• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.3 Teknik Penentuan Informan

Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan Purpossive sampling. Informan dianggap sebagai pelaku (instansi/lembaga/kelompok) yang mempunyai keterlibatan dalam pengelolaan wisata alam di KBL. Informan dapat

berasal dari instansi pemerintah, lembaga swasta, kelompok masyarakat, pengusaha pariwisata dan masyarakat.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasikan stakeholder antara lain:

a. Wawancara Informan

Wawancara dilakukan secara semi terstruktur dengan menggunakan panduan wawancara kepada informan kunci (Key informan) dari masing-masing stakeholder. Wawancara dengan informan kunci bertujuan untuk mendapatkan informasi khusus mengenai suatu topik (Mikkelsen 2003). Kajian yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pihak-pihak (stakeholder) dan hubungan diantara para pihak yang terlibat dalam pengelolaan wisata alam. Informan kunci pertama dari masing-masing stakeholder yaitu kepala dinas, direktur perseroan, ketua organ-isasi atau staff yang ditunjuk para pemimpin stakeholder untuk mewakili stake-holder yang bersangkutan dalam memberikan informasi tentang pengelolaan wisata alam di KBL. Informan kunci kedua berasal dari rekomendasi informan kunci pertama, informan kunci ketiga berasal dari rekomendasi informan kunci kedua dan begitu seterusnya hingga keseluruhan data penelitian terkumpulkan.

Data dan informasi yang berasal dari informan kunci kedua dan informan selanjutnya digunakan untuk melengkapi data dan informasi dari informan awal.

Metode penentuan informan kunci diatas biasanya disebut snowball sampling (Wildemuth 2009) .

b. Observasi lapang

Observasi lapang merupakan pengamatan langsung dan pencatatan secara teliti terhadap kajian yang diteliti. Observasi lapang dilakukan untuk mengetahui lokasi objek wisata alam terbaru dan mengetahui implementasi keterangan-keterangan yang didapatkan dari hasil wawancara.

c. Penelusuran dokumen

Penelusuran dokumen dilakukan terhadap dokumen TUPOKSI instansi pemerintah dan aturan kelembagaan milik swasta/kelompok masyarakat, kebijakan pemerintah tentang wisata alam dalam skala daerah maupun nasional, dan dokumen lain yang diperlukan untuk menunjang penelitian. Penelusuran dokumen dilakukan sebagai langkah awal dalam penelitian dan diperlukan untuk membantu analisis data.

Tabel 1 Matriks pengumpulan data

No Jenis Data Variabel Metode

1. Instansi Pemerintahan - Identitas instansi

- TUPOKSI

- Kebijakan yang ditetapkan - Bentuk Keterlibatan - Kegiatan yang dilakukan

- Hubungan dengan stakeholder lain

Wawancara menggunakan panduan wawancara instansi pemerintah (Lampiran 1)

2. Lembaga Swasta - Identitas lembaga/organisasi

- Aturan kelembagaan yang ditetapkan - Bentuk keterlibatan

- Kegiatan yang dilakukan

- Hubungan dengan stakeholder lain

Wawancara menggunakan panduan wawancara lembaga swasta/kelompok non-pemerintah (Lampiran 2)

3. Kelompok Masyarakat - Identitas kelompok

- Aturan yang ditetapkan - Bentuk keterlibatan - Kegiatan yang dilakukan

- Hubungan dengan stakeholder lain

Wawancara menggunakan panduan wawancara lembaga swasta/kelompok non-pemerintah (Lampiran 2)

4. Besarnya kepentingan masing-masing pihak dalam pengelolaan wisata alam KBL

- Keterlibatan stakeholder

- Ketergantungan stakeholder terhadap wisata alam - Program kerja masing-masing stakeholder - Manfaat wisata alam bagi stakeholder - Peran stakeholder

Penghitungan nilai kepentingan dengan menggunakan panduan penghitungan nilai kepentingan (Lampiran 3)

5. Besarnya pengaruh masing-masing pihak terhadap pengelolaan wisata alam KBL

- Pengaruh kekuatan kondisi - Pengaruh kekuatan kelayakan - Pengaruh kekuatan kompensasi - Pengaruh kekuatan Personality - Pengaruh kekuatan organisasi

Penghitungan nilai kepentingan dengan menggunakan panduan penghitungan nilai kepentingan (Lampiran 4)

No Jenis Data Variabel Metode 6.

7.

Kebijakan

TUPOKSI dan Aturan Kelembagaan

- Konservasi, partisipasi, manfaat ekonomi, edukasi, wisata - Kesenjangan antara kebijakan yang diberlakukan berdasarkan

komponen konservasi, partisipasi, manfaat ekonomi, edukasi, wisata - Konservasi, partisipasi, manfaat ekonomi, edukasi, wisata

- Kesenjangan antara TUPOKSI dan aturan kelembagaan berdasarkan komponen konservasi, partisipasi, manfaat ekonomi, edukasi, wisata

Penelusuran dokumen menggunakan analisis isi kebijakan (Lampiran 5) Penelusuran dokumen menggunakan analisis isi TUPOKSI (Lampiran 6)

8. Kebutuhan - Kemiripan kebutuhan dari semua kebutuhan stakeholder Wawancara dengan menggunakan

panduan wawancara

kebutuhan/harapan ( Lampiran 7)

3.5 Analisis data

Data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan analisis stakeholder, analisis isi (Content analysis), dan analisis deskriptif. analisis isi dilakukan terhadap TUPOKSI dan aturan kelembagaan, serta kebijakan pemerintah.

3.5.1 Analisis stakeholder

Analisis stakeholder digunakan untuk menganalisis data mengenai stake-holder. Model analisis stakeholder yang digunakan adalah model yang diperke-nalkan oleh Reed et al. (2009). Tahapan dalam melakukan analisis stakeholder adalah sebagai berikut :

1. Identifikasi stakeholder dan perannya

2. Membedakan dan mengkategorikan stakeholder berdasarkan kepentingan dan pengaruhnya

Stakeholder dipetakan ke dalam matriks analisis stakeholder berdasarkan besarnya kepentingan dan pengaruh. Besarnya kepentingan dinilai berdasarkan keterlibatan stakeholder dalam wisata alam, ketergantuang stakeholder terhadap wisata alam, program kerja masing-masing stakeholder yang berkaitan dengan wisata alam, manfaat yang diperoleh stakeholder dari wisata alam, peran yang dimainkan oleh stakeholder dalam pengelolaan wisata alam.

Besarnya pengaruh dinilai berdasarkan intrumen dan sumber kekuatan (power) yang dimiliki masing-masing stakeholder (Gabriel 1983; Reed et al. 2009).

Instrumen kekuatan meliputi kekuatan kondisi (conditioning power), kekuatan kelayakan (condign power), kekuatan kompensasi (compesatory power) dan sumber kekuatan meliputi kekuatan individu (personality power), kekuatan organisasi (organization power). Penilaian besarnya kepentingan stakeholder menggunakan panduan kepentingan pada Lampiran 3 sedangkan penilaian besarnya pengaruh menggunakan panduan penilaian pengaruh pada Lampiran 4.

Jumlah nilai yang didapatkan oleh masing-masing stakeholder adalah 25 poin untuk besarnya kepentingan dan 25 poin untuk besarnya pengaruh.

Setelah diketahui besarnya nilai kepentingan dan pengaruh, masing-masing

stakeholder dipetakan ke dalam matriks kepentingan pengaruh pada Gambar 2 dengan menggunakan Software Minitab 15.

Gambar 3 Matriks Kepentingan-Pengaruh (Reed et al. 2009).

3. Mendefinisikan hubungan antar stakeholder

Hubungan diantara stakeholder akan didefinisikan melalui dokumen dan hasil wawancara pada informan kunci. Dokumen yang digunakan untuk mendefinisikan hubungan ialah TUPOKSI instansi dan aturan kelembagaan swasta serta kelompok masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan wisata alam di KBL. Hubungan tersebut akan dijelaskan melalui peta hubungan stakeholder wisata alam di KBL baik yang terdapat dalam dokumen maupun hubungan yang terjadi di lapangan.

3.5.2 Analisis isi kebijakan dan TUPOKSI/aturan kelembagaan

Analisis isi kebijakan digunakan untuk menganalisis kebijakan perundang-undangan baik skala nasional maupun lokal yang berkaitan dengan wisata alam dan analisis isi TUPOKSI/aturan kelembagaan digunakan untuk menganalisis TUPOKSI diantara instansi pemerintah dan aturan kelembagaan milik lembaga swasta atau kelompok masyarakat yang terlibat pengelolaan wisata alam di KBL.

Analisis isi kebijakan dilakukan dengan menggunakan matriks analisis isi kebijakan (Lampiran 5) dan analisis TUPOKSI/aturan kelembagaan dilakukan dengan menggunakan matriks analisis isi TUPOKSI (Lampiran 6). Analisis isi kebijakan dan TUPOKSI/aturan kelembagaan yang dilakukan dalam penelitian

ini menggunakan kata kunci (key word) berupa konservasi, partisipasi,ekonomi, edukasi dan wisata.

3.5.3 Analisis deskriptif kebutuhan

Analisis deskriptif kebutuhan digunakan untuk menggambarkan kebutuhan masing-masing stakeholder terhadap pengelolaan wisata alam di KBL. Kebutuhan masing-masing stakeholder di kelompokkan menurut kemiripannya. Analisis deskriptif kebutuhan dilakukan dengan menggunakan daftar kebutuhan stakeholder (Lampiran 7).

BAB IV

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Letak geografis dan wilayah administratif

Secara geografis wilayah Kota Bandar Lampung (KBL) berada antara 50º20’-50º30’ LS dan 105º28’-105º37’ BT. KBL memiliki luas wilayah 192.96 km2 dengan batas-batas sebagai berikut (PEMKOT KBL 2000) :

 Batas Utara : Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan

 Ba tas Selatan : Kecamatan Padang Cermin, Ketibung dan Teluk Lam-pung,

Kabupaten Lampung Selatan

 Batas Timur : Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan

 Batas Barat : Kecamatan Gedungtataan dan Padang Cermin Kabupaten Lampung Selatan

KBL dibentuk pada tanggal 17 juni 1983 sebagai bagian dari wilayah kota dalam bentuk kepresidenan Provinsi Lampung. Pembentukan KBL berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 3 tahun 1964. Pada awalnya KBL terdiri dari 4 kecamatan dan 30 kelurahan namun dalam perkembangannya KBL mengalami beberapa kali pemekaran wilayah. Pada tahun 2001 berdasarkan paraturan daerah nomor 4 tahun 2001 wilayah administratif KBL ditetapkan menjadi 13 kecamatan dengan 98 kelurahan.

4.2 Iklim dan topografi

KBL memiliki iklim tipe A berdasarkan klasifikasi Scmidt dan Ferguson.

Hal itu menunjukkan KBL lembab sepanjang tahun. KBL memiliki curah hujan berkisar antara 2.257 – 2.454 mm/tahun dengan jumlah hari hujan 76-166 hari/tahun. Kelembaban KBL berkisar antara 60% - 85% dan suhu udara 230-370. KBL terletak pada ketinggian 0 - 700 mm di atas permukaan laut. KBL memiliki

luas wilayah datar sampai landai 60%, landai sampai miring 35%, miring sampai curam 4 % (PEMPROV LPG 2006). Topografi KBL terdiri dari :

a. Daerah pantai meliputi Teluk Betung bagian selatan dan Panjang b. Daerah perbukitan meliputi Teluk Betung bagian utara

c. Daerah dataran tinggi yang bergelombang meliputi Tanjung Karang bagian barat

d. Teluk Lampung dan pulau-pulau kecil berada di bagian selatan

4.3 Potensi wisata alam

a. Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman

Taman Hutan Raya Abdul Rahman (Tahura WAR) merupakan hutan pegunungan yang berisi koleksi tumbuhan dan satwaliar. Jenis tumbuhan yang terdapat di Tahura WAR ialah pulai, kenanga, durian, bintung, dadap, hopea dan berbagai macam jenis anggrek. Jenis satwaliar yang terdapat di Tahura WAR antara lain macan akar, babi hutan, rangkong, siamang dan ayam hutan (KEMENHUT 2011). Selain itu di kawasan Tahura WAR juga terdapat 5 air ter-jun yang biasa digunakan mandi oleh pengunter-jung. Kegiatan yang dapat dilakukan ialah berkemah, lintas alam dan mandi di air terjun.

b. Taman Hutan Kera Tirtosari

Taman Hutan Kera Tirtosari (THKT) merupakan sebuah hutan seluas 1 hektar dengan kemiringan tanah 60 derajat yang diperuntukkan untuk kehidupan satwaliar. Nama kera diambil dari bahasa Lampung yang artinya sama dengan monyet tetapi satwaliar yang berada didalamnya sebenarnya ialah monyet jenis Macaca fascicularis. Hal itu karena secara ekologi kera merupakan primata yang tidak memiliki ekor sedangkan monyet merupakan primata yang memiliki ekor.

Pengunjung dapat melihat monyet yang hidup liar dihutan dan memberikan makan secara langsung. Selain sebagai habitat bagi monyet, fungsi lain dari hutan ini ialah sebagai sumber mata air dan oksigen bagi KBL.

c. Taman Wisata Bumi Kedaton

Taman wisata bumi kedaton merupakan wisata yang dikembangkan oleh PT Bumi Kedaton sejak tahun 2004. Area Taman Wisata Bumi Kedaton berupa area perbukitan dengan berbagai jenis satwaliar dan air sungai yang berasal dari Gunung Betung. Satwaliar yang terdapat di taman wisata ini berupa jenis burung pegunungan dan beberapa satwaliar yang berada di dalam kandang serta satwaliar yang digunakan untuk atraksi seperti Gajah Sumatera. Satwaliar yang berada da-lam kandang antara lain kuda, beruang madu, siamang, buaya, biawak, ular.

Selain itu Taman Wisata Bumi Kedaton juga memiliki rumah khas Lampung yang digunakan untuk memperkenalkan kebudayaan Lampung.

d. Taman Kupu-Kupu Gita Persada

Taman Kupu-Kupu Gita Persada (TKGP) merupakan area penangkaran kupu-kupu yang memiliki luasan 5 ha. TKGP memiliki koleksi kupu-kupu hidup maupun awetan kupu-kupu yang berasal dari Kabupaten Liwa Lampung Barat.

Pengunjung dapat melihat dan menikmati berbagai jenis kupu-kupu dan membeli awetan kupu-kupu di Taman Kupu-Kupu Gita Persada. Selain itu pengunjung ju-ga dapat memesan kupu-kupu hidup yang diambil dari kepompong kupu-kupu.

e. Wisata Alam Batu Putu

Batu putu merupakan kawasan wisata yang memiliki keindahan alam yang indah dan air terjun yang mengalir di dalamnya. Batu putu juga memiliki berbagai macam tanaman buah seperti durian, duku, pisang, manggis dan palawija.

Pengunjung dapat menikmati air terjun dan membeli buah-buahan segar di wisata alam batu Putu.

f. Wira garden

Wira garden merupakan kawasan wisata yang menawarkan pemandangan alam yang indah di daerah Gunung Betung. Kegiatan yang dilakukan di Wira Garden ialah hicking, camping, dan arum jeram. Wira garden juga menyewakan cottage bagi para pengunjung yang ingin menginap di kawasan wisata.

g. Pantai

KBL yang berdekatan dengan Teluk Lampung menyebabkan KBL memiliki potensi pantai yang tinggi. Pantai-pantai di KBL yang sering menjadi tujuan wisata adalah Pantai Duta Wisata, Pantai Tirtayasa, dan Pantai Puri Gading.

Potensi pantai di KBL terletak di Kecamatan Teluk Betung Barat.

4.4 Aksesibilitas

Aksesibilitas menuju KBL dapat menggunakan jalur darat dan udara. Rute perjalanan jalur darat dan jalur udara antara lain :

a. Jalur darat : Jakarta – Serang - Merak – Bakauheni – Kalianda - Kota Bandar Lampung

b. Jalur Udara : Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta) – Bandara Raden Intan (Natar) – Kota Bandar Lampung

Pada jalur darat menuju KBL diselingi dengan jalur laut melalui penyebrangan dari pelabuhan Merak-Banten menuju Pelabuhan Bakauheni-Lampung. Jalur darat menuju KBL dapat ditempuh selama 8 jam perjalanan sedangkan jalur udara ditempuh selama 45 menit di pesawat dan dilanjutkan dengan perjalanan darat selama 1 jam. Penyebrangan dari pelabuhan Merak menuju Bakauheni ataupun sebaliknya tersedia selama 24 jam dan penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Raden Intan ataupun sebaliknya tersedia 5-8 kali penerbangan selama satu hari.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Identifikasi stakeholder dan peranannya

Jumlah stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan wisata alam di KBL ialah 21 Stakeholder. Stakeholder yang terlibat berasal dari instansi pemerintah provinsi dan kota, lembaga swasta, kelompok masyarakat, pengusaha perorangan, dan masyarakat. Hasil identifikasi stakeholder berdasarkan tingkatan administrasi disajikan pada Tabel 2. Peran stakeholder dalam pengelolaan wisata alam dalam penelitian ini dibedakan menjadi empat yaitu peran perlindungan sumberdaya, pemberdayaan masyarakat setempat, penyediaan pelayanan wisata, penyediaan data dan informasi wisata alam. Stakeholder yang berasal dari instansi pemerintah, lembaga swasta, kelompok masyarakat dan masyarakat dapat memiliki keempat peran tersebut ataupun hanya sebagian saja.

Tabel 2 Tingkatan administratif stakeholder wisata alam

No. Stakeholder Prov. Kota Kelurahan Kampung

1. Disbudpar Bandar Lampung

2. PT Bumi Kedaton

3. Perusahaan Wira Garden

4. UPTD Tahura WAR

5. Yayasan Taman Buaya Indonesia

6. PT Sutan Duta Sejati

7. Kelompok sadar wisata THKT

8. Yayasan Sahabat Alam

9. BKSDA Lampung

10. DKP Bandar Lampung

11. Disbudpar Lampung

12. Beppeda KBL

13. PT Alam Raya

14. KPPH Sumber Agung

15. Watala

16. HPI

17. PHRI

18. ASITA

19. WWF

20. Pengusaha Sukamenanti

21. Masyarakat

5.1.1 Instansi pemerintah

Peran instansi pemerintah dalam pengelolaan wisata alam KBL meliputi perlindungan sumberdaya, pemberdayaan masyarakat setempat, penyediaan pelayanan wisata, dan penyediaan data serta informasi wisata alam. Peran instansi pemerintah dalam perlindungan sumberdaya dilakukaan melalui pengawasan yang berkaitan dengan lingkungan terhadap kawasan wisata alam. Peran instansi pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui pembentukan kelompok sadar wisata THKT di KBL. Peran instansi pemerintah dalam penyediaan pelayanan wisata dilakukan melalui perbaikan jalan menuju objek wisata. Peran instansi pemerintah dalam penyediaan data dan informasi dilakukan melalui inventarisasi atau kunjungan ke objek wisata dan dipublikasikan dalam media massa.

5.1.2 Lembaga swasta

Pada umumnya peran lembaga swasta dalam pengelolaan wisata alam di KBL meliputi pemberdayaan masyarakat, penyediaan pelayanan wisata, penyediaan data dan informasi. Peran pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat, pembinaan tentang pembibitan tanaman kehutanan oleh Yayasan Sahabat Alam dan pembinaan serta penyuluhan manfaat hutan oleh Watala. Peran penyediaan pelayanan wisata dilakukan melalui penyediaan penginapan, restoran, program wisata, dan fasilitas lainnya yang dibutuhkan pengunjung. Peran penyediaan data dan informasi dilakukan melalui billboard, website, leaflet dan papan interpretasi yang menjelaskan flora dan fauna di dalam kawasan wisata alam.

5.1.3 Kelompok masyarakat

Peran kelompok masyarakat dalam pengelolaan wisata alam di KBL meliputi perlindungan sumberdaya, pemberdayaan masyarakat setempat dan penyediaan pelayanan wisata. Peran perlindungan sumberdaya dilakukan melalui menjaga habitat satwaliar, menanam dan memelihara tumbuhan di kawasan

Tahura WAR, tidak berburu satwaliar dan tidak melakukan penebangan pohon.

Peran kelompok masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui penyuluhan yang bersifat persuasif untuk menjaga hutan dan melindungi satwaliar yang berada di daerah tempat tinggal. Peran penyediaan pelayanan wisata hanya dilakukan kelompok sadar wisata THKT dengan membangun penampungan air di sumber mata air dalam kawasan THKT.

5.1.4 Pengusaha perorangan dan masyarakat

Peran pengusaha perorangan dalam pengelolaan wisata alam di KBL ialah penyediaan pelayanan wisata. Peran penyediaan pelayanan wisata dilakukan melalui pembangunan fasilitas mushola, toilet dan tangga di wisata alam batu pu-tu. Dana yang digunakan untuk pembangunan fasilitas juga berasal dari Disbudpar Bandar Lampung selaku pemilik objek wisata alam Batu Putu. Peran masyarakat dalam pengelolaan wisata alam di KBL sebagai penyedia pelayanan wisata. Peran masyarakat dalam penyediaan pelayanan wisata dilakukan melalui pembuatan warung makan didalam kawasan wisata alam maupun disepanjang jalan menuju kawasan wisata alam.

4.2 Pemetaan stakeholder

Stakeholder yang telah teridentifikasi memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh berbeda terhadap pengelolaan wisata alam di KBL. Perbedaan tingkat kepentingan masing-masing stakeholder dipengaruhi oleh bentuk keterlibatan stakeholder dalam wisata alam, ketergantuang stakeholder terhadap wisata alam, program kerja masing-masing stakeholder yang berkaitan dengan wisata alam, manfaat yang diperoleh stakeholder dari wisata alam, peran yang dimainkan oleh stakeholder dalam pengelolaan wisata alam. Perbedaan tingkat ketergantungan stakeholder dipengaruhi oleh kekuatan kondisi, kekuatan kelayakan, kekuatan kompensasi, kekuatan individu, kekuatan organisasi (Gabriel 1983; Reed et al.

2009). Hasil analisis tingkat kepentingan stakeholder dapat dilihat pada Tabel 3 dan hasil analisis tingkat pengaruh dapat dilihat pada Tabel 4. Hasil analisis

kepentingan dan pengaruh dengan menggunakan matriks Reed et al. (2009) dapat dilihat pada Gambar 4.

Tabel 3 Tingkat kepentingan stakeholder

No. Nama Stakeholder Nilai

Total

Keterangan: I:keterlibatan; II: anfaat; III: persentase program kerja; IV: tingkat ketergantungan; V:peran

Tabel 4 Tingkat pengaruh stakeholder

No. Nama Stakeholder Nilai Total

I II III IV V

Keterangan: I:kondisi; II: kelayakan; III: kompensasi; IV: kepribadian; V:organisasi

Hasil perhitungan total nilai kepentingan dan pengaruh masing-masing stakeholder dipetakan dalam matriks kepentingan dan pengaruh pada Gambar 4.

Gambar 4 menjelaskan pembagian stakeholder dalam empat kelompok yaitu key player, subject, context setter dan crowd. Masing-masing kelompok memiliki jumlah stakeholder yang berbeda sesuai dengan tingkat kepentingan dan pengaruhnya.

Keterangan :

1. Disbudpar K ota Bandar Lampung 2. PT Bumi Kedaton

3. Perusahaan Wira Garden 4. UPTD Tahura WAR

5. Yayasan Taman Buaya Indonesia 6. PT Sutan Duta Sejadi

7. Kelompok Sadar wisata THKT 8. Yayasan Sahabat Alam 9. BKSDA Lampung 10. DKP Bandar Lampung 11. Disbudpar Lampung 12. Bappeda Bandar Lampung 13. PT Alam Raya

14. KPPH Sumber Agung 15. Watala

Gambar 4 Matriks kepentingan dan pengaruh stakeholder wisata alam a. Key player

Key player merupakan stakeholder yang memiliki kepentingan dan pengaruh yang besar dan paling aktif dalam pengelolaan (Reed et al. 2009).

Stakeholder yang dikategorikan kelompok key player dalam pengelolaan wisata alam di KBL ialah Disbudpar Bandar Lampung. Hal itu karena Disbudpar Bandar Lampung merupakan instansi pemerintah daerah yang diberikan mandat untuk melaksanakan urusan pemerintah daerah di bidang kebudayaan dan pariwisata di KBL. Sehingga semua sumberdaya alam milik pemerintah daerah yang akan dijadikan objek wisata alam harus melalui persetujuan Disbudpar Bandar

25,0

Lampung. Selain itu, Disbudpar Bandar Lampung juga bertanggung jawab melakukan pengawasan terhadap pertumbuhan dan perkembangan wisata alam di KBL.

b. Subject

Subject merupakan stkaeholder yang memiliki kepentingan yang besar tetapi pengaruh kecil. Stakeholder jenis ini bersifat supportive, mempunyai kapa-sitas yang kecil untuk mengubah situasi (Reed et al. 2009). Stakeholder yang dikategorikan dalam kelompok subject ialah PT Bumi Kedaton, Perusahaan Wira Garden, UPTD Tahura WAR, Yayasan Taman Buaya Indonesia, PT Sutan Duta Sejadi. Keseluruhan stakeholder yang masuk dalam kelompok subject merupakan para pemilik objek wisata alam di KBL. Kelompok subject memiliki kepentingan tinggi karena melakukan pengelolaan langsung terhadap objek wisata alam yang dimiliki baik berupa pembangunan fasilitas, pembuatan program wisata, pemasaran, dan penanganan pencemaran lingkungan dari kegiatan wisata alam.

Pengelolaan yang dilakukan bertujuan untuk menarik pengunjung ke objek wisata alam yang dimilikinya. Kelompok subject memiliki pengaruh kecil karena kurangnya kerjasama dengan stakeholder lainnya. Kelompok subject hanya melakukan kerjasama dengan masyarakat setempat. Kerjasama yang dilakukan dengan masyarakat setempat berupa pengamanan objek wisata alam.

c. Context setter

Context setter merupakan stkaeholder yang memiliki pengaruh besar tetapi kepentingan kecil (Reed et al. 2009). Stakeholder yang masuk dalam kelompok context setter ialah Yayasan Sahabat Alam. Yayasan Sahabat Alam memiliki kepentingan rendah karena kegiatan wisata yang dilakukan hanya berupa wisata pendidikan kepada anak sekolah dan wisata bukan merupakan tujuan utama yayasan. Tujuan utama Yayasan Sahabat Alam adalah konservasi kupu-kupu di KBL. Yayasan Sahabat Alam memiliki pengaruh yang besar karena pemilik dan sebagian besar pengurus yayasan bergerak dibidang akademisi yaitu sebagai dosen di Universitas Lampung (UNILA). Profesi yang dimiliki pemilik dan

pengurus yayasan dapat mempengaruhi instansi pemerintah, LSM, dan masyarakat setempat. Pengaruh kepada instansi pemerintah dilakukan melalui pendapat dan saran dalam suatu kegiatan wisata seperti pameran. Pengaruh kepada LSM diberikan melalui kerjasama dalam bentuk project di bidang konservasi. Pengaruh kepada masyarakat diberikan melalui penyuluhan dan bimbingan dalam menanam bibit tanaman kehutanan. Bibit tanaman kehutanan masyarakat kemudian dibeli yayasan untuk ditanam di dalam kawasan Taman Kupu-Kupu Gita Persada.

d. Crowd

Crowd merupakan stakeholder dengan kepentingan dan pengaruh yang kecil. Stakeholder ini akan mempertimbangkan segala kegiatan yang mereka lakukan (Reed et al. 2009). Stakeholder yang termasuk dalam kelompok crowd ialah DKP Bandar Lampung, Disbudpar Lampung, Bappeda Bandar Lampung, PT Alam Raya, KPPH Sumber Agung, Watala, HPI, PHRI, ASITA, WWF, Pengusaha Sukamenanti dan Masyarakat. Kelompok crowd memiliki kepentingan dan pengaruh kecil karena sebagian besar wilayah kerjanya berada di tingkat provinsi seperti Disbudpar Lampung, BKSDA Lampung, Watala, HPI, PHRI, ASITA dan WWF. Sehingga program kerja para stakeholder tersebut

Crowd merupakan stakeholder dengan kepentingan dan pengaruh yang kecil. Stakeholder ini akan mempertimbangkan segala kegiatan yang mereka lakukan (Reed et al. 2009). Stakeholder yang termasuk dalam kelompok crowd ialah DKP Bandar Lampung, Disbudpar Lampung, Bappeda Bandar Lampung, PT Alam Raya, KPPH Sumber Agung, Watala, HPI, PHRI, ASITA, WWF, Pengusaha Sukamenanti dan Masyarakat. Kelompok crowd memiliki kepentingan dan pengaruh kecil karena sebagian besar wilayah kerjanya berada di tingkat provinsi seperti Disbudpar Lampung, BKSDA Lampung, Watala, HPI, PHRI, ASITA dan WWF. Sehingga program kerja para stakeholder tersebut

Dokumen terkait