat pada pasal 2, 4, 30, 31, 33, 40, 45 dan 61, komponen manfaat ekonomi terdapat pada pasal 2, 3, 17 dan 21, komponen edukasi terdapat pada pasal 2, 3, 4 dan 31, komponen wisata terdapat pada pasal 1 dan 3. Komponen partisipasi tidak terdapat dalam peraturan pemrintah nomor 8 tahun 1999 karena partisipasi masyarakat hanya diarahkan pada pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwaliar dalam bentuk penangkaran, perburuan dan perdagangan seperti yang terlihat pada pasal 12, 17, 19 dan 45.
Komponen konservasi yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 dijelaskan melalui pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwaliar secara lestari. Hal itu berarti pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwaliar dengan syarat dan ketentuan tertentu misalnya pemenfaatan jenis satwaliar dalam bentuk penangkaran wajib menjaga kemurnian jenis tumbuhan dan satwaliar yang dilindungi, pemanfaatan satwaliar dalam bentuk perburuan hanya dilakukan untuk keperluan olahraga berburu, perolehan trofi dan perburuan tradisional oleh masyarakat, pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwaliar dalam bentuk pertukaran dilakukan atas dasar keseimbangan nilai konservasi dan pemanfaatan untuk pemeliharaan kesenangan harus memperhatikan kesehatan satwa. Selain itu terdapat pembatasan kuota perburuan satwaliar secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar areal buru dengan menggunakan alat-alat tradisional.
Komponen manfaat ekonomi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 dijelaskan melalui pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwaliar dalam bentuk penangkaran, perburuan dan perdagangan. Komponen edukasi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 dijelaskan melalui pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwaliar dalam bentuk pengkajian, penelitian dan pengembangan. Komponen wisata dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 dijelaskan melalui pemanfaatan tumbuhan dan satwaliar dalam bentuk peragaan kepada pengunjung.
5.5.4 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010
Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010 merupakan kebijakan nasional tentang pengusahaan pariwisata alam di suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010 berisi empat komponen wisata alam yaitu konservasi, partisipasi, manfaat ekonomi, dan wisata. komponen yang paling banyak terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010 adalah komponen konservasi yang dijelaskan dalam 6 pasal sedangkan komponen yang paling sedikit adalah komponen partisipasi yang hanya dijelaskan pada satu pasal. Komponen konservasi terdapat pada pasal 1, 2, 5, 18, 21 dan 28, komponen partisipasi
terdapat pada pasal 21, komponen manfaat ekonomi terdapat pada pasal 14 dan 21, komponen wisata terdapat pada pasal 1, 5, 7 dan 8. Komponen edukasi tidak terdapat dalam peraturan peerintah nomor 36 tahun 2006 karena kebijakan ini lebih memfokuskan tentang teknis perizinan dan birokrasi dalam pengusahaan pariwisata alam, usaha penyediaan jasa wisata alam dan usaha penyediaan sarana wisata alam.
Komponen konservasi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010 dijelaskan melalui pengusahaan pariwisata alam sesuai dengan azas konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dengan menjaga kelestarian alam, menjaga kebersihan lingkungan, dan merehabilitasi kerusakan yang ditimbulkan dari kegiatan wisata. Komponen partisipasi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010 dijelaskan melalui pelibatan masyarakat setempat di dalam melaksanakan kegiatan pariwisata. Komponen manfaat ekonomi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010 dijelaskan melalui iuran pemegang izin usaha wisata alam dan pungutan masuk kawasan wisata. Komponen wisata dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010 dijelaskan melalui penjelasan bentuk kegiatan pariwisata yang dapat dilakukan di taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam yang meliputi mengunjungi, melihat, menikmati keindahan alam, keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta pembanguan sarana pariwisata.
Selain itu dijelaskan juga tentang perizinan dalam pengusahaan pariwisata alam, usaha penyedia jasa alam dan usaha penyediaan sarana wisata alam.
5.5.5 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 53 tahun 2006
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 53 Tahun 2006 merupakan kebijakan nasional tentang lembaga konservasi. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 53 Tahun 2006 berisi tiga komponen wisata alam yaitu konservasi, edukasi dan wisata. Komponen yang paling banyak terdapat dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 53 Tahun 2006 adalah komponen konservasi yang dijelaskan dalam 9 pasal sedangkan komponen yang paling sedikit adalah komponen wisata yang hanya dijelasakan dalam 2 pasal. Komponen konservasi terdapat pada pasal
1, 2, 16, 21, 22, 24, 25, 29 dan 31, komponen edukasi terdapat pada pasal 2, 22 dan 24, komponen wisata terdapat pada pasal 2, dan 22. Komponen partisipasi dan manfaat ekonomi tidak terdapat dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 53 Tahun 2006 karena kebijakan ini menjelaskan tentang pengertian dan karakteristik lembaga konservasi di Indonesia.
Komponen konservasi dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 53 Tahun 2006 dijelaskan melalui pengerian, fungsi lembaga konservasi sebagai pengembangbiakan dan atau penyelamatan tumbuhan dan satwaliar, perizinan lembaga konservasi, syarat-syarat perolehan tumbuhan dan satwaliar di lembaga konservasi yang berasal dari hasil sitaan maupun penangkapan di alam, dan pemanfaatan tumbuhan dan satwaliar di lembaga konservasi untuk kepentingan pengembangbiakan dan pelepasaliaran di alam, perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh lembaga konservasi. Komponen edukasi dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 53 Tahun 2006 dijelaskan melalui fungsi lembaga konservasi sebagai tempat pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan serta pemanfaatan spesimen untuk penelitian dan pendidikan. Komponen wisata dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 53 Tahun 2006 dijelaskan melalui fungsi lembaga konservasi sebagai sarana rekreasi yang sehat dan pemanfaatan spesimen koleksi untuk kepentingan peragaan kepada pengunjung.
5.5.6 Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 9 tahun 2003
Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 9 Tahun 2003 merupakan kebijakan daerah tentang izin usaha kepariwisataan. Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 9 Tahun 2003 berisi tiga komponen wisata alam yaitu konservasi, manfaat ekonomi dan wisata. Komponen yang paling banyak terdapat dalam peraturan daerah KBL nomor 9 tahun 2003 adalah komponen manfaat ekonomi dan wisata yang dijelaskan dalam 3 pasal sedangkan komponen yang paling sedikit terdapat dalam peraturan daerah KBL nomor 9 tahun 2003 adalah komponen konservasi yang dijelaskan hanya dalam satu pasal. Komponen konservasi terdapat pada pasal 4, komponen manfaat ekonomi terdapat pada pasal
11, 14 dan 17, komponen wisata terdapat pada pasal 1, 3, dan 11. Komponen partisipasi dan edukasi tidak terdapat dalam peraturan daerah KBL nomor 9 tahun 2010 karena kebijakan ini labih fokus menjelaskan tentang penyelenggaraan usaha pariwisata bagi pengusaha ataupun pelaku kegiatan pariwisata lainnya.
Komponen konservasi dalam Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 9 Tahun 2003 dijelaskan melalui kewajiban pimpinan usaha pariwisata untuk memelihara kebersihan, keindahan lokasi dan kelestarian lingkungan, kewajiban memiliki dokumen AMDAL dan melaksanakan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) serta upaya pemantauan lingkungan (UPL). Komponen manfaat ekonomi dalam peraturan daerah KBL nomor 9 tahun 2003 dijelaskan melaui dana retribusi izin usaha pariwisata yang dipungut pemerintah KBL untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan pemberian uang intensif sebesar 5 % dari penerimaan dengan rincian 4% untuk dinas kebudayaan dan pariwisata Bandar Lampung dan 1% untuk dana kesejahteraan sekretariat. Komponen wisata dalam pearturan daerah nomor 9 tahun 2003 dijelaskan melalui definisi dan penggolongan penyelenggaraan usaha pariwisata.
5.5.7 Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 16 tahun 2008
Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 16 Tahun 2008 merupakan kebijakan daerah tentang kepariwisataan. Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 16 Tahun 2008 berisi lima komponen wisata alam meliputi konservasi, partisipasi, manfaat ekonomi, edukasi dan wisata. Komponen yang paling banyak terdapat dalam Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 16 Tahun 2008 adalah komponen wisata yang dijelaskan dalam 18 pasal sedangkan komponen yang paling sedikit terdapat dalam peraturan Kota Bandar Lampung nomor 16 tahun 2008 adalah komponen manfaat ekonomi yang hanya dijelaskan dalam satu pasal. Komponen konservasi terdapat pada pasal 2, 3, 40 dan 53, komponen partisipasi terdapat pada pasal 33, 79 dan 80, komponen manfaat ekonomi terdapat pada pasal 2, komponen edukasi terdapat pada pasal 2, 23 dan 33, komponen wisata terdapat pada pasal 1, 2, 4, 5- 7, 12- 17, dan 31-34.
Komponen konservasi yang dijelaskan dalam peraturan daerah Kota Bandar Lampung nomor 16 tahun 2006 dijelaskan melalui tujuan penyelenggaraan pariwisata untuk memperkenalkan, meningkatkan, melestarikan dan meningkatkan mutu objek wisata dan adanya kewajiban pemilih objek wisata alam maupun minat khusus untuk menjaga kelestarian objek wisata dan tata lingkungannya. Komponen partisipasi dalam peraturan Kota Bandar Lampung nomor 16 tahun 2006 dijelaskan melalui penyediaan sarana dan fasilitas bagi masyarakat sekitar objek wisata alam untuk berperan dalam kegiatan wisata dan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan dengan cara menyampaikan saran, pertimbangan, pendapat dan tanggapan terhadap pengembangan pariwisata.
Komponen manfaat ekonomi dalam peraturan daerah Kota Bandar Lampung nomor 16 tahun 2006 dijelaskan melalui tujuan penyelenggaraan pariwisata untuk meningkatkan pendapatan daerah dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Komponen edukasi dalam peraturan daerah Kota Bandar Lampung nomor 16 tahun 2006 dijelaskan melalui tujuan penyelenggaraan pariwisata untuk memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan antara bangsa melalui penyelenggaraan pertunjukan seni budaya di kawasan wisata. Komponen wisata dalam peraturan daerah Kota Bandar Lampung nomor 16 tahun 2006 dijelaskan melalui pengertian wisata, jenis usaha periwisata dan penjelasan masing-masing jenis.
5.5.8 Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 31.A tahun 2010
Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 31.A Tahun 2010 merupakan kebijakan daerah tentang rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil KBL 2009-2029. Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 31.A Tahun 2010 digunakan sebagai dasar penentuan letak kawasan wisata alam yang berupa pantai. Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 31.A Tahun 2010 berisi tiga komponen wisata alam yaitu konservasi, edukasi, dan wisata. Komponen konservasi terdapat pada pasal 1, 2, 8, 12 dan 14, komponen edukasi terdapat pada
pasal 8, dan komponen wisata terdapat pada pasal 3. Komponen yang paling banyak terdapat dalam Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 31.A Tahun 2010 adalah komponen konservasi yang dijelaskan dalam 5 pasal sedangkan komponen yang paling sedikit terdapat dalam Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 31.A Tahun 2010 adalah komponen edukasi dan wisata yang hanya dijelaskan dalam satu pasal. Komponen partisipasi dan manfaat ekonomi tidak terdapat dalam Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 31.A Tahun 2010 karena kebijakan ini lebih memfokuskan pada peruntukan wilayah pantai yang dapat dimanfaatkan dan dijaga untuk kesejahteraan masyarakat sekitar pantai.
Komponen konservasi yang dijelaskan dalam Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 31.A Tahun 2010 dijelaskan melalui pengertian konservasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta kawasan konservasi, adanya peruntukkan zonasi untuk kawasan budidaya dan kawasan lindung, adanya larangan menambang dan mengambil terumbu karang dengan bahan peledak yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan. Komponen edukasi yang dijelaskan dalam Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 31.A Tahun 2010 dijelaskan melalui pemanfaatan pulau-pelau kecil dan perairan sekitarnya untuk kegiatan pendidikan dan pelatihan serta penelitian. Komponen wisata yang dijelaskan dalam Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 31.A Tahun 2010 dijelaskan melalui pemanfaatan pulau-pelau kecil dan perairan sekitarnya untuk pariwisata.
5.6 Kebutuhan stakeholder
Stakeholder yang telah teridentifikasi memiliki keterlibatan dalam pengelolaan wisata alam di Kota Bandar Lampung meliputi instansi pemerintah, perusahaan, LSM, yayasan, pengusaha perorangan, kelompok masyarakat dan masyarakat. Setiap stakeholder memiliki kebutuhan untuk melaksanakan TUPOKSI/aturan kelembagaan/ visi misi/ tujuan lembaga/ dan kebijakan yang ditetapkan. Kebutuhan masing –masing stakeholder harus diketahui secara jelas
agar mekanisme yang dibuat dapat menguntungkan semua pihak dan tidak hanya menguntungkan salah satu atau beberapa pihak saja. Hasil identifikasi kebutuhan masing-masing stakeholder wisata alam berdasarkan wawancara dan observasi lapang sebagai berikut :
a. Disbudpar Bandar Lampung
- Terciptanya multiplyer effect dalam sektor wisata - Fasilitas di dalam objek wisata menyatu dengan alam - Peningkatan frekuensi forum wisata
b. PT Bumi Kedaton
- Perbaikan jalan menuju objek wisata c. Perusahaan Wira Garden
- Adanya bantuan promosi wisata dari pemerintah daerah
- Adanya kerjasama diantara semua stakeholder dalam pengelolaan wisata alam
d. UPTD Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman - Penambahan Sumberdaya manusia
- Penambahan fasilitas, sarana dan prasarana e. Yayasan Taman Buaya Indonesia
- Kerjasama diantara instansi terkait yang saling mendukung - Birokrasi yang dipermudah
- Perbaikan infrastruktur menuju objek wisata f. PT Sutan Duta Sejati
- Adanya bantuan promosi wisata
- Penambahan sarana dan prasarana menuju objek wisata - Adanya pembinaan terkait wisata oleh pemerintah daerah - Penambahan model transportasi menuju objek wisata g. Kelompok sadar wisata THKT
- Adanya bantuan dana pengelolaan
- Pembinan dari tenaga ahli terkait pengelolaan wisata
h. Yayasan Sahabat Alam
- Perbaikan sarana dan prasarana i. BKSDA Lampung
- Peningkatan kualitas perawatan satwaliar di objek wisata j. DKP KBL
- Pembangunan pelabuhan di pulau kubur k. Disbudpar Lampung
- Penambahan tenaga ahli di bidang pariwisata
- Peningkatan frekuensi koordinasi diantara para pihak - Bantuan dana dari pusat dalam bentuk APBN
l. Beppeda Bandar Lampung
- Peningkatan pengelolaan wisata oleh pihak swasta m. PT Alam Raya
- Pemberian masukan dan saran dari pemerintah terkait pengelolaan wisata - Perbaikan infrastuktur dan peningkatan keamanan
- Bimbingan mengenai pengembangan sumber air panas n. KPPH sumber agung
- Tetap adanya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan objek wisata
- Tetap adanya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan objek wisata