BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.7 Rumusan Mekanisme Hubungan Stakeholder
Pada analisis isi Tupoksi dan aturan kelembagaan masing-masing stakeholder wisata alam KBL komponen partisipasi merupakan komponen yang paling sedikit ditemukan dalam dokumen. Komponen partisipasi hanya ditemukan pada pasal 26 TUPOKSI Disbudpar Bandar Lampung. Pada peta hubungan stakeholder berdasarkan isi TUPOKSI dan aturan kelembagaan serta hubungan yang terjadi di lapangan komponen partisipasi hanya dilakukan para pengelola/pemilik wisata alam. Hal itu menyebabkan rendahnya kemauan masyarakat untuk ikut berpartisipasi karena sedikitnya kesempatan dan kemampuan yang diberikan para stakeholder wisata alam (Slamet 2003).
Pada analisis kebijakan yang telah dilakukan komponen partisipasi paling sedikit diatur dalam kebijakan. Partisipasi masyarakat di dalam kebijakan hanya terdapat pada tahap proses pengambilan keputusan tentang rencana kegiatan melalui saran, pendapat dan kritik terhadap rencana kegiatan. Pada tahap
pelaksanaan, tahap evaluasi dan tahap menikmati hasil masyarakat tidak lagi dilibatkan di dalamnya. Sehingga tingkat partisipasi masyarakat terhadap wisata alam termasuk pada tingkat konsultasi berdasarakan Ifa dan Taseriro (2006).
Tingkat konsultasi memberikan kesempatan dan hak kepada masyarakat setempat untuk menyampaikan pandangannya terhadap kegiatan wisata di wilayahnya melalui pengajuan usulan oleh masyarakat. Tetapi belum ada jaminan aspirasi masyarakat akan dilaksanakan atau mempengaruhi kebijakan/program/kegiatan yang akan dilaksanakan.
Kelompok-kelompok kebutuhan yang berasal dari analisis kebutuhan terdiri dari kebutuhan penawaran dan kebutuhan kebijakan berdasarkan Steck et al.
(1999) dalam Damanik dan Weber 2006. Kebutuhan penawaran pada kelompok kebutuhan terdiri dari infrastruktur, fasilitas, dana, promosi, sumberdaya manusia dan penyuluhan. Kebutuhan kebijakan pada kelompok kebutuhan terdiri dari regulasi dan forum. Pemenuhan kebutuhan penawaran dan kebijakan dijadikan indikator keberhasilan pengembangan wisata alam di KBL.
Mekanisme hubungan ialah tata kerja yang menghubungkan satu/beberapa pihak dengan pihak lainnya (Fatwa 2009). Mekanisme hubungan dalam ilmu pemerintahan dibedakan menjadi coordinate/subordinate dan independ-ent/dependent (Rusmawardi 2011). Mekanisme hubungan stakeholder wisata alam KBL termasuk dalam kategori subordinate dan independent. Mekanisme hubungan subordinate terjadi antara Disbudpar Lampung dengan Disbudpar Ban-dar Lampung, dan BKSDA Lampung dengan UPTD Lampung dalam pengelolaan Tahura WAR. Mekanisme hubungan independent terjadi pada sebagian besar stakeholder kecuali stakeholder dari instansi pemerintah. Perpaduan kedua mekanisme hubungan ini menyebabkan adanya stakeholder yang tidak memiliki mekanisme hubungan dengan stakeholder lainnya padahal stakeholder tersebut juga memiliki kepentingan dan terlibat dalam pengembangan wisata alam KBL.
Rumusan mekanisme stakeholder wisata alam KBL disusun untuk merubah mekanisme hubungan antara stakeholder yang bersifat subordinate dan independ-ent menjadi subordinate dan dependindepend-ent agar keseluruhan stakeholder memiliki
mekanisme hubungan dan agar tata kelola wisata dapat berjalan. Perubahan mekanisme hubungan dapat dilakukan melalui konsorsium. Konsorsium merupa-kan gabungan para pihak baik dari instansi pemerintah, lembaga swasta, pengu-saha perorangan, kelompok masyarakat, dan masyarakat untuk melaksanakan program kerja bersama (Indrajit 2011). Program kerja bersama didasarkan pada hasil analisis kebutuhan stakeholder yaitu infrastruktur, fasilitas, dan forum.
Konsorsium ini digerakkan Disbudpar Bandar Lampung selaku stakeholder yang berada pada posisi key player. Pembuatan program kerja bersama didasarkan pada hasil analisis kebutuhan stakeholder yaitu infrastruktur, fasilitas, dan forum.
Program kerja bersama yang telah disepakati kemudian disinkronisasikan dengan TUPOKSI/aturan kelembagaan masing-masing stakeholder wisata alam.
Sinkronisasi yang telah dilakukan akan menghasilkan partisipasi masing-masing stakeholder yang sesuai dengan TUPOKSI/aturan kelembagaan yang dimiliki.
Partisipasi stakeholder akan diwujudkan dalam bentuk implementasi program kerja bersama oleh masing-masing stakeholder. Implementasi program kerja bersama dilakukan melalui tahap pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Tahap pengorganisasian dilakukan melalui pembagian tugas dan tanggung jawab, penempatan sumberdaya manusia, dan penyediaan dana program kerja bersama di dalam masing-masing stakeholder. Tahap pelaksanaan dilakukan melalui penyusunan teknis program, persiapan perlengkapan teknis dan media publikasi. Tahap pengawasan dan evaluasi dilakukan melalui penilaian pelaksanaan program berdasarkan tujuan dan pembuatan laporan evaluasi program. Ketiga tahap tersebut dilaksanakan di masing-masing stakeholder wisata alam KBL. Laporan evalusi program yang telah dilaksanakan dapat dijadikan referensi untuk pelaksanaan program kerja bersama dan partisipasi stakeholder selanjutnya. Laporan evaluasi sebaiknya dikumpulkan ke Disbudpar Bandar Lampung untuk disatukan kemudian didistribusikan ke seluruh stakeholder wisata alam KBL.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan wisata alam berdasarkan kepent-ingan dan pengaruh terdiri dari : a) Key Player yaitu Disbudpar Bandar Lam-pung; b) Subject yaitu PT Bumi Kedaton, Perusahaan Wira Garden, UPTD Tahura WAR, Yayaysan Taman Buaya Indonesia, PT Sutan Duta Sejadi dan Kelompok Sadar Wisata Taman Hutan Kera, c) Context Setter yaitu Yayasan Sahabat Alam;d) Crowd yaitu BKSDA Lampung, DKP Bandar Lampung, Disbudpar Lampung, Bappeda Bandar Lampung, PT Alam Raya, KPPH Sumber Agung, Watala, HPI, PHRI, ASITA, WWF, Pengusaha Sukemenanti dan masyarakat. Peran instansi pemerintah dalam pengelolaan wisata alam KBL meliputi perlindungan sumberdaya; pemberdayaan masyarakat setempat, penyediaan pelayanan wisata, dan penyediaan data serta informasi wisata alam. Peran lembaga swasta meliputi pemberdayaan masyarakat, penyediaan pelayanan wisata, penyediaan data dan informasi. Peran kelompok masyarakat meliputi perlindungan sumberdaya, pemberdayaan masyarakat setempat, penyediaan pelayanan wisata; peran pengusaha perorangan dan masyarakat ialah penyedia pelayanan wisata.
2. TUPOKSI dan aturan kelembagaan keseluruhan stakeholder wisata alam Ko-ta Bandar Lampung telah memiliki komponen konservasi, partisipasi, manfaat ekonomi, edukasi dan wisata. Hubungan diantara stakeholder wisata alam dikelompokkan menjadi koordinasi, kerjasama dan komunikasi.
3. Kebijakan yang digunakan dalam pengelolaan wisata alam di KBL meliputi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999, Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010, Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 53 Tahun 2006, Peraturan Daerah KBL Nomor 9 Tahun 2003, Peraturan Daerah KBL Nomor
16 Tahun 2008, dan Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 31.A Ta-hun 2010. Keseluruhan kebijakan telah memiliki komponen konservasi, partisipasi, manfaat ekonomi, edukasi dan wisata.
4. Kebutuhan stakeholder wisata alam dikelompokkan menjadi kebutuhan infra-struktur, fasilitas, regulasi, forum, promosi, dana, penyuluhan, dan sum-berdaya manusia.
5. Rumusan Mekanisme hubungan stakeholder KBL dilakukan melalui konsorsium. Konsorsium digerakan Disbudpar Bandar Lampung dengan program kerja bersama yang sesuai hasil analisis kebutuhan. Program kerja bersama yang telah disepakati kemudian disinkronisasikan dengan TUPOKSI/aturan kelembagaan masing-masing stakeholder wisata alam yang menghasilkan partisipasi stakeholder dilanjutkan dengan tahap pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi
6.2 Saran
1. Program kerja bersama yang direncanakan/disusun dalam konsorsium harus dapat mengakomodasi peran dan kepentingan seluruh stakeholder wisata alam KBL.
2. Pengawasan dan evaluasi program kerja bersama masing-masing stakeholder harus dilakukan secara akuntabel dan transparansi. Sehingga tidak ada kecurigaan diantara stakeholder satu-sama lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Damanik J dan Weber HF. Perencanaan Ekowisata. Yogyakarta : ANDI Yogyakarta.
Damayanti Y. 2006. Koordinasi antar instansi dalam perolehan ijin lokasi untuk perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan mega residence di Kota Semarang [tesis]. Semarang: Universitas Diponegoro.
Denise L. 2011. Collaboration vs. C-Three (Cooperation, Coordination, and Communication). http://www.ride.ri.gov/adulteducation. [15 November 2011].
[DISBUDPAR] Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung. 2008. Kebudayaan dan pariwisata dalam angka tahun 2008. Lampung : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung.
Eagles PFJ, Stephen FM, Christopher DH. 2002. Suistaneble Tourism In Protected Area, Guidlenes For Palnning And Management. Switzerland and Cambridge: IUCN Publication service unit.
Fatwa AM. 2009. Tugas dan fungsi MPR serta hubungan antar lembaga negara dalam sistem ketetanegaraan. J Majelis 1 (1) : 23-20
Groenendijk L. 2003. Planning And Management Tool. Netherland: The international institut for Geo-information science and earth information.
Grunewald RDA. 2006. Tourism and ethnicity. http://socialsciences.scielo.org/pdf [13 Juli 2011]
Gulo W. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Hadjan PM. 1994. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Ifa J dan Tesoriero F. 2006. Community Development: Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi.Yogyakarta: Pustakan Pelajar.
Indrajit. 2011. Konsorsium pelaksana proyek pengembangan electronic government . http://dosen.narotama.ac.id/ [ 2 Februari 2011].
Kajala L, Erkkonen J, Perttual M. 2004. Maesure for developing sustainability of nature tourism in protected area. http://www.metla.fi/julkaisut [13 Juli 2011].
[KEMENHUT] Kementerian Kehutanan. 2011. Taman hutan raya Wan Abdul Rachman Lampung.www.dephut.go.id/informasi/twa/tahura/wanabdul.htm [5 April 2011]
Mikkelsen B. 2003. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan. Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Praktisi Lapang, Penerjemah. Jakarta: Matheos Nalle-Ed.3. Terjemahan dari: Methods for development work and research: A Guide for Practitioners.
Muhammad A. 2004. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara
Muntasib EKSH. 2009. Tata Kelola Pariwisata Alam di Indonesia. Di Dalam Seminar Kebijakan, Tantangan dan Peluang Pariwisata Alam di Indonesia.Asosiasi Pariwisata Alam Indonesia (APAI). Gedung Manggala Wanabakti. Jakarta: 21-22 Juli 2009.
Muntasib EKSH dan Rachmawati E. 2009. Rekreasi Alam, Wisata dan Ekowisata.
Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB.
[PEMKOT KBL] Pemerintah Kota Bandar Lampung. 2000. Profil kota.
http://ciptakarya.pu.go.id/profil/profil/barat/Lampung.pdf [ 5April 2011].
[PEMPROV LPG] Pemerintah Provinsi Lampung. 2006. Potensi pariwisata Lampung.http://www.Lampungprov.go.id/?link=isi&id=125&level=2&na ma=Potensi%20Daerah+>+Pariwisata [5 April 2011].
_______. 1964. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1964 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Lampung Dengan Mengubah Undang-Undang No 25 Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat Isumatera Selatan.
_______. 2009. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.
_______. 2010. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Pengusahaan Pariwisata Alam Di Suaka Margasatwa, Taman Nasional,Taman Hutan Raya, Dan Taman Wisata Alam.
Pemerintah Provinsi Lampung. 2010. Peraturan Gubernur Lampung nomor 27 2010 tentang pembentukan, organisasi dan tatakerja unit pelaksana teknis dinas (UPTD) pada dinas daerah di provinsi Lampung.
Pitana IGP dan Diarta IKS. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
R. Buckley, C Pickering, DB Weaver. 2001. Nature-Based Tourism, Environment and Land Management. London: CABI Publishing.
Reed MS, Anil G, Norman D, Helena P, Klaus H, Joe M, Christina P, Claire HQ, dan Linsay C. Stringer. 2009. Who’s nad why? A Typology of Stakeholder Analysis Methids for Natural Resource Management. Journal of Environ-mental Management.
Rusmawardi M. 2011. Hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah di era pemberlakuan undang-undang pemerintahan daerah. J Sosioscientia 3 (11):95-102.
Scanlon J and Guilmin FB. 2004. International Enviromental Governance An International Regime For Protected Area. Canada: IUCN Publication service unit.
Schmerr K. 2009. Stakeholder analysis guidelines. http://www.lachsr.org [6 April 2011].
Slamet M. 2003. Membentuk Pola Prilaku Manusia Pembangunan. Bogor: IPB Press.
Soekanto S. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Sunarto K. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembang Penerbit.
Suwantoro. 2004. Dasar-Dasar Pariwisata. Yogyakarta: ANDI.
Tourism British Columbia. 2004. Economic value of the commercial nature-based tourism industry in british columbia. Canada: Pasific Analytics inc.
http://www.jti.gov.bc.ca [13 Juli 2011].
Utomo BU. 2010. Kembangkan wisata Lampung, susun RAPPIDA.
http://www.rribandarLampung.co.id [ 2 Januari 2011].
[UNEP] United Nations Environment Programme. 2002. Industry as a patner for sustainable development, tourism. United kingdom : United Nations Environment Programme.
Wahab S. 1992. Manajemen Kepariwisataan. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
Wildemuth BM. 2009. Application of Social Research Methods To Question In Informan and Libriry Science. London: Grennwood Publishing Group.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Panduan Wawancara Instansi Pemerintah
Tanggal : Nama Instansi : Narasumber/Jabatan:
A. Kepentingan Instansi
1. Bagaimanakah bentuk keterlibatan instansi Bapak/Ibu/Saudara dalam pengeolaan wisata alam di Kota Bandar Lampung?
2. Manfaat apa saja yang diperoleh instansi Bapak/Ibu/Saudara dari wisata alam di Kota Bandar Lampung?
3. Apa sajakah program instansi Bapak/Ibu/Saudara yang terkait dengan wisata alam di Kota Bandar Lampung?
4. Berapa persenkah program kerja instansi Bapak/Ibu/Saudara yang terkait dengan wisata alam?
5. Bagaimanakah tingkat ketergantungan instansi Bapak/Ibu/Saudara terhadap wisata alam di Kota Bandar Lampung?
6. Bagaimanakah peran instansi Bapak/Ibu/Saudara dalam pengelolaan wisata alam di Kota Bandar Lampung?
B. Pengaruh
1. Apakah instansi Bapak/ibu/saudara memberikan pengaruh terhadap lembaga/kelompok lain di Kota Bandar Lampung?
2. Lembaga/kelompok apasajakah yang dipengaruhi oleh instansi Bapak/ibu/saudara?
3. Bagaimanakah cara instansi Bapak/ibu/saudara mempengaruhi lembaga/kelompok yang sesuai dengan kondisi instansi?
4. Apakah instansi Bapak/ibu/saudara memberikan sanksi untuk mempengaruhi Lembaga/kelompok lain di Kota Bandar Lampung?
5. Sanksi apasajakah yang dipergunakan instansi Bapak/ibu/saudara?
6. Kapankah masing-masing sanksi tersebut diberikan kepada Lembaga/kelompok lain di Kota Bandar Lampung?
7. Apakah instansi Bapak/ibu/saudara memberikan bantuan kepada lembaga/kelompok lain di Kota Bandar Lampung?
8. Apa sajakah bentuk bantuan yang diberikan?
9. Kapankah bantuan tersebut diberikan?
10. Apakah terdapat kekuatan kepribadian didalam instansi Bapak/ibu/saudara?
11. Berasal darimanakah kekuatan kepribadian tersebut?
12. Berapakah jumlah sumberdaya manusia (SDM) yang dimiliki oleh instansi Bapak/ibu/saudara saat ini?
13. Bagaimanakah klasifikasi pendidikan dari SDM yang dimiliki
14. Berapakan jumlah anggaran yang diterima oleh instansi Bapak/ibu/saudara setiap tahunnya?
15. Berapakah persentase alokasi anggaran untuk kegaiatan wisata alam?
16. Bagaimanakah cakupan jejaring kerja yang dilakukan instansi Bapak/ibu/saudara?
17. Bagaimanakah peran dan partisipasi pihak lain dalam penyelenggaraan masing-masing program dan kegiatan tersebut?
C. Kebijakan
1. Peraturan/Kebijakan skala nasional dan lokal apasajakah yang digunakan instansi Bapak/Ibu/Saudara terkait dengan wisata alam di Kota Bandar Lampung?
2. Apakah terdapat peraturan/kebijakan yang dibuat oleh instansi Bapak/ibu/saudara?
3. Apakah peraturan/kebijakan tersebut telah berjalan?
4. Bagaimanakah implementasi peraturan/kebijakan tersebut? Apakah kebijakan / aturan tersebut telah mencapai tujuan?
5. Kegiatan apa yang dilakukan dalam rangka menjalankan kebijakan / aturan ter-sebut?
6. Adakah keterlibatan pihak lain dalam pelaksanaan peraturan/kebijakan yang di tetapkan?
7. Siapa saja yang dilibatkan?
D. Kerjasama dengan Pihak Lain
1. Siapa sajaka instansi/lembaga/kelompok yang melakukan kerjasama dengan instansi Bapak/Ibu/Saudara yang terkait dengan wisata alam di Kota Bandar Lampung?
2. Sejak kapankah kerjasama dilakukan? dan kapan berakhirnya?
3. Bagaimanakah peran yang dilakukan instansi Bapak/ibu/saudara terhadap kerjasama yang dilakukan?
4. Bagimakankah respon pihak lain terhadap kerjasama yang dilakukan?
Lampiran 2 Panduan Wawancara Lembaga/kelompok non Pemerintah
Tanggal :
Nama organisasi / kelompok : Narasumber/Jabatan :
A. Kepentingan
1. Bagaimanakah bentuk keterlibatan lembaga/kelompok Bapak/Ibu/Saudara dalam pengeolaan wisata alam di Kota Bandar Lampung?
2. Manfaat apa saja yang diperoleh lembaga/kelompok Bapak/Ibu/Saudara dari wisata alam di Kota Bandar Lampung?
3. Apa sajakah program lembaga/kelompok Bapak/Ibu/Saudara yang terkait dengan wisata alam di Kota Bandar Lampung?
4. Berapa persenkah program kerja lembaga/kelompok Bapak/Ibu/Saudara yang terkait dengan wisata alam?
5. Bagaimanakah tingkat ketergantungan lembaga/kelompok Bapak/Ibu/Saudara terhadap wisata alam di Kota Bandar Lampung?
6. Bagaimanakah peran lembaga/kelompok Bapak/Ibu/Saudara dalam pengelolaan wisata alam di Kota Bandar Lampung?
B. Pengaruh
1. Apakah lembaga/kelompok Bapak/ibu/saudara memberikan pengaruh ter-hadap pihak lain di Kota Bandar Lampung?
2. Siapasajakah pihak yang dipengaruhi?
3. Bagaimanakah cara lembaga/kelompok Bapak/ibu/saudara mempengaruhi pihak lainnya yang sesuai dengan kondisi lembaga/kelompok?
4. Apakah lembaga/kelompok Bapak/ibu/saudara memberikan sanksi kepada pihak lain di Kota Bandar Lampung?
5. Sanksi apasajakah yang dipergunakan lembaga/kelompok Bapak/ibu/saudara?
6. Kapankah masing-masing sanksi tersebut diberikan kepada pihak lain?
7. Apakah lembaga/kelompok Bapak/ibu/saudara memberikan bantuan pihak laindi Kota Bandar Lampung?
8. Apa sajakah bentuk bantuan yang diberikan?
9. Kapankah bantuan tersebut diberikan?
10. Apakah terdapat kekuatan kepribadian didalam lembaga/kelompok Bapak/ibu/saudara?
11. Berasal darimanakah kekuatan kepribadian tersebut?
12. Berapakah jumlah sumberdaya manusia (SDM) yang dimiliki oleh lembaga/kelompok Bapak/ibu/saudara saat ini?
13. Bagaimanakah klasifikasi pendidikan dari SDM yang dimiliki?
14. Berapakan jumlah pendapatan yang diterima lembaga/kelompok Bapak/ibu/saudara setiap tahunnya?
15. Berapakah persentase alokasi pendapatan untuk kegaiatan wisata alam?
16. Bagaimanakah cakupan jejaring kerja yang dilakukan lembaga/kelompok Bapak/ibu/saudara?
17. Bagaimanakah peran dan partisipasi pihak lain dalam penyelenggaraan masing-masing program dan kegiatan tersebut?
C. Peraturan
1. Peraturan skala internasional, nasional dan lokal apasajakah yang dijalankan lembaga/kelompok Bapak/Ibu/Saudara terkait dengan wisata alam di Kota Bandar Lampung?
2. Bagaimanakah implementasi peraturan/kebijakan tersebut? Apakah ke-bijakan / peraturan tersebut telah mencapai tujuan?
3. Apakah terdapat peraturan yang dibuat oleh lembaga/kelompok Bapak/ibu/saudara?
4. Apakah peraturan tersebut telah berjalan?
5. Adakah keterlibatan pihak lain dalam pelaksanaan peraturan yang di tetap-kan?
6. Siapa saja yang dilibatkan?
D. Kerjasama dengan pihak Lain
1. Siapa sajakah instansi/lembaga/kelompok yang melakukan kerjasama dengan instansi Bapak/Ibu/Saudara yang terkait dengan wisata alam di Kota Bandar Lampung?
2. Sejak kapankah kerjasama dilakukan? dan kapan berakhirnya?
3. Bagaimanakah peran yang dilakukan lembaga/kelompok Bapak/ibu/saudara terhadap kerjasama yang dilakukan?
4. Bagimakankah respon pihak lain terhadap kerjasama yang dilakukan?
Lampiran 3 Panduan Penilaian Tingkat Kepentingan
1. Bagaimanakah bentuk keterlibatan instansi/lembaga/kelompok Bapak/Ibu/Saudara dalam pengeolaan wisata alam di Kota Bandar Lampung?
kor 5 :Jika memiliki bentuk keterlibatan dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi wisata alam
Skor 4 : jika menyebutkan tiga saja Skor 3 : jika menyebutkan dua saja Skor 2 : jika menyebutkan salah satu saja Skor 1 : tidak memiliki bentuk keterrlibatan
2. Manfaat apa saja yang diperoleh instansi/lembaga/ kelompok Bapak/Ibu/Saudara dari wisata alam di Kota Bandar Lampung?
Skor 5 : Jika wisata alam bermanfaat sebagai sumber penerimaan, menciptakan lapangan pekerjaan, mempromosikan kota/daerah, membuka aksesibilitas
Skor 4 : jika menyebutkan tiga saja Skor 3 : jika menyebutkan dua saja Skor 2 : jika menyebutkan salah satu saja Skor 1 : tidak mendapat manfaat
3. Apa sajakah program kerja instansi/ lembaga/kelompok Bapak/Ibu/Saudara yang terkait dengan wisata alam di Kota Bandar Lampung?
Skor 5 : Jika jumlah program kerja yang berkaitan dengan wisata alam > 20%
Skor 4 : Jika jumlah program kerja yang berkaitan dengan wisata alam 15%-20%
Skor 3 : Jika jumlah program kerja yang berkaitan dengan wisata alam 10%-15%
Skor 2 : Jika jumlah program kerja yang berkaitan dengan wisata alam 5%-10%
Skor 1 : Jika jumlah program kerja yang berkaitan dengan wisata alam < 5%
4. Bagaimanakah tingkat ketergantungan instansi/lembaga/kelompok Bapak/Ibu/Saudara terhadap wisata alam di Kota Bandar Lampung?
Skor 5 : Jika 81-100 % sumber pendapatan berasal dari wisata alam Skor 4 : Jika 61-80 % sumber pendapatan berasal dari wisata alam Skor 3 : Jika 41-60 % sumber pendapatan berasal dari wisata alam Skor 2 : Jika 21-40 % sumber pendapatan berasal dari wisata alam Skor 1 : Jika < 20% sumber pendapatan berasal dari wisata alam
5. Bagaimanakah peran instansi/ lembaga/kelompok Bapak/Ibu/Saudara dalam pengelolaan wisata alam di Kota Bandar Lampung?
Skor 5 : Jika memiliki peran dalam perlindungan sumberdaya, pemberdayaan masyarakat setempat, penyediaan pelayanan wisata, penyediaan data dan informasi
Skor 4 : jika menyebutkan tiga saja Skor 3 : jika menyebutkan dua saja Skor 2 : jika menyebutkan salah satu saja
Skor 1 : tidak memiliki peran dalam pengelolaan wisata alam
Lampiran 4 Panduan Penilaian Tingkat Pengaruh
1. Bagaimanakah pengaruh kondisi kekuatan instansi Bapak/ibu/saudara lakukan?
Skor 5 : jika pengaruh kondisi diperoleh melalui kekuatan opini, budaya, pendidikan, propaganda/iklan dan lainnya
Skor 4 : jika menyebutkan tiga saja Skor 3 : jika menyebutkan dua saja Skor 2 : jika menyebutkan salah satu saja Skor 1 : tidak memiliki pengaruh kondisi
2. Bagaimanakah pengaruh kelayakan instansi Bapak/ibu/saudara lakukan?
Skor 5 : jika pengaruh kelayakan diperoleh melalui sanksi administrasi, sanksi finansial, ancaman fisik, sanksi hukum, atau sanksi lainnya Skor 4 : jika menyebutkan tiga saja
Skor 3 : jika menyebutkan dua saja Skor 2 : jika menyebutkan salah satu saja Skor 1 : tidak memiliki pengaruh kelayakan
3. Bagaimanakah pengaruh kekuatan kompensasi organisasi/lembaga Bapak/ibu/saudara lakukan?
Skor 5 : jika pengaruh kompensasi diperoleh melalui kekuatan Pemberian gaji/ upah, pemberian bantuan/ kegiatan, pemberian sebidang lahan, pemberian penghargaan dan lainnya
Skor 4 : jika menyebutkan tiga saja Skor 3 : jika menyebutkan dua saja Skor 2 : jika menyebutkan salah satu saja Skor 1 : tidak memiliki pengaruh kompensasi
4. Bagaimanakah pengaruh kekuatan kepribadian instansi/lembaga Bapak/ibu/saudara?
Skor 5 : jika pengaruh kepribadian diperoleh melalui kekuatan Pesona seseorang/karisma, kekuatan fisik, kecerdasan mental, kekayaan Skor 4 : jika menyebutkan tiga saja
Skor 3 : jika menyebutkan dua saja Skor 2 : jika menyebutkan salah satu saja
Skor 1 : tidak memiliki pengaruh kekuatan personality
5. Bagaimanakah pengaruh kekuatan organisasi dari instansi/lembaga Bapak/ibu/saudara?
Skor 5 : jika pengaruh organisasi diperoleh melalui kekuatan anggaran, sumberdaya manusia (SDM), kesesuaian bidang fungsi, jejaring kerja.
Skor 4 : jika menyebutkan tiga saja Skor 3 : jika menyebutkan dua saja Skor 2 : jika menyebutkan salah satu saja
Skor 1 : tidak memiliki pengaruh sumber kekuatan Keterangan :
Memiliki Kekuatan anggaran : Apabila jumlah anggaran instansi / lembaga/ kelompok yang dialokasikan untuk wisata alam ≥ 30%
Memiliki kekuatan SDM : Apabila SDM terdiri dari minimal tiga jenjang pendidikan dan salah satu jenjang pendidikan berasal dari Sarjana.
Lampiran 5 Hasil analisis TUPOKSI dan aturan kelembagaan stakeholder wisata alam di Kota Bandar Lampung
No. Instansi/Lembaga Pasal Kata Kunci Makna
Eksplisit
Konservasi k. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata,
termasuk di dalamnya usaha jasa pariwisata, usaha obyek dan
termasuk di dalamnya usaha jasa pariwisata, usaha obyek dan