• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Komunikasi Interpersonal

Komuniksi interpersonal didefinisikan oleh Joseph A. Devito dalam bukunya “ The Interpersonal Communication Book”. (Devito, 1989:4) sebagai “

Proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika”. (the process of sending and receiving messages between two persons,

20

or among a small group of persons, with some effect and some immediate feedback).

Berdasarkan devinisi Devito itu, komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi dapat berlangsung antara dua orang yang memang sedang berdua-duaan seperti suami istri yang sedang bercakap-cakap, atau antara dua orang dalam suatu pertemuan, misalnya antara penyaji makalah dengan salah seorang peserta suatu seminar.

Pentingnya situasi komunikasi interpersonal ialah karena prosesnya memungkinkan berlangsung secara dialogis. Komunikasi yang berlangsung secara dialogis selalu lebih baik daripada secara monologis. Monolog meenunjukkan suatu bentuk komunikasi dimana seorang berbicara, yang lain mendengarka, jadi tidak terdapat interaksi. Hanya komunikator saja yang aktif, sedang komunikan bersikap pasif. Situasi komunikasi seperti ini terjadi misalnya ketika seorang ayah member nasehat kepada anaknya yang nakal, seorang istri cerewet yang tengah memarahi suami sabar yang memang melakukan kesalahan, seorang istruktur yang memberikan petunjuk tentang cara mengoperasikan sebuah mesin, dan lain sebagainya. (Uchjana, 1993: 60)

Dialog adalah bentuk komunikasi interpersonal yang menunjukkan terjadinya interaksi. Mereka yang terlibat dalam komunikasi bentuk ini berfungsi ganda, masing-masing menjadi pembicara dan pendengar secara bergantian. Dalam proses komunikasi dialogis nampak adanya upaya dari para pelaku komunikasi untuk terjadinya pengertian bersama (mutual understanding) dan empati. Disitu terjadi rasa saling menghormati bukan disebabkan status sosial

21

ekonomi. Melainkan didasarkan pada anggapan bahwa masing-masing adalah manusia yang wajib, berhak, pantas, dan wajar dihargai dan dihormati sebagai manusia.

Walaupun demikian derajat keakraban dalam komunikasi interpersonal dialogis pada situasi tertentu bisa berbeda. Komunikasi secara horizontal selalumenimbulkan derajad keakraban yang lebih tinggi ketimbang komunikasi secara vertikal. Komunikasi horizontal adalah komunikasi antara orang-orang yang memiliki kesamaan dalam apa yang disebut Wilbur Schramm Frame of reference (kerangka referensi) yang kadang-kadang dinamakan juga field of experience(bidang pengalaman). Para pelaku komunikasi yang mempunyai kesamaan dalam frame of reference atau field of experienceitu adalah mereka yang sama atau haampir sama dalam tingkat pendidikan. Jenis profesi atau pekerjaan, agama, bangsa atau bangsa, hobi, ideologi, dan lain sebagainya.

Dua orang yang sama-sama mahasiswa atau sama-sama petani atau sama- sama anggota ABRI, apabila terlibat dalam suatu percakapan akan asyik dan akrab disebabkan frame of referencenya sama.

Pada suatu saat ketika anda akan mengkomunikasikan gagasan, informasi, nasihat, instruksi, atau apa saja kepada orang lain, apakah orang itu istri, anak, kawan, rekan, anak buah, atau pengikut anda, maka anda akan dihadapkan pada pemilihan di antara sejumlah bentuk komunikasi: komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi massa, atau bentuk komunikai lain. Sebabnya ialah karena setiap bentuk komunikasi mempunyai kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan, keuntungan dan kerugian, dibandingkan dengan bentuk

22

komunikasi lainnya. Lalu, timbul pertanyaan kini, kelebihan apa, kekuatan apa dan keuntungan apa dari komunikasi interpersonalyang kita bahas sekarang ini, manakala anda ternyata menetapkan bentuk komunikasi interpersonal. Untuk itu seyogyanya memahami beberapa faktor seputar komunikasi interpersonal itu. (Uchjana, 1993: 60-61)

1. Keampuhan komunikasi interpersonal

Dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya, komunikasi interpersonal dinilai paling ampuh dalam kegiatan mengubah sikap, kepercayaan, opini, dan perilaku komunikan.

Alasannya adalah sebagai berikut : (Uchjana, 1993:61)

Komunikasi berlangsung secara tatap muka, komunikasi interpersonal umumnya berlangsung secara tatap muka (face-to-face). Oleh karena anda dengan komunikan anda itu saling bertatap muka, maka terjadilah kontak pribadi (personal contact); pribadi anda menyentuh pribadi komunikan anda. Ketika anda menyampaikan pesan anda, umpan balik berlangsung seketika (immediate feedback); anda mengetahui pada saat itu tanggapan komunikan terhadap pesan yang anda lontarkan, ekspresi wajah anda, dan gaya bicara anda. Apabila umpan baliknya positif, artinya tanggapan komunikan anda itu menyenangkan anda, anda sudah tentu akan mempertahankan gaya komunikai anda, sebaliknya jika tanggapan komunikan anda negatif, anda harus mengubah gaya komukasi anda sampai komunikasi anda berhasil.

Oleh karena keampuhan dalam mengubah sikap, kepercayaan, opini, dan perilaku komunikan itulah, maka bentuk komunikasi interpersonal

23

acapkali dipergunakan untuk melancarkan komunikasi persuasi (persuasive communication) yakni suatu tekhnik komunikasi secara psikologis manusiawi yang sifatnya halus, luwes berupa ajakan, bujukan atau rayuan, tetapi komunikasi persuasif interpersonal seperti itu hanya digunakan kepada komunikan yang potensial saja, artinya tokoh yang mempunyai jajaran dengan pengikutnya atau anak buahnya dalam jumlah yang sangat banyak, sehingga apabila ia behasil diubah sikapnya atau ideologinya, maka seluruh jajaran mengikutinya.

2. Jenis-jenis komunikasi interpersonal

Secara teoritis komunikasi interpersonal diklasifikasikan menjadi dua jenis menurut sifatnya. (Uchjana, 1993: 62)

a. Komunikasi diadik (dyadic communication)

Komunikasi diadik adalah komunikasi interpersonal yang berlangsung antara dua orang yakni yang seorang adalah komunikator yang menyampaikan pesan dan seorang lagi komunikan yang menerima pesan. Oleh karena perilaku komunikasinya dua orang, maka dialog yang terjadi berlangsung secara intens. Komunikator memusatkan perhatiannya hanya kepada diri komunikan itu.

Situasi komunikasi seperti itu akan Nampak dalam komunikasi triadic atau komunikasi kelompok, baik kelompok dalam bentuk keluarga maupun dalam bentuk kelas atau seminar.

24

Komunikasi triadik adalah komunikasi interpersonal yang pelakunya terdiri dari tiga orang, yakni seorang komunikator dan dua orang komunikan. Jika misalanya A yang menjadi komunikator, maka ia pertama-tama menyampaikan kepada komunikan B, kemudian kalau dijawab atau ditanggapi, beralih kepada komunikan C, juga secara berdialogis.

Apabila dibandingkan dengan komunikasi diadik, maka komunikasi diadik lebih efektif, karena komunikator memusatkan perhatiannya kepada seorang komunikan, sehingga ia dapat menguasai

frame of reference komunikan sepenuhnya, juga umpan balik yangb berlangsung, kedua faktor yang sangat berpengaruh terhadap efektif tidaknya proses komunikasi.

Walaupun demikian dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya, misalnya komunikasi kelompok dan komunikasi massa, komunikasi triadic karena merupakan komunikasi interpersonal lebih efektif dalam kegiatan mengubah sikap, opini, atau perilaku komunikan.

Demikianlah kelebihan, keuntungan, dan kekuatan komunikasi interpersonal dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya. Dalam pada itu komunikasi kelompok dan komunikasi massa juga mempunyaikelebihan, keuntungan, dan kekuatan, tetapi sifatnya lain.

Dokumen terkait